Carmen dan Simfoni Kelima
Malam minggu ini digunakan untuk menikmati performance dari Nusantara Symphony Orchestra di Balai Sarbini (Jakarta). Di bawah judul Heart and Passion, orkestra yang diketuai Miranda S Goeltom, serta dipimpin conductor-nya oleh Hikotaro Yazaki ini menampilkan Simfoni Kelima dari Beethoven dan cuplikan opera Carmen dari Bizet. Orkestra dikonduktori langsung oleh Hikotaro Yazaki (yang ternyata apprentice dari Seiji Ozawa).
Simfoni kelima barangkali adalah simfoni Beethoven yang paling terkenal. Dulu digunakan untuk menunjukkan “motif” dalam musik (dan kemudian dianut secara fanatik oleh Wagner). Motif empat nadanya ini langsung terpapar dari birama awal, berulang, dan berulang, kemudian bervariasi, dan memaksa kita terus mencari, sambil riang; sambil tersentuh, entah oleh bagian mananya. Aksen2 dipaparkan dengan kontral antara nada keras, nada lembut, dan disonansi. Ya, simfoni kelima ini juga termasuk pelopor disonansi dalam musik klasik. Konon ini menceritakan tentang suatu malapetaka dahsyat yang tertanggulangi dengan tekat membaja dan kekuatan hati yang mengagumkan.

Carmen juga masterpiece dari Bizet. Baru malam ini aku menseriusi opera Bizet (biasanya aku memilih yang versi nada tanpa kata saja). Dan baru baca ceritanya juga. Dibawakan dalam bahasa Perancis, Carmen menceritakan wanita petualang gipsi di Sevilla (Spanyol) yang terlibat cinta segitiga dengan serdadu Don Jose dan matador Escamillo. Gaya bernyanyi tokoh Carmen tentu harus dibuat urakan, dan baru melembut saat2 akhir, sebelum Jose membunuhnya, saat Escamillo tengah bertarung melawan seekor banteng. Vokal dibawakan oleh Sarah Sweeting sebagai Carmen, Aning Katamsi sebacai Micaela (tunangan Jose), Ndaru Darsono sebagai Jose, dan Harland Hutabarat sebagai Escamillo. Selain tentu harus kagum pada Sarah dan Aning, aku juga kagum pada suara Escamillo dari Harland. Hmm, dalam opera2 Nibelung, yang satu ini akan pantas jadi Hagen atau Alberich.

Ruang tertutup ini menarik juga untuk menyegarkan pikiran, plus menambah semangat; untuk kembali ke perjuangan di luar sana. Yuk.
Laporan yang lebih menarik telah ditulis oleh:
Par les Rues et par les Chemins
Saat paling pas untuk menikmati Debussy tentu saat makna tak sedang digantungkan pada hal-hal besar, tetapi pada keseharian bahkan kesesaatan. Kesesaatkan. Atau kesesatan, boleh juga, kalau dianggap hidup harus diarahkan pada hal-hal besar :). Pun kefanaan, kalau dikonsepkan, jadi narasi bombastis juga :).
Memang jadi ada waktunya semua itu dilepas: konsep, komitmen, legenda, visi. Dan biarkan pikiran ini mengaliri segala jalan besar hingga celah sempit yang kita temui hari ini, saat ini, detik ini. Biarkan juga ide-ide jadi frame-frame sporadik yang mencuat ke sana kemari dalam permainan warna yang indah berpola seperti permainan lampu di jalan raya, berpadu dengan percikan air di sungai bersemu coklat dan kenangan yang menarik secara hitam putih ke tenggara dan barat daya. Dan biarkan Debussy menyentak jiwa dengan musik yang pernah dinamai impresionistik itu (entah kenapa).
Klik. Klik. Klik. Beep. Ya. Kepalaku nyeri nian. Sekian hari tak juga mau mereda ia menghajar. Mengira aku dapat menyerah. Tak mungkin. Jiwa ini terlalu bebas untuk dapat diikat oleh belenggu ragawi.
Петрушка
Berhari2 dalam dehuman, dan mendadak ada nada masuk dari angkasa. Stravinsky. Petrushka. Ya, nada yang itu, yang kita ingat kalau kita menyebut Petrushka. Disonansi, kombinasi dari C major dan F# mayor. Dibanding hingar bingar musik masa kini, disonansi ala Igor Fyodorovich Stravinsky tak lagi terasa heboh. Justru, lucunya, menenangkan. Mengheningkan. Mengingatkan akan keunikan klasik. Kesinisan yang tak peduli apa.
Petrushka. Bagi Rusia. Setara Pierro bagi Perancis, Punch untuk Inggris, dan tentu Pinokio bagi Italia yang kemudian mendunia. Makhluk tak terlalu nyata. Namun dengan tragedi nyata. Disonansi dari Stravinsky itu adalah ejekan ala Petrushka. Pertama terdengar membuka Bagian 2 dari komposisi Petrushka ini. Ejekan atas apa yang kita bilang lurus, apa yang kita yakini harus, apa yang kita pikir bagus, apa yang kita paksakan sebagai kebakuan dan kebiasaan dan keniscayaan. Namun sayup ia masih terus berulang sepanjang para penari dan bauran orang2 terus meriuhkan suasana pasar malam.
Ejekan dari Petrushka bahkan terdengar di saat akhir komposisi ini. Seolah meyakinkan kita bahwa hantu Petrushka masih terus ada untuk mengejek kita. Mengejek kekerasan kita memuja undak-undak kekosongan.
P?teris Vasks
Latvia memiliki sejarah panjang berisi pendudukan demi pendudukan. Polandia, Swedia, dan Russia. Mereka tak pernah memiliki musik seperti Sibelius, Grieg, Nielsen. Baru setelah negeri ini kembali berdaulat, nama musisi Latvia mulai terdengar. P?teris Vasks salah satunya, dengan musiknya yang bersuara senada kabut melayang, dengan tekstur samar, dan style yang agak mirip (tapi nggak terlalu dekat) dengan Lutos?awski. Vasks menyebutnya sebagai perbincangan Latvia yang dimusikkan: mewakili bangsa yang kecil, kelam, tapi memiliki keberanian untuk tegak di tengah deru.
Vasks, yang aku juga belum pernah kenal sebelumnya, menarikku untuk menyentuh dan mengambilnya, membawa ke ruang kerjaku, dan menemani kekelaman di dalam sini dengan sentuhan yang serasa demikian empatiknya. Dia tidak mencoba mewarnai kelam dengan warna ceria, tapi mengangkat dinamika yang bangkit dari kelam itu, dan membuatnya tetap sebagai hidup yang murni dan elegan. Untuk hari ini, warnaku adalah warna Vasks.
Sekarang dia memainkan Voices. Ini dikomposisi pada 1990-1991, saat rakyat Latvia pada puncak kegentingan, dan khalayak tumpah ke jalan2, untuk mengambil alih kedaulatan mereka sendiri. Darah ditumpahkan di sana, juga di Lithuania, kalau kita masih ingat. Dan simfoni ini dicipta dengan sepenuh keyakinan. Voices of Silence, saat menatap malam berbintang di kejauhan tak terhingga. Voices of Life, saat merasakan bangkitnya alam, dengan kicau burung, yang menyadarkan tentang kehidupan. Voices of Conscience, yang membuka mata akan realita. Lalu Voices of Life dimulai lagi (atau barangkali ini masih yang tadi juga?).
Huma di Atas Bukit
Seribu rambutmu yang hitam terurai
Seribu cemara, seolah menderai
Seribu duka nestapa di wajah nan ayu
Sejuta luka yang nyeri di dalam dadaku
Lagi melankolik? Bukan, wekk. Malah lagi riang: abis menemukan tiga CD God Bless dalam kunjungan singkat di DiscTarra Dago. Duh, kalau sengaja dicari, nggak pernah keliatan. Penerbitan sekaligus tiga CD ini mirip beberapa saat lalu, waktu tiga CD Karimata juga diterbitkan sekaligus. Dan menimbulkan perasaan yang sama: perasaan balik ke SMA :). Oh ya, Kantata Taqwa juga sempat terbit versi CD-nya, belum lama ini.

Masih aku bertahan
Walau kupaksakan
Sampai batas waktu
Keadilan datang
Mau gagah tapi malah cengeng :). Tapi memang sense-nya agak2 gitu tahun2 itu. Dan dibanding kelompok musik cadas Indonesia masa kini, mmm, haha. Udah ah, ntar dibilang auld-lang-syne syndrome. Yang jelas sih, aku nggak punya minat beli CD para rocker Indonesia masa kini. Indie masih mending. Oh ya, CD yang baru terbit itu betul2 dari angkatan yang aku cari: akhir 1980-an, bukan yang 1970-an (masih mentah –hihi) maupun 1990-an (mulai decline –sorry). Mungkin BR bisa mulai berharap lagu2 klasik kesayangannya diterbitkan dalam CD juga. Mudah2an beliau seberuntung aku :).
Sepinya hidup dalam penjara
Tak juga hilangkan
Rasa sesal dan rasa bersalah
Parsifal
Betul, Parsifal. Akhirnya punya juga excerpt opera Wagner yang ini, sekian belas tahun abis CD Wagnerku yang pertama :). So, ini adalah opera Wagner yang terakhir. Kecuali kalau Wagner punya semacam unfinished opera ;).
Kalau kita membayangkan Wagner identik dengan Der Ring, atau Tristan, kita akan mendapatkan kejutan yang lain. Kesederhanaan. Keseluruhan opera ini terdiri dari beberapa variasi ide saja. Kalau misalnya dalam Der Ring, citra musikal Wotan begitu kontras misalnya dengan Fricka. Dalam Parsifal, citra-citra ini hambur. Kabur. Tak jelas misalnya mana tema Kundry dan mana tema Klingsor. Tokoh2 ini jadi berpadu secara musik, bukan dikontraskan.
Buat yang baru kenal Wagner, fyi: Wagner gemar mengambil sekumpulan nada tertentu dikaitkan dengan tokoh atau ide tertentu, dan dinamakan motif. Nah, dalam Parsifal, motif dimainkan dalam bentuk musik, dan baru kemudian nantinya dalam bentuk vokal. Ide2 yang baru berkembang pun ditampilkan dulu dalam interlude yang di opera ini dinamai transformation music. Bentuk lengkap, atau bentuk panjang, dari sebuah motif diberikan setelah kita disuruh mendengar fragmen-fragmennya dulu sebelumnya.
Versi yang baru dibeli ini dimainkan oleh The Metropolitan Opera Orchestra and Chorus, dipimpin James Levine. Dulu aku nggak mau ambil, soalnya Amrik. Dan Amrik biasanya encer, nggak Wagner banget. Cerita Parsifal, secara umum, adalah potongan dari kisah panjang tentang Holy Grail. Ah, itu lagi :).
Aditya
Website ini bangga memperoleh kunjungan dari anak muda yang cemerlang: Aditya Pradana Setiadi.


















