Igor


Stravinsky

Dave Wood

Hari pertama di C&W site, aku ketemu Dave Wood, petugas security yang nganter aku ke FAR-125. “What is FAR-125? Does it stand for Far-away?” tanya aku. “It should be.” kata dia. Terus dia ngangkatin bagasi aku yang luar biasa itu naik tangga sempit ke Lt 3 di gedung Faraday (hehe, beda 1 huruf).

Udah dua bulan di sini, pulang dari Warwick, aku liat Dave rada pincang dikit. Aku nanya, apa dia lagi sakit. Dia bilang, dulu dia kena kecelakaan waktu naik sepeda motor. Tulang kakinya hancur, terus dipasang dengan sekrup. Aku cuman bilang, hebat, dan kamu masih kuat sekali.

Sore ini, dia manggil aku, mau nunjukin sesuatu. Dari mejanya, dia keluarin gambar motornya dia, satu surat kecelakaan tahun 1991, dan satu set plat dengan 10 sekrup dari yang rada panjang sampai panjang bener. Terus dia nunjukkin foto Sinar X waktu dia masih dipasangin plat itu. 10 sekrup panjang menembus tulang. Luar biasa. Dan abis sembuh, dia malah kerja jadi security, dan kuat ngangkat beban berat di tangga sempit ke Lt 3. Aku tanya, kok dia masih bisa sangat kuat. Perlu latihan panjang dan terus-menerus, termasuk olah badan, dan main football. Ke luar gedung, aku sekilas ngeliat motor Dave (bukan yang dipakai waktu kecelakaan dulu). Masih rajin naik motor, biarpun ada modifikasi dikit di pedal.

Kapan ya aku bisa mulai belajar kuat bertahan hidup, dari orang-orang di sekitar aku.

James Clerk Maxwell

Di jaman Newton, cahaya adalah partikel. Di jaman kuantum, cahaya juga jadi partikel. Tapi antara kedua jaman itu, cahaya adalah gelombang. Kali ini tokohnya James Clerk Maxwell, ilmuwan teoretis terbesar abad 19.
Berbeda dengan Faraday, Maxwell sangat canggih di bidang matematika. Semua mainan Faraday di bidang listrik dan magnet diformulasikan ke dalam teori Maxwell, yang langsung membuktikan bahwa keduanya adalah satu macam gaya elektromagnetika, yang bisa bertransmisi dalam bentuk gelombang elektromagnetika, yang tidak lain adalah cahaya. Penemuan hebat sekali masa itu. Spektrumnya diperluas mencakup gelombang panas (infra merah). Waktu spektrumnya diperluas lagi, Hertz jadi penemu transmisi radio, dan Roentgen jadi penemu sinar X.
Maxwell juga kemudian bermain-main dengan optika. Spektrum cahaya dianalisis, dan dia menemukan bahwa kita bisa mereproduksi gambar berwarna dari gambar hitam putih. Pemisahan spektrum red-green-blue juga dilakukan pertama kali oleh Maxwell. Tapi ceritanya rada lucu. Di depan Royal Society, Maxwell membawa tiga plat, satu peka merah, satu peka hijau, dan satu peka biru, yang diproses dari pengambilan gambar. Kalau dilihat, ketiganya cuman jadi gambar abu-abu. Tapi begitu disinari terpisah dengan merah, hijau, dan biru, dan hasilnya disatukan, maka terciptalah reproduksi berwarna. Tepuk tangan pun membahana. Bertahun-tahun kemudian, orang baru sadar bahwa plat peka merah yang dipakai Maxwell ternyata tidak peka pada warna merah. Lho. Jadi penemuan Maxwell tidak bisa dicontoh orang. Nah, kok Maxwell bisa? Ternyata Maxwell beruntung, karena membuat kekeliruan ganda. Kekeliruan kedua adalah bahwa plat yang dia pakai ternyata peka pada sinar ultraviolet (yang tidak tampak oleh mata). Lucunya, hasilnya ternyata alami, biarpun ultraviolet jauh bener dengan merah.
Foto berwarna baru bisa benar-benar diproduksi tahun 1960-an, satu abad setelah Maxwell.

Michael Faraday

Michael Faraday, ilmuwan eksperimental terbesar abad 19, menggantikan posisi Sir Humprey Davy di Royal Institute. Dia terus menerus bereksperimen dengan gejala-gejala fisika dan kimia, dan temuannya mewarnai abad-19. Yang paling penting, antara lain, adalah konsep garis gaya. Misalnya gravitasi.

Gaya tarik menarik antara dua benda bukan terjadi karena setiap benda melakukan pengukuran jarak pada benda lain sekaligus massa benda itu, kemudian melakukan perhitungan dengan kalkulator internal untuk melakukan tarikan. Faraday membuat konsep tentang garis gaya kontinu yang menyebar dari massa (atau muatan listrik dan magnet), dan benda lain akan terpengaruh oleh garis gaya itu.

Faraday juga memperkenalkan istilah medan. Konsep-konsep yang asing, dan akhirnya jadi masuk akal, biarpun di abad 20 ini dimentahkan lagi oleh teori kuantum. Yang sangat penting adalah bahwa perubahan medan elektrik membangkitkan medan magnet, dan perubahan medan magnet membangkitkan listrik. Faraday jadi penemu generator dan motor listrik sekaligus. Terakhir, Faraday juga curiga bahwa cahaya barangkali adalah gelombang, yang dibangkitkan dari interaksi elektrik dan magnet. Di luar soal itu, dia juga menemukan benzene dan elektrolisis.
Atas intelektualitasnya, kerajaan mau menganugerahi gelar Sir, dan mengangkat jadi presiden Royal Society. Tapi Faraday menolak keduanya.

Kebeneran satu tahun ini aku lekat sekali sama nama Faraday. Ilmuwan yang bener-bener menolak aristokrasi.

Влади́мир Ильи́ч Ле́нин

Siapa yang pantas jadi the man of the century abad ini? Dengan kepribadian tristanistik :), barangkali kita lebih baik pilih Vladimir Ilyich Ulyanov alias Lenin, dengan proyeknya yang bernama Uni Soviet.
Alasannya sederhana, Uni Soviet cuma ada di abad xx (tidak di abad xix dan tidak juga di xxi), tapi dia adalah biang kesumpekan dunia. Sambil melakukan agresi terhadap tetangganya, Soviet membantu bangsa-bangsa lain melepaskan diri dari penindasan asing. Kemudian ditanamkanlah apa yang disebut ideologi. Orang pun berperang dan saling membunuh demi omong kosong yang dinamai ideologi ini. Namun kemudian tampillah Mikhail Sergeyevich Gorbachev, dan bubarlah Uni Soviet. Situasi dunia kembali ke zaman sebelum pengaruh Soviet: saling membasmi demi ras dan bangsa, yang juga omong kosong. Lenin, dan Soviet, sebagai monumen abad xx, harus dicatat karena pernah memindahkan alasan untuk membunuh, dari suatu alasan omong kosong ke alasan omong kosong lainnya.
Salah satu karakteristik manusia adalah menyimpan ironi dan kekonyolan. Kita perlu mengenang Lenin untuk sisi kemanusiaan yang satu ini.

%d bloggers like this: