<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kuncoro++ &#187; Life</title>
	<atom:link href="http://kun.co.ro/category/life/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kun.co.ro</link>
	<description>Reinventer La Vie</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 01:25:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kewajiban Penerbitan Paper</title>
		<link>http://kun.co.ro/2012/02/03/kewajiban-penerbitan-paper/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2012/02/03/kewajiban-penerbitan-paper/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 01:12:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3560</guid>
		<description><![CDATA[Ada hal menarik minggu ini. Weekend lalu, Ditjen Dikti menerbitkan kebijakan yang mengharuskan para mahasiswa tingka S1, S2, dan S3 untuk menerbitkan paper di jurnal (untuk S1), jurnal terakreditasi Dikti (untuk S2), dan jurnal internasional (untuk S3). Penerbitan paper ini menjadi syarat bagi kelulusan di setiap level itu. Kebijakan ini dapat disimak pada Situs Ditjen [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada hal menarik minggu ini. Weekend lalu, Ditjen Dikti menerbitkan kebijakan yang mengharuskan para mahasiswa tingka S1, S2, dan S3 untuk menerbitkan paper di jurnal (untuk S1), jurnal terakreditasi Dikti (untuk S2), dan jurnal internasional (untuk S3). Penerbitan paper ini menjadi syarat bagi kelulusan di setiap level itu. Kebijakan ini dapat disimak pada <a href="http://tlk.lv/wajibjurnal">Situs Ditjen Dikti</a>. Ada kebijakan lain beberapa minggu sebelumnya, yang menetapkan bahwa jurnal-jurnal yang diakui adalah <a href="http://tlk.lv/jurnalonline">jurnal yang juga dapat diakses secara online</a>.</p>
<p>Aku sempat menyinggung soal ini, baik di Twitter maupun Facebook. Dan karena ini adalah soal akademis, tanggapan yang masuk pun bernada jernih, dengan kadar pro dan kontra tertentu pada setiap pendapat.</p>
<p>Kebijakan itu sebenarnya bertujuan baik. Saat ini, di luar kampus, kepakaran akademis masyarakat Indonesia tidak menarik sama sekali. Kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan, sangat rendah &#8212; tak mampu mengeksplorasi gagasan yang dalam, kompleks, apalagi melintas bidang. Komunikasi publik di Indonesia memang terkenal ramai. Indonesia jago di Twitter, Facebook, blog. Tapi komunikasinya dangkal, dengan argumen dan gagasan yang tak tergali. Komunikasi publik bersifat instan, tak lebih dalam dari komunikasi transaksi barang dagangan. Surat dari Dikti yang membandingkan kita dengan Malaysia pun valid dan menyentak. Tak perlu dengan UK, Jepang, dll; dengan tetangga pun kita jadi tampak primitif.</p>
<p>Keharusan menulis paper dalam konteks ini jadi relevan. Bukan hanya untuk mengejar terget angka yang bisa dibandingkan dengan negeri jiran, tentu. Somehow kita harus menyelamatkan dan menumbuhkan komunikasi publik dan komunikasi akademis yang lebih cerdas di masa mendatang. Paper, yang direview oleh sejawat seprofesi, adalah pendekatan yang jauh lebih baik daripada kolom atau artikel di media, yang direview sesuai selera editor atau sebaliknya oleh officer yang mungkin memiliki kompetensi berbeda. Paper juga tidak bisa digantikan oleh self-publishing text yang sebagian besar masih tanpa review. Memang tidak ada sesuatu yang sempurna; tetapi paper dengan peer-review masih menjadi pilihan terbaik dalam transaksi ide dan informasi ilmiah.</p>
<p>Yang mengkhawatirkan dari kebijakan ini memang gayanya yang mendadak. BTW, kapan kebijakan ini harus mulai berlaku? Apakah seketika berlaku, atau perlu memperoleh semacam ratifikasi dari kampus? Atau &#8212; seperti banyak kebijakan lain &#8212; tidak dijalankan sebelum juklak dibuat. Banyak hal tak menarik bisa timbul dari kebijakan yang mendadak diberlakukan. Kesiapan jurnal-jurnal misalnya. Cukupkah jumlah jurnal per bidang studi, dan kapasitas pengolahan paper setiap jurnal itu, menghadapi kebutuhan kelulusan mahasiswa (terutama S1) yang membanjir setiap tahun. Banyak kampus yang selama ini sudah menghalalkan segala cara untuk meluluskan mahasiswanya, agar bisa segera terlepas dari mahasiswa lama dan bisa menerima mahasiswa baru. Pemaksaan ini bisa berakibat terbitnya paper-paper sampah di jurnal-jurnal yang mendadak akan turun kualitasnya juga.</p>
<p>Aku rasa pemerintah harus belajar untuk mengimplementasikan kebijakan yang bijak dengan cara yang bijak juga: mempersiapkan, menumbuhkan, mendukung, dan mengajak serta komunitas akademis. Dengan demikian, tidak akan terjadi penolakan atau implementasi yang kontraproduktif.</p>
<p>Ada pendapat lain mengenai ini?</p>
<p>Sementara itu, khusus masyarakat ICT, IEEE Indonesia Section tahun ini akan menyelenggarakan setidaknya tiga konferensi dan satu simposium, tempat kita bisa memasukkan paper, mempresentasikan, dan menyaksikannya diterbitkan di IEEE Explore nan bergengsi itu. Sila simak:</p>
<ul>
<li>IEEE International Conference on Computational Intelligence and Cybernetics (CyberneticsCom) [<a href="http://tlk.lv/cyberneticscom">info</a>] [<a href="http://cyberneticscom.org">site</a>]</li>
<li>IEEE International Conference on Communication, Networks and Satellite (ComNetSat) [<a href="http://tlk.lv/comnetsat">info</a>] [<a href="http://comnetsat.org">site</a>]</li>
<li>IEEE Conference on Control, Systems &amp; Industrial Informatics (ICCSII) [<a href="http://tlk.lv/iccsii">info</a>] [<a href="http://iccsii.org">site]</a></li>
<li>IEEE Symposium on Green Technology and Systems (ISGTS) [<a href="http://tlk.lv/isgts">info</a>] [<a href="http://isgts.org">site</a>]</li>
</ul>
<p>Tentu masih ada jurnal online <a href="http://tlk.lv/iij">Indonesia Internetworking Journal</a>, yang menerima paper dalam Bahasa Inggris (diutamakan) dan Bahasa Indonesia mengenai berbagai aspek ICT dengan penekanan pada implementasi di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2012/02/03/kewajiban-penerbitan-paper/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melawan Para Moron</title>
		<link>http://kun.co.ro/2011/09/23/melawan-para-moron/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2011/09/23/melawan-para-moron/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 12:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3483</guid>
		<description><![CDATA[Bully. Atau kepongahan lain. Semuanya bodoh. Dan amat tak masuk akal untuk menyerah pada kebodohan. Kampusku dulu bukan satu yang paling terkenal se-Indonesia. Tapi para seniorku noraknya bukan main menerima adik2 angkatannya. Padahal aku sudah terbiasa menilai kecerdasan orang a.l. dari gaya berkomunikasinya. Ternyata aku gak salah. Sekian waktu kemudian, aku lihat bahwa para panitia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bully. Atau kepongahan lain. Semuanya bodoh. Dan amat tak masuk akal untuk menyerah pada kebodohan.</p>
<p>Kampusku dulu bukan satu yang paling terkenal se-Indonesia. Tapi para seniorku noraknya bukan main menerima adik2 angkatannya. Padahal aku sudah terbiasa menilai kecerdasan orang a.l. dari gaya berkomunikasinya. Ternyata aku gak salah. Sekian waktu kemudian, aku lihat bahwa para panitia opspek pada masa itu, tanpa kecuali, adalah kumpulan mahasiswa paling bodoh di kampus kami. Dalam encounter satu lawan satu, misalnya di warung makan, beberapa senior malah menunduk kalau aku tatap tajam tanpa berkedip. Ah, mereka cuma pengecut yang hanya berani berkelompok. Kebayang nggak sih: dari zaman itu pun aku sudah termasuk mahasiwa paling kecil mungil di kampus.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-3484" title="Stay Bright" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/10/Ke-Bandung.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<p>Aku pikir para moron itu sudah aku tinggalkan di sejarah kampus. Tapi cukup gila bahwa di tempat kerjaku pun ada beberapa makhluk penindas semacam itu. Waktu aku masuk ke bidang network dulu, sebagian besar perangkat sentral adalah buatan Siemens. Semua sentral di Bandung itu Siemens, kecuali satu sentral baru dari Lucent. Aku merasa agak aneh bahwa beberapa rekan senior tampak berkeberatan masuk ke ruang kontrol Siemens, dengan berbagai alasan. Aku pikir alasannya murni keamanan. Tapi halangan serupa tak tampak di sentral Lucent, yang awaknya lebih acuh. Baru dua tiga tahun berikutnya seorang senior mengakui bahwa dia memang menyuruh teman2nya mengurangi akses aku ke kontrol Siemens, khawatir ada personal opportunity yang bisa aku ambil buat melejit meninggalkan mereka. Konyol. (Si senior ini beberapa tahun kemudian makin gak betah kerja di Telkom; mengambil pensiun dini dengan uang saku sangat besar, dan pindah ke Bakrie). Sementara aku di sentral Lucent melakukan inovasi untuk meniru analisis2 yang dilakukan di Siemens. Sentral Lucent masih jarang dan kecil2. Jadi program2ku diminta rekan2 pengendali sentral Lucent di Batam, Medan, Surabaya, dll. Aku serahkan program lengkap dengan source code. Source code ini dikembangkan bersama-sama jadi sistem analisis yang lebih lengkap. Lumayan juga, aku jadi bisa jalan-jalan keliling Indonesia, ke hampir seluruh tempat yang punya sentral Lucent. Dibandingan program analisis milik Siemens yang besar, lambat, rumit, sulit dimodifikasi, plus mahal; program-program kami lebih ringan, lincah, dan customizable. Langkah berikutnya, menyusun program analisis lengkap seluruh sentral. Kali ini mudah, karena pintu-pintu yang tadinya tertutup terpaksa mulai dibuka. Program-program ini akhirnya memungkinkan aku memperoleh Penghargaan Prestasi dari Menteri Perhubungan. Haha, waktu itu secara teknis Telkom masih diasuh Menhub.</p>
<p>Inti ceritanya, ditindas bukan berarti harus jadi lebay. Jelas kaum penindas hanyalah sekelompok orang bodoh yang memiliki ketakutan pada kita orang2 cerdas. Dan tentu, orang cerdas harus menggunakan cara cerdas untuk menyelesaikan masalah secara elegan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2011/09/23/melawan-para-moron/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Evo Morales</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/09/21/evo-morales/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/09/21/evo-morales/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 05:23:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[evolusi]]></category>
		<category><![CDATA[Genetika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3074</guid>
		<description><![CDATA[Sekali lagi, kita akan berhenti blogging kalau kita hanya menggunakan blog untuk menulis hal2 yang memiliki arti besar :). Alih2, kita bisa mulai memanfaatkan blog seperti twitter: sekedar bercericau tak tuntas. Dan kali ini, kita akan bercerita tentang teori evolusi. Mungkin tentang moralitas. Dan mudah2an tak melantur ke agama. Mula2, hukum yang sama mungkin akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekali lagi, kita akan berhenti blogging kalau kita hanya menggunakan blog untuk menulis hal2 yang memiliki arti besar :). Alih2, kita bisa mulai memanfaatkan blog seperti twitter: sekedar bercericau tak tuntas. Dan kali ini, kita akan bercerita tentang teori evolusi. Mungkin tentang moralitas. Dan mudah2an tak melantur ke agama.</p>
<p>Mula2, hukum yang sama mungkin akan menampilkan tampilan yang berbeda pada skala yang berbeda. Koin yang dilempar dua kali mungkin akan menghasilkan hasil berbeda dengan koin yang dilempar 2000x. Mekanika kuantum berjalan di mana pun; tetapi efeknya tak lagi nampak pada skala manusia atau skala galaksi (kecuali disalahgunakan marketer kacangan dengan nama quantum blablabla, quantum wekwekwek, dll). Hukum yang mengatur sebuah individu pun mungkin akan tampak berbeda dengan hukum yang mengatur masyarakat.</p>
<p>Dan satu lagi. Evolusi makhluk hidup terjadi pada skala gene, bukan terjadi pada individu2nya sendiri. Jadi saat kita bicara tentang survavibilitas, ini adalah tentang survavibilitas si gene. (Dan konon malah bukan DNA, tetapi RNA, hush).</p>
<p>Kata sembarang orang, teori evolusi mengimplikasikan bahwa kita akan jadi individu yang egois. Atau kelompok yang egois: rasis, chauvisist, primordial, dll; karena menurut teori ini, individu yang bertahan dan berkembang adalah individu yang bisa mempertahankan diri sendiri, mengalahkan yang lain dalam persaingan berebut sumberdaya, dan berebut pasangan.</p>
<p>[Oh, tentang pasangan, kita akan punya teori sendiri. Perlukah ditulis?]</p>
<p><img title="SelamatDatang" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/09/SelamatDatang.jpg" alt="" width="200" height="320" align="right" />Tapi &#8230; tentu saja. Tentu saja itu betul. Hanya individu yang dengan satu atau lain caralah yang mampu memperoleh sumberdaya untuk mempertahankan kehidupannya mencapai usia cukup dewasa untuk meneruskan keturunan. Dan yang dimaksud dengan cara di sini meliputi misalnya kekuatan, kecerdikan, kelicikan, kemampuan meraih simpati, dll. Dengan kata lain, egoisme tercetak dalam gene kita, sebagai penerus mereka yang survive.</p>
<p>Mungkin individu akan memiliki kans bertahan lebih tinggi jika ia bisa bukan sekedar kuat, tetapi juga cerdik. Cerdik mengelola sumber daya. Cerdik melakukan kerjasama, alih-alih selalu bersaing. Cerdik mensinergikan potensi untuk memperoleh sumberdaya lebih besar, dan untuk bertahan lebih kuat melalui kerjasama. Ia menyusun strategi membagi resource, membagi tugas, dan menyusun masyarakat. Strategi dan kebersamaan menjadi efek dari evolusi.</p>
<p>Masyarakat akan lestari jika memiliki individu di dalamnya tak memiliki potensi merusak masyarakat; sambil tetap memiliki kemampuan dasar untuk membela diri. Seperti juga individu, masyarakat terbentuk dari imbangan individu yang kuat untuk bisa bertahan tapi tak cukup mau/mampu memanfaatkan kekuatannya untuk menghancurkan masyarakat &#8212; sedikit demi sedikit atau sekaligus. Dan masyarakat akan lestari jika individu di dalamnya memiliki kemauan, kemampuan, minat, instink, dll &#8230; untuk kalau perlu mengorbankan diri sendiri demi masyarakat.</p>
<p>Masa?</p>
<p>Saat ada benturan antar masyarakat, atau benturan di dalam masyarakat; masyarakat akan survive jika ada yang mengorbankan diri (dari sisi resource atau dari mungkin mengorbankan nyawa) untuk mempertahankan struktur masyarakat, sehingga bukan seluruh masyarakat yang terkorbankan. Contoh yang mudah mungkin jika ada perang antara dua masyarakat untuk berebut resource. Masyarakat yang memiliki patriot yang mau berkorban akan memiliki kans lebih besar untuk bertahan (dengan asumsi potensi lain yang dimiliki sama) dibandingkan masyarakat yang individu di dalamnya tak mau mengorbankan diri untuk membela masyarakatnya.</p>
<p>Dalam skala lebih luas, masyakarat-masyarakat yang memiliki kearifan akan memiliki kans untuk lebih lestari. Mereka bisa mencegah perang dan menggantinya dengan empati, dengan kebersamaan, dengan kearifan mengatasi perbedaan, dengan kepintaran memecahkan masalah yang makin pelik antar masyarakat. Mereka yang memiliki konsepsi abstrak akan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk lestari.</p>
<p>Menyebalkan. Kini moralitas cuma menjadi efek sederhana dari evolusi. Hal2 besar seperti simpati, pengorbanan diri, dan kepahlawanan pun &#8230; gilanya &#8230; cuma dianggap bisa dijelaskan melalui teori evolusi semata. Juga kecerdasan, kearifan. Padahal, di tahap ini, kita belum bermain dengan game theory segala.</p>
<p>Yang tentu menarik adalah bahwa potensi untuk egois (mempertahankan diri) dan gene untuk moralis (kesediaan mengorbankan diri demi nilai-nilai) itu tersimpan dalam individu2 yang sama. Manusia dengan potensi yang amat egois tak akan survive menjaga masyarakatnya (bisa memunahkan seluruh masyarakat). Tapi manusia dengan sifat yang amat moralis mungkin tak akan survive menjaga diri dan keluarganya. Dan mungkin masyarakat yang keseluruhannya memiliki sifat amat moralis tak akan lestari juga. Masyarakat memerlukan penyimpang, untuk mulai belajar menghadapi konflik kecil. Masyarakat yang terbiasa menghadapi konflik kecil, akan memiliki kans lebih kuat untuk memecahkan konflik besar yang bisa menghancurkan (misalnya peperangan yang rumit); daripada masyarakat yang tak terbiasa menghadapi konflik sama sekali.</p>
<p>Wow, kita memerlukan konflik! Kita memerlukan pelangggar! Kita memerlukan penyimpang! Kita memerlukan keanekaragaman! Kita memerlukan pluralisme untuk menjadikan kita lebih cerdik, pandai, dan bijak mengatur hidup kita!</p>
<p>[Pak ustadz tersenyum. Ujarnya: "Allah menciptakan kalian beraneka suku beraneka wangsa agar manusia saling mengarifi."]</p>
<p>Evolusi juga terjadi pada budaya, pada tatacara kita mengatur masyarakat. Kita mengubah perilaku untuk menyesuaikan diri pada lingkungan, pola hidup, konflik, interaksi. Kita membentuk budaya, menginteraksikan budaya, mengevolusikan budaya. Dan genetika yang lestari adalah yang dapat menyesuaikan diri dengan alam, i.e. dengan alam yang telah direkayasa dengan budaya. Maka evolusi bisa terbentuk dari rantai gene -&gt; budaya -&gt; gene -&gt; budaya -&gt; gene.  Gene kita, selain berisi sejarah nenek moyang kita, tempat hidup mereka, penyakit yang menghinggapi mereka, juga sudah tercetak dengan adaptasi pada budaya yang telah mengatur nenek moyang kita, dengan gaya hidup mereka, interaksi dan konflik mereka, hingga tata mengatur masyarakat. Terbentuk budaya yang lengkap, dengan berbagai tatacara, adat, agama, hingga negara.</p>
<p>Agama? Huh, tak terlalu menarik memperbincangkan agama dilihat dari sisi evolusi. Tapi misalnya kita asumsikan bahwa kita tadinya tak mengenal Tuhan, kita akan mulai dari masyarakat yang bodoh, tak memahami semesta, tapi melihat keteraturan yang menarik di mana-mana, lalu mengilusikan adanya Sang Pencipta. Ide Sang Pencipta ini tak unik &#8212; ia masuk ke berbagai budaya, akibat melihat fenomena alam yang sama. Maka ia jadi ide universal, merasuk ke budaya, merasuk ke tatacara dan adat. Dan apalah adat yang melibatkan narasi ketuhanan, jika bukan agama. Politik membentuk agama formal dan negara. Tapi juga membentuk budaya. Dan budaya menyeleksi masyakarat. Maka tertinggallah kita: makhluk-makhluk yang memiliki Tuhan dan agama, yang hanya merasa damai jika merasakan kedekatan dengan Tuhan, dan merasa hidup memiliki arti saat menjalankan ajaran agama. Ini sudah tertanam dalam gen manusia. Berbagai teori yang dikemukakan di abad 19 &#8211; 20 &#8211; 21 bahwa hanya seluruh semesta bisa direkonstruksi dengan sains, tanpa melibatkan Tuhan, tak akan terlalu efektif mengubah manusia yang gene-nya, pikirannya, jiwanya (ya, aku menulis jiwa) telah terpola untuk hidup damai di bawah rasa sayang Tuhan-nya.</p>
<p>OK, itu asumsi pertama. Asumsi kedua, buat kita yang memiliki keimanan pada Tuhan. Tuhan mencintai proses. Tuhan sudah memiliki mekanisme, cuma melalui hukum2 matematika dan fisika biasa, yang memungkinkan makhluk hidup berevolusi, jadi manusia, dan masyarakat berbudaya, dan jadi makhluk yang akhirnya mengenali keberadaan-Nya.</p>
<p>Terserah kaulah mau mengambil posisi yang mana. Yang jelas sains tak membuktikan adanya Tuhan. Dan jika sains bisa membuktikan adanya Tuhan, maka Tuhan yang terbuktikan justru tak berharga: Tuhan yang bisa dilihat. Aku sendiri, hatiku selalu merasakan Ia hadir, menemani, mencandai, mengajarkan nilai-nilai-Nya, dan membuat hidup jadi menarik dan berharga. Kalaupun kau menganggapnya tidak real, itu sama tidak realnya dengan pikiranku, dengan persepsiku, dan dengan ikatan2 (cuma) logika yang mengikat molekul2 ini jadi aku. See, aku tak bisa, dan tak ingin berlepas.</p>
<p>Dan tentang judul entry ini &#8230; hahaha :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/09/21/evo-morales/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>September</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/09/13/september/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/09/13/september/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Sep 2010 19:50:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[IEEE]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Mac]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3054</guid>
		<description><![CDATA[Twitter memang bikin cercah-cercah ide itu terpecah dalam bentuk cericau sebelum bisa tergumpal seukuran blog. Pemecahan dengan miniblog tak terlalu berhasil. Mungkin seharusnya kita mulai menyerah, dan menulis blog dengan bentuk cericau ala twitter :). September. Di agendaku, ini berarti IPTV sudah mulai ditulis dengan tinta merah. Semangat, dan sekaligus tanda bahaya. Jika ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://twitter.com/kuncoro">Twitter</a> memang bikin cercah-cercah ide itu terpecah dalam bentuk cericau sebelum bisa tergumpal seukuran blog. Pemecahan dengan miniblog tak terlalu berhasil. Mungkin seharusnya kita mulai menyerah, dan menulis blog dengan bentuk cericau ala twitter :).</p>
<p>September.</p>
<p>Di agendaku, ini berarti IPTV sudah mulai ditulis dengan tinta merah. Semangat, dan sekaligus tanda bahaya. Jika ada yang memiliki ide keren mengenai content IPTV, sila kontak aku. Platform, perangkat, sistem, dll, sudah bukan waktunya lagi &#8212; semua sudah didefinisikan. Yang masih diperlukan adalah content.</p>
<p><a href="http://ieee.org">IEEE</a>. <a href="http://comsoc.org">Comsoc</a>. Kegiatan Q3 tak sebanyak Q2 dan Q1. Banyak diskusi kecil untuk mendefinisikan action plan ke depan. Juga ada beberapa peluang kerjasama yang menarik. Tapi Comsoc Indonesia sedang tumbuh menarik, jadi menarik minat para scammer juga. Ah, aku sudah hafal pola kerja para scammer. Lupakan, dan fokus ke kegiatan yang real.</p>
<p><a href="http://komunikasi.org">Comsoc Indonesia</a> juga bulan ini ditampilkan di <a href="http://dl.comsoc.org/gcn">Global Communications Newsletter (GCN)</a>. GCN adalah bulletin aktivitas kegiatan Comsoc, yang diterbitkan bulanan. Versi cetaknya dibundel di dalam <a href="http://dl.comsoc.org/ci1">Communications Magazine</a>, yang merupakan majalah bendera dari Comsoc; dan versi onlinenya memiliki web tersendiri di <a href="http://dl.comsoc.org/gcn/">http://dl.comsoc.org/gcn</a>. GCN bulan ini, yang memuat laporan Comsoc Indonesia, dapat diambil secara bebas pada URL <a href="http://tlk.lv/gcn1009">http://tlk.lv/gcn1009</a>.  Isi laporan lebih pada aktivitas yang telah dilakukan selama tahun terakhir ini, dan hanya sedikit menyinggung rencana ke depan. Kegiatan2 ini tentu sempat disinggung juga di blog ini, sejauh yang aku ikuti :).</p>
<p style="text-align: center;">
<img class="size-full wp-image-3055 aligncenter" title="GCN-1009" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/09/GCN-1009.png" alt="" width="400" height="432" /></p>
<p>Untuk pengingat, di bulan September ini, IEEE juga sudah memulai proses perpanjangan keanggotaan. Buat para anggota, silakan melakukan perpanjangan di <a href="http://ieee.org/renewal">http://ieee.org/renewal</a>. Konon ada hadiah menarik tahun ini. iPad?</p>
<p>Di IEEE, sedang dirayakan juga dua puluh tahun IEEE 802.11. Gugus Tugas IEEE 802.11 (Wireless Local Area Network, WLAN) didirikan pada 13 September 1990 untuk mewujudkan ide-ide mutakhir dalam pengembangan teknologi WLAN dengan kecepatan data 1 Mb/s. Hasil karyanya lebih akrab dengan nama WiFi, yang telah membaur dalam dunia Internet nirkawat beberapa tahun terakhir. Dalam usia dua puluh tahun, standar terakhir yang telah diterbitkan kelompok ini adalah IEEE 802.11n dengan kecepatan 600 Mb/s, dan saat ini tengah disusun standardisasi dengan target baru sebesar 5000 Mb/s. Standard 802.11 juga terus diperkaya dengan peningkatan efisiensi spektrum, keamanan informasi, QoS pada interface, dan feature-feature lain mengikuti kebutuhan user.</p>
<p>Lucunya, tanggal 13 September juga diperingati sebagai ultah kesepuluh Mac OS X. Mac OS X sedikit banyak mengubah hidup juga, membuatku berani beralih ke Mac, tanpa khawatir terputus dengan rekan2 kerja yang masih bergelimang lumpur Windows (hush). Aku mencobai Mac OS X di sebuah Mac Mini, trus ke Macbook, dan sekarang ke Macbook Pro. Si Mac Mini masih hidup, tapi lebih jadi music &amp; DVD player, si MBP menemani kerja, dan si Macbook putih baru disiksa dengan dibootcamp Windows Vista. Masih ada beberapa aplikasi yang hanya hidup di Windows, dan aku pikir itu pas untuk Macbook putih, daripada pensiun. Vista-nya sendiri aku dapat dari Priyadi, di Pesta Blogger 2007 :). Tak terasa lambat dia berjalan di Macbook 2.1 GHz dengan memori 2.5 GB dan HD dialokasikan 80 GB. Kadang masih crash sih.</p>
<p>September juga peralihan Ramadhan ke Syawal. Moga masih sempat melakukan refleksi diri biarpun sudah meninggalkan Ramadhan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/09/13/september/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noli Me Tangere</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/06/19/noli-me-tangere/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/06/19/noli-me-tangere/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 00:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Philippines]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2991</guid>
		<description><![CDATA[Di pintu perjalanan yang lain, membalik2 passport, aku baru menyadari satu hal menarik tahun ini: Filipina. Kunjungan ke negara2 lain tahun ini adalah kunjungan ulang. Tapi Filipina adalah kunjungan perdana. Negeri kepulauan di Pasifik Barat Daya ini seolah kembaran Indonesia: alamnya, masyarakatnya, masalah2nya. Aku jadi ingin bercerita tentang tokoh Filipina: José Rizal. José Rizal lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di pintu perjalanan yang lain, membalik2 passport, aku baru menyadari satu hal menarik tahun ini: Filipina. Kunjungan ke negara2 lain tahun ini adalah kunjungan ulang. Tapi Filipina adalah kunjungan perdana. Negeri kepulauan di Pasifik Barat Daya ini seolah kembaran Indonesia: alamnya, masyarakatnya, masalah2nya. Aku jadi ingin bercerita tentang tokoh Filipina: José Rizal.</p>
<p>José Rizal lebih dikenal di Indonesia melalui bukunya, Noli Me Tangere (1887), yang diterjemahkan di Indonesia menjadi Jangan Sentuh Aku (1975). José sendiri lahir di Calamba pada 19 Juni 1861, di negeri Filipina yang waktu itu masih dijajah Spanyol. Konon José adalah polymath yang meminati dan mencakapi banyak bidang ilmu, dan mempelajari banyak bahasa. Tapi ia adalah polymath yang merepotkan, karena sikap intelektual kritis yang ditampakkannya semenjak masa pelajar. Buku Noli Me Tangere aku baca di masa sekolah, dan termasuk buku yang tak dapat cepat dibaca. Gaya berceritanya tajam, benar2 tajam menusuk, memaparkan bagaimana pemerintahan yang kuat diatur oleh agama negara itu terlalu mudah diselewengkan oleh para agamawan, bahkan kalaupun itu bertentangan dengan kehendak penguasa administratif dan masyarakat. Berbeda, namun dengan tekanan yang sama dengan buku2 Indonesia masa penjajahan dulu: menggambarkan semangat yang hidup dalam atmosfer yang penuh tekanan.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-2994" title="rizal001" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/06/rizal001.jpg" alt="" width="171" height="400" align="left" />Perjuangan José sendiri tidak terlalu ditekankan pada soal ras dan kolonialisme; tetapi lebih ke arah penyelenggaraan tata masyarakat yang lebih adil dan beradab. Sebagai anak yang cerdas, José memperoleh prestasi yang baik di sekolah. Namun ia enggan mengambil kuliah kedokteran di Filipina, karena sikap para paderi yang menurutnya tak menarik. Akhirnya ia malah mendamparkan diri ke Madrid dan mengambil kuliah kedokteran di sana, dilanjutkan dengan mengambil doktor di Paris dan Heidelberg. Adalah di negeri2 Eropa ini ia menulis buku Noli Me Tangere: setengah di Spanyol, seperempat di Prancis, dan sisanya di Jerman. Ia tak anti Eropa. Dalam bukunya, ia menggambarkan negeri Filipina sebagai entitas masyarakat yang terpisah dari Spanyol, namun memiliki ikatan patron yang erat. Dan kalau buku itu kemudian menimbulkan kemarahan oleh pemerintah kolonial, itu karena alur dalam buku itu benar2 mendeskripsikan tekanan yang terjadi pada masyarakat Filipina masa itu.</p>
<p>Ketidaksukaan intelektual José pada praktek agama di Filipina membuatnya meninggalkan jamaah katolik. Alih2 yang disebutnya sebagai beragama ala pengelana Spanyol menggunakan api dan pedang, ia memilih menjalani keimanannya melalui pendekatan kejujuran dan akal sehat. Dengan ini ia meneruskan penentangannya pada perbudakan, pembodohan, dan eksploitasi manusia di negeri jajahan.</p>
<p>Bukan hanya oleh pengaruh Rizal bahwa masyarakat Filipina di masa itu memang dalam tahap kebangkitan menyusun identitas diri dan menentang penjajahan; seperti yang juga tengah terjadi di negeri2 terjajah lainnya.  Rizal menghindar dari tuduhan terlibat pemberontakan2, dengan berangkat ke Kuba untuk turut memberantas penyakit demam kuning. Namun pemberontakan yang menghebat membuat Pemerintah Spanyol merasa harus bersikap keras, yang ditunjukkan antara lain dengan menangkap José Rizal. Faktanya, memang kaum2 yang memberontak itu memperoleh energi dari pesan2 yang disampaikan José melalui buku2nya.</p>
<p>José dihukum tembak. Jenasahnya dihilangkan, tak dikembalikan ke keluarganya. Sebuah monumen untuk mengenangnya didirikan di tempat ia ditembak. Terdapat tulisan di sana: <em>&#8220;I want to show to those who deprive people the right to love of country, that when we know how to sacrifice ourselves for our duties and convictions, death does not matter if one dies for those one loves – for his country and for others dear to him.</em>&#8221;</p>
<p>Filipina sendiri kemudian lepas dari penjajahan Spanyol, tetapi kemudian dijajah Amerika Serikat, lalu diduduki Jepang pada masa Perang Dunia II, dan dimerdekakan setelah perang usai. José Rizal menjadi pahlawan dan simbol nasional Filipina. Hari eksekusinya diperingati setiap 30 Desember. Dan wajahnya menghiasi berbagai artefax Filipina. Koin2 misalnya. Dan kata2nya menghiasi idiom2 Filipina. &#8220;<strong>There can be no tyrants where there are no slaves.</strong>&#8220;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/06/19/noli-me-tangere/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Coventry</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/05/04/coventry/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/05/04/coventry/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 19:21:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Coventry]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/2010/05/04/coventry/</guid>
		<description><![CDATA[Coventry menyambut dengan aroma bekunya yang khas dan akrab. Cukup menyentakku, menghadirkan ilusi seolah aku baru meninggalkan kota ini beberapa bulan lalu. Banyak yang nampaknya terbekukan waktu: gedung dengan label yang sama, teks yang sama, aroma yang sama, dan nada yang sama. Mesin jaguar di Q Block, penjaga KFC, hingga matahari yang belum terbenam pukul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coventry menyambut dengan aroma bekunya yang khas dan akrab. Cukup menyentakku, menghadirkan ilusi seolah aku baru meninggalkan kota ini beberapa bulan lalu. Banyak yang nampaknya terbekukan waktu: gedung dengan label yang sama, teks yang sama, aroma yang sama, dan nada yang sama. Mesin jaguar di Q Block, penjaga KFC, hingga matahari yang belum terbenam pukul 20:00.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-3443" title="Coventry-03" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/05/Coventry-03.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Tapi sebenarnya banyak yang berubah. Lower precinct yang dulu direnovasi itu, kini sudah jadi mall yang ramah, menyatu dengan upper precinct yang tak berubah itu. Konon inilah pedestrian precinct pertama di Inggris, yang kemudian banyak ditiru kota lainnya. Millenium arc juga sudah selesai, menambah menarik kawasan sekitar Pool Meadow dan Museum Transportasi.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-3442" title="Coventry-01" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/05/Coventry-01.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Coventry pernah jadi kota keempat terbesar di Inggris, setelah London, Norwich, dan Bristol. Sempat tumbuh dari industri wool dan tekstil, ia beralih jadi raja industri mekanik: jam tangan, sepeda, hingga mobil. Namun industri persenjataannyalah yang membuat kota ini habis diluluhlantakkan Luftwaffe tahun 1940.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-3449" title="Coventry-08" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/05/Coventry-08.jpg" alt="" width="300" height="400" /></p>
<p>Kota-kota di sekitar Coventry menampilkan kecantikan masa lalu. Warwick dengan tembok megah dan kastil raksasanya; Leamington dengan taman luas dan gedung anggun bernuansa krem; Stratford-upon-Avon dengan beraneka gaya kecentilan abad2 lalu. Tetapi bom-bom dari Jerman membuat Coventry kehilangan banyak dari masa lalu itu. Namun, seperti seekor phoenix, ia bangkit dari abu kehancurannya, membangun diri sebagai kota modern.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-3448" title="Coventry-04" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/05/Coventry-04.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Beberapa situs menandai masa-masa dibangunnya Coventry saat itu. Belgrade Theatre dibangun atas sumbangan rakyat Yugoslavia, karena saat itu Coventry masih harus membangun instalasi vital. Patung-patung rekonsiliasi menunjukkan tiadanya minat mengungkit luka dan lebih memilih bekerja akrab meningkatkan harkat. Dan warna multikultural Coventry adalah warna asali yang membentuk kota ini.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-3450" title="Coventry-07" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/05/Coventry-07.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Tentu aku mengawali jelajah Coventry dari Coventry University. Kampus berlogo phoenix ini menjadi simbol kota Coventry yang menjadi kuat oleh kemampuan dan kepeloporan teknologi. Lanchester library, technopark, gedung Jaguar (ruang kuliahku dulu), hingga kantor pusat dengan penjaga yang extra ramah. Logo baru (yaitu logo lama yang dicerminkan) kini menghiasi hampir semua gedung di kampus ini.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-3445" title="Coventry-02" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/05/Coventry-02.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Herbert Museum, yaitu pusat budaya dan sejarah Coventry, jadi tujuan berikutnya. Kebetulan ada pameran tentang asal usul Coventry di sini; dari masa prasejarah Coventry, pembentukan kota dan kisah Lady Godiva, perang saudara dan revolusi industri, hingga hancur dan lahir kembalinya Coventry.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-3447" title="Coventry-06" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/05/Coventry-06.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Barulah kemudian city centre dan kawasan precinct. Dan kemudian kawasan lain di sekitar kota. Dan berakhir dengan kunjungan ke kota-kota di sekitar. Stratford-upon-Avon dengan puluhan angsa putih yang besar namun lincah di sungai Avon, Warwick dengan kastilnya nan megah dan fantastik, dan Leamington dengan tupai-tupai imutnya. Lalu, Coventry kembali harus ditinggalkan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-3446" title="Coventry-09" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/05/Coventry-09.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Coventry menginspirasi untuk bergerak, berinovasi kreatif, berkomitmen pada kejujuran ilmiah, dan terus maju ke depan; bukan untuk terus berada di masa lalu atau melamuni masa kini. Maka kunjungan ke Coventry belum selesai. Kita terus berada di Coventry justru saat kaki kita melompat jauh darinya, dan kekuatan kreatif kita mewarnai dunia-dunia yang terus kita jelajahi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/05/04/coventry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Life Confident</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/10/17/life-confident/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/10/17/life-confident/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 10:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Telkom]]></category>
		<category><![CDATA[Indigo]]></category>
		<category><![CDATA[life confident]]></category>
		<category><![CDATA[logo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2721</guid>
		<description><![CDATA[Jadi aku harus menamainya mission atau passion? :), ini digencarkan di entry blog ini beberapa bulan lalu. Tapi program Indigo bukan hanya merupakan platform kerja Telkom: ia juga mendefinisikan Telkom. Strategi dan komitmennya untuk melaju bersama komunitas-komunitas kreatif dan elemen-elemen pembangun ekonomi dan budaya bangsa, ditampilkan dalam visualisasi baru, tagline baru. Sebuah brand positioning pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi aku harus menamainya mission atau passion? :), ini digencarkan di <a href="http://kun.co.ro/2009/08/04/indigo-in-action/">entry blog ini beberapa bulan lalu</a>. Tapi program Indigo bukan hanya merupakan platform kerja Telkom: ia juga mendefinisikan Telkom. Strategi dan komitmennya untuk melaju bersama komunitas-komunitas kreatif dan elemen-elemen pembangun ekonomi dan budaya bangsa, ditampilkan dalam visualisasi baru, tagline baru. Sebuah brand positioning pun diperkenalkan: <strong>Life Confident</strong>.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Telkom Indonesia" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/10/TelkomIndonesia.png" alt="Telkom Indonesia" width="400" height="233" /></p>
<p>Logo baru Telkom dan brand positioning ini sendiri baru di<em>softlaunch</em>kan malam tadi, sebelum diluncurkan secara lebih besar bersamaan dengan penganugerahan Indigo Awards tanggal 23 Oktober mendatang. Aku sedang cukup disibukkan oleh persiapan Indigo Awards, jadi tak sempat menghadiri <em>soft launching</em> :). Tapi sekilas melirik, tampaknya aku langsung jadi fans logo Telkom yang baru ini.</p>
<p>Pesan <strong>Life Confident</strong> sendiri langsung membangkitkan optimisme. Hidup bukan sesuatu yang mudah bagi siapa pun. Tetapi deretan perjuangan hidup mewarnai jiwa kita dengan nilai-nilai yang membuat tak memiliki alasan untuk tidak menganggap hidup itu indah. Di atas sinisme jenaka kita, kita memiliki optimisme. Di atas beku udara (<em>brrr),</em> ada hati dan jabat tangan hangat yang menemani perjuangan kita. Dan dengan kecerdasan hidup kita, kita bisa mencapai kegemilangan negeri ini.</p>
<p>Ayo, ini dunia kita. Isi dengan warna-warna kita, dengan keyakinan diri dan kelincahan langkah.</p>
<p>Catatan:</p>
<ul>
<li><a href="http://kuncoro.co.uk/post/302/">Logo Telkom yang baru ini memiliki warna latar belakang putih terang, bukan transparan. Klik di sini untuk melihat logo yang orisinal dengan latar putih.</a></li>
<li><a href="http://koen.blog.plasa.com/2009/10/19/logo-ramah/">Kenapa tangan, lingkaran, biru, kuning emas, huruf ramping, dan Indonesia? Aku bahas di blog yang lain. Klik di sini.</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/10/17/life-confident/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>69</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nukov</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/10/07/nukov-2/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/10/07/nukov-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 05:03:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[bhawikarsu]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[nukov]]></category>
		<category><![CDATA[smanti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2713</guid>
		<description><![CDATA[Belum satu jam sejak Garuda meluncuri lintasan di samping lereng Gunung Arjuna yang memukau itu dan melandas di Abdurrahman Saleh Airport, aku sudah berada di tempat yang seperti mimpi itu: Halaman SMA Negeri 3 Malang. Dan aku harus menulis namaku di daftar absen. Dan aku harus menulis nama di nametag. Aku pakai dua nama yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belum satu jam sejak Garuda meluncuri lintasan di samping lereng Gunung Arjuna yang memukau itu dan melandas di Abdurrahman Saleh Airport, aku sudah berada di tempat yang seperti mimpi itu: Halaman SMA Negeri 3 Malang. Dan aku harus menulis namaku di daftar absen. Dan aku harus menulis nama di nametag. Aku pakai dua nama yang dulu aku pakai di sini: Kuncoro dan Nukov. Yang pertama buat guru2, dan yang kedua buat teman2. Koen hanya tertempel di mading (offline blog) waktu itu (pun jarang).</p>
<p>Bertahun kadang aku dikunjungi mimpi yang sama. Bahwa suatu hari kami harus kembali ke sini. Tapi dalam mimpi itu, kami mengenakan seragam putih abu2, kembali masuk ke kelas masing2, dan meneruskan diskusi yang dulu tertunda, dipimpin Walikelas III. Kali ini diskusinya diperkaya dengan apa yang kami pelajari setelah lulus dan setelah mengelanai dunia. Duh mimpi. Dalam realita, hari itu kami harus pakai kaos yang didesain serupa dengan yang kami pakai waktu masih kelas I, waktu kaon didesain dengan optimasi harga pewarna :). Lucunya, di dalam kaos itu, kami kehilangan semua waktu berpisah. Rasanya kayak baru berpisah 3-4 bulan dengan makhluk2 yang mukanya nggak jauh berubah. Cuman the ladies banyak yang sudah pakai kerudung, dan the gentlemen banyak yang sudah gemuk. Ah, klasik.</p>
<p>Nukov sebenarnya bukan satu2nya namaku. Dulu (eh, 3 bulan lalu) aku jadi wapimred, baik untuk mading maupun majalah Gema. Kadang banyak tulisan yang masuk dari rekan2. Tapi kadang hampir tak ada satu pun. Sementara setiap minggu (dan kemudian setiap dua minggu) mading harus diupdate seluruhnya. Jadi untuk mengisinya, aku harus banyak menulis juga. Dan daripada banyak nama &#8220;CrVaçtu&#8221; di sana, aku pakai nama2 lain: Cruiser, Neko Niichisan, Nukov, dll. Tapi entah kenapa pimred kami, Handy, menganggap nama Nukov itu lucu. Jadi suatu hari di sekitar 3 bulan yang lalu itu, dia meneriakiku dari lapangan basket: NUUKOOOOOV! Dan semua orang jadi memanggilku Nukov. Aku jadi merasa nama itu lucu juga, lama2 :).</p>
<p>Sayangnya Handy tak hadir kemarin. Seperti banyak makhluk Bhawikarsu lain, dia luar biasa. Dulu kepsek kami diganti. Penggantinya berbeda sekali dengan pendahulunya, dan membuat kami kurang nyaman. Dan tentu sindiran plus protes dilampiaskan para siswa ke mading. Waktu sekali lagi kepsek itu melakukan pungutan kurang jelas, salah satu siswa (bukan redaksi) mengirim kartun protes. Kartun :). Aku lagi sendirian hari Minggu itu. Aku pikir kartun itu selain amat lucu, juga konteksnya pas, biarpun sarkatis. Aku pasang. Trus aku pulang. Dan tentu saja di hari Senin, itu jadi masalah besar. Pimred dipanggil. Aku menawarkan diri menemani. Tapi Mr Handy Trisakti cuman bilang: «Aku penanggung jawab»  trus dia masuk ruang kepsek sendirian. Aku sempat berpikir bahwa aku sedang menghadapi HB Jassin.</p>
<p>Percuma menggunakan nama samaran yang berbeda, kalau gaya kita menulis tak berbeda. Maka CrVaçtu menulis essai serius tapi santai, becanda tanpa melupakan EYD (di sisi grammar, bukan di sisi kosa kata). Neko Niichisan mengasuh English Corner dan Dasar Bahasa Jepang (sekarang sudah lupa semua). Cruiser artikel2 kecil, dan jokes in Indonesian and English. Nukov, apa yang tersisa? Chaos :). Permainan kosa kata ala CrVaçtu diekstrimkan. Esai dipelesetkan. Dll. Kurasa blog ini masih meneruskan gaya CrVaçtu, dengan EYD yang sudah dicemarkan dengan tata bahasa dari budaya2 lain. Buat yang sedang mempelajari Bahasa Indonesia baku, mohon jangan gunakan blog ini sebagai contoh.</p>
<p>Nama2 samaran juga suka jadi masalah. Nama samaran yang bukan samaran, CrVaçtu, aku tulis di buku2, LKS, lab reports, dll. Jadi kalau hilang, tidak semua rekan tahu ke mana harus mengembalikan buku itu. Seorang teman, Antin, yang menemukan lap report-ku dari Lab Kimia, hanya bisa menebak itu report-ku bukan dari nama CrVaçtu, tapi «Soalnya banyak huruf2 asing di dalamnya. Siapa lagi kalau bukan kamu.» Haha, aku masih ingat beberapa kata asing untuk kimia. Tapi sebagian lagi lupa. Dan di kelas, tumben Bu Zaenab (calculus wizard) kami nekat mengumpulkan buku untuk checking siapa yang bener2 bikin PR. Peristiwa langka. Beliau tertib sekali. Jadi buku harus rapi (hah, buku matematika bisa rapi?). Satu per satu dipanggil untuk menerima bukunya. Tapi bukuku ditahan. Tinggal satu. Aku maju mau ambil. Beliau melarang. &#8220;Itu bukan namamu. Memang namamu siapa?&#8221; Aku cari ide, dan untungnya tidak perlu lama. &#8220;Wastu, Bu.&#8221; Beliau melirik nama crVaçtu dengan font acakadut itu, terus mengembalikan tanpa komentar. Di reuni minggu lalu, Calculus Wizard ini termasuk yang bersedia hadir. Duh, jadi terharu ketemu beliau, masih dengan mata cerdas dan gaya acuhnya. Diadu kalkulus, kayaknya aku masih bakal kalah &#8212; thanks to MathCAD.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="CalculusWizard-and-Me" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/10/CalculusWizard-and-Me.jpg" alt="CalculusWizard-and-Me" width="400" height="283" /></p>
<p>Eh, aku tadi menyebut kimia. Entah kenapa guru2 kimia kami keren2. Aku jadi terpaksa memaksa diri punya nilai tinggi di Kimia. I mean, kita perlu kecerdasan untuk bisa bagus di matematika. Tapi untuk juga bagus di kimia, selain memanfaatkan kecerdasan, kita juga harus meluangkan waktu untuk banyak menghafal. Aku jadi harus banyak baca buku gituan di balik selimut tipis pada udara malam Malang yang &#8230; brrr. Tak mengecewakan sih hasilnya. Cuman para guru itu umumnya tak terkesan. Salah satu seniorku dulu namanya Dimitri Mahayana. Dia doolooo selaaloo punya nilai yang bagusnya ajaib. Dan setelah itu tak ada lagi murid yang lebih mengesankan, haha :). Eh, one day, selimutku di rumah diganti yang lebih tebal dan lebih hangat, dan nilai kimiaku sempat turun, haha :). Salah satu guru kimia, Bu Rukmini, kemarin hadir, dan kami sempat berbincang panjang. Masih tentang kimia. Gila nggak sih?</p>
<p>Dan sesuai isi mimpi, harusnya kami diskusi dipimpin Wali Kelas III. Beliau namanya Bu Henny, sekaligus mengajar Fisika. Ketemu beliau, aku langsung menjabat tangannya, bertanya apa kabar, dan dengan ceria bertanya «Masih ingat saya nggak, Bu?» Beliau tersenyum manis, dan menjawab tenang «Nggak. Duh. Nggak sama sekali.» Hihihi :).</p>
<p>Heh, oh ya, di zaman Nukov ini juga pertama kali aku baca teks dari Derrida &#8212; «There is nothing outside the text». Waktu itu aku belum paham :). Sekarang? Heh, there is nothing outside the tweet :).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/10/07/nukov-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nine One One</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/09/11/nine-one-one/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/09/11/nine-one-one/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 13:24:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[indonesiaunite]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2702</guid>
		<description><![CDATA[Itu adalah sebuah Selasa di akhir musim panas. Tapi musim panas itu menghabiskan panasnya di pertengahan tahun saja. Udara September 2001 di kota Coventry nan imut itu membuatku merutuki diri bahwa sekali lagi aku lupa bawa jaket. Yang kubawa di tas biruku juga tak menambah kehangatan. Waktu berlari. Tak bisa lagi banyak membaca buku sains, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Itu adalah sebuah Selasa di akhir musim panas. Tapi musim panas itu menghabiskan panasnya di pertengahan tahun saja. Udara September 2001 di kota Coventry nan imut itu membuatku merutuki diri bahwa sekali lagi aku lupa bawa jaket. Yang kubawa di tas biruku juga tak menambah kehangatan. Waktu berlari. Tak bisa lagi banyak membaca buku sains, budaya asing, musik, filsafat yang bertumpuk bagai harta karun di perpustakaan bermenara mirip sarang burung itu. Waktu menipis. Yang kubawa hanya buku tentang broadband network, konfigurasinya untuk trafik tinggi, balancingnya untuk daerah luas berpenduduk tak merata, teknologinya yang konon mau berkonvergensi tapi selalu mismatch. Heh, kita dulu mencandai satu buku ini sebagai buku sastra Yunani. Pernah baca formula trafik paket? Hahah, deretan huruf Yunaninya pasti lebih seram dari Homer :).</p>
<p>Sekarang bayangkan, pasti senyap sekali bis yang membawa aku pulang ke Westwood Heath. Lebih sepi dari seharusnya. Karena suhu yang tak ramah, waktu yang kurang pas, atau karena formula pengendalian trafik itu sudah mulai terinstansiasi ke jalan-jalan Warwickshire yang terlindung pohon-pohon berdaun hijau coklat lebat itu?</p>
<p>Kamarku berpintu merah. Kunci kartu kuselipkan untuk membukanya. Notebook kukeluarkan dari tas. Juga buku-buku. Lalu kuhempaskan badan ke kasur kecil. Maunya. Nggak jadi. Telefon berdering. Suara mendesak di ujung sana. &#8220;Pasang TV sekarang juga. Gedung WTC ditabrak pesawat.&#8221;</p>
<p>Harus kuakui sekarang. Aku tak terkesan. Tapi bayangkan: itu tahun 2001. BBC setiap hari menyampaikan bagaimana negeri kita dibanjiri kekerasan. Mayat diseret di kota Malang. Pembunuhan sadis di Sampit. Krisis Poso. Jakarta. Ada yang ingat bahwa di tahun 2001 itu BBC menampilkan deretan panjang tank dan panser di Jakarta? Saat presiden menurunkan dekrit membubarkan DPR, dan memerintahkan militer membubarkan paksa DPR? Syukurlah waktu itu militer punya akal sehat dan memilih diam. Tapi juga ada Ambon. Dan Aceh yang tak kunjung selesai. Di masjid, para pemuda Palestina membacaan doa buat Indonesia selesai shalat Jumat. Ah, kalian yang kini berdoa untuk Palestina setelah shalat Jumat &#8230; kalian tak menyangka kan?</p>
<p>OK, kita kembali ke TV. Maka BBC menampilkan sekali dan sekali lagi dan sekali lagi adegan yang kini menjadi memori kita semua. Satu pesawat menghujam tubuh satu dari dua gedung kembar WTC. Lalu satu lagi menghujam gedung lainnya. Lalu runtuhan implosif mengakhiri kerja jahat itu dengan menghancurkan semuanya. Diperkirakan antara 20.000 hingga 40.000 orang meninggal. (Sekitar 6000, beberapa hari kemudian disampaikan). Menatap semuanya tanpa henti, baru aku sadar: ini adalah pernyataan perang. Tanggal 11 September, angka 9/11, menjadi sejarah.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.spiegel.de/img/0,1020,132952,00.jpg" border="0" alt="" width="400" /></p>
<p>Hebohkah? Sore itu, kami memperbincangkan apa yang terjadi di New York. Dengan suasana ketidakpastian. Tidak dengan kemarahan, ketakutan, atau ketakjuban. Seorang Cina yang biasanya mencerca US (sedang terjadi krisis diplomatik saat itu antara PRC dan US) terdiam. Tapi hidup tak langsung berubah. Beberapa hari itu, kami masih ke kota. Di pusat kota orang berkumpul. Membawa bunga, menandatangani tanda duka, mengenakan pita, dan bendera. Di BBC ditampilkan sekelompok ibu-ibu Palestina yang berteriak gembira menyambut hancurnya gedung WTC. Mereka mungkin bodoh, tapi tidak jahat. Mereka dari kampung yang temboknya tidak ada yang utuh. Keluarga mereka, bahkan hingga anak kecil, setiap saat terkena bom dan peluru Israel. Yang mereka tahu adalah bahwa Israel kuat karena dukungan AS. Jadi ledakan di AS adalah kegembiraan. Aku tak berminat membenarkan mereka. Tapi mohon jangan juga menyalahkan mereka. Mereka cuma korban perang.</p>
<p>Di akhir minggu, di tengah publikasi hasil penyelidikan kasus 911 di AS (plus segala macam wacana simpang siur tentang konspirasi dan hal2 menyebalkan semacamnya), aku ke Nottingham. Di sana, aku ikut antri menandatangani tanda duka. Tak mengenakan pita tapi. Juga tak memasang bendera. Lalu menghadiri pengajian Kibar. Mas Zulkiflimansyah dari Scotland masih jadi ketua pengajian (atau baru jadi mantan ketua pengajian, aku lupa). Tapi kami tak membahas tentang terorisme. Kami membahas ekonomi Islam: sesuatu yang berbasiskan rasionalitas dan akuntabilitas. Lalu prihatin bahwa Islam yang mulai dikenal rasional dan ramah itu kini kembali diidentikkan dengan kejahatan.</p>
<p>Beberapa pihak mulai menampakkan tanda permusuhan. Termasuk Baroness Thatcher. Masjid di kampus Coventry dikawal polisi untuk mencegah ada yang melakukan kekerasan terhadap umat muslim. Tetapi di kota lain, kekerasan tak dapat dicegah. Di Scotland, sebuah masjid mengalami ledakan ringan (tak lama setelah provokasi Thatcher). Dan tesisku mulai tertunda.</p>
<p>Tesisku akhirnya selesai di bulan Ramadhan. US, UK, dan pasukan sekutu sudah mengirim pasukan ke Afganistan, mengejar teroris Al-Qaidah. Ujian berakhir. Pulang. Perang terhadap teroris mulai overdosis. Bendahara pengajian di UK, Perancis, dll, dibawa ke kantor polisi, diinterogasi tentang aliran dana zakat dan infaq kami. Kegiatan kami mengirimkan dana kemanusiaan ke tanah air terpaksa dihentikan saat itu. Di tahun 2002, ISNET bahkan sempat terhenti. Majelis Syuro-nya non aktif.</p>
<p>Pembersihan Al-Qaidah menjadi kerjasama internasional. Tapi jadi problematik di Indonesia, yang saat itu baru mulai menata kembali masyarakatnya yang mulai mau merekatkan diri, biarpun hati mereka masih berat. Banyak hal yang jadi tabu dibicarakan, diselesaikan. Semuanya melalui gerakan lambat dan toleransi. Salah satu efeknya adalah bahwa Al-Qaidah yang tadinya berkembang di Malaysia, dan kemudian menyempir gerakknya karena terjadi pembersihan, akhirnya bermigrasi ke Indonesia, termasuk duet bomber Azhari &#8211; Noordin Top. Satu sudah jadi bangkai, tapi satu masih buron. Dan sampai sekarang kita masih menuai bom di pusat Jakarta.</p>
<p>Palestina masih tertindas. Sebagian oleh kekejian abadi kaum zionist. Sebagain oleh perpecahan terus menerus antara para pejuang Palestina sendiri &#8212; perpecahan tanpa toleransi tanpa kasih persaudaraan.</p>
<p>11 September 2001 belum lama berlalu. Apa yang terpikirkan oleh kita saat mengenang peristiwa itu, dan peristiwa-peristiwa sesudahnya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/09/11/nine-one-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telefonsky</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/07/06/telefonsky/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/07/06/telefonsky/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 13:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Telkom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2654</guid>
		<description><![CDATA[Oom Eris itu unik nian &#8212; selalu terfokus pada pekerjaan. Jadi, waktu aku menelefon minta izin nggak masuk kantor (dengan surat izin dokter), tanpa pikir panjang beliau memutuskan untuk pindah kantor ke rumahku. Bandung sudah menggelap-malam waktu beliau dan rombongan datang. Tapi begitu masuk rumah, yang dilihat malah rak buku kecilku. Kalau yang dilihat rak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oom Eris itu unik nian &#8212; selalu terfokus pada pekerjaan. Jadi, waktu aku menelefon minta izin nggak masuk kantor (dengan surat izin dokter), tanpa pikir panjang beliau memutuskan untuk pindah kantor ke rumahku. Bandung sudah menggelap-malam waktu beliau dan rombongan datang. Tapi begitu masuk rumah, yang dilihat malah rak buku kecilku. Kalau yang dilihat rak yang lebih besar, yang banyak buku2 anehnya sih masih bisa dipahami. Tapi rak buku kecil itu umumnya berisi buku &#8220;dan lain-lain&#8221; yang ditampung karena rak besar tak mampu lagi menyimpan. Agak lama, aku baru sadar bahwa yang dilihat Si Oom bukan buku, tapi tiga miniatur telefon antik. Haha. Masih Telkom nih :).</p>
<p>Aku sendiri bukan kolektor miniatur telefon antik. Syulit carinya syie. Itu miniatur telefon masuk rak juga cuman gara2 berencana mensuasanai rak buku bagian tengah, yang berisi buku2 telekomunikasi, dengan suasana sejarah telekomunikasi. Selain miniatur telefon, ada beberapa perangko dan kartu pos bertema telekomunikasi. Tapi rencana itu pun tak diteruskan. Keburu pindah ke Jakarta.</p>
<p>Aku cukup beruntung sempat kenal telefon sejak kecil. Zaman dulu, telefon itu langka. Hitam putih pula (eh, itu sih TV). Tapi Papap dibekali telefon rumah. Rumah yang di Malang (Kasatriyan) bertelefon hitam agak besar. Nomornya 5131 pesawat 26. Kadang2 tante-tante dari Perumtel datang melakukan &#8220;service telefon&#8221; :). Yang gawat tuh Mess di Jember. Telefonnya masih pakai engkel diputar. Wrrrrr. Listrik terkirim, dan operator (manusia) menjawab untuk menyambungkan. Waktu itu yang kadang aku telefon adalah Oom No&#8217; yang kerja di Perumtel Bandung, nomornya 022-51507; atau rumah Embah di Cimahi, nomornya 0229-4762. Cimahi pernah 0229 loh. Dan sebelumnya pernah harus dengan komunikasi khusus karena tidak punya kode area tersendiri.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone size-medium wp-image-2659" title="Mobile-Phone-02" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/07/Mobile-Phone-021-400x266.jpg" alt="Mobile-Phone-02" width="400" height="266" /></p>
<p>Trus telefon tak menarik lagi. Mata kuliah Telefoni di Teknik Elektro juga cuman kulintasi, tak kuperdalam. Dih, hari gini, masih urusan telefon; pikirku. Mana nih ISDN &#8212; yang aku baca2 di majalah Time waktu SMA dulu? Padahal saat itu telefon tengah berevolusi ke arah informasi digital. Semua voice hanya dibawa sampai ke sentral, kemudian dibawa sebagai informasi digital 64 kb/s per kanal. Satu-satu sentral didigitalkan. Di kampus aku malah bermain dengan control &amp; computing. Dan memutuskan untuk &#8230; Eh, tapi nggak punya bekal buat skripsi dink. Err, kebetulan Telkom menawari beasiswa ikatan dinas. Masuk nggak? Haha, untuk mendaftar masuk ke Telkom, kami harus &#8216;rapat&#8217; dulu. Aku dan Ziggyt memutuskan bahwa Telkom layak dimasuki, karena urusannya nantinya bukan cuma telefon, tetapi transportasi informasi kecepatan tinggi.</p>
<p>Sejarah memang menyuruh aku dan Ziggyt akhirnya ikut mengawal Telkom. Cuman untuk urusan informasi kecepatan tinggi, kelihatannya kami harus menunggu lagi dan belajar lagi sekian tahun. ISDN ternyata tak aplikatif. ATM ditinggalkan sebelum implementasi. Hanya di core network saja, semuanya disiapkan. Dan mobile telecommunications melejit secara eksplosif, mengubah bisnis telekomunikasi selama2nya. Sekarang aku menikmati cita2 masa kuliah. Apa pun zaman dulu namanya, sekarang namanya adalah Mobile Internet 2.0. Informasi multimedia berlarian, menemani dan membantu kita di manapun kita berada. Tak hanya dengan akurat, tetapi juga dengan elegan, indah, dan manusiawi. Sambil &#8230;</p>
<p>&#8220;Sombong nih Si Koen sekarang,&#8221; kata Ziggyt &#8212; sekarang bermain bisnis Internet di Bogor. &#8220;Nggak pernah diangkat telefonnya.&#8221; Dasar Ziggyt pelupa. Memang kapan sih aku pernah betah berkomunikasi dengan telefon? Hari gini masih urusan telefon? (Déjà vu &#8211;red). Twitter atau Blog aku balas kok, Git :).</p>
<p>BTW, cita2 masih jauh dari usai. Salah satunya, yang selalu aku sebut2 (sampai bikin bosan temen2 di sekitarku), adalah menggantikan kebutuhan transportasi dengan telekomunikasi. Aku mencita2kan kota2 tanpa mobil berasap. Kendaraan listrik berjumlah kecil menghantar manusia bersilaturrahim dan melakukan hal2 menarik. Sekolah, kerja, administrasi, ekonomi, dan hal2 menyebalkan lainnya tak lagi akan menyesakkan dan mencampuri bumi. Semuanya akan kita pindahkan ke Internet (3.0, 4.0, sampai berapa pun). Let&#8217;s do it.</p>
<p>[Blog berhenti. Kerja lagi.]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/07/06/telefonsky/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Discours sur les Passions de l&#8217;Amour</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/06/19/discours-sur-les-passions-de-lamour/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/06/19/discours-sur-les-passions-de-lamour/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 00:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2642</guid>
		<description><![CDATA[Ini tentang Blaise Pascal: filsuf, ilmuwan, matematikawan, yang tidak menemukan Segitiga Pascal (yang sudah dimainkan Umar Khayam dll jauh sebelumnya) maupun Bahasa Pascal (yang ini ulah Niklaus Wirth jauh sesudahnya). Tokoh ini kebetulan lahir pada 19 Juni, di tahun 1623. Blaise kecil sudah menggemari matematika. Tapi ayahnya justru sempat menjauhkannya dari matematika, agar ia sempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini tentang Blaise Pascal: filsuf, ilmuwan, matematikawan, yang tidak menemukan Segitiga Pascal (yang sudah dimainkan Umar Khayam dll jauh sebelumnya) maupun Bahasa Pascal (yang ini ulah Niklaus Wirth jauh sesudahnya). Tokoh ini kebetulan lahir pada 19 Juni, di tahun 1623.</p>
<p>Blaise kecil sudah menggemari matematika. Tapi ayahnya justru sempat menjauhkannya dari matematika, agar ia sempat mempelajari hal2 lain juga (tipe ayah langka). Usaha itu gagal :), jadi Blaise akhirnya malah diberi kesempatan ikut menonton perbincangan rutin antar matematikawan kelas berat, termasuk Rene Descartes. <img class="alignright size-full wp-image-2643" title="BlaisePascal" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/06/BlaisePascal.jpg" alt="BlaisePascal" width="258" height="400" align="right" />Kemudian Blaise sempat merumuskan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pascal%27s_theorem">Teorema Pascal</a>. Pada usia 18, Blaise juga merancang mesin hitung analog, yang kadang dinamai sebagai Pascaline. Bekerja sama dengan Fermat, ia menurunkan berbagai formulasi probabilitas. Beralih ke fisika, ia mempopulerkan tentang ruang hampa &#8212; hal yang ditentang oleh mayoritas masyarakat saat itu. Namun ia berhasil meyakinkan masyarakat bahwa ruang hampa itu ada, dan bahwa barometer bekerja dengan cara itu. Karena hal ini, kelak SI menggunakan nama pascal (Pa) sebagai satuan tekanan. Blaise juga menulis beberapa buku. Salah satunya yang dicuri dijadikan judul entry blog ini.</p>
<p>Tahun 1654, Blaise mendapatkan <em>visi</em> bahwa Tuhan telah menemuinya. &#8220;Tuhan dari Ibrahim, Ishaq, dan Yaqub,&#8221; tulisnya (dalam teks kecil yang baru bisa dibaca orang lain sekian bulan setelah ia meninggal). Ia kembali menseriusi soal ketuhanan dan agama. Untuk menjelaskan soal Tuhan kepada mereka yang belum memiliki keyakinan (dan jelas bukan untuk argumentasi bagi dirinya sendiri yang telah kembali memiliki keimanan), ia merumuskan apa yang kemudian disebut dengan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pascal's_Wager">Taruhan Pascal</a>. Pada budaya Islam, pola berpikir semacam ini pernah juga diulas oleh Haramayn al-Juwayni, dengan beberapa perbedaan.</p>
<p>Asumsinya, Tuhan memiliki sifat yang berbeda dengan makhluk, dengan apa pun yang ada di dunia. Dengan demikian, Tuhan tak harus teramati, tak harus (dan tak dapat) terbuktikan oleh sains. Masih banyaknya kaum ilmuwan yang memiliki keimanan di masa kini (biarpun kaum ilmuwan atheist terus menerus menunjukkan bahwa Tuhan tidak terbuktikan) antara lain didorong pandangan para ilmuwan bahwa memang jika Tuhan bisa terbuktikan oleh sains, maka Ia bisa disebut tampak secara inderawi, dan bukan lagi Tuhan. Mereka bisa sibuk dengan teori string, medan kuantum, teori evolusi, dll; sambil menikmati hubungan yang manis dengan agama dan keimanannya. Fakta bahwa ide dan ketaatan atas Tuhan (dan agama) itu hanya soal budaya, soal evolusi psikologi, genetik, dan sosial, dst, dst, disikapi dengan pandangan: Begitulah Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang itu membuat diri kita mampu mengenal-Nya. Ia menyukai proses, seperti saat ia menciptakan bumi bulat dan memutarnya dekat sebuah bintang hanya untuk memberi kita siang dan malam dan siklus hidup.</p>
<p>Kembali ke Blaise. Karena Tuhan tak terbuktikan secara ilmiah; maka kita dihadapkan pada probabilitas bahwa 50% Tuhan ada dan 50% Tuhan tidak ada. Lalu kita punya pilihan: hidup dengan (<strong>A</strong>) cara seolah Tuhan ada atau dengan (<strong>B</strong>) cara seolah Tuhan tidak ada. Tapi kita harus menghadapi konsekuensinya: (<strong>Aa</strong>) kita bisa beriman kepada Tuhan yang ada, (<strong>Ba</strong>) kita bisa tertipu mengira Tuhan ada, (<strong>Ab</strong>) kita bisa ingkar kepada Tuhan yang ada, atau (<strong>Bb</strong>) kita bisa bebas dari Tuhan yang tidak ada. Lalu Blaise meminta kita menimbang. Pada <strong>Aa</strong>, saat kita mati kita mendapat ganjaran surga, dengan benefit tak terhingga. Pada <strong>Ab</strong>, tergantung sifat Tuhan, kita bisa disiksa selamanya atau diampuni. Pada <strong>Ba</strong>, kita bagaimanapun sudah berbuat baik, selebihnya biar saja agak mubazir. Pada <strong>Bb</strong>, kita tidak rugi menghabiskan hidup hanya untuk hura-hura. Namun lalu Blaise menunjukkan hasil timbangannya, bahwa bagaimanapun &#8212; bagi kaum yang masih ragu &#8212; akan lebih tepat untuk menjalani hidup dengan menganggap Tuhan ada.</p>
<p>Cukup banyak kritikan atas Taruhan Pascal ini, baik dari umat beragama maupun para atheist. Anda sendiri &#8212; hai :) &#8212; pasti punya kritikan keras. Dan percayalah, Blaise juga tahu itu. Pertama, itu hanya berlaku untuk mereka yang betul2 ragu, tidak untuk orang yang sudah memperoleh hidayah iman keimanan lalu iseng menimbang lagi, juga untuk atheist yang yakin bahwa probabilitas adanya Tuhan itu 0%. Bagaimanapun kita hidup dan memiliki konsekuensi atas pilihan kita masing2. Kedua, timbangannya adil jika agama benar2 diarahkan untuk membawa manusia menjadi khalifah di atas bumi; bukan untuk jadi perusak yang membawa2 nama agama dan kelompok sebagai pembenar. Ketiga, agama selaras dengan nurani dan membuat kita merasakan ketenangan di dalamnya, bukan misalnya agama yang misalnya mengharuskan anak kecil disembelih di altar dan jantungnya dipersembahkan ke Mimikeki (duh, kayak pernah dengar nama ini). Keempat, diasumsikan agama2, karena memiliki tujuan yang baik, tidak saling merusak :). Duh, berat kan ternyata? Kelima, keenam, dst, dst; karena itu Taruhan Pascal memang jadi tidak populer.</p>
<p>Aku nggak akan pakai hitungan semacam ini untuk meyakinkan orang :).  Dan seperti aku bilang tadi, Blaise sendiri pun tidak menggunakan Taruhan ini. Seperti yang pernah disampaikan Kanjeng Nabi: Ihsan itu menjalani hidup seolah sambil melihat Allah; atau setidaknya sambil merasa dilihat Allah. Lalu apa kata nuranimu mengenai itu?</p>
<p>Blaise meninggal pada usia 39. Tapi sebelum itu pun kesehatannya selalu buruk. Selalu sakit kepala, katanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/06/19/discours-sur-les-passions-de-lamour/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ovi Store</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/06/11/ovi-store/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/06/11/ovi-store/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 06:59:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Mobile]]></category>
		<category><![CDATA[ovi]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2632</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu yang aku presentasikan di ITT bulan lalu adalah berbagai platform pengembangan aplikasi mobile saat ini. Perangkat mobile sudah melekat di manusia, bahkan di usia dini (duh, dini lagi). Dan, mengikuti trend, ke depannya ini akan lebih parah :). Saat kita menyebut three-screen, sekarang kita menomorsatukan mobile, baru diikuti komputer dan televisi. Share atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu yang aku presentasikan di ITT bulan lalu adalah berbagai platform pengembangan aplikasi mobile saat ini. Perangkat mobile sudah melekat di manusia, bahkan di usia dini (duh, dini lagi). Dan, mengikuti trend, ke depannya ini akan lebih parah :). Saat kita menyebut three-screen, sekarang kita menomorsatukan mobile, baru diikuti komputer dan televisi. Share atas platform smartphone aku ulas bulan lalu di <a href="http://koen.blog.plasa.com/2009/05/14/mobile-platform-market-share/">koen.blog.plasa.com</a>. Untuk sales, Symbian (Nokia cs) memimpin dengan share 47%. Namun untuk Internet usage, Apple memimpin dengan share 65%. Kesannya, user iPhone kecil tetapi Internet-savvy; sementara user Nokia banyak tetapi masih sibuk di telefon dan SMS.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-2635" title="ovi5800" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/06/ovi5800.jpg" alt="ovi5800" width="200" height="272" align="right" />Tapi Nokia berminat membalik anggapan itu. Bersamaan dengan HUT Wagner (26 Mei), Nokia meluncurkan kembali Ovi Store; bersanding dan bersaing dengan Apple Store. Beralamat di <a href="http://store.ovi.com">store.ovi.com</a>, Ovi Store memulai apa yang jadi salah satu titik kuat iPhone: content &amp; aplikasi dari developer bebas, yang ditransaksikan lebih leluasa. Ovi Store dapat diakses dari komputer, memungkinkan kita melakukan download aplikasi dan sinkronisasi ke smartphone. Tapi yang menarik tentu download langsung dari smart phone, baik melalui browser ataupun client Ovi Store yang disediakan khusus.</p>
<p>Smartphone masa kini umumnya telah menyediakan akses WiFi, selain 3G-mobile standard. Dipadukan dengan makin banyaknya titik hotspot yang disediakan di tempat umum (dari rumah, kos, kantor, mall, dan crowd-centre lainnya), ini meleluasakan kita menjelajah mencari aplikasi yang menarik, menginstalasi di tempat sesuai keperluan, dan langsung menjalankan. Aplikasi pertama yang aku instal (setelah client Ovi Store-nya sendiri), adalah Facebook :). Duh. Sekarang masih cari client untuk WordPress-blogging dan Twitter. Aplikasi informasi juga tampak menarik untuk dicobai. Games juga, wow banyak. Install aja banyak2. Mumpung space di <a href="http://kun.co.ro/2009/01/20/nokia-5800/">Nokia 5800</a> masih luas. Dan aplikasi masih seluruhnya gratis dari Indonesia sini (nantinya nggak gratis lagi sih).</p>
<p>Untuk para developer, tentu ini jadi peluang satu lagi untuk mengkomersialkan aplikasinya. Satu frame terbuka, dengan cara pemasaran yang lebih mudah (biarpun sementara ini di Indonesia masih gratis), untuk platform dengan jumlah user yang besar; baik di Indonesia maupun di dunia &#8212; dan dengan tingkat penetrasi aplikasi yang masih rendah. Keliling di ITB, ITS, dan terakhir di ITT itu, aku sempat melihat banyak aplikasi dan content luar biasa yang bisa mulai dikembangkan secara komersial. Sayang kalau dibiarkan jadi hobby saja; sementara ini bisa dipakai untuk menarik dollar dari luar sana. Bisa dimulai di <a href="http://publish.ovi.com">publish.ovi.com</a>.</p>
<p>BTW, kita bunuh SMS yuk. Ada yang mau bikin aplikasi penggantinya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/06/11/ovi-store/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rimba Tak Digital</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/06/10/rimba-tak-digital/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/06/10/rimba-tak-digital/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 21:21:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2628</guid>
		<description><![CDATA[It&#8217;s 4 o&#8217;clock sharp. Setelah mendadak si alat bantu pelelap berhenti berfungsi, aku menemui pikiranku tersesat di simpangan rimbawi. Bukan labirin, yang digital dan/atau borgesian (huss), tetapi sesuatu yang rimbun, dengan hanya sedikit celah, acak menyesak, tapi &#8230; kesalnya &#8230; berpola. Berawal dari A5 (tokoh2 dalam entry ini akan dikodekan sebagai A1, A2, dst), tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>It&#8217;s 4 o&#8217;clock sharp. Setelah mendadak si alat bantu pelelap berhenti berfungsi, aku menemui pikiranku tersesat di simpangan rimbawi. Bukan labirin, yang digital dan/atau borgesian (huss), tetapi sesuatu yang rimbun, dengan hanya sedikit celah, acak menyesak, tapi &#8230; kesalnya &#8230; berpola. Berawal dari A5 (tokoh2 dalam entry ini akan dikodekan sebagai A1, A2, dst), tapi aku akan memulai tulisan ini dari A1.</p>
<p>Pernah si A1 yang rada sok teu abis itu memamerkan kelemahan manusiawinya. Sebel: cowok kok curhat, haha. Aku nggak bisa menghadapi dia yang berbeda; biarpun aku biasanya cukup mudah beradaptasi memahami perubahan manusia. aku cuman bilang &#8216;<em>hey, trust to the global plan</em>&#8216; :). Duh, gwbgt. Dengan pola pikir yang selalu mendukung multiframe dan keberagaman diskursus, dengan kesinisan hidup sisifiusian dan reinterpretasi terusmenerus (andai kata ini boleh tersambung seperti ini) derridean, atau kepragmatikan akut model para engineer yang mengabdi keanekaragaman requirement para manusia; aku masih selalu &#8212; diam2 tapi pasti &#8212; melihat hidup tetap sebagai sebuah kisah. Tunggal &#8212; tapi terlalu sakral untuk pernah diinterpretasikan secara tunggal, apalagi statik. Boleh dibilang tak berdasar; tapi aku rasa itu pikiran yang terlanjur ada dari hasil pendidikan sejak usia dini (I mean it); dan terlalu gwbgt untuk ditinggalkan &#8212; pun pada saat di mana aku diam2 menyengiri narasi2 besar.</p>
<p>Lalu A2. Makhluk sok teu juga. Uh, kami para cowok memang umumnya sok teu &#8212; itu penyakit turunan dan menular. Saat dia sedang <em>down</em>, aku malah menemani (via sebuah IM) dengan bercerita bagaimana kita menikmati &#8230; misalnya &#8230; sebuah pola warna. Pola yang sama bisa membuat berpikir tentang si pola sendiri (misalnya lukisan), tentang sebuah komposisi (Biru plus oranye ternyata ok juga. Eh, kalau ungu dan hijau muda gimana?), tentang frame kita sendiri (Hahh, ternyata cuman kegelisahan ala Mime yang dipadu semangat ), atau hal2 yang lebih luar biasa (Eh, pisang goreng jam segini kayaknya enak. Jarang loh akhir2 ini kita lihat pisang goreng di kantor). Semua dari satu pola saja. Contoh lain adalah pola si A3 masa itu: menikmati humor tidak dengan tertawa tetapi dengan membayangkan proses kognitif yang membentuknya.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-2629" title="soldiers" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/06/soldiers.jpg" alt="soldiers" width="410" height="197" /></p>
<p>Di salah satu simpang rimbawi tadi, aku mendadak ingat bahwa kapasitas informasi otak manusia terbatas. Tapi kenapa kita bisa ingat banyak fragmen hidup kita, dari yang dekat (ekspresi A4 waktu bilang mukaku lelah) dan jauh (senyum ceria A5 waktu aku iseng melungsuri mesin cuci &#8212; dan aku baru sadar itu senyum serendipity &#8212; seperti aku baru melihatnya sehingga berhak mempersepsikannya sekarang). Aku tapi terus menggugat: itu bener2 sebuah fragmen video, atau cuman beberapa frame foto statik beresolusi rendah, dengan voice yang merupakan gabungan optimal (agak, tapi tak terlalu optimal) antara vektor (kata2 dan susunan nada) dan bitmap (voice itu sendiri). Tersimpan terpisah dan holografis, mereka menggabung teranimasi ke dalam halaman depan pikiran, seolah2 frame nyata. Padahal bisa salah. Dengan nada yang sama, kita bisa merekonstruksikan hal2 masa lalu tapi dengan pilihan kata yang salah (karena terambil dari database kamus, ensiklopedia,<br />
atau tesaurus kontekstual otak kita), atau dengan konteks yang salah, haha :).</p>
<p>Dan aku pikir mungkin itu terpicu tokoh A6. Tokoh yang aku baru kenal tiga puluhan jam yang lalu ini &#8212; nyaris tanpa talk selain meminjam kindle dan mengucap salam perpisahan &#8212; segera terlink kembali oleh sebuah foto di facebook (Suatu hari, kata2 seperti google, kindle, facebook menjadi kata benda biasa, dan harus ditulis tanpa huruf besar). Kunjungan ke blog (alamatnya di facebook itu juga &#8212; dan loc masih Glasgow), membuatku menemui sederetan teks yang aku cerna di tengah pikiran pragmatik bisnistik metropolitantik di dalam taksi melintas Kuningan (antara Bakrie dan KPK &#8212; kapan mereka merger ya, misalnya yang pertama diakuisisi oleh yang kedua). Lucu, deretan kata bergaya kematian surealistik itu, membuatku terhenyak. Bukan semacam hal yang menyangkut kematian itu, atau hal2 yang bersifat kognitif. Tapi aku mendadak merasa deretan kata2 yang teresapi secepat menyesap <em>macchiato-latte</em> itu memojokkanku sekali. Dan artinya adalah melempar jauh, tapi hanya di ruang siku yang terbatas dinding. Nafasku berhenti bukan oleh hentakan pikiran simbolik, tapi oleh perasaan terlempar. Sesak. Tapi mungkin karena aku lupa sarapan juga *gubrak*. Dan saat impresiku kutulis seperti itu, reaksi sang penulis adalah mengirimiku sebuah teks dari novel yang belum selesai.</p>
<p>Eh, ini tanggal 10 apa 11 sih?<br />
11.</p>
<p>Aku ngantuk lagi. Sebentar lagi deh. Di abad ke 20 para penulis menggugat dan menertawai narasi2 besar. Tapi karya mereka toh masih mensiratkan frame latar yang lebih kurang berfungsi semacam itu. Dan aku yakin mereka tahu itu. Tapi belum selesai membaca teks belum selesai ini membuatku harus mengepas frame beberapa kali di setiap halamannya. Mungkin karena memang aku sengaja tak membacanya runut. Tapi aku membaca Camus, Foucault, Borges, dan Wall :) juga tak runut. Aku belum tahu apakah ini sebuah pujian untuk teks itu. Gimana kedengerannya misalnya: &#8220;Gilé, kopi lœ nyetrum amat. Pusingnya ampé pagi.&#8221; &#8212; pujian atau makian? Tergantung intensi saat kita membuat kopi juga sih: untuk dinimkati secara halus atau untuk &#8230; nyetrum. Semacam itu lah.</p>
<p>Aku akan meneruskan baca di jalan nanti. Sekarang aku harus meneruskan istirahat. Itu yang aku bilang pragmatik: pikiran dipaksa berhibernasi, karena besok pagi bisnis untuk membangun negeri ini masih menanti.<br />
z z z z z</p>
<p>Uh, tapi trus jadi ingat si A3 lagi. Waktu lagi galau, dia malah tanya, &#8220;Dari mana sih asalnya gravitasi?&#8221; Hah, mestinya entry ini dijuduli &#8220;Curhat para cowok.&#8221; Tapi aku bobo dulu ah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/06/10/rimba-tak-digital/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hercules</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/05/25/hercules/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/05/25/hercules/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 18:53:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2614</guid>
		<description><![CDATA[Masih Mei, tapi minggu yang baru berlalu boleh dinamai minggu 24/7. Perjalanan, koordinasi, presentasi, dan persiapan presentasinya: Jakarta, Bandung, Jakarta, Yogya, Jakarta; 24 jam selama 7 hari. Tamu di kantor pun harus ditundai. Blog dilupakan dulu. Baru sekarang aku punya waktu untuk blogging. Beterbangan (mmm) melintasi negeri dengan pesawat komersial; aku kadang masih ingat waktu2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih Mei, tapi minggu yang baru berlalu boleh dinamai minggu 24/7. Perjalanan, koordinasi, presentasi, dan persiapan presentasinya: Jakarta, Bandung, Jakarta, Yogya, Jakarta; 24 jam selama 7 hari. Tamu di kantor pun harus ditundai. Blog dilupakan dulu. Baru sekarang aku punya waktu untuk blogging.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-2619" title="angkasaku" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/05/angkasaku.jpg" alt="" width="240" height="320" align="right" />Beterbangan (mmm) melintasi negeri dengan pesawat komersial; aku kadang masih ingat waktu2 aku sering menumpang pesawat TNI-AU. Hercules, Cassa, dll. Jalur umum: Malang ke Bandung, atau Malang ke Jakarta.</p>
<p>Hampir seluruh penerbangan mengambil waktu pagi, sekitar jam 6 atau 7. Selalu ditimbang dulu badan penumpang setiap akan naik pesawat. Aku selalu pakai ransel setiap ditimbang: biar berat badan mendekati 50kg. Malu kan kalau terlalu ringan :).</p>
<p>Mesin menderu kencang memekakkan setiap pesawat siap take off. Tetapi &#8212; pun saat take off &#8212; di dalam anak2 kecil masih berlarian. Dan air crew masih berdiri di dekat pintu belakang, dengan rokok terus menyala. &#8216;Kursi&#8217;-nya berupa kursi gantung; dan kami berpegangan saat kursi itu mengayun.</p>
<p>Jalur penerbangan pun bisa tentatif. Kadang aku cuman diinformasii bahwa paginya ada flight. Aku bisa lupa, ini flight ke Jakarta atau Bandung. Peduli ah, pokoknya berangkat dulu :). Tapi, jalurnya bisa lebih bervariasi. Pernah, penerbangan dari Malang ke Bandung mengambil jalur: Malang &#8211; Surabaya &#8211; Madiun &#8211; Makassar &#8211; Jakarta, dan terlalu malam untuk meneruskan ke Bandung.</p>
<p>Tapi pendaratan di Bandung memang paling menarik. Landasannya pendek, sampai sekarang. Pesawat menderu keras saat dia harus mengurangi kecepatan di jalur pendek itu. Dan kadang pesawat bisa memantul: turun, menyentuh landasan, memantul, naik lagi, turun, menyentuh landasan lagi. Asik sih.</p>
<p>Pernah membayangkan flight mirip angkot? Hmmm :). Ceritanya, pesawat dari Malang itu seharusnya bertujuan ke Bandung. Tetapi ada instruksi untuk mendarat di Jakarta. Masalahnya, ada beberapa personal yang benar2 harus ke Bandung segera. Jadi tampaknya mereka memutuskan untuk &#8230;. mmm. Begitulah. Di atas Bandung, kami dimaklumati: &#8220;Yang turun Bandung, ke depan!&#8221; Wow, aku di belakang, dan jalur jalan penuh barang. Jadi harus berjalan semi-melompat, saat pesawat turun dan landing. Tiga orang sudah turun. Aku teriak: &#8220;Bandung Pak!&#8221; dan crew di pintu teriak ke ruang pilot: &#8220;Tunggu, satu lagi!&#8221; Aku bergegas ke pintu. Pesawat sudah mulai bergerak lagi waktu aku melompat ke luar. Mau lari ke tepi landasan, dari samping terdengar teriakan: &#8220;Tiarap dulu! Awas baling-baling!&#8221; Aku tiarap, sampai pesawat melewati, dan pergi ke jalur pacu lagi. Berdiri, aku jalan ke samping, dan tak melihat satu petugas pun &#8212; mereka sudah kembali ke ruang. Sampai jalan ke luar, tak ada petugas tampak di mata, termasuk tiga penumpang yang tadi turun sebelum aku. Sampai aku keluar bandara, dan jalan ke tempat angkot di Andir.</p>
<p>Dan kenangan2 semacam itu bikin aku terhenyak mendengar jatuhnya Hercules tanggal 20 Mei kemarin, menewaskan sekitar 100 manusia. Dukaku untuk Keluarga TNI-AU.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/05/25/hercules/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Notung! Notung! Niedliches Schwert!</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/05/16/notung-notung-niedliches-schwert/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/05/16/notung-notung-niedliches-schwert/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 08:47:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Wagner]]></category>
		<category><![CDATA[pedang]]></category>
		<category><![CDATA[pena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2605</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ein Schwert verhieß mir mein Vater,&#8221; teriak Siegmund di wisma Hunding pada Act 1 dari Die Walküre. Mein Vater juga punya pedang yang keren, terpajang indah di ruang tamu rumah Mama di Arcamanik. Dan tak sengaja, aku juga jadi kolektor minatur pedang berbagai bangsa. Terima kasih buat para manusia keren dan baik hati yang sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Ein Schwert verhieß mir mein Vater,&#8221; teriak Siegmund di wisma Hunding pada Act 1 dari Die Walküre. Mein Vater juga punya pedang yang keren, terpajang indah di ruang tamu rumah Mama di Arcamanik. Dan tak sengaja, aku juga jadi kolektor minatur pedang berbagai bangsa. Terima kasih buat para manusia keren dan baik hati yang sudah ikut menyumbang buat koleksiku.</p>
<p>Tapi waktu mendengar pekik semangat Siegfried, &#8220;Notung! Notung! Niedliches Schwert!&#8221; &#8212; yang terbayang justru pedang yang lebih tajam: pena. Ia menghujam bukan saja rerangkai fisik yang lemah, namun juga rerangkai ide dan memetika. Pedang ini bukan lebih tajam memutus dan menghentikan, tapi juga mengulir, menjalin, menunjuk, menyebar.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-2606" title="inconvenience" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/05/inconvenience.jpg" alt="" width="200" height="220" align="right" />Pena masa kini bisa berupa keyboard, mouse, stylus, touch screen. Lesatannya di atas jaringan mobile dan Internet melampaui yang bisa dibayangkan para penemu kertas dan mesin cetak. Perang kata, memetika, diskursus di atas media maya lebih menarik daripada perang yang menumpahkan darah.</p>
<p>Tapi, buat aku sendiri, pena masih memiliki nilai emosional yang berbeda. Ujungnya yang benar-benar masih tajam mengingatkan power yang dimiliki ketajaman mata pedangnya. Sentuhan dan gerakan kita atasnya memindahkan bukan saja simbol dari ide kita, tetapi juga semangat dan aliran hayati yang betul-betul tergerakkan oleh semangat itu.  Jadi memang agak lucu, melihat teman2 berkomunikasi dengan iPhone atau semacamnya, sementara aku masih membawa buku kecil dan pena. Haha, lebay :). Aku juga bawa mobile browser ke mana-mana kok; sejax PDA pertama memiliki akses GPRS :).</p>
<p>Mulai berhenti mengkoleksi miniatur pedang, aku malah nggak sengaja mulai mengkoleksi pena. Ya, ini simbolik. Hidup juga cuman :).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/05/16/notung-notung-niedliches-schwert/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

