<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Kuncoro++</title>
	<atom:link href="http://kun.co.ro/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kun.co.ro</link>
	<description>Reinventer La Vie</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 11:11:01 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>Comment on Kewajiban Penerbitan Paper by iscab.saptocondro</title>
		<link>http://kun.co.ro/2012/02/03/kewajiban-penerbitan-paper/comment-page-1/#comment-1073572</link>
		<dc:creator>iscab.saptocondro</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 11:11:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3560#comment-1073572</guid>
		<description>Kalau mahasiswa S1 membuat paper untuk conference sih OK2 aja, lumayan mendidik. Tapi kalau buat paper untuk jurnal itu berat. 

Di negara seperti Jepang, Jerman, UK, USA, tidak ada kewajiban bagi mahasiswa bachelor (S1) dan master (S2) untuk membuat paper untuk jurnal. Mahasiswa S1 dan S2 itu tidak dididik untuk jadi peneliti saja, melainkan juga untuk bekerja di bidang lain.

Salam dari Nürnberg, Bayern, Jerman.

Condro</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau mahasiswa S1 membuat paper untuk conference sih OK2 aja, lumayan mendidik. Tapi kalau buat paper untuk jurnal itu berat. </p>
<p>Di negara seperti Jepang, Jerman, UK, USA, tidak ada kewajiban bagi mahasiswa bachelor (S1) dan master (S2) untuk membuat paper untuk jurnal. Mahasiswa S1 dan S2 itu tidak dididik untuk jadi peneliti saja, melainkan juga untuk bekerja di bidang lain.</p>
<p>Salam dari Nürnberg, Bayern, Jerman.</p>
<p>Condro</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Kewajiban Penerbitan Paper by Koen</title>
		<link>http://kun.co.ro/2012/02/03/kewajiban-penerbitan-paper/comment-page-1/#comment-1073571</link>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 08:35:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3560#comment-1073571</guid>
		<description>Di transaksi, jurnal, dan conference IEEE, selalu ada pembatasan panjang paper. Ada yang menetapkan 5 halaman, atau 7 halaman. Jadi memang paper diharapkan memaparkan sebuah gagasan secara ringkas; bukan untuk bekerja keras menulis berminggu2 menjajagi latar belakang dll. Memang hasilnya jadi mirip bahasa dewa :).
Nin-Nin (a.k.a. Kapkap) jadi tampak amat serius kalau lagi bahas urusan akademis :). Selain soal Case Study Centre yang benar2 baru buat aku, di hal2 lain kita 100% sependapat. Intinya tetap harus ada kesiapan dan dukungan dulu sebelum memberlakukan kebijakan yang sebenarnya baik ini.
Buat Hariyadi, aku belum banyak mendalami pro dan kontra untuk pemilahan dua jalur bagi mahasiswa. Tapi tanpa keharusan menulis peer-reviewed paper pun, aku rasa perlu upaya tambahan untuk membuat para sarjana baru itu bisa menuliskan ide mereka secara singkat, efektif, dan cerdas. Kalau kita simak artikel di koran, kolom di majalah, komunikasi publik, iklan, marketing, hingga nota dinas di kantor, kita akan lihat makin rendahnya tingkat kecerdasan para penulis.
Soal kejanggalan yang ditulis Sisca, aku juga belum mendalami. Sekilas sih tampak wajar saja bahwa hal2 yang bersifat akademis diakreditasi Dikti, dan yang bersifat riset diakreditasi LIPI. Mungkin lembaga dengan autoritas profesional juga boleh melakukan akreditasi. Tapi, aku belum serius mendalami pro dan kontranya.
Dan, Iscab, di Jakarta atau Bremen sih?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Di transaksi, jurnal, dan conference IEEE, selalu ada pembatasan panjang paper. Ada yang menetapkan 5 halaman, atau 7 halaman. Jadi memang paper diharapkan memaparkan sebuah gagasan secara ringkas; bukan untuk bekerja keras menulis berminggu2 menjajagi latar belakang dll. Memang hasilnya jadi mirip bahasa dewa :).<br />
Nin-Nin (a.k.a. Kapkap) jadi tampak amat serius kalau lagi bahas urusan akademis :). Selain soal Case Study Centre yang benar2 baru buat aku, di hal2 lain kita 100% sependapat. Intinya tetap harus ada kesiapan dan dukungan dulu sebelum memberlakukan kebijakan yang sebenarnya baik ini.<br />
Buat Hariyadi, aku belum banyak mendalami pro dan kontra untuk pemilahan dua jalur bagi mahasiswa. Tapi tanpa keharusan menulis peer-reviewed paper pun, aku rasa perlu upaya tambahan untuk membuat para sarjana baru itu bisa menuliskan ide mereka secara singkat, efektif, dan cerdas. Kalau kita simak artikel di koran, kolom di majalah, komunikasi publik, iklan, marketing, hingga nota dinas di kantor, kita akan lihat makin rendahnya tingkat kecerdasan para penulis.<br />
Soal kejanggalan yang ditulis Sisca, aku juga belum mendalami. Sekilas sih tampak wajar saja bahwa hal2 yang bersifat akademis diakreditasi Dikti, dan yang bersifat riset diakreditasi LIPI. Mungkin lembaga dengan autoritas profesional juga boleh melakukan akreditasi. Tapi, aku belum serius mendalami pro dan kontranya.<br />
Dan, Iscab, di Jakarta atau Bremen sih?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Kewajiban Penerbitan Paper by On Research and Graduation &#171; Mumbling Stuffs</title>
		<link>http://kun.co.ro/2012/02/03/kewajiban-penerbitan-paper/comment-page-1/#comment-1073566</link>
		<dc:creator>On Research and Graduation &#171; Mumbling Stuffs</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 01:24:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3560#comment-1073566</guid>
		<description>[...] Banyak pendapat yang masuk di bagian status FB mas Koen, dan semuanya perlu banget dipikirin. Karena diskusi di FB sudah lumayan banyak, mas Koen memutuskan untuk &#8220;memindahkan&#8221; diskusi ke blog pribadinya. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Banyak pendapat yang masuk di bagian status FB mas Koen, dan semuanya perlu banget dipikirin. Karena diskusi di FB sudah lumayan banyak, mas Koen memutuskan untuk &#8220;memindahkan&#8221; diskusi ke blog pribadinya. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Kewajiban Penerbitan Paper by Kapkap</title>
		<link>http://kun.co.ro/2012/02/03/kewajiban-penerbitan-paper/comment-page-1/#comment-1073565</link>
		<dc:creator>Kapkap</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 01:12:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3560#comment-1073565</guid>
		<description>&quot;Pemaksaaan penerapan aturan ini kepada semua mahasiswa akan berimbas pada inflasi jumlah jurnal. Sebagaimana halnya inflasi ekonomi, inflasi jurnal akan membuat kuantitas meningkat, tapi kualitas turun.&quot;

Setuju sama Hariyadi. Malah aku kaya baru disadarin setelah baca poin di atas. Ga ada gunanya jumlah jurnal banyak tapi kualitasnya asal jadi :(</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Pemaksaaan penerapan aturan ini kepada semua mahasiswa akan berimbas pada inflasi jumlah jurnal. Sebagaimana halnya inflasi ekonomi, inflasi jurnal akan membuat kuantitas meningkat, tapi kualitas turun.&#8221;</p>
<p>Setuju sama Hariyadi. Malah aku kaya baru disadarin setelah baca poin di atas. Ga ada gunanya jumlah jurnal banyak tapi kualitasnya asal jadi :(</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Kewajiban Penerbitan Paper by iscab.saptocondro</title>
		<link>http://kun.co.ro/2012/02/03/kewajiban-penerbitan-paper/comment-page-1/#comment-1073561</link>
		<dc:creator>iscab.saptocondro</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 00:05:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3560#comment-1073561</guid>
		<description>Ini komentarku:

Bikinlah organisasi ilmiah jadi-jadian.
Tiap bulan, organisasi ini menerbitkan jurnal-jurnalan.
Setiap (calon) penulis yang ingin menerbitkan papernya di jurnal ini ditarik uang sekian rupiah.

Mahasiswa Indonesia jumlahnya ratusan ribu.
Ini pasar menarik buat organisasi jadi-jadian.

Mari kita nyanyi lagu &quot;Judul-judulan&quot;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ini komentarku:</p>
<p>Bikinlah organisasi ilmiah jadi-jadian.<br />
Tiap bulan, organisasi ini menerbitkan jurnal-jurnalan.<br />
Setiap (calon) penulis yang ingin menerbitkan papernya di jurnal ini ditarik uang sekian rupiah.</p>
<p>Mahasiswa Indonesia jumlahnya ratusan ribu.<br />
Ini pasar menarik buat organisasi jadi-jadian.</p>
<p>Mari kita nyanyi lagu &#8220;Judul-judulan&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Kewajiban Penerbitan Paper by sisca</title>
		<link>http://kun.co.ro/2012/02/03/kewajiban-penerbitan-paper/comment-page-1/#comment-1073552</link>
		<dc:creator>sisca</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 17:10:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3560#comment-1073552</guid>
		<description>Sejauh ini saya sependapat. Walaupun begitu, saya mendengar tanggapan bahwa ada kejanggalan soal badan yang mengakreditasi jurnal ilmiah. Untuk jurnal yang dibuat oleh universitas, akreditasi dilakukan oleh DIKTI, sedangkan untuk jurnal yang dibuat di luar universitas diakreditasi oleh LIPI. Apakah mas Koen melihat ini sebagai kejanggalan juga? Bagaimana pengalaman mas mendirikan dan mengelola IIJ?

lihat
http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Daftar-Jurnal-Ilmiah-Akreditasi-LIPI.html

http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Daftar-Jurnal-Hasil-Akreditasi-DIKTI.html

Oh ya, ada yang menanggapi kebijakan ini nantinya hanya akan menumbuhkan bisnis jurnal, mulai dari pengelolaan, pengaksesan dan pengiriman naskah. Aku pikir ini memang penyimpulan yang mudah terkait dengan keterburuan pengeluaran kebijakan ini sendiri. Menurut mas Koen sendiri gimana?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sejauh ini saya sependapat. Walaupun begitu, saya mendengar tanggapan bahwa ada kejanggalan soal badan yang mengakreditasi jurnal ilmiah. Untuk jurnal yang dibuat oleh universitas, akreditasi dilakukan oleh DIKTI, sedangkan untuk jurnal yang dibuat di luar universitas diakreditasi oleh LIPI. Apakah mas Koen melihat ini sebagai kejanggalan juga? Bagaimana pengalaman mas mendirikan dan mengelola IIJ?</p>
<p>lihat<br />
<a href="http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Daftar-Jurnal-Ilmiah-Akreditasi-LIPI.html" rel="nofollow">http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Daftar-Jurnal-Ilmiah-Akreditasi-LIPI.html</a></p>
<p><a href="http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Daftar-Jurnal-Hasil-Akreditasi-DIKTI.html" rel="nofollow">http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Daftar-Jurnal-Hasil-Akreditasi-DIKTI.html</a></p>
<p>Oh ya, ada yang menanggapi kebijakan ini nantinya hanya akan menumbuhkan bisnis jurnal, mulai dari pengelolaan, pengaksesan dan pengiriman naskah. Aku pikir ini memang penyimpulan yang mudah terkait dengan keterburuan pengeluaran kebijakan ini sendiri. Menurut mas Koen sendiri gimana?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Kewajiban Penerbitan Paper by Hariyadi</title>
		<link>http://kun.co.ro/2012/02/03/kewajiban-penerbitan-paper/comment-page-1/#comment-1073548</link>
		<dc:creator>Hariyadi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 08:45:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3560#comment-1073548</guid>
		<description>Maaf, ikutin nimbrung diskusi.
Setelah dipikir-pikir aturan ini (biarpun mungkin tujuannya baik) tapi salah sasaran, tak masuk akal dan malah bisa bikin tertawa terbahak-bahak. Ini khususnya untuk point keharusan mahasiswa S1 untuk menulis di jurnal. Aturan ini hanya masuk akal dan bisa membuat orang tersenyum bangga manakala semua lulusan S1 memang mengarah ke jalur akademis (menjadi dosen atau peneliti). Tapi kita bahwa di negara manapun lulusan S1 yang mengarah ke jalur akademis itu jauh lebih sedikit daripada yang mengarah jalur karir (langsung kerja). Relevankah aturan ini bagi mereka yang setelah S1 ingin kembali ke kampung untuk mengurus sawah keluarganya, membuka usaha sendiri, menjadi pegawai bank, menjadi tentara atau polisi, menjadi tukang jualan obat, atau menjadi seniman (pematung, komedian, musisi, artis sinetron, dll)? Sebaiknya yang perlu dielaborasi adalah : perlukan semua mahasiswa S1 membuat skripsi? Bagaimanakah dengan kemungkinan untuk menyediakan 2 jalur untuk mahasiswa S1: penelitian (skripsi) dan non-penelitian (tanpa skripsi)? Kalau 2 jalur ini bisa diwujudkan, aturan ini menjadi agak masuk akal dengan menerapkannya pada mahasisawa S1 jalur penelitian. Pemaksaaan penerapan aturan ini kepada semua mahasiswa akan berimbas pada inflasi jumlah jurnal. Sebagaimana halnya inflasi ekonomi, inflasi jurnal akan membuat kuantitas meningkat, tapi kualitas turun. Jadi rupanya orientasi kuantitas di Dikti masih belum berubah hingga sekarang.
Terimakasih,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf, ikutin nimbrung diskusi.<br />
Setelah dipikir-pikir aturan ini (biarpun mungkin tujuannya baik) tapi salah sasaran, tak masuk akal dan malah bisa bikin tertawa terbahak-bahak. Ini khususnya untuk point keharusan mahasiswa S1 untuk menulis di jurnal. Aturan ini hanya masuk akal dan bisa membuat orang tersenyum bangga manakala semua lulusan S1 memang mengarah ke jalur akademis (menjadi dosen atau peneliti). Tapi kita bahwa di negara manapun lulusan S1 yang mengarah ke jalur akademis itu jauh lebih sedikit daripada yang mengarah jalur karir (langsung kerja). Relevankah aturan ini bagi mereka yang setelah S1 ingin kembali ke kampung untuk mengurus sawah keluarganya, membuka usaha sendiri, menjadi pegawai bank, menjadi tentara atau polisi, menjadi tukang jualan obat, atau menjadi seniman (pematung, komedian, musisi, artis sinetron, dll)? Sebaiknya yang perlu dielaborasi adalah : perlukan semua mahasiswa S1 membuat skripsi? Bagaimanakah dengan kemungkinan untuk menyediakan 2 jalur untuk mahasiswa S1: penelitian (skripsi) dan non-penelitian (tanpa skripsi)? Kalau 2 jalur ini bisa diwujudkan, aturan ini menjadi agak masuk akal dengan menerapkannya pada mahasisawa S1 jalur penelitian. Pemaksaaan penerapan aturan ini kepada semua mahasiswa akan berimbas pada inflasi jumlah jurnal. Sebagaimana halnya inflasi ekonomi, inflasi jurnal akan membuat kuantitas meningkat, tapi kualitas turun. Jadi rupanya orientasi kuantitas di Dikti masih belum berubah hingga sekarang.<br />
Terimakasih,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Kewajiban Penerbitan Paper by cizkah</title>
		<link>http://kun.co.ro/2012/02/03/kewajiban-penerbitan-paper/comment-page-1/#comment-1073547</link>
		<dc:creator>cizkah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 07:39:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3560#comment-1073547</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;Indonesia jago di Twitter, Facebook, blog. Tapi komunikasinya dangkal, dengan argumen dan gagasan yang tak tergali. Komunikasi publik bersifat instan, tak lebih dalam dari komunikasi transaksi barang dagangan.&lt;/blockquote&gt;

like this...
saya penyimak dan pemerhati aja mas untuk masalah yang berkaitan dengan pendidikan ini...kebetulan ranah kerjaannya sekarang bukan di sini, tapi basicnya memang suka yang beginian.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Indonesia jago di Twitter, Facebook, blog. Tapi komunikasinya dangkal, dengan argumen dan gagasan yang tak tergali. Komunikasi publik bersifat instan, tak lebih dalam dari komunikasi transaksi barang dagangan.</p></blockquote>
<p>like this&#8230;<br />
saya penyimak dan pemerhati aja mas untuk masalah yang berkaitan dengan pendidikan ini&#8230;kebetulan ranah kerjaannya sekarang bukan di sini, tapi basicnya memang suka yang beginian.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Kewajiban Penerbitan Paper by Kapkap</title>
		<link>http://kun.co.ro/2012/02/03/kewajiban-penerbitan-paper/comment-page-1/#comment-1073543</link>
		<dc:creator>Kapkap</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 01:40:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3560#comment-1073543</guid>
		<description>*ikut pindah :D*

Jujur aja, aku setuju untuk kelayakan lulus itu sebaiknya membuat paper/makalah yang layak tayang di jurnal ilmiah, apalagi untuk jenjang S2 dan S3 (dan sekarang menurutku lulusan S2 udah mulai jadi seperti komoditas, mas. Udah banyak banget, dan selalu ditanyakan, &quot;udah S2, terus apa?&quot;)

Tapi secara pribadi aku lebih fokus ke S1. Pertama sih, dari perilaku dan pembawaan mahasiswa-mahasiswa S1, hehe. Iya sih, ada juga kok mahasiswa S1 yang pembawaannya udah dewasa dan mengerti bahwa universitas itu bukan sekedar &quot;SMU setingkat lebih tinggi,&quot; tapi yaaa... Pengalaman mengajar S1 sih aku melihatnya kalau mereka lebih seperti anak SMU gedean dikit, hehe. Belum lagi untuk anak-anak S1 yang kuliah karena diminta orang tua atau sekedar ngisi waktu. Hadooooh *lho kok jadi curhat?*

Jadi pertanyaannya, anak-anak S1 ini siap ga dikasih kerjaan bikin makalah setelah skripsi? Hehehe. Kebayang sih langsung pada stres mendadak, tapi gapapa juga kali ya? Sebagai proses pendewasaan juga. Tinggal untuk masalah teknis dan plagiarisme ini lho yang perlu dibenerin (refer ke komentar temen mas Koen di FB yang bilang makalahnya diplagiat mahasiswa S1; dan paper punyaku juga pernah diplagiat sama mahasiswa dari universitas lain. Gilanya, dia ga merasa salah melakukan itu.)

Lalu soal penerbitannya/publikasi. Ada berapa banyak jurnal di Indonesia? Dan seperti salah satu temen mas Koen juga bilang, apakah semua fakultas mempunyai jurnal? Agak kasian kalo mereka dipaksa untuk publikasi makalah tapi ga ada media untuk publikasinya :(

Belum lagi standar kualitas untuk menjamin bahwa makalah itu memang layak publikasi dan bukan hasil plagiat. Apa ada badan/standar tertentu yang bisa menerapkan standar kualitas? Atau jadinya sistem borongan &quot;yang penting nulis makalah dan udah terbit&quot;?

Jujur aja sih ya mas... Aku sendiri ga tau apakah ini bisa diimplementasikan di semua universitas atau ga; tapi buatku, mungkin - MUNGKIN lho - kalo di universitas itu ada Case Study Center (kebetulan di BINUS ada. Dan setauku di ITB dan UI juga ada) mungkin itu bisa jadi jalan untuk mahasiswa S1. Jadi belum harus sesangar bikin makalah dan terbit di jurnal, tapi bikin case study. Tentunya ada bimbingan dari Case Study Center. Selain nambah koleksi case study yang latar belakangnya bisnis Indonesia (jarang banget case study berbasis Indonesia. Sekarang kita masih lebih sering pake case study dari luar negeri. Banyaknya Harvard Case Study lah biasanya) sekaligus mungkin bisa melatih si mahasiswa untuk mengenal dunia industri. Menulis case study kan juga jadinya melakukan riset, dan kadang-kadang wawancara dengan pemilik perusahaan/orang berpengaruh di industri itu. Jadi ya tetep menolong mahasiswa lah dan juga ada medianya :) Tapi itu pemikiran sesaat aku aja sih ya mas, hahaha. Apalagi aku masih cetek gini di dunia akademis.

Jadi panjang banget nulis komennya, hehe. Maaf ya mas Koen.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>*ikut pindah :D*</p>
<p>Jujur aja, aku setuju untuk kelayakan lulus itu sebaiknya membuat paper/makalah yang layak tayang di jurnal ilmiah, apalagi untuk jenjang S2 dan S3 (dan sekarang menurutku lulusan S2 udah mulai jadi seperti komoditas, mas. Udah banyak banget, dan selalu ditanyakan, &#8220;udah S2, terus apa?&#8221;)</p>
<p>Tapi secara pribadi aku lebih fokus ke S1. Pertama sih, dari perilaku dan pembawaan mahasiswa-mahasiswa S1, hehe. Iya sih, ada juga kok mahasiswa S1 yang pembawaannya udah dewasa dan mengerti bahwa universitas itu bukan sekedar &#8220;SMU setingkat lebih tinggi,&#8221; tapi yaaa&#8230; Pengalaman mengajar S1 sih aku melihatnya kalau mereka lebih seperti anak SMU gedean dikit, hehe. Belum lagi untuk anak-anak S1 yang kuliah karena diminta orang tua atau sekedar ngisi waktu. Hadooooh *lho kok jadi curhat?*</p>
<p>Jadi pertanyaannya, anak-anak S1 ini siap ga dikasih kerjaan bikin makalah setelah skripsi? Hehehe. Kebayang sih langsung pada stres mendadak, tapi gapapa juga kali ya? Sebagai proses pendewasaan juga. Tinggal untuk masalah teknis dan plagiarisme ini lho yang perlu dibenerin (refer ke komentar temen mas Koen di FB yang bilang makalahnya diplagiat mahasiswa S1; dan paper punyaku juga pernah diplagiat sama mahasiswa dari universitas lain. Gilanya, dia ga merasa salah melakukan itu.)</p>
<p>Lalu soal penerbitannya/publikasi. Ada berapa banyak jurnal di Indonesia? Dan seperti salah satu temen mas Koen juga bilang, apakah semua fakultas mempunyai jurnal? Agak kasian kalo mereka dipaksa untuk publikasi makalah tapi ga ada media untuk publikasinya :(</p>
<p>Belum lagi standar kualitas untuk menjamin bahwa makalah itu memang layak publikasi dan bukan hasil plagiat. Apa ada badan/standar tertentu yang bisa menerapkan standar kualitas? Atau jadinya sistem borongan &#8220;yang penting nulis makalah dan udah terbit&#8221;?</p>
<p>Jujur aja sih ya mas&#8230; Aku sendiri ga tau apakah ini bisa diimplementasikan di semua universitas atau ga; tapi buatku, mungkin &#8211; MUNGKIN lho &#8211; kalo di universitas itu ada Case Study Center (kebetulan di BINUS ada. Dan setauku di ITB dan UI juga ada) mungkin itu bisa jadi jalan untuk mahasiswa S1. Jadi belum harus sesangar bikin makalah dan terbit di jurnal, tapi bikin case study. Tentunya ada bimbingan dari Case Study Center. Selain nambah koleksi case study yang latar belakangnya bisnis Indonesia (jarang banget case study berbasis Indonesia. Sekarang kita masih lebih sering pake case study dari luar negeri. Banyaknya Harvard Case Study lah biasanya) sekaligus mungkin bisa melatih si mahasiswa untuk mengenal dunia industri. Menulis case study kan juga jadinya melakukan riset, dan kadang-kadang wawancara dengan pemilik perusahaan/orang berpengaruh di industri itu. Jadi ya tetep menolong mahasiswa lah dan juga ada medianya :) Tapi itu pemikiran sesaat aku aja sih ya mas, hahaha. Apalagi aku masih cetek gini di dunia akademis.</p>
<p>Jadi panjang banget nulis komennya, hehe. Maaf ya mas Koen.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Aplikasi Visa UK by Koen</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/04/04/aplikasi-visa-uk/comment-page-1/#comment-1073508</link>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 23:22:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2879#comment-1073508</guid>
		<description>TO ALL: Tulisan ini telah berusia hampir 2 tahun. Mungkin ada policy dan procedure yang telah berubah dalam dua tahun ini. Mohon melakukan verifikasi kembali ke URL yang disebut di atas, atau versi yang lebih baru. Terima kasih :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>TO ALL: Tulisan ini telah berusia hampir 2 tahun. Mungkin ada policy dan procedure yang telah berubah dalam dua tahun ini. Mohon melakukan verifikasi kembali ke URL yang disebut di atas, atau versi yang lebih baru. Terima kasih :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Aplikasi Visa UK by Koen</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/04/04/aplikasi-visa-uk/comment-page-1/#comment-1073506</link>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 23:01:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2879#comment-1073506</guid>
		<description>@Ollie: Interview sekilas sambil pemeriksaan dokumen. Nothing to worry about.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Ollie: Interview sekilas sambil pemeriksaan dokumen. Nothing to worry about.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Aplikasi Visa UK by Ollie</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/04/04/aplikasi-visa-uk/comment-page-1/#comment-1073496</link>
		<dc:creator>Ollie</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 08:23:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2879#comment-1073496</guid>
		<description>Mas Koen, pake interview nggak yah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Koen, pake interview nggak yah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Greenwich by Belajar Tiada Henti &#187; Blog Archive &#187; Museum -</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/05/08/greenwich/comment-page-1/#comment-1073491</link>
		<dc:creator>Belajar Tiada Henti &#187; Blog Archive &#187; Museum -</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 14:14:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2966#comment-1073491</guid>
		<description>[...] kami melanjutkan petualangan ke daerah yang merupakan bagian dari kota London, Greenwich.Satu tempat yang kami tuju adalah musium Greenwich. Letaknya tepat di atas bukit. Dalam perjalanan [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] kami melanjutkan petualangan ke daerah yang merupakan bagian dari kota London, Greenwich.Satu tempat yang kami tuju adalah musium Greenwich. Letaknya tepat di atas bukit. Dalam perjalanan [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mencari Boson Higgs by Koen</title>
		<link>http://kun.co.ro/2011/12/25/mencari-boson-higgs/comment-page-1/#comment-1073489</link>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 13:28:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3519#comment-1073489</guid>
		<description>@Agun: Sama :). Dan cukup banyak, dari pada fisikawan hingga para orang2 awam macam kita2 yang juga dibuat pusing oleh mekanisme Higgs, dan lebih jauh oleh ihwal terjadinya gravitasi. Tapi pusing yang asik kan? :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Agun: Sama :). Dan cukup banyak, dari pada fisikawan hingga para orang2 awam macam kita2 yang juga dibuat pusing oleh mekanisme Higgs, dan lebih jauh oleh ihwal terjadinya gravitasi. Tapi pusing yang asik kan? :D</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mencari Boson Higgs by Agun</title>
		<link>http://kun.co.ro/2011/12/25/mencari-boson-higgs/comment-page-1/#comment-1073488</link>
		<dc:creator>Agun</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 11:51:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3519#comment-1073488</guid>
		<description>Saya kok pusing....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya kok pusing&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

