Wagner dan Faust

Sun 29 August 2010, 18:08 UTC

Tuhan berdebat tentang manusia, melawan Mephisto:

Wenn er mir auch nur verworren dient,
So werd ich ihn bald in die Klarheit führen.
Weiß doch der Gärtner, wenn das Bäumchen grünt,
Das Blüt und Frucht die künft’gen Jahre zieren.

Nun gut, es sei dir überlassen!
Zieh diesen Geist von seinem Urquell ab,
Und führ ihn, kannst du ihn erfassen,
Auf deinem Wege mit herab,
Und steh beschämt, wenn du bekennen mußt:
Ein guter Mensch, in seinem dunklen Drange,
Ist sich des rechten Weges wohl bewußt.

Itu cuplikan bagian awal dari Faust, satu kisah yang direka ulang oleh Goethe dari kisah Eropa klasik. Tuhan berusaha meyakinkan Mephisto, bahwa manusia bebas akan cenderung mengarah ke kebaikan; bahwa segelap apa pun manusia membawa jiwanya, ia akan cenderung kembali ke cahaya kecemerlangan. Maka Mephisto sang setan berusaha membuktikannya melalui Faust. Bagian2 ini sudah aku tulis di site ini bahkan sebelum dia berubah jadi blog :). Kebetulan Sabtu malam kemarin aku mampir ke Salihara, dan melihat kuliah dari Dewi Candaningrum tentang Goethe dan Islam. Jadi mendadak Faust terhadirkan lagi.

Faust versi Goethe ini konon menjadi puncak dari karya-karya Goethe. Bukan saja karena keanggunan sastrawinya, tetapi ia memuncakkan pemikiran Eropa masa itu. Agama, kekuasaan, dan narasi lama menjadi pembelenggu yang tak lagi dapat ditolerir. Tokoh Faust benar-benar dalam puncak tekanan akibat kejumudan diri yang tak tertahankan. Maka, satu-satunya jalan yang ditawarkan untuk keluar dari kejumudan pun ia ambil: bekerja sama dengan setan. Kejahatan setan adalah satu hal, tapi membiarkan diri dalam kejumudan adalah kejahatan yang buat Faust lebih keji. Dan tokoh Tuhan hanya memantau acuh: manusia yang berusaha mencapai yang terbaik dengan kejujuran hatinya, akan kembali menemukan cahaya.

Sebagai anak muda Eropa, Richard Wagner terbawa semangat Goethe ini. Dan sebagai komposer muda, ia sempat menyusun sebuat overture yang dimaksudkan untuk menjadi pembuka pentas Faust. Sebuah karya yang sungguh gelap.

Mungkin ini memang bukan karya Wagner terbaik — saat itu dia masih agak jauh dari puncak karyanya. Yang menarik adalah bahwa jalan hidup Wagner pun amat bergaya Faustian. Idealis muda yang selalu gelisah itu akhirnya mengisi hidupnya dengan jalan-jalan yang dianggap gelap dan salah: bergabung dengan kaum anarkis, menjadi hedonis dan punya banyak hutang, memusuhi kaum Yahudi secara terbuka, merebut istri sahabatnya (ya, ini Faustian sekali), bahkan konon menginspirasi Nietzsche untuk membunuh Tuhan.

Kita bukan Tuhan yang berhak menentukan apakah Wagner juga khusnul khatimah seperti Faust versi Goethe. Tapi karyanya mengispirasi dunia dengan cara yang bahkan tak terpahami mereka yang terpengaruhi olehnya. Seperti, haha, ya, seperti sang tokoh Tuhan itu menumbuhkan tunas-tunas pepohonan secara diam-diam, dan tiba-tiba manusia menyadari adanya bunga-bunga indah dan buah yang manis lebat berserakan bertumpukan menghiasi rantingnya dari demi hari.

Wagner | Single Comment »
 
 

Wagner dan Anarkisme

Wed 4 August 2010, 15:08 UTC

Antara 1848-1849 terjadi revolusi, yang dimulai di Berlin dan menyebar di negara2 lain yang kini menjadi Jerman. Majelis Nasional yang baru dibentuk, Parlemen Frankfurt, bersidang dan menyerukan dibentuknya Jerman baru berbentuk monarki konstitusional. Pemilu dilakukan di negara2 itu. Maret 1849, konstitusi berhasil dirumuskan, lalu Friedrich Wilhelm IV dari Prussia ditawari mahkota. Namun Majelis Nasional masih bergantung pada kerjasama para kaisar dan pemimpin2 lama. Friedrich Wilhelm IV menolak. Majelis Nasional terpecah. Di Sachsen, raja Friedrich August II tak mengakui konstitusi dan membubarkan Parlemen Sachsen. Rakyat Sachsen memberontak di bulan Mei. Situasi kacau, dengan pengawal yang ragu untuk memihak raja atau rakyat, dan raja yang akhirnya meminta bantuan tentara Prussia untuk menyerbu.

Dresden, ibukota Sachsen, sebelumnya dikenal sebagai pusat budaya kaum liberal dan demokrat. Seorang music director, Karl August Röchel menerbitkan Harian Dresden, yang sering memuat tulisan tokoh anarkis Mikhail Bakunin. Komposer Richard Wagner, yang waktu itu menjadi konduktor di Royal Saxon, mendukung revolusi sejak 1848, dan berkarib dengan Röchel dan Bakunin, serta turut menulis artikel agitasi mendukung revolusi. Saat revolusi Mei, ia turut membuat granat tangan dan menghadang tentara Prussia. Tapi revolusi akhirnya dipatahkan. Bakunin ditangkap, sempat dijatuhi hukuman mati, tapi lalu dibuang ke Russia. Wagner jadi buron, dan melarikan diri ke Paris, lalu ke Zürich.

Di saat2 itu, Wagner memulai tetralogi opera terbesarnya: Der Ring Des Nibelungen. Dimulai di Dresden, tapi disusun ulang dan ditulis garis besar kisahnya di Zürich. Modifikasi kisah tua budaya Nordik itu sedikit banyak menampilkan gaya anarkisme Wagner :). Wotan dan dewa2 lain ditampilkan sebagai para penguasa angkasa yang bising, sok tahu, namun bodoh. Hah, terlalu sering aku meringkas tetralogi ini. Di akhir cerita, Götterdämmerung, dengan optimisnya Wagner meruntuhkan Valhalla dengan seluruh dewa. Tokoh pahlawan diciptakan dari manusia (tapi keturunan dewa): Siegfried, yang tak kenal takut, tak kenal aturan, memiliki keberanian yang naïf, dan akhirnya gugur dengan cara tak menarik.

Cuplikan dari Wagner dulu, saat Siegfried sibuk membentuk kembali pedang Notung peninggalan kedua orang tuanya, disaksikan bapak tirinya yang culas:

Kembali ke anarkisme. Aku sendiri tak menganggap benda ini sepenuhnya negatif. Kaum anarkis memang selalu dipojokkan sebagai kaum anti kemapanan, anti pemerintahan, pro kekacauan, vandal, dll. Tapi sebenarnya kaum anarkis hanya berjuang untuk meningkatkan kedaulatan manusia sebesar mungkin, dan mengurangi peran pemerintahan hingga seminim mungkin.

Anarkisme memang jadi paradox :). Mungkin kaum anarkis pun belum selesai mendefinisikan diri. Rentangnya dari Bakunin yang — dengan menepis asumsi Rousseau bahwa negara, atau pemerintahan, disusun atas dasar kontrak sosial — menganggap negara adalah pengabadian penindasan dan perbudakan; hingga kaum2 anarkis yang lebih lunak yang sekedar berminat menghapuskan hak negara melakukan kekerasan terhadap rakyat. Dengan mengusung kemerdekaan dan keanekaragaman individual, kaum anarkis tak menganggap perserikatan antar mereka punya kekuatan yang penuh :). Memperpanjang paradox ini, kaum anarkis tidak akan bisa berkuasa. Tak akan bisa mereka bertahan membangun partai, berkoalisi, dan menyusun pemerintahan yang mereka kehendaki dengan peran pemerintah sekecil mungkin. Kalaupun mereka bisa berserikat, dan mempercayai kekuatan serikat itu (entah dengan pendekatan yang mana), gerakan2 anarkis itu akan seketika dikucilkan baik oleh kaum kanan yang berkehendak mempertahankan kekuasaan feudal, menghujamkan kekuatan organisasi agama, mencampuradukkan kekuatan kapital dengan pemerintahan, hingga kaum kiri yang menganggap perlunya menyusun kediktatoran proletariat yang temporer (entah temporer berapa abad) untuk menyusun kondisi ideal mereka. Kaum anarkis seperti Bakunin memang justru jadi bebuyutan kaum komunis. “Berikan kekuasaan kepada kaum marxist, dan tak lama mereka akan jadi pemerintah yang lebih kejam daripada tsar,” begitu ramalannya. Bakunin juga mungkin jadi satu2nya tokoh dunia yang pernah membayangkan adanya konspirasi antara Karl Marx dan Rotschild :D. “Marx akan membuat semua dikendalikan negara. Lalu bank2 dibubarkan dan dibentuk satu bank yang terpusat saja. Rotschild kan?” gitu tuduh Bakunin.

Sayangnya, mungkin satu2nya contoh di mana kaum anarkis pernah membentuk pemerintahan adalah pada Republik Pertama, yang dibentuk di Perancis setelah Bastille diserbu. Pemerintahan ini dalam sejarah lebih disebut sebagai pemerintahan teror, dan runtuh dalam waktu yang tak terlalu lama.

Hah, tadinya tulisan ini akan jadi bagian pertama dari deretan para tokoh yang (pernah) mempengaruhi Wagner. Tahun 2006, aku pernah menulis tentang beberapa tokoh yang dipengaruhi Wagner: Stephen Hawking, Edward Said, Bernard Shaw, James Herriot. Cita2nya, aku coba menulis tentang mereka yang mempengaruhi Wagner. Misalnya: Goethe, Schopenhauer, Shakespeare, Beethoven, hingga Bakunin. Tapi mungkin aku tak akan sempat juga. So, stop dulu di sini :)

Wagner | 3 Comments »
 
 

Notung! Notung! Niedliches Schwert!

Sat 16 May 2009, 08:05 UTC

“Ein Schwert verhieß mir mein Vater,” teriak Siegmund di wisma Hunding pada Act 1 dari Die Walküre. Mein Vater juga punya pedang yang keren, terpajang indah di ruang tamu rumah Mama di Arcamanik. Dan tak sengaja, aku juga jadi kolektor minatur pedang berbagai bangsa. Terima kasih buat para manusia keren dan baik hati yang sudah ikut menyumbang buat koleksiku.

Tapi waktu mendengar pekik semangat Siegfried, “Notung! Notung! Niedliches Schwert!” — yang terbayang justru pedang yang lebih tajam: pena. Ia menghujam bukan saja rerangkai fisik yang lemah, namun juga rerangkai ide dan memetika. Pedang ini bukan lebih tajam memutus dan menghentikan, tapi juga mengulir, menjalin, menunjuk, menyebar.

Pena masa kini bisa berupa keyboard, mouse, stylus, touch screen. Lesatannya di atas jaringan mobile dan Internet melampaui yang bisa dibayangkan para penemu kertas dan mesin cetak. Perang kata, memetika, diskursus di atas media maya lebih menarik daripada perang yang menumpahkan darah.

Tapi, buat aku sendiri, pena masih memiliki nilai emosional yang berbeda. Ujungnya yang benar-benar masih tajam mengingatkan power yang dimiliki ketajaman mata pedangnya. Sentuhan dan gerakan kita atasnya memindahkan bukan saja simbol dari ide kita, tetapi juga semangat dan aliran hayati yang betul-betul tergerakkan oleh semangat itu. Jadi memang agak lucu, melihat teman2 berkomunikasi dengan iPhone atau semacamnya, sementara aku masih membawa buku kecil dan pena. Haha, lebay :). Aku juga bawa mobile browser ke mana-mana kok; sejax PDA pertama memiliki akses GPRS :).

Mulai berhenti mengkoleksi miniatur pedang, aku malah nggak sengaja mulai mengkoleksi pena. Ya, ini simbolik. Hidup juga cuman :).

Life, Wagner | 2 Comments »
 
 

Wagner dan Blogger

Mon 8 September 2008, 16:09 UTC

Tentu Wagner bukan cuma Siegfried dan Tristan. Ada rentetan panjang simfoni, mars, dan opera sepanjang hidup Richard Wagner. Tapi aku yang nggak pernah paham bahasa Jerman, dan baru akhir2 ini menyelidik rincian kisah2 opera dan simfoni Wagner, memang hanya bisa menikmati sebagian diantaranya: sebagian yang sungguh2 pas. Bagian yang lain, entah kenapa tak terasa akrab. Bahkan di catatan tentang Wagner yang dibuat tahun 2000 itu, opera yang cerlang ceria seperti Das Liebesverbot dan Rienzi nyaris tak disebut. Dan baru beberapa hari lalu aku baca pengakuan Wagner. Pernah ada masa saat ia menulis opera dengan berfokus pada reaksi publik: apa yang kira2 akan menarik publik, apa yang akan memukau penonton, apa yang bakal menimbulkan reaksi masyarakat. Dan contoh yang ia sebut adalah Die Feen dan dua opera di atas. Reaksi publik? Memang luar biasa. Dan nama Wagner mulai terangkat di Paris. Wagner menyebut opera2nya masa itu dengan opera berbasis pikiran. Aku sendiri akan menyebutnya opera marketing. Marketing yang sukses, btw.

Sejak Faust, lalu Fliegende Hollander, Wagner melakukan apa yang disebutnya opera berbasis intuisi. Pun sebelum ia mengakrabi filsafat Schopenhauer. Ia hanya mengikuti kata hatinya, yang tentu sudah dimatangkan oleh profesionalisme dan sekaligus nurani. Lalu Tannhauser. Ya, mulai masuk komposisi2 favoritku (vaforitku). Termasuk masterpiecenya: Der Ring Des Nibelungen. Dan tak harus Wagner. Beethoven misalnya. Simfoni kelima yang tertata rapi dengan motif, empat nada empat nada, kenapa justru bikin air mata menitik. Simfoni ketiga dan ketujuh, kenapa bikin kita kadang harus menarik nafas kagum.

Tentu, sebagai INTP, aku menjunjung rasionalitas. Tapi, seperti yang pasti rekan2 di milis2 zaman dulu pada bozan, aku akan selalu menyebutkan bahwa rasionalitas itu multilayer. Taktik singkat, taktik rada panjang (bukan strategi sebenernya, tapi kadang dikira demikian), hingga rasionalitas yang terasah dan tak harus verbal tetapi bisa menjadi guide secara intuitif. Dan dalam tahap ini, rasionalitas tak harus lagi berwujud kausalitas dangkal (idiom ini, entah kenapa, mengingatkan sama gaya tulisanku di SMA dulu); tapi bisa berupa intuisi — dan terkomunikasikan bukan secara verbal, tetapi menyeberang antar hati.

Musik Indonesia belum kacau balau. Kalau kita sempat menjelajah ranah indie, kita sering menemui pernik-pernih cerlang. Tapi tentu musik yang didentamkan dan dilengkingkan di media lebih sering musik berbau marketing juga. Dan tak terbatas di dunia seni, ini terbawa ke dunia kita juga: blogging. Haha, dunia blogging.

Ribuan blog Indonesia, dengan tumpukan intan, mutiara, permata, tapi di sisi lain juga tumpukan sampah marketing. Dan kitsch juga. Blog dengan title atau summary menggelitik yang membuat orang terpaksa berkunjung. Isi blog yang dipaksakan provokatif atau mengharukan, yang memaksa orang melink atau mengcomment. Dan tentu SEO! Yang ini bahkan ditulis bukan untuk menghamba kulit manusia, tetapi menghamba mesin (untuk tidak menyebut — karena tidak selalu — menghamba uang). Aku cukup sering jadi juri yang harus membacai banyak blog, dan harus amat sangat kesal membacai sampah yang dipurapurakan sebagai blog itu. Tapi kekesalan itu kecil, dibanding keceriaanku menemukan blog-blog beneran, yang inspiring, membuka mata, provokatif alami, mengharukan beneran. Dan bukan kata2 itu yang membedakan mana yang tulus mana yang kitsch. Ia terkomunikasikan tidak secara verbal.

Tapi apakah rasionalitas dangkal mesti dikutuk? Dibubarkan? Tentu tidak. Wagner pun pernah terjerumus ke kesalahan yang sama. Mudah2an suatu hari kita para blogger juga kembali menulis sesuai bisik nurani  — kejernihan dan kejailannya sekaligus. Dan kalau tidak, haha, dunia tetap indah dengan titik cahaya sekedarnya. Kilaunya mencerlangkan dunia.

Kita tutup malam dengan Gotterdämmerung. Der Ring itu ajaib. Secara ringkas ia menjelaskan kehancuran para penyusun semesta akibat kejahatan2 mereka sendiri. Diperlukan alih generasi yang menggantikan keserakahan dengan kasih sayang, dalam dua generasi. Tapi akhirnya kasih sayang pun harus hancur di Gotterdämmerung. Hihi. Indah ya (^_^)V

Blog, Life, Wagner | 45 Comments »
 
 

Mild und Leise

Thu 28 February 2008, 11:02 UTC

Aku sering terpaksa berpikir bahwa jangan2 sebentar lagi blog hanya berisi curhat. Informasi lain jadi basbang, karena kita hidup di zaman Wiki. Lucu misalnya kalau kita menulis tentang keunikan suatu budaya atau tokoh sejarah atau celah kecil dalam sains, dalam format blog yang ringkas. Di Wiki lebih lengkap! Tak heran banyak blog2 lama yang dihapus. Sulit dibayangkan bahwa baru beberapa tahun yang lalu kita hidup tanpa Wikipedia dan Google.

Tempat pertama kali aku tidur di luar tanah Jawa adalah kota kecil Perros-Guirec (Perroz-Gireg), di tepi pantai Trestraou, dekat kota Lannion (Lannuon), di Côtes-d’Armor (Aodoù-an-Arvor). Perginya cuma bawa bagasi kecil: beberapa baju, tanpa notebook, tanpa buku, tanpa CD. Mau beli buku & CD di sana aja. Mau bobo, entah dari mana, bagian tengah dari opera Tristan & Isolde mengganggu pikiran, terulang2. Bukan Prelude dan bukan Liebestod (bagian penutup opera ini). Sampai sekarang masih bisa terdengar :).

Sebelum hari terakhir di Lannion, aku jadi guide buat teman2, bermobil berkeliling Côtes-d’Armor bagian utara, cari sebuah planetarium yang konon ada di daerah Pleumeur-Bodou (Pleuveur-Bodoù). Biarpun salah setir ke kiri melulu, akhirnya kami sampai. Tapi planetarium kosmopolis itu sudah tutup. Kami jalan2 di sekitarnya, dan menemukan kampung Asterix. Ini bukan tempat wisata, melainkan reservasi budaya Galia asli zaman Asterix. Jadi tak ada keramaian. Hanya sebuah kampung kecil, dengan bangunan rumbia, dipagari kayu tinggi2. Tak beda jauh dengan komik Asterix. Dan kalau kita lihat komik Asterix, selalu ada peta di Hal 1. Nah, tempatnya di situ. Hm, sejauh itu berkelana, aku baru tahu bahwa aku sedang menuju Kampung Asterix. Tapi, aku udah bilang, waktu itu belum ada Wikipedia. Bahkan Google.

Daerah Côtes-d’Armor terletak di provinsi Bretagne (Breizh). Ini adalah bagian dari wilayah Brittany yang asli, yang dulu beribukota di Nantes. Kini, Nantes sudah menjadi ibukota provinsi lain, dan Bretagne beribukota di Rennes (Roazhon). Penulisan nama ganda yang aku lakukan dari tadi mencerminkan bagaimana nama tempat di tulis di daerah itu: nama Perancis, diikuti nama Brittany. Brittany sendiri merupakan bagian dari sabuk Celtic. Satu2nya anggota sabuk Celtic di luar wilayah kepulauan Britania. Wilayah Celtic lain yang tersisa adalah Skotlandia, Irlandia, Wales, Isle of Man, dan Cornwall. Apa sih yang terbayang dari nama Celtic, selain musiknya yang syahdu, dan sejarahnya yang merupakan perpaduan perang dan romantisme? Enya? Haha. Tristan tentu.

Dan itulah lucunya. Lama setelah aku balik ke Isle of Java, baru aku tahu bahwa setelah terluka, sang Tristan dibawa kabur dengan perahunya ke wilayah Brittany ini; di mana kemudian Isolde menyusul, untuk hanya melihat jasad Tristan di persembunyiannya di tepi pantai Brittany itu, lalu — menurut Wagner — mulai melantunkan bait2 Liebestod: Mild und Leise …. Haha, mana ada orang Celtic berbahasa Jerman :p.

Jangan2, di pantai Côtes-d’Armor itulah dulu Tristan menunggui Isolde. Menimbulkan suara bising yang mengganggu tidurku.

Travel, Wagner | 7 Comments »
 
 

Welch Licht Leuchtet Dort?

Tue 1 January 2008, 16:01 UTC

“Welch Licht leuchtet dort?”
“Dämmert der Tag schon auf?”
“Loges Heer lodert feurig um den Fels. Noch ist’s Nacht. Was spinnen und singen wir nicht?”
“Wollen wir spinnen und singen, woran spannst du das Seil?”

Tiga norn itu berbisik pada pembukaan Die Götterdämmerung (non Wagnerian lebih mengenalnya sebagai Ragnarök). Wajah mereka pucat dan kaku. Ilmu mereka, tentang masa lalu, masa kini, masa depan, lebih jadi beban daripada berkah. Para manusia itu, perlukah mereka tahu? Dan para dewa itu? Dan para peri itu? Saat manusia mengira hanya tanah mereka berputar, semesta baru menghampiri dan menyelubungi mereka. Perlukah menyanyi kita saat selubung itu menghantar cahaya pagi pembawa simpul waktu? Takkah berbagi ilmu akan menjadi berbagi luka?

Wajahkukah itu, yang selalu pucat dan kaku?

Maka hentikan nadamu. Kita punya tali yang harus kita urai. Awas, jangan putus tali itu.

Wagner | 2 Comments »
 
 

Hukum Conway

Sun 25 November 2007, 17:11 UTC

Cukup beruntung untuk mendapati Götterdämmerung dalam format DVD, minggu lalu. Dan cukup mengacaukan jadwal hidup. Pulang kerja kadang nyaris tengah malam, dan tak langsung pindah ke alam mimpi. Malah mencicil act demi act dari bagian keempat tetralogi Der Ring Des Nibelungen ini. Musik yang masih menggetarkan itu bagian awal dari prelude, sebelum para Norn mendongeng (“Ulurkan lagi tali itu, Saudariku“); dan bagian awal Act 2, saat Hagen dihantui Alberich, bapaknya (“Tidurkah kau, Anakku?“). Biarpun Götterdämmerung adalah bagian keempat, tetapi sebenarnya Wagner merancang opera ini terlebih dahulu, lalu merancang tiga lainnya sebagai latar belakang. Pun dari Götterdämmerung saja, kita akan mendengar sari tiga opera pendahulunya diceritakan ulang. Cerita konyol, haha. Tapi telanjur adiktif sama Wagner sih. Mau jadi apa, coba?

Wotan, sang mahadewa, menghadapi suatu masalah. Dari soal delegasi kewenangan biasa, masalahnya lari ke soal ancaman atas sumberdaya kritis: sebuah cincin yang membuat pemiliknya memiliki power, namun dimuati sebuah kutukan: “Siapa yang memiliki cincin itu akan hancur. Tapi siapa yang tak memilikinya akan menginginkannya.” Wotan tak mengingini cincin itu, tetapi berkepentingan bahwa cincin itu tak dapat digunakan siapa pun. Plot dari Wotan dan para rekan dari sidang dewa terbukti hanya memindahkan ancaman dari satu titik ke titik lainnya. Buntu. Bukan, bukan Edubuntu, karena ini tak mendidik.

Lalu tak sengaja terbaca Wotan sebuah cuplikan dari buku software engineering. “Any organisation that designs a system will produce a design whose structure is a copy of the organisation’s communication structure.” Hukum Conway, namanya.

Sekilas mirip generalisasi sinis. Tetapi setidaknya kita bisa membayangkan bahwa pikiran yang memiliki kendali menyusun suatu organisasi, juga — dengan cara berpikir yang sama — memiliki kendali menyusun bentuk produk yang dihasilkan organisasi itu. Atau bisa juga kita bayangkan bahwa produk adalah anak dari organisasi, dan dengan satu atau beberapa cara akan mewarisi sifat orangtuanya. Jadi takkan salah kalau orang menilai organisasi Microsoft dari Windows dan Office-nya yang megah, berat, komplit, tapi malah bikin hang selalu. Atau menilai Telkom dari logo2 Speedy, Flexi, Homeline, 007, Ventus, dll yang tidak tidak saling memiliki hubungan batin :). Atau membayangkan birokrasi perguruan tinggi dari lulusan yang dihasilkannya. Cara kerja Google segera tampak misalnya saat kita melihat produk luar diadaptasi masuk sebagai bagian dari produk Google.

Pikiran Wotan melantur. Blog juga barangkali, pikirnya. Blog, sebagai produk personal, menunjukkan komunikasi internal sang penulis: cara berpikirnya; pun tanpa serius mengamati argumen apa yang tertulis di dalamnya. Apakah seseorang bekerja dengan komitmen atau tergantung mood. Apakah dalam menghadapi masalah, sebuah blog cenderung menyusun terobosan solusi, mencari kompromi, atau sekedar menuding tanpa solusi yang jelas, atau lebih parah lagi sekedar meramaikan? Begitulah pula barangkali platform pikiran sang blogger bekerja :).

Lepas dari lanturannya, Wotan berpikir lagi: tapi sebenarnya bisakah kita menghindar? Misalnya, tanpa kewenangan mengubah organisasi Valhalla (yang berbiaya besar dan bisa menyulut perang dewa yang lain lagi), ia ingin merancang sistem yang lebih efektif. Berkelit bisa jadi solusi, sebenarnya. Serahkan desain program ke pihak luar, untuk diadaptasi kembali. Dan hasilnya bisa unpredictable (bisa dalam arti positif maupun negatif). Memang perlu spekulasi.

Tapi lalu itu yang dilakukan Wotan. Ia turun ke bumi, menjadi Walse, dan dengan kerjasama makhluk bumi menurunkan para Walsung: Siegmund dan Sieglinde, yang berikutnya melalui metode incest menurunkan Siegfried. Sebagai derivatif Wotan, Siegfried mewarisi kekuatan kedewaan. Tetapi ia memiliki sifat baru: ketiadaan rasa takut. Hmm, jadi ingat salah satu buku Asterix. Tapi ini cerita lain. Singkat cerita, Siegfried berhasil menguasai sumberdaya yang kritis itu, tapi tanpa kehendak untuk menggunakannya (Untuk apa? Orang yang bebas rasa takut tak memerlukan apa pun.). Ia menjadi solusi yang ideal. Tetapi tetap tak sempurnya: mudah terkena konspirasi. Dan akhirnya ia harus hancur juga.

Wotan mungkin akan cuman bilang: Oops. “Software is doomed to reflect structure of the organisation that produces it.” Ya, keburukan Valhalla memang tak tampak pada personality Siegfried. Tetapi kelemahan itu cuma berubah menjadi bentuk yang lain. Tak bisa tidak, struktur memang harus diubah, untuk menghasilkan produk yang lebih baik. Tanpa berkelit.

Telkom, Wagner | Single Comment »
 
 

West

Sat 13 October 2007, 17:10 UTC

Menjalani sebuah tengah malam di Baros, setengah gagap terhuyung direntas lelah, menyanding memori masa kecil dengan gelap pasar malam ini. Mosaik samar berkejaran, tak runut waktu dan asa, menukik dan menyambar seperti burung malam yang gesit dalam hening.

Hening, tanpa Wagner, Stravinsky, Nietzsche, Goethe, Derrida, Said, Rumi. Pun tanpa kata. Kata hanya khianati makna, hujam salah satu West di mosaik itu (ia berambut tebal dan mengantongi Quibron). Huruf direntakkan dari kata. Terlontar ia menjadi persamaan Maxwell dan entropi Bekenstein-Hawking di kertas West yang lain, jadi include ‘stdlib.h’, jadi penghias ujung kurva pada Smith Chart.

visual-smith-chart.gif

Dan gagasan dilarikan melalui sederetan kurva panjang, dan balok2 tersambung garis2 kelabu tersambung ke sana kemari, dalam tumpukan ayer2. Dan si West si tukang insinyur yang baru lulus itu tanpa rambut menahan sesaknya, berlari dengan sepatu bot dan celana hijau bercampur lumpur, tanpa penutup dada melintasi gerimis ujung jalan ini. Melirik ia pada West berkemeja bertutup rapat (menahan angin), yang ditemani mbah kakungnya melihat2 rel dan menatap Gunung Bohong. Berputar mereka berjalan melintasi tepi makam, tempat sekian tahun kemudian West yang berbaju kelabu tangan panjang menyaksikan pemakaman Papapnya dengan iringan salvo dan terompet yang sederhana namun membakar hati. Aku lihat lagi Pusdikart, hanya beberapa langkah dariku. Di dalam sana ia masih menunggu kami. Satu titik air menetes dari langit malam. Mendung. Tapi tak seseram waktu kami mengungsi dari Pasopati ke sini, waktu Galunggung meletus lagi, dan kota ini menyatu kelabu dengan langitnya dalam aroma yang menyesakkan.

Aku masih West yang dulu juga. Menahan sesak nafas di jalan yang ini juga. Selalu gagal untuk menyerah.

Menengok lagi ke ujung jalan, ada West kecil yang kabur sendirian naik becak dari rumah ortunya ke rumah embahnya. Sendirian. Dan bikin panik ortunya. Huh. Dasar dari dulu nggak bisa diatur.

Wagner | 4 Comments »
 
 

Alfred Wight

Thu 10 August 2006, 14:08 UTC

James Alfred Wight sering disebut orang sebagai dokter hewan asal Skotlandia yang berpraktek di Inggris. Sebenarnya, Alf adalah orang Inggris, lahir di Inggris, dan memiliki orang tua Inggris. Ia lahir di Sunderland, Inggris Utara, lalu tumbuh di Glasgow, Skotlandia, hingga lulus kuliah. Tidak terlalu brilian, kata dosennya, tetapi memiliki daya juang luar biasa.

alfwight.jpgAlf lulus menjelang PD II, saat ekonomi tak terlalu baik, dan dunia peternakan sedang kolaps. Banyak dokter hewan menganggur dan terpaksa menawarkan diri bekerja sekedar bertahan hidup. Tapi ia beruntung. Donald Sinclair, seorang dokter hewan yang eksentrik dari Thirsk, York, secara tergesa menerimanya sebagai asisten, karena beberapa hari kemudian ia ke RAF untuk menjadi penerbang sukarelawan. Donald tak lama di RAF, dipulangkan karena terlalu tua :). Berpraktek berdua, ia merasa memerlukan mobil tambahan, dan membeli mobil bekas di Glasgow. Alf diminta mengambil mobil itu, sekaligus menjemput adik Donald: Brian Sinclair. Brian juga eksentrik, tapi di sisi yang berlawanan dengan Donald. Ia nyaris tak pernah menseriusi apa pun dalam hidupnya. Bertiga, mereka mengarungi ketradisionalan dunia peternakan di Yorkshire, dalam hidup yang sangat berat namun sekaligus sangat indah.

Alf, barangkali adalah contoh Wagnerian yang membumi. Masa mudanya dihabiskan untuk hidup di lapangan, di lumpur, di salju, di ujung tanduk sapi, kaki kuda, lubang kotoran babi. Sekaligus ia mencoba menikmati hidup dengan musik yang indah, dengan perjalanan ke kota kecil bertoko buku serta ke lereng2 bukit, dan dengan bacaan yang menantang intelektualism. Sekian puluh tahun bekerja, ia baru sadar bahwa yang ia kumpulkan tak lebih dari £20. Pun di masa itu, nilai ini sungguh mengenaskan untuk orang yang bekerja keras hingga malam dan kadang menembus batas akhir pekan, selama puluhan tahun.

Maka ia memutuskan untuk menulis sebuah buku. Itu Inggris akhir tahun 1960an, bukan masa kini dimana setiap detik terbit sebuah teenlit. Perlu beberapa tahun dan beberapa revisi mayor untuk membuat buku semi biografi itu dapat diterbitkan. Juga, mengikuti kode etik RCVS dan BVA yang melarang setiap dokter hewan melakukan reklame, maka ia mengubah nama2 tokoh dan tempat di bukunya. Kota Thirsk menjadi Darrowby. 23 Kirkgate menjadi Skeldale House. Ia sendiri mengambil nama James Herriot. Dan dua orang unik yang menjadi sentral cerita, Donald dan Brian, diberinya nama dari dua tokoh opera Wagner yang tentu saja powerful tetapi memiliki karakteristik yang berbeda: Siegfried dan Tristan.

If Only They Could Talk. Buku itu segera menjadi bestseller, dan tak lama menembus pasar Amerika. Bestseller selama berbulan-bulan, buku ini menjadi fenomena tersendiri. Daerah Yorkshire — yang tadinya terasing dari orang asing — menjadi salah satu tujuan favorit wisata orang Amerika. Bidang kedokteran hewan kebanjiran peminat dari kalangan mahasiswa baru. Sekuel kisah James Herriot ditulis hingga tahun 1980an, hingga Alf mendapatkan penghargaan OBE dari Ratu Inggris (penghargaan yang juga diperoleh Stephen Hawking, Wagnerian yang lain). Alf juga menjadi anggota kehormatan RCVS dan BVA, atas jasanya meningkatkan apresiasi masyarakat atas dunia kedokteran hewan.

Gramedia sempat menerbitkan terjemahan buku ALf pada tahun 1976. Seandainya Mereka Bisa Bicara. Sayangnya, penerbit ini tidak berminat menerbitkan sekuelnya. Entah kenapa. Kalau kekurangan tenaga penerjemah, aku lebih dari bersedia kok.

OK, udahan deh sekuel tentang para Wagnerian. Masih banyak sih Wagnerian lain. Nietzsche misalnya. Tapi udah dulu deh. Kalau doyan Wagner, bergabung aja ke friendster.com/wagnerian.

Figure, Wagner | 8 Comments »
 
 

Bernard Shaw

Sun 6 August 2006, 02:08 UTC

The Perfect Wagnerite: A Commentary on the Niblung’s Ring — adalah interpretasi oleh Bernard Shaw atas karya terbesar Wagner, Der Ring des Nibelungen. Shaw menyusun tulisan ini bagi para penggemar Wagner yang tidak dapat mengikuti ide2nya, dan bahkan tak dapat memahami dilema Wotan.

georgebernardshaw.jpg“The reason is that its dramatic moments lie quite outside the consciousness of people whose joys and sorrows are all domestic and personal, and whose religions and political ideas are purely conventional and superstitious. Only those of wider consciousness can follow it breathlessly, seeing in it the whole tragedy of human history and the whole horror of the dilemmas from which the world is shrinking today.”

Tulisan ini disusun waktu Shaw berada di Fabian Society, sebuah organisasi yang didirikannya bersama beberapa rekannya, dengan tujuan mengubah Inggris menjadi negara sosialis melalui legislasi sistematis dan pendidikan masyarakat. Fabian Society ini konon memiliki pengaruh dalam pembentukan baik London School of Economics (LSE) dan Partai Buruh.

Shaw sendiri, biarpun dikagumi karena kecerdasan sekaligus kesinisannya, sering dimaki sebagai tidak jelas. Beberapa opininya membuat orang berprasangka bahwa ia memiliki simpati pada Stalin dan sekaligus Hitler dan sekaligus IRA. Kalau ini kurang ribet, ia juga pengagum Muhammad (saw). Katanya tentang Muhammad (saw): “He must be called the Savior of Humanity. I believe that if a man like him were to assume the dictatorship of the modern world, he would succeed in solving its problems in a way that would bring it much needed peace and happiness.”

Bernard Shaw sendiri lahir di Dublin (Irlandia, wilayah katolik) dari keluarga Protestan Skotlandia. Kemudian ia pindah ke London, meniti karir jurnalistik sambil menulis novel dan kemudian drama. PD I disebut Shaw sebagai bangkrutnya kapitalisme, yang dianggap merupakan erang nafas terakhir dari imperialisme abad ke-19. Saat ini lah ia mulai disebut2 sebagai “pengkhianat” :).

Namun justru kemudian ia memperoleh Nobel Sastra 1925, untuk dramanya “Saint Joan.” Mungkin kita ingat bahwa tokoh cerita ini, yaitu Joan of Arc, adalah pahlawan Perancis yang akhirnya dihukum bakar oleh orang2 Inggris. Aku beberapa kali pingi nulis soal Joan, tapi belum mulai2 juga :). Shaw juga memperoleh Academy Award di tahun 1938 untuk Best Screenplay untuk “Pygmalion.” Hingga kini, ia satu2nya orang yang memperoleh kedua penghargaan itu sekaligus.

Shaw meninggal tahun 1950, karena jatuh dari tangga. Bukan, ini bukan kiasan.

Figure, Wagner | 2 Comments »