Month: November 2001 (Page 4 of 4)

6797772

Tiap ditanya judul tesis, aku selalu pingin mengelak :). Sama sama zaman
bikin skripsi dulu, sesuatu selalu dimulai con spirito (pakai
spiritus), tapi abis sekian bulan kita selalu mikir: kok simpel amat
sih. Malu ah.

Tapi comparing punya temen-temen juga, kayaknya judulnya nggak beda-beda
jauh. Yang dari negara-negara Afrika malah cenderung mirip skripsi S1
anak STT Telkom. Ada yang implementasi WLL, ada yang analisis trafik
telefoni, ada yang aplikasi jaringan IP. Aku pikir sih pasti ada value
addednya deh. Tapi waktu mereka minta bantuin analisis (gantian dink,
nggak bersamaan), rasanya nggak beda jauh sama membimbing anak STT Telkom.

Kali-kali aku kebanyakan mikir yang seharusnya nggak aku pikirin yah :).
Mendingan nerusin kerja. Termasuk the weakest link nih ternyata,
paling lambat. Di bidang broadband network, aku mulai dari awal sih.
Banyak baca dan belajar dulu.

6797756

Circa 1993, mood aku lagi di titik nadir dalam beberapa tahun. Tapi bulan purnama.
Aku keluar, mau motret bulan purnama. Tapi bulan purnama itu bukan buat dipotret.
Ada mendung di tepi langit. Balik ke rumah, baca majalah Yani itu (eh, udah ditulis
kemaren).

Malamnya bulan naik ke atas mendung. Dan terjadilah gerhana. A very special
gift. Bukan mau cerita bulan sih. Mau cerita Ziggyt lagi. Malam itu aku ke rumah Ziggyt.
“Git, gerhana tuh.” Tapi Ziggyt menjawab cuek, “Dingin. Masuk aja yuk.” Ziggyt
itu udah bagian dari keajaiban. Dia nggak perlu keajaiban tambahan :).

6797733

Hampir tengah malam. Rehat dulu. Buka tirai jendela. Langit bening.
Bulan purnama lagi. Kayak waktu-waktu sebelumnya juga. Waktu tantangan-tantangan
serasa lebih dari keterbatasan. Tapi bulan purnama lagi, di tengah langit bening,
dengan goresan awan tipis kecoklatan. Kayak semacam komunikasi dari langit,
bahwa ada yang selalu maha murah dengan segala kasih sayang dan perhatian-Nya.

Ke mana, misalnya, barisan mendung yang beberapa hari ini memenuhi langit Coventry ?

Bisikan itu terdengar kembali, “Tiada satupun yang dapat menolong, kecuali
atas kehendak-Nya — Allâh — pendidikmu. Mengabdilah. Tidakkah kau
mendapatkan peringatan.”

Peringatan … dalam ujud keindahan yang sempurna ?

Jadi mengabdilah. Ayo kerja lagi! Pusingnya buat besok pagi aja!

Tar ah, ngisi weblog dulu, sambil nunggu obat sakit kepala bekerja.

Humor Lokal

Humor lokal. Apa ya istilahnya yang pas. Ini jenis humor yang cuma ditertawai oleh segelintir orang, tapi buat
sebagian besar isi dunia, nggak keliatan lucunya di mana. Dilbert suka bikin candaan macam gini. Tentang si boss
yang harus cari token ring sampai ke kolong meja, misalnya.

Yang inget sih, waktu aku ke ruang sentral 5ESS sama temen. Terus liat rekan kerja aku lagi cemberut. “Ada apa sih?”
tanya aku. “Salah command,” kata dia, “Udah lama-lama nungguin fmt-trfmd, abis selesai mau
dicpy-fsfle, eh malah kepejet clr-fsfle.” Mau nggak mau aku ketawa
dengan sadisnya, ngebayangin makro yang dibuat untuk mempermudah itu malah membunuh. Biarin aja temen aku yang baru dateng itu kebingungan sama rentetan huruf tanpa arti itu :).

Atau waktu lagi suntuk, hampir 10 tahun yang lalu. Ada temen yang bener-bener suka makan temen, dan bangga lagi, senyum lebar. Aku kesel juga, “smiling faeces”. Terus sekelompok temen dari jurusan perikanan ketawa abis sama istilah itu. Si TMT (temen makan temen) sih ikutan ketawa. He thought that we laughed with him. Duh, sadisnya aku.

6780425

Jadi kenapa mendung kelabu?

Biar kesannya serem? Kali yah :). Kalau nggak serem, anak-anak nggak pada
pulang, terus pada kehujanan.

Tapi soalnya adalah kondensasi. Awan sendiri adalah kondensasi uap air.
Uap air, kita tahu, tidak berwarna. Tapi waktu mulai mengembun membentuk
butir kecil, butir air ini mengacaukan cahaya, sehingga awan ‘tampak’,
berwarna putih. Kalau butir air membesar, selain mengacaukan cahaya,
butirannya juga menyerap cahaya. Jadi cahaya yang diteruskan berkurang,
awan jadi tampak kelabu. Makin besar butir air, makin gelap warna kelabu
awan.

Kalau awan hitam? Hmmmh, itu sih hiperboliknya badai pasti berlalu
aja. Ntar juga berlalu.

Diskursus

Tanggal 9 Juni 1997, dengan alamat email masih di west@scientist.com, aku mencoba menjelaskan tentang diskursus. Berikut terjemahannya:

Ingat zaman JH dulu. Gara-gara JH berkeras atas istilah informasi dan propaganda, saya terpaksa sedikit mengarang ensiklopedi. Ditambah disclaimer: barangkali kita perlu mendefinisikan dulu kata definisi.

Kira-kira begitulah bingungnya menceritakan definisi diskursus. Diskursus pasti lebih rumit dari definisi, karena definisi itu
tergantung pada diskursus. Saya coba contek definisi diskursus menurut Michael Foucault [plus tambahan dari saya]:

[Diskursus adalah] seperangkat aturan-aturan yang anonim [yaitu tidak ada orang tertentu yang membuat] dan historis [yaitu terbentuk oleh peristiwa], selalu ditentukan oleh ruang dan waktu yang membatasi sebuah zaman, dan menjadi kondisi berlangsungnya fungsi pernyataan tertentu.

Kalau itu terasa asing, sekali lagi, itu karena ikan tidak merasa hidup di air. Wajar kalau kita dalam menyusun fungsi pernyataan juga tidak merasakan adanya diskursus.

Saya pernah menulis ke *snip* bahwa rumusan tidak akan sama dengan konsep. Kita mengindra fakta, membentuk realitas, menyusun konsep, mengkomunikasikan pesan. Nah, fakta, realitas, konsep, dan pesan, adalah besaran yang berbeda. Mereka dibentuk dengan proses. Aturan-aturan yang digunakan dalam proses itu lah yang disebut diskursus. Jadi, kalau saya boleh contek istilah komputer lagi, diskursus seolah berlaku sebagai sistem operasi yang menentukan bentuk masukan, interpretasi data, penyimpanan data, dan pemilihan proses sesuai kebutuhan.

Diskursus yang kita pakai bergantung pada tempat dan zaman kita, serta latar belakang peristiwa saat suatu proses berlangsung. Yang penting dalam hal ini, menurut saya, adalah menyadari bahwa terdapat berbagai ragam diskursus di sekitar kita. Atau lebih tepat, kita perlu kesadaran bahwa kita bisa memakai diskursus alternatif dalam melakukan pengkajian dan pernyataan. Ini penting dan sangat berguna, tanpa kadang disadari oleh manusia.

Yang mencurigakan, di akhir mail itu, dia menulis frasa share a smile to the universe.

Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑