WANTED DEAD OR ALIVE SCHRÖDINGER’S CAT |
WANTED DEAD OR ALIVE SCHRÖDINGER’S CAT |
WANTED DEAD OR ALIVE SCHRÖDINGER’S CAT |
The easiest thing, yet the most difficult: be yourself.
Is there such a thing as “yourself”?
As a psychological entity in reality?
Aku ketemu kode aneh kayak gini di sebuah web. Aslinya pakai ASP. Aku nggak tahu siapa programmernya, tapi yang jelas aku jadi bener-bener khawatir.
if bl=1 then
bln=”Januari”
endif
if bl=2 then
bln=”Februari”
endif
…..
Emang di ASP nggak ada yang namanya array yach? Kalaupun nggak ada, masa sih harus kayak gitu. Eh, ada lagi di bawahnya.
if bln=”Januari” then
blnlalu=”Desember”
endif
if bln=”Februari” then
blnlalu=”Januari”
endif
…..
Aku harus bilang apa ya?
Berita lain, Altavista dibeli Overture.
Sebelum masa Google, aku jadi pemakai Altavista. Waktu itu alamatnya masih di altavista.digital.com, punya Digital, yang kemudian diakuisisi Compaq, dan terakhir merger dengan HP. Altavista terlalu cuek dengan urusan domain, jadi domain Altavista keburu dibeli tukang bajak domain. Altavista akhirnya menebus nama domain ini cukup mahal. Tapi konsep pencarian Altavista sendiri nggak cukup menarik, dan akibatnya nggak cukup kompetitif.
Beginilah akhirnya ternyata. Barangkali Overture berharap ini jadi awal yang baru buat Altavista. Tapi kalau style kerjanya nggak diubah, Altavista boleh tetap ditinggal di sejarah — sebagai mesin pencari yang pernah lebih baik dan lebih inovatif dari Yahoo.
Good news: Pyra dibeli Google. Kita tahu, Pyra adalah provider Blogger, salah satu web-based utility yang paling menarik di dunia. Kita juga tahu, Pyra selalu kewalahan mengurusi Blogger, dan akibatnya kualitas layanannya juga sering mengkhawatirkan. Ev, pemilik Blogger, mencoba mengkomersialkan Blogger, tapi kayaknya kurang berhasil. Geek yang baik belum tentu jadi pedagang yang baik. Kita semua menduga, Ev bakal menjual Blogger, kayak pemilik Hotmail. Soalnya, Pyra nggak cukup kuat untuk IPO kayak Yahoo atau Google. Tapi ternyata Pyra yang dijual, dan Ev dengan amat sangat riang gembira jadi satu dari 600-an karyawan Google.
Good news. Soalnya Google kita kenal sebagai Internet-based company yang benar-benar berfokus pada service, tidak memaksakan komersialisasi berlebihan. Google juga selalu jadi contoh praktek-praktek Internet yang baik: web yang cantik tapi tepat guna dan efisien, layanan yang customizable, ekspansi layanan sesuai kebutuhan pemakai dan tidak membabi buta, serta penggunaan sains dan teknologi untuk meningkatkan mutu produk dan service.
Sebagai pemakai fanatik Google (mulai Google lahir) dan Blogger (aku matiin script PHP weblog-ku dan aku ganti Blogger), aku berharap akuisisi ini menciptakan service yang lebih menarik, di site Blogger, dan di site Google juga. Nggak tau tuh, apa yang mau dilakukan Google dengan membeli Blogger.
Awal minggu, dan udah harus berlompatan ke sana ke sini sampai melanggar jam kerja lagi. Banyak problem-problem yang harus diciptakan dan dilarutkan.
Nunggu reorganisasi?
Lucu :). Reorganisasi justru jadi salah satu beban kerja tambahan.
Salah, Bob, salah … kamu kurang lama berevolusi …

Kalaupun Pluto dan Quaoar memiliki zat-zat yang bisa membentuk atmosfer,
planet-planet itu tetap sulit memiliki atmosfer. Jaraknya yang terlalu
jauh membuat gas-gas semacam nitrogen dan metana membeku. Itu juga
yang terjadi pada Triton, salah satu satelit Neptunus. Oleh para astronom,
Triton sering disebut saudara Titan, satelit Saturnus itu. Memang
massa Triton hanya setengah Titan, tapi komposisinya hampir serupa.
Kalau keduanya memiliki jarak yang sama dari matahari, diperkirakan
keduanya akan benar-benar mirip. Namun Triton terletak sangat lebih
jauh, jadi lapisan atmosfernya sangat tipis, sehingga langit di Triton
tidak sebiru di Titan atau di bumi.
Soal Quaoar bikin aku berminat lagi sama planet-planet. Trus baca
«Pale Blue Dot» dari Carl Sagan, sambil terus ngebayangin
kasus Pluto dan Quaoar. Hmm, sayangnya Quaoar baru ditemukan
setelah Sagan meninggal.
Pertama, soal definisi planet. Para pakar tentu nggak asal sebut waktu
mensyaratkan bahwa planet harus memiliki lintasan regular yang
khas. Planet, sebagai bagian khas tatasurya, seharusnya terbentuk
nyaris bersama-sama waktu tata surya terbentuk, dari dari materi
purba berenergi cukup tinggi, yang dalam pra-kesetimbangannya
berputar bersama-sama sambil saling menarik akibat gravitasi.
Kemudian sebagian besar terkumpul di pusat tatasurya sebagai
bintang. Sebagian yang jaraknya cukup dekat dengan bintang,
artinya yang distribusi massanya masih lumayan, menyatu sebagai
planet, masih terus berputar mengelilingi bintang dengan pola
putar yang cukup seragam. Sebagian yang jaraknya terlalu jauh
membentuk bola-bola kecil yang tidak diakui sebagai planet,
dan sifatnya lebih irregular.
Pengamatan yang teliti pada beberapa bintang menghasilkan pemandangan
khas, bahwa bintang dikelilingi ruang relatif kosong pada jarak
tertentu, kemudian diselimuti lapisan debu. Lapisan debu itu
sebenarnya berisi bola-bola kecil yang banyak sekali, sementara
ruang yang tampak kosong berisi planet-planet yang jumlahnya
sedikit.
Quaoar sebenarnya memiliki lintasan yang lebih regular daripada
Pluto (yang lonjong bukan main itu). Hanya posisinya yang jauh,
dan masuk dalam wilayah sabuk Kuiper meragukan posisinya sebagai
planet. Malah sekarang Pluto yang dituduh sebagai anggota sabuk
Kuiper yang melintas mendekati kawasan planet, dan dianggap sebagai
planet.
Apa yang terjadi kalau kapan-kapan manusia menemukan rekan Quaoar
yang lebih besar dari Pluto?
Bulan Juni 2002, astronom Chadwick Trujillo, mengamati salah satu
anggota sabuk Kuiper. Diameternya lumayan juga, 1250 km. Dia menamainya
Quaoar, diambil dari nama kekuatan yang konon menciptakan suku indian
Tongva. Quaoar berjarak 42 ua dari matahari.
Pluto, planet terakhir yang diakui sebagai planet, memiliki diameter
2300 km, masih lebih kecil dibandingkan bulan yang punya garis tengah
3480 km.
Ini tentu menimbulkan pertanyaan menarik: apakah Quaoar boleh disebut
planet? Quaoar, sedikit banyak mirip Pluto. Kalau Quaoar tidak cukup
layak disebut sebagai planet, barangkali status Pluto boleh digugat juga.
Ada beberapa alasan misalnya untuk menolak Quaoar. Planet seharusnya
memiliki lintasan yang baku, untuk membedakan dengan satelit yang
lintasannya terhadap matahari tidak sederhana. Tapi kita tahu
Pluto juga lintasannya aneh bin ajaib, dibandingkan dengan planet
lain. Lonjongnya luar biasa.
Soal lain yang suka disinggung adalah atmosfer. Tapi ini tidak bisa
juga digunakan, karena kita tahu Pluto nyaris tidak memiliki atmosfer.
Sebaliknya, Titan yang nggak pernah mengajukan diri jadi planet, justru
punya atmosfer.
Kalau Pluto berkeras jadi planet, seharusnya Quaoar diakui sebagai
planet juga. Dan setelah Quaoar, kandidat lainnya adalah Ixion (1000 km)
dan Varuna (900 km) — berderet membentuk barisan Transneptunian.
Tapi nggak usah terlalu dipusingkan. Itu kan cuma kategorisasi bikinan
manusia. Nggak berfungsi banyak selain buat jadi catatan anak sekolah.
Kalau Quaoar melejit mendekati matahari, dia bakal diyakini sebagai komet.
Kalau kemudian dia terperangkap di gravitasi Saturnus, dia malah jadi
satelit lagi.
© 2026 Kuncoro++
Theme by Anders Noren — Up ↑