ASEAN ICT Awards 2015

ASEAN ICT Awards (URL: http://aseanictaward.com) – atau disingkat AICTA – adalah prakarsa dari TELMIN, yaitu kelompok kerja Menteri-Menteri Telekomunikasi dan IT di lingkungan ASEAN. Tujuannya adalah mempromosikan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan komunitas untuk pengembangan inovasi IT di kawasan Asia Tenggara. Salah satu bentuknya adalah dengan kompetisi inovasi dan kreasi IT.

Tahun ini Telkom Group mengirimkan proposal belasan produk ke AICTA, baik dari inovasi internal maupun dari kolaborasi komunitas. Namun yang lolos ke babak final hanya QJournal, di kategori Digital Content.

Finalis harus mempresentasikan inovasinya di Ninh Binh, 15-17 September 2015. Ninh Binh adalah kota kecil di daerah Vietnam Utara, sekitar 100 km dari Hanoi. Di sana, tengah dilaksanakan juga Workshop TELMIN. Jadi, sekalian para expert di bidang ICT jadi juri babak final AICTA. QJournal memberangkatkan Bang Anto, Aip, dan aku sendiri.

Kami berangkat terbang dari Jakarta ke Hanoi, dan menghabiskan setengah hari untuk mengeksplorasi ibukota Vietnam ini. Hanoi masih bersuasana tenang dan agak tradisional. Sekilas melihat beberapa situs budaya di Hanoi, kami langsung diantar dengan bus ke Ninh Binh.

Ninh Binh benar-benar kota kecil. Kota ini diharapkan jadi sentra wisata baru di Vietnam, dengan kontur alam yang sungguh indah. Bukit-bukitnya mirip Halong Bay atau kawasan Cina Selatan. Sayangnya, Ninh Binh sedang masuk musim hujan bulan September itu. Jadi tak banyak yang bisa dilihat dan dikunjungi.

IMG_8244

Final AICTA berlangsung mirip ujian kuliah, haha. Tidak ada semacam acara pembukaan. Finalis langsung diarahkan ke ruang-ruang presentasi. Presentasi dan tanya jawab dilakukan dengan para juri dari seluruh negara ASEAN di ruang tertutup. Dilarang bikin foto, kecuali bandel. Selesai presentasi, langsung acara bebas. Malam, ada gala dinner, welcome speech, dan tari-tarian. Mirip acara IEEE, haha. Para nerds yang gagap entertainment. Gue bangets.

Pemenang AICTA baru diumumkan resmi 2 bulan kemudian. QJournal memperoleh Silver Awards. Alhamdulill?h.

Karena Bang Anto sedang sangat sibuk, aku dan Aip mewakili Telkom di awarding night. Awarding dilaksanakan bersamaan dengan TELMIN Summit di Danang, Vietnam Tengah, pada 26 November 2015. Penyerahan award dilakukan secara bergantian oleh para Menteri ICT negara-negara ASEAN. Untuk kategori Digital Content, kebetulan award diserahkan oleh Menkominfo Indonesia, Chief Rudiantara.

HLZS0026

Selesai acara, kami menyempatkan diri berbincang dengan Chief Rudiantara, tentang pengembangan inovasi digital di Indonesia, dengan pendekatan komunitas.

AZTB5388

Selesai. Social visit dulu ke Hoi An, sebuah kawasan yang terjaga keaslian ekonomi dan budayanya, masih di kawasan Vietnam Tengah. Trus kami terbang kembali ke Jakarta via Ho Chi Minh City. Kunjungan yang sangat singkat.

IMG_1719

AICTA Silver Award ini diserahkan kepada Telkom Indonesia sebagai pemilik inovasi dan produk. Telkom sendiri kemudian memberikan award para inovatornya dengan Penghargaan Inovasi Khusus yang diserahkan CEO Alex Sinaga dan Direktur HCM Herdy Harman di acara puncak HUT Telkom.

IMG_0278

 

OK, cerita selesai.

Internetworking Indonesia, Fall 2011

Seperti yang beberapa minggu lalu aku kicaukan di Twitter, Internetworking Indonesia Journal edisi Musim Gugur / Musim Dingin 2011 telah terbit. Kali ini ia merupakan terbitan khusus, bertajuk Special Issue on Social Implications of ICTs in the Indonesian Context. Ada beberapa hal yang istimewa pada terbitan ini. Pertama, kali ini (dan mudah-mudahan untuk seterusnya) semua paper telah ditulis dalam Bahasa Inggris. Memang IIJ bersifat dwibahasa, dan memperkenankan paper ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Namun kita tentu paham bahwa paper dalam Bahasa Inggris akan memiliki jangkauan pembaca yang jauh lebih luas. Kedua, edisi kali ini membahas topik yang diminati banyak kalangan, dari para peneliti, pengamat amatir, hobby-ist, pebisnis, dan developer, yaitu Media Sosial.

Editor tamu pada edisi ini adalah Prof. Merlyna Lim dari Arizona State University dan Dr. Yanuar Nugroho dari University of Manchester. Keduanya kebetulan secara personal pernah berinteraksi denganku, dan lucunya lebih banyak dalam konteks keseriusan yang bersalut candaan.

Paper pada edisi ini meliputi:

  • Guest Editors’ Introduction, by Merlyna Lim and Yanuar Nugroho
  • Cyber Taman Mini Indonesia Indah: Ethnicity and Imagination in Blogging Culture, by Endah Triastuti and Inaya Rakhmani
  • An assessment of Mobile Broadband Access in Indonesia: a Demand or Supply Problem?  by Ibrahim Kholilul Rohman and Erik Bohlin
  • The Internet and the Public Sphere in Indonesia’s New Democracy: a Study of Politikana.com, by Agustina Wayansari
  • The Experience of NGOs in Indonesia to Develop Participatory Democracy by the Use of the Internet, by Yohanes Widodo
  • The Role of Local e-Government in Bureaucratic Reform in Terong, Bantul District, Yogyakarta Province, Indonesia, by Ambar Sari Dewi

Sila kunjungi situs edisi ini, atau langsung download jurnal online ini secara gratis pada link-link ini:

ICT dan Socnet di Indonesia

Mungkin sudah berlebihan klaim bahwa socnet telah membawa perubahan yang significant terhadap Indonesia. Kisah koin Prita, pembebasan Chandra-Bibit, selalu diceritakan kembali sebagai kisah besar. Dan memang kisah besar :). Tapi yang terjadi mungkin hanya bahwa masyarakat (yang sesungguhnya memang jauh lebih cerdas daripada para elite politik kita) kini memiliki corong untuk menyampaikan suaranya, untuk didengar secara bising oleh para elite itu, dan memaksa mereka mengambil keputusan yang lebih masuk akal.

Yang lebih besar, dan lebih significant, namun mulai terlupakan, aku pikir, adalah #IndonesiaUnite: bagaimana kaum muda menyatukan suara dan menggaungkan ke masyarakat untuk bersatu melawan para teroris yang menggunakan kedok agama untuk memaksakan diskursusnya ke masyarakat. #IndonesiaUnite mampu meyakinkan masyarakat, bahwa perilaku teroris berkedok agama itu sungguh hina, memalukan, dan tak masuk akal untuk didukung. Lenyapnya gerombolan teroris nyaris tak menyisakan suara kehilangan :).

20110404-095725.jpg

Namun sejujurnya, di luar itu socnet belum banyak berperan mengubah negeri ini :). Bukan mengecilkan peran rekan-rekan yang sungguh aktif dengan passionnya yang luar biasa mencerlangkan negeri; tetapi situasi negeri ini memang memerlukan kerja lebih keras lagi :). Dan banyak jebakan yang mudah menanti. Socnet mengangkat suara baru yang lebih jernih; tetapi ia juga mengangkat elite baru yang terjebak seremonia dan eksklusivitas baru. Socnet meningkatkan sinergi untuk mengembangkan industri kreatif; tetapi ia juga memperkencang konsumerisme dan hedonisme. Socnet tak jelas: apakah ia menurunkan urbanisasi dengan membuat daerah segemerlap Jakarta, atau justru meningkatkan minat kaum muda untuk cepat2 pindah ke gemerlap Jakarta. Socnet sekaligus mempopulerkan karya yang elegant dan karya-karya sampah (ekstensi dari sinetron dan sinema kitsch Indonesia), lengkap dengan tukang jamu, menteri alay, banci gak jelas, intel gadungan, dll. Socnet sarang menggempur koruptor, sekaligus sarana bagi para koruptor kaya untuk meluaskan diskursus yang melenceng melalui generasi muda. Eh, mendadak bau lumpur.

Bagi para pengelola infrastruktur sendiri, socnet menarik. Seperti seluruh perusahaan lain, socnet membuat para provider menjadi transparan bagi kritik. Tapi kencangnya pipa baru bagi konversasi masyarakat ini, dan peningkatan pemanfaatan muatan aplikasi di atasnya, serta peluang pengembangan industri kreatif di atasnya, menciptakan konteks baru bagi para pengelola untuk mengembangkan bisnis, untuk menanamkan investasi baru bagi pengembangan infrastruktur. Dan seperti spiral yang terus berkembang, ini menjadi umpan bagi publik untuk berkonversasi lebih intens, lebih kreatif.

Kamu sendiri, apa yang kamu amati? Pasti banyak. Dan apa pun itu, pasti menarik. Coba sesekali apa yang teramati itu tidak ditulis dalam cericau 140 karakter, atau note singkat Facebook, atau tiga empat paragraf blog. Apalagi cuma komentar di blog :). Coba sesekali, itu kita bahas lebih serius. Semester ini, Internetworking Indonesia Journal memfokuskan pembahasan pada Implikasi Sosial dari ICT dengan konteks Indonesia. Informasi tentang paper dapat dilihat di Halaman CFP, atau dengan membaca CFP versi PDF. Ini pengantarnya:

Information and communication technologies (ICTs) have become a ubiquitous part of people’s lives all over the world, including in Indonesia. The growing use of these technologies, especially the Internet, has not only implicated the ways individuals communicate, but also influenced the way they connect to each other. With the developments of social media such as blogs, wikis, collaborative websites and other social networking tools to fulfill the personal, organizational, societal and political goals and to influence the way individuals work and live, it is important to understand the implications it brings. This special issue seeks manuscripts that look at a wide variety of ICT uses and what implications these uses have on people, organizations and society in the Indonesian context as the technology becomes more widely available. This issue also welcomes those who look at the other side of the coin, i.e. manuscripts that focus on the cultural, social and political shaping of the technologies by Indonesian society. The goal of this special issue is to offer an understanding and assessment of how ICTs and society have mutually shaped each other, and theoretical considerations of the links between social implications and ICTs.

Editor tamu untuk topik ini adalah dua pakar yang tak diragukan, baik sebagai guru, wizard, researcher, sekaligus aktivis media sosial: Dr Yanuar Nugroho, dan Prof Dr Merlyna Lim.

Jadi, menulislah …

Internet dan Masa Depan

“Tak seorang pun ragu bahwa Internet telah membentuk lifestyle baru, serta mentransformasi budaya. Tinggal tunggu waktu untuk menyaksikan bahwa pemerintahan dan pengaturan masyarakat pun akan diredefinisi.” Itu cuplikan dari seorang analis di bidang content & application di sebuah perusahaan informasi dan media ternama. Entah sambil becanda, ia meneruskan, “Tentu pemerintahan, khususnya yang tak demokratis, akan melawan dengan memulai mengupayakan kontrol atas Internet, atau perangkat ruang maya secara umum. Adalah tugas kita untuk mempertahankan Internet dalam perannya membentuk masyarakat yang lebih baik.”

Sayangnya dia tak menjelaskan siapa yang dimaksud dengan “kita” di situ. Aku sendiri melihat bahwa Internet merupakan bagian dari evolusi teknologi dan budaya manusia yang membuat manusia bisa secara dinamis bertahan hidup di bumi ini dan mencapai harkat yang terus meningkat. Tapi budaya tak hanya dibentuk oleh gaya hidup berinternet. Secara lebih ekstrim, rekayasa budaya bisa dilakukan dan dan dipaksakan menggunakan Internet.

Sebagai contoh pertama, perusahaan dan entitas bisnis lain dapat mulai ditekan untuk menghemat lingkungan dengan mengurangi transport manusia dan menggantikan dengan komunikasi ruang maya yang lebih baik. Pemerintahan ditekan untuk mengurangi surat-surat, pengurusan kertas (termasuk SIM, STNK, KTP, SPT), serta menggantikan dengan sistem kredensial yang berbasis ruang maya. Uang kertas, uang logam, adn surat-surat berharga bisa secara bertahap dipunahkan, karena ekonomi mengharuskan efisiensi, friksi yang lebih rendah, dan penghematan lingkungan. Pernahkah terpikir bahwa distribusi uang memerlukan biaya amat besar juga? Kemudian proses pendidikan dapat dicerdaskan dengan menggantikan sekolah formal dengan … aku bahkan belum tahu seperti apa :). Tapi ilmu akan dihikmahkan lebih manusiawi, seumur hidup, dan natural melekat pada hidup keseharian. Hal-hal semacam ini bukanlah transformasi yang alami karena lifestyle Internet, tetapi sesuatu yang direkayasa melalui policy yang ditetapkan oleh kearifan atau keterpaksaan untuk melihat bahwa lingkungan, iklim, dan planet ini hanya bisa dijaga tetap lestari dan layak huni bagi manusia dengan mengubah budaya, menggunakan apa yang saat ini dinamai Internet.

Namun sebelum masyarakat ditransformasikan, infrastruktur Internet sendiri masih jadi PR besar. Bahkan mungkin di semua layernya. Di layer paling bawah, bagaimana memanfaatkan spektrum elektromagnetik yang terbatas itu  seefisien dan secerdas mungkin untuk mengangkut informasi yang terus bertambah tanpa ampun (itu salah satu pendorong 2G harus dimigrasikan ke 3G lalu 4G); yang harus dibantu layer di atasnya untuk mengemas informasi secerdas mungkin agar terangkut secara efisien. Bagaimana informasi harus diabstraksikan, tetap berguna secara efisien, namun tetap manusiawi untuk digunakan tanpa mengubah manusia jadi komputer. Bagaimana informasi tetap terbaca sebagai teks halus, suara, video, namun di pihak lain ditransfer secara efisien dan dapat diabstraksikan untuk membentuk informasi yang berarti (dapat dicari, diolah, dihimpun, dicerna). Bagaimana gaya hidup manusia ditransfer secara baik menggunakan Internet sehingga tetap layak digunakan tanpa mengurangi harkat kemanusiaan kita. PR panjang.

Mungkin kita harus mulai membuat tulisan yang lebih panjang dan komprehensif. Itu menarik. Aku tidak becanda — engineering yang tampak kompleks itu amat menarik untuk dipaparkan. Mungkin juga kita harus mulai menyusun action plan. Atau menyusun kelompok diskusi dan kelompok kampanye. Tapi aku pikir aku akan lebih suka memulai dengan berjalan2 ke sekolah2, berbincang tentang Internet dan masa depan bumi ini dengan para siswa yang jadi pemilik asli bumi dan budaya digital kita ini.

“Bertemu Generasi Z. Ide yang menarik,” lanjut si analis. “Siapa lagi yang bisa kita percayai selain mereka?”

Penyelamatan Garuda

«Japan Air Lines akan dinyatakan bangkrut» — begitu salah satu headline pagi ini. Dan aku mendadak ingat bahwa Garuda Indonesia pernah mengalami kisah yang sama. Cerita tentang Garuda ini cukup lama, tetapi baru diceritakan kembali beberapa bulan lalu oleh Tanri Abeng. Beliau berkisah bukan sebagai Komisaris Utama Telkom, tetapi sebagai salah satu Management Guru di Telkom. Pasti kisah di bawah ini sudah banyak didengar rekan2 Telkom lainnya.

Di paruh kedua tahun 1990an, Bank Dunia maupun IMF terus mendorong agar pemerintah2 bertindak sebagai regulator, bukan sebagai pemain bisnis. Pemerintah Indonesia mereaksi dengan membentuk departemen yang terpisah antara regulasi dan pengelolaan BUMN. Maka dibentuklah Kementrian Negara Pendayagunaan BUMN. Tugasnya adalah untuk mengelola BUMN yang saat itu memang kebanyakan salah urus di bawah departemen2 teknis. Tanri Abeng diangkat sebagai Menneg BUMN pertama. Cukup menarik cara Tanri berkisah tentang masuknya ia ke pemerintahan, beberapa kali berdialog dengan Soeharto, dan betapa canggungnya juga Soeharto dan para punggawanya membuat Tanri memahami bagaimana ia mengendalikan sistem pemerintahan orde baru di balik layar, hahah. Tapi itu cerita lain. Kita ke Garuda dulu.

Merapi dan GarudaSeperti JAL tahun ini, Garuda masa itu menghadapi ancaman kebangkrutan. Hutang2 jatuh tempo, dan pemerintah tidak dalam kondisi kuat untuk menjadi backup. Kondisi Garuda sendiri memang menyebalkan: banyak benalu, baik dari kalangan cendana, keluarga mantan direksi, maupun pihak lain yang tidak jelas. Tanri merasa bahwa Garuda hanya bisa diselamatkan jika orang mulai menaruh kepercayaan kepada Garuda. Dan itu dimulai dengan menunjukkan bahwa pemerintah serius mengubah sistem yang ada di Garuda. Memberanikan diri datang ke Soeharto, Tanri mohon izin untuk mengganti Dirut Garuda. Lalu ia diam. Zaman orba itu, pejabat ditunjuk atau direstui langsung oleh Soeharto, dan tak pernah diganti kecuali ia bersalah kepada Soeharto. Mengganti pejabat seolah menunjukkan bahwa presiden bisa salah memilih orang, atau tepatnya bahwa presiden bisa salah :). Itu memang zaman kitsch :). Tapi setelah saling diam, Soeharto cuma tersenyum, lalu mengatakan, “Kenapa cuma Dirut? Ganti saja semua direksi.” Satu masalah terpecahkan.

Masalah lain adalah memilih Dirut. Ini keadaan darurat, karena para kreditor besar benar2 sudah mengancam membangkrutkan Garuda. Pada saat seperti ini, yang diperlukan bukanlah profesional di bidang penerbangan. Maka Tanri mendatangi Robby Djohan. Ini adalah tokoh yang pernah membesarkan Bank Niaga (dari nothing menjadi bank swasta kedua terbesar di Indonesia), plus memiliki reputasi yang kuat di kalangan internasional. Dan orang yang tepat memegang sebuah posisi memang adalah orang yang tak memerlukan posisi itu. “Kenapa suruh saya,” balas Robby waktu diminta Tanri, “Saya tidak butuh uang dan pekerjaan.” Tanri menjelaskan bahwa ia memang memerlukan orang yang tidak memerlukan uang. Maka Robby diamanahi menjadi Dirut Garuda.

Robby pun mengundang para kreditor. Pada rapat pertama, ia membuka, “Saya diberi wewenang untuk membantu Anda.” Para kreditor heran. “Yang punya masalah itu Anda. Kami dalam posisi kuat,” kata para kreditor. Robby masih kalem, menjawab, “Kalau negosiasi hari ini tidak berhasil, saya langsung angkat tangan, dan Garuda dibangkrutkan, dan tak ada yang menjamin uang Anda.” Para kreditor langsung paham. Robby mengenang kembali, “Negative networth gila-gilaan, sebab utang (liabilities) jauh lebih besar dibanding harta (asset), sehingga saldonya negatif. Bottom line sudah merah, begitu juga saldo ditahan (retained earning) juga telah negatif.” Ia membacanya seperti seorang bankir: “Kalau kita reevaluasi aset sesuai market, maka negative networth akan menjadi kecil. Yang penting, dia noncash-charge, dan negative networth akibat akumulasi kerugian bisa diatasi. Yang perlu dijaga, Garuda tidak boleh rugi, cash flow harus positif. Selain itu, juga harus dijaga posisi serasi antara aset dalam rupiah serta liability dalam dollar AS.” Maka negosiasi intensif untuk penjadwalan hutang dan profitisasi Garuda dimulai. Benalu2 dibersihkan, kepercayaan dibangkitkan, efisiensi ditingkatkan. Pada masa Robby ini juga Kantor Pusat mulai dipindahkan ke wilayah Bandara Soekarno Hatta. Garuda terselamatkan, dan mulai bisa bangkit.

Sayangnya, tak lama Robby di Garuda. Menurut Tanri, memang sengaja Robby tidak dibiarkan lama di sana. Begitu Garuda agak pulih, kendali direksi diserahkan ke pihak lain yang memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan pekerjaan2 detail dan komprehensif. Sementara itu, Robby sendiri diberi pekerjaan baru yang lebih berat: mengawal merger bank2 BUMN menjadi Bank Mandiri.

  • Seluruh kata2 di atas dinarasikan ulang dan tidak dapat dikutip ulang untuk keperluan jurnalistik atau ilmiah.

Co-Branding

Salah satu yang dulu sering disebut dosen “business development” adalah aliansi strategis. Aliansi ini bisa dari entitas pada industri yang sama (tetapi dengan segmen sosiografis atau demografis yang berbeda), atau dari industri yang berbeda tetapi menemukan alasan kreatif untuk saling mendukung. Contoh yang pertama, waktu itu adalah aliansi antara AT&T dan BT. Hahah :). Waktu itu sempat keren, sebelum bisnis telekomunikasi kolaps terbakar seperti burung phoenix (lambang universitas kami) yang abunya membentuk industri telematika yang tumbuh pesat namun gamang seperti saat ini. Contoh yang kedua akan lebih banyak. Industri multilayer (HP, Intel Inside, MS Windows). Mereka harus bekerja sama bukan saja dari supply produksi, tetapi juga mencakup kerjasama marketing. Ini asik, karena kadang aliansinya tak bersifat eksklusif :). Contoh yang mutakhir tentu iPhone dengan AT&T baru di US, atau dengan Telkomsel di Indonesia.

Tapi ini belum unik. Setiap pihak dengan mudah mengalihkan perhatian ke aliansi lain. Telkomsel masih punya Blackberry. Apple barangkali melirik operator lain. Ini tentu sah. Tapi ada satu gejala lain dimana kita bisa mengikat komitmen lebih permanen, biarpun setiap pihak juga tetap bisa mengalihkan perhatian ke aliansi lain. Salah satunya adalah co-branding.

Aku bukan orang marketing beneran, apalagi pakar marketing. Cuman menikmati dunia ini sebagai customer, dan kadang sebagai pelaku yang mencoba melihat peluang kreatif dikaitkan dengan IT. Jadi yang pertama tampak adalah co-branding yang terpapar di layar Internet. IEEE dengan Visa misalnya; yang sayangnya hanya berlaku di US, UK, dan beberapa negara lain, tak termasuk Indonesia. Visa dan Mastercard juga kemudian melakukan kerjasama dengan banyak pihak: Amazon, Garfield, dll. Lalu masuk juga ke Indonesia. Kampus2 ITB, UI, ITS dengan Bank Mandiri, BNI, BRI. Amex dengan Telkom. Ha, yang ini istimewa, karena beritanya kubaca (dari web berita di Indonesia) justru waktu aku sedang belajar aliansi bisnis itu. Tapi harus menunggu aku pulang di tahun berikutnya untuk bisa punya kartu Amex-Telkom itu.

CobrandCards-2

Aku lihat beberapa rekan di Telkom juga tertarik pada kartu Amex itu, dan untuk pertama kali mempertimbangkan punya kartu Amex (yang waktu itu tak terlalu menarik dimiliki di Indonesia, khususnya di luar Jakarta dan Bali). Maka co-brand ini berhasil memenuhi fungsi awalnya: menggunakan cross-loyalty :). Dari sisi customer, selain terpuaskan oleh loyalty yang bertaut, juga oleh komitmen implisit; bahwa misalnya Amex memberikan layanan khusus untuk customer Telkom dan sebaliknya. Ini tentu harus dipenuhi, agar tak sekedar implisit. Kartu Amex-Telkom itu misalnya, memberikan point reward lebih untuk pembayaran billing produk-produk Telkom. Kartu lain yang seangkatan adalah Citibank-Telkomsel dan Citibank-Makro.

Beberapa tahun kemudian, bisnis ritel makin diseriusi para comblang co-branding kartu kredit. Kita jadi bisa lihat BCA-Carrefour, Citibank-Giant, Mandiri-Hypermart, dll. Kemudian juga airline. Citibank-Garuda dan HSBC-AirAsia misalnya. Yang ditawarkan ke customer makin ajaib. Untuk HSBC-AirAsia, pemilik kartu (Silver / Gold) boleh memesan 1-2 hari lebih awal untuk tiket penerbangan harga spesial. Untuk Citibank-Garuda, Mastercard Platinum berfungsi sebagai kartu Garuda Frequent Flyer kelas Platinum yang tidak akan didegradasi seumur hidup (seumur hidupnya kartu, haha). Kita yang setiap hari berbincang tentang ekonomi konseptual, empati, dan storytelling ini tak akan heran melihat para pemakai kartu Citibank ini jadi lebih memilih terbang dengan Garuda daripada penerbangan lainnya. Itu sudah jadi bagian dari personal brand mereka sekarang, biarpun tadinya mereka netral2 saja dalam memilih penerbangan. Idem dengan HSBC-AirAsia.

Seharusnya Apple-Telkomsel bisa memberikan kemasan produk yang sama. Ini bukan cuma produk iPhone berkartu Simpati, tetapi seharusnya diberi branding seperti produk serupa dari operator AT&T, Sprint, Verizon pada produk non-Apple. Ada loyalty yang meningkat, yang dibarengi dengan ekspektasi (yang harus dipenuhi) akan layanan yang lebih.

Eh, sebetulnya aku cuman lagi cari ide untuk positioning produk micropayment loh :). Aku bayangkan ini OK sekali untuk distribusi dan promosi produk2 kreatif digital di Indonesia. Ada ide?

Malaysia

Malaysia

Kita bukan cuma serumpun. Kita bersaudara. Ada masanya persaudaraan itu manis, saat kita berbincang hangat, saat kita saling mendukung, saat kita tertawa renyah menertawai nuansa budaya kita. Namun ada pula saat dimana kita saling menyakiti. Dan — kita paham — yang ternyeri dari segala sakit adalah tusukan dari kata dan perilaku saudara kita sendiri. Tapi kita sudah sama dewasa. Kita paham bahwa persaudaraan memang harus berhias kehangatan dan kebekuan, kesejukan dan bara panas, kata manis dan pekik makian menusuk. Kita paham bahwa itu tidak akan merusak persaudaraan kita.

Tak ada gunanya mengenang kesalahan generasi sebelum kita, generasi yang pernah dan mungkin kini tengah memimpin kita. Itu bukan kita. Kita adalah generasi baru yang siap membawa bangsa dan tanah air kita maju menjadi pusat kemajuan dunia. Yang penting bagi kita adalah kerja sama, berbagi sumberdaya, bertukar dukungan, memperkuat jabat erat, melupakan segala remeh-remeh yang hanya akan melalaikan kita. Ambalat bisa kita bincangkan sambil becanda. TKI bisa kita seriusi sambil bertukar aroma kopi pagi. Batik, dan segalanya, bisa kita pecahkan sambil bergurau. Makianku di Twitter dan Facebook — lupakan sajalah. Dan pelesetan Indonesia Raya-mu yang berselera rendah itu, kita lupakan juga. Seperti kata kami: Bhinneka Tunggal Ika — kita memang berbeda, tetapi kita sama. Atau kata kalian: Bersekutu Bertambah Mutu — kita akan bawa sinergi kita memajukan negeri-negeri kita.

Jadi, untuk Saudara-Saudariku di Malaysia: SELAMAT MENYAMBUT HARI MERDEKA. Ha, merdeka — kata yang menyemangati dan membanggakan, kata yang hanya dimiliki Bangsa Indonesia dan Bangsa Malaysia. Bangga memiliki Malaysia sebagai saudara dan tetangga kami. Majulah Malaysia, Jayalah Indonesia, Malaysia Bisa, Indonesia Boleh!

%d bloggers like this: