4G Forum di Taiwan

Wed 14 July 2010, 08:07 UTC

Di kalender, kunjungan jarak jauh berikutnya masih bulan September: sebuah konferensi di Beijing. Tapi mendadak masuk permintaan untuk mengisi satu sesi dalam 4G International Forum yang diselenggarakan di Sheraton Taipei. Hahah, Obama aja cuman di G20, G7. Ini G4 coba :p.

Paper sudah dimasukkan di bulan Juni. Visa diurus dalam waktu 3 hari (tulisan tentang ini ada di blog satunya). Sayangnya Garuda Indonesia tak terbang langsung ke Taiwan. China Airlines menyelenggarakan shared-code flight bersama Garuda, tapi jadwalnya tak menarik (dan tidak aku paksakan juga — ini bukan Garuda beneran). Akhirnya Singapore Airlines. Berangkat Minggu pagi lalu, dengan penerbangan pukul 6:00 WIB, transit di Singapore (08:00 – 11:00 waktu Singapore), dan tiba di Taipei Taoyuan Airport pukul 17:00 waktu Taiwan. Sore itu, aku kontak Erly Bahsan, seorang blogger yang aku kenal di angkatan kedua (2001 ke atas, waktu blogger sudah mulai membentuk komunitas, blogger.com sudah membuat blogspot.com, dll). Erly meneruskan kuliah di Taiwan sejak tahun lalu, dan lebih aktif tweeting daripada blogging :).

Senin 12 Juli, 4G Forum dimulai. Speaker berasal dari kampus dan lembaga riset (termasuk dari RRC, di mana merupakan keluarbiasaan bahwa mereka bisa datang ke Taiwan), dari developer dan manufacturer (Nokia Siemens Network, Ericsson, Alcatel Lucent, Huawei), lembaga konsultansi, regulator, operator, dll. Hari ini aku banyak mempelajari berbagai aspek 4G Mobile yang ditinjau dari berbagai sisi. Cukup berimbang antara penyajian madzhab LTE dengan madzhab WiMAX, serta berbagai urusan interoperabilitas serta aplikasi bersama. Sangat memperkaya, haha :). Tidak ada waktu buat break. Coffee time, lunch time, dipakai untuk networking dan perbincangan2 lain. Kalau aku sempat duduk sekedar tweeting, Mr Enoch Tan akan memperkenalkanku ke salah satu tokoh penting (diempasis seperti itu) yang harus diajak berbincang. Seru, asik, menegangkan (nggak boleh ngantuk). Aku sempat tweeting justru sambil mendengarkan presentasi :).

Ada sebuah peragaan WiMAX yang menarik. WiMAX, dikoneksi via WiFi ke iPad, digunakan untuk menampilkan sebuah video dari iPad. Kecepatannya bisa melebihi video yang sama yang ditampilkan secara lokal dari sebuah notebook di sebelahnya. Menarik. Juga penggunakan telefon via WiMAX.

Anehnya, tidak ada acara yang disiapkan untuk malamnya. Tidak ada semacam gala dinner atau hal2 semacam itu. Dan karena malam tak sehat buat aku jalan2 keliling, aku mengunjungi tiga titik di Taipei: Sun Yat Sen memorial hall, Taipei 101 tower, dan terakhir Chiang Kai Shek memorial hall. Aku cuman mau lihat arsitektur dari hal2 yang dikerjakan dengan keseriusan tingkat tinggi (untuk menghormati orang2 yang dianggap penting). Di Taipei 101, aku menyesatkan diri ke toko buku (wajib ini mah). Dapat Le Petit Prince edisi huruf kanji, dalam versi halaman kanan (kayak Al-Quran) dan versi halaman kanan (kayak buku Sang Kancil). Tak sia2 memilih CKS Memorial paling malam. Tampilan malamnya pun masih menarik, dengan langit malam musim panas yang masih merona merah. Tapi aku memang dilarang jalan malam. Kondisi badan turun lagi. Balik lagi ke Sheraton. Oh ya, aku jalan2 sendiri, jadi nggak ada yang ambilin foto, haha :).

Selasa 13 Juli, forum dilanjutkan. Di hari kedua ini, bentuknya gabungan antara presentasi dan panel. Aku memperoleh giliran berpresentasi di sesi pertama, giliran kedua. Judul presentasinya klasik nian: “4G Mobile: opportunities & challenges in Indonesia” :). Dipresentasikan dalam 20 menit, aku memulai dengan bercerita tentang kondisi Indonesia: bagaimana publik cukup mengantusiasi gaya hidup mobile Internet, dilihat dari rank Twitter, Facebook, dan Opera Mini kita. Lalu persiapan2 Telkom Group masuk ke network 4G (LTE dan WiMAX). Lalu ke bagaimana ini dimatchkan dengan potensi dan demand dari komunitas developers, enthusiasts, dan lifestylists (nggak, aku nggak pakai istilah kayak gini) se-Indonesia. Sedikit juga tentang Indigo, IPTV, dan SDF/SDP. Lalu beberapa model implementasi LTE untuk daerah dan segmen yang beragam, dengan model migrasi yang berbeda. Lalu ke regulasi WiMAX. Selesai tepat 20 menit.

Setelah presentasi itu, aku harus menunggu 20 menit untuk mendengarkan presentasi implementasi 4G, khususnya WiMAX, di Filipina. Dan aku harus naik panggung lagi untuk mengikuti diskusi panel yang memakan waktu setengah jam. Tugasku selesai.

Selesai? Tentu tidak. Di bawah, networking masih berlanjut. Sekarang aku diperintahkan Mr Tan untuk menemui Profesor dari RRC itu (nggak ditulis namanya ah, takut digoogle beliau). Beliau memiliki posisi cukup penting, dan harus dikawal beberapa orang :). Seharusnya aku datang dari Indonesia nggak sendirian :). Diskusi serius tentang regulasi, tentang IEEE, tentang konferensi lainnya, dll. Lalu diskusi lagi dengan pihak dari kementrian Taiwan. Lalu aku pamit ke Mr Tan untuk pulang duluan.

Pesawatku berangkat tengah hari; jadi aku tak mengikuti konferensi sampai selesai. Rincian perjalanan aku tulis saja nanti di blog satunya :). Taipei ditempuh dalam 5 jam melalui turbulensi yang khas Asia Timur. Haha. Kalimat peringatan bahwa kondisi udara sedang buruk itu tidak pernah diseriusi lagi oleh siapa pun, karena jadi peringatan rutin di kawasan ini (termasuk Indonesia). Transit sebentar di Singapore, melaju lagi ke Jakarta, dan melandas menjelang tengah malam.

Aku bangun setiap sekian menit tadi malam. Efek turbulensi tak menggangguku di angkasa. Tapi sampai darat, ia masih berlanjut. Rasanya kasur terus berputar.

Network, Travel | 11 Comments »
 
 

LTE-Advanced vs WiMAX II

Thu 24 June 2010, 00:06 UTC

Pertengahan 2010 ini, IEEE Comsoc Indonesia Chapter akan mengubah tema kuliah 4G-nya, dari Opening The Gates to 4G menjadi 4G Engineering. Khalayak akademis dan industri telah makin mengenal teknologi mobile 4G, dan mulai menyusun rancangan network 4G mereka. Telkomsel, provider selular di Indonesia yang terdepan dalam teknologi, sejak tahun lalu menunjukkan komitmennya bergerak ke LTE; dan telah melakukan paparan publik minggu lalu. Mengikuti jadwal dari ITU-R, 4G memang baru akan dideploy secara luas pada tahun 2015. Tahun 2010 ini yang harus dilakukan adalah penyusunan detail teknis setiap kandidat, yang diikuti implementasi awal di tahun 2012. LTE yang ada sekarang adalah bakuan 3GPP Release 8 yang masih disebut Pra-4G, seperti juga WiMAX Mobile (IEEE 802.16e). Kandidat yang sesungguhnya untuk 4G adalah LTE-Advanced (3GPP Release 10) dan WiMAX II (WiMAX Mobile Profile 2, atau IEEE 802.16m).

Baik LTE dan WiMAX menggunakan OFDMA, kecuali sisi upstream dari LTE yang menggunakan single-carrier FDMA untuk mengurangi beban pada terminal. Kecepatan data maksimal (dalam kondisi ideal) diharapkan dapat mencapai 1 Gb/s pada LTE-Advanced, dan 350 Mb/s pada WiMAX II, pada sisi downstream; jika ketersediaan spektrum penuh 20 MHz. Efisiensi spektrum memang diharapkan meningkat sekitar 50% dari LTE ke LTE-Advanced dan dari WiMAX ke WiMAX II. Baik LTE-Advanced maupun WiMAX II diharapkan mampu mentransportasikan data pada user dengan kecepatan gerak maksimal 350 km/jam.

Detail teknis lebih rinci, untuk LTE-Advanced dapat diacu di tlk.lv/lte, dan untuk WiMAX II di tlk.lv/wimax. Sebelum melakukan perbandingan teknis, kita perlu ingat bahwa ada perbedaan tata istilah antara kedua madzhab itu, dengan nuansa interpretasi teknis yang mungkin membuat keduanya tak mudah secara tepat dibandingkan.

LTE telah digelar secara komersial oleh TeliaSonera di wilayah Skandinavia, yaitu di Stockholm (dengan vendor Ericsson) dan Oslo (dengan vendor Huawei). WiMAX mengaku telah digelar 500-an provider. Tapi belum ada satu provider pun yang menggelar LTE-Advanced maupun WiMAX II.

Kedua madzhab memiliki kekuatan cukup berimbang. LTE didukung provider selular incumbent yang merupakan mayoritas penyelenggara telekomunikasi, dengan pengalaman panjang, dan jumlah user yang besar. Namun 4G bukan melulu soal telekomunikasi: ia adalah komunikasi informasi. WiMAX telah banyak digelar (termasuk sebagian oleh provider yang sama), dan didukung lebih banyak developer baru, dengan content2 yang terproliferasi cepat dari kawasan dunia IT (dibandingkan dunia telekomunikasi yang pengembangan contentnya tak dapat terlalu cepat). Arsitektur network yang bersifat hibrida lebih mungkin dibangun untuk membentuk integrasi yang merupakan saingan keras bagi operator LTE.

Di kuliah2 IEEE, selalu kami ingatkan bahwa 4G bukan hanya soal network, dan bukan hanya soal kecepatan data :). Cognitive-radio, context-aware services & contents, dan user-defined environment merupakan nature bisnis pada dunia mobile 4G. Kekuatan beralih pada user yang memiliki kekuatan untuk memilih sendiri (tanpa dibelenggu keterikatan): admin, network, service, dan context. Tarif, price, dan keseluruhan gaya bisnis akan menjadi dinamis dan menjadi bentuk yang berbeda.

Sambil menunggu deployment, ada cukup waktu — tapi tidak panjang — untuk mulai merancang layanan2 inovatif untuk memperkaya gaya hidup mobile digital kita beberapa tahun ke depan. Komersialiasi lebih dimungkinkan bagi pemain lokal dan para startup. Tapi, memang perlu semangat juang yang tinggi dan ekstra keras, karena kompetisi pun tak bertambah ringan :).

IEEE, Network | 4 Comments »
 
 

Digital Service Delivery Framework

Thu 17 June 2010, 12:06 UTC

Istilah konvergensi bahkan telah mengemuka waktu aku masih kuliah. ISDN waktu itu telah dikembangkan bertahun-tahun (pertama kali aku baca di majalah Time waktu aku masih SMA), dengan keinginan menyatukan komunikasi suara dan data dalam satu jaringan. Waktu akhirnya para operator mengimplementasikan ISDN, ATM (asynchronous transport module) mulai distandarkan, dan dunia komputasi memperluas jaringannya dengan Internet. Konvergensi diarahkan ke jaringan broadband, antara jaringan telefoni digital, Internet, dan media broadcasting yang waktu itu masih menggunakan CaTV. Lebih dari 10 tahun kemudian, kita telah memiliki jaringan2 yang memiliki layer network yang sama: IP. Internet. Jaringan telekomukasi di-NGN-kan dengan IMS dan TISPAN. Internet menjelma menjadi Broadband Internet dengan gebyar Web 2.o. Media telah memiliki IPTV dengan interaktivitas yang menarik. Namun konvergensi belum terjadi :)

Sifat dari network-network itu mungkin memang berbeda. Bukan dari karakteristik trafiknya. Itu sudah teratasi sekian tahun yang lalu dengan IntServ/DiffServ, MPLS, dll. Sifat pengembangan produk di atas network2 itu berbeda. Di telefoni, layanan voice, SMS, akses Internet, telah menghasilkan revenue yang besar, dengan pengelolaan customer yang relatif baik, dengan produk yang pemakaiannya bisa ditagihkan ke customer yang real.  Masalahnya adalah produk di benua ini tak cepat berkembang. Prosesnya lama, melibatkan segala aspek di dalam infrastuktur network dan bisnis yang panjang. Pun, revenue di sini sudah waktunya menurun. Decline. Dan ini bersifat global, di mana pun. Di benua yang lain, ranah web dan Internet, produk2 baru bermunculan setiap hari. Waktu pengembangan, implementasi, deployment, amat cepat. Namun tak banyak revenue yang bisa diambil dari produk digital di ranah ini, selain dari advertising. Dan advertising pun jumlahnya terbatas. Andai ada cara untuk menggabungkan kekuatan untuk menciptakan layanan yang inovatif, tepat kebutuhan, namun tersampaikan secara tepat ke customer yang terdata dan terkelola, dan dapat menghasilkan revenue yang kemudian dapat digunakan untuk inovasi lebih lanjut, tentu dunia kreasi digital jadi lebih menarik dan berwarna. Dan itu misi konvergensi di tahap ini.

Di forum Fresh tahun lalu, aku sempat menyinggung tentang SDP (service delivery platform). Jejaknya masih bisa dicari di blog ini :). SDP diharapkan mampu menjembatani berbagai aplikasi dan layanan digital, diabstraksikan dan diorkestrasikan dengan database user dan konteks2 penting lainnya (lokasi misalnya, dan informasi perangkat, preferensi user, peta, layanan publik, dll, dll), lalu disampaikan melalui virtualisasi network dan terminal, untuk diterjemahkan sebagai layanan real ke atas berbagai jenis jaringan (telefon, televisi, mobile) ke berbagai jenis perangkat (HP, smartphone aneka platform, TV, dll).

Tampaknya ideal. Tapi ternyata belum terjadi konvergensi juga. Layanan tradisional, seperti voice (mobile dan fix), message, dll, dengan tingkat kehandalan yang dipersyaratkan, belum dapat dimasukkan. Dunia telefoni memiliki jawaban yang menarik: IMS. IMS memang terpusat di layanan dengan sesi-sesi yang jelas, seperti telefoni, dan menggunakan protokol yang distandarkan, yaitu SIP. Namun mulai ada prakarsa untuk memperluas IMS untuk juga menangani sesi-sesi web, video streaming, dan televisi. Apa pun itu, abstraksi di sisi layanan masih akan harus dijajagi dari awal jika hendak dimasukkan ke dunia IMS.

Yang akan menarik adalah mencoba mencoba menggabungkan IMS dengan SDP. Entah kenapa ini mengingatkan aku pada penggabungan MPLS dengan ATM, dalam arti banyak skema2 menarik yang diajukan untuk penggabungan IMS dan SDP ini, sesuai dengan optimasi masing2. Membacai berbagai skema2 ini pun sudah cukup mengurangi waktu bobo, dan membuat kopi jadi menu utama :). Gambar di bawah ini adalah salah satu yang aku pikir cukup pas untuk dunia kita

Pertama, aplikasi dibagi tiga dulu. Aplikasi2 yang selama ini sudah ada di dalam network (komunikasi telefon, message, dll), yang secara tradisional telah menghasilkan revenue tinggi dan harus dipertahankan, dan dioperasikan langsung oleh network operator, dapat memiliki link langsung ke seluruh resource network. Pragmatis. Agak2 bersifat hardwired. Aplikasi semacam ini dapat langsung dihubungkan ke dalam IMS, atau network-centric part. Aplikasi lain, yang bersifat inovatif, mudah diciptakan dan dimodifikasi oleh tim pengembang atau oleh komunitas di luar; ditempatkan mengikuti arsitektur SOA (dalam IT-centric part), dan dapat memiliki akses ke network, enabler (pengelolaan konteks), maupun sumberdaya lain. Aplikasi jenis ketiga, dari dunia Web 2.0 dengan berbagai mashup-nya, yang bersifat long tail (kecil namun potensial), dapat memiliki akses melalui widget2 dan melalui aplikasi built-in yang menghubungkannya dengan sumberdaya di dalam SDP.

Ini tentu adalah diskusi awal yang memerlukan eksplorasi yang panjang. Deksripsi semacam ini pun agak tak masuk akal disajikan dalam sebuah entry blog dengan panjang kurang dari 10 paragraf semacam ini. Mestinya melalui Twitter, haha.

Weekend ini aku mau ke Malang untuk mendiskusikan soal ini. Ada yang berminat bergabung? Sila hubungi Departemen Teknik Elektro Universitas Brawijaya.

Network | 4 Comments »
 
 

Ultah IEEE 802

Thu 18 March 2010, 05:03 UTC

Pada bulan Maret 1980, beberapa perusahaan, termasuk DEC, HP, IBM, Intel, dan Xerox mulai mengkristalkan gagasan untuk membentuk sebuah komite komunikasi data di bawah IEEE. IEEE dipilih karena sifatnya yang netral dan lebih berfokus pada soal teknis. Komite ini akhirnya dibentuk, dengan Maris Graube dari Tektronix sebagai ketua.

Aku pernah Kerja Praktek di LEN. Di sana, aku sempat mendapatkan tugas mendayagunakan interface IEEE 488 GPIB yang tak banyak disentuh. Graube juga beranjak dari standar itu, tetapi ia berminat melakukan standardisasi untuk interface pada jarak yang lebih jauh. Salah satu standar pertama dari IEEE 802 — begitu Komite Standard ini dinamakan — adalah Ethernet. Menariknya, Bob Metcalfe sebagai penemu Ethernet justru menolak standardisasi Ethernet waktu itu, dengan alasan bisa mengganggu proses inovasi.

Standar lain mulai ditetaskan oleh IEEE 802. Token ring misalnya. Tapi juga ke dunia wireless. Yang amat dikenal generasi saat ini tentulah WiFi (IEEE 802.11). Padahal standar WLAN IEEE 802.11 ini sempat tak lancar dikaji: ia memerlukan nyaris 8 tahun hanya untuk standard dasarnya saja. Yang lebih parah adalah UWB (ultra wideband) dari kelompok WPAN IEEE 802.15, yang melibatkan dua kubu yang bersaing — mereka gagal mencapai konsensus dan akhirnya menarik proyek mereka. Contoh lain yang tak pernah mencapai standardisasi adalah Manajemen Network (dan ini menjelaskan kenapa kita tidak memiliki standar Manajemen Network yang menarik).

IEEE 802 juga turut mengarahkan tren industri. Contohnya adalah standar WiFi Gigabit 802.11AD yang mendorong kalangan industri untuk menyiapkannya mulai mulai tahun 2013, dengan versi 6 GHz dan 60 GHz. Versi 6 GHz akan digunakan untuk aplikasi bisnis dan industri, karena sinyalnya kuat kuat, namun berbiaya lebih tinggi untuk pengkodean, penanganan gangguan, antena MIMO, dan modulasi multilevel. Sebaliknya, versi 60 GHz akan ideal digunakan konsumen dan kantor kecil karena mudah dibangun, namun sinyalnya terganggu oleh penyerapan oksigen — secara harfiah.

Aplikasi skala industri yang didorong oleh standar 802 juga meliputi WPAN IEEE 802.15 yang mendukung RFID dan smart grid, serta 802.16 yang menjadi standar WiMAX, WiMAX mobile, hingga WiMAX 4G. Yang juga menarik adalah IEEE 802.15.6 (Body Area Networks) dan VLC IEEE 802.15.7. Yang pertama dapat digunakan untuk transceiver skala nano yang bisa ditelan pasien dalam bentuk pil; dan yang kedua untuk jaringan data tingkat tinggi dengan modulasi gelombang cahaya sebagai lapisan fisik yang akan beroperasi dalam rentang terahertz tanpa izin dan kebal terhadap gangguan listrik.

Untuk mengulangtahuni Komite Standar IEEE 802, IEEE juga memberikan kesempatan terbatas bagi siapa pun untuk mengambil standar-standar dari keluarga IEEE 802 secara gratis. Silakan klik pada standar-standar di bawah untuk melakukan download gratis.

Standar-standar ini hanya dapat diunduh gratis selama masa Peringatan Ulang Tahun Komite Standar IEEE 802; dan keputusan ini dapat diubah setiap saat tanpa pemberitahuan. Silakan disebarkan demi makin majunya pengembangan sistem komunikasi dan informasi demi kemanusiaan. Selamat Ulang Tahun, Komite Standar IEEE 802!

IEEE, Network | No Comment »
 
 

Teknologi 4G di Yogyakarta

Sun 20 December 2009, 13:12 UTC

Tak seperti biasanya, kali ini Gunung Merapi tampak detil2 liku2nya lengkap dengan puncak menjulang dan asap tipisnya, bahkan sejak Garuda belum mendarat di Yogyakarta. Udara jernih nyaris tanpa kabut dan awan tipis. Ya, setelah Bandung, kali giliran Yogyakarta menjadi tuan rumah bagi lecturing “Opening The Gates to 4G Mobile Technology” yang diselenggarakan oleh IEEE Communications Society Indonesia Chapter.

Bertempat di Hotel Santika (19 Desember 2009), seminar ini masih menyampaikan materi yang sama dengan Bandung, namun telah diperkaya oleh hasil diskusi di Bandung. Speaker dan materinya meliputi:

  1. Muhammad Ary Murti: Pengenalan IEEE, societies, Indonesia section, chapters, membership.
  2. Kuncoro Wastuwibowo: 4G Mobile Technologies, network, service, cognitive radio, context awareness, candidates
  3. Arif Hamdani Gunawan: Candidate I –> LTE, evolution, features, architecture, OFDMA & SCFDMA, implementation plan
  4. FX Ari Wibowo: Candidate II –> WiMAX II, comparison of 802.16e vs 802.16m, specifications, features, architecture

Peserta datang dari Bandung, Yogyakarta, dan berbagai kota lainnya. Diskusi cukup tajam, membahas spesifikasi detail, spekulasi mengenai lenyapnya UMB :), hingga pengembangan aplikasi di atas teknologi 4G.

IEEE-4G-Yogyakarta

Setelah Yogyakarta, Teknologi 4G akan juga dibawakan ke kota-kota lain, sementara di awal 2010 nanti juga IEEE akan mulai meluncurkan tema-tema yang berbeda untuk lecturingnya. Lecturing ini akan disampaikan melalui beberapa metode sesuai tujuan. Bentuknya bisa kuliah umum di kampus, lecturing intensif seperti saat ini, atau conference yang lebih besar. Namun tentu akan diperlukan dukungan lebih banyak volunteer :). Punya passion di bidang ini?

IEEE, Network | 6 Comments »
 
 

Bandung Gerbang 4G

Sat 21 November 2009, 12:11 UTC

Lama tak menjejak Bandung. Dan kota ini menyambutku beku tanpa ampun. Gigil dikepung kabut tipis. Ah, di mana ceriamu yang dulu itu, kota inspirasiku? Beku kau tak peduli semangatku. Tapi negeri menanti.

Seperti yang telah lama direncanakan, Bandung merupakan kota pertama untuk serial seminar “Opening the Gates to 4G” :). Ini seminar yang diluncurkan IEEE Comsoc Indonesia Chapter, dan didukung IEEE Indonesia Section dan Mastel. Seminar ini bertujuan untuk membuka perbincangan yang lebih luas mengenai pengembangan network, service, dan aplikasi di Indonesia memanfaatkan platform 4G.

IEEE-Horison

Seperti kata judulnya, ada lebih dari satu gerbang ke 4G. Di sisi network, setelah tumbangnya UMB, kita memiliki LTE dan WiMAX II. Tapi banyak parameter lain yang menandai 4G. Cognitive radio memungkinkan perangkat2 kita secara cerdas memilih spektrum dan platform telekomunikasinya mengikuti kebutuhan, lokasi, dan parameter lain — a.k.a. konteks. Pun aplikasi tengah mengarah ke aplikasi peduli konteks (context-aware applications). Tentu ini sering diulas di blog ini, maupun beberapa blog tetangga. Tetapi baru sekali ini semuanya berhasil dikemas dalam satu buah seminar.

Aku membuka seminar yang diselenggarakan di Hotel Horison ini dengan menceritakan kebutuhan dan requirement atas 4G. Selain cognitive radio, dibahas skema all-IP network (yang artinya juga dukungan atas IPv6), antena cerdas (MIMO, spatial multiplex), dan OFDMA. Lalu Arief Hamdani melakukan diskusi panjang dan mendalam tentang LTE, lengkap dengan SAE. Untuk pembanding, aku mengulas mengenai WiMAX II yang masih berstatus pre-standard (IEEE 806.16m).

WiMAX-II-Reference-Model

Sebagai penutup, diskusi diakhiri tentang context-aware application dan pervasive computing. Dan langit Bandung sudah mulai gelap lagi. Seminar berikutnya di Yogyakarta, kemudian Denpasar. Medan? :)

IEEE, Network | 11 Comments »
 
 

Terbit: Internetworking Indonesia

Tue 14 April 2009, 02:04 UTC

Hari ini diterbitkan Edisi Perdana dari Internetworking Indonesia Journal. Jurnal ini berfokus pada pengembangan ICT di Indonesia. Paper di dalamnya lebih banyak bertemakan pengembangan infrastruktur internetworking. Jadi memang banyak berisi muatan teknis. Namun jurnal ini juga mewadahi sisi-sisi sains, sosial, regulasi, pendidikan, dan hal-hal lain yang terkait dengan pengembangan ICT. Hal-hal yang bersifat interdisiplin lebih disukai :)

Dengan editor sebagian besar dari Indonesia, IIJ (begitu menyingkatnya, jangan dibalik) diterbitkan di Cambridge, Massachusetts. Mengusung semangat Open Access, jurnal ini hanya diterbitkan online, dan dapat diunduh gratis dari sitenya.

URL Edisi Perdana: internetworkingindonesia.org/iij-vol1-no1-spring2009.html.

Daftar isi edisi perdana:

  • Editors’ Introduction (PDF)
  • The Overhead and Efficiency Analysis on WiMAX’s MAC Management Message
    by Ardian Ulvan, Vit Andrlik & Robert Bestak (PDF)
  • Loop-back Action Latency Performance of an Industrial Data Communication Protocol on a PLC Ethernet Network
    by Endra Joelianto & Hosana (PDF)
  • “Wayang Authoring”: A Web-based Authoring Tool to Support Media Literacy for Children
    by Wahju Agung Widjajanto, Michael Lund, & Heidi Schelhowe (PDF)
  • Studi atas Prilaku Pengguna Layanan Wide Area Network (WAN) BPKP
    by Desi Nelvia & Rudy M. Harahap (PDF)
  • Issues in Elliptic Curve Cryptography Implementation
    by Marisa W. Paryasto, Kuspriyanto, Sarwono Sutikno & Arif Sasongko (PDF)

PDF lengkap edisi perdana: (PDF). ISSN = 1942-9703.

Network | 18 Comments »
 
 

IIJ: Draft Version

Tue 7 April 2009, 10:04 UTC

Mas Thomas Hardjono pagi ini mengirimkan draft Edisi 1 dari Internetworking Indonesia Journal (IIJ). CFP-nya pernah dipampangkan di blog ini tahun lalu. Bulan-bulan terakhir ini, Mas Thomas nyaris sendirian mengepalai proses editing jurnal ini.

Tentang IIJ sendiri, demikian ditulis pada jurnal itu:

The Internetworking Indonesia Journal (IIJ) was borne out of the need to address the lack of an Indonesia-wide independent academic and professional journal covering the broad area of Information and Communication Technology (ICT) and Internet development in Indonesia. The broad aims of the Internetworking Indonesia Journal (IIJ) are thus as follows:

  • Provide an Indonesia-wide independent journal on ICT: The IIJ seeks to be an Indonesia-wide journal that is independent from any specific institution in Indonesia (such as universities and government bodies). Currently in Indonesia there are a number of university-issued journals that publish only papers from those respective universities. Often these university journals experience difficulty in maintaining sustainability due to the limited number of internally sourced papers. Additionally, most of these university-issued journals do not have an independent review and advisory board, and most do not have referees and reviewers from the international community.
  • Provide a publishing venue for graduate students: The IIJ seeks also to be a venue for publication for graduate students (i.e. Masters/S2 and PhD/S3 students) as well as working academics in the broad field of ICT. This includes graduate students from Indonesian universities and those studying abroad. The IIJ provides an avenue for these students to publish their papers to a journal that is international in its reviewer scope and in its advisory board.
  • Improve the quality of research & publications on ICT in Indonesia: One of the long term goals of the IIJ is to promote research on ICT and Internet development in Indonesia, and over time to improve the quality of academic and technical publications from the Indonesian ICT community. Additionally, the IIJ journal seeks also to be the main publication venue for various authors worldwide whose interest include Indonesia and its growing area of information and communication technology.
  • Provide access to academics and professionals overseas: The Editorial Advisory Board (EAB) of the IIJ is intentionally composed of international academics and professionals, as well as those from Indonesia. The aim here is to provide Indonesian authors with access to international academics and professionals within the context of a publication that is aware of the issues facing a developing nation. Similarly, the IIJ seeks to provide readers worldwide with easy access to information regarding ICT and Internet development in Indonesia.
  • Promote the culture of writing and authorship: The IIJ seeks to promote the culture of writing and of excellent authorship in Indonesia within the broad area of ICT. The availability of an Indonesia-wide journal with an international advisory board may provide an incentive and impetus for young academics, students and professionals in Indonesia to develop writing skills appropriate for a journal. This in-turn may encourage and train them to subsequently publish in other international journals.

Tunggu versi finalnya ya. Free of charge.

Network | 4 Comments »
 
 

LTE: Long Term Evolution

Wed 1 April 2009, 09:04 UTC

Awal tahun ini, Telkomsel menjadi operator seluler pertama di Indonesia yang menyatakan mulai mengimplementasikan LTE (long-term evolution). Blog ini pernah membahas LTE, bersama dengan UMB dan WiMAX II, sebagai kandidat 4G. Namun LTE dianggap paling siap melangkah untuk mengarah ke 4G. 20 operator di dunia, merepresentasikan 1,8 miliar subscriber, telah menyatakan komitmen ke LTE; termasuk NTT Docomo, China Mobile, Vodafone, Verizon, T-Mobile, dan AT&T. NGMN Alliance mengakui LTE sebagai teknologi pertama yang memenuhi kualifikasi NGMN. Dan akhirnya Qualcomm – yang menjadi pendukung utama UMB – memutuskan ikut mendukung LTE alih-alih meneruskan UMB.

LTE, bersama dengan SAE (service architecture evolution), adalah inti kerja dari 3GPP Release 8. Inti atau core LTE disebut dengan EPC (evolved packet core). EPC bersifat all-IP (semua IP, dan hanya IP), dan mudah berinterkoneksi dengan network IP lainnya, termasuk WiFi, WiMAX, dan XDSL. LTE juga diharapkan mendukung network broadband personal, dengan memadukan layanan mobile dan fix. User tak harus menunggu network yang lebih stabil, misalnya untuk upload file video. LTE harus siap secara teknis (dan ekonomis) untuk menampung trafik yang dinamis dari Web 2.0, cloud computing, hingga beraneka macam gadget. ABI Research memproyeksikan bahwa perangkat seperti kamera, MP3 player, video, dll yang dilengkapi kapabilitas network akan mendekati jumlah setengah miliar unit pada tahun 2012.

Trafik yang tinggi dan dinamis itu mengharuskan penggantian kembali sistem transmisi. Dari TDMA di 2G dan CDMA di 3G, teknologi 4G akan menggunakan OFDMA, yang sekali lagi akan meningkatkan efisiensi spektrum. Kecepatan rerata berkisar pada 15 Mb/s dengan delay 15ms, walaupun nilai maksimal diharapkan dapat mencapai di atas 200Mb/s pada bandwidth 20MHz. Ya, LTE bisa bekerja pada bandwidth 1.4 hingga 20 MHz.

Akses radio akan berdasarkan penggunaan kana bersama sebesar 300Mb/s pada arah turun dan 75Mb/s pada arah naik. Jika pada 2G/3G, akses radio akan terkoneksi pada circuit-switched domain, maka E-UTRAN pada LTE hanya akan terkoneksi pada EPC. Akses radio teroptimasikan untuk trafik IP.
SAE, berbeda dengan sistem sebelumnya, hanya memberikan dua node pada user plane: base station (disebut eNodeB) dan gateway. Jumlah dan jenis persinyalan diminimalkan. RNC (radio network controller) dimasukkan sebagai satu fungsi dalam eNodeB, yang menjadikan proses handover dikelola sepenuhnya oleh eNodeB – mirip UTRAN pada 3G.

LTE akan digelar pada beraneka band spektrum. Diharapkan band baru 2,6GHz dapat digunakan, karena kapasitasnya memungkinkan untuk penyediaan band hingga 20MHz. Namun LTE juga bisa digelar pada band bekas GSM di 900MHz dan 1800MHz.

Barangkali pas kalau LTE kita jadikan tema IEEE Lecture Roadshow tahun ini. Tapi tebak: Flexi nantinya ke mana? Ikut ke LTE menemani Telkomsel, atau ke WiMAX II?

Network, Telkom | 17 Comments »
 
 

SDP 2.0

Wed 21 January 2009, 17:01 UTC

SDP (service delivery platform) sendiri masih intens kita diskusikan menjelang masa implementasi. Tapi bulan Desember lalu, IEC melontarkan istilah SDP 2.0 dalam Annual Review of Communications Volume 61. Tergoncang? Tentu tidak :). Pertama, SDP sendiri bukan standard yang perubahan versinya harus langsung diikuti migrasi sistem. Kedua, penomoran 2.0 sendiri menunjukkan sebuah ciri khas: sesuatu yang secara semi informal digerakkan dalam bentuk perbincangan (yang boleh meliputi industri dan komunitas). Tapi ihwal penomoran 2.0 ini juga yang bikin aku pingin memperbincangkan, soalnya pas dengan gagasan2 kita untuk menyusun hub atas content & aplikasi dari komunitas.

Jadi yang dinamakan SDP 2.0 adalah gagasan dari Accenture. Ia mengambil ide dari Google, Apple, dll, yang berbisnis dalam ekosistem digital. Menurut Accenture, 60% service provider memiliki lebih dari 10 partner co-design per proyek pengembangan produk. Kolaborasi ini memicu inovasi, tetapi meningkatkan resiko; kecuali jika strukturnya dibuat lebih efektif. Sebagai tambahan juga, Internet 2.0 (web 2.0, mobile 2.0, dst) telah menciptakan lingkungan yang kaya content, service, dan inovasi. Interface content terkayakan dalam dunia tiga layar: perangkat mobile, komputer, dan TV. SDP dirancang untuk mengefektifkan dan mengefisienkan segala sumber daya dan inovasi untuk kekayaan aplikasi ini. Namun divergensi yang cepat seperti ini mendorong dianggap perlunya merumuskan SDP 2.0. Framework SDP 2.0 menekankan penyusunan lingkungan pengembangan service lintas aktivitas dan teknologi di dalam ekosistem IP.

Konvergensi tiga layar mendorong setiap aplikasi untuk secara mudah tertampilkan dengan interface yang tepat di perangkat mobile, komputer, dan TV. Penekanan adalah pada layar pertama, yang lebih banyak melekat pada user setiap saat. Ini dimungkinkan oleh penyusunan platform piranti (device platform), berisi sistem operasi dan middleware, yang memungkinkan operasi multiplatform. Diantarmukai oleh itu, tersusunlah portal multikanal, tempat tertumpah kekayaan inovasi. Produksi, sharing, dan distribusi content dilakukan terpersonalisasi, dengan akses yang bersifat swalayan. Di sini juga dapat dilakukan segmentasi, agregasi, delivery media, komunikasi, dan lain2, yang dapat dioptimalkan untuk penurunan biaya. Sekarang, profit jadi dapat ditumbuhkan dari aplikasi2 yang telah saling diperkaya/memperkaya ini.

SDP 2.0 menambahkan hal2 berikut: pengelolaan user yang terpadu, pengelolaan policy yang fleksibel, dan lingkungan penciptaan service yang bersifat terbuka. Juga telah dimasukkan hal-hal seperti location-based service (LBS), mash-up, mobile widget, application presence, network presence, dll.

Accenture kemudian memberi contoh implementasi di Turkcell. Turkcell baru mengupgrade SDP-nya untuk memfasilitasi layanan seperti download musik, layanan data, dan transfer foto. Mereka mencobai pendekatan di atas, yang memungkinkan mereka bekerja lebih baik dengan penyedia aplikasi dan content. Dalam setahun, telah diluncurkan 180 layanan penghasil revenue, dari 50 penyedia aplikasi dan 53 penyedia content. Jumlah pelanggan pemakai layanan online meningkat 3000% dalam sebulan setelah peluncuran. Semua aplikasi dan content menggunakan standard IP biasa.

Konvergensi telah menjadi sahabat mereka, bukan ancaman. Yuk, kita ke sana juga :).

[Thanks, Pak Komang, atas materinya :)]

Network, Telkom | 8 Comments »