IEEE Day 2016

IEEE Day diperingati setiap Selasa pertama di bulan Oktober. Konon, pada awal Oktober 1884 itu, para pioneer dan engineer di dunia kelistrikan berjumpa (konon termasuk Edison dan Tesla sendiri), dan memutuskan perlunya membentuk kolaborasi profesional. Kolaborasi itu kemudian mengerucut menjadi organisasi insinyur listrik Amerika atau AIEE. Di tahun 1912, sekelompok hacker membentuk organisasi IRE yang lebih berfokus pada rekayasa listrik untuk keperluan persinyalan, termasuk komunikasi radio. AIEE berfokus ke Amerika, dan IRE meluas ke mancanegara. AIEE didominasi kaum tua, sementara IRE diasiki engineer muda. Jumlah anggota IRE melampaui AIEE. Demi kemaslahatan profesi, akhirnya disusunlah penggabungan organisasi menjadi IEEE pada 1963. Logo IEEE merupakan gabungan dari layang-layang Franklin dari AIEE dan tangan kanan Ampère dari IRE. IEEE meluas ke seluruh penjuru dunia, dan mendalami teknologi pelopor, termasuk biomedical engineering, information theory, nanotechnology, dan seterusnya. Walau didirikan pada tahun 1963, namun IEEE melacak jejak sejarahnya sejak Selasa pertama Oktober 1884 itu.

Awal Oktober ini, kebetulan ada beberapa event di IEEE Indonesia. Jadi kami tak merasa perlu membuat event khusus untuk memperingati IEEE Day. Ini beberapa event IEEE yang aku hadiri sambil merayakan IEEE Day:

ieee-day-2016-v02


SERPONG: SCIENCE & TECHNOLOGY FESTIVAL

Science & Technology Festival diselenggarakan oleh LIPI di ICE Serpong, 03-05 Oktober 2016. Di dalamnya, tercakup delapan konferensi, dari mekatronika, informatika, kimia, dll. Dua diantaranya disponsori juga oleh IEEE, yaitu IC3INA dan ICRAMET. Sebagai bagian dari kegiatan ini, pada Selasa 04 Oktober, diselenggarakan workshop / seminar tentang Kolaborasi Riset & Publikasi Karya Ilmiah, diselenggarakan oleh Kemkominfo, LIPI, dan IEEE Indonesia. Aku menyampaikan paparan 3 jam, menampilkan peluang kerjasama riset & publikasi melalui komunitas profesional, plus prosedur penyelenggaraan konferensi internasional dengan sponsor dari IEEE.

14706736_10154557442689328_4188504795420539185_o

Presentasi & tanya jawab diakhiri foto bersama dengan latar belakang banner IEEE Day 2016.

img_0115


JAKARTA: IEEE LECTURE @ BINUS

Kamis malam, 06 Oktober, IEEE Indonesia Section menyelenggarakan IEEE Lecture di Bina Nusantara University, Jakarta. Aku memberikan paparan selama 2 jam, berjudul Collaborative Platform Architecture for Digital Experience. Peserta dari dosen, researcher, dan mahasiswa S2 / S3 di Binus University. Acara dibuka oleh IEEE Indonesia Section Vice Chair, Dr Ford Lumban Gaol – yang selalu gaol abezzzz.

screen-shot-2016-10-21-at-09_fotor

Berakhir pada pukul 21:00, kegiatan ditutup dengan foto bersama dengan latar belakang banner IEEE Day 2016.

enlight1


DENPASAR: ICSGTEIS & SMART CITY SEMINAR

International Conference on Smart-Green Technology in Electrical and Information Systems (ICSGTEIS) diselenggarakan Universitas Udayana dengan sponsor dari IEEE. Ide ICSGTEIS diprakarsai di FORTEI 2014, saat para dosen Teknik Elektro Universitas Udayana dan aku (mewakili IEEE Indonesia) memperbincangkan (secara informal) kesiapan Universitas Udayana menyelenggarakan konferensi internasional sendiri, plus dukungan ketat dari IEEE Indonesia.

ICSGTEIS 2016 adalah konferensi kedua dalam seri ini, diselenggarakan di Pantai Sanur, Bali, 06-08 Oktober 2016. Kebetulan aku hanya bisa hadir pada sesi workshop di hari ke-3, Sabtu 8 Oktober 2016. Workshop ini sepenuhnya dikelola oleh IEEE Udayana University Student Branch. Fokus workshop ini pada green technology, smart city, dan IoT. Aku menyampaikan keynote speech dengan judul Internet-of-Everything Architecture for Smart City.

14724656_10154577936189328_262998774950804198_n

Tentu kegiatan ini ditutup dengan foto bersama dengan latar belakang banner IEEE Day 2016. Tapi logo IEEE Day ada di kiri & kanan panggung. Kebetulan foto yang lengkap dengan logo ini belum aku terima. Yang ada dulu deh ya :). Oh ya, aku pakai batik dengan motif yang dinamai Batik Kuncoro. Periksa di Google deh.

img_0141

 

APWCS 2016

APWCS (Asia Pacific Wireless Communications Symposium) adalah konferensi regional Asia Pasifik yang dikelola oleh IEEE VTS (Vehicular Technology Society) dari chapter-chapter Tokyo, Seoul, Taipei, dan Singapore. Tak bisa disalahkan jika kita membandingkan dengan APCC yang dikelola IEEE bersama dengan IEICE, KICS, CICS. Tahun ini APWCS diselenggarakan di Tokyo City University, Tokyo; 25–26 Agustus 2016. Aku hadir ke simposium ini dalam misi untuk mengaktifkan VTS di Indonesia, termasuk mengajukan kesiapan Indonesia sebagai host APWCS berikutnya.

Kebetulan aku masih punya 76000 Garuda Miles, dan 70000-nya langsung dikonversikan jadi tiket Garuda Cengkareng–Haneda p.p. Berangkat tanggal 23 Agustus menjelang tengah malam, Garuda mendarat di Haneda tanggal 24 pagi. Mandi di airport, dan langsung menjelajah Tokyo. Kuliner pertama adalah sushi segar yang langsung dibuatkan di depan kita. Wow :). Tentu, didahului sop miso yang khas itu.

img_2016-09-30-222311

Kamis pagi, 25 Agustus, barulah mengarah ke Tokyo City University, di kawasan Setagaya, Tokyo. Khawatir dengan gaya Jepang yang seringkali formil, aku pakai suite dengan gaya yang klasik tapi tetap santai. Di sana, Prof Mamoru Sawahashi, General Chair dari APWCS 2016 siap menyambut. Eh, baru sadar, suite kami matching sekali. Prof Sawahashi menceritakan scope simposium, sebaran pesertanya, dan nature dari penyelenggaraan simposium ini. Setiap konferensi memiliki sifat yang berbeda, dan kadang hanya dapat dipahami dengan langsung mengikuti seluruh kegiatan di dalamnya.

img_2016-09-30-222333

Tak lama, Prof Sawahashi harus memutus percakapan, untuk secara resmi membuka APWCS 2016. Berderet keynote speakers dari kalangan akademisi dan industri bergantian memberikan paparan tentang filosofi dan rencana implementasi Jaringan 5G dengan berbagai aspeknya. Ini selalu jadi saat yang mendebarkan, saat kita memiliki kesempatan mendengarkan update terbaru dari researcher senior yang merupakan para inventor & innovator kelas dunia. VTS memiliki sifat yang lebih spesifik dan fokus daripada society yang besar, semisal Comsoc (IEEE Communications Society)  atau IEEE Computer Society. Jadi paparan para researcher ini betul-betul fokus di cutting-edge teknologi 5G.

img_2016-09-30-222346

Tengah hari, Prof Sawahashi mengajak makan siang ke ruang VIP. Di sini, sekaligus dilakukan General Meeting dari APWCS Board of Governor. Anggotanya bukan hanya dari Jepang, tapi dari berbagai negara stakeholder, dengan gaya masing-masing.

img_2016-09-30-222328

Di BoG meeting inilah, aku memaparkan situasi riset & industri mobile di Indonesia, kapabilitas dan peluangnya, serta kemudian mengajukan Indonesia sebagai host dari APWCS berikutnya. Berikutnya itu bukan 2017, karena simposium semacam ini memerlukan persiapan sangat panjang, dan unik. Jadi mereka membuka kesempatan Indonesia menjadi host pada 2019, jika Indonesia memang dapat meyakinkan komitmen & kapabilitasnya.

img_2016-09-30-222322

Cukup banyak masukan yang diberikan bagi Indonesia dalam meeting ini; terutama bahwa Indonesia belum memiliki VTS Chapter. Selain periset dan akademisi serius, mereka sebenarnya sekumpulan macan. Tapi aku semacam macan lokal juga sih. Dan aku bisa menunjukkan bahwa IEEE Indonesia Section memiliki leadership kuat untuk memastikan keberhasilan program ini. Jadi akhirnya mereka secara prinsip menyetujui Indonesia menjadi host. Namun dalam jangka waktu itu, kita harus menunjukkan langkah-langkah kesiapan.

Lepas presentasi, beberapa anggota BoG mengajak berbincang. Sebagian untuk lebih kenal, sebagian lagi untuk meneruskan assessment :). Experience dari Section dan representative-nya pun (yours truly) dieksplorasi. Beberapa nama penting disebut. Entah kebetulan atau keberuntungan, nama-nama yang disebut itu punya hubungan baik dalam perjalanan networking di IEEE, termasuk incoming Director of IEEE Region 10, Prof Kukjin Chun, dan former Director of IEEE Comsoc Prof Byeong Gi Lee. So far so good.

Usai BoG meeting, aku masuk ke sesi-sesi paralel di simposium ini; menyimak beberapa hasil riset para researcher dan mahasiswa. Namun saat break, aku jumpa lagi dengan Chairman of APWCS BoG, Prof Li-Chun Wang. Kami berbincang cukup panjang di meja kecil. Di sini Prof Wang menyampaikan  concern sesungguhnya dari banyak anggota BoG. Fokus BoG sebenarnya bukan simposium atau conference; melainkan memastikan VTS tumbuh di region ini, dengan kegiatan yang terus bertumbuh. Simposium hanyalah sebuah cara untuk memastikan pertumbuhan kegiatan ini. Prof Wang juga menceritakan bagaimana akhirnya BoG bisa yakin untuk tetap mendukung Indonesia di 2019. OK, deal.

img_2016-09-30-222339

Selesai tugas, masih ada waktu untuk meneruskan belajar berbagai aspek dari vehicular technology, khususnya perkembangan 5G network yang menjadi fokus utama tahun ini. Menarik bahwa IoT masuk ke frame ini bukan sebagai requirement yang harus didukung dengan 5G, melainkan benar-benar merupakan bagian terpadu dari 5G itu sendiri.

Dan masih ada waktu juga untuk beristirahat dan berlibur beberapa hari. OK, yang ini kita sambung di blog lain. Aku masih punya travelling blog loh :).

img_2016-09-30-222316

IEEE Tensymp 2016

TENSYMP 2016 (atau lengkapnya: The 2016 IEEE Region 10 Annual Symposium) telah dilaksanakan di Sanur Paradise Plaza, Bali, tanggal 9–11 Mei 2016 lalu. Sebanyak 213 paper didaftarkan dalam simposium ini, namun hanya 96 yang lolos seleksi komite, yang artinya acceptance rate hanya 45%. Dari jumlah itu, 72 paper dipresentasikan dalam simposium ini.

Walaupun dinamai sebagai simposium, TENSYMP sebenarnya memiliki tingkatan sebagai sebuah konferensi; dan merupakan konferensi terbesar kedua yang dimiliki oleh IEEE Region 10 (Asia Pasifik). Namun TENSYMP masih berusia muda. Konferensi di Bali ini hanyalah TENSYMP keempat. Tujuannya adalah meningkatkan peran IEEE dalam pengembangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Asia-Pasifik melalui penyebaran pengetahuan dan pengalaman teknologi. Konferensi ini dibuka oleh Direktur IEEE Region 10, Ramakrishna Kappagantu, disertai oleh:

  • Satriyo Dharmanto, IEEE Indonesia Section Chair
  • Dr. Ford Lumban Gaol, IEEE TENSYMP 2016 General Co-Chair
  • Kuncoro Wastuwibowo, IEEE TENSYMP 2016 General Co-Chair
  • Prof. Gamantyo Hendrantoro, IEEE TENSYMP 2016 TPC Chair
  • Dr. Basuki Yusuf Iskandar, Kepala Riset dan Pengembangan SDM Kemkominfo

tsxop3089

Topik TENSYMP tahun ini kami pilih dengan mempertimbangkan posisi Asia-Pasifik sebagai pusat riset, pengembangan, dan bisnis TIK. Kita berada di tengah pengembangan perangkat, layanan, dan aplikasi digital yang berproliferasi dalam tingkat yang belum terbayangkan; namun dengan nisbah keberhasilan yang belum memuaskan. Kegagalan di bidang TIK umumnya disebabkan oleh akses yang kurang memadai terhadap teknologi, pasar, komunitas, atau investasi. IEEE sebagai komunitas merasa tertantang untuk mengatasi masalah-masalah ini dengan menyusun koherensi pada tingkatan teknologi, infrastruktur, dan peluang bisnis. Tantangan lain adalah perlunya mengarahkan pengembangan teknologi untuk secara konsisten menumbuhkan harkat hidup manusia. Arahan inilah yang menjadi dasar untuk menyusun tema TENSYMP 2016: Smart Computing, Communications, and Informatics of the Future. Riset yang mengarah ke pengembangan platform dan aplikasi tetap ditujukan untuk mencerdaskan kehidupan manusia.

Direktur IEEE Region 10 Ramakrishna Kappagantu menyebutkan bahwa melalui TENSYMP 2016, IEEE Region 10 bermaksud untuk:

  • Mempersembahkan forum internasional yang prestisius untuk berinteraksi dalam bidang-bidang elektri, komputer, dan teknologi informasi, dalam bentu paper, pameran, paparan ilmiah, tutorial, dan aktivitas lainnya.
  • Menyebarkan pengetahuan dan pengalaman teknis kepada masyarakat di kawasan Asia-Pasifik.
  • Mendorong pengkajian dan interaksi teknologi dan aplikasinya dalam konteks sosial, politik, dan kemanusiaan secara lebih luas.
  • Memperkuat kemampuan interpersonal dan profesional serta semangat kepemimpinan dari volunteer di bidang-bidang teknologi dan rekayasa.

Konferensi ini menampilkan lima pembicara kunci:

  • Prof. Kukjin Chun: Microelectromechanical Systems Technology Development.
  • Prof. Benjamin Wah: Consistent Synchronization Of Action Order with Least Noticeable Delays Ini MultiPlayer Online Games
  • Prof. Rod van Meter: Analyzing Applications for Quantum Repeater Network
  • Prof. Soegijarjo Soegidjoko, Biomedical Engineering Advances for a Better Life in Developed & Developing Countries
  • Dr. Basuki Yusuf Iskandar

tcwjc4785

Konferensi juga menampilkan tujuh sesi tutorial, dengan para tutor yang berasal dari berbagai negeri di Asia-Pasifik. Kami juga menyelenggarakan Gala Dinner yang dihadiri seluruh peserta konferensi, dan juga dihadiri Prof Kukjin Chun sebagai Direktur Terpilih dari IEEE Region 10 (yang akan menjabat sebagai Direktur di tahun 2017).

tlgbw5468

 

Kegiatan lain dalam konferensi ini:

  • IEEE Region 10 Young Professional Gathering
  • IEEE Region 10 Women in Engineering Sharing Session
  • IEEE Region 10 Education Activities Sharing Session
  • IEEE TENSYMP 2016 Industry Forum

CFP: Tensymp 2016

Aku mengakhiri masa jabatan sebagai Chairman di IEEE Indonesia Section di awal 2015. Pemilu elektronis nan demokratis telah memilih New Chairman, Satrio Dharmanto, buat tahun 2015, yang bisa diperpanjang di 2016. Tapi aku ternyata aku gak boleh meninggalkan aktivitas di IEEE. Dr Ford Lumban Gaol segera berkontak, menyampaikan bahwa tahun Indonesia akan jadi tuan rumah IEEE TENSYMP 2016, dan kami berdua harus jadi ketua bersama (General Co-Chair) buat konferensi regional ini.

Waktu aku masih jadi Chairman di IEEE Indonesia Communications Society Chapter; IEEE Indonesia Section pernah jadi tuan rumah untuk IEEE TENCON 2011. TENCON adalah konferensi resmi dari IEEE Region 10 (Asia Pacific), yang umumnya diselenggarakan di akhir tahun. Sukses dengan TENCON, IEEE Region 10 mendirikan konferensi regional seri kedua sejak 2013. Mula-mula seri kedua ini disebut dengan TENCON Summer, karena diselenggarakan di pertengahan tahun. Namun, karena seri kedua ini masih lebih kecil daripada TENCON, maka akhirnya konferensi ini dinamai TENSYMP, atau IEEE Regional 10 Symposium. TENSYMP diselenggarakan berturut-turut di Australia, Malaysia, India, dan tahun 2016 ini diselenggarakan di Indonesia.

10symp Logo v12

Tugas kami, tentu, adalah memastikan keberhasilan TENSYMP sebagai flagship conference dari Region 10. Paper harus diperoleh dari riset terbaru dan terbaik dari seluruh Asia Pasifik, pada tema yang sedang menjadi hal terpenting di Asia Pasifik. Asia Pasifik masih jadi salah satu pusat pertumbuhan bisnis dan ekonomi berbasis teknologi terbesar di dunia. Masalah energi, informasi, hingga teknologi untuk kemanusiaan jadi soal yang sama pentingnya. Namun akhirnya kami memilih fokus tematis pada prakarsa-prakarsa baru di bidang TIK.

Topik dibagi atas 4 track, yaitu Building Blocks yang mengkaji fundamental perbaikan infrastruktur informasi masa depan, termasuk jaringan 5G, IoT, hingga quantum networks; Architecture yang mendalami kerangka masa depan jaringan informasi, termasuk cognitive radio, cybernetics, dan big data; Critical Aspects yang mencoba menemu kenali titik-titik terpenting dalam pengembangan platform digital, termasuk pengoptimalan informasi konteks, ekonomika internet, dan green technology; serta Smart Applications yang mengeksplorasi berbagai peluang aplikasi dan produk yang memanfaatkan kecerdasan Internet masa depan.

Tensymp Tracks

TENSYMP akan diselenggarakan 9-11 Mei 2016 di Denpasar, Bali. Paper akan kami terima hingga 31 Januari 2016. Sebagai TPC Chair, kami memilih Prof Gamantyo Hendrantoro dari ITS, yang telah memiliki reputasi global, baik di sisi expertise maupun komitmen terhadap profesi. TPC (Technical Program Committee) diisi para expert dari kalangan akademisi dan profesional di berbagai negara, termasuk beberapa dari Indonesia.

Keynote Speaker untuk TENSYMP juga memiliki kelas berat. Prof Kukjin Chun adalah Direktur IEEE Region 10 di tahun 2016, sekaligus expert di bidang micromechanics dan microengineering. Prof Benjamin Wah adalah mantan Presiden IEEE Computer Society, juga expert di bidang artificial intelligence dan multimedia. Dr Rod van Meter, adalah bintang yang sedang bersinar dalam riset dan rekayasa quantum computing & quantum networks. Semua akan mewarnai TENSYMP dengan inpirasi terkini yang akan membekali para akademisi dan insinyur Indonesia dan dunia.

Foto-05-Keynote-03

Kami mengundang para akademisi dan profesional bidang TIK Indonesia untuk hadir dan berperan aktif dalam konferensi ini. Sungguh kesempatan menarik dan luar biasa buat kita semua. Sayang kalau yang hadir justru hanya para profesional dari luar negeri, terutama para kompetitor di MEA.

Informasi tentang TENSYMP 2016 dapat disimak di TENSYMP2016.ORG. Paper dapat dikirim melalui layanan EDAS, dengan alamat tertera di web TENSYMP. Seperti konferensi IEEE lainnya, paper akan diproses lebih lanjut di IEEE Xplore serta diajukan ke indeks SCOPUS.

Sampai jumpa di Bali, Mei 2016!

Comnetsat & Cyberneticscom 2013

Tampaknya banyak IEEE conference yang dijadwalkan menjelang akhir tahun 2013. Terlalu banyak, dengan waktu yang saling mendesak. Syukur, executive committee dan para officers di IEEE Indonesia Section punya komitmen tinggi untuk dapat menjaga kegiatan-kegiatan ini. Secara pribadi, aku tidak bisa mengawal semua. Termasuk flag conference IEEE Indonesia Section ini: Comnetsat dan Cyberneticscom.

Comnetsat dan Cyberneticscom tahun ini diselenggarakan di Sheraton Hotel, Yogyakarta, 3-4 Desember. Sebenarnya aku sudah menjadwalkan untuk hadir penuh di konferensi paralel ini, yang sudah dijadwalkan bahkan sejak Januari. Tiket pun sudah terbeli. Tapi HR Telkom membuat undangan mendadak untuk assessment yang sifatnya wajib pada Hari H. Maka aku baru bisa hadir setelah Hari-1 selesai. Pembukaan dilakukan oleh General Chair, Dr Ford Lumban Gaol; dan sambutan IEEE Indonesia Section dilakukan oleh Pak Arnold Djiwatampu, Advisory Board. Keynote Speech yang temanya paling menarik buatku adalah Quantum Communications, yang disampaikan oleh Prof. Rodney van Meter. Tapi sayangnya aku malah gak hadir :(.

Aku baru melandas di Yogya Selasa malam, dan langsung menuju Gala Dinner di Kraton Yogyakarta. Hadir sekitar 80 orang dalam acara ini. Aku meluangkan sekitar 3 menit untuk Welcome Speech dari IEEE Indonesia Section, sekaligus appreciation buat Telkom Indonesia yang menyumbangkan dinner ini. Dinner dipilih dari favorit para Sultan Yogya terdahulu. Menunya unik, sampai aku gak tahu namanya :D.

Comnetsat-01

Aku mengambil posisi meja bersama Prof Van Meter dan Dr Agung Trisetyarso. Mas Agung ini adalah apprentice dari Van Meter, dan pagi sebelumnya jadi session chair dalam sesi keynote speech Van Meter. Talk dengan mereka bahkan lebih menarik lagi daripada dinner-nya sendiri. FYI, riset Van Meter tahun ini dipaparkan di IEEE Communications Magazine dan juga di Communications of the ACM (CACM).

Van-Meter

Balik ke Sheraton, aku terkapar di kursi malas dekat kolam. Kena akumulasi kelelahan beberapa hari / minggu, aku malah pulas di samping kolam. Bangun, balik ke kamar. Dan baru sadar bahwa mungkin ini pertama kali aku boleh tidur pulas di malam konferensi internasional yang kami selenggarakan. Biasanya sok sibuk persiapan presentasi ini itu.

Hari berikutnya masih banyak keynote speech menarik. Prof Benyamin Wah, past chair dari IEEE Computer Society, dan provost  dari Chineses University Hongkong, mengkaji Parallel Decomposition, yang berawal dari perlunya optimisasi dari berbagai aplikasi komputasi natural, termasuk komputasi neural dan evolusioner. Prof Wolfgang Martin Boerner, dari IEEE GRSS Asia Pacific, memaparkan Future Perspectives of Microwave Imaging with Application to Multi-Parameter Fully Polarimetric POLSAR Remote Sensing and Geophysical Stress-Change Monitoring. Dari Telkom Indonesia, Pak Rizkan Chandra diwakili oleh Pak Era Kamali Nasution, mengkaji kasus deployment network dengan konvergensi vertikal dengan pendekatan ekosistem.

Comnetsat-02

Sesi paralel sesudahnya cukup menarik. Peserta bukan saja datang dari kawasan Asia Pasifik seperti yang dibayangkan, tetapi dari negeri-negeri yang cukup tersebar. BTW, Conference Chair untuk Comnetsat adalah Dr Arifin Nugroho, dengan TPC Chair Prof Eko Tjipto rahardjo. Conference Chair untuk Cyberneticscom adalah Dr Wahidin Wahab, dengan TPC Chair Prof Riri Fitri Sari.

Kerjasama Konferensi IEEE

Dari beberapa misi Comnetsat dan Cyberneticscom tahun lalu, yang aku anggap terpenting adalah kemampuannya menyebarluaskan semangat dan komitmen mengangkat konferensi teknis ilmiah dari kampus-kampus dan lembaga penelitian di Indonesia menjadi konferensi internasional dengan standar kualitas IEEE. Di tahun-tahun sebelumnya, baru kampus semacam UI, ITB, dan ITTelkom (sekarang Telkom University) yang secara rutin menyelenggarakan konferensi internasional IEEE. Tahun ini, LIPI, UGM, UMN, telah mencoba menyelenggarakan konferensi serupa.

UGM: ICITEE

Tahun-tahun sebelumnya, UGM telah melaksanakan CITEE. Tahun ini, dipimpin Dr Wayan Mustika, diselenggarakan konferensi paralel CITEE yang bercakupan nasional dan ICITEE yang berjangkau internasional. ICITEE (International Conference on Information Technology and Electrical Engineering) [URL] dikoordinasikan dengan IEEE Indonesia Section dilaksanakan sejak awal tahun, baik secara online maupun via perbincangan di Yogyakarta.

ICITEE digelar di Sahid Rich Yogya Hotel, 7-8 Oktober. Pembukaan oleh Dr Wayan Mustika sebagai general chair. Aku mewakili IEEE memberikan congratulatory speech 7 menit saja. Keynote speeches disampaikan oleh Prof Tadashi Matsumoto (JAIST), Dr Susumu Yoshoda (Kyoto Univ), dan Dr Khiorul Anwar (JAIST).

ICITEE-550

LIPI: IC3INA

IC3INA (The International Conference on Computer, Control, Informatics and its Applications) [URL], mulai direncanakan awal 2013. Koordinasi dengan IEEE Indonesia Section dilaksanakan secara online; tetapi kami sempat melakukan dua kali kunjungan ke Gedung LIPI di Cisitu Lama, Bandung.

Konferensi digelar pada 19-20 November di Gedung LIPI, Gatsu Jakarta. Sesi pembukaan disusun dengan gaya meja-meja bundar di bawah panggung. Keynote speech disampaikan a.l. oleh Prof Md Mahmud Hasan dari Kazakh-British Technical University di Almaty dan Prof Antonio Uras dari ALICE CERN. Prof Uras bukan membahas hasil riset di LHC dan ALICE sendiri, tetapi bagaimana mereka di sana mengolah data dengan skala petabyte untuk mengambil hasil riset secara efektif. Aku didapuk jadi session chair untuk semua sesi keynote, karena semua komite sedang merangkap jadi seksi sibuk.

IC3INA-550

Selesai sesi, sempat ada bincang ringan dengan wartawan Tempo. Sambil berbincang ringan, aku menyebut bahwa kita telah beberapa tahun berusaha membangun inovasi digital. Hasilnya jauh dari menggembirakan. Dari sisi bisnis, tampak bahwa produk digital cuma jadi boom, tidak jadi revenue. Dari sisi social, melejitnya pemakai media social di Indonesia justru dibarengi mandegnya indeks pembangunan manusia (HDI) dan seluruh parameternya. Aku pikir ini a.l. karena inovasi kita lebih sering berasal dari contekan inovasi atau riset dari luar, dan bukan bukan dari riset yang dikembangkan dari Indonesia sendiri, buat kebutuhan Indonesia. Jadi kegiatan IEEE dan ekosistem pendidikan tinggi lebih difokuskan buat mendukung riset-riset nasional, termasuk dengan konferensi yang terkawal kualitasnya, dan peningkatan jurnal nasional. Tapi konon di Tempo dll, tidak ada yang bertugas mengawal kualitas berita :). Maka di Tempo yang ditampilkan adalah bahwa seolah-olah aku menuding riset-riset nasional adalah hasil contekan. Tentu, ini jauh dari pendapatku. Terima kasih, Tempo, untuk menunjukkan bahwa tugas kita memang lebih besar lagi. Bukan hanya di pendidikan nasional, tapi juga media nasional.

Sayangnya aku tidak bisa hadir di sesi paralel. Ada tugas mendadak dari Telkom DES.

UMN: CONMEDIA

Tahun lalu, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menyelenggarakan CONMEDIA (Conference of New Media Studies) [URL] dalam bentuk seminar yang hanya berisikan international speech. Baru tahun ini CONMEDIA menampilkan dan menguji paper-paper. Karena ini adalah pengalaman baru, UMN belum berfokus untuk mempublikasikan hasil konferensi melalu IEEE (Xplore). Namun, aku mencoba tetap menyusun skema kerja seperti halnya konferensi internasional IEEE lainnya; sekaligus sebagai sarana belajar bersama.

CONMEDIA diselenggarakan pada 27-28 November di New Media Tower UMN. Pembukaan oleh Rektor UMN Dr. Ninok Leksono; dilanjutkan dengan sesi keynote speech dari Prof. Tahee Kim (Youngsan University, Korea), Kuncoro Wastuwibowo (IEEE Indonesia Section), Prof. Richardus Eko Indrajit (APTIKOM) dan Prof. John Cokley (Swinburne University, Australia). Paparanku berjudul Converged Digital Ecosystem, dan membahas aspek teknis, desain, aplikasi dari pengembangan layanan-layanan digital. Dikenalkan juga standar baru seri IEEE 1903 yang disebut dengan NGSON. Berikutnya adalah sesi paralel.

Conmedia-550

Ketua penyelenggara, Dr Hira Meidia, sudah berkomitmen untuk meningkatkan CONMEDIA di tahun berikutnya, agar dapat memberanikan diri terpublikasi di IEEE Xplore.

Oh ya, aku juga dapat tanda mata unik menarik dari UMN & CONMEDIA. Mereka edit fotoku (waktu ketemu Dr Alain Chesnais di TALE tahun ini) dalam gaya Weda Style, dan mencetak dalam display yang keren. Here you are:

Conmedia-400

 

Konferensi 2014

Di tahun 2014, telah masuk beberapa proposal kerjasama penyelenggaraan konferensi. ITS, PENS, serta satu kampus di Malang telah mengajukan beberapa proposal juga. Kawasan timur semakin cerah. Tapi tentu target kita bukan jumlah konferensi. Kita tetap berfokus pada peningkatan dinamika dan kualitas riset ilmiah di Indonesia. Dalam konteks IEEE, tentu fokus pada STEM: science, technology, engineering, & math. Dan dalam kerangka IEEE, sifatnya tetap non komersial, not-for-profit. Di web IEEE Indonesia Section, bagian ini telah didetailkan.

NEST UI

Ini kegiatan tahunan dari Mahasiswa Elektro UI: NEST. Kepanjangannya canggung nian: National Electrical Seminar & Technology :). Beberapa minggu lalu, ketua penyelenggara kegiatan ini, Sdr Hegar Mada, dan sekretaris kegiatan, Sdr Isyana Paramitha, bergantian menghubungi IEEE Indonesia Section untuk endorsement kegiatan ini. Tentu, kegiatan akademis dan profesional semacam ini kita dukung. Komunikasi sempat terhenti sepanjang Ramadhan :). Tapi selesai APCC, Hegar berkontak lagi. Dua hari sebelum Hari-H, Hegar datang ke kantor Kebon Sirih. Ia menyampaikan undangan sebagai Keynote Speaker. Penandatangannya Dr Muhamad Asvial, salah satu pendukung kuat kegiatan-kegiatan IEEE di Indonesia. Jadi aku tidak bisa menolak. (Hey, ini H-2)

NEST berlangsung 12-13 September 2013 di Gedung Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Depok. Tema NEST adalah “A step foward to the green information and communication technology sustainability.” Keynote speech berlangsung di hari pertama, disusul seminar, workshop, dan pameran.

NEST-01

 (Coffee break bersama Prof. Riri, Prof Mulli, dan Pak Charles)

NEST dibuka Dr Muhamad Asvial, Kepala Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik UI. Keynote speech pertama dari Prof. Dr-Ing. Kalamullah Ramli, atau akrab dipanggil Pak Mulli, Staf Ahli Menkominfo bidang Teknologi. Pertama kali aku mengenal nama beliau waktu masih di pengajian Isnet beberapa tahun lalu. Syukur sempat ketemu beliau akhirnya :). Keynote kedua dari aku, mewakili IEEE Indonesia Section. Prof Riri Fitri Sari (CIO UI) sempat hadir juga di tengah speech-ku.

Presentasiku berjudul “Green-Aware Networks” :). Sebelumnya aku sempat mengintip daftar program. Workshop dan seminar akan membahas hal-hal semacam smart grid, cloud computing, dan beberapa materi menarik lain. Jadi aku fokuskan presentasi pada hal yang belum dibahas pada workshop dan seminar, yaitu pada cognitive radio yang memiliki awareness pada reservasi energi dan kelestarian alam. Materi cognitive radio ini memang pernah aku presentasikan, namun penekanan pada konteks kehijauan memberikan pesan baru pada diskusi ini.

(Presentasi “Green-Aware Networks”)

Selesai presentasi, ada sesi break dengan kopi dan lemper yang sedap. Aku meluangkan beberapa menit ke lokasi pameran. Wow, robotika! Kebetulan aku sedang mendadak agak sedikit tertarik urusan robotika, sensor, dll. jadi aku menyibukkan diri berbincang-bincang dengan peserta pameran, dari UGM, Unitel, dan lain-lain. Plus dipameri hal-hal menarik.

Kembali ke ruang seminar, Pak Charles sedang memaparkan aspek openness dan security pada ICT projects. Ini hal yang penting untuk green ICT. Reusable engineering (hardware/software) memiliki peran penting buat ICT yang ramah lingkungan.

Jam 12:00 aku pamit balik ke kantor Kebon Sirih. Mitha mengawalku ke luar gedung perpustakaan. Sebenernya sih, mau bikin foto dulu di danau. Tapi aku ditunggu kegiatan lain di kantor sih. Syukur masih sempat foto di pintu perpustakaan.

NEST-02

 (Dikawal Mitha)

NEST UI dikemas sederhana, namun menunjukkan komitmen yang kuat, dari sisi akademis dan profesional, dari para engineer muda di UI dan kampus-kampus lain yang bertekad meningkatkan kekuatan negeri ini melalui teknologi tinggi, tanpa mengabaikan lingkungan, dan justru dengan tekad memperbaiki kembali lingkungan hidup yang hijau. Bravo, Universitas Indonesia. Teruskan dan tingkatkan aktivitas yang keren dan menginspirasi semacam ini.

 

%d bloggers like this: