5786180

Baca cerita tentang Dahlan Iskan, buat inspirasi.
Sebenernya aku udah jadi pimred sebuah majalah nasional Kilat mulai tahun … hmmm … 1977 kali yah. Tirasnya cuman tiga lembar tapi. Dan masih harus menghadapi persaingan juga dari … tiga pesaing yang masing-masing punya tiga customer juga. Kalau jumlah saudara aku lebih banyak, sebenernya tiras bisa ditambah.
Di SMA, minat terpendam jadi redaksi media bebas baru dijalankan lagi (di SMP medianya di bawah asuhan guru –nggak asik). Jadi eksekutor mading SMA-3 (Malang), dan majalah Gema. Redaksinya juga dapet hasil nunjuk temen-temen (bakat yang diteruskan ke Isnet sampai tahun ini). Pimred-nya Handy Trisakti, sering kita korbankan menghadap oom kepala sekolah atas hasil kerja kita yang tidak berkenan di hati si oom itu. Waktu mading SMA-3 menang lomba mading se Malang, baru ada perhatian. Tapi udah waktunya pensiun (dini).
Ke kampus, abis sibuk urusan partai, majalah kembali diincar. Berhasil menggaet Quad. Cuman perlu waktu lama buat ngambil dari redaktur lama. Dan waktu berhasil diambil, aku nggak bisa nunjuk orang jadi pimred. Jadi deh pimred, padahal udah waktunya ngabur buat KKN dan skripsi. Kerja remote, dapet kumpulan artikel. Dan diwariskan ke pengurus baru. Abis itu aku baru sadar bahwa aku nggak cakap jadi pimred.
Jadi penulis lepas aja, di Jawa Pos dan Mikrodata.
Tapi abis mulai kerja, waktu buat nulis juga hilang. Jadi penulis catatan digital aja deh. Di disket-disket, trus di harddisk, trus di Internet. Milis-milis bikin bosan ternyata. Sekarang nulis-nulis di ruang pribadi aja deh.
Abis gagal jadi redaksi, trus malas pula jadi penulis. Hmmmm …

%d bloggers like this: