IYCE 2010

Mendadak Pak Widi masuk ke salah satu ruanganku, dengan senyuman maut (yang biasanya berarti: senyum sambil memberikan tugas maut). Bukan tugas berat. Untuk kesekian kali, British Council menyelenggarakan IYCE (International Young Creative Entrepreneur — cmiiw). Di tahun2 lalu, BC mengundangku di acara puncak event2 ini. Dan sebenarnya tahun ini juga. Tapi tahun ini, ada tugas tambahan buatku. CIO Mr Indra Utoyo sedang ke RRC, dan Mr Widi Nugroho jadi juri IYCE ini. Padahal ada acara corporate visit sebagai bagian dari program IYCE ini, termasuk kunjungan ke Telkom. Para senior leaders juga sedang harus ke Senayan. Ada visit dari Presiden di Pameran BUMN. Dan karena Presiden minggu sebelumnya sudah mewanti2 agar di kegiatan semacam itu Direksi Telkom harus hadir meninggalkan pekerjaan penting mereka; maka kali ini Telkom diwakili lagi oleh karyawannya yang paling tidak sibuk: Mr Koen.

Buat aku, ini pekerjaan menyenangkan. British Council sedikit banyak sudah jadi bagian dari sejarah hidupku (haha). Juga komunitas kreatif sudah jadi bagian dari hidup sehari2. Sayangnya, karena banyak kegiatan lain, support untuk acara ini jadi tak optimal. Dengan urusan budgeting yang tak habis2, aku baru bisa menyelesaikan file presentasiku sekitar jam 2:00. Koordinasi hanya dilakukan via telefon. Syukur CDC bersedia menyiapkan ruangan dan dukungan lain di Lt 11 (of Grha Citra Caraka); dan Marcom memberikan dukungan tambahan.

Corporate visit ini diikuti sebagian finalis IYCE. Sebagian lainnya masih ikut proses penjurian di Serpong. Group dipandu Mbak Winda Wastu dari British Council, dan disambut di pintu lobby GCC. Cukup meriah dan jadi candaan menarik. Mungkin rekan2 finalis IYCE membayangkan bakal jumpa pejabat BUMN yang seram dan jaim. Eh, tahu2 cuman disambut temen dugem mereka sendiri, haha. Pitra Satvika, yang cukup sering hadir di GCC sebagai panitia Fresh atau kegiatan lain, tampak paling kecewa. Bener, pingin ketawa lihat ekspresi Pitra. Sayangnya Selina Limman dan Ryan Koesuma yang cukup sering ke GCC ini tak tampak. Wajah lain yang kukenal adalah Marlin Sugama, tokoh kreatif yang animasinya — Si Hebring — menghiasi halaman TelkomSpeedy. Dan sisanya memang belum jumpa wajah, tapi namanya cukup sering baca dan dengar: Kevin Mintaraga, Aty Soedharto, sampai Si Ikin Suroboyo. Sumpah kuagèt ndelok Si Ikin — slamet gak sampèk misuh2.

Di Lt 11, aku cerita sedikit tentang Telkom dan bisnis TIME-nya. Lalu sedikit ke platform Indigo. Disusul Mr Aep dari CDC, menyampaikan program-program community development dari Telkom Group. Para peserta yang berminat atas materi presentasi, boleh kontak aku di alamat yang tertera di business card.

Siang, aku habisi dengan tugas rutin (beresin Telkomspeedy.com, urusin hutang2 kerjaan, dan hitung2 AKI untuk Capex 2011). Dan sorenya ke IYCE Awarding Ceremony di Teraskota Serpong. Cuaca Jakarta sedang menarik. Hujan dan badai di seluruh penjuru kota. Perlu sekitar 2 jam untuk menempuh jarak dari Kebon Sirih ke BSD. Tapi worth it. Ini acara yang mengesankan: sederhana tapi padat dan elegant. Aku pikir acara2 Indigo bisa mencontoh kesederhanaan semacam ini. Hadir juga HE British Ambassador, yang juga terlambat seperti aku :).

Selesai berbincang dan foto2 (hey, ini kopdar), kami balik arah ke Jakarta. Syukur kali ini tak ditemani kemacetan seperti waktu berangkat. Sampai rumah, menjelang tengah malam. Aku cuma sempat charging si Mac Blue. Trus kehilangan kesadaran. z z z z z . Bangun jam 6 pagi … Waaa, aku harus ke Bandung, ada seminar Indonesia Wireless Forum di RDC jam 9.00! Dan IEEE Comsoc Chapter Chair harus hadir di pembukaan. Help!

Fulltrek

Nama Fulltrek sendiri kami rancang beberapa saat setelah menempati ruang baru Gugus Tugas Content & Application (GTCA) di Merdeka Selatan 12. Dari sekian pilihan nama, tampak tak ada yang menarik. Aku lupa, nama itu hadir dari Pak Widi atau Pak Komang. Dan aku cuma menambahi: Trek-nya dibuat mirip Star Trek yach. Lalu jadilah.

Di GTCA, aku termasuk yang paling tak memiliki sense atas musik. Kata musik sendiri entah kenapa mengingatkan aku pada Haydn, Debussy, atau malah gamelan. Oh, lagu masuk ke musik ya? Haha :). OK. OK. Clueless kalau teman2 GTCA berbincang asyik masalah musik. Atau game. Tapi waktu produk ini diluncurkan, tentu semua harus ikut andil menyebarluaskan ke komunitas-komunitas. Dan karena aku pastilah useless dipasangkan di komunitas musik (bukan Haydn dan gamelan, maksudnya), maka aku mendapatkan tugas yang berkait tidak dengan komunitas musik.

Tugas pertama adalah Ignite. Ignite baru pertama kali diselenggarakan di Jakarta. Ia mirip Pecha Kucha — Pecha Kucha yang mencontek konsep Ignite, atau sebaliknya. Aku pernah rajin hadir di Pecha Kucha, jadi bisa membayangkan formatnya. Ignite diadakan bulan lalu di Grha Citra Caraka. Ada 20-an speaker, yang memberikan presentasi dalam waktu masing2  lima menit saja. Aku jadi presenter kelima, tepat setelah Pandji Pragiwakarsa. Syukurlah Pandji berpresentasi dengan tema pembajakan, termasuk pembajakan musik. Tepat di akhir wacana Pandji, aku bisa masuk, dan tepat memulai dengan skala pembajakan musik. Tak ingin kehilangan momentum, aku langsung masuk ke tema itu … lupa memperkenalkan diri :). Haha. Gaya ajaibku membuat Aulia yakin bahwa presentasi itu bukan aku yang buat :). Pak Indra Utoyo kemudian sempat hadir, tapi jauh setelah presentasiku.

Tugas kedua adalah DJUS. DJUS adalah offline sharing forum dari MIKTI yang juga rutin diselenggarakan. Aku pernah sekali hadir di DJUS. Kali ini DJUS diselenggarakan di Risti Tower di Bandung, dan bertemakan Digital Music. Speaker adalah Jodi Handoyo dan Grahadea Kusuf. Pengantar dari Ketua MIKTI Indra Utoyo, Kadis Indag Jabar, dan salah satu pelindung MIKTI (Cahyana Ahmadjayadi) yang juga salah satu Indigo Fellow. Aku mengisi sedikit tentang Fulltrek juga.

Fulltrek bukanlah sekedar tempat penjualan musik secara online. Fulltrek dimaksudkan sebagai bagian dari prakarsa Indigo, untuk membentuk ekosistem bisnis musik digital. Distribusi musik secara fisik sudah jatuh — tampak secara visual. Namun karena distribusi digital tak pernah disiapkan, user menggantikan dengan pembajakan. Nilai pembajakan musik di Indonesia tahun lalu diperkirakan berskala 4.5 triliun rupiah (atau 180 gayus — dengan 1 gayus setara dengan loss 25 miliar rupiah). Peningkatan revenue ada, tapi kecil — karena baik pencipta maupun distributor tak termotivasi. Semangatnya hancur oleh pembajakan. Fulltrek dan prakarsa-prakarsa serupa mencoba membangun distribusi musik secara legal dan sehat, sehingga membangkitkan kembali kreativitas dan dinamika musik sehat Indonesia.

Fulltrek membangun ekosistem bisnis musik dari proses kreasi. Dengan Speedytrek, kelompok musik indie di daerah2 diseleksi, dipilih, dan dibantu memproduksi single atau album. Dengan Indigo Unplugged, dibentuk kegiatan komunitas untuk bersentuhan langsung dengan kelompok musik kebanggaannya, dan langsung dibuat produksi live music. Kerjasama produksi dilakukan dengan major label maupun kelompok musik indie dan developer yang mengabungkan musik dengan aplikasi-aplikasi digital. Revenue diperoleh dari sales, advertising, cobranding, events, dan kegiatan2 lain. DRM, security, hingga payment system dikelola dan dikembangkan dengan infrastruktur yang terus diperbaiki. Diharapkan publik akhirnya menemukan cara memperoleh musik secara sehat dan legal, dan menikmati distribusi musik dengan cara yang lebih mudah dan menarik. Diharapkan bahwa seniman musik akan kembali bangkit motivasinya untuk menciptakan yang terbaik buat dinamika musik Indonesia.

Mungkin dengan itu, suatu hari aku akan kembali menikmati musik kontemporer Indonesia. Bukan kembali ke Haydn, atau Stravinsky, atau Wagner. Serem deh :D. OK, sekarang kembali ke Die Walküre Act 2. Tadi Brunnhilde sedang berbincang dengan Siegmund di atas gunung.

Multilayer

Februari ini seharusnya jadi musim pancaroba di Gugus Tugas kami. Restrukturisasi Telkom sebagai konsekuensi dari perubahan arah bisnis sudah waktunya menjangkau gugus yang mungil ini. Kami akan digabungkan dengan Divisi Multimedia yang memiliki expertise dalam bisnis multimedia, dan dengan demikian diharapkan lebih efektif menelurkan bisnis-bisnis yang kokoh di bidang informasi, media, dan education.

Di tengah suasana menarik ini, aku justru dijauhkan dari kantor , dan disuruh menyepi ke Gegerkalong. 2 minggu, wow. I mean, biasanya agak sulit untuk mendapatkan izin ke luar kota lebih dari 2 hari. Dan justru sering dalam 1 hari harus ikut kegiatan di 2 kota :). Tapi tentu kembali ke Bandung itu anugerah :).

Di Bandung, kami mendiskusikan semua aspek teknologi dan bisnis di bidang content & application. Mentornya berasal dari kota Kendal, sebuah kota imut di Cumbria, North-West England. Aku ‘gak tulis namanya di sini, kerna beliau akan mudah menggooglenya, termasuk mentranslatenya :). Peserta dari Telkom Group, termasuk Telkomsel, Sigma, Infomedia, dll. Dan karena kami dianggap expert di bidang masing2, sang mentor membawakan dalam gabungan semi diskusi. Tentu masih banyak hal baru yang kami pelajari, di luar expertise kami masing2. Tak ada pakar multilayer di bisnis ini. Aku sendiri dulu lebih banyak mendalami layer bawah (infrastuktur), dan belum terlalu banyak bermain di layer atas (aplikasi). Jadi cukup menarik mendiskusikan, mensimulasikan, memprediksikan berbagai hal dalam konektivitas dunia ini dengan mempertimbangkan layer-layer yang berbeda. Benar2 seluruh layer: DWDM, GPON, MPLS, IP, SCTP, SIGTRAN, IMS, SDP, hingga Web 2.0, Ajax, Facebook, Twitter, Adsense, Buzz, dll. Diskusi yang menarik dan bikin lupa urusan kantor :). Ini baru seminggu berlangsung, dan akan berlangsung seminggu ini.

Weekend lalu (13 Februari 2010), IEEE Comsoc Indonesia Section meneruskan seri seminar 4G Mobile Technologiesnya. Kebetulan kali ini di Bandung juga, jadi aku tak perlu lompat ke luar kota. Host kali ini adalah ITT (Institut Teknologi Telekomunikasi). Tim masih M Ary Murti (mengenalkan IEEE dan Comsoc), aku (memaparkan evolusi dan requirement 4G), Arief Hamdani (memperdalam LTE), dan kembali ke M Ary Murti (memaparkan WiMAX II). Sebelum acara dimulai, sempat dilakukan Comsoc Officer Meeting di situ juga. FX Ari Wibowo hadir, tetapi kali ini tidak sebagai speaker.

Seperti sebelumnya, paparan aku menjelaskan mengapa harus ada 4G (didorong a.l. oleh Web 2.0 dan Mobile 2.0). Lalu disusul pendekatan pada 4G: transmisi OFDMA, MIMO dan spatial multiplex, cognitive radio (CR, DSA, IEEE P.1900). Lalu aku tutup dengan pengenalan para kandidat: LTE dan WiMAX II. Karena waktu yang singkat, paparan tentang context-aware application tidak diberikan ;). Peserta konon mencapai 300 orang — sebagian besar mahasiswa ITT, dan sisanya para profesional dari beberapa perusahaan di Bandung.

Sayangnya aku tak sempat beramah tamah :). Selesai Sesi-1, aku langsung meluncur kembali ke Jakarta. Kali ini memenuhi janji untuk bercerita tentang Web 2.0 di MetroTV. Dengan kecepatan tinggi, dan berputar menghindari banjir yang mendadak mematikan trafik di tengah Jakarta, aku sampai tepat waktu di Studio MetroTV.

Sambil menunggu, para “narasumber” (dalam tanda petik, yang artinya adalah mereka yang nantinya duduk di belakang tanda “narasumber”) berdiskusi asik, terutama dengan terus mengerjai Mr Controversial Ruhut “Poltak” Sitompul. Dia lucu, enak diajak berdiskusi dan berteman, tapi tentu mengkhawatirkan kalau dia harus ikut menentukan kebijakan negeri ini (wakakakakaka). Sulit memaki tokoh ini, kerna dia terus menerus memaki dirinya sendiri (anjing SBY, kafir, dll). Dan — haha — juga menertawai rekan separtainya yang suka mengaku jadi pakar IT. Lupa namanya tapi.

Masuk ke studio, aku baru sadar bahwa acara Democrazy ini berisi dialog yang agak serius tapi banyakan becandanya :). Serasa kembali ke ruang diskusi di Gegerkalong, yang diskusi seriusnya juga harus diselingi candaan. Dan lucunya, waktu bercerita tentang Facebook, aku malah bercerita tentang angka2 prediksi, haha, bukan angka real sekarang. Duh, siap2 dimaki2 orang banyak ah :).

Baru hari ini aku bisa tidur :). Dan besok pagi balik ke Bandung. Seminggu lagi. Weekend depan, jadi speaker lagi untuk IEEE Comsoc. Host untuk minggu depan adalah UPH (Universitas Pelita Harapan) di Surabaya. Sekaligus bertemu para Ketua Departemen Elektro se-Surabaya. Mudah2an tidak ada interupsi yang mengharuskan aku jadi stuntman lagi minggu2 ini.

Life Confident

Jadi aku harus menamainya mission atau passion? :), ini digencarkan di entry blog ini beberapa bulan lalu. Tapi program Indigo bukan hanya merupakan platform kerja Telkom: ia juga mendefinisikan Telkom. Strategi dan komitmennya untuk melaju bersama komunitas-komunitas kreatif dan elemen-elemen pembangun ekonomi dan budaya bangsa, ditampilkan dalam visualisasi baru, tagline baru. Sebuah brand positioning pun diperkenalkan: Life Confident.

Telkom Indonesia

Logo baru Telkom dan brand positioning ini sendiri baru disoftlaunchkan malam tadi, sebelum diluncurkan secara lebih besar bersamaan dengan penganugerahan Indigo Awards tanggal 23 Oktober mendatang. Aku sedang cukup disibukkan oleh persiapan Indigo Awards, jadi tak sempat menghadiri soft launching :). Tapi sekilas melirik, tampaknya aku langsung jadi fans logo Telkom yang baru ini.

Pesan Life Confident sendiri langsung membangkitkan optimisme. Hidup bukan sesuatu yang mudah bagi siapa pun. Tetapi deretan perjuangan hidup mewarnai jiwa kita dengan nilai-nilai yang membuat tak memiliki alasan untuk tidak menganggap hidup itu indah. Di atas sinisme jenaka kita, kita memiliki optimisme. Di atas beku udara (brrr), ada hati dan jabat tangan hangat yang menemani perjuangan kita. Dan dengan kecerdasan hidup kita, kita bisa mencapai kegemilangan negeri ini.

Ayo, ini dunia kita. Isi dengan warna-warna kita, dengan keyakinan diri dan kelincahan langkah.

Catatan:

Co-Branding

Salah satu yang dulu sering disebut dosen “business development” adalah aliansi strategis. Aliansi ini bisa dari entitas pada industri yang sama (tetapi dengan segmen sosiografis atau demografis yang berbeda), atau dari industri yang berbeda tetapi menemukan alasan kreatif untuk saling mendukung. Contoh yang pertama, waktu itu adalah aliansi antara AT&T dan BT. Hahah :). Waktu itu sempat keren, sebelum bisnis telekomunikasi kolaps terbakar seperti burung phoenix (lambang universitas kami) yang abunya membentuk industri telematika yang tumbuh pesat namun gamang seperti saat ini. Contoh yang kedua akan lebih banyak. Industri multilayer (HP, Intel Inside, MS Windows). Mereka harus bekerja sama bukan saja dari supply produksi, tetapi juga mencakup kerjasama marketing. Ini asik, karena kadang aliansinya tak bersifat eksklusif :). Contoh yang mutakhir tentu iPhone dengan AT&T baru di US, atau dengan Telkomsel di Indonesia.

Tapi ini belum unik. Setiap pihak dengan mudah mengalihkan perhatian ke aliansi lain. Telkomsel masih punya Blackberry. Apple barangkali melirik operator lain. Ini tentu sah. Tapi ada satu gejala lain dimana kita bisa mengikat komitmen lebih permanen, biarpun setiap pihak juga tetap bisa mengalihkan perhatian ke aliansi lain. Salah satunya adalah co-branding.

Aku bukan orang marketing beneran, apalagi pakar marketing. Cuman menikmati dunia ini sebagai customer, dan kadang sebagai pelaku yang mencoba melihat peluang kreatif dikaitkan dengan IT. Jadi yang pertama tampak adalah co-branding yang terpapar di layar Internet. IEEE dengan Visa misalnya; yang sayangnya hanya berlaku di US, UK, dan beberapa negara lain, tak termasuk Indonesia. Visa dan Mastercard juga kemudian melakukan kerjasama dengan banyak pihak: Amazon, Garfield, dll. Lalu masuk juga ke Indonesia. Kampus2 ITB, UI, ITS dengan Bank Mandiri, BNI, BRI. Amex dengan Telkom. Ha, yang ini istimewa, karena beritanya kubaca (dari web berita di Indonesia) justru waktu aku sedang belajar aliansi bisnis itu. Tapi harus menunggu aku pulang di tahun berikutnya untuk bisa punya kartu Amex-Telkom itu.

CobrandCards-2

Aku lihat beberapa rekan di Telkom juga tertarik pada kartu Amex itu, dan untuk pertama kali mempertimbangkan punya kartu Amex (yang waktu itu tak terlalu menarik dimiliki di Indonesia, khususnya di luar Jakarta dan Bali). Maka co-brand ini berhasil memenuhi fungsi awalnya: menggunakan cross-loyalty :). Dari sisi customer, selain terpuaskan oleh loyalty yang bertaut, juga oleh komitmen implisit; bahwa misalnya Amex memberikan layanan khusus untuk customer Telkom dan sebaliknya. Ini tentu harus dipenuhi, agar tak sekedar implisit. Kartu Amex-Telkom itu misalnya, memberikan point reward lebih untuk pembayaran billing produk-produk Telkom. Kartu lain yang seangkatan adalah Citibank-Telkomsel dan Citibank-Makro.

Beberapa tahun kemudian, bisnis ritel makin diseriusi para comblang co-branding kartu kredit. Kita jadi bisa lihat BCA-Carrefour, Citibank-Giant, Mandiri-Hypermart, dll. Kemudian juga airline. Citibank-Garuda dan HSBC-AirAsia misalnya. Yang ditawarkan ke customer makin ajaib. Untuk HSBC-AirAsia, pemilik kartu (Silver / Gold) boleh memesan 1-2 hari lebih awal untuk tiket penerbangan harga spesial. Untuk Citibank-Garuda, Mastercard Platinum berfungsi sebagai kartu Garuda Frequent Flyer kelas Platinum yang tidak akan didegradasi seumur hidup (seumur hidupnya kartu, haha). Kita yang setiap hari berbincang tentang ekonomi konseptual, empati, dan storytelling ini tak akan heran melihat para pemakai kartu Citibank ini jadi lebih memilih terbang dengan Garuda daripada penerbangan lainnya. Itu sudah jadi bagian dari personal brand mereka sekarang, biarpun tadinya mereka netral2 saja dalam memilih penerbangan. Idem dengan HSBC-AirAsia.

Seharusnya Apple-Telkomsel bisa memberikan kemasan produk yang sama. Ini bukan cuma produk iPhone berkartu Simpati, tetapi seharusnya diberi branding seperti produk serupa dari operator AT&T, Sprint, Verizon pada produk non-Apple. Ada loyalty yang meningkat, yang dibarengi dengan ekspektasi (yang harus dipenuhi) akan layanan yang lebih.

Eh, sebetulnya aku cuman lagi cari ide untuk positioning produk micropayment loh :). Aku bayangkan ini OK sekali untuk distribusi dan promosi produk2 kreatif digital di Indonesia. Ada ide?

Telefonsky

Oom Eris itu unik nian — selalu terfokus pada pekerjaan. Jadi, waktu aku menelefon minta izin nggak masuk kantor (dengan surat izin dokter), tanpa pikir panjang beliau memutuskan untuk pindah kantor ke rumahku. Bandung sudah menggelap-malam waktu beliau dan rombongan datang. Tapi begitu masuk rumah, yang dilihat malah rak buku kecilku. Kalau yang dilihat rak yang lebih besar, yang banyak buku2 anehnya sih masih bisa dipahami. Tapi rak buku kecil itu umumnya berisi buku “dan lain-lain” yang ditampung karena rak besar tak mampu lagi menyimpan. Agak lama, aku baru sadar bahwa yang dilihat Si Oom bukan buku, tapi tiga miniatur telefon antik. Haha. Masih Telkom nih :).

Aku sendiri bukan kolektor miniatur telefon antik. Syulit carinya syie. Itu miniatur telefon masuk rak juga cuman gara2 berencana mensuasanai rak buku bagian tengah, yang berisi buku2 telekomunikasi, dengan suasana sejarah telekomunikasi. Selain miniatur telefon, ada beberapa perangko dan kartu pos bertema telekomunikasi. Tapi rencana itu pun tak diteruskan. Keburu pindah ke Jakarta.

Aku cukup beruntung sempat kenal telefon sejak kecil. Zaman dulu, telefon itu langka. Hitam putih pula (eh, itu sih TV). Tapi Papap dibekali telefon rumah. Rumah yang di Malang (Kasatriyan) bertelefon hitam agak besar. Nomornya 5131 pesawat 26. Kadang2 tante-tante dari Perumtel datang melakukan “service telefon” :). Yang gawat tuh Mess di Jember. Telefonnya masih pakai engkel diputar. Wrrrrr. Listrik terkirim, dan operator (manusia) menjawab untuk menyambungkan. Waktu itu yang kadang aku telefon adalah Oom No’ yang kerja di Perumtel Bandung, nomornya 022-51507; atau rumah Embah di Cimahi, nomornya 0229-4762. Cimahi pernah 0229 loh. Dan sebelumnya pernah harus dengan komunikasi khusus karena tidak punya kode area tersendiri.

Mobile-Phone-02

Trus telefon tak menarik lagi. Mata kuliah Telefoni di Teknik Elektro juga cuman kulintasi, tak kuperdalam. Dih, hari gini, masih urusan telefon; pikirku. Mana nih ISDN — yang aku baca2 di majalah Time waktu SMA dulu? Padahal saat itu telefon tengah berevolusi ke arah informasi digital. Semua voice hanya dibawa sampai ke sentral, kemudian dibawa sebagai informasi digital 64 kb/s per kanal. Satu-satu sentral didigitalkan. Di kampus aku malah bermain dengan control & computing. Dan memutuskan untuk … Eh, tapi nggak punya bekal buat skripsi dink. Err, kebetulan Telkom menawari beasiswa ikatan dinas. Masuk nggak? Haha, untuk mendaftar masuk ke Telkom, kami harus ‘rapat’ dulu. Aku dan Ziggyt memutuskan bahwa Telkom layak dimasuki, karena urusannya nantinya bukan cuma telefon, tetapi transportasi informasi kecepatan tinggi.

Sejarah memang menyuruh aku dan Ziggyt akhirnya ikut mengawal Telkom. Cuman untuk urusan informasi kecepatan tinggi, kelihatannya kami harus menunggu lagi dan belajar lagi sekian tahun. ISDN ternyata tak aplikatif. ATM ditinggalkan sebelum implementasi. Hanya di core network saja, semuanya disiapkan. Dan mobile telecommunications melejit secara eksplosif, mengubah bisnis telekomunikasi selama2nya. Sekarang aku menikmati cita2 masa kuliah. Apa pun zaman dulu namanya, sekarang namanya adalah Mobile Internet 2.0. Informasi multimedia berlarian, menemani dan membantu kita di manapun kita berada. Tak hanya dengan akurat, tetapi juga dengan elegan, indah, dan manusiawi. Sambil …

“Sombong nih Si Koen sekarang,” kata Ziggyt — sekarang bermain bisnis Internet di Bogor. “Nggak pernah diangkat telefonnya.” Dasar Ziggyt pelupa. Memang kapan sih aku pernah betah berkomunikasi dengan telefon? Hari gini masih urusan telefon? (Déjà vu –red). Twitter atau Blog aku balas kok, Git :).

BTW, cita2 masih jauh dari usai. Salah satunya, yang selalu aku sebut2 (sampai bikin bosan temen2 di sekitarku), adalah menggantikan kebutuhan transportasi dengan telekomunikasi. Aku mencita2kan kota2 tanpa mobil berasap. Kendaraan listrik berjumlah kecil menghantar manusia bersilaturrahim dan melakukan hal2 menarik. Sekolah, kerja, administrasi, ekonomi, dan hal2 menyebalkan lainnya tak lagi akan menyesakkan dan mencampuri bumi. Semuanya akan kita pindahkan ke Internet (3.0, 4.0, sampai berapa pun). Let’s do it.

[Blog berhenti. Kerja lagi.]

TKI ITT dan Mobile Content

Aku menjalani Hari Pendidikan Nasional di Politeknik Telkom, Bandung, 2 Mei lalu, sambil memperkenalkan beberapa aplikasi pendidikan. Tapi, mumpung lagi di Dayeuhkolot — sarang Mr Ary Murti, maka sekalian kita bikin acara koordinasi IEEE Comsoc Indonesia Chapter (aku harus bikin singkatan untuk chapter ini, kayaknya); sekaligus mini reuni TE Unibraw antar angkatan. Di tengah koordinasi merangkap reuni itu, beberapa mahasiswi ITT menginterupsi, minta aku memberikan Kuliah Umum tentang Mobile Content. Sungkan menolak di depan Mas Ary, aku iyakan saja (haha, dan itulah alasan sesungguhnya).

Institusi pendidikan di Bandung itu agak lucu. UPI jadi contoh yang lucu, tentu saja. Tapi ITT juga. Sore itu aku dapat SMS: “Berapa kira-kira biaya pembicara, termasuk transportasi dan akomodasi.” Halah, kayak ini event komersial aja :). Aku jawab aja: “Sila mengajukan surat permintaan ke Telkom; jadi urusan honor, transportasi, dan akomodasi ditanggung Telkom — kan sesama penyandang nama Telkom. Plus saya jadi nggak harus cuti.” Hi-hi :).

Seminarnya akhirnya berlangsung tanggal 19 Mei lalu. Tepat di tengah salah satu minggu paling sibuk tahun ini. Tanggal 19 itu kebetulan ada 3 acara, dan semuanya di Bandung. Penyelenggaranya adalah Fakultas Informatika ITT (sudah jadi fakultas sekarang, dengan dekan yang masih sangat muda: Mr Fazmah Arif), dan acara itu adalah bagian dari Temu Keluarga Informatika (TKI) ITT, di samping beberapa acara lain seperti pameran.

Materinya cukup panjang. Beberapa menit awal bercerita tentang mobile phone dan teknologinya. Kemudian melompat ke depan — ke masa mereka lulus atau nanti menulis skripsi. Tentu cukup sering juga ditulis di blog ini: NGMS, context-awareness, pervasive mobile communication. Kemudian balik ke masa kini: membandingkan platform operasi dan pengembangan smartphone (Symbian, RIM, Apple, WM, dll, dll). Pertanyaan dari mahasiswa meliputi soal regulasi dan konsumen, teknologi (OFDMA), Mobile 2.0, plus aspek sosial. Wuah, komplit nie. Keren.

Selesai seminar, aku menikmati pameran. Hey, sia2 aku bikin materi seminar. Aplikasi2 dari mahasiswa itu keren2. Buat apa diceramahi lagi, coba? Ada beberapa yang aku pikir bisa mulai diangkat atau diagregasikan jadi sebuah bisnis. Kelihatannya harus ada kunjungan lebih lanjut ke ITT :).

Perjalanan diteruskan ke Japati (uh, lapar). Mr Widi jadi speaker, dengan moderator Mr Prama; menyajikan arah pengembangan content & application ke para stakeholder. Dilanjutkan (dengan jeda sesi mi kocok) dengan meeting tentang [eh, kalau ditulis terus temanya, melanggar rahasia perusahaan nggak sih?] sampai gelap menyelimuti angkasa Bandung.

Hari kedua di Bandung, masih di Japati, Mr Widi jadi speaker, dengan moderator Mr Zuhed, di depan kalangan pendidikan di Bandung: dosen, guru, mahasiswa, siswa. Daripada jadi penonton, aku dilempar jadi co-speaker. Temanya ke ajakan & dukungan dari Telkom untuk menciptakan dan mengembangkan content & aplikasi. Tanpa jeda, kegiatan dilanjutkan ke rapat pengembangan portal di Japati itu juga, dilanjutkan dengan persiapan Indigo Fellowship di Gatsu (Jakarta). Tanpa asupan kopi, huh :). Dan kembali Jakarta menggelap waktu rapat berakhir. Tiket Air Asia ke Yogya, dan tiket Garuda untuk kembali ke Jakarta, telah diunduh untuk kegiatan berikutnya.

%d bloggers like this: