Tuan Juru Bayar

William E Barret berkisah tentang para teknisi muda di pabrik gas di Mexico. Pekerjaannya meliputi juga administrasi. Termasuk membayar gaji para buruh. Dan tak lama, mereka jadi dinamai Tuan Jurubayar.

Para buruh orang lokal Mexico. Mereka dibayar dua kali per bulan. Absurd: siapa yang bisa menjaga uang agar tak habis dalam 15 hari? Menyimpan uang lebih dari tiga hari, Anda sudah jadi si kikir. Dan, Senor, mana ada darah kikir dalam pembuluh darah orang Spanyol? Jadi, mereka mulai suka meminta uang muka gaji setiap tiga hari.

Tapi keuangan kantor tidak boleh ikutan berantakan. Maka orang kantor pusat membuat kebijakan baru: Buruh dilarang mengambil uang muka, kecuali ada keadaan darurat. Para buruh mulai tegang. Dan esoknya terjadilah bencana. Para istri jadi pada sekarat. Dan ada wabah berbahaya di kalangan anak2. Dan karena para teknisi tidak digaji untuk memeriksai kehidupan pribadi para buruh, maka uang muka pun dikeluarkan. Hanya sekarang dengan keterangan “situasi darurat.”

Situasi semacam itu tidak membuat kantor pusat semakin baik. Maka mereka membuat peraturan baru: Dalam keadaan apa pun, uang muka tak dapat diberikan. Maka para teknisi harus tega mengabaikan para istri, bibi, dan sepupu yang sekarat. Akibatnya, para buruh bertindak keras. Mereka minta keluar. Tentu dengan pesangon. Keadaan sempat kacau, karena sejumlah besar buruh keluar. Tapi kekacauan dapat dihindari, karena para buruh itu kembali mendaftar kerja lagi esok harinya. Sampai uangnya habis. Kemudian keluar lagi.

Administrasi kantor pusat makin kacau. Selain mengurusi uang yang tak kunjung beres, sekarang mereka direpoti administrasi penerimaan dan pengeluaran buruh yang luar biasa. Kalau ada yang terlambat melakukan pencatatan, maka Garcia bisa terdaftar bekerja 2-3 kali, sebelum surat keluarnya dicatatkan. Tak mau menyerah, para pemimpin membuat kebijakan baru: Karyawan yang keluar tidak dapat masuk kembali dalam waktu 30 hari.

Buruh2 panik. Tapi mereka perlu uang. Dan tetap berkeras untuk keluar demi uang pesangon. Di luar bayangan, mereka tetap antri melamar kerja esok harinya.

“Garcia, kau tahu sendiri: kau tidak boleh mendaftar kerja sampai bulan depan.”
“Tapi, Senor, ada kekeliruan. Namaku Manuel Hernandez.”

Begitulah, semua buruh hari itu jadi punya nama baru. Gonzales jadi Carrera. Hari2 berikutnya, mereka terus berubah nama. Dan karena makin hari makin sulit memilih nama, mereka asal comot nama dari mana saja. Semua tokoh sejarah sudah masuk ke dalam daftar buruh di pabrik gas itu: Lopez dan Obregon, Villa, Diaz, Batista, Gomez, hingga San Martin dan Simon Bolivar sendiri.

Maka akhirnya kantor pusat mengeluarkan peraturan paling akhir: Semua Peraturan Dicabut. Dan begitulah akhirnya Tuan2 Juru Bayar itu meneruskan pekerjaannya dengan tenang.

4 Comments

  1. arief#

    Joel (yang di perangkat lunak itu),
    menulis bahwa ketika faktor ekstrinsik dijadikan motivasi penggerak, maka yang muncul adalah akal-akalan.

    Demi target yang katanya kunci unjuk kerja, orang menjadi bekerja serabutan, terkadang terkesan asal-asalan karena bila target kunci itu tidak tercapai, duit pun hilang.

    Pedulikah mereka bila hasil pekerjaan mereka itu berpengaruh nyata pada hidup orang? yang sedikit maupun yang banyak.

    Mungkin tidak. Atau tidak lagi.
    Yang ada hanya perasaan bahwa diri dan kebutuhannya-lah yang paling penting. Kadang, diatas segalanya.

    Devils and dust.

  2. kang, aku baca paparan sampeyan yang ini teringat cerpen-cerpennya Chekov. Adakah dikau salah seorang penggemarnya?

  3. @1: Pembalasan kaum pekerja katanya. Bekerja sekedarnya demi imbalan sekedarnya. Dan jadilah negerimu ini negeri sekedarnya.
    @2: Siapa sih yang nggak gemar Cekhov? Errrh, ini transliterasi dari sirilik ke Indonesia. c-e-kh-o-v. Kalau Inggris sih memang Chekhov. Kalau Prancis Tchekhov. Kalau RRC …

  4. haha, gitu ya. maklum cuma bersandar pada terjemahan gramedia, hehe…

Leave a Reply

%d bloggers like this: