Mr Winter kayaknya enggan bener meninggalkan tanah ini. Di hari-hari terakhir gini, angin malah meniup keras menyebar kebekuan terakhir. Derau campur desau.
Dulu aku ketawa aja baca penderitaannya Herriot, “Aku tak mengenakan baju. Kandang itu tak berpintu. Angin meniup keras, dst” (gila kali kalo aku bisa apal lebih dari 3 kalimat).
Sekarang kebayang deh, dengan suhu kayak gini, waktu kebekuan bisa menyakitkan kulit, dan rasa menggigil bisa menembus baju rangkap tiga, kebayang sekali gimana rasanya jadi Herriot. Mendingan pulang ke Bandung deh, kalau disuruh buka baju di tempat tak berpintu dan anginnya bertiup keras.
Bener kata Herriot, selalu ada hal-hal yang tidak ada di dalam buku. Termasuk melintasi tumpukan salju sepanjang setengah mil, kata Herriot. Bukan cuma itu, aku pikir. Banyak hal yang bahkan tidak ada di buku Herriot.
(Refer: James Herriot, “Seandainya Mereka Bisa Bicara”, Gramedia 1976, halaman 1. Versi bahasa Inggris “If Only They Could Talk” digabungkan ke dalam “All Creatures Great and Small”)
Akhirnya, cara ngilangin sakit kepala adalah dengan Wagner lagi. Kali-kali sebenernya yang diperlukan adalah istirahat yang cukup dan makan yang baik. Tapi makan juga susah kalau masih pusing. Jadi istirahat aja dibanyakin. Tapi mau bobo aja susah. So di sini Wagner mengambil peranan. Satu set Der Ring dari Berliner Philharmonik, cukup untuk memaksa otak berhenti berpikir dari keseharian, dan memusatkan pikiran pada ide yang dicoba ditransferkan Wagner. Selalu tentang dilema antara nilai-nilai yang memaksa manusia melepas sebagian nilai kemanusiaannya untuk …. terus bisa bobo deh. Dua hari kayak gini, sakit kepala nyaris ilang. Cuman assignment nggak dibikin-bikin. Kacau deh.


