Stroustrup Lagi

Hah, zaman Web 2.0 gini, masih membahas Stroustrup?
Dan ini jawabanku: Bjarin!

Waktu ditanya tentang contoh program C++ yang berhasil :), Stroustrup menjawab dengan: Google. Ia juga bertanya: masih ingat, seperti apa dunia tanpa Google, baru 5 tahun yang lalu? Selain ini ia juga menyebut Mars Rovers, yang bisa melakukan pengemudian secara mandiri di planet asing itu. Dan dalam wawancara lain juga ia menyebut Human Genome Project. Tapi waktu ditanya tentang kenapa sebagian besar program bermasalah, ia menyebut bahwa programmer tidak lagi sempat memeriksai “correctness, algorithms, data structures, maintainability” dari program — mereka dikelola oleh para micromanager yang membuat pekerjaan selalu seperti dalam keadaan darurat yang permanen. Hal2 seperti ini tidak pernah tampak oleh user, selain bahwa misalnya Internet Explorer tiba2 freeze. Hm, Google di sisi plus, Microsoft di sisi minus.

Ini tentu soal klasik. User, manager, hingga media, memuja software (dan produk akhir) yang murah, cepat, biarpun buggy. Orang tidak suka kerumitan, tidak suka belajar hal2 baru, dan tidak mau membayar lebih untuk kualitas. Soal lain yang tidak klasik adalah bahwa para pakar memaksakan satu atau dua aspek tertentu sebagai pemecahan masalah. Secara praktis, Stroustrup mencontohkan: “Better design methods can help, better specification techniques can help, better programming languages can help, better testing technologies can help, better operating systems can help, better middle-ware infrastructures can help, better understanding of application domains can help, better understanding of data structures and algorithms can help–and so on. For example, type theory, model-based development, and formal methods can undoubtedly provide significant help in some areas, but pushed as the solution to the exclusion of other approaches, each guarantees failure in large-scale projects. People push what they know and what they have seen work; how could they do otherwise? But few have the technical maturity to balance the demands and the resources.”

cpluxplux.jpgKritik2 atas C++ ditanggapi Stroustrup dengan mengiyakan bahwa memang C++ ditujukan untuk expert, tetapi dengan mengingatkan bahwa terdapat generalitas yang tertanam dalam bahasa itu. Dan performansi. Waktu si pewawancara mengingatkan bahwa Stroustrup pernah mengatakan bahwa salah satu motivator atas C++ adalah Kierkegaard :), ia membalas bahwa kecenderungan saat ini untuk mengintegrasikan manusia dalam corporate culture (tanpa melihat lagi keunikan dan talenta individual) itu kejam dan tak efektif. Kierkegaard adalah pendukung peran individu melawan “the crowd,” dan cukup serius membahas pentingnya estetika dan etika. Maka C++ jadi dicipta dengan mengandaikan setiap programmernya memiliki keleluasaan untuk mencipta dan mengatur yang terbaik bagi mereka sendiri.

Namun tentang aspect-oriented programming, Stroustrup meramalkan bahwa benda nan unik ini masih perlu waktu lama untuk meninggalkan dunia akademis dan memasuki industri nyata. Tentu ia tidak antipati pada benda elegan ini. Hanya, ia mengingatkan bahwa selain konsep yang baik, ada banyak hal yang harus disiapkan untuk masuk ke lingkungan skala industri.

Dan tentang C# dan .Net? Ah, Microsoft masih di sisi minus buat Stroustrup. Hmmh.

Lebih lanjut, baca sendiri:
The Problem with Programming
More Trouble in Programming

Juga lihat:
Stroustrup asli
Stroustrup wannabe

17 Comments

  1. saya masih setia dengan FORTRAN :D

  2. Bjarin

  3. Wah, sistem komentarnya tidak mengkodekan < menjadi &lt; ya, jadinya komentar di atas tidak kelihatan.

  4. arief#

    Is not the language.
    Really is not the language.

    :-)

    Btw, ngomong-2 soal bahasa, D juga baru rilis ver 1.0.0-nya, keliatannya lebih lucu dari C dan C++… pernah nyoba gak?

    Jadi inget beberapa puluh tahun lalu ketika ku menerima kitab suci C++ dari Mas Koen yang baik…. Ohh….

  5. “Apapun bahasanya, minumnya teh botol sosro.”
    *Khusus Mas Koen, minumnya kopi :-D
    Someone said:
    “Programmers are lazy people that try to makes everthing automatically. But ironically, they trapped with their codes. The time spended to analyze and check out the codes even more than do it manually…”

    On programmer’s dictionary:
    Loop /adjv = see RECURSIVE

  6. @1: Tahun 1997, saya bakal senyum baca statement itu. Tahun 2007, percayalah: saya beneran kaget.
    @3: Maafkan daku :). Tadinya mau nulis apa? Bjarin Stroustrup? Ya memang di situ pelesetannya :).
    @4: Ya, seperti kitab suci lainnya, kitab suci C++ juga bisa obsolete.
    @5: Sukanya program apa? Duh, dikau ya, plus Arief# dan Ridei, sukanya pasang Enter banyak2 nian di comment.

  7. Sukanya program yg punya kemampuan untuk bikin suatu program baru lagi, menganalisa, kemudian memperbaiki dirinya. Artificial Intelligence, Artificial Neural Network, Artificial Life, Robotics, and all dirty science…

    Jawaban jujurnya: saya lbh suka games :-)

    Gak boleh yah bikin enter banyak2 di comment?Maaf yah.
    Mas Koen: Kenapa kalo habis ngetik harus mencet ENTER?
    Spagiari : Soalnya, kalo ENTAR kelamaan :-D

  8. @7: Aku bayangin tadinya malah perlu titik koma sebelum enter. Tapi daripada banyak ngumpulin jokes dan jargon, mendingan mulai bikin program beneran. Atau, setidaknya, bikin jokes dan jargon baru.

  9. Saya masih setia dengan basic dan pascal

  10. tamu

    ya..ya..ya.. tentu saja ini bukan soal bahasanya.
    ini soal “para micromanager yang membuat pekerjaan selalu seperti dalam keadaan darurat yang permanen”.
    ini soal “User, manager, hingga media, memuja software (dan produk akhir) yang murah, cepat, biarpun buggy. Orang tidak suka kerumitan, tidak suka belajar hal2 baru, dan tidak mau membayar lebih untuk kualitas.”
    dan ini juga soal “kecenderungan saat ini untuk mengintegrasikan manusia dalam corporate culture (tanpa melihat lagi keunikan dan talenta individual) itu kejam dan tak efektif.”
    huuh.. kayaknya aku ikut2an ngoleksi jargon.. atau jokes?

  11. huh ….
    pengen banget dech kopi paste tulisan ini,
    berikut link2nya …
    ke klien2 ku yang terhormat dan
    kadang jadi sangat-sangat menyebalkan itu …
    biar mereka ngerti dikit susahnya jadi tukang …

    aku gak mau ngaku dech aku siapa ….

  12. @7: :D :D :D (lol) …

    napa sich mas, benci banget ama enter,
    sense nya kan beda…

    maaf …
    tapi swear dech mas, kalo kapan2 lagi mampir di jakarta dan tanpa enter, aku dan arief, hampir pasti mau traktir mas kopi …

    dei

  13. Soalnya akan beda kalau Anda sadar betapa seringnya comment dari Anda2 bertiga ikutan tertangkap oleh Akismet — dikira Spam. Barangkali model kebanyakan Enter itu dianggap setara spam sama Mr Akismet :p. Kalau sempat terbaca sih, pasti saya despam. Tapi kalau spam yang masuk sampai ratusan, kadang saya Delete All — karena amat sangat jarang ada komentar asli yang sampai tertangkap Akismet.

  14. Ferri

    Sory klo ga nyambung ama tulisan di atas, cuma mau comment ama curhat, klo boleh… :-)

    Senangnya pasang speedy, bisa akses internet lebih santai, ngga buru-buru kayak waktu pake telkomnet instant :-)

    Bisa surfing-surfing sepuasnya, baca macam-macam blog dan akhirnya ketemu ama ini blog, keren juga isinya.

    baca-baca di recent post, isinya kebanyakan tentang teknologi/proggraming, baca di bagian older post ternyata ada jg tentang fisika, kimia, biologi dll, hebat jg ni orang banyak taunya.

    jd tertarik buat bikin blog, gimana yah caranya? maksudnya buatng isinya itu lho…., biar kontentnya berbobot kayak blog ini :-) apa karena ini udah dimulai dari taon 2000-an, jd isinya bagus yah?

    klo ada waktu, kasih tau donk tips2 buat tulisan yang berkualitas hehe Thanks.

  15. insan

    correctness? “OpenBSD”

  16. nice….

  17. Tas Wanita

    Lumayan dapat ilmu baru ….

Leave a Reply

%d bloggers like this: