<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kuncoro++ &#187; Network</title>
	<atom:link href="http://kun.co.ro/category/network/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kun.co.ro</link>
	<description>Reinventer La Vie</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 16:40:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Internetworking Indonesia: Data Mining</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/01/20/internetworking-indonesia-data-mining/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/01/20/internetworking-indonesia-data-mining/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 11:46:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[Data Mining]]></category>
		<category><![CDATA[iij]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2793</guid>
		<description><![CDATA[Weekend lalu, Internetworking Indonesia Journal (IIJ) Vol 1 No 2 diterbitkan. Ini adalah edisi Fall / Winter 2009 yang sedikit terlambat diluncurkan. Tapi keterlambatan ini diimbangi dengan kuantitas dan kualitas paper yang terus meningkat :). Edisi ini adalah edisi yang khusus membahas Data Mining. Dan pada edisi ini, bertindak sebagai Editor Tamu adalah Dr Anto Satriyo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Weekend lalu, <strong>Internetworking Indonesia Journal</strong> (IIJ) Vol 1 No 2 diterbitkan. Ini adalah edisi Fall / Winter 2009 yang sedikit terlambat diluncurkan. Tapi keterlambatan ini diimbangi dengan kuantitas dan kualitas paper yang terus meningkat :). Edisi ini adalah edisi yang khusus membahas <strong>Data Mining</strong>. Dan pada edisi ini, bertindak sebagai Editor Tamu adalah Dr Anto Satriyo Nugroho dari BPPT dan Moch Arif Bijaksana dari ITT Telkom.</p>
<p>Paper yang masuk bukan hanya dari Indonesia, tetapi juga dari negara-negara lain. Bahkan tiga paper ditulis oleh penulis asing. Selain jumlah paper yang meningkat, proses review juga menjadi memerlukan waktu lebih lama dari yang direncanakan. Terima kasih setulusnya dan sedalamnya untuk para Editor Tamu, dan juga untuk para anggota Dewan Penasehat :).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/01/IIJ-01-02.png"><img class="size-full wp-image-2796 aligncenter" title="IIJ-01-02" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/01/IIJ-01-02.png" alt="" width="400" height="389" /></a></p>
<p>Daftar ini edisi ini:</p>
<ul>
<li>Guest Editors&#8217; Introduction: <em>Special Issue on Data Mining</em> by Anto Satriyo Nugroho &amp; Moch Arif Bijaksana (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_2009_editors_introduction.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Enhanced SMART-TV: A Classifier with Vertical Data Structure and Dimensional Projections Pruning</em> by Taufik Fuadi Abidin &amp; William Perrizo (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_abidin.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Using Business Intelligence Solutions for Achieving Organization’s Strategy: Arab International University Case Study</em> by Mouhib Alnoukari (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_alnoukari.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Feature Selection for Large Scale Data by Combining Class Association Rule Mining and Information Gain: a Hybrid Approach</em>by Appavu alias Balamurugan, Pramala, Rajalakshmi &amp; Rajaram (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_balamurugan.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Detecting the Originality of Extended Research Articles Using Similarity Techniques &#8211; A Proposal</em> by Shanmugasundaram Hariharan (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_hariharan.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Prediksi Masa Studi Sarjana dengan Artificial Neural Network</em> by Muhamad Hanief Meinanda, Metri Annisa, Narendi Muhandri &amp; Kadarsyah Suryadi (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_meinanda.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Adaptive Content-based Navigation Generating System: Data Mining on Unorganized Multi Web Resources</em> by Diana Purwitasari, Yasuhisa Okazaki &amp; Kenzi Watanabe (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_purwitasari.pdf">PDF</a>)</li>
<li><em>Fuzzy Decision Tree dengan Algoritme ID3 pada Data Diabetes</em> by F. Romansyah, I. S. Sitanggang &amp; S. Nurdiati (<a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_romansyah.pdf">PDF</a>)</li>
</ul>
<p>Untuk mengunduh edisi lengkap jurnal ini, klik di sini: <a href="http://www.internetworkingindonesia.org/Vol-1-No2-Fall2009/iij_vol1_no2_2009_complete.pdf">IIJ Vol 1 No 2 Th 2009</a>, atau kunjungi website <a href="http://www.internetworkingindonesia.org">Internetworking Indonesia Journal</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/01/20/internetworking-indonesia-data-mining/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknologi 4G di Yogyakarta</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/12/20/teknologi-4g-di-yogyakarta/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/12/20/teknologi-4g-di-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 13:24:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IEEE]]></category>
		<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[4G]]></category>
		<category><![CDATA[Mobile]]></category>
		<category><![CDATA[Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2759</guid>
		<description><![CDATA[Tak seperti biasanya, kali ini Gunung Merapi tampak detil2 liku2nya lengkap dengan puncak menjulang dan asap tipisnya, bahkan sejak Garuda belum mendarat di Yogyakarta. Udara jernih nyaris tanpa kabut dan awan tipis. Ya, setelah Bandung, kali giliran Yogyakarta menjadi tuan rumah bagi lecturing &#8220;Opening The Gates to 4G Mobile Technology&#8221; yang diselenggarakan oleh IEEE Communications [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak seperti biasanya, kali ini Gunung Merapi tampak detil2 liku2nya lengkap dengan puncak menjulang dan asap tipisnya, bahkan sejak Garuda belum mendarat di Yogyakarta. Udara jernih nyaris tanpa kabut dan awan tipis. Ya, setelah Bandung, kali giliran Yogyakarta menjadi tuan rumah bagi lecturing &#8220;Opening The Gates to 4G Mobile Technology&#8221; yang diselenggarakan oleh <a href="http://www.ieee.org">IEEE</a><a href="http://www.comsoc.org"> Communications Societ</a>y <a href="http://komunikasi.org">Indonesia Chapter</a>.</p>
<p>Bertempat di Hotel Santika (19 Desember 2009), seminar ini masih menyampaikan materi yang sama dengan Bandung, namun telah diperkaya oleh hasil diskusi di Bandung. Speaker dan materinya meliputi:</p>
<ol>
<li>Muhammad Ary Murti: Pengenalan IEEE, societies, Indonesia section, chapters, membership.</li>
<li>Kuncoro Wastuwibowo: 4G Mobile Technologies, network, service, cognitive radio, context awareness, candidates</li>
<li>Arif Hamdani Gunawan: Candidate I &#8211;&gt; LTE, evolution, features, architecture, OFDMA &amp; SCFDMA, implementation plan</li>
<li>FX Ari Wibowo: Candidate II &#8211;&gt; WiMAX II, comparison of 802.16e vs 802.16m, specifications, features, architecture</li>
</ol>
<p>Peserta datang dari Bandung, Yogyakarta, dan berbagai kota lainnya. Diskusi cukup tajam, membahas spesifikasi detail, spekulasi mengenai lenyapnya UMB :), hingga pengembangan aplikasi di atas teknologi 4G.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-2760  aligncenter" title="IEEE-4G-Yogyakarta" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/12/IEEE-4G-Yogyakarta.jpg" alt="IEEE-4G-Yogyakarta" width="410" height="184" /></p>
<p>Setelah Yogyakarta, Teknologi 4G akan juga dibawakan ke kota-kota lain, sementara di awal 2010 nanti juga IEEE akan mulai meluncurkan tema-tema yang berbeda untuk lecturingnya. Lecturing ini akan disampaikan melalui beberapa metode sesuai tujuan. Bentuknya bisa kuliah umum di kampus, lecturing intensif seperti saat ini, atau conference yang lebih besar. Namun tentu akan diperlukan dukungan lebih banyak volunteer :). Punya passion di bidang ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/12/20/teknologi-4g-di-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandung Gerbang 4G</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/11/21/bandung-gerbang-4g/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/11/21/bandung-gerbang-4g/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 12:35:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IEEE]]></category>
		<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[4G]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[LTE]]></category>
		<category><![CDATA[WiMAX]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2735</guid>
		<description><![CDATA[Lama tak menjejak Bandung. Dan kota ini menyambutku beku tanpa ampun. Gigil dikepung kabut tipis. Ah, di mana ceriamu yang dulu itu, kota inspirasiku? Beku kau tak peduli semangatku. Tapi negeri menanti.
Seperti yang telah lama direncanakan, Bandung merupakan kota pertama untuk serial seminar &#8220;Opening the Gates to 4G&#8221; :). Ini seminar yang diluncurkan IEEE Comsoc [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lama tak menjejak Bandung. Dan kota ini menyambutku beku tanpa ampun. Gigil dikepung kabut tipis. Ah, di mana ceriamu yang dulu itu, kota inspirasiku? Beku kau tak peduli semangatku. Tapi negeri menanti.</p>
<p>Seperti yang telah lama direncanakan, Bandung merupakan kota pertama untuk serial seminar &#8220;Opening the Gates to 4G&#8221; :). Ini seminar yang diluncurkan IEEE Comsoc Indonesia Chapter, dan didukung IEEE Indonesia Section dan Mastel. Seminar ini bertujuan untuk membuka perbincangan yang lebih luas mengenai pengembangan network, service, dan aplikasi di Indonesia memanfaatkan platform 4G.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-2743  aligncenter" title="IEEE-Horison" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/11/IEEE-Horison.jpg" alt="IEEE-Horison" width="410" height="150" /></p>
<p>Seperti kata judulnya, ada lebih dari satu gerbang ke 4G. Di sisi network, setelah tumbangnya UMB, kita memiliki LTE dan WiMAX II. Tapi banyak parameter lain yang menandai 4G. Cognitive radio memungkinkan perangkat2 kita secara cerdas memilih spektrum dan platform telekomunikasinya mengikuti kebutuhan, lokasi, dan parameter lain &#8212; a.k.a. konteks. Pun aplikasi tengah mengarah ke aplikasi peduli konteks (context-aware applications). Tentu ini sering diulas di blog ini, maupun beberapa blog tetangga. Tetapi baru sekali ini semuanya berhasil dikemas dalam satu buah seminar.</p>
<p>Aku membuka seminar yang diselenggarakan di Hotel Horison ini dengan menceritakan kebutuhan dan requirement atas 4G. Selain cognitive radio, dibahas skema all-IP network (yang artinya juga dukungan atas IPv6), antena cerdas (MIMO, spatial multiplex), dan OFDMA. Lalu Arief Hamdani melakukan diskusi panjang dan mendalam tentang LTE, lengkap dengan SAE. Untuk pembanding, aku mengulas mengenai WiMAX II yang masih berstatus pre-standard (IEEE 806.16m).</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; border: 0px initial initial;" title="WiMAX-II-Reference-Model" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/11/WiMAX-II-Reference-Model.png" alt="WiMAX-II-Reference-Model" width="410" height="212" /></p>
<p style="text-align: left;">Sebagai penutup, diskusi diakhiri tentang context-aware application dan pervasive computing. Dan langit Bandung sudah mulai gelap lagi. Seminar berikutnya di Yogyakarta, kemudian Denpasar. Medan? :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/11/21/bandung-gerbang-4g/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terbit: Internetworking Indonesia</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/04/14/terbit-internetworking-indonesia/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/04/14/terbit-internetworking-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 02:34:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[iij]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2597</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini diterbitkan Edisi Perdana dari Internetworking Indonesia Journal. Jurnal ini berfokus pada pengembangan ICT di Indonesia. Paper di dalamnya lebih banyak bertemakan pengembangan infrastruktur internetworking. Jadi memang banyak berisi muatan teknis. Namun jurnal ini juga mewadahi sisi-sisi sains, sosial, regulasi, pendidikan, dan hal-hal lain yang terkait dengan pengembangan ICT. Hal-hal yang bersifat interdisiplin lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini diterbitkan Edisi Perdana dari <strong>Internetworking Indonesia Journal</strong>. Jurnal ini berfokus pada pengembangan ICT di Indonesia. Paper di dalamnya lebih banyak bertemakan pengembangan infrastruktur internetworking. Jadi memang banyak berisi muatan teknis. Namun jurnal ini juga mewadahi sisi-sisi sains, sosial, regulasi, pendidikan, dan hal-hal lain yang terkait dengan pengembangan ICT. Hal-hal yang bersifat interdisiplin lebih disukai :)</p>
<p><a href="http://internetworkingindonesia.org"><img title="IIJ" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/04/iij-01.png" alt="" width="250" height="140" align="right" /></a>Dengan editor sebagian besar dari Indonesia, <strong>IIJ</strong> (begitu menyingkatnya, jangan dibalik) diterbitkan di Cambridge, Massachusetts. Mengusung semangat Open Access, jurnal ini hanya diterbitkan online, dan dapat diunduh gratis dari sitenya.</p>
<p>URL Edisi Perdana: <a href="http://internetworkingindonesia.org/iij-vol1-no1-spring2009.html">internetworkingindonesia.org/iij-vol1-no1-spring2009.html</a>.</p>
<p>Daftar isi edisi perdana:</p>
<ul>
<li>Editors&#8217; Introduction (<a href="http://internetworkingindonesia.org/Vol1-No1-Spring2009/IIJ-Vol1-No1-EditorsIntroduction.pdf" target="_blank">PDF</a>)</li>
<li>The Overhead and Efficiency Analysis on WiMAX’s MAC Management          Message<br />
by Ardian Ulvan, Vit Andrlik &amp; Robert Bestak (<a href="http://internetworkingindonesia.org/Vol1-No1-Spring2009/IIJ-Vol1-No1-Ulvan.pdf" target="_blank">PDF</a>)</li>
<li>Loop-back Action Latency Performance of an Industrial Data Communication          Protocol on a PLC Ethernet Network<br />
by Endra Joelianto &amp; Hosana (<a href="http://internetworkingindonesia.org/Vol1-No1-Spring2009/IIJ-Vol1-No1-Joelianto.pdf" target="_blank">PDF</a>)</li>
<li>“Wayang Authoring”: A Web-based Authoring Tool to Support          Media Literacy for Children<br />
by Wahju Agung Widjajanto, Michael Lund, &amp; Heidi Schelhowe (<a href="http://internetworkingindonesia.org/Vol1-No1-Spring2009/IIJ-Vol1-No1-Widjajanto.pdf" target="_blank">PDF</a>)</li>
<li>Studi atas Prilaku Pengguna Layanan Wide Area Network (WAN) BPKP<br />
by Desi Nelvia &amp; Rudy M. Harahap (<a href="http://internetworkingindonesia.org/Vol1-No1-Spring2009/IIJ-Vol1-No1-Nelvia.pdf" target="_blank">PDF</a>)</li>
<li>Issues in Elliptic Curve Cryptography Implementation<br />
by Marisa W. Paryasto, Kuspriyanto, Sarwono Sutikno &amp; Arif Sasongko          (<a href="http://internetworkingindonesia.org/Vol1-No1-Spring2009/IIJ-Vol1-No1-Paryasto.pdf" target="_blank">PDF</a>)</li>
</ul>
<p>PDF lengkap edisi perdana: <strong>(<a href="http://internetworkingindonesia.org/Vol1-No1-Spring2009/IIJ-Vol1-No1-Spring2009.pdf" target="_blank">PDF</a>)</strong>. ISSN = 1942-9703.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/04/14/terbit-internetworking-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IIJ: Draft Version</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/04/07/iij-draft-version/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/04/07/iij-draft-version/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 10:03:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[ict]]></category>
		<category><![CDATA[iij]]></category>
		<category><![CDATA[journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2595</guid>
		<description><![CDATA[Mas Thomas Hardjono pagi ini mengirimkan draft Edisi 1 dari Internetworking Indonesia Journal (IIJ). CFP-nya pernah dipampangkan di blog ini tahun lalu. Bulan-bulan terakhir ini, Mas Thomas nyaris sendirian mengepalai proses editing jurnal ini.
Tentang IIJ sendiri, demikian ditulis pada jurnal itu:
The Internetworking Indonesia Journal (IIJ) was borne out of the need to address the lack [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Thomas Hardjono pagi ini mengirimkan draft Edisi 1 dari Internetworking Indonesia Journal (IIJ). <a href="http://kun.co.ro/2008/06/03/cfp-internetworking-indonesia/">CFP-nya pernah dipampangkan di blog ini tahun lalu</a>. Bulan-bulan terakhir ini, Mas Thomas nyaris sendirian mengepalai proses editing jurnal ini.</p>
<p><img title="iij-draft" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/04/iij-draft.png" alt="" width="300" height="306" align="right" />Tentang IIJ sendiri, demikian ditulis pada jurnal itu:</p>
<p>The Internetworking Indonesia Journal (IIJ) was borne out of the need to address the lack of an Indonesia-wide independent academic and professional journal covering the broad area of Information and Communication Technology (ICT) and Internet development in Indonesia.  The broad aims of the Internetworking Indonesia Journal (IIJ) are thus as follows:</p>
<ul>
<li> Provide an Indonesia-wide independent journal on ICT: The IIJ seeks to be an Indonesia-wide journal that is independent from any specific institution in Indonesia (such as universities and government bodies). Currently in Indonesia there are a number of university-issued journals that publish only papers from those respective universities. Often these university journals experience difficulty in maintaining sustainability due to the limited number of internally sourced papers. Additionally, most of these university-issued journals do not have an independent review and advisory board, and most do not have referees and reviewers from the international community.</li>
<li> Provide a publishing venue for graduate students: The IIJ seeks also to be a venue for publication for graduate students (i.e. Masters/S2 and PhD/S3 students) as well as working academics in the broad field of ICT. This includes graduate students from Indonesian universities and those studying abroad. The IIJ provides an avenue for these students to publish their papers to a journal that is international in its reviewer scope and in its advisory board.</li>
<li> Improve the quality of research &amp; publications on ICT in Indonesia: One of the long term goals of the IIJ is to promote research on ICT and Internet development in Indonesia, and over time to improve the quality of academic and technical publications from the Indonesian ICT community. Additionally, the IIJ journal seeks also to be the main publication venue for various authors worldwide whose interest include Indonesia and its growing area of information and communication technology.</li>
<li> Provide access to academics and professionals overseas: The Editorial Advisory Board (EAB) of the IIJ is intentionally composed of international academics and professionals, as well as those from Indonesia. The aim here is to provide Indonesian authors with access to international academics and professionals within the context of a publication that is aware of the issues facing a developing nation. Similarly, the IIJ seeks to provide readers worldwide with easy access to information regarding ICT and Internet development in Indonesia.</li>
<li> Promote the culture of writing and authorship: The IIJ seeks to promote the culture of writing and of excellent authorship in Indonesia within the broad area of ICT. The availability of an Indonesia-wide journal with an international advisory board may provide an incentive and impetus for young academics, students and professionals in Indonesia to develop writing skills appropriate for a journal. This in-turn may encourage and train them to subsequently publish in other international journals.</li>
</ul>
<p>Tunggu versi finalnya ya. Free of charge.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/04/07/iij-draft-version/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LTE: Long Term Evolution</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/04/01/lte-long-term-evolution/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/04/01/lte-long-term-evolution/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 09:12:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[Telkom]]></category>
		<category><![CDATA[3GPP]]></category>
		<category><![CDATA[Flexi]]></category>
		<category><![CDATA[LTE]]></category>
		<category><![CDATA[NGMN]]></category>
		<category><![CDATA[SAE]]></category>
		<category><![CDATA[Telkomsel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2590</guid>
		<description><![CDATA[Awal tahun ini, Telkomsel menjadi operator seluler pertama di Indonesia yang menyatakan mulai mengimplementasikan LTE (long-term evolution). Blog ini pernah membahas LTE, bersama dengan UMB dan WiMAX II, sebagai kandidat 4G. Namun LTE dianggap paling siap melangkah untuk mengarah ke 4G. 20 operator di dunia, merepresentasikan 1,8 miliar subscriber, telah menyatakan komitmen ke LTE; termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awal tahun ini, Telkomsel menjadi operator seluler pertama di Indonesia yang menyatakan mulai mengimplementasikan LTE (long-term evolution). <a href="http://kun.co.ro/2007/12/05/ngms/">Blog ini pernah membahas LTE, bersama dengan UMB dan WiMAX II, sebagai kandidat 4G</a>. Namun LTE dianggap paling siap melangkah untuk mengarah ke 4G. 20 operator di dunia, merepresentasikan 1,8 miliar subscriber, telah menyatakan komitmen ke LTE; termasuk NTT Docomo, China Mobile, Vodafone, Verizon, T-Mobile, dan AT&amp;T. NGMN Alliance mengakui LTE sebagai teknologi pertama yang memenuhi kualifikasi NGMN. Dan akhirnya Qualcomm – yang menjadi pendukung utama UMB – memutuskan ikut mendukung LTE alih-alih meneruskan UMB.</p>
<p>LTE, bersama dengan SAE (service architecture evolution), adalah inti kerja dari 3GPP Release 8. Inti atau core LTE disebut dengan EPC (evolved packet core). EPC bersifat all-IP (semua IP, dan hanya IP), dan mudah berinterkoneksi dengan network IP lainnya, termasuk WiFi, WiMAX, dan XDSL. LTE juga diharapkan mendukung network broadband personal, dengan memadukan layanan mobile dan fix. User tak harus menunggu network yang lebih stabil, misalnya untuk upload file video. LTE harus siap secara teknis (dan ekonomis) untuk menampung trafik yang dinamis dari Web 2.0, cloud computing, hingga beraneka macam gadget. ABI Research memproyeksikan bahwa perangkat seperti kamera, MP3 player, video, dll yang dilengkapi kapabilitas network akan mendekati jumlah setengah miliar unit pada tahun 2012.</p>
<p>Trafik yang tinggi dan dinamis itu mengharuskan penggantian kembali sistem transmisi. Dari TDMA di 2G dan CDMA di 3G, teknologi 4G akan menggunakan OFDMA, yang sekali lagi akan meningkatkan efisiensi spektrum. Kecepatan rerata berkisar pada 15 Mb/s dengan delay 15ms, walaupun nilai maksimal diharapkan dapat mencapai di atas 200Mb/s pada bandwidth 20MHz.  Ya, LTE bisa bekerja pada bandwidth 1.4 hingga 20 MHz.</p>
<p>Akses radio akan berdasarkan penggunaan kana bersama sebesar 300Mb/s pada arah turun dan 75Mb/s pada arah naik. Jika pada 2G/3G, akses radio akan terkoneksi pada circuit-switched domain, maka E-UTRAN pada LTE hanya akan terkoneksi pada EPC. Akses radio teroptimasikan untuk trafik IP.<br />
SAE, berbeda dengan sistem sebelumnya, hanya memberikan dua node pada user plane: base station (disebut eNodeB) dan gateway. Jumlah dan jenis persinyalan diminimalkan.  RNC (radio network controller) dimasukkan sebagai satu fungsi dalam eNodeB, yang menjadikan proses handover dikelola sepenuhnya oleh eNodeB – mirip UTRAN pada 3G.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/04/lte-04.png"><img class="size-full wp-image-2589 aligncenter" title="lte-04" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/04/lte-04.png" alt="" width="300" height="327" /></a></p>
<p>LTE akan digelar pada beraneka band spektrum. Diharapkan band baru 2,6GHz dapat digunakan, karena kapasitasnya memungkinkan untuk penyediaan band hingga 20MHz. Namun LTE juga bisa digelar pada band bekas GSM di 900MHz dan 1800MHz.</p>
<p>Barangkali pas kalau LTE kita jadikan tema IEEE Lecture Roadshow tahun ini. Tapi tebak: Flexi nantinya ke mana? Ikut ke LTE menemani Telkomsel, atau ke WiMAX II?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/04/01/lte-long-term-evolution/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SDP 2.0</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/01/21/sdp-20/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/01/21/sdp-20/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 17:26:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[Telkom]]></category>
		<category><![CDATA[iec]]></category>
		<category><![CDATA[lbs]]></category>
		<category><![CDATA[sdp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2495</guid>
		<description><![CDATA[SDP (service delivery platform) sendiri masih intens kita diskusikan menjelang masa implementasi. Tapi bulan Desember lalu, IEC melontarkan istilah SDP 2.0 dalam Annual Review of Communications Volume 61. Tergoncang? Tentu tidak :). Pertama, SDP sendiri bukan standard yang perubahan versinya harus langsung diikuti migrasi sistem. Kedua, penomoran 2.0 sendiri menunjukkan sebuah ciri khas: sesuatu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://kun.co.ro/2008/09/24/service-delivery-platform/">SDP (service delivery platform)</a> sendiri masih intens kita diskusikan menjelang masa implementasi. Tapi bulan Desember lalu, IEC melontarkan istilah SDP 2.0 dalam <a href="http://www.iec.org/pubs/pub.asp?pid=107&amp;bsi=5&amp;cat=cont">Annual Review of Communications Volume 61</a>. Tergoncang? Tentu tidak :). Pertama, SDP sendiri bukan standard yang perubahan versinya harus langsung diikuti migrasi sistem. Kedua, penomoran 2.0 sendiri menunjukkan sebuah ciri khas: sesuatu yang secara semi informal digerakkan dalam bentuk perbincangan (yang boleh meliputi industri dan komunitas). Tapi ihwal penomoran 2.0 ini juga yang bikin aku pingin memperbincangkan, soalnya pas dengan gagasan2 kita untuk menyusun hub atas content &amp; aplikasi dari komunitas.</p>
<p style="text-align: left;">Jadi yang dinamakan SDP 2.0 adalah gagasan dari Accenture. Ia mengambil ide dari Google, Apple, dll, yang berbisnis dalam ekosistem digital. Menurut Accenture, 60% service provider memiliki lebih dari 10 partner co-design per proyek pengembangan produk. Kolaborasi ini memicu inovasi, tetapi meningkatkan resiko; kecuali jika strukturnya dibuat lebih efektif. Sebagai tambahan juga, Internet 2.0 (web 2.0, mobile 2.0, dst) telah menciptakan lingkungan yang kaya content, service, dan inovasi. Interface content terkayakan dalam dunia tiga layar: perangkat mobile, komputer, dan TV. SDP dirancang untuk mengefektifkan dan mengefisienkan segala sumber daya dan inovasi untuk kekayaan aplikasi ini. Namun divergensi yang cepat seperti ini mendorong dianggap perlunya merumuskan SDP 2.0. Framework SDP 2.0 menekankan penyusunan lingkungan pengembangan service lintas aktivitas dan teknologi di dalam ekosistem IP.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/01/sdp-20.png"><img class="size-full wp-image-2497 aligncenter" title="sdp-20" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/01/sdp-20.png" alt="" width="400" height="296" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Konvergensi tiga layar mendorong setiap aplikasi untuk secara mudah tertampilkan dengan interface yang tepat di perangkat mobile, komputer, dan TV. Penekanan adalah pada layar pertama, yang lebih banyak melekat pada user setiap saat. Ini dimungkinkan oleh penyusunan platform piranti (device platform), berisi sistem operasi dan middleware, yang memungkinkan operasi multiplatform. Diantarmukai oleh itu, tersusunlah portal multikanal, tempat tertumpah kekayaan inovasi. Produksi, sharing, dan distribusi content dilakukan terpersonalisasi, dengan akses yang bersifat swalayan. Di sini juga dapat dilakukan segmentasi, agregasi, delivery media, komunikasi, dan lain2, yang dapat dioptimalkan untuk penurunan biaya. Sekarang, profit jadi dapat ditumbuhkan dari aplikasi2 yang telah saling diperkaya/memperkaya ini.</p>
<p style="text-align: left;">SDP 2.0 menambahkan hal2 berikut: pengelolaan user yang terpadu, pengelolaan policy yang fleksibel, dan lingkungan penciptaan service yang bersifat terbuka. Juga telah dimasukkan hal-hal seperti <a href="http://kun.co.ro/2008/03/14/context-awareness/">location-based service (LBS)</a>, mash-up, mobile widget, application presence, network presence, dll.</p>
<p style="text-align: left;">Accenture kemudian memberi contoh implementasi di <a href="http://www.turkcell.com.tr/en">Turkcell</a>. Turkcell baru mengupgrade SDP-nya untuk memfasilitasi layanan seperti download musik, layanan data, dan transfer foto. Mereka mencobai pendekatan di atas, yang memungkinkan mereka bekerja lebih baik dengan penyedia aplikasi dan content. Dalam setahun, telah diluncurkan 180 layanan penghasil revenue, dari 50 penyedia aplikasi dan 53 penyedia content. Jumlah pelanggan pemakai layanan online meningkat 3000% dalam sebulan setelah peluncuran. Semua aplikasi dan content menggunakan standard IP biasa.</p>
<p style="text-align: left;">Konvergensi telah menjadi sahabat mereka, bukan ancaman. Yuk, kita ke sana juga :).</p>
<p style="text-align: left;">[Thanks, <a href="http://www.allaboutcontent.net/">Pak Komang</a>, atas materinya :)]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/01/21/sdp-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DLP Network Management</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/01/08/dlp-network-management/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/01/08/dlp-network-management/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 06:29:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IEEE]]></category>
		<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[comsoc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2481</guid>
		<description><![CDATA[Baru seminggu masuk tahun 2009, IEEE Comsoc Indonesia Chapter telah melakukan salah satu kegiatan rutin: menyelenggarakan distinguished lecture. Lecture kali ini mengambil tema Network &#38; Service Management, dengan lecture Prof Mehmet Ulema dari Manhattan College. Ini salah satu seleb IEEE yang tulisannya sering terbaca jauh sebelum zaman bikin tesis. Lecture dilakukan kemarin di ITT Bandung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru seminggu masuk tahun 2009, <a href="http://komunikasi.org">IEEE Comsoc Indonesia Chapter</a> telah melakukan salah satu kegiatan rutin: menyelenggarakan distinguished lecture. Lecture kali ini mengambil tema Network &amp; Service Management, dengan lecture <a href="http://www.manhattan.edu/academics/business/acct_law_cis/faculty/mehmet.ulema.shtml">Prof Mehmet Ulema</a> dari Manhattan College. Ini salah satu seleb IEEE yang tulisannya sering terbaca jauh sebelum zaman bikin tesis. Lecture dilakukan kemarin di ITT Bandung, dan hari ini di Binus Jakarta. Aku ikut yang di Binus hari ini.</p>
<p>Aku sendiri belum berhasil menulis paper tentang network management (di zaman aku masih doyan bikin whitepaper &#8212; paper yang materinya dan standar2nya tak tergantung dari vendor itu), karena jangkauannya terlalu luas, dan standarnya terlalu banyak :). Tapi Profesor Ulema mengoverviewkan masalah network management (NM) dengan hutan standardnya itu ringan. Pun sambil mengingatkan bahwa NM lebih merupakan suatu art daripada science. Art yang paling menarik adalah saat kita melakukan integrasi berbagai sistem. NM juga bersifat multidisiplin: dari elektro, komputer, matematika, operational research, ekonomi, dan tentu management. {Dan game theory juga :)}.</p>
<p>Mula2, dipaparkan berbagai dimensi NM, baik dari jenis network, fungsi, stage, dan &#8230; uh banyak. Barulah dikaji berbagai standar NM, dari ITU (TMN), IETF (berbagai versi SNMP), ISO OSI (CMIP), dan lain-lain (TMF, OMG, OSF, DMTF, dan yang included dalam standard2 IEEE, 3GPP, hingga (G)MPLS/ASON). Kemudian, tanpa ampun, diperdalamlah berbagai model standard itu; dari TMN dan arsitektur lengkapnya (logika, informasi &#8212; SMI dan MIB, fungsi, fisik), pendalaman MIB sendiri, dan MIB II, ke SNMP hingga SNMP v3 dan rencana versi SNMP berikutnya, RMON &#8230; hihi, panjang &#8230;trus ke arsitektur yang praktis, ke produk yang ada saat ini (komersial dan open source), MPLS (ini singkatan dari mephistopheles), IPv6, 3-play, NGN, dan ditutup dengan trend2 ke depan (autonomic computing etc).</p>
<p>Kuliah ditutup, dan kita masuk ke coffee break. Mahasiswa Bina Nusantara yang tadinya hanya diam malu2 dan ogah tanya2, mendadak melakukan serbuan, dan bertanya langsung. Hihi, kelihatannya mereka lebih suka bertanya informal, bukan tanya di forum sambil dipelototi dosen2 mereka. OK, ini foto Professor Ulema yang sedang asyik menjawab pertanyaan mahasiswa demonstran.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/01/mehmetulema.jpg"><img class="size-full wp-image-2482 aligncenter" title="mehmetulema" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/01/mehmetulema.jpg" alt="" width="400" height="282" /></a></p>
<p>Next, sambil menikmati kopi hitam, gantian Prof Ulema yang mewawancarai aku tentang network development. Aku cerita sambil sesekali (sering kali) minta pendapat beliau tentang cara2 operator2 di Indonesia memanage network. Dualism IMS vs SDP misalnya (banyak SDP yang tidak dirancang untuk jadi IMS-aware). Tapi yang mengejutkan, Prof Ulema mengingatkan bahwa banyak operator internasional yang justru kecewa pada implementasi IMS. Woah, hal baru. Akhirnya kita memperdalam soal itu. Sayangnya, sebelum benar2 selesai, pihak Binus menculik Prof Ulema untuk dipulangkan dengan aman ke negaranya. Via Macau.</p>
<p>Kembali ke Comsoc. Rencana tahun ini adalah meneruskan kuliah2 umum tentang trend teknologi infokom ke kampus2. Tapi kita punya rencana tambahan. Di IET ada kuliah Faraday, dimana para engineer mengajar tentang engineering dengan kemasan menarik ke sekolah2. Ya, Faraday, fisikawan dan engineer yang nggak doyan kalkulus dan tak paham teori Maxwell itu (padahal teori Maxwell adalah formulasi atas garis2 gaya Faraday). Jadi semangatnya mencerahkan tanpa mengkalkulusi. Nah, Comsoc chapter Indonesia berencana melakukan upaya serupa. Nanti kita bahas lagi soal ini deh. Bantu ya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/01/08/dlp-network-management/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selangkah ke Repeater Kuantum</title>
		<link>http://kun.co.ro/2008/12/19/selangkah-ke-repeater-kuantum/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2008/12/19/selangkah-ke-repeater-kuantum/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 15:44:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[Science]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2452</guid>
		<description><![CDATA[Fisikawan di Swiss dilaporkan berhasil membuat piranti solid-state yang dapat menyimpan posisi foton selama satu mikrodetik. Ini diyakini membuka jalan bagi terciptanya network kriptografi kuantum berbasis cahaya, yang diteorii kebal dari pembobolan. Tokoh2 di Swiss itu adalah Gisin dan rekan2nya: Afzelius, Riedmatten, Simon, dan Staudt. Yang dilakukan adalah menjebak foton dalam 100juta atom neodimium yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fisikawan di Swiss dilaporkan berhasil membuat piranti solid-state yang dapat menyimpan posisi foton selama satu mikrodetik. Ini diyakini membuka jalan bagi terciptanya network kriptografi kuantum berbasis cahaya, yang diteorii kebal dari pembobolan. Tokoh2 di Swiss itu adalah Gisin dan rekan2nya: Afzelius, Riedmatten, Simon, dan Staudt. Yang dilakukan adalah menjebak foton dalam 100juta atom neodimium yang ditanam di kristal yttrium orthovanadat yang didinginkan pada suhu 3K. Saat sebuah foton yang telah terikat kaitan (entanglement) dipancarkan ke kristal, foton itu tersimpan 1 mikrodetik, dan foton yang dilepaskan masih memiliki kaitan.</p>
<p>Inovasi Gisin dkk ini diharapkan membuka jalan untuk membentuk repeater kuantum. Repeater kuantum adalah komponen yang yang penting dalam jaringan informasi berbasis kuantum. Kita tahu, keadaan (state) pada cahaya hanya bertahan pada waktu yang singkat, sebelum terjadi perubahan yang tak dapat diramalkan. Maka dalam sebuah jaringan, perlu ada perekam keadaan kuantum cahaya yang akan meregenerasikan keadaan itu pada cahaya secara berkala. Nah, repeater kuantum semacam ini belum ada. Yang baru ada adalah piranti yang bisa menyimpan keadaan sebuah foton tanpa merusak keterkaitan kuantum (entanglement).</p>
<p>Oh ya. Entanglement sendiri adalah sebuah kondisi berpasangan pada materi pada skala kuantum. Beberapa entry awal pada blog ini cukup sering membahas ini, serta spekulasi pemanfaatannya. Entangelement memungkinkan jika dua foton berpasangan dipisahkan, pada pengukuran pada satu foton akan juga mengetahu kondisi kuantum foton pasangannya. Namun saat ini, pada serat optik, keterkaitan ini patah pada jarak 300km. Oktober lalu, kota Wina telah memasang network informasi kuantum, dengan rentang 200km, memanfaatkan kaitan kuantum ini. Tanpa repeater, akan sulit membuat rentang yang lebih jauh. Inovasi di Swiss ini diharapkan bisa jadi pembuka jalan.</p>
<p>Sebelum Gisin, telah ada eksperimen lain yang telah dilakukan, dengan menyusun dasar penyimpanan memori dengan interaksi cahaya dengan materi. Namun ini mengharuskan pembekuan atom hingga mendekati nol kelvin. Tim Gisin sendiri akan meneruskan eksperimen untuk mencapai waktu 1 milidetik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2008/12/19/selangkah-ke-repeater-kuantum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vielsi</title>
		<link>http://kun.co.ro/2008/11/21/vielsi/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2008/11/21/vielsi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 16:42:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[Science]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2394</guid>
		<description><![CDATA[Di (luar kota) Sukabumi, salah satu santri menanyakan tentang penemu blog dan tokoh blog. Untuk tokoh blog, tentu aku menjawab dengan &#8220;YOU&#8221; :), karena inti Web 2.0 memang peran serta kita semua sebagai subyek informasi. Dan untuk penemu, aku harus mengakui bahwa itu akan tergantung pada definisi blog. Hey, santri harus diajak berfikir, bukan menghafal. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di (luar kota) Sukabumi, salah satu santri menanyakan tentang penemu blog dan tokoh blog. Untuk tokoh blog, tentu aku menjawab dengan &#8220;YOU&#8221; :), karena inti Web 2.0 memang peran serta kita semua sebagai subyek informasi. Dan untuk penemu, aku harus mengakui bahwa itu akan tergantung pada definisi blog. Hey, santri harus diajak berfikir, bukan menghafal. Maka aku juga bercerita tentang sejarah komunikasi. Komunikasi wireless, misalnya. Sebelum seluler, ada radio, dan sebelumnya ada semafor, dan sebelumnya ada isyarat asap ala Indian. Inventor, kayak Newton bilang, memiliki visi lebih karena mereka juga berdiri di atas pundak inventor sebelumnya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://kuncoro.co.uk/uploads/angkasasvarnadvipa.jpg" alt="" /></p>
<p>Begitulah, maka setelah radio, gelombang cahaya dipakai lagi: semafore melalui kabel optik; dan kemudian semafore cahaya melalui udara. Semafore model ini dinamai komunikasi cahaya tampak, <em>visible light communications</em>, VLC. Gugus tugas IEEE 802.15 (<em>wireless personal area network</em>) turut mengkaji kemungkinan memanfaatkan VLC sebagai salah satu metode komunikasi. Bayangkan: gelombang cahaya, dari warna merah sampai ungu, memiliki rentang hingga 300THz, sementara radio hanya sampai 300GHz. Juga radio sering harus dibatasi karena mengganggu sistem elektronika navigasi dan perangkat medik. Cahaya, di luar itu. Regulasi cahaya hanya perlu agar tidak mengganggu mata (dan estetika). Sementara ini memang pengkajian VLC baru untuk jarak pendek dan menengah, menemani bluetooth dan inframerah.</p>
<p>Dr Joachim Walewski, peneliti dari Siemens, menyatakan mampu melakukan transmisi data hingga 100Mb/s menggunakan cahaya tampak. Transmisi menggunakan LED putih berperforma tinggi, dan receiver menggunakan sensor foto. Tak buruk untuk sebuah awal. 300Mb/s itu mungkin sekali, kata Walewski. Komisi Eropa menindaklanjuti dengan menyusun proyek penelitian bernama OMEGA, bertujuan menyusun bakuan jaringan rumah ultra-broadband dengan kecepatan data 1Gb/s. Salah satu contohnya adalah kantor France Telecom di Paris. Di sana, lampu atap akan mengirimkan data berkecepatan 100Mb/s. Masalah yang mungkin timbul adalah interferensi. Dengan sinar matahari, misalnya. Tetapi ini hal biasa yang mudah tertangani secara teknis. Ingat: inframerah juga dipancarkan matahari, tetapi interferensinya dengan sinyal komunikasi inframerah bisa diminimalkan.</p>
<p>Aplikasi awal untuk VLC, dalam bayangan, misalnya: autentikasi identitas, e-payment, komunikasi data dalam rumah (menggantikan WiFi?), komunikasi informasi antar mobil (kalau mobil di depan mengerem mendadak, ia akan mengirim sinyal cahaya ke mobil di belakangnya, yang secara otomatis akan melakukan perlambatan atau hal lain yang diperlukan), dll. Aplikasi yang tidak menarik, contohnya adalah VLC untuk menggantikan remote control inframerah. Kalau anak2 kecil sedang berebut acara, mereka akan dapat memanfaatkan cahaya VLC untuk saling menyerang. Tak heran, salah satu yang akan sangat diperhatikan IEEE dalam standardisasi VLC adalah soal keselamatan mata. Walewski sendiri aktif mengirimkan draft bakuan keselamatan pemanfaatan radiasi cahaya tampak ini ke Gugus Tugas IEEE 802.18 (Penasehat Teknis Regulasi Radio). Yuk, kita tunggu, dan mulai berkreasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2008/11/21/vielsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alexander Graham Bell</title>
		<link>http://kun.co.ro/2008/10/26/alexander-graham-bell/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2008/10/26/alexander-graham-bell/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 15:24:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[Science]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2382</guid>
		<description><![CDATA[Prelude. Dua bulan lalu, aku diminta memberikan kuliah umum buat para mahasiswa baru ITT. Temanya tentang teknologi mobile masa depan (ketika mereka akan mulai menulis skripsi &#8211;red). Aku sempat iseng bertanya, &#8220;Siapa penemu telefon?&#8221; Dari semua yang berani menjawab, hanya keluar satu jawaban: Alexander Graham Bell. Wow, mereka bener2 perlu kuliah :). Di sesi akhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Prelude. Dua bulan lalu, aku diminta memberikan kuliah umum buat para mahasiswa baru <a href="http://ittelkom.ac.id">ITT</a>. Temanya tentang teknologi mobile masa depan (ketika mereka akan mulai menulis skripsi &#8211;red). Aku sempat iseng bertanya, &#8220;Siapa penemu telefon?&#8221; Dari semua yang berani menjawab, hanya keluar satu jawaban: Alexander Graham Bell. Wow, mereka bener2 perlu kuliah :). Di sesi akhir (pembagian door prize), Sdr Eko Ramanda membagikan hadiah secara unik: siapa yang menyimpan pas foto ibu di dompet, itu yang menang. Hal yang bikin takjub dan terharu mendadak. Telkom banget Mas Eko tuh :). Keren.</p>
<p>OK, kembali ke Bell. Jadi Bell bukan penemu telepon. Antonio Meucci, seorang Italia, konon telah mulai merancang piranti telefoni pada 1834 di Milano. Bermigrasi ke Amerika, ia teruskan perangkatnya menjadi sistem yang berjalan baik pada 1850. Saat istrinya lumpuh di tahun 1855, Meucci memasangkan sistem interkom dari rumahnya ke tempat kerjanya tak jauh dari situ. Namun saat giliran Meucci yang sakit, istrinya menjual prototip telefon itu ke agen barang bekas seharga US$6 (baca buku Laura Ingalls kalau ingin merasakan nilai US$6 saat itu). Meucci memang selalu hidup dalam kemiskinan. Ia mengajukan paten telefon pada 1871. Tetapi pemrosesan di negara kapitalis itu lama dan terus memerlukan uang. Meucci membayarnya per tahun. Tahun 1874, Meucci tak sanggup lagi membayar biaya pemrosesan patent. Dan pada tahun 1876, Alexander Graham Bell memperoleh paten untuk telefon. Tentu saja kemudian Meucci memprotesnya. Tetapi secara ajaib, berkas2 Meucci hilang, sehingga klaim Meucci tak dapat diperkuat. Pengadilan digelar. Di sana, Meucci memaparkan penemuannya secara meyakinkan, sehingga diyakini Meucci akan memenangkan sidang. Tapi ia tetap kalah. Lebih dari 100 tahun kemudian, di tahun 2002, barulah <a href="http://www.house.gov/fossella/Press/pr020611.htm">Meucci diakui sebagai penemu telefon</a>.</p>
<p><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/85/1876_Bell_Speaking_into_Telephone.jpg/180px-1876_Bell_Speaking_into_Telephone.jpg" alt="" align="right" />Kasus Meucci ini jelas mencoreng nama Bell sebagai kapitalis. Tapi tidak sebagai penemu. Banyak pihak meyakini bahwa penemuan Bell sama sekali tidak mencontek Meucci (atau Elisha Gray, atau Thomas Alva Edison). Sejak muda, Aleck terbiasa menyelidik soal transmisi suara. Saat ibunya mulai tuli, Aleck sadar bahwa ia tetap bisa bicara dengan ibunya dengan menempelkan bibir ke kepala ibunya sambil bicara &#8212; dan dengan demikian menggetarkan tulang2 di dalamnya. Ia menggetarkan dawai piano di sebuah ruang dan mengamati dawai yang senada di piano di ruang lain ikut bergetar. Lalu ia memanfaatkan gelaja elektromagnetik untuk meneruskan model resonansi ini bersama asistennya, Thomas Watson (kebetulan bukan Watson yang sama dengan pakar behaviorisme atau asisten Sherlock Holmes). Dan jadilah telefon ciptaan Bell.</p>
<p>Tapi Bell tak berhenti di situ. Bahkan sebelum <a href="http://kun.co.ro/2006/01/20/nikola-tesla/">Nikola Tesla</a> mencobai transmisi suara tanpa kabel (dengan gelombang radio), Bell sudah mencobai telefon nirkabelnya pada tahun 1880. Dengan nama photophone, telefon nirkabel Bell ini menggunakan transmisi cahaya.</p>
<p>Bagaimana caranya? Bell memproyeksikan suara melalui perangkatnya sehingga menggetarkan sebuah cermin. Sinar matahari yang dipantulkan oleh cermin itu turut membentuk pola getar suara. Sisi penerima menerima pantulan cahaya yang gemeletar itu, dan mentransformasikan kembali ke bentuk suara. Tentu belum praktis. Tapi bayangkan: wireless phone, dan komunikasi optik, pada tahun 1880.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2008/10/26/alexander-graham-bell/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Service Delivery Platform</title>
		<link>http://kun.co.ro/2008/09/24/service-delivery-platform/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2008/09/24/service-delivery-platform/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 10:16:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[ims]]></category>
		<category><![CDATA[NGMN]]></category>
		<category><![CDATA[ngn]]></category>
		<category><![CDATA[sdp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2346</guid>
		<description><![CDATA[Konvergensi bahkan telah menjadi kata kunci sejak akhir abad lalu. Namun hingga kini, belum seluruh aspek komunikasi (network, service, content) terkonvergensi. Diharapkan sih, saat kita memasuki deployment 4G pada 2012-2015, seluruh aspek telah terpadukan, termasuk personalisasi layanan dan pervasiveness. Bertahap, dalam sesi2. Tantangan pada sesi ini adalah SDP: service delivery platform (tapi memang, ada banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konvergensi bahkan telah menjadi kata kunci sejak akhir abad lalu. Namun hingga kini, belum seluruh aspek komunikasi (network, service, content) terkonvergensi. Diharapkan sih, saat kita memasuki deployment 4G pada 2012-2015, seluruh aspek telah terpadukan, termasuk personalisasi layanan dan pervasiveness. Bertahap, dalam sesi2. Tantangan pada sesi ini adalah SDP: service delivery platform (tapi memang, <a href="http://kuncoro.wordpress.com/2008/09/24/sdp/">ada banyak kepanjangan SDP di network engineering</a> &#8212; huh).</p>
<p>IMS memberikan arsitektur yang lengkap, dari level transport data, kontrol, persinyalan, hingga service dan aplikasi. Ini adalah platform untuk next generation (mobile) network, sebagai penerus jaringan telekomunikasi masa kini. Namun di sisi lain, bersama dengan mulai diimplementasikannya IMS ini, telah tumbuh juga layanan2 Internet dengan dinamikanya sendiri: Web 2.0, multimedia streaming, IPTV. Yang terasa misalnya bahwa pembicaraan tentang 3G-mobile jadi lebih sering berfokus pada bandwidth dan resource terkait, yang bisa jalan dengan atau tanpa IMS. Terbentuk arsitektur terpadu tersendiri dalam penyampaian layanan Internet ke user. Ini kadang disebut sebagai IT-based SDP. Seolah ada dua kutub: IMS dan IT-based SDP.</p>
<p>Beberapa risalah di IEEE mengkaji praktek2 terbaik dari kedua macam network, termasuk percobaan untuk meramu IMS-based SDP. Hey, jangan lupa, next-generation IMS juga mendukung RTSP dan HTTP loh :). Di bawah ini salah satu arsitektur yang disarankan, untuk menyediakan SDP yang efektif untuk IT services masa kini, sekaligus comply terhadap IMS.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2008/09/sdp-0011.png"><img class="size-full wp-image-2349 aligncenter" title="SDP" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2008/09/sdp-0011.png" alt="" width="410" height="291" /></a></p>
<p>Layer-layer pada arsitektur SDP ini dapat dipetakan pada plane-plane IMS. Bukan hanya untuk menjamin keterpaduan layanan-layanan Internet dan NG(M)N; tetapi juga untuk memastikan bahwa deployment IMS nantinya akan langsung menapak tepat pada aplikasi yang aktif dan dinamis digunakan user saat ini, tanpa mengharuskan migrasi skala besar.</p>
<p>Tapi tentu, network engineering itu ilmu dan sekaligus seni. Penataan arsitektur network tak dapat diringkas dengan sebuah buku resep, setebal apa pun bukunya. Komunikasi adalah tools bagi user, dan mencerminkan dinamika user yang beraneka ragam. OK, saatnya merancang SDP untuk network &amp; lifestyle kita sendiri :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2008/09/24/service-delivery-platform/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Platform Smartphone Masakini</title>
		<link>http://kun.co.ro/2008/08/25/platform-smartphone-masakini/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2008/08/25/platform-smartphone-masakini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 10:12:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Computing]]></category>
		<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[Mobile]]></category>
		<category><![CDATA[os]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2290</guid>
		<description><![CDATA[Analis pasar Canalys melaporan: Symbian masih jadi platform aplikasi terminal mobile terbesar secara internasional: nyaris dua pertiga pangsa pasar. Padahal setiap terminal dipungut royalti US$5. Tapi khusus di US, pangsanya berbeda: pasar dikuasai Microsoft (Windows Mobile), Apple (iPhone), dan RIM (Blackberry). Dan kalau kita lihat, semuanya adalah platform yang bersifat propietary. Linux punya share kurang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Analis pasar Canalys melaporan: Symbian masih jadi platform aplikasi terminal mobile terbesar secara internasional: nyaris dua pertiga pangsa pasar. Padahal setiap terminal dipungut royalti US$5. Tapi khusus di US, pangsanya berbeda: pasar dikuasai Microsoft (Windows Mobile), Apple (iPhone), dan RIM (Blackberry). Dan kalau kita lihat, semuanya adalah platform yang bersifat propietary. Linux punya share kurang dari 10% saja.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-2289 aligncenter" title="mobileplatformmarketshare" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2008/08/mobileplatformmarketshare.png" alt="" width="400" height="267" /></p>
<p>Platform berlinux a.l. Android, LiMo, dan Openmoko. Android merupakan ekspansi Google ke dunia mobile. Arah pengembangan bersifat open source, berbasis Linux, tetapi menggunakan virtual machine mirip Java, jadi mirip iPhone (Apple) atau Brew (Qualcomm). Semua tools bisa didownload gratis dari Google. LiMo baru mengeluarkan spesifikasi API, dan baru berencana meluncurkan SDK. Tapi dokumen selain spek API baru bisa didapat setelah kita mendaftar ke Yayasan LiMo dengan membayar US$40000.</p>
<p>Menariknya, beberapa platform propietary nampaknya tengah bertransisi ke arah open source. Symbian termasuk di antaranya. Platform yang juga bertransisi adalah MOAP dan Palm. Ya, palm yang pernah populer di PDA itu tengah bertransisi dari PalmOS propietary ke OS baru berbasis Linux.</p>
<p>Apa nih, pengaruhnya buat kita?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2008/08/25/platform-smartphone-masakini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IEEE P1900: CR, DSA, Koeksistensi</title>
		<link>http://kun.co.ro/2008/07/29/ieee-p1900/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2008/07/29/ieee-p1900/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 16:49:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IEEE]]></category>
		<category><![CDATA[Network]]></category>
		<category><![CDATA[Mobile]]></category>
		<category><![CDATA[P1900]]></category>
		<category><![CDATA[WiMAX]]></category>
		<category><![CDATA[Wireless]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2201</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu tema dalam IEEE Communications bulan ini adalah standar2 dalam networking. Kumpulan artikel diawali dengan ringkasan standar yang disponsori berbagai society di dalam IEEE. POSIX dan 802 misalnya, disponsori oleh Computer Society, sementara personal communications oleh Communications Society. Lalu update standar2 &#8212; 802.3av, 802.11n, 802.20, PLC, serta keluarganya, lalu … hmmm, standar untuk mendukung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu tema dalam IEEE Communications bulan ini adalah standar2 dalam networking. Kumpulan artikel diawali dengan ringkasan standar yang disponsori berbagai society di dalam IEEE. POSIX dan 802 misalnya, disponsori oleh Computer Society, sementara personal communications oleh Communications Society. Lalu update standar2 &#8212; 802.3av, 802.11n, 802.20, PLC, serta keluarganya, lalu … hmmm, standar untuk mendukung cognitive radio (CR), dynamic spectrum access (DSA), dan koeksistensi. Kelihatannya yang terakhir pas dengan yang lagi sering kita kaji.</p>
<p>CR sering didefinisikan sebagai software-defined radio (SDR), yaitu saat perangkat radio mampu secara cerdas menentukan kebutuhan dan memilih  sumberdaya radionya sesuai konteks. Standar semacam WiFi (802.11), Zigbee (802.15.4), serta WiMAX (802.16) telah memiliki level teknologi CR tertentu. 802.22 akan menjadi standar internasional berbasis CR pertama. CR akan berkait erat dengan akses spectrum yang bersifat dinamis (DSA). Namun yang menarik tentu keterkaitan antara CR dan koeksistensi: pemilihan sumberdaya yang menentukan jenis akses radio sebuah komunikasi.</p>
<p>Sebuah komite, <a href="http://www.scc41.org">SCC41</a> dibentuk dengan focus pada DSA. Standar yang tengah dikerjakan adalah serial IEEE P1900. P1900.1 (target Des 2008) menyusun konsep next generation radio systems dan spectrum management. P1900.2 (target Des 2008) merekomendasikan praktek koeksistensi dan interferensi. P1900.3 (target Feb 2011) mengevaluasi sistem radio dengan DSA. P1900.4 (target Des 2007) menyusun arsitektur sistem yang memungkinkan optimasi sumberdaya radio dalam jaringan heterogen.</p>
<p>P1900 (lihat gambar deh) memungkinkan pengelolaan spectrum antara jaringan yang paham CR dan yang tidak.</p>
<p><a href="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2008/08/p19004.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-2213" title="IEEE-P1900.4" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2008/08/p19004.png" alt="" width="400" height="257" /></a></p>
<p>Network reconfiguration management (NRM) berkomunikasi dengan terminal radio management (TRM) membentuk interoperabilitas antara jaringan2 radio tanpa infrastruktur. Perangkat komplian P1900.4 memungkinkan rekonfigurasi network dan terminal yang berikutnya memungkinkan pemindahan yang seharusnya tak terasa (seamless).</p>
<p>Direncanakan akan ada P1900.5 yang membahas bahasa policy, dan P1900.6 untuk RF sensing. Standar lain yang juga akan sudah mengadopsi soal CR, DSA, dan koeksistensi adalah 802.22 (Sep 2009), 802.19 (Sep 2008), 802.16h (Sep 2008), 802.16m (a.k.a. <a href="http://kun.co.ro/2007/12/05/ngms/">WiMAX II atau WiMAX next generation</a>, Des 2009), serta 802.11y (Des 2009).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2008/07/29/ieee-p1900/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CFP: Internetworking Indonesia</title>
		<link>http://kun.co.ro/2008/06/03/cfp-internetworking-indonesia/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2008/06/03/cfp-internetworking-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 19:26:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Network]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/2008/06/03/cfp-internetworking-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Internetworking Indonesia:
Indonesian Journal of ICT and Internet Development
Deadline for submissions:     30 October 2008
Notification of acceptance:   30 December 2008
Author Final Revision (CRC):  30 January 2009
Internetworking Indonesia is a semi-annual journal devoted to the timely study of the Information and Communication Technology (ICT) and Internet development in Indonesia. The journal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Internetworking Indonesia:<br />
Indonesian Journal of ICT and Internet Development</p>
<p>Deadline for submissions:     30 October 2008<br />
Notification of acceptance:   30 December 2008<br />
Author Final Revision (CRC):  30 January 2009</p>
<p>Internetworking Indonesia is a semi-annual journal devoted to the timely study of the Information and Communication Technology (ICT) and Internet development in Indonesia. The journal seeks high-quality manuscripts on the challenges and opportunities presented by information technology and the Internet in Indonesia.</p>
<p><strong>FOCUS &amp; SCOPE</strong><br />
Internetworking Indonesia aims to become the foremost publication for practitioners, teachers, researchers and policy makers to share their knowledge and experience in the design, development, implementation, and the management of ICT and the Internet in Indonesia.</p>
<p><strong>TOPICS</strong><br />
Internetworking Indonesia welcomes and strongly encourages submissions based on interdisciplinary approaches focusing on ICT &amp; Internet development and its related aspects in the Indonesian context. These include (but not limited to) information technology, communications technology, computer sciences, electrical engineering, and the broader social studies  regarding ICT and Internet development in Indonesia.</p>
<p>Possible topics include, but are not limited to:</p>
<ul>
<li>Information technology and information systems</li>
<li>Communications technology</li>
<li>Software and hardware engineering</li>
<li> Applications and services</li>
<li> Broadband and telecommunications technologies</li>
<li> Mobile and wireless networks</li>
<li> Internet infrastructure systems, protocols and technologies</li>
<li> Technical challenges and developments of computer networks in Indonesia</li>
<li> Internet Infrastructure development in Indonesia</li>
<li> Multimedia and content development</li>
<li> Education and distant learning</li>
<li> Communications policy development and regulatory issues in the Indonesian context</li>
<li> E-Government in Indonesia</li>
<li> Internet governance in Indonesia</li>
<li> Open source software development and deployment</li>
<li> Social and economic impact of ICT and Internet technologies to the Indonesian society.</li>
<li> Social networks, Peer-to-Peer computing and blogging</li>
</ul>
<p><strong>SUBMISSION GUIDELINES</strong><br />
Internetworking Indonesia accepts a variety of manuscripts in both English and Bahasa Indonesia. Please review the descriptions below and identify the submission type best suited to your intended submission:</p>
<ul>
<li>Research Paper: Research papers are theoretically driven, focusing  on an area listed in the Topics.</li>
<li>Technical paper: Technical papers present advances and research results in a given area study.</li>
<li>Policy Viewpoint: Policy Viewpoints explore competing perspectives  in the Indonesian policy debate that are informed by academic research.</li>
<li>Teaching Innovation: Teaching Innovation papers explore creative uses of information technology tools and the Internet to improve learning and education in Indonesia.</li>
<li>Book Reviews: A review of a book, or other book-length document, such as a government report or foundation report. (3 pages max.)</li>
</ul>
<p><strong>SUBMISSION LANGUAGE</strong><br />
Manuscripts in English and Bahasa Indonesia are accepted.</p>
<p><strong>MANUSCRIPT SUBMISSION</strong><br />
Manuscripts should be submitted according to the IEEE Guide for authors, and will be refereed in the standard way. Manuscript pages should not exceed 7 pages of the IEEE 2-column format, preferably submitted electronically in an MS-Word file format.</p>
<p>All manuscripts should be submitted electronically.  Please visit <a href="http://www.InternetworkingIndonesia.org">www.InternetworkingIndonesia.org</a> for more information.</p>
<p>Manuscripts submitted to Internetworking Indonesia must not have been previously published or committed to another publisher under a copyright transfer agreement, and must not be under consideration by another journal.</p>
<p>Authors of accepted papers are responsible for the Camera Ready Copy (CRC) in the IEEE 2-column format (MS-Word file). Authors are advised that no revisions of the manuscript can be made after acceptance by the Editor for publication. The benefits of this procedure are many, with speed and accuracy being the most obvious. We look forward to working with your electronic submission which will allow us to serve you more efficiently.</p>
<p><strong>CO-EDITORS</strong></p>
<ul>
<li> Thomas Hardjono, PhD (Wave Systems, USA)</li>
<li> Budi Rahardjo, PhD (ITB, Indonesia)</li>
<li> Kuncoro Wastuwibowo, MSc (PT. Telkom Indonesia)</li>
</ul>
<p><strong>EDITORIAL ADVISORY BOARD</strong></p>
<ul>
<li> Mark Baugher, MA (Cisco Systems, USA)</li>
<li> Lakshminath Dondeti, PhD (Qualcomm, USA)</li>
<li> Prof. Merlyna Lim, PhD (Arizona State University, USA)</li>
<li> Prof. Bambang Parmanto, PhD (University of Pittsburgh, USA)</li>
<li> Prof. Wishnu Prasetya, PhD (Utrecht University, The Netherlands)</li>
<li> Prof. Jennifer Seberry, PhD (University of Wollongong, Australia)</li>
<li> Prof. Willy Susilo, PhD (University of Wollongong, Australia)</li>
</ul>
<p><strong>OPEN ACCESS PUBLICATION POLICY</strong><br />
The Internetworking Indonesia journal provides open access to all of its content on the principle that making research freely available to the public supports a greater global exchange of knowledge. This is the philosophy of the Open Journal Systems (see the Public Knowledge Project at <a href="http://pkp.sfu.ca">pkp.sfu.ca</a>). The journal will be published electronically and there are no subscription fees. Such access is associated with increased readership and increased citation of an author&#8217;s work.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2008/06/03/cfp-internetworking-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
