Internetworking Indonesia Vol 2 No 2
Di ujung tahun 2010 ini, telah terbit Internetworking Indonesia Journal, Vol 2 No 2 (Fall/Winter 2010). Jurnal kali ini berisi paper-paper dengan tema bebas, yang ditulis baik dari kalangan researcher maupun mahasiswa pascasarjana, baik dari Indonesia maupun luar negeri. Pun kali ini, sebagian paper menggunakan Bahasa Indonesia, dan sebagian lain menggunakan Bahasa Inggris. Memang salah satu tujuan jurnal ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis paper ilmiah dan teknis dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.
- Editors’ Introduction, by Thomas Hardjono, Budi Rahardjo and Kuncoro Wastuwibowo (PDF)
- The Effect of IPv6 Packet Size on the Implementation of CRC Extension Header, by Supriyanto, Iznan H. Hasbullah, & Rahmat Budiarto (PDF)
- A Modified Weighted Clustering Algorithm for Stable Clustering using Mobility Prediction Scheme, by S. Muthuramalingam, R. Viveka, B. Steffi Diana & R. Rajaram (PDF)
- Mengamankan Single Identity Number (SIN) Menggunakan QR Code dan Sidik Jari, by Fridh Zurriyadi Ridwan, Hariyo Santoso & Wiseto Agung (PDF)
- EnsoTracker: Mouse Controller Device using Head Movement, by Gunawan, Tri Kurniawan Wijaya, Indra Maryati & Edwin Seno Dwihapsoro (PDF)
- UTAUT Model for Understanding Learning Management System, by I Gusti Nyoman Sedana & St. Wisnu Wijaya (PDF)
- Star Schema Design for Concept Hierarchy in Attribute Oriented Induction, by Spits Warnars (PDF)
Edisi lengkap dapat diperoleh pada link berikut.
Terima kasih kepada para peneliti dan akademisi yang telah meluangkan berbagai sumberdaya untuk dapat menyumbangkan paper-paper di atas, juga kepada para reviewer yang menyumbangkan keahlian mereka untuk melakukan revisi dan editing pada paper.
Edisi IIJ berikutnya akan terbit pada tahun 2011, dengan fokus pada aspek sosial pada Internet di Indonesia. Mereka yang menjadi peneliti, pelaku, aktivis, pengamat, pada dinamika media dan jejaring sosial digital di Indonesia mungkin akan tertarik untuk menyumbangkan paper. CFP akan segera disampaikan oleh Guest Editor edisi berikutnya: Prof Merlyna Lim dan Dr Yanuar Nugroho.
iPhone 4 Telkomsel
Apa sih yang menarik dari Apple dan iPhone? Haha :). Banyak! Dari sisi aku, ini agak mirip visi yang jadi nyata. Di beberapa kuliah umum sejak 2007, aku menyinggung beberapa trend yang akan menjadi kunci pengembangan mobile application beberapa tahun ke depan; misalnya location-based service, context-aware application, augmented reality, dll. Mengejutkan bahwa tak memerlukan waktu terlalu lama untuk melihat hal-hal itu satu demi satu terwujud. Feature iPhone 3G telah mendorong proliferasi aplikasi yang bersifat location-based, dan mulai masuk ke context-aware. Dan generasi baru iPhone dengan video processing capacity yang lebih handal telah memungkinkan pengembangan aplikasi augmented reality.
iPhone 4 secara resmi mulai dipasarkan di Indonesia, ditandai dengan peluncurkan Promosi iPhone 4 oleh Telkomsel di akhir minggu lalu di Senayan City (Jakarta) dan Tunjungan Plaza (Surabaya). Minggu ini pameran promosi dilangsungkan di Kelapa Gading.
Beberapa hal yang menarik pada iPhone 4:
- Prosesor Apple A4 yang menawarkan kecepatan yang lebih tinggi (hingga 1GHz), pengolahan grafis yang lebih baik, dan efisiensi daya untuk menghemat baterai dan mengurangi panas.
- Retina display, dengan resolusi 4x iPhone sebelumnya, menghasilkan grafis halus yang konon pixelnya tak akan terdeteksi mata biasa. Selain tampilan grafis menjadi sangat halus, membaca message atau iBook pada iPhone 4 tak melelahkan mata.
- Video recording & processing, yang memungkinkan berjalannya aplikasi-aplikasi augmented reality, dengan potensi nilai tambah luar biasa bagi aplikasi-aplikasi masa depan. Sebuah Star Wars games yang amat realistik dapat dijalankan dengan kemampuan ini. Yang terbaru, aplikasi Word Lens mampu menerjemahkan secara real time tulisan yang dicapture melalui kamera (tapi baru English-Spanish & sebaliknya). Kita tunggu aplikasi luar biasa lainnya di sini.
- AirPlay mampu memainkan video pada perangkat HDTV langsung dari iPhone. AirPrint mampu melakukan percetakan nirkabel dari iPhone ke printer2 tertentu, tanpa instalasi lebih lanjut.
- Aplikasi iBook sebagai book reader sekaligus gudang buku. OK aku lebih memilih Kindle, haha. Tapi iBook pada iPhone OK juga, dengan pilihan toko buku dan buku gratis berformat ePub yang cukup banyak. Penerbit semacam O’Reilly menjual e-booknya a.l. dalam format ePub juga.
- Aplikasi iMovie untuk menyunting video, langsung pada iPhone kita. Kita dapat melakukan perekaman, dan penyuntingan, dan langsung memainkannya dengan AirPlay.
- Sila ditelusuri feature lain di website Apple.

Mengenai Promo Telkomsel:
- Harga hampir 7.0jt untuk iPhone 4 16GB dan 8.2jt untuk 32GB (dengan kekuatan processor yang sama). Telkomsel memberikan gratis Kartu Simpati Turbo (mini simcard) berisi bonus data 500MB/bulan. Berdasar pengalaman aku sih, andai tanpa melakukan tethering, kuota sebesar ini cukup untuk 1 bulan. Bonus ini bisa ditransfer ke nomor Simpati lain (sehingga kita tak perlu ganti nomor), atau bahkan ke Kartu Halo. Untuk transfer ke Kartu Halo, nilai bonus akan dilipatduakan (jadi 1GB/bulan).
- Untuk pemakai Kartu Halo (>12 bulan dengan rerata pemakaian 300rb, atau 6-12 bulan dengan rerata pemakaian 500rb), disediakan paket Kartu Halo Turbo yang amat menarik dengan kontrak 1 tahun. Pembayaran awal paling rendah cukup 1.375jt saja (dengan biaya bulanan 555rb, termasuk data 1GB, SMS dan voice yang cukup besar). Terdapat paket lain, sehingga kita dapat mengoptimumkan biaya awal dengan biaya bulanan, sesuai preferensi kita.
- Tersedia juga program cicilan 0% yang didukung BNI, Bank Mandiri, Citibank, dan BCA.
- Informasi lebih lengkap dapat disimak di website Telkomsel.
Kayak aku bilang tadi, it’s too exciting. Ada peluang baru untuk menggunakan, mengembangkan, dan menciptakan aplikasi2 mobile yang lebih menarik untuk membuat hidup lebih kreatif; yang tentu akan diikuti juga oleh platform2 mobile lainnya, seperti yang juga mulai tampak ramai sekarang.
Buat kamu sendiri, aplikasi apa yang paling menarik? Aplikasi apa yang kamu inginkan? Seberapa jauh gaya hidupmu berubah oleh teknologi mobile yang menarik ini?
Indigo Fellows
Tak seperti tahun lalu, sebenarnya tahun ini aku tak terlalu terlibat dalam deretan kegiatan Indigo Awards: Indigo Fellows, Indigo Fellowship, Tesca, Indigo Music Awards, dll. Tapi seorang rekan mengambil cuti untuk ibadah haji, dan aku diminta menggantikan dalam tim pengelolaan Indigo Fellows.
Indigo Fellows adalah program untuk mengangkat para teladan (inspiring person) dalam bidang pengembangan industri kreatif digital nasional. Tujuannya adalah untuk lebih menginspirasi dan memotivasi perkembangan kreativitas digital. Program ini dikerjakan bersama oleh Telkom Group dan berkala Warta Ekonomi. Waktu aku bergabung dengan tim, pekerjaan2 besar telah diselesaikan. Tim juri telah terbentuk (mula-mula diketuai Bp Mario Alisjahbana, tetapi beliau mengundurkan diri dan digantikan Bp Richard Mengko). Para peserta juga telah memasukkan proposal-proposal.
Di dalam tim, aku bertugas memeriksai proposal para kandidat Indigo Fellows. Ini tugas menarik. Klaim-klaim yang dituliskan di dalam proposal2 harus diperiksai: benarkah sang tokoh memiliki peran dalam proyek yang disebutkan, benarkah produk yang pernah dikembangkannya seberhasil yang dituliskannya, seberapa jauh keterlibatannya dalam komunitas mampu menginspirasi komunitas di sekelilingnya untuk lebih luas menciptakan dan mengembankan karya kreatif yang inovatif. Memang kata kuncinya adalah inspirasi :), karena tujuannya adalah mempercepat pengembangan industry kreatif melampaui bisnis atu bidang tugas yang digeluti saat ini. Proposal-proposal ditandai, lalu kami menemani Dewan Juri yang bertugas menilai setiap individu.

Sebagai panitia, kami tentu tidak ikut memberikan nilai, apalagi memutuskan ranking peserta :). Kami hanya memberikan saran atau masukan, jika dibutuhkan. Dewan Juri sudah amat memahami peta industri kreatif dan komunitas digital di Indonesia. Justru dari mereka, kami banyak belajar mengenai strategi penumbuhan komunitas2 kreatif.
Sidang untuk memilih finalis dilakukan di Purwakarta. Setelah itu, para finalis (yang jumlahnya hanya sekitar 3 orang per kategori) diundang ke Hotel Sahid di Jakarta untuk melakukan presentasi dan wawancara di depan Dewan Juri. Dan sekali lagi aku banyak belajar hal menarik dari interaksi antara para kandidat (i.e. para tokoh yang inspirational) dengan dewan juri. Plus perbincangan di kala rehat. Aku bayangkan, di tahap ini tugas Dewan Juri akan sangat berat. Yang dinilai benar2 tokoh berkaliber internasional :). Sidang internal Dewan Juri di tahap ini jadi cukup seru. Tak ada tokoh yang terangkat atau terturunkan dengan mudah.

Setelah sidang marathon 2 hari penuh, Dewan Juri memutuskan nama-nama Indigo Fellows 2010 sbb:
- Tokoh Digital Creator: Oskar Riandi
- Tokoh Digitalpreneur: Adi Sasongko
- Tokoh Digital Academic: Dimitri Mahayana
- Tokoh Digital Creative Promoter: Itoc Tochija
- Tokoh Digital Community Fellow: Hari Sungkari
- Special mention for Young Inspiring Creator: Adi Panuntun
Penganugerahan gelar Indigo Fellows dilakukan bersamaan dengan maklumat pemenang Indigo Fellowship dan Indigo Music Awards di Jakarta Convention Centre tanggal 8 Desember 2010.
Tugas menarik berikutnya barangkali justru di Indigo Fellowship. Berbeda dengan Indigo Fellows, Indigo Fellowship justru mengangkat insan kreatif Indonesia yang masih dalam tahap pengembangan kreasi maupun bisnis digital mereka. Para pemenang akan memperoleh pembinaan dan dukungan untuk mengembangkan kreasi mereka, agar dapat menjadi entrepreneur yang dapat lebih meningkatkan skala bisnis kreatif digital di Indonesia.
Carrier Ethernet World di Hongkong
“Siap-siap ke Hongkong ya!”
“Mendadak amat?”
Tapi mana ada sih akhir2 ini tugas yang nggak mendadak? Maka, di tengah kesibukan urusan akhir tahun (IPTV content, SDP service prototype, Indigo Fellows & Indigo Awards, main web reconfiguration, etc), aku menyempatkan mengumpulkan bahan, arrange tiket dan akomodasi. Sayangnya, karena waktu yang sempit (<72 jam), Garuda Indonesia menolak menjual tiket online. Akhirnya cari alternatif: Cathay Pacific. Tak seperti traveling lainnya, aku tak menyempatkan diri baca Google atau Wikitravel. Sempat sih, dikonversi Wikitravel itu ke PDF, disimpan di PDF, dibaca di Kindle di pesawat di antara awan di atas sana (biar di-nya banyak, dan tampak beda antara di sebagai pembentuk kata kerja dengan di sebagai kata sambung). Mungkin detailnya aku ceritakan di TRAVGEEK.NET saja, biar blog yang itu punya content juga.
Acara di Hongkong ini berjudul Carrier Ethernet World 2010. Secara ringkas, carrier ethernet adalah jaringan core dan akses berkecepatan tinggi, digunakan umumnya oleh provider besar dan operator telekomunikasi untuk menghantar data, dan menggunakan standar-standar penghantaran paket data. Secara fisik, jaringan yang digunakan tetap berupa kabel optik, tetapi bukan seperti transmisi masa lalu yang menggunakan frame berbasis waktu (seperti SDH dll). Banyak hal yang masih layak didiskusikan. Pertama, alasan memigrasikan transmisi TDM menjadi carrier ethernet, yang ujungnya akan ke optimasi jaringan yang mengarah ke arsitektur horisontal dari next-generation network. Dan tentu untuk mendukung alasannya, aspek-aspek lain akan masuk, terutama service, aplikasi, content, hingga objective bagi semua stakeholder, dan ujungnya ke regulasi. Kebetulan, sepulang kuliah dulu, aku justru tak banyak lagi bermain di layer infrastruktur network. Jadi aku ditugaskan mempresentasikan hal-hal yang ada di layer atas: service dan environment yang akan mendukung pada negosiasi regulasi.
Di sisi ini, banyak yang bisa diceritakan. Telkom Indonesia bisa jadi contoh menarik. Divisi Multimedia, tempat aku didamparkan saat ini, dulu memiliki lingkup tugas dari infrastruktur hingga layanan multimedia — hal-hal yang bersifat IP-based commercial services. Sejak Telkom berbisnis TIME (dengan harapan TIME is MONEY), infrastruktur dipusatkan di Divisi Infrastruktur; sementara Divisi Multimedia memperoleh tugas menciptakan dan mengelola rentetan service, aplikasi, dan content yang akan jadi enabler untuk memungkinkan bisnis-bisnis TIME tumbuh di masa depan. Tapi tentu aku tak mempresentasikan organisasi Telkom dan posisi divisi2 di dalamnya. Aku lebih suka bercerita tentang potensi aplikasi Internet yang bisa tumbuh di negara yang sedang panas-panasnya berkonversasi multimedia seperti Indonesia, lalu bagaimana ini harus dan bisa didukung dari sisi pengembangan dan bisnis (mis. Indigo) dan dari sisi teknis (mis SDP dan IMS). Aku menikmati bagian ini: menggambar kotak2 dan struktur. Kemudian presentasi dilarikan ke bagaimana ini akan disampaikan untuk menjadi bagian dari regulasi (dan keseimbangan di sisi deregulasi). Cukup lucu bahwa salah satu kesimpulannya adalah perlunya ko-opetisi (kerjasama tanpa melupakan kompetisi).

Sebagian bahan presentasi aku ambil dari Mas Arief Hamdani juga (no link — syukurin — suruh siapa nggak bikin2 blog?). Penataan narasi (urutan cerita), pengayaan, dan ilustrasi, aku buat di perjalanan dan di hotel. Aku juga baru sadar bahwa sebagian besar dari presenter, peserta, mengenakan suite resmi. Terpaksa jaket dilemarikan, dan aku belanja jas sebentar (sempat salah nomor pula, dan harus dibalikin besoknya dengan cara yang lucu).
Presentasiku mengambil waktu sore hari. Para peserta yang siang harinya sempat menghilang sudah kembali, sehingga forum cukup penuh, padat, dan antusias. Aku menyampaikan presentasi, dan aku pikir seharusnya dapat nilai 8. Tapi 8 dalam skala Richter, kalau dihitung getaran pada meja dan lantai akibat efek demam panggung temporer. Hanya ada 1 pertanyaan; karena peserta diinformasikan bahwa kemudian ada sesi panel. Setelah satu presenter lagi dari New Zealand (yang bercerita dengan asik tentang inovasi content untuk mendukung aplikasi multimedia di NZ), panel dimulai. Sesi ini lebih menarik daripada tanya jawab dengan 1 penjawab. Jadi setiap pertanyaan didiskusikan kembali oleh forum di atas panggung.
Selesai. Lega. Tapi belum berakhir. Di sesi networking sesudahnya, beberapa peserta masih mengejar, menyampaikan apresiasi, dan terutama memenuhi kepenasaranan yang ternyata belum habis. Di meja cuma ada Coca Cola dan minuman beralkohol. Jadi aku nggak sengaja terus menjawab pertanyaan dan obrolan (yang terlalu serius untuk level networking) itu sambil terus-terusan meng-Coca Cola. Satu peserta dari US iseng menyuruhku belanja ke tempat2 menarik di sekitar Victoria Harbour (tempat konferensi diselenggarakan).

Keluar. Terjadi efek tak menyenangkan, tapi standar sekali. Penyebab: overload pekerjaan (sisa urusan kantor), kurang tidur (persiapan presentasi), kurang makan (gara2 persiapan presentasi, serta belum tahu tempat makanan halal), dan post-demam panggung-syndrome (ada ya, yang namanya kayak gitu). Berkeliling sebentar, aku kelelahan. Balik ke hotel, lewat pasar tradisional segala. Pesan dinner dari kamar. Dan — seperti yang terjadi di bulan puasa — langsung tidur setelah kopi dan beberapa sendok makanan bisa masuk. Uh, rugi, perjalanan perdana ke Hongkong, dan isinya cuman bikin presentasi serta tidur. Haha :).
G-Maps Penjelajah Jakarta
Tahun 2010 sudah hampir berakhir. Artinya sudah 2 tahun aku menghuni Jakarta :). Dulu, dari luar Jakarta, kota ini tampak tak menyenangkan: terlalu rapuh oleh gangguan cuaca, lalu lintasnya selalu kacau. Tapi aku masuk Jakarta dengan optimis, tanpa beban, dan ternyata cukup menikmati kota ini. Macet pagi diatasi dengan bekerja di jalan. Macet malam diatasi dengan pulang lebih malam, dan menikmati musik di perjalanan panjang :). Perusahaan keren tempatku bekerja memang memberikan mobil dinas. Tapi itu buat tugas operasional kantor saja lah. Untuk berangkat dan pulang, aku harus lebih produktif atau rekreatif ;).
Dibandingkan kota2 lain, banyak hal2 menarik di Jakarta. Ada pusat2 kebudayaan asing yang kegiatannya cukup banyak. Ada komunitas2 kreatif yang jumlah dan aktivitasnya juga lebih banyak. Ada konser2 musik yang sayangnya masih jarang ditemui di kota2 lain. Mengasyiki Jakarta membuat kita lupa akan hal2 kecil yang justru sering dikeluhkan warga Jakarta. Lucunya, hal2 yang aku pikir menarik, justru tak terlalu sering dikenal orang2 Jakarta sendiri. Taxi Driver sering gagap kalau kita minta diantar ke Jl Salihara, Jl Langsat, Jl Adityawarman, atau tempat2 unik lain. Mungkin mereka cuma kenal mall dan airport — tempat2 favorit orang Jakarta. Tapi aku masuk Jakarta pada waktu yang pas. GPS sudah masuk ke smartphones; dan Google Maps sudah cukup detail menampilkan peta Jakarta.
Mungkin ini jarang aku tulis :). Tapi banyak kegiatan yang aku blogkan di sini melibatkan urusan GPS dan Google Maps. Perjalanan2 ke Komunitas Salihara, ke Obsat, ke Fresh atau Pecha Kucha di tempat2 di atas, hampir selalu melibatkan Google Maps. Yang cukup menarik adalah waktu menghadiri Seminar di UI. Waktu itu sang taxi driver (Blue Bird) cuma hafal jalan ke UI. Di dalam, dia clueless. Aku buka Google Maps di iPhone. Mas Arief Hamdani yang menemaniku cuma ketawa. “Mana mungkin dia bisa cari Jurusan Elektro?” Tapi ternyata memang Google Maps bisa sedetail itu, menunjukkan bukan saja tempatnya, tetapi juga jalan, belokan, dan putaran yang harus diambil untuk menuju Jurusan Elektro UI. Syukurnya, baik sinyal GPS maupun sinyal 3G dari Telkomsel sama sekali tak terganggu sepanjang perjalanan itu. Nggak salah pilih provider nih ;).
Yang juga buat aku lucu adalah waktu kami mencari Aula Simfonia Jakarta. Waktu itu aku benar2 baru tahu bahwa di Jakarta ini ada tempat keren bernama Aula Simfonia Jakarta. Dan lucunya, driver di taksi yang kutumpangi juga merasa baru dengar nama itu. Satu2nya clue adalah bahwa tempat ini ada di Kemayoran. Situasinya agak seram. Langit Jakarta sangat gelap menjelang badai, dan aku baru datang dari Bandung sore itu. Dan aku tak boleh terlambat — soalnya belum beli tiket. Tetap optimis, aku masukkan saja alamat si aula ini ke Google Maps. Sebuah tanda merah menandai tempat itu di sekitar Kemayoran. Aku pilih menu Direction; dan Google Maps memberikan tanda ungu, menunjukkan jalur terefektif untuk menuju tempat itu dari Pondok Bambu: melintas Jalan Baru, masuk Tol Priuk, keluar sekitar Sunter, melintas Jl Benyamin Sueb, dan belok di dekat Kemayoran. Sang Aula langsung tampak di depan mata. Ah, bantuan peta dan dukungan sinyal handal dari Telkomsel membuatku tak terlambat datang ke konser.
![]() |
![]() |
![]() |
Cerita tentang konsernya, ada di sini: http://tlk.lv/1s7
Informasi lebih lengkap tentang Google Maps sebagai nilai tambah dari Telkomsel: http://tlk.lv/gmaps.
Telkomsel keren juga. Roaming Internetnya menjangkau banyak negara. Di Singapore, Cebu – Mactan, Taipei, dll; aku terus berGPS tanpa gangguan. Kayaknya cuma di UK aku benar2 ganti kartu ke kartu lokal (O2 dan Orange). Yuk, besok kita test lagi ke … rahasia :).
Pesta Blogger
Juli 2010 menandakan bahwa blog ini sudah berusia 10 tahun. Tapi tentu angin sedang bertiup kencang, sampai aku tak sempat meluangkan waktu untuk memperingati sesuatu. Selain itu, blog tak lagi dipandang sepenting dulu. Dulu, blog dianggap pembuka jalan bagi masyarakat untuk mengenal Internet, menggunakannya untuk mengangkat akal budi dan kesejahteraan. Kekuatan yang mandiri dari birokrasi dan kapitalisme, kekuatan persaudaraan yang diikat gagasan dan kesetaraan, dan peluang sosial ekonomi yang bisa dibangkitkannya. Tapi aplikasi jejaring sosial dan media sosial telah menggantikan fungsi blog, dengan segala kelebihan dan kekurangannya: aliansi dengan teknologi mobile dengan perangkat yang lebih mudah dan nyaman, proliferasi kesetaraan dan kekuatan 2.0, kekuatan memaksakan suara publik kepada pemerintahan yang masih ingin bertumpu pada ignoransi masyarakat, dll. Blog mungkin hanya jadi tonggak-tonggak bagi aktivis online, namun tak lagi jadi pusat komunikasi dan aktivitas. Bendera yang berkibar senyap di atas riuh.
Namun blog tak akan mati. Bendera tak akan diturunkan. Kata-kata terukir lebih kokoh menghadang waktu dalam prasasti blog daripada di atas pamflet singkat beraneka warna cerah. Para penulis blog masih seperti gerilyawan dalam senyap yang tak kunjung mampu melawan dorongan hatinya, serta komitmennya, untuk menulis. Dan para blogger, yang kini adalah sebutan bagi mereka yang sekedar menyebut diri blogger (pernah menulis blog, pernah membaca blog, pernah berkomentar di blog, dll) terus menjaga aura kekuatan dunia blog.
Words :)
Dan Oktober datang lagi. Seperti Oktober lainnya, para blogger Indonesia merayakan Pesta Blogger dengan berhimpun dalam skala besar. Sayangnya, tak seperti tahun2 lalu, tahun ini aku tak berhasil meyakinkan Telkom Indonesia untuk turut mensponsori Pesta Blogger 2010 (PB2010). Jadi Telkom juga tak menemani para blogger yang saling memberikan pelatihan dan inspirasi di berbagai kota di Indonesia. Ah, sedih :). Tapi dalam proses yang tak berhasil itu, aku jadi lumayan sering maksi bersama Rara, Presiden Blogger 2010 — she’s an inspiring personality! Dan aku pikir, warna kepemimpinan Rara itu yang membuat Pesta Blogger 2010 menjadi sebuah kesuksesan yang gemilang.
Angin yang memang lagi kencang (agak harfiah nih) memang membuat aku tak sempat meregistrasikan diri sebagai peserta Pesta Blogger 2010. Tapi ada dorongan tak terjelaskan untuk tetap nekat hadir (haha). Nyaris tanpa persiapan; satu2nya yang dibuat bekal untuk PB2010 hanya belasan buku untuk disumbangkan ke program 1000 Buku yang juga bersarang di PB2010 — dari buku anak2 sampai buku yang terlalu rumit dibaca anak2. Aku datang ke kawasan Kuningan itu agak sore, dan langsung menghabiskan sore itu mendengarkan kabar berbagai komunitas blogger tanah air; plus berfoto2 di depan logo berbagai komunitas blogger dan onliner Indonesia.

Dari tahun ke tahun, banyak hal yang dikembangkan dalam Pesta Blogger. Nampaknya aspirasi para blogger cukup banyak didengar. Kini Pesta Blogger menjadi Pesta Blogger Plus, dengan menangkap berbagai aktivis komunitas online di luar blog. Juga komunitas yang dulu belum sempat tersentuh, misalnya komunitas pendidikan, kini mendapatkan porsi cukup besar.
Tentu yang paling menarik buat aku adalah berbincang dengan para blogger: sahabat lama dan kenalan baru. Terlalu banyak untuk ditulis satu per satu :). Plus kebagian kaos 1000 Buku dan beberapa pin yang menarik :). Memang sayangnya tak cukup lama. Aku harus kabur lagi. Ke Kemayoran. Baca entry blog sebelumnya deh :).
An die Freude
Ada kegamangan tak terjelaskan weekend ini — bagian dari intuisiku terus menerus mengingatkanku ke sesuatu yang tak juga teringatkan. Mungkin sudah waktunya dia dibungkam :D. OK, life goes on. Hari Kamis aku mulai berpindah ke ruang kerja baru di Lt 6. Ini ruang yang gue banget: bagian luas di tengah ruangan tak banyak bersekat; dan aku bisa memilih untuk bekerja di saung, kursi tegak, kursi gantung, dll. Foto2 ruangan sudah aku masukkan di Instagram :). Jumat, aku sudah menghabiskan nyaris seluruh hari di sana, selain beberapa menit mengunjungi Lt 17 dan Lt 14. Trus masuk weekend. Dan bersiap dengan sebuah malam bersama Ludwig van Beethoven di Aula Simfonia Jakarta.
Pun selama weekdays, Wagner sudah banyak tergantikan oleh Beethoven; terutama Simfoni #5, #6, #7, dan #9; plus konserto violin. Masih ada Wagner sedikit, yaitu satu versi Simfoni Beethoven #9 yang telah diaransir ulang jadi versi piano oleh Wagner, dimainkan Noriko Ogawa di Bach Collegium Japan. Simfoni 5 dan 6 di koleksiku dimainkan Kammerorchester Basel dengan konduktor Giovanni Antonini; Simfoni 9 oleh Royal Concertgebouw Orchestra dipimpin Bernard Haitink; dan Simfoni 7 (sebetulnya dengan 4 juga) oleh Berlin Philharmonic Orchestra dipimpin Herbert von Karajan.
Aku datang di Aula Simfonia Jakarta sekitar pukul 19:00, setelah sebentar mengunjungi Pesta Blogger 2010 di kawasan Kuningan. Tak seperti kunjungan pertama, bangsal tunggu kali ini tampak penuh. Tapi waktu akhirnya gong digaungkan, dan para tamu memasuki aula, barulah tampak bahwa aula tak juga penuh. Publik Jakarta tampaknya belum terlalu berminat menyaksikan live orchestra. Jadi geli membayangkan bahwa aku sempat khawatir gak kebagian tiket :).
Performer malam ini adalah Dubrovnik Symphony Orchestra. Mereka datang dari kota pantai di Kroasia itu sebagai bagian dari program The 7000 Miles, yaitu pengiriman perwakilan DSO ke beberapa negara (sejauh 7000 mil). Para pemainnya, menurut tutur pembawa acara, sebagian besar lulusan dari Zagreb Symphony Academy. Zagreb, kota yang entah kenapa pernah masuk ke mimpiku, haha.
Orkestra dikonduktori oleh Noorman Widjaja. Ya, sebuah nama Indonesia. Ia lahir dari sebuah keluarga musisi di Jakarta. Pada usia 11 tahun, ia memimpin sebuah orkestra di hadapan Presiden Soekarno, menggantikan ayahnya yang mendadak sakit. Tahun 1969 ia meneruskan pendidikan musik di Berlin, dan tahun 1982 dipercaya memimpin orkestra di Nuremberg. Sejak itu memimpin banyak orkestra di Cina, Jepang, Italia, dan Jerman.
Gelaran malam ini dimulai dengan Konserto Piano #2 dari Chopin. Piano dimainkan oleh pianis dari Georgia, Ani Takidze. Frederic Chopin dikenal sebagai musisi dari madzhab romantik, yang tampil setelah madzhab klasik. Jadi ia semadzhab, namun dalam aliran yang sungguh berbeda, dari Wagner (uh, ini lagi). Aku lebih mengarabi Chopin dengan alunan piano tunggal, dan amat jarang dalam bentuk konserto. Tapi konserto selama 30 menit ini membuka pintu pikiranku, menunjukkan ke hal2 yang sungguh menarik dari konserto piano dengan gaya Chopin. Konserto terdiri atas tiga bagian, dengan violin lembut mendominasi bagian-bagian yang tak diisi hentakan piano. Ya, ini Chopin versi menghentak :). Aku hanya bisa diam, dan kegamangan asing itu kembali, membuatku hampir lupa bernafas (selain memang asthma ringan itu kambuh lagi). Tapi ada hal menarik dengan bagian violin di Bagian #3. Kayaknya aku harus dengarkan konserto ini lagi biar lebih yakin :).

Setelah Chopin, ada waktu rehat 20 menit. Udara Jakarta malam tadi agak ramah. Angin agak sejuk dan tak terlalu kencang. Gong bergaung lagi. Kami kembali ke aula.
Dawai violin mulai sayup mengisi ruang laksana angin tipis, dibalas deretan woodwind bersahutan (khas), satu satu satu, lalu membentuk kombinasi, dan ditegaskan oleh hentak ringan timpani. DSO telah memainkan Simfoni Beethoven Kesembilan. Ini adalah Simfoni Beethoven yang paling populer, bahkan sering disebut sebagai puncak performansi musik barat sepanjang masa. Padahal Beethoven mencipta simfoni ini sudah dalam keadaan tuli. Aku sendiri nggak akan bisa menceritakan dereten fase-fase yang menghantar setiap bagian dari simfoni ini dalam sebuah entry blog semacam ini :). Bagian favoritku justru bagian 1 (allegro ma non troppo) dan 2 (scherzo), yang lembut dan riang menyemangati pagi, tanpa terlalu heboh :).
Namun tentu bagian yang paling heboh adalah bagian keempat. Sempat jeda sebentar untuk membiarkan choir dari Batavia Madrigal Singers memasuki aula, bagian ini dimulai dengan sedikit cuplikan dari bagian-bagian sebelumnya. Lalu sebuah jeda yang diisi sebuah bariton: “Hey, bukan nada semacam ini! Ayo angkat suara dengan lebih ceria!” — dan choir pun dimulai dengan meriahnya. Ini adalah satu2nya simfoni Beethoven yang dilengkapi dengan choir. Kata2 dalam choir ini diambil dan dimodifikasi Beethoven dari puisi Friedrich Schiller berjudul An die Freude, yang sering diinggriskan sebagai Ode to Joy. Puisi ini memberi semangat hidup bagi kemanusiaan dan persaudaraan. Tak heran, musik ini sering dianggap sebagai Lagu Kebangsaan Eropa.
Bagian keempat dari Simfoni Kesembilan ini menceriakan ruang selama sekitar setengah jam. Ada yang bahkan menganggap bagian keempat ini sebagai sebuah “simfoni” tersendiri, yang dibaginya menjadi empat “bagian” dengan fase2 yang menariknya serupa dengan pemfasean dalam Simfoni Kesembilan ini sendiri. Simfoni Kesembilan sendiri memakan waktu sekitar 1 jam + 15 menit.
Aku bukan musisi, jadi tak akan membahas kualitas permainan DSO, apalagi untuk karya serumit ini. Dan pembandingan subyektifpun akan jadi tak adil, karena yang biasa terdengar di player adalah permainan Royal Concertgebouw Orchestra dipimpin Bernard Haitink. Maka akan berbeda dengan pengalaman mendengarkan Simfoni Keenam di tempat yang sama bulan lalu, dimainkan Jakarta Symphony Orchestra, dimana kualitas permainan jadi terasa jauh lebih baik daripada CD player :D. OK, ini cuma untuk menjelaskan kenapa aku harus menuliskan para pemain di koleksi Beethovenku di atas :).
Anyway, menyaksikan Simfoni Kesembilan dengan An die Freude malam ini cukup untuk mengangkat semangatku lagi; dan mengingatkanku kenapa aku sampai sekarang tak pernah mau menyerah :). Thanks, Dubrovnik Symphony Orchestra, Pak Noorman Widjaja, Batavia Madrigal Singers, Aula Simfonia Jakarta :).






















