Pasar Kreasi (beta)

PasarKreasi, satu lagi portal komunitas di Indonesia. Yang satu ini ditargetkan untuk para pecinta seni: para creator dan appeciator. Di situs itu, karya seni bisa diunggah, dipamerkan, dan nantinya bisa ditransaksikan juga (setelah launching resmi). Forum, berita, dan perbincangan dengan para expert juga tersedia.

Kategori yang digelar meliputi game, edutainment, musik, animasi, desain grafis, dan fotografi. Lainnya menyusul. Judulnya masih beta :). Tapi fungsi-fungsi teknis sudah bekerja, dan siap diuji coba beramai2. Yuk, kita coba. Saran besar kecil, sila di comment blog ini saja.

Tantangan Bagi Engineer

grand-engineering-challenge.jpg

Situs Engineering Challenge memaparkan apa yang dianggap sebagai tantangan terbesar bagi dunia rekayasa masa kini. Krisis energi, krisis lingkungan, krisis pendidikan dan kemanusiaan, krisis kesehatan, hingga kebutuhan untuk membentuk dunia yang lebih aman (dari teroris, spammer, dan virus) dan manusiawi.

Menurut Anda sendiri, apa tantangan engineering terbesar yang harus kita hadapi? Dan apa pendekatan yang Anda bayangkan?

Update: Jawablah di situs IEEE Indonesia Section

Cit Cit Cit

Tapi pertama, seandainya seekor tupai memiliki uang, di mana dia menabung?

Cit cit cit Citibank.

Pondok kun.co.ro makin rapuh diterpa cuaca, dan aku mulai berpikir tentang perlunya pindah ke pondok baru. Malas browsing dan mengexcel, aku memilih sebuah hosting yang berposisi unik. Lalu pindah. Tapi tak semudah itu. Domain kun.co.ro sudah expired tahun 2004 lalu, dan regisrarnya tak mau mengubah setting DNS. Jadi aku langsung memperpanjang dulu s.d. 2014. Tapi, memang tak mudah. Registrar hanya menerima pembayaran dengan Paypal. Aku punya dua account Paypal. Satu dalam poundsterling, tak bisa dipindah ke rekening rupiah. Satu lagi dalam rupiah, tapi aku non-aktifkan karena aku tak menyetujui term & condition di dalamnya. Bagaimanapun, akhirnya pembayaran bisa dilakukan. DNS bisa diubah, biarpun propagasinya sampai saat ini belum tuntas. Dan sementara itu, ke mana si tupai pergi seandainya ia mau berarung jeram?

Cit cit cit cit Citarik.

Sebetulnya aku memindah pondok pada waktu yang salah: waktu aku sedang memutuskan tak banyak membuang waktu untuk blog pribadi. Selain pekerjaan kantor, dan beberapa kegiatan lain, aku cuma punya sedikit waktu senggang di bulan ini. Dan aku pakai untuk proyek pribadi yang lain, non-blog. Jadi aku memutuskan membayar hutang ke diri sendiri: menulis tentang persepsi negatifku atas Harun Yahya. Aku bersyukur, lega. Tanpa menulis ini, nuraniku terus merasa terkhianati. Tentu, aspek lain adalah bahwa dengan tulisan itu, aku hampir membunuh sohibku, Harry Sufehmi, sekali lagi. Aku pikir aku harus mengingatkan keluarganya agar kopi, makanan, dan minuman lain harus dijauhkan waktu dia sedang baca blogku. Oh, kalau tupai kebanyakan makan kenari, jadi apa dia?

Jadi buncit cit cit cit.

Dan tentang makanan, kita harus cerita tentang Batagor. Ini Bandung Kota Blogger, komunitas muda tempat blogger kota lautan api ini berhimpun. Berkenalan dengan Batagor, aku langsung kagum bahwa salah satu ide mereka adalah melakukan kegiatan darat yang tak berhubungan dengan Internet. Blogger tak cuma pintar berkata, tapi juga bekerja. Maka mereka sepakat membersihkan sampah di Lapangan Gasibu. Balik kantor, aku punya ide untuk mencari kaos2 ex-events untuk kegiatan itu. Deniar, ketua panitia acara bebersih, setuju mengambil kaos itu. Tapi sorenya, sebuah telepon masuk ke kantor. Produser acara Indigo (untuk MetroTV) ingin meliput kegiatan Komunitas IT yang punya aktivitas sosial. Aku langsung menyebut Kegiatan KLuB di PBA, dan Kegiatan Batagor bebersih Gasibu. Mereka langsung setuju. Maka jadilah acara Batagor itu direpoti urusan liputan :). Tapi sayangnya para peliput punya tugas lain, sehingga mereka menunda meliput kegiatan KLuB. Acara bebersih sendiri diiringi hujan setengah deras. Kami berkaus Flexi, menyandang ransel berisi notebook (ada acara bloggingnya juga), memunguti sampah basah di bawah hujan. Hujan, becek, nggak ada ojek (eh salah). Dan, semuanya ceria :). Dan seandainya tupai melompat ke atas mobil, apa nama mobilnya?

Cit cit cit Citroen.

Balik ke kantor (masih kedinginan), aku lihat majalah kecil Patriot: media internal Telkom. Baca dari depan apa belakang? Tengah. Dan tampaklah TELKOM.TV (taman virtual): web inovasi Divre III untuk mendukung kegiatan komunitas. Sebalik ke belakang, tampak juga TELKOM.US: blog facility buat warga Telkom. Juga disebut TELKOM.INFO sebagai blog informasi teknologi telekomunikasi. Alhamdulillah, yang lain belum ketahuan editor majalah :). Misalnya TELKOM.CC (community centre) yang masih dipark di TELKOM.TV, TELKOM.BIZ yang dipakai untuk office works, TELKOM.TK yang mau dijadikan ensi mini — companion dari TELKOM.INFO, dan TELKOM.LAH.YAW yang masih menunggu TLD bernama YAW. Tapi tentu domain ini aku kembalikan ke TELKOM kalau diminta. TELKOM.US misalnya, sudah dibicarakan dengan Mas Baskoro of Divisi Multimedia untuk dipindah dan dikelola di sana. Yang lain, setidaknya selamat dulu dari para pembajak domain. Tapi, hey, seandainya tupainya ternyata kerja di Telkom, di mana donk kantornya?

Grha Cit Cit Cit Citra Caraka.

Blog Readability

Aang: “Loh, Koen, kamu di mana?” (via telepon –red)
Koen: “Masih di kantor. Kenapa?”
Aang: “Di kantor kamu kok bisa ada kata ekstrapolasi?”
Koen: “Hush, nguping. Ada kata asimptotik malahan, barusan.”

Komunikasi memang tidak diharuskan bersifat general. Ia hanya perlu menimbang diskursus (yang dalam terminologi Foucault lebih mirip OS atau platform dalam sistem pikiran individu maupun kelompok) para komunikan. Komunikasi, dengan demikian, hanya memiliki arti yang spesifik bagi komunikan yang terlibat, dan tidak bagi pihak lain. Masalahnya, kalau kita menulis blog, kita suka lupa siapa yang jadi tujuan tulisan. Kadang, konyolnya, kita menulis seperti menulis buat diri sendiri. Bahasa yang kita tulis adalah bahasa yang kita pahami, bukan yang dipahami 68% rakyat Indonesia. Dosa ini lebih khusus menimpa profesional IT, yang memang duluan mengenal blog, tapi akhirnya tidak lebih baik mensikapi komunikasi melalui blog. Syukurlah pada generasi2 berikutnya, blogosphere (ranah blog) banyak juga diisi penulis2 beneran, dari berbagai bidang ilmu.

Oh, di Criticsrant ada semacam tool untuk menguji keterbacaan blog kita menurut tingkat pendidikan pembaca. Blog kun.co.ro ini misalnya, memperoleh score:

Postgrad

Ada yang salah. Pasti :). Ini kan blog berbahasa Indonesia. Tapi kita coba blog Network yang berbahasa Inggris. Ini hasilnya:

Genius

Apparently, ada kegagalan berkomunikasi; secara blog itu tidak ditujukan untuk para jenius, tetapi untuk rakyat biasa yang memperhatikan perkembangan network engineering. Atau kita coba koen.telkom.us (en anglais).

High School

OK, yang ini lebih mendekati segmen pembaca Indonesia :).

Trus ingat kritik Imam Prasodjo minggu lalu, bahwa orang Indonesia amat buruk kemampuan berbahasa Inggrisnya. Beda misalnya dengan di Thailand, yang sehari2 juga warganya jarang berbahasa Inggris, tetapi kemampuan bahasa Inggrisnya sangat baik. Faisal Motik menanggapi bahwa memang kemampuan bahasa Inggris orang Indonesia itu hanya untuk special purpose.  Fisikawan Indonesia bisa berpresentasi amat baik tentang fisika, dalam bahasa Inggris, plus berdiskusi secara mendalam; tapi bahasa Inggrisnya mendadak kacau kalau membahas politik atau sekedar berbelanja.

Ssst, tapi … blog Anda dileveli apa?

3G Week

3G Week, satu dari blogmedia yang dikelola Budi Putra, sedang dalam pembenahan untuk menemukan bentuk baru. Media semacam ini pernah aku cita2kan untuk aku kembangkan, di celah yang agak berbeda. Tetapi demi menjaga keseimbangan hidup di luar Internet (adakah?), aku harus realistis: banyak pernik Internet lain yang harus aku jaga :). Nah, Mas Budi punya pendekatan lain. Terpantau di Amigos, technoblogger profesional ini sempat mencari kontributor untuk memperkuat media ini. Wow, serius. Keseriusan juga tampak dari tampilan 3G Week, yang kini less personal dan more professional. Serius: ini keren. Visi untuk mengejar infoservice semacam Engadget dan Gizmodo, Insya Allâh, bisa terkejar. Orang Indonesia memang keren :).

3gweek.png

Hanya satu kritik: buzzworld datang dan pergi. Nama 3G sama rentannya dengan Web 2.0. Tak lama, dengan alasan komersial, nama seperti ini akan ditinggalkan dan terasa usang. Untuk iseng, barangkali Mas Budi sudah harus memesan domain 5Gweek. Sampai tulisan ini published, masih available. Atau perlu semacam lomba atau rapat untuk menamakan layanan keren ini, sebelum telanjur lebih ngetop lagi :).

Sebuah Taman Virtual

Tepat pada Hari (Bakti Pos dan) Telekomunikasi, kita meluncurkan Telkom.TV. Hah, Telkom negara renik Tuvalu? Bukan, TV yang ini kita culik untuk kerangka yang lebih imut lagi: Taman Virtual. Tapi kenapa taman? Kerangka yang ini dimaksudkan untuk berada di luar kantor, untuk menjauh dari sekat-sekat korporasi, untuk menikmati kehangatan dan keakraban di sebuah taman. Ini adalah tempat bermain bagi komunitas maya. Memang sih, sementara baru terbatas di Jawa Barat & Banten dulu.

Kegiatan awal di Telkom.TV ini adalah — kejutan — Kompetisi Blogging! Ya, kita memang blogger bangedts, merasa harus mengawali dengan blogging, dan mengerangkai lainnya dari blogging :). “Tiada realita di luar blogging.” Kompetisi ini difokuskan untuk kalangan muda, yaitu pelajar, mahasiswa, santri, dengan usia di bawah 25 tahun. Tentu blognya tidak harus dipasang di Telkom.TV. Hey, ini taman, bukan bakery :). Blog boleh di WordPress, di Blogger, di domain sendiri, di mana lah. Waktu kompetisi 3 bulan, dihitung dari hari ini. Penilaian lebih pada content, bukan pada visual (biarpun, tentu saja, harmoni antara visualisasi dengan content harus diperhatikan). Hadiah yang diarisankan adalah sebuah notebook, dan beberapa handphone Flexi dari yang middle-up sampai middle-low. Lebih lanjut, boleh lihat langsung ke Telkom.TV.

Kegiatan yang lain adalah Lomba Desain Webcard. Yang ini untuk memperingati sederetan hari raya di penghujung 2007, dari Idul Fitri sampai Tahun Baru. Syarat dan ketentuan juga ada di Telkom.TV. Hadiahnya juga beberapa handphone Flexi, tapi tanpa notebook. Tenang aja. Namanya juga masih baru.

Tapi, tanpa skrinsyut adalah basbang. Jadi beberapa hari terakhir ini kami mempersiapkan acara launching sederhana. Tempatnya nggak perlu formal: di food court BEC yang diatmosferi Telkom Hotspot, biar aroma Internetnya kental. Peserta dari beberapa SMA di Bandung yang dicurigai banyak bloggernya; dan diwarnai oleh beberapa selebriti blog Bandung (hehe): Budi Rahardjo, Ikhlasul Amal, Rendy Maulana. Sambil bersiap berbuka, Afianto menekan tombol (virtual) merah menyala itu untuk membuka web Telkom.TV. Lalu empat siswa dan mahasiswa jadi pendaftar perdana. Kok cuman empat? Keburu adzan Maghrib sih :). Dan setelah berbuka agak bergegas, aku bertugas memanggungkan Kaisar Blog/Pakar IT Beneran/Rocker Kawakan/Akademisi Badung Budi Rahardjo untuk bertalkshow di atas panggung. Eh, ternyata ini jadi moment paling ramai. Banyak pertanyaan dan tanggapan. Pun sampai Mas Budi turun panggung. Jangan2 sampai rumah pun masih diuber2. Acara puncak, seperti yang ditulis di awal paragraf, adalah: bikin skrinsyut. Jadi seluruh peserta mejeng di depan panggung, kamerawan Denny beraksi menembaki kami, dan jadilah skrinsyut.

Selanjutnya … acara di taman pun dimulai. Sila. Sambil … hehe … masih dipugar.

Kisah lain kegiatan ini bisa dilirik di blog Rendy dan blog BR. Untuk internal Telkom, Nining berjanji menuliskan laporannya. Foto-foto lain a.l. ada di flickr Ikhlas dan flickrku. Sayang sekali Priyadi, Jay, Andika, dan MacNoto nggak sempat hadir. Sekarang, aku mau menikmati Kopi Siborong-Borong hitam pekat dulu.

Geek 95%

geek-95.jpgApa artinya Geek 95%? Artinya bukan bahwa kita misalnya lebih memilih ultimate number ala Douglas Adam daripada ? (pi) atau ? (phi), tetapi bahwa kita memanfaatkan waktu break kita masih juga untuk main-main kuis di Internet, sementara di luar jendela banyak hal2 yang lebih menarik *canda*.

Memang banyak yang masih mengartikan bahwa kaum geek, nerd, hacker, adalah orang yang harus lekat pada komputer dan buku2, serta menghindari manusia dan lingkungan. Padahal, obviously, istilah2 itu hanyalah kata sifat untuk kelakuan yang menyukai pola pikir engineering (termasuk reverse-engineering), serta level keasyikan yang mendalam terhadapnya. Aku nggak mau masuk ke kancah pendetailan nuansa kata2 sifat itu, karena sebagai orang yang dulu sempat tercemar poststrukturalism, istilah2 itu jadi tampak tak lebih sebagai alat bantu yang sifatnya transien saja.

Tapi jadi geek atau tidak jadi geek, yang barangkali lebih menarik adalah menikmati banyaknya alternatif frame dalam berintuisi, berlogika, dan dalam menjalani hidup.


Jadi … berapa skor Anda ?

Hmmm, sementara itu …

coffee-add.jpg

%d bloggers like this: