<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kuncoro++</title>
	<atom:link href="http://kun.co.ro/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kun.co.ro</link>
	<description>Reinventer La Vie</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Mar 2010 05:30:12 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ultah IEEE 802</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/03/18/ultah-ieee-802/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/03/18/ultah-ieee-802/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 05:20:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IEEE]]></category>
		<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[802]]></category>
		<category><![CDATA[Ethernet]]></category>
		<category><![CDATA[Standard]]></category>
		<category><![CDATA[WiFi]]></category>
		<category><![CDATA[WiMAX]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2862</guid>
		<description><![CDATA[Pada bulan Maret 1980, beberapa perusahaan, termasuk DEC, HP, IBM, Intel, dan Xerox mulai mengkristalkan gagasan untuk membentuk sebuah komite komunikasi data di bawah IEEE. IEEE dipilih karena sifatnya yang netral dan lebih berfokus pada soal teknis. Komite ini akhirnya dibentuk, dengan Maris Graube dari Tektronix sebagai ketua.
Aku pernah Kerja Praktek di LEN. Di sana, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada bulan Maret 1980, beberapa perusahaan, termasuk DEC, HP, IBM, Intel, dan Xerox mulai mengkristalkan gagasan untuk membentuk sebuah komite komunikasi data di bawah <a href="http://ieee.org">IEEE</a>. IEEE dipilih karena sifatnya yang netral dan lebih berfokus pada soal teknis. Komite ini akhirnya dibentuk, dengan Maris Graube dari Tektronix sebagai ketua.</p>
<p>Aku pernah Kerja Praktek di <abbr title="PT LEN Industri">LEN</abbr>. Di sana, aku sempat mendapatkan tugas mendayagunakan interface IEEE 488 <abbr title="General Purpose Interfacing Bus">GPIB</abbr> yang tak banyak disentuh. Graube juga beranjak dari standar itu, tetapi ia berminat melakukan standardisasi untuk interface pada jarak yang lebih jauh. Salah satu standar pertama dari IEEE 802 &#8212; begitu Komite Standard ini dinamakan &#8212; adalah Ethernet. Menariknya, Bob Metcalfe sebagai penemu Ethernet justru menolak standardisasi Ethernet waktu itu, dengan alasan bisa mengganggu proses inovasi.</p>
<p>Standar lain mulai ditetaskan oleh IEEE 802. Token ring misalnya. Tapi juga ke dunia wireless. Yang amat dikenal generasi saat ini tentulah WiFi (IEEE 802.11). Padahal standar <abbr title="Wireless Local Area Network">WLAN</abbr> IEEE 802.11 ini sempat tak lancar dikaji: ia memerlukan nyaris 8 tahun hanya untuk standard dasarnya saja. Yang lebih parah adalah UWB (ultra wideband) dari kelompok <abbr title="Wireless Personal Area Network">WPAN</abbr> IEEE 802.15, yang melibatkan dua kubu yang bersaing &#8212; mereka gagal mencapai konsensus dan akhirnya menarik proyek mereka. Contoh lain yang tak pernah mencapai standardisasi adalah Manajemen Network (dan ini menjelaskan kenapa kita tidak memiliki standar Manajemen Network yang menarik).</p>
<p>IEEE 802 juga turut mengarahkan tren industri. Contohnya adalah standar WiFi Gigabit 802.11AD yang mendorong kalangan industri untuk menyiapkannya mulai mulai tahun 2013, dengan versi 6 GHz dan 60 GHz. Versi 6 GHz akan digunakan untuk aplikasi bisnis dan industri, karena sinyalnya kuat kuat, namun berbiaya lebih tinggi untuk pengkodean, penanganan gangguan, antena MIMO, dan modulasi multilevel. Sebaliknya, versi 60 GHz akan ideal digunakan konsumen dan kantor kecil karena mudah dibangun, namun sinyalnya terganggu oleh penyerapan oksigen &#8212; secara harfiah.</p>
<p>Aplikasi skala industri yang didorong oleh standar 802 juga meliputi WPAN IEEE 802.15 yang mendukung RFID dan smart grid, serta 802.16 yang menjadi standar WiMAX, WiMAX mobile, hingga WiMAX 4G. Yang juga menarik adalah IEEE 802.15.6 (Body Area Networks) dan <abbr title="Visible Light Communications">VLC</abbr> IEEE 802.15.7. Yang pertama dapat digunakan untuk transceiver skala nano yang bisa ditelan pasien dalam bentuk pil; dan yang kedua untuk jaringan data tingkat tinggi dengan modulasi gelombang cahaya sebagai lapisan fisik yang akan beroperasi dalam rentang terahertz tanpa izin dan kebal terhadap gangguan listrik.</p>
<p>Untuk mengulangtahuni Komite Standar IEEE 802, IEEE juga memberikan kesempatan terbatas bagi siapa pun untuk mengambil standar-standar dari keluarga IEEE 802 secara gratis. Silakan klik pada standar-standar di bawah untuk melakukan download gratis.</p>
<ul>
<li><a href="http://standards.ieee.org/getieee802/802.html">IEEE 802®: Overview &amp; Architecture</a></li>
<li><a href="http://standards.ieee.org/getieee802/802.1.html">IEEE 802.1™: Bridging &amp; Management</a></li>
<li><a href="http://standards.ieee.org/getieee802/802.2.html">IEEE 802.2™: Logical Link Control</a></li>
<li><a href="http://standards.ieee.org/getieee802/802.3.html">IEEE 802.3™: CSMA/CD (Ethernet) Access Method</a></li>
<li><a href="http://standards.ieee.org/getieee802/802.5.html">IEEE 802.5™: Token Ring Access Method</a></li>
<li><a href="http://standards.ieee.org/getieee802/802.11.html">IEEE 802.11™: Wireless Local Area Networks</a></li>
<li><a href="http://standards.ieee.org/getieee802/802.15.html">IEEE 802.15™: Wireless Personal Area Networks</a></li>
<li><a href="http://standards.ieee.org/getieee802/802.16.html">IEEE 802.16™: Broadband Wireless Metropolitan Area Networks</a></li>
<li><a href="http://standards.ieee.org/getieee802/802.17.html">IEEE 802.17™: Resilent Packet Rings</a></li>
<li><a href="http://standards.ieee.org/getieee802/802.20.html">IEEE 802.20™: Mobile Broadband Access System</a></li>
<li><a href="http://standards.ieee.org/getieee802/802.21.html">IEEE 802.21™: Media Independent Handover Services</a></li>
</ul>
<p>Standar-standar ini hanya dapat diunduh gratis selama masa Peringatan Ulang Tahun Komite Standar IEEE 802; dan keputusan ini dapat diubah setiap saat tanpa pemberitahuan. Silakan disebarkan demi makin majunya pengembangan sistem komunikasi dan informasi demi kemanusiaan. Selamat Ulang Tahun, Komite Standar IEEE 802!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/03/18/ultah-ieee-802/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cebu &#8211; Mactan</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/03/11/cebu-mactan/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/03/11/cebu-mactan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 15:19:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Cebu]]></category>
		<category><![CDATA[Filipina]]></category>
		<category><![CDATA[Mactan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2853</guid>
		<description><![CDATA[Emang blogku isinya jadi terlalu serius ya? Sukurin, haha :). Yawdah &#8230; kali ini aku cerita tentang Mactan dan Cebu dari sisi yang lain :). Nggak dijamin lucu juga sih. Dua tahun ini aku cukup banyak melakukan travelling, baik buat Telkom, IEEE, atau lainnya. Jadi jalan2 gitu kayak udah nggak pakai persiapan lagi. Beli tiket [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Emang blogku isinya jadi terlalu serius ya? Sukurin, haha :). Yawdah &#8230; kali ini aku cerita tentang Mactan dan Cebu dari sisi yang lain :). Nggak dijamin lucu juga sih. Dua tahun ini aku cukup banyak melakukan travelling, baik buat Telkom, IEEE, atau lainnya. Jadi jalan2 gitu kayak udah nggak pakai persiapan lagi. Beli tiket pun dilakukan dalam beberapa menit, sambil break di Gegerkalong, ditungguin Dave, yang heran lihat di Indonesia ada Mastercard dari Royal Bank of Scotland. Abis itu, ada beberapa perjalanan lagi, bikin aku bener2 nggak sempat mempersiapkan perjalanan ke negeri yang ajaib ini.</p>
<p>Perjalanan dimulai pukul 00.30, dari Soekarno Hatta, dengan <a href="http://cebupacificair.com/">Cebu Pacific Air</a>. Aku pikir jarang orang berangkat semalam itu, jadi aku santai aja. Tapi Mas Ary agak nervous, dan minta berangkat dipercepat. Jadi pukul 22.30 kami sudah di Soekarno Hatta. Antrian pendek dan dibagi tiga. Tapi &#8230; lamaaaa sekali. Hampir 1 jam habis di antrian pendek itu. Untuk aku sendiri, dihabiskan sekitar 15 menit, untuk bisa memperoleh boarding pass transit di Manila. Tapi, katanya, dengan boarding pass itu, aku tetap harus ambil bagasi dan check in ulang di Manila. Hah? Jadi dari tadi buat apa lama2 :). Trus mengurus bebas fiskal, kurang dari 1 menit. Imigrasi, kurang dari 1 menit. Aku stay dulu di salah satu executive lounge yang menerima Citibank Garuda card &#8212; soalnya bisa buat 2 orang. Pak Wahidin memilih ke lounge lain. Tak lama, kami pindah ke ruang tunggu, bareng2, padahal tanpa janjian :). Dan langsung boarding.</p>
<p>Aku udah mempersiapkan diri menghadapi low fare airlines macam ini. Tapi ternyata Cebu Pacific belum sekelas Air Asia, misalnya. Waktu pesawat menggelinding dalam proses taxi ke runway, udah kerasa ada yang ajaib. Bannya kempes, atau ada jalan berlobang di CGK? Dengan getaran kuat, Cebu Pacific melenting kuat ke udara Jakarta. Ah, lega, pesawatnya masih utuh. Dan aku memutuskan bobo. Capek. Aku bangun 3 jam kemudian. Di bawah tampak pulau2 dan lampu2. Nggak ada info apa2. Nggak ada majalah atau bacaan lain. Lalu diumumkan bahwa pesawat siap didaratkan di Neenoy, eh, Ninoy Aquino International Airport, Manila. Eh, miring2 sebelum mendarat. Bum, dia mendarat, dan langsung berguncang keras. Beneran bannya kempes kali. Di Indonesia nggak ada pendaratan seaneh ini.</p>
<p>Antrian imigrasi di NAIA panjang. Dan lama. Rupanya di CGK aku memang dipersiapkan merasakan antri gaya Filipina. Beda dengan di CGK atau Changi (SIN), di mana kita cuman perlu kurang dari 1 menit. Beberapa orang di belakangku nervous berat. Aku sih cuek. Lolos dari imigrasi, ambil bagasi (tanpa menunggu lagi &#8212; mungkin tas kami sudah berputar2 beberapa kali di sana), dan langsung ke tempat check in untuk penerbangan ke Cebu. Koper dititipkan kembali, baru cari sarapan. Berbeda dengan CGK dan SIN, kurs di money changer di NAIA seram. Aku gak jadi tukar duit ke Peso. Pinjam Peso ke Pak Wahidin. Serem di sini: mau makan harus ke kasir bawa peso. Kehidupan keras. Terminal Cebu Pacific di NAIA ini baru. Jadi belum banyak diisi tempat2 menarik. GPRS juga hilang :(. Penantian yang membosankan. Tapi akhirnya kami terbang lagi. Kali ini tanpa ban kempes. Menikmati indahnya pulau2 di Kepulauan Filipina dari atas. Dalam waktu 1 jam, pesawat mendarat di Mactan Cebu Airport. Huh, miring2 lagi.</p>
<p><a title="Mactan by McPollux, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/mcpollux/4416740707/"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2783/4416740707_a232314b02_o.jpg" alt="Mactan" width="400" height="300" /></a></p>
<p>&#8220;Minggir,&#8221; terdengar seorang awak bicara ke anak kecil, disusul kata2 asing. Hah? Itu bahasa Tagalog atau Cebuanos? Menunggu bagasi kali ini lama sekali. Dan terdengar kata2 lokal yang sekilas mirip Melayu juga. Kenapa di Manila nggak seajaib itu tadi? Ini negara menarik. Di mana2, segalanya dicetak dalam Bahasa Inggris, bukan bahasa lokal. Iklan2 sebagian besar dalam Bahasa Inggris juga &#8212; dan justru iklan2 baru yang berkilau yang menggunakan bahasa lokal. Taxi dispatcher berbicara dalam Bahasa Inggris ke kami; tapi waktu mereka saling bicara, terdengar nuansa Melayu, seperti &#8220;Ada di atas.&#8221; Heh, jangan2 memang orang Melayu. Atau Indonesia. Ragu. Orang Filipina, seperti Indonesia, juga exporter TKI. Taxi Bandara lebih mahal dari taxi luar, tapi jauh lebih baik. Dan kalau kita bicara tentang mahal, dia tetap tak lebih mahal dari Jakarta. Selain taxi, juga banyak Jeepney berseliweran, dengan tarif murah.</p>
<p><a title="Kernet @ Mactan by McPollux, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/mcpollux/4416764615/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4005/4416764615_62e60827e9_o.jpg" alt="Kernet @ Mactan" width="400" height="300" /></a></p>
<p>Kalau kita menutup telinga, rasanya kita masih di Indonesia. Perawakan, gaya berkomunikasi, dll, mirip kota2 di Indonesia. Tapi tentu nyaris tak ada yang pakai kerudung di sini. Buka telinga, baru kita sadar bahwa bahasanya berbeda :). Sinyal GPRS cukup baik, baik di Mactan maupun Cebu. WiFi diberikan gratis di hotel2, dengan kecepatan OK. Credit Card tak selalu diterima. Jadi, memang kita harus selalu bawa peso. Seram. Eh, tadi sudah.</p>
<p><a title="Becak @ Mactan by McPollux, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/mcpollux/4416758387/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4012/4416758387_2e1fbf374c_o.jpg" alt="Becak @ Mactan" width="400" height="300" /></a></p>
<p><a title="Pisang Bakar @ Mactan by McPollux, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/mcpollux/4416749569/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4061/4416749569_5f8bb269f9_o.jpg" alt="Pisang Bakar @ Mactan" width="400" height="300" /></a></p>
<p>Taxi di Cebu-Mactan menyeramkan. Mirip taxi Kota Kembang di Bandung: putih, bobrok, bau. Kabel seliweran. Drivernya menyetir ngebut dan seenaknya. Bedanya dengan di Bandung: driver angkot (Jeepney) pun menyerah atas kegilaan driver taxi di sini. Resort dan tempat2 yang dikelola untuk wisata keren sekali. Pasir putih kasar (tidak halus, jadi tak mengotori baju), pohon, dan petugas yang ramah. Di Imperial misalnya, kami nggak boleh jalan masuk, tapi diberi tumpangan mobil elektrik untuk berkeliling dengan guide yang sabar dan ramah. Gak bayar apa2, padahal kami bukan tamu yang menginap, dan mereka tahu kami menginap di hotel lain.</p>
<p><a title="Mactan by McPollux, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/mcpollux/4417526134/"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4032/4417526134_e8cb5c5dae_o.jpg" alt="Mactan" width="400" height="300" /></a></p>
<p>Oh ya &#8230; penerbangan dari Jakarta ke Cebu-Mactan itu tidak setiap hari. Jadi kami datang terlalu cepat. Jadi serasa punya hari libur. Jadi kami ke Cebu. Lihat mall juga, haha. &#8220;Silakan,&#8221; kata satpam di depan mall, sambil mengoperasikan detektor logam (Indonesia sekali kan?). Lihat2 souvenir, benar2 tak beda dengan di Indonesia. Bedanya, mereka nggak punya batik. Ada juga songkit (dengan huruf i). Penjaganya ramah. Kami berbincang panjang sambil melihat souvenir. Tapi dia sambil menyanyi, haha. Ke ATM, wow, antri panjaaang. Aku ke ATM, soalnya udah ogah ke money changer lagi. Ambil Peso dengan ATM Mandiri, tidak ada kesulitan sama sekali (selain antrinya panjang di semua ATM di mall itu). Ke toko buku, huh, bukunya Bahasa Inggris. Padahal aku mau cari buku &#8220;Pangeran Kecil&#8221; dalam bahasa Tagalog. (Mirip waktu ke Johor &#8212; aku nggak dapat &#8220;Pangeran Kecil&#8221; dalam Bahasa Melayu). Cari makan. Gilse. Baboy euh. Baboy mulu. Sea food akhirnya :). Trus ke Department Store, soalnya aku nggak punya dasi. Di Telkom udah nggak ada budaya pakai dasi sih, jadi udah nggak punya. Harganya sekilas tampak normal. Tapi kalau kita sempat mengkurs, baru kita sadar: murahnya bersaing dengan Bandung. Haha :). Hati2 nih orang Bandung. So, aku beli dasi kelabu dan ikat pinggang (punyaku sudah lama rusak, tapi masih dipakai terus). Nggak tergoda belanja &#8212; nunggu ke Bandung aja :). Hmm, padahal ada jaket keren.</p>
<p>Di luar mall, suasanya nggak jauh juga dengan Bandung. Ada becak (pakai motor tapi, kayak di Medan). Ada tukang jual makanan di lampu merah. Ada angkot penuh dempul. Dan ada orang2 ramah tamah di mana2 :).<a href="http://koen.dagdigdug.com/index.php/2010/03/starbucks-cebu/"> Cerita tentang Starbucks aku tulis di blog satu lagi</a>. Dari mall, kami kembali ke Mactan, dan langsung ke Shangri-La, tempat IEEE Region 10 Meeting akan diselenggarakan.</p>
<p><a title="PKL @ Cebu by McPollux, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/mcpollux/4417532940/"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2748/4417532940_35eee214e4_o.jpg" alt="PKL @ Cebu" width="400" height="300" /></a></p>
<p>Shangri-La terletak hanya beberapa menit jalan kaki dari Shrine of Magellan, tempat Fernao de Magalhaes tewas dalam upayanya yang gagal untuk menjajah Pulau Mactan. Malam itu IEEE belum menyediakan dinner; sementara makanan di Shangri-La mahal. Jadi kami dari Indonesia Section dan Malaysia Section bergabung cari sea food di dekat Shrine of Magellan. Ternyata masih mahal juga, haha. Abisan, yang dimakan malah lobster dan makanan unik lainnya. Tapi langsung dibayari pihak Malaysia, soalnya salah satunya adalah pejabat Region, yang biaya dinner-nya malam itu bisa dipertanggungkan ;).</p>
<p>Malam itu, sekalian kami mengadakan IEEE Comsoc Indonesia Chapter Special Meeting. Mumpun ketemu aja. Dua hari berikutnya adalah IEEE Region 10 Meeting, yang udah aku tulis di dua entry sebelumnya. Apa yang menarik ya? Ya, kita sambil kampanye tentang Indonesia juga, soalnya tahun 2011 kita sudah disetujui untuk menjadi <a href="http://ieee.web.id/2010/02/tencon-bali-2011/">tuan rumah TENCON di Bali</a>; sekaligus mengajukan diri jadi tuan rumah Region 10 Meeting 2011 di Yogyakarta. Diskusi2 dengan delegasi2 negara2 lain, dan dengan officer baik IEEE pusat maupun Region 10. Dievaluasi juga aktivitas Section dan Chapter. Penanggungjawab Chapter2 agak kecewa bahwa di Indonesia tidak banyak Chapter yang aktif, selain <a href="http://komunikasi.org">Communications Society (Comsoc) Chapter</a>. Juga dari <a href="http://computer.org">Computer Society</a>, didesak untuk segera membuat Computer Society Chapter di Indonesia. Aku juga ketemu officer dari Philippine Section. Mereka kecewa gara2 aku dan tim nggak sempat memberikan lecture di Manila beberapa hari sebelumnya. Sedih juga sih. Tapi aku kan masih punya kantor :D. Dia ngasih tawaran buat ngasih lecture lagi bulan2 ini. Mudah2an bisa. Laku juga ternyata orang Indonesia ngasih lecture ;). Mas pinalakas, mas pinalawak, haha :).</p>
<p>Acara belum sepenuhnya selesai waktu aku melejit lagi ke Mactan Airport, meninggalkan acara2 menarik (kunjungan sosial dan budaya) di Cebu. Aku mengejar pesawat ke Manila, lalu terbang ke Singapore untuk aktivitas yang lain. Pesawatnya masih miring2 aja setiap kali mau landing. Oh ya, dari dekat runway, aku lihat pesawat Cebu Pacific Air lain juga miring2 waktu mau mendarat. Sudah Standard Operation Procedure barangkali. Mudah2an nggak sering2 naik Miring Airlines itu.</p>
<p><a title="Manila by McPollux, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/mcpollux/4417593852/"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2796/4417593852_efd3227c77_o.jpg" alt="Manila" width="400" height="167" /></a></p>
<p>Tapi, btw, aku sama sekali nggak keberatan kalau harus berkunjung lagi ke Filipina. Negeri yang menarik :). Sayangnya, sampai Indonesia, level kesehatan agak jatuh. Rada lelah dan kacau. Temen2 yang ketemu aku di Ignite pasti melihat hal yang sama :). Dan masih terasa sampai sekarang. Kurasa aku harus beristirahat dulu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/03/11/cebu-mactan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Computer Society</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/03/01/computer-society/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/03/01/computer-society/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 09:29:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Computing]]></category>
		<category><![CDATA[IEEE]]></category>
		<category><![CDATA[Computer]]></category>
		<category><![CDATA[CS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2848</guid>
		<description><![CDATA[Btw, ada orang2 yang memang profesi utamanya adalah tukang menghilangkan kacamata. Aku salah satunya. Hik :(. Kayaknya kacamataku hilang di taksi di Lapu-Lapu City.
Dinner time kemarin, aku duduk di antara Dr. Iwao Hyakutake dan Dr. Hotaoka Nobuo. Iwao adalah Asia Pacific Region Manager untuk IEEE Computer Society, berkedudukan di Tokyo. Aku, biarpun lebih aktif di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Btw, ada orang2 yang memang profesi utamanya adalah tukang menghilangkan kacamata. Aku salah satunya. Hik :(. Kayaknya kacamataku hilang di taksi di Lapu-Lapu City.</p>
<p>Dinner time kemarin, aku duduk di antara Dr. Iwao Hyakutake dan Dr. Hotaoka Nobuo. Iwao adalah Asia Pacific Region Manager untuk IEEE Computer Society, berkedudukan di Tokyo. Aku, biarpun lebih aktif di Communications Society (Comsoc), adalah anggota Computer Society (CS) juga. Waktu masuk ke IEEE setelah lulus kuliah di akhir abad lalu, aku memutuskan bahwa bidang ilmuku adalah konvergensi infokom; jadi aku masuk ke dua society. Eh tiga, termasuk IT Society. Tapi yang terakhir ini aku hentikan untuk menghemat dana.</p>
<p>Iwao menanyakan kenapa tidak ada Computer Society Chapter di Indonesia. Pertanyaan sulit. Faktanya, society di IEEE yang memiliki paling banyak anggota di Indonesia justru Computer Society. Tetapi chapternya tidak ada. Dulu para aktivis IEEE Indonesia memutuskan membentuk Join Chapter of Computer and Communications Society. Namun Join Chapter ini dipecah pada 2003 menjadi Computer Society (CS) Chapter dan Communication Society (Comsoc) Chapter. Comsoc Chapter mulai maju, biarpun dengan langkah cukup berat. Tetapi CS Chapter menghilang.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/03/ComputerSociety.png"><img class="size-full wp-image-2850 aligncenter" title="ComputerSociety" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/03/ComputerSociety.png" alt="" width="250" height="175" /></a></p>
<p>Barangkali memang di Indonesia sudah terlalu banyak asosiasi, himpunan, paguyuban, dll yang berelasi dengan bidang ilmu komputer, Internet, IT, baik dari sisi perangkat keras, perangkat lunak, aplikasi, jaringan, hingga pemanfaatannya di masyarakat. Yang terlalu serius macam CS barangkali tak lagi diminati untuk membuat kegiatan bersama. Kopdar dan networking lebih menarik daripada conference :).</p>
<p>Padahal sebenarnya hanya perlu petisi 12 anggota CS untuk membuat chapter baru. Dan kegiatan sharing ilmu bisa dilakukan dengan gaya populer, tak harus dalam bentuk simposium yang memerlukan komitmen besar. Materi untuk sharing ide, ilmu, dan skill bisa diacu langsung dari web CS di <a href="http://computer.org">COMPUTER.ORG</a> &#8212; ini adalah web terlengkap dan terkeren dibandingkan web society lain di IEEE. Di dalamnya bukan saja ada materi2 menarik bagi anggota CS, tetapi juga berbagai skill profesi, manajemen, dan komputasi, serta banyak feature lain yang dapat digunakan oleh siapa pun. CS memang tengah berusaha mengimplementasikan lifetime learning kepada seluruh IEEE dan masyarakat luas. Maka CS Chapter, andai bisa dibentuk, memiliki cukup banyak peluang menarik untuk beraktivitas.</p>
<p>Tapi itu sih dilihat dari kacamataku. Mungkin para profesional ilmu komputer di Indonesia punya padangan lain. Lagipula, seperti aku bilang tadi, kacamataku hilang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/03/01/computer-society/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lapu Lapu</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/02/27/lapu-lapu/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/02/27/lapu-lapu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 17:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IEEE]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Cebu]]></category>
		<category><![CDATA[Filipina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2835</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang terbayang dari nama Cebu? Bayangan seorang Ibu Guru di SMP yang mengajar sejarah dengan begitu passionate-nya, menceritakan penjelajahan Fernão de Magalhães, pelaut Portugis yang pernah ke Melaka bersama pasukan D&#8217;Albuquerque, lalu mengabdi Ratu Ysabel dari Spanyol, dan menjelajah ke barat untuk membuktikan bahwa bumi itu bulat. Misinya berhasil. Namun dari ratusan pelaut, hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang terbayang dari nama Cebu? Bayangan seorang Ibu Guru di SMP yang mengajar sejarah dengan begitu passionate-nya, menceritakan penjelajahan Fernão de Magalhães, pelaut Portugis yang pernah ke Melaka bersama pasukan D&#8217;Albuquerque, lalu mengabdi Ratu Ysabel dari Spanyol, dan menjelajah ke barat untuk membuktikan bahwa bumi itu bulat. Misinya berhasil. Namun dari ratusan pelaut, hanya belasan yang kembali ke Spanyol, dipimpin oleh Juan Sebastian Elcano. Magellan (begitu namanya dieja dalam bahasa Inggris) terlalu asyik menaklukkan Kepulauan Cebu. Lalu ia berminat menaklukkan pula Pulau Mactan. Namun di Pantai Mactan, Magellan tewas dalam pertempuran di air dangkal melawan pimpinan suku Mactan, Lapu-Lapu. Tentu akhirnya Spanyol menguasai juga kepulauan besar ini, yang kemudian bernama Filipina. Penjajahan Spanyol digantikan oleh Amerika Serikat, dan kini digantikan oleh orang kaya lokal. Mactan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Cebu, yang dihubungkan dengan dua jembatan besar. Cebu Airport pun terletak di Mactan. Di kota bernama Lapu-Lapu :).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/LapuLapu.jpg"><img class="size-full wp-image-2840 aligncenter" title="LapuLapu" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/LapuLapu.jpg" alt="" width="400" height="212" /></a></p>
<p>Di sebuah resort di salah satu ujung kota Lapu-Lapu ini, hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari tempat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Mactan">Pertempuran Mactan</a> itu, <a href="http://ieee.org">IEEE</a> menyelenggarakan Pertemuan Tahunan <a href="http://ewh.ieee.org/reg/10/">Region 10 (Asia Pacific)</a>. <a href="http://ieee.web.id">Indonesia Section</a> mengirimkan 2 wakil, ditambah 1 dari <a href="http://komunikasi.org">Indonesia Comsoc Chapter</a>, dan 1 dari organiser <a href="http://ieee.web.id/2010/02/tencon-bali-2011/">TENCON 2011</a> (yang akan diselenggarakan di Bali tahun 2011). Pertemuan ini cukup lengkap. Selain para awak Region 10 dan seluruh Section di bawahnya, hadir pula Presiden Elect IEEE Moshe Kam, dan perwakilan dari <a href="http://ewh.ieee.org/reg/8/">Region 8 (Eropa Afrika)</a> Joseph Modelsky.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/MosheKam.jpg"><img class="size-full wp-image-2844 aligncenter" title="MosheKam" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/MosheKam.jpg" alt="" width="400" height="244" /></a></p>
<p>Menarik menyimak paparan Kam. IEEE adalah hasil merger AIEE dan IRE. AIEE adalah organisasi yang secara klasik dihuni para engineer elektrik, sedangkan IRE organisasi yang dirasuki para engineer muda yang menggemari teknologi elektronika. Mirip NEFO dan OLDEFO, haha. Keduanya memiliki jumlah anggota yang terus bertambah; namun IRE melaju cepat dan melampaui AIEE. Merger keduanya ke dalam IEEE di tahun 1963 menyelesaikan masalah dualisme. Lalu dibentuklah society, region, section, dan lain2, yang berkembang hingga kini. Kini IEEE diakui sebagai pemegang autoritas dalam berbagai bidang ilmu dan profesi keinsinyuran. Dari 20 jurnal bidang elektroteknika yang paling banyak diacu, 16 di antaranya dari IEEE. Dari 20 jurnal bidang telekomunikasi yang paling banyak diacu, 15 di antaranya dari IEEE. Dan seterusnya. Namun. Dari 20 jurnal bidang medical informatics yang paling banyak diacu, hanya 2 dari IEEE. Dan dari 20 jurnal bidang nanoscience yang paling banyak diacu, tak satu pun dari IEEE. Kam menohok: mungkinkah IEEE sudah menjadi kekuatan established seperti AIEE zaman dahulu, sementara ilmu berkembang ke arah life science yang digandrungi para ilmuwan dan engineer muda, seperti IRE zaman dahulu? Maka ia menyampaikan arahan BOD: IEEE diarahkan ke teknologi yang relevan! IEEE bukan asosiasi kaum terdidik saja, melainkan harus jadi himpunan para engineer dan profesional. Bersambut dengan itu, Region 10 menyampaikan program2 yang mengarah ke peningkatan benefit ke anggota dan masyarakat melalui pengembangan organisasi, profesi, dan teknologi yang relevan dengan kekinian.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/Wahab.jpg"><img class="size-full wp-image-2841 aligncenter" title="Wahab" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/Wahab.jpg" alt="" width="400" height="233" /></a></p>
<p>Apa sih untungnya jadi anggota IEEE? Ini pertanyaan yang sejak aku jadi Associate Member sudah sering dikaji. Aku bertahan cukup lama di sini, dengan alasan tersendiri. Tapi tak yakin bahwa alasan pribadi ini bisa ditularkan untuk membuat rekan2 bertahan juga, atau para engineer lain jadi ikut berminat masuk serta aktif di IEEE. Beberapa hal menarik yang sering disebutkan atas IEEE meliputi: akses ke engineering knowledge, peningkatan profesionalitas, kesempatan networking, bakti buat masyarakat, kesempatan karir, dan lain-lain. Namun buat para engineer di Indonesia, mungkin itu belum cukup; terutama karena organisasi ini mengenakan iuran tahunan yang menarik (istilah yang aneh, haha). Jadi kami di Indonesia Section (dan Communication Society Chapter yang sedang aku kelola) berusaha menciptakan benefit2 lebih: membuka kesempatan2 baru untuk networking, menampilkan citra profesionalitas anggota IEEE (expertise yang digabungkan dengan kepiawaian berkomunikasi manusiawi), dan menyusun serial kegiatan berbagi ilmu. Dari pusat, mulai ada policy untuk menurunkan iuran keanggotaan, agar lebih menarik. Angkanya disimpan dulu, sampai informasinya ditampilkan resmi :).</p>
<p>Strategi2 ini digali dan didiskusikan hari2 ini, untuk membentuk breakthrough dalam pengembangan organisasi, profesi, dan teknologi. Beberapa hal lain meliputi keprihatinan atas kurangnya peran insinyur perempuan, padahal telah terwadahi dalam <a href="http://www.ieee.org/women">Women in Engineering (WIE)</a>. Juga perlunya peningkatan peran para insinyur baru (<a href="http://www.ieee.org/web/membership/gold/index.html">GOLD &#8212; graduation of the last decade</a>). Sayap filantrofi IEEE dikembangkan melalui <a href="http://ieeehtc.net">HTC (humanitarian technology challenge)</a>. Dan masih banyak gagasan2 lain. Ada satu hari lagi, besok.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/MactanBeach.jpg"><img class="size-full wp-image-2843 aligncenter" title="MactanBeach" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/MactanBeach.jpg" alt="" width="400" height="192" /></a></p>
<p>Berbeda dengan kota2 lain di Asia Timur Raya, Mactan dan Cebu ditaburi sinar matahari yang hangat sepanjang hari, nyaris tanpa awan dan mendung. Kesejukan datang dari angin laut. Suasana kota mirip kota2 agak kecil di Indonesia, dengan berbagai jenis angkot, tukang jual makanan di pinggir dan di tengah jalan, sopir taksi yang semena2 mengenakan tarif, dan sopir angkot yang biarpun gila tapi kalah gila dibanding sopir taksi. Harga2 terasa lebih murah dari Bandung, nah lo.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/Jeepney.jpg"><img class="size-full wp-image-2842 aligncenter" title="Jeepney" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/Jeepney.jpg" alt="" width="400" height="255" /></a></p>
<p>Penduduknya ramah, pandai berbahasa Inggris, namun sehari2 menggunakan bahasa Cebuano, yang beberapa kosa katanya mirip Bahasa Indonesia. Haha. Segala informasi ditulis dan dicetak dalam Bahasa Inggris. Tapi, hati2, di sini kita harus bawa peso kalau mau belanja atau jalan2. Serem nggak sih?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/02/27/lapu-lapu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masyarakat FaceBook</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/02/18/masyarakat-facebook/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/02/18/masyarakat-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 17:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Web]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2829</guid>
		<description><![CDATA[Account Facebook-ku pernah dimatikan. Tanpa alasan &#8212; selain &#8220;aku bisa hidup tanpa Facebook&#8221; :). Lalu hidup berjalan nyaris tanpa perubahan, kecuali perubahan yang baik. Tapi belum 48 jam, Mbak Enno dari MetroTV menelefon. Kelanjutannya sudah dibahas di entry sebelumnya. Yang jelas, account Facebook itu terpaksa dihidupkan lagi :).
Sejarah Facebook sendiri tak terlalu menarik. Mark Zuckerberg [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Account Facebook-ku pernah dimatikan. Tanpa alasan &#8212; selain &#8220;aku bisa hidup tanpa Facebook&#8221; :). Lalu hidup berjalan nyaris tanpa perubahan, kecuali perubahan yang baik. Tapi belum 48 jam, Mbak Enno dari MetroTV menelefon. Kelanjutannya sudah dibahas di entry sebelumnya. Yang jelas, account Facebook itu terpaksa dihidupkan lagi :).</p>
<p>Sejarah Facebook sendiri tak terlalu menarik. Mark Zuckerberg adalah seorang hacker yang barangkali tak termasuk ethical hacker. Mahasiswa Universitas Harvard ini konon sempat menuliskan pengalamannya dalam sebuah blog. Diawali sebuah kencan yang gagal, Mark menggunakan keterampilannya untuk membajak database-database mahasiswa di universitasnya. Pelbagai cara dilakukan, termasuk menerobos miskonfigurasi Apache, aplikasi web dengan scripting lemah, server dengan password yang jelek, dan sebagainya. Tujuannya untuk mengumpulkan foto2 mahasiswi Harvard. &#8220;A little wget magic is all that&#8217;s necessary to download the entire Kirkland facebook,&#8221; ujarnya. Foto2 mahasiswi itu dikumpulkannya dalam situs baru FaceMash.com, lalu ia buat sistem skor. Tentu skor fisik semata. Trafik site ini mendadak tinggi, dan menguras bandwidth universitasnya. Mark menjadi sadar: ada ruang yang terbuka luas untuk membuat jejaring sosial dengan foto2. Maka dibuatlah TheFaceBook.com. Dalam 1 minggu, 5000 orang telah mendaftar. Dalam 10 bulan, 1 juta anggota tercapai. Namanya diubah menjadi FaceBook.com. Dalam usia 6 tahun di awal 2010 ini, jumlah anggota mencapai 400 juta, dan diprediksi dapat mencapai 1 miliar akhir tahun ini.</p>
<p>Sejujurnya, FaceBook telah membuka peluang berkomunikasi dan berinteraksi secara lebih baik. Komunikasi dengan teman2, lalu dengan teman2 lama, dapat disusul dengan mengorganisasikan kegiatan positif, dari sekedar reuni hingga kegiatan sosial, termasuk meningkatkan kepedulian atas kemanusiaan dengan berbagai causes, dan bahkan mengumpulkan dana. Tentu bohong kalau ada yang menyebut bahwa dibebaskannya Prita, dan juga duet Pemimpin KPK Chandra dan Bibit, tidak berkaitan dengan desakan keras masyarakat menggunakan FaceBook. Dan Twitter :).</p>
<p>Namun jika di Twitter mulai dibentuk tim pemecah ombak untuk menceraiberaikan suara khalayak, maka FaceBook-pun mulai dituduh menjadi fasilitator berbagai tindakan kriminal, termasuk bullying, pencurian identitas, penipuan, penculikan, prostitusi, dan mungkin suatu hari juga kudeta. Dan, sialnya, aku mulai berfikir bahwa itu bukan tanpa alasan.</p>
<p>Seperti interaksi Internet lainnya, FaceBook membuka peluang komunikasi baru, dan mungkin juga menggantikan komunikasi bentuk lama. Internet membuat kita berkomunikasi lebih bebas dengan teman, guru, atasan, musuh, dll. Internet juga membebaskan kita2 yang sebelumnya sulit berkomunikasi wajar. Tetapi halangan berkomunikasi manusiawi yang wajar ini, yang seharusnya dapat diatasi, justru mungkin menjadi tak teratasi. FaceBook membentuk realitas baru. Seolah2. Padahal sesungguhnya dunia nyata mungkin belum banyak berubah. Maka FaceBook menjadi penipu: ia sekedar memberi ilusi bahwa kita memiliki realitas yang menarik, dengan komunikasi yang baik. Ini tentu terjadi pada aplikasi Internet lain, termasuk email, YM, Kaskus, dll. Namun di FaceBook, kita membuka seluruh diri kita: data vital (tanggal lahir, alamat), relasi kita (keluarga, teman, tempat sekolah, alumni, angkatan). Di luar sana masyarakat masih lapar, masih kejam, masih jahat; dan dengan kenaifan kita, kita memberi mereka kesempatan, terselubung ilusi kita. Ilusi bahwa kita aman &#8212; ada keluarga, teman, guru, dan masyarakat luas yang baik hati dan berkepedulian sosial di sana. Maka jika terjadi kejahatan yang terfasilitasi FaceBook, ya, memang FaceBook pun harus dinyatakan bersalah.</p>
<p>Menggunakan FaceBook, dan media sosial lainnya, memerlukan kedewasaan. Karena itu anak di bawah umur memang tak diperkenankan menggunakan fasilitas ini. Kecuali orang tuanya memang gagap teknologi dan benar2 tak paham apa itu media sosial. Kedewasaan membuat kita ingat bahwa kita adalah makhluk dengan berbagai keterbatasan. Akal sehat kita seringkali harus terkalahkan oleh sisi lain dari kemanusiaan kita (orang dewasa paham maksudku). Ini tak terhindarkan. Dan orang dewasa sadar: kita memerlukan kontrol. Tapi tentu saja kontrol bukan dari provider, dari negara, atau dari pihak yang (merasa) berwenang. Buat kaum2 muda, kontrol terbesar bukan dari orang tua, guru, hansip, dll, tetapi barangkali dari teman2. Maka kebiasaan sebelum FaceBook, untuk memiliki teman2 dekat, dan untuk saling terbuka dengan teman2 dekat, harus tetap dipelihara. Mereka bisa menjadi kontrol ampuh: memverifikasi pikiran kita saat kita benar atau saat kita salah, ikut menjaga diri kita saat kita mungkin menjadi korban kejahatan (atau lebih parah: ikut menjadi pelaku kejahatan).</p>
<p>Tapi mungkin juga akan lebih menarik untuk menggunakan FaceBook dan media sosial lainnya lebih sebagai media ide. Hmm, entah kenapa jadi ingat Pitra ya :). FaceBook, Twitter, blog, dll, lebih menarik untuk digunakan sebagai tempat mencurahkan ide, memversifikasi, mengkompetisikan, lalu mengkoordinasikan implementasi ide2 itu menjadi hal2 menarik. Menyebalkan membayangkan media sosial cuma dipakai untuk membuang sampah, curhat, memaki, dan menunjukkan kebodohan diri sendiri dengan cara2 semacam itu. Langit biru, cerah, indah. Dan mereka yang menggerutu pada mendung tebal hanya menunjukkan bahwa mereka tak punya kemampuan mendasar untuk memiliki pandangan yang menembus awan. Realitas dibentuk oleh pikiran kita, dan kecerdasan kita. Tak perlu selalu menyerah kepada kebodohan :).</p>
<p>Eh, btw, aku jadi punya judul baru neh: pengamat, haha. Pengamat sama pelaku sebenernya berbeda kan ya?</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/PengamatJejaringSosialHahahahaha.jpg"><img class="size-full wp-image-2833 aligncenter" title="PengamatJejaringSosialHahahahaha" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/PengamatJejaringSosialHahahahaha.jpg" alt="" width="384" height="283" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/02/18/masyarakat-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Multilayer</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/02/14/multilayer/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/02/14/multilayer/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 16:56:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IEEE]]></category>
		<category><![CDATA[Telkom]]></category>
		<category><![CDATA[4G]]></category>
		<category><![CDATA[Democrazy]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[metrotv]]></category>
		<category><![CDATA[Web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2815</guid>
		<description><![CDATA[Februari ini seharusnya jadi musim pancaroba di Gugus Tugas kami. Restrukturisasi Telkom sebagai konsekuensi dari perubahan arah bisnis sudah waktunya menjangkau gugus yang mungil ini. Kami akan digabungkan dengan Divisi Multimedia yang memiliki expertise dalam bisnis multimedia, dan dengan demikian diharapkan lebih efektif menelurkan bisnis-bisnis yang kokoh di bidang informasi, media, dan education.
Di tengah suasana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Februari ini seharusnya jadi musim pancaroba di Gugus Tugas kami. Restrukturisasi Telkom sebagai konsekuensi dari perubahan arah bisnis sudah waktunya menjangkau gugus yang mungil ini. Kami akan digabungkan dengan Divisi Multimedia yang memiliki expertise dalam bisnis multimedia, dan dengan demikian diharapkan lebih efektif menelurkan bisnis-bisnis yang kokoh di bidang informasi, media, dan education.</p>
<p>Di tengah suasana menarik ini, aku justru dijauhkan dari kantor , dan disuruh menyepi ke Gegerkalong. 2 minggu, wow. I mean, biasanya agak sulit untuk mendapatkan izin ke luar kota lebih dari 2 hari. Dan justru sering dalam 1 hari harus ikut kegiatan di 2 kota :). Tapi tentu kembali ke Bandung itu anugerah :).</p>
<p>Di Bandung, kami mendiskusikan semua aspek teknologi dan bisnis di bidang content &amp; application. Mentornya berasal dari kota <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kendal">Kendal</a>, sebuah kota imut di Cumbria, North-West England. Aku &#8216;gak tulis namanya di sini, kerna beliau akan mudah menggooglenya, termasuk mentranslatenya :). Peserta dari Telkom Group, termasuk Telkomsel, Sigma, Infomedia, dll. Dan karena kami dianggap expert di bidang masing2, sang mentor membawakan dalam gabungan semi diskusi. Tentu masih banyak hal baru yang kami pelajari, di luar expertise kami masing2. Tak ada pakar multilayer di bisnis ini. Aku sendiri dulu lebih banyak mendalami layer bawah (infrastuktur), dan belum terlalu banyak bermain di layer atas (aplikasi). Jadi cukup menarik mendiskusikan, mensimulasikan, memprediksikan berbagai hal dalam konektivitas dunia ini dengan mempertimbangkan layer-layer yang berbeda. Benar2 seluruh layer: DWDM, GPON, MPLS, IP, SCTP, SIGTRAN, IMS, SDP, hingga Web 2.0, Ajax, Facebook, Twitter, Adsense, Buzz, dll. Diskusi yang menarik dan bikin lupa urusan kantor :). Ini baru seminggu berlangsung, dan akan berlangsung seminggu ini.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/MentorFromKendal.png"><img class="size-full wp-image-2822 aligncenter" title="MentorFromKendal" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/MentorFromKendal.png" alt="" width="410" height="325" /></a></p>
<p>Weekend lalu (13 Februari 2010), <a href="http://comsoc.org">IEEE Comsoc</a> <a href="http://komunikasi.org">Indonesia Section</a> meneruskan seri seminar <strong>4G Mobile Technologies</strong>nya. Kebetulan kali ini di Bandung juga, jadi aku tak perlu lompat ke luar kota. Host kali ini adalah ITT (<a href="http://itt.ac.id">Institut Teknologi Telekomunikasi</a>). Tim masih M Ary Murti (mengenalkan <a href="http://www.ieee.org">IEEE</a> dan <a href="http://comsoc.org">Comsoc</a>), aku (memaparkan evolusi dan requirement 4G), Arief Hamdani (memperdalam LTE), dan kembali ke M Ary Murti (memaparkan WiMAX II). Sebelum acara dimulai, sempat dilakukan Comsoc Officer Meeting di situ juga. FX Ari Wibowo hadir, tetapi kali ini tidak sebagai speaker.</p>
<p>Seperti sebelumnya, paparan aku menjelaskan mengapa harus ada 4G (didorong a.l. oleh Web 2.0 dan Mobile 2.0). Lalu disusul pendekatan pada 4G: transmisi OFDMA, MIMO dan spatial multiplex, cognitive radio (CR, DSA, IEEE P.1900). Lalu aku tutup dengan pengenalan para kandidat: LTE dan WiMAX II. Karena waktu yang singkat, paparan tentang context-aware application tidak diberikan ;). Peserta konon mencapai 300 orang &#8212; sebagian besar mahasiswa ITT, dan sisanya para profesional dari beberapa perusahaan di Bandung.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/4G-Gates-ITT.png"><img class="size-full wp-image-2824 aligncenter" title="4G-Gates-ITT" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/4G-Gates-ITT.png" alt="" width="410" height="305" /></a></p>
<p>Sayangnya aku tak sempat beramah tamah :). Selesai Sesi-1, aku langsung meluncur kembali ke Jakarta. Kali ini memenuhi janji untuk bercerita tentang Web 2.0 di <a href="http://metrotvnews.com">MetroTV</a>. Dengan kecepatan tinggi, dan berputar menghindari banjir yang mendadak mematikan trafik di tengah Jakarta, aku sampai tepat waktu di Studio MetroTV.</p>
<p>Sambil menunggu, para &#8220;narasumber&#8221; (dalam tanda petik, yang artinya adalah mereka yang nantinya duduk di belakang tanda &#8220;narasumber&#8221;) berdiskusi asik, terutama dengan terus mengerjai Mr Controversial Ruhut &#8220;Poltak&#8221; Sitompul. Dia lucu, enak diajak berdiskusi dan berteman, tapi tentu mengkhawatirkan kalau dia harus ikut menentukan kebijakan negeri ini (wakakakakaka). Sulit memaki tokoh ini, kerna dia terus menerus memaki dirinya sendiri (anjing SBY, kafir, dll). Dan &#8212; haha &#8212; juga menertawai rekan separtainya yang suka mengaku jadi pakar IT. Lupa namanya tapi.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/Democrazy-02.png"><img class="size-full wp-image-2825 aligncenter" title="Democrazy-02" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/Democrazy-02.png" alt="" width="410" height="323" /></a></p>
<p>Masuk ke studio, aku baru sadar bahwa acara Democrazy ini berisi dialog yang agak serius tapi banyakan becandanya :). Serasa kembali ke ruang diskusi di Gegerkalong, yang diskusi seriusnya juga harus diselingi candaan. Dan lucunya, waktu bercerita tentang Facebook, aku malah bercerita tentang angka2 prediksi, haha, bukan angka real sekarang. Duh, siap2 dimaki2 orang banyak ah :).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/Democrazy-01.png"><img class="size-full wp-image-2826 aligncenter" title="Democrazy-01" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/02/Democrazy-01.png" alt="" width="410" height="310" /></a></p>
<p>Baru hari ini aku bisa tidur :). Dan besok pagi balik ke Bandung. Seminggu lagi. Weekend depan, jadi speaker lagi untuk<a href="http://comsoc.org"> IEEE Comsoc</a>. Host untuk minggu depan adalah UPH (<a href="http://www.uphsurabaya.ac.id/">Universitas Pelita Harapan</a>) di Surabaya. Sekaligus bertemu para Ketua Departemen Elektro se-Surabaya. Mudah2an tidak ada interupsi yang mengharuskan aku jadi stuntman lagi minggu2 ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/02/14/multilayer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IEEE Comsoc: Digital TV</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/01/23/ieee-comsoc-digital-tv/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/01/23/ieee-comsoc-digital-tv/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 09:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IEEE]]></category>
		<category><![CDATA[comsoc]]></category>
		<category><![CDATA[Digital TV]]></category>
		<category><![CDATA[IPTV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2801</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini IEEE Indonesia Section dan chapter2 di bawahnya mengintensifkan serial2 seminar/lecturing di beberapa kota di Indonesia, secara paralel. Hey, melakukan serial secara paralel itu menarik :). Jadi, sementara serial 4G Mobile Technologies masih akan diselenggarakan di kota2 dan kampus2 lain, hari ini kami membuka serial baru: Digital TV. Seperti biasa, serial ini dibuka juga di Bandung; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun ini IEEE Indonesia Section dan chapter2 di bawahnya mengintensifkan serial2 seminar/lecturing di beberapa kota di Indonesia, secara paralel. Hey, melakukan serial secara paralel itu menarik :). Jadi, sementara serial <strong>4G Mobile Technologies</strong> masih akan diselenggarakan di kota2 dan kampus2 lain, hari ini kami membuka serial baru: <strong>Digital TV</strong>. Seperti biasa, serial ini dibuka juga di Bandung; kali ini di Hotel Nalendra, Cihampelas.</p>
<p>Agak takjub dengan para peserta yang hadir dalam seminar hari ini. Kelas berat. Dari Bu Kusmarihati of Mastel (sebelumnya, beliau adalah Dirpem Telkom, Dirut Telkomsel, dan Ketua BRTI), beberapa Kepaja Jurusan dan pejabat dari Universitas2 (Universitas Hasanudin, Universitas Ahmad Yani, Universitas Maranatha, ITENAS, IT Telkom), wakil dari operator &amp; provider (Telkom, XL Axiata, DAAITV, Nasio), dan beberapa profesional lain. Cukup kelas berat :).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.flickr.com/photos/mcpollux/4297378142/"><img class="aligncenter" title="IEEE-DigitalTV-Nalendra" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/01/IEEE-DigitalTV-Nalendra.jpg" alt="" width="410" height="195" /></a></p>
<p>Materi dalam seminar hari ini:</p>
<ul>
<li>Muhammad Ary Murti, <strong>IEEE sebagai Organisasi Profesi</strong></li>
<li>Arief Hamdani Gunawan, <strong>Digital TV &amp; IPTV Network</strong></li>
<li>Kuncoro Wastuwibowo, <strong>Video Coding, Compression, &amp; Format</strong></li>
<li>Irwan Prasetya Gunawan, <strong>Quality of Service &amp; Quality of Experience</strong></li>
<li>Satrio Dharmanto, <strong>Implementasi IPTV di Beberapa Negara</strong></li>
</ul>
<p>Dan barangkali karena cuaca Bandung yang merupakan paduan antara sinar matahari yang cerah dan udara yang sejuk, diskusi kali ini berlangsung amat seru dan hangat. Bukan saja di level implementasi bisnis dan engineering decision misalnya, tetapi sampai pemilihan formula matematis pun dibahas dengan asyiknya (Kenapa sih pakai DCT, bukan DFFT &#8212; haha. Dan asyiknya, aku punya jawabannya, haha). Andai seminar2 sebelumnya juga seseru ini :).</p>
<p>Seminar IEEE ini juga didukung Multikom sebagai sponsor. Ini untuk pertama kalinya IEEE Indonesia mulai menerima sponsorship dalam seminar2 mandiri yang dilakukannya. Berikutnya <strong>Digital TV</strong> akan disampaikan dalam bentuk lecturing di Universitas Bina Nusantara weekend depan. Aku harus memilih antara memberikan lecturing atau hadir di Wordcamp Indonesia. Keputusan yang sulit.</p>
<p>Di Bandung sendiri sedang ada kegiatan menarik. Telkom menyelenggarakan Speedy Games Championship II di Paris van Java hari ini dan besok. Dari Nalendra ini, kayaknya aku bakal meluncur ke PvJ. Dari mode serius, beralih ke mode game. Eh, game itu serius loh :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/01/23/ieee-comsoc-digital-tv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internetworking Indonesia: Data Mining</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/01/20/internetworking-indonesia-data-mining/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/01/20/internetworking-indonesia-data-mining/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 11:46:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Computing]]></category>
		<category><![CDATA[Data Mining]]></category>
		<category><![CDATA[iij]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2793</guid>
		<description><![CDATA[Weekend lalu, Internetworking Indonesia Journal (IIJ) Vol 1 No 2 diterbitkan. Ini adalah edisi Fall / Winter 2009 yang sedikit terlambat diluncurkan. Tapi keterlambatan ini diimbangi dengan kuantitas dan kualitas paper yang terus meningkat :). Edisi ini adalah edisi yang khusus membahas Data Mining. Dan pada edisi ini, bertindak sebagai Editor Tamu adalah Dr Anto Satriyo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Weekend lalu, <strong>Internetworking Indonesia Journal</strong> (IIJ) Vol 1 No 2 diterbitkan. Ini adalah edisi Fall / Winter 2009 yang sedikit terlambat diluncurkan. Tapi keterlambatan ini diimbangi dengan kuantitas dan kualitas paper yang terus meningkat :). Edisi ini adalah edisi yang khusus membahas <strong>Data Mining</strong>. Dan pada edisi ini, bertindak sebagai Editor Tamu adalah Dr Anto Satriyo Nugroho dari BPPT dan Moch Arif Bijaksana dari ITT Telkom.</p>
<p>Paper yang masuk bukan hanya dari Indonesia, tetapi juga dari negara-negara lain. Bahkan tiga paper ditulis oleh penulis asing. Selain jumlah paper yang meningkat, proses review juga menjadi memerlukan waktu lebih lama dari yang direncanakan. Terima kasih setulusnya dan sedalamnya untuk para Editor Tamu, dan juga untuk para anggota Dewan Penasehat :).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/01/IIJ-01-02.png"><img class="size-full wp-image-2796 aligncenter" title="IIJ-01-02" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/01/IIJ-01-02.png" alt="" width="400" height="389" /></a></p>
<p>Daftar ini edisi ini:</p>
<ul>
<li>Guest Editors&#8217; Introduction: <em>Special Issue on Data Mining</em> by Anto Satriyo Nugroho &amp; Moch Arif Bijaksana (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_2009_editors_introduction.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Enhanced SMART-TV: A Classifier with Vertical Data Structure and Dimensional Projections Pruning</em> by Taufik Fuadi Abidin &amp; William Perrizo (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_abidin.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Using Business Intelligence Solutions for Achieving Organization’s Strategy: Arab International University Case Study</em> by Mouhib Alnoukari (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_alnoukari.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Feature Selection for Large Scale Data by Combining Class Association Rule Mining and Information Gain: a Hybrid Approach</em>by Appavu alias Balamurugan, Pramala, Rajalakshmi &amp; Rajaram (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_balamurugan.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Detecting the Originality of Extended Research Articles Using Similarity Techniques &#8211; A Proposal</em> by Shanmugasundaram Hariharan (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_hariharan.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Prediksi Masa Studi Sarjana dengan Artificial Neural Network</em> by Muhamad Hanief Meinanda, Metri Annisa, Narendi Muhandri &amp; Kadarsyah Suryadi (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_meinanda.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Adaptive Content-based Navigation Generating System: Data Mining on Unorganized Multi Web Resources</em> by Diana Purwitasari, Yasuhisa Okazaki &amp; Kenzi Watanabe (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_purwitasari.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Fuzzy Decision Tree dengan Algoritme ID3 pada Data Diabetes</em> by F. Romansyah, I. S. Sitanggang &amp; S. Nurdiati (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_romansyah.pdf">PDF</a>)</li>
</ul>
<p>Untuk mengunduh edisi lengkap jurnal ini, klik di sini: <a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_2009_complete.pdf">IIJ Vol 1 No 2 Th 2009</a>, atau kunjungi website <a href="http://www.internetworkingindonesia.org">Internetworking Indonesia Journal</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/01/20/internetworking-indonesia-data-mining/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blogger Strikes Back</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/01/11/blogger-strikes-back/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/01/11/blogger-strikes-back/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 11:11:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2784</guid>
		<description><![CDATA[“Nah ini dia Mas Koen. Jadi gimana nih blog menghadapi serangan Twitter dan Facebook?” Itu kalimat pertama dari Mas Ferly waktu aku datang ke Green Room of MetroTV. Dan dengan segera, tema awal “Tips dan Trik Membuat Blog” di e-Lifestyle itu ditambahi tagline “Blogger Strikes Back” :). Blog bukan saja masih relevan melewati satu dekade [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Nah ini dia Mas Koen. Jadi gimana nih blog menghadapi serangan Twitter dan Facebook?” Itu kalimat pertama dari <a href="http://www.facebook.com/ferly.junandar">Mas Ferly</a> waktu aku datang ke Green Room of MetroTV. Dan dengan segera, tema awal “Tips dan Trik Membuat Blog” di e-Lifestyle itu ditambahi tagline “Blogger Strikes Back” :). Blog bukan saja masih relevan melewati satu dekade usianya, tetapi justru membentuk sinergi kuat dengan social media lainnya. Blog masih jadi alat ampuh bagi personal branding, professional networking, dan business. Tokoh <a href="http://told.byputy.com/">Puti Karina Puar</a> ditampilkan sebagai generasi yang tumbuh dalam arus social media itu. ABG labil versi online, yang justru tampil elegan, educated-syle, tidak harus alay mengikuti arus.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MetroTV2" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/01/MetroTV2.jpg" alt="MetroTV2" width="410" height="303" /></p>
<p>Tahun 2010 ini aku seharusnya memperingati 1 dekade blogging. Lupa tanggal awalnya, karena versi awal blogku – yang dibuat dengan script PHP sederhana itu – dihapus saat blog berpindah ke Blogger pada Juli 2000. Aku menulis blog karena sebuah passion yang mengganggu, yang tak bisa dihapus oleh kesibukan yang luar biasa, yang tak bisa dienyahkan oleh larinya para blogger ke social media yang lebih centil semacam Facebook atau Twitter. Passion ini menyuruhku membuat mini blog di <a href="http://koen.su">koen.su</a> kalau aku hanya mampu menulis satu dua kalimat dengan HP, atau di sebuah buku kecil kalau aku benar2 tak bisa menulis di atas benda digital. Juga ia menyuruhku menyebarkan virus blog ini, baik sebagai personal, sebagai bagian dari komunitas blogger, maupun sebagai employee di Telkom (via Santri Indigo dan kegiatan2 lain).</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-2786 aligncenter" title="MetroTV1" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/01/MetroTV1.jpg" alt="MetroTV1" width="410" height="302" /></p>
<p>Berlawanan dengan pendapat umum, sebenarnya blog tak lebih sulit dari Facebook atau Twitter. Di WordPress.com, kita bisa membuat account dalam waktu 5 menit, mengetikkan teks di editor yang mirip miniatur Word, menekan tombol Publish, dan langsung menjadi editor kelas dunia: tulisan kita terbaca oleh dunia, terpantau oleh Google. Barulah kemudian para blogger baru diajak penasaran dengan dunia online lainnya: mereka bisa upload foto dan video, memasang karya digital, mengkompetisikan dan menjual hasil karya, dan mengangkat personal uniqueness mereka. Dengan kesempatan pengembangan yang luas itu, program semacam Indigo menganggap kegiatan2 blogging sebagai hal yang menarik untuk dikembangkan. Twitter tak perlu mematikan blog. Ia bisa jadi ruang perbincangan yang lebih dinamis atas tema yang dikaji di blog, dan dalam level tertentu memiliki daya tarik ke blog melebihi feed blog kita.</p>
<p>Kita masih memerlukan banyak blog, terutama yang bersifat tematis, untuk memperkaya diskusi cerdas yang independen. Saat media tampil makin jorok memihak penguasa atau pemilik modal, blog bisa jadi pembanding yang secara tajam dan dalam memberikan wacana pembanding. Publik juga masih haus akan tema2 spesifik: pariwisata, pendidikan, aplikasi mobile, kuliner, lifestyle, hobby, film, buku, musik; yang disoroti dari sisi developer, user, appreciator, dll. Informasi publik di negeri kita masih jauh dari terpenuhi. Blog masih harus hidup, dan masih akan hidup.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/01/11/blogger-strikes-back/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tweeting</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/01/08/tweeting/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/01/08/tweeting/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 09:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Web]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[social network]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2775</guid>
		<description><![CDATA[Blogger angkatan lama pasti kenal Ev William, salah satu pendiri Blogger.com. Saat Google membeli Blogger.com, Ev menjadi karyawan Google. Namun tak lama, ia mendirikan Odeo. Odeo berisi developer muda bergaya Silicon Valley: mereka bekerja di sembarang tempat, di sembarang waktu. Pemuda berkaus lusuh yang duduk di pojok warung menjelang tengah malam sambil memelototi gadgetnya itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Blogger angkatan lama pasti kenal Ev William, salah satu pendiri Blogger.com. Saat Google membeli Blogger.com, Ev menjadi karyawan Google. Namun tak lama, ia mendirikan Odeo. Odeo berisi developer muda bergaya Silicon Valley: mereka bekerja di sembarang tempat, di sembarang waktu. Pemuda berkaus lusuh yang duduk di pojok warung menjelang tengah malam sambil memelototi gadgetnya itu mungkin juga karyawan Odeo yang sedang bekerja keras. Ini memang mendorong kreativitas, tetapi mulai menyulitkan komunikasi. Maka Odeo menciptakan aplikasi web sederhana yang memungkinkan para karyawannya menulis status mereka, progress mereka, secara singkat saja, agar mudah saling melacak. Konversasi personal dimungkinkan, tetapi tetap dapat dilacak dan ditimbrungi lainnya. Menariknya, aplikasi ini kemudian tak hanya digunakan pekerja Odeo, tetapi juga rekan-rekan mereka, dan akhirnya menjadi aplikasi publik. Lahirlah Twitter.</p>
<p>Twitter lahir dari prakarsa2 karyawan. Tapi ia membesar karena prakarsa2 user. Sebuah prosumerity. Dari tujuan semula untuk menulis status pribadi (“What are you doing?”), Twitter berkembang menjadi media konversasi publik. Kemudian media kompilasi ide. Tanda pagar (#) itu bukan berasal dari pencipta Twitter, tetapi dari user. Meme menular cepat melalui retweet (RT). Lalu terjadi penggalangan ide, dan gerakan. Banyak yang percaya bahwa rezim Indonesia pun beberapa kali harus mengubah langkah2 tak populer mereka atas desakan massa yang diperkuat melalui media Twitter. Twitter sendiri pun mengubah pertanyaannya menjadi “What’s happening?”</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-2776" title="Twitter-Small" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/01/Twitter-Small.png" alt="Twitter-Small" width="250" height="198" align="right" />Aku pernah diwawancarai oleh BBC khusus mengenai Twitter beberapa bulan lalu. Pun ternyata masih banyak yang bertanya: “Apa sebenarnya Twitter?” Dan ini bukan pertanyaan para pemula. Ini pertanyaan dari blogger senior dan developer sistem. Mereka masuk Twitter, mereka mencoba menulis satu dua hal menarik. Lalu merasa tak ada yang tertarik. Lalu tenggelam. Atau menjadi komunikasi yang gamang.</p>
<p>Tapi pertama bayangkan Twitter bukan sebagai microblog, dan bukan sebagai google. Ia adalah sistem komunikasi antar manusia yang bersifat unicast, multicast, atau broadcast (pada level ini, bukan level IP, haha). Apa yang pertama kali kita lakukan saat memasuki sebuah komunitas baru? Kita tidak akan membuat pernyataan yang tidak seorangpun yang mendengar. Tak juga kita akan menanyakan sesuatu yang tak seorangpun membaca. Pun takkan kita meneriakkan pendapat yang tidak dapat kita jelaskan dalam 140 karakter. (Wolfgang Pauli akan penasaran, kenapa angka ini begitu dekat dengan 137).</p>
<p>Tahap awal kita di Twitter sebaiknya digunakan mengikuti (follow) orang2 yang pas buat kita ajak bicara. Kita tidak mencari orang yang terkenal, atau orang yang paling ahli. Dan jangan mengikuti artis, selebriti, dll, yang kira2 tidak akan berguna dalam hidup kita. Lalu kita lakukan perbincangan. Sebagian dari mereka akan balik mengikuti kita, tanpa diminta (Oh ya: kalau kamu merasa kata2 kamu memang layak didengar, kamu takkan sekalipun minta difollow). Kita mulai memiliki ruang: kata2 kita mulai terdengar. Perbincangan kita dengan orang2 ini akan menarik orang2 lain bergabung, dan memperluas rentang pengaruh kita, menambah follower kita. Kita bebas memfollow balik mereka yang memfollow kita, tapi tak harus. Komunikasi harus efektif, dengan noise yang rendah, dan sampah seminimal mungkin (itu sebabnya mengikuti selebriti dll tak dianjurkan, jika itu tak berkait dengan dunia kita, kecuali jika mereka memang inspiring secara teks).</p>
<p>Komunikasi manusiawi bersifat kontekstual. Memang ada yang menyebut bahwa itu lemah. Tapi kita manusia, bukan komputer yang mudah disearch, dll. Komunikasi kontekstual itu manusiawi, sesuai cara otak kita mengelola simbol. Kita mulai mengenali rekan2 di Twitter: keahlian mereka, gaya komunikasi mereka, rasa humor mereka, komitmen dan konsistensi mereka. Pesan2 jadi efektif dalam 140 karakter, karena mereka bersifat amat kontekstual. Menanyakan sesuatu ke seseorang tak harus detail, karena kita saling tahu apa yang dikomunikasikan. Komunikasi serius dan becanda tak perlu ditandai, karena kita paham konteks komunikasi. Informasi tak harus memetakan fakta, karena kita paham level sindiran, pelesetan, ejekan, dalam komunikasi – dan dengan demikian justru dapat menangkap apa yang sedang disampaikan. Dengan demikian, pujian tekstual bukan berarti pujian kontekstual, dan makian tekstual justru mungkin merupakan simpati kontekstual.</p>
<p>Tentu banyak kritik mengenai cara berkomunikasi macam ini yang dibilang tidak logis. Tapi – percayalah, aku pakar komunikasi dan informatika loh – yang kita sebut logika pun tidak sesederhana IF THEN ELSE seperti yang dipahami kearifan selevel SMP. Object-oriented programmer pun paham bahwa message antar object mengikuti karakteristik class, dan ini 100% logis. Lalu aspect-oriented programming (logic), haha. Masalahnya, kita lupa bahwa knowledge merupakan object, kita juga object, dan diskursus kita juga object yang flexible. Message mengikuti interaksi kita.</p>
<p>[Di catatan sebelum blog, aku pernah bercerita tentang sebuah konsistensi. Suatu malam, sebelum mengerjakan tugas berat, aku bilang ke diri sendiri: (1) “Istirahatlah. Performansimu besok ditentukan oleh kondisi badan.” Besoknya, yang harus aku kerjakan memang berat. Hampir menembus batas. Tapi aku mendorong diri sendiri, (2) “Terus maju. Kondisi badan tak mempengaruhi performansi!” Dalam contoh ini, aku rasa kita bisa melihat bahwa kedua pernyataan tidak inkonsisten. Kita tahu bahwa (3) performansi didukung oleh banyak hal, dan kondisi badan menyumbang sekian persen. Message 1 lebih pas untuk memetakan message 3 ke dalam kondisi malam itu, dan message 2 adalah message 3 yang dipetakan ke kondisi siang itu. Message 3 yang sama. Tujuan yang sama (performansi maksimal). Tidak ada inkonsistensi. Yang ada hanya konteks waktu, konteks aksi, dan mapping. Begitulah juga kita memahami lalu lintas perbincangan di Twitter.]</p>
<p>OK. Jadi di Twitter kita membentuk lingkungan kita sendiri, tempat kita mulai saling bertanya, saling berbagi info (info internal maupun info dari jaringan2 lain di Twitter), dan saling berkolaborasi. Pada titik inilah Twitter jadi blok yang kuat untuk mendiskusikan, memfilter, mempertajam ide. Twitter jadi tools berupa mesin pencari cerdas dan kontekstual yang paham info yang kita butuhkan pada situasi terkini. Twitter jadi media penggalangan gagasan dan aksi. Twitter mampu mengecutkan nyali kepala polisi hingga presiden. Jaringan antar jaringan di Twitter bersifat kuat kokoh merekat, sekuat jaringan IP di bawahnya.</p>
<p>Catatan:</p>
<ul>
<li>Entry blog ini ditulis tanpa support setetes kopi pun dari kemarin pagi</li>
<li>Twitter bukan Plurk. Jadi tidak ada kompetisi memperbanyak jumlah follower untuk mengejar karma dll. Tak ada yang peduli jumlah follower kita, atau berapa orang yang memasukkan kita ke dalam list.</li>
<li>Memang ada semacam panduan bahwa perbandingan jumlah following : follower sebaiknya 2 : 1. Atau bahkan 3 : 1. Tapi Twitter bukan soal angka. Yang lebih penting adalah kualitas komunikasi, kualitas follower dan followee (huh, ada ya kata semacam ini?).</li>
<li>Sejauh ini, satu2nya buku tentang Twitter yang layak dibaca adalah Twitterville dari Shel Israel (@shelisrael).</li>
<li>Account Twitterku adalah <a href="http://twitter.com/kuncoro">@kuncoro</a>.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/01/08/tweeting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyelamatan Garuda</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/12/28/penyelamatan-garuda/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/12/28/penyelamatan-garuda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 04:52:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[garuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2767</guid>
		<description><![CDATA[«Japan Air Lines akan dinyatakan bangkrut» &#8212; begitu salah satu headline pagi ini. Dan aku mendadak ingat bahwa Garuda Indonesia pernah mengalami kisah yang sama. Cerita tentang Garuda ini cukup lama, tetapi baru diceritakan kembali beberapa bulan lalu oleh Tanri Abeng. Beliau berkisah bukan sebagai Komisaris Utama Telkom, tetapi sebagai salah satu Management Guru di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>«Japan Air Lines akan dinyatakan bangkrut» &#8212; begitu salah satu headline pagi ini. Dan aku mendadak ingat bahwa <a href="http://kun.co.ro/2009/12/14/garuda-indonesia/">Garuda Indonesia</a> pernah mengalami kisah yang sama. Cerita tentang Garuda ini cukup lama, tetapi baru diceritakan kembali beberapa bulan lalu oleh <a href="http://tanriabeng.com">Tanri Abeng</a>. Beliau berkisah bukan sebagai Komisaris Utama Telkom, tetapi sebagai salah satu Management Guru di Telkom. Pasti kisah di bawah ini sudah banyak didengar rekan2 Telkom lainnya.</p>
<p>Di paruh kedua tahun 1990an, Bank Dunia maupun IMF terus mendorong agar pemerintah2 bertindak sebagai regulator, bukan sebagai pemain bisnis. Pemerintah Indonesia mereaksi dengan membentuk departemen yang terpisah antara regulasi dan pengelolaan BUMN. Maka dibentuklah <a href="http://www.bumn.go.id/">Kementrian Negara Pendayagunaan BUMN</a>. Tugasnya adalah untuk mengelola BUMN yang saat itu memang kebanyakan salah urus di bawah departemen2 teknis. Tanri Abeng diangkat sebagai Menneg BUMN pertama. Cukup menarik cara Tanri berkisah tentang masuknya ia ke pemerintahan, beberapa kali berdialog dengan Soeharto, dan betapa canggungnya juga Soeharto dan para punggawanya membuat Tanri memahami bagaimana ia mengendalikan sistem pemerintahan orde baru di balik layar, hahah. Tapi itu cerita lain. Kita ke Garuda dulu.</p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/mcpollux/4215372069/" title="Merapi dan Garuda by McPollux, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2627/4215372069_8f1b460b65_m.jpg" width="180" height="240" align="right" border="0" alt="Merapi dan Garuda" /></a>Seperti JAL tahun ini, Garuda masa itu menghadapi ancaman kebangkrutan. Hutang2 jatuh tempo, dan pemerintah tidak dalam kondisi kuat untuk menjadi backup. Kondisi Garuda sendiri memang menyebalkan: banyak benalu, baik dari kalangan cendana, keluarga mantan direksi, maupun pihak lain yang tidak jelas. Tanri merasa bahwa Garuda hanya bisa diselamatkan jika orang mulai menaruh kepercayaan kepada Garuda. Dan itu dimulai dengan menunjukkan bahwa pemerintah serius mengubah sistem yang ada di Garuda. Memberanikan diri datang ke Soeharto, Tanri mohon izin untuk mengganti Dirut Garuda. Lalu ia diam. Zaman orba itu, pejabat ditunjuk atau direstui langsung oleh Soeharto, dan tak pernah diganti kecuali ia bersalah kepada Soeharto. Mengganti pejabat seolah menunjukkan bahwa presiden bisa salah memilih orang, atau tepatnya bahwa presiden bisa salah :).  Itu memang zaman kitsch :). Tapi setelah saling diam, Soeharto cuma tersenyum, lalu mengatakan, &#8220;Kenapa cuma Dirut? Ganti saja semua direksi.&#8221; Satu masalah terpecahkan.</p>
<p>Masalah lain adalah memilih Dirut. Ini keadaan darurat, karena para kreditor besar benar2 sudah mengancam membangkrutkan Garuda. Pada saat seperti ini, yang diperlukan bukanlah profesional di bidang penerbangan. Maka Tanri mendatangi Robby Djohan. Ini adalah tokoh yang pernah membesarkan Bank Niaga (dari nothing menjadi bank swasta kedua terbesar di Indonesia), plus memiliki reputasi yang kuat di kalangan internasional. Dan orang yang tepat memegang sebuah posisi memang adalah orang yang tak memerlukan posisi itu. &#8220;Kenapa suruh saya,&#8221; balas Robby waktu diminta Tanri, &#8220;Saya tidak butuh uang dan pekerjaan.&#8221; Tanri menjelaskan bahwa ia memang memerlukan orang yang tidak memerlukan uang. Maka Robby diamanahi menjadi Dirut Garuda.</p>
<p>Robby pun mengundang para kreditor. Pada rapat pertama, ia membuka, &#8220;Saya diberi wewenang untuk membantu Anda.&#8221; Para kreditor heran. &#8220;Yang punya masalah itu Anda. Kami dalam posisi kuat,&#8221; kata para kreditor. Robby masih kalem, menjawab, &#8220;Kalau negosiasi hari ini tidak berhasil, saya langsung angkat tangan, dan Garuda dibangkrutkan, dan tak ada yang menjamin uang Anda.&#8221; Para kreditor langsung paham.  Robby mengenang kembali, &#8220;Negative networth gila-gilaan, sebab utang (liabilities) jauh lebih besar dibanding harta (asset), sehingga saldonya negatif. Bottom line sudah merah, begitu juga saldo ditahan (retained earning) juga telah negatif.&#8221; Ia membacanya seperti seorang bankir: &#8220;Kalau kita reevaluasi aset sesuai market, maka negative networth akan menjadi kecil. Yang penting, dia noncash-charge, dan negative networth akibat akumulasi kerugian bisa diatasi. Yang perlu dijaga, Garuda tidak boleh rugi, cash flow harus positif. Selain itu, juga harus dijaga posisi serasi antara aset dalam rupiah serta liability dalam dollar AS.&#8221; Maka negosiasi intensif untuk penjadwalan hutang dan profitisasi Garuda dimulai. Benalu2 dibersihkan, kepercayaan dibangkitkan, efisiensi ditingkatkan. Pada masa Robby ini juga Kantor Pusat mulai dipindahkan ke wilayah Bandara Soekarno Hatta. Garuda terselamatkan, dan mulai bisa bangkit.</p>
<p>Sayangnya, tak lama Robby di Garuda. Menurut Tanri, memang sengaja Robby tidak dibiarkan lama di sana. Begitu Garuda agak pulih, kendali direksi diserahkan ke pihak lain yang memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan pekerjaan2 detail dan komprehensif. Sementara itu, Robby sendiri diberi pekerjaan baru yang lebih berat: mengawal merger bank2 BUMN menjadi Bank Mandiri.</p>
<ul>
<li>Seluruh kata2 di atas dinarasikan ulang dan tidak dapat dikutip ulang untuk keperluan jurnalistik atau ilmiah.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/12/28/penyelamatan-garuda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknologi 4G di Yogyakarta</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/12/20/teknologi-4g-di-yogyakarta/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/12/20/teknologi-4g-di-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 13:24:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IEEE]]></category>
		<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[4G]]></category>
		<category><![CDATA[Mobile]]></category>
		<category><![CDATA[Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2759</guid>
		<description><![CDATA[Tak seperti biasanya, kali ini Gunung Merapi tampak detil2 liku2nya lengkap dengan puncak menjulang dan asap tipisnya, bahkan sejak Garuda belum mendarat di Yogyakarta. Udara jernih nyaris tanpa kabut dan awan tipis. Ya, setelah Bandung, kali giliran Yogyakarta menjadi tuan rumah bagi lecturing &#8220;Opening The Gates to 4G Mobile Technology&#8221; yang diselenggarakan oleh IEEE Communications [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak seperti biasanya, kali ini Gunung Merapi tampak detil2 liku2nya lengkap dengan puncak menjulang dan asap tipisnya, bahkan sejak Garuda belum mendarat di Yogyakarta. Udara jernih nyaris tanpa kabut dan awan tipis. Ya, setelah Bandung, kali giliran Yogyakarta menjadi tuan rumah bagi lecturing &#8220;Opening The Gates to 4G Mobile Technology&#8221; yang diselenggarakan oleh <a href="http://www.ieee.org">IEEE</a><a href="http://www.comsoc.org"> Communications Societ</a>y <a href="http://komunikasi.org">Indonesia Chapter</a>.</p>
<p>Bertempat di Hotel Santika (19 Desember 2009), seminar ini masih menyampaikan materi yang sama dengan Bandung, namun telah diperkaya oleh hasil diskusi di Bandung. Speaker dan materinya meliputi:</p>
<ol>
<li>Muhammad Ary Murti: Pengenalan IEEE, societies, Indonesia section, chapters, membership.</li>
<li>Kuncoro Wastuwibowo: 4G Mobile Technologies, network, service, cognitive radio, context awareness, candidates</li>
<li>Arif Hamdani Gunawan: Candidate I &#8211;&gt; LTE, evolution, features, architecture, OFDMA &amp; SCFDMA, implementation plan</li>
<li>FX Ari Wibowo: Candidate II &#8211;&gt; WiMAX II, comparison of 802.16e vs 802.16m, specifications, features, architecture</li>
</ol>
<p>Peserta datang dari Bandung, Yogyakarta, dan berbagai kota lainnya. Diskusi cukup tajam, membahas spesifikasi detail, spekulasi mengenai lenyapnya UMB :), hingga pengembangan aplikasi di atas teknologi 4G.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-2760  aligncenter" title="IEEE-4G-Yogyakarta" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/12/IEEE-4G-Yogyakarta.jpg" alt="IEEE-4G-Yogyakarta" width="410" height="184" /></p>
<p>Setelah Yogyakarta, Teknologi 4G akan juga dibawakan ke kota-kota lain, sementara di awal 2010 nanti juga IEEE akan mulai meluncurkan tema-tema yang berbeda untuk lecturingnya. Lecturing ini akan disampaikan melalui beberapa metode sesuai tujuan. Bentuknya bisa kuliah umum di kampus, lecturing intensif seperti saat ini, atau conference yang lebih besar. Namun tentu akan diperlukan dukungan lebih banyak volunteer :). Punya passion di bidang ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/12/20/teknologi-4g-di-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Garuda Indonesia</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/12/14/garuda-indonesia/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/12/14/garuda-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 16:41:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[garuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2750</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai majalah engineer yang UK-centric, E&#38;T agak jarang menyebut Indonesia. Sempat dulu tiap triwulan nama Indonesia disebut, tapi dengan tema yang sama: Uni Eropa memperpanjang blokir atas penerbangan Indonesia, plus alasan panjang bahwa keseluruhan sistem penerbangan Indonesia dikendalikan oleh birokrasi yang korup dan asal2an. Entah kemana menhub masa itu sekarang. Pemicunya memang Adam Air &#8212; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai majalah engineer yang UK-centric, E&amp;T agak jarang menyebut Indonesia. Sempat dulu tiap triwulan nama Indonesia disebut, tapi dengan tema yang sama: Uni Eropa memperpanjang blokir atas penerbangan Indonesia, plus alasan panjang bahwa keseluruhan sistem penerbangan Indonesia dikendalikan oleh birokrasi yang korup dan asal2an. Entah kemana menhub masa itu sekarang. Pemicunya memang Adam Air &#8212; penerbangan milik pengusaha merangkap penguasa dan golkar. Syukur akhirnya blokir dicabut. E&amp;T tak lupa menulis soal itu, biarpun tentu didahului oleh media2 di Indonesia. Garuda Indonesia dan Mandala boleh menerbangi dan melandas di Eropa. Pada saat yang berdekatan, Garuda juga mengumumkan perubahan style perusahaan. Logo lama, dengan tata huruf baru, dan desain2 baru yang lebih segar.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-2751  aligncenter" title="Garuda-Indonesia" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/12/Garuda-Indonesia.gif" alt="Garuda-Indonesia" width="270" height="50" /></p>
<p>Pada saat amat berdekatan, Citibank mengirimiku SMS, menawarkan upgrade Citibank Mastercard ke Citibank Platinum Garuda. Sebagai pecinta BUMN ;), aku langsung tertarik, dan langsung call ke Citibank sekitar 3 minggu kemudian. Waktu aku menjejakkan kaki di Bali (turun dari Garuda), pihak Garuda menelefonku untuk interview pengajuan GFF (Garuda Frequest Flyer) yang dipadukan kartu Citibank. Sekaligus Neng Garuda menanyai kapan aku terakhir naik Garuda, buat tambah point GFF. Dia langsung cek ke database, dan minta maaf bahwa penerbangan pagi itu yang a.n. grup tidak bisa dimasukkan. EGP :). Tak lama di Jakarta, kartu GFF biru masuk ke kotak pos. Lalu kartu Citibank Garuda dengan nomor GFF lain yang menggantikan si kartu biru.</p>
<p>Kartu ini nggak aneh, selain bisa buat nabung point buat lain hari bisa terbang gratis. Juga bikit kita bisa memilih antrian pendek waktu check in. Dan ia jadi pass masuk ke banyak airport lounge, yang sering terpakai karena kemacetan di negeri ini sudah mulai teratasi sehingga aku sering kepagian ke airport. Tapi tanpa kartu ini pun, Garuda memang menarik. Agen resmi Garuda ada di sebelah kantorku. Kalau kita beli tiket di sana, memilih tanggal dan jam, si agen langsung memberikan harga. Tapi ia juga memberikan alternatif jam lain yang harganya lebih murah, sekaligus harga termurah pada hari itu. Penerbangan semacam Air Asia tak mendidik agennya memiliki kebaikan hati semacam itu.</p>
<p>Oh ya. Aku menulis ini di atas Garuda yang lain, dalam penerbangan ke Bali lagi. Sekitar minggu lalu, Garuda mengirimkan laporan jumlah point GFF. Cukup cepat naiknya point-ku. Padahal aku nggak selalu menggunakan Garuda. Dan perjalanan ke Bali sebelumnya, yang dibeli via grup, ternyata dimasukkan juga point-nya ke total point GFF-ku.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-2752  aligncenter" title="Garuda-Indonesia" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/12/Garuda-Indonesia.jpg" alt="Garuda-Indonesia" width="400" height="300" /></p>
<p>Beberapa hal unik di Garuda. Aku nggak berharap mereka baca blog ini sih, haha :).</p>
<ul>
<li>Kita bisa ke web <a href="http://garuda-indonesia.com/">Garuda Indonesia</a> untuk memilih jadwal penerbangan. Tapi kalau kita sudah menentukan pilihan, jika tak terlalu terdesak, jangan bertransaksi di web. Pergi saja ke agen resmi. Aku beruntung, bisa cukup jalan kaki ke agen sebelah kantor. Di sana, mereka bisa memberi harga lebih murah daripada transaksi di web. LEbih dari itu, kadang ada diskon kejutan. Misalnya waktu beli tiket ke Batam, aku sempat tanya, &#8220;Ada diskon untuk Citibank Garuda?&#8221; dan setelah membaca2 tumpukan kertas, si neng agen dengan ceria memaklumatkan bahwa aku boleh mendapatkan diskon 15%. Not bad.</li>
<li>Pun kalau masih mau beli di web, bandingkan dulu harga tiket pulang-pergi dengan jumlah harga tiket satu jalan ke arah pergi dan ke arah pulang. Beberapa kali, harga tiket pulang-pergi justru lebih mahal, pada waktu yang sama.</li>
<li>Dibandingkan low-fare airlines, tentu Garuda memang lebih mahal. Significantly :D. Namun pada hari2 tertentu, seperti menjelang Idul Fitri lalu, atau menjelang 1 Syura di Yogya seperti weekend ini, harga tiket Garuda tak terlalu melonjak, sehingga selisihnya dengan low-fare seperti Air Asia bisa hanya belasan ribu saja.</li>
</ul>
<p>Pilot memberikan isyarat pendek. Sebentar lagi pesawat bersiap melandas. Semua perangkat elektronik harus dimatikan. Tentu, tulisan ini baru akan dipublish di darat nanti. Dan sekaligus barangkali aku mau coba2 diskon dll yang ditawarkan, hanya dengan menggunakan boarding pass Garuda. Banyak yang menarik di Bali :).</p>
<p>BTW, sayang sekali account twitter <a href="http://twitter.com/garudaindonesia">@GarudaIndonesia</a> tak dimanfaatkan maksimal.</p>
<p>Update:</p>
<ul>
<li>E&amp;T minggu ini memuat lagi tentang Indonesia, yaitu tentang proyek Palapa Ring.</li>
<li>Pernah merasai pesawat yang bisa tanpa jeda sedikitpun, dari taxi langsung take off? Garuda Denpasar-Jakarta yang aku tumpangi menunjukkan bahwa itu bisa :).</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/12/14/garuda-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandung Gerbang 4G</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/11/21/bandung-gerbang-4g/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/11/21/bandung-gerbang-4g/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 12:35:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IEEE]]></category>
		<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[4G]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[LTE]]></category>
		<category><![CDATA[WiMAX]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2735</guid>
		<description><![CDATA[Lama tak menjejak Bandung. Dan kota ini menyambutku beku tanpa ampun. Gigil dikepung kabut tipis. Ah, di mana ceriamu yang dulu itu, kota inspirasiku? Beku kau tak peduli semangatku. Tapi negeri menanti.
Seperti yang telah lama direncanakan, Bandung merupakan kota pertama untuk serial seminar &#8220;Opening the Gates to 4G&#8221; :). Ini seminar yang diluncurkan IEEE Comsoc [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lama tak menjejak Bandung. Dan kota ini menyambutku beku tanpa ampun. Gigil dikepung kabut tipis. Ah, di mana ceriamu yang dulu itu, kota inspirasiku? Beku kau tak peduli semangatku. Tapi negeri menanti.</p>
<p>Seperti yang telah lama direncanakan, Bandung merupakan kota pertama untuk serial seminar &#8220;Opening the Gates to 4G&#8221; :). Ini seminar yang diluncurkan IEEE Comsoc Indonesia Chapter, dan didukung IEEE Indonesia Section dan Mastel. Seminar ini bertujuan untuk membuka perbincangan yang lebih luas mengenai pengembangan network, service, dan aplikasi di Indonesia memanfaatkan platform 4G.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-2743  aligncenter" title="IEEE-Horison" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/11/IEEE-Horison.jpg" alt="IEEE-Horison" width="410" height="150" /></p>
<p>Seperti kata judulnya, ada lebih dari satu gerbang ke 4G. Di sisi network, setelah tumbangnya UMB, kita memiliki LTE dan WiMAX II. Tapi banyak parameter lain yang menandai 4G. Cognitive radio memungkinkan perangkat2 kita secara cerdas memilih spektrum dan platform telekomunikasinya mengikuti kebutuhan, lokasi, dan parameter lain &#8212; a.k.a. konteks. Pun aplikasi tengah mengarah ke aplikasi peduli konteks (context-aware applications). Tentu ini sering diulas di blog ini, maupun beberapa blog tetangga. Tetapi baru sekali ini semuanya berhasil dikemas dalam satu buah seminar.</p>
<p>Aku membuka seminar yang diselenggarakan di Hotel Horison ini dengan menceritakan kebutuhan dan requirement atas 4G. Selain cognitive radio, dibahas skema all-IP network (yang artinya juga dukungan atas IPv6), antena cerdas (MIMO, spatial multiplex), dan OFDMA. Lalu Arief Hamdani melakukan diskusi panjang dan mendalam tentang LTE, lengkap dengan SAE. Untuk pembanding, aku mengulas mengenai WiMAX II yang masih berstatus pre-standard (IEEE 806.16m).</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; border: 0px initial initial;" title="WiMAX-II-Reference-Model" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/11/WiMAX-II-Reference-Model.png" alt="WiMAX-II-Reference-Model" width="410" height="212" /></p>
<p style="text-align: left;">Sebagai penutup, diskusi diakhiri tentang context-aware application dan pervasive computing. Dan langit Bandung sudah mulai gelap lagi. Seminar berikutnya di Yogyakarta, kemudian Denpasar. Medan? :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/11/21/bandung-gerbang-4g/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Life Confident</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/10/17/life-confident/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/10/17/life-confident/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 10:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Telkom]]></category>
		<category><![CDATA[Indigo]]></category>
		<category><![CDATA[life confident]]></category>
		<category><![CDATA[logo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2721</guid>
		<description><![CDATA[Jadi aku harus menamainya mission atau passion? :), ini digencarkan di entry blog ini beberapa bulan lalu. Tapi program Indigo bukan hanya merupakan platform kerja Telkom: ia juga mendefinisikan Telkom. Strategi dan komitmennya untuk melaju bersama komunitas-komunitas kreatif dan elemen-elemen pembangun ekonomi dan budaya bangsa, ditampilkan dalam visualisasi baru, tagline baru. Sebuah brand positioning pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi aku harus menamainya mission atau passion? :), ini digencarkan di <a href="http://kun.co.ro/2009/08/04/indigo-in-action/">entry blog ini beberapa bulan lalu</a>. Tapi program Indigo bukan hanya merupakan platform kerja Telkom: ia juga mendefinisikan Telkom. Strategi dan komitmennya untuk melaju bersama komunitas-komunitas kreatif dan elemen-elemen pembangun ekonomi dan budaya bangsa, ditampilkan dalam visualisasi baru, tagline baru. Sebuah brand positioning pun diperkenalkan: <strong>Life Confident</strong>.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Telkom Indonesia" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/10/TelkomIndonesia.png" alt="Telkom Indonesia" width="400" height="233" /></p>
<p>Logo baru Telkom dan brand positioning ini sendiri baru di<em>softlaunch</em>kan malam tadi, sebelum diluncurkan secara lebih besar bersamaan dengan penganugerahan Indigo Awards tanggal 23 Oktober mendatang. Aku sedang cukup disibukkan oleh persiapan Indigo Awards, jadi tak sempat menghadiri <em>soft launching</em> :). Tapi sekilas melirik, tampaknya aku langsung jadi fans logo Telkom yang baru ini.</p>
<p>Pesan <strong>Life Confident</strong> sendiri langsung membangkitkan optimisme. Hidup bukan sesuatu yang mudah bagi siapa pun. Tetapi deretan perjuangan hidup mewarnai jiwa kita dengan nilai-nilai yang membuat tak memiliki alasan untuk tidak menganggap hidup itu indah. Di atas sinisme jenaka kita, kita memiliki optimisme. Di atas beku udara (<em>brrr),</em> ada hati dan jabat tangan hangat yang menemani perjuangan kita. Dan dengan kecerdasan hidup kita, kita bisa mencapai kegemilangan negeri ini.</p>
<p>Ayo, ini dunia kita. Isi dengan warna-warna kita, dengan keyakinan diri dan kelincahan langkah.</p>
<p>Catatan:</p>
<ul>
<li><a href="http://kuncoro.co.uk/post/302/">Logo Telkom yang baru ini memiliki warna latar belakang putih terang, bukan transparan. Klik di sini untuk melihat logo yang orisinal dengan latar putih.</a></li>
<li><a href="http://koen.blog.plasa.com/2009/10/19/logo-ramah/">Kenapa tangan, lingkaran, biru, kuning emas, huruf ramping, dan Indonesia? Aku bahas di blog yang lain. Klik di sini.</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/10/17/life-confident/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>69</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.294 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2010-03-20 09:17:12 -->
<!-- Compression = gzip -->