<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kuncoro++ &#187; Book</title>
	<atom:link href="http://kun.co.ro/category/book/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kun.co.ro</link>
	<description>Reinventer La Vie</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 01:25:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kindle, Lumiread, iBook</title>
		<link>http://kun.co.ro/2011/08/06/kindle-lumiread-ibook/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2011/08/06/kindle-lumiread-ibook/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Aug 2011 08:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3419</guid>
		<description><![CDATA[Di Jakarta, di Bandung, rumah hanya dipenuhi rak2 buku. Kesannya penghuninya fanatik sekali pada media ilmu itu. Buku, bukan saja mentransfer informasi antar ruang, antar budaya, tapi juga antar waktu. Tapi justru sebagai pecinta buku yang akut, aku mulai menyadari banyak yang harus diubah dari budaya buku. Buku berkualitas terbaik pun akan mulai pudar dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di Jakarta, di Bandung, rumah hanya dipenuhi rak2 buku. Kesannya penghuninya fanatik sekali pada media ilmu itu. Buku, bukan saja mentransfer informasi antar ruang, antar budaya, tapi juga antar waktu. Tapi justru sebagai pecinta buku yang akut, aku mulai menyadari banyak yang harus diubah dari budaya buku.</p>
<p>Buku berkualitas terbaik pun akan mulai pudar dan rusak &#8212; khususnya jika sering dibaca dan disimak dengan serius, dibawa ke mana2, atau dicoret-coreti. Sementara itu, tumpukan buku menimbulkan perasaan lain: perasaan bersalah ke lingkungan bahwa banyak pohon yang harus ditebangi untuk memenuhi kehausan ilmu. Perasaan yang dulu terasa fantastik saat mencium harum kertas kini dibarengi perasaan bersalah bahwa pohon tempat kayu yang harum itu berasal, kini telah hancur ditebang. Keasikan membalik2 kertas digantikan oleh dorongan ala geek bahwa waktu yang singkat bisa digunakan untuk membaca lebih cepat, lebih banyak. Dan pameran buku, dimana lebih dari 70% buku2nya benar2 tak berkualitas, sungguh jadi tontonan yang menyakitkan buat pecinta lingkungan.</p>
<p>Mungkin para pecinta buku harus mulai mengubah gaya hidup. Membuang keengganan memegang e-book (gadget atau apps), dan mulai mengasikinya dengan niat untuk memelihara kehidupan di bumi, dan menggali ilmu lebih cepat dan luas.</p>
<p>Sebagai pecinta buku, aku sempat tak berminat menggantikan buku dengan gadget centil semacam iPad. Kalaupun buku harus dielektronikkan, ia harus digantikan oleh buku elektronik. Jadi, tahun lalu, aku mengadopsi sebuah Amazon Kindle. Kindle ini dibeli di Kaskus, tetapi covernya harus beli di UK. Dibawain Mas Yanuar Nugroho, wkwk. Tanpa cover, Kindle memang terasa mirip gadget. Tapi begitu dipasangi cover, dia berubah jadi buku. Aku bisa mengasyikinya seperti mengasyiki buku kertas, dengan klik di tempat di mana halaman buku seharusnya dibalik. Lengkap dengan makian kalau lampu mendadak mati :). Kindle ini menggunakan e-ink yang ramah lingkungan. Ia hampir tak menggunakan daya, selain untuk mengubah tampilan halaman, serta untuk transfer informasi via WiFi. Gak lama, aku mengisi buku ini dengan content yang aku beli (berbayar dan gratis) dari Amazon, dari O&#8217;Reilly, dan dari tempat2 lain. Format AZW dengan DRM dari Amazon, format MOBI tanpa DRM dari O&#8217;Reilly. Dari IEEE, masih format PDF yang belum nyaman dibaca dengan Kindle.</p>
<p>Apa yang menarik dari Kindle? Begitu memegangnya, kita lupa bahwa ia adalah tablet mini dengan platform komputasi Fiona dengan layar selebar 6 inci. Yang kita tahu, ini adalah buku. Bahkan, di pesawat terbang, saat pramugari sudah tegas menyuruh mematikan seluruh perangkat elektronik, aku sering lupa menutup Kindle. Rasanya dia benar2 buku. Pramugari pun tak pernah menegur. Tapi ia bukan cuma buku. Ia gudang buku. Memulai perjalanan dengan baca Herriot, kita bisa ingat gaya candaan Larry Wall, dan bisa pindah ke buku Perl, lalu meneruskan baca2 soal coding, mobile coding, lalu 4G mobile technology, lalu ke jurnal2 Comsoc yang mutakhir. Semua dilakukan saat itu, tanpa harus kesal meninggalkan buku yang mendadak kita mau baca di situ juga. Dan sambil senyum melihat hutan di bawah sana, yang mudah2an tak kencang lagi ditebang.</p>
<p>Kindle juga memungkinkan kita membeli buku langsung ke Amazon. Buku yang baru diterbitkan, selama ada versi Kindlenya, dapat langsung kita beli, kita unduh, dan kita baca. Tak lagi kita harus tunggu 2 minggu untuk menerima buku terbaru. Dan kenapa hanya buku? Majalah2 seperti Time, Fortune, Reader Digest, Science News, dapat kita langgani di Kindle, dan langsung dikirimkan otomatis ke dalam buku kesayangan itu bahkan sebelum versi kertasnya masuk ke rak-rak di toko-toko di US. Kindle punya aku memang tak memiliki koneksi mobile. Ia hanya punya WiFi yang sederhana. Syukur iPhone-ku punya kemampuan tethering: ia jadi WiFi access point, menjadi jembatan mini antara trafik WiFi ke Kinde dengan trafik 3G Mobile ke Telkomsel. Atau Singtel, Celcom, Softbank, dll di berbagai negara.</p>
<p>Tentu, saat ini memang belum semua buku diterbitkan dalam versi e-Book. Infiltrasi budaya digital pun memerlukan waktu. Juga, Kindle mirip buku: tak bisa dibaca di mobil tanpa cahaya matahari, atau di rumah saat PLN berkhianat. Dan Kindle 7&#8243; juga agak bikin pusing dipakai membaca buku yang memiliki format cetak kaku, seperti jurnal IEEE versi PDF dengan format dua kolomnya. Kadang Kindle harus menyerah. Tak heran bahwa di tasku kadang masih ditemukan jurnal2 IEEE.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-3423" title="Kindle-dkk" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/08/Kindle-dkk.jpg" alt="" width="500" height="338" /></p>
<p>Lalu datanglah Cherico. Ini nama samaran untuk Acer Iconia Tab yang dititipkan Acer buatku. Tablet bersistem Android Honeycomb berlayar 10&#8243; ini mula2 hanya aku pakai buat test Angry Birds. Ternyata OK juga. Jadi aku instal dengan aplikasi yang pasti diinstal oleh semua pecinta buku: Book Reader. Pertama, Kindle apps. Kebetulan Android Market masih melarang warga Indonesia yang cinta damai untuk mengunduh Kindle apps. Terpaksa aku download dari ruang lain. Amazon memperkenankan kita meregistrasikan beberapa perangkat ke dalam satu account kita. Jadi, aku cukup meregistrasikan kembali Kindle apps ini, dan segera ratusan buku yang sudah kubeli di Amazon diunduh kembali ke Cherico. Sekarang aku bisa baca dalam kegelapan, di trafik malam Jakarta. Thanks, Acer :). Aku langsung menambah berlangganan National Geographic di Amazon. Dengan ketajaman layar Iconia, majalah ini tampil prima. Tentu tampilan semacam ini tak dapat dilihat di Kindle kesayanganku.</p>
<p>Cuman, Cherico ini masih berasa tablet, berasa gadget, bukan berasa buku. Tak terlalu mengganggu sih, karena aku sudah beradaptasi jadi pembaca ebook. Tapi kadang, di tengah asyik membaca buku, ada notifikasi kecil di bawah layar: someone mentioned you on Twitter, someone sent you a mail, someone talked to you on Gtalk, dst. Ganggu orang baca aja :).</p>
<p>Kindle apps for Android hanya bisa digunakan membaca buku2 dan majalah dari Amazon. Tak bisa membaca MOBI atau PDF dari third parties. Jadi aku sibuk memilih aplikasi lain buat baca buku dari O&#8217;Reilly dan jurnal2 IEEE, serta buku2 non Amazon lainnya. Akhirnya aku pilih LumiRead. Ini apps yang tidak rumit, tapi nyaman digunakan, dan dapat menampilkan buku2 dalam format PDF secara jernih dan tajam. Sekarang aku tak lagi harus bawa jurnal2 IEEE dan jurnal2 lainnya. Aku bisa baca di Cherico. Buku2 o&#8217;Reilly aku unduh ulang dalam format PDF, dan dimasukkan ke LumiRead juga.</p>
<p>Selain di Cherico Android, Kindle apps juga aku pasang di Mac Blue. Tapi memang versi yang ini amat jarang diakses. Seharusnya ini aku pakai untuk baca2 di tengah rapat yang membosankan, sambil pura2 sibuk ini itu di komputer. Tapi dalam praktek, aku memang sering harus sibuk ini itu di komputer, selama rapat yang selalu membosankan itu. So, ia jadi aplikasi yang duduk tenang dan manis saja di Mac Blue.</p>
<p>Alternatif lain, saat kita sedang berpisah dengan seluruh komputer, tablet, dan gadget, adalah iBook di iPhone. Memang iPhone-ku belum jailbroken; dan Kindle apps for iPhone juga belum bisa dibeli. Jadi aku hanya pakai iBook, dan diisi buku2 O&#8217;Reilly  dalam format EPUB. Tapi bukan hanya itu. Beberapa buku PDF dan buku2 lain juga aku re-edit dengan Pages di Mac Blue, lalu aku ekspor ke EPUB, dan dimasukkan ke iBook. Memang tak terlalu nyaman membaca di layar smartphone. Kesannya kita kayak lagi sibuk baca SMS atau tweeting. Padahal memang tweeting, ssst. Tapi, dalam keadaan tertentu, ini jadi alternatif yang menarik juga.</p>
<p>Dan buku kertas &#8230; yang masih ada kadang2 dibawa2 juga sih. Tapi aku sudah amat jauh mengurangi buku2 kertas yang baru. Dan aku masih bisa mengaku jadi pecinta buku. Bukan karena punya banyak buku di rak, tapi karena bisa bawa dan baca buku2ku di mana saja.</p>
<p>Kayak apa sih dunia, kalau buku tak pernah diciptakan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2011/08/06/kindle-lumiread-ibook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Geek Atlas</title>
		<link>http://kun.co.ro/2011/07/10/the-geek-atlas/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2011/07/10/the-geek-atlas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jul 2011 14:16:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3361</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya perjalanan wisata dipandu oleh buku dari Lonely Planet, atau dari ensiklopedi WikiTravel. Tapi ternyata O&#8217;Reilly pernah juga menerbitkan buku &#8220;The Geek Atlas&#8221; yang juga dapat digunakan buat menarik minat berwisata ke lokus para geek, atau untuk melihat sisi geek dari kota yang kebetulan sedang kita hinggapi. Sayangnya, buku ini US-centric, jadi sekitar 40% obyek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Biasanya perjalanan wisata dipandu oleh buku dari Lonely Planet, atau dari ensiklopedi WikiTravel. Tapi ternyata O&#8217;Reilly pernah juga menerbitkan buku &#8220;The Geek Atlas&#8221; yang juga dapat digunakan buat menarik minat berwisata ke lokus para geek, atau untuk melihat sisi geek dari kota yang kebetulan sedang kita hinggapi. Sayangnya, buku ini US-centric, jadi sekitar 40% obyek yang ditampilkan berada di US :). Dan dari 60% sisanya, i.e. 20 negara, Indonesia belum termasuk.</p>
<p>Yang buat aku menarik adalah bahwa aku bisa membandingkan tempat2 yang kebetulan pernah tak sengaja terkunjungi, dengan ulasan di buku ini. Ini beberapa di antaranya (mengikuti urutan dalam buku ini):</p>
<p><img title="GeekAtlas" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/GeekAtlas.gif" alt="" width="180" height="279" align="right" /><strong>Paris: Menara Eiffel</strong>. Dari sisi estetika, banyak yang tak menyukai menara ini. Ia bertahan karena memiliki fungsi ilmiah. Gustav Eiffel membangun menara ini setelah membangun banyak jembatan, dan Patung Liberty di New York. Menara disusun dari besi dengan kadar karbon yang lebih tinggi, yang dibentuk dari besi dan karat :). Besi dibentuk menjadi lempeng, yang kemudian disambung saat masih panas di tempat, dan dibiarkan mendingin sambil berkait. Tinggi menara 324m. Dari ketinggian itu, aku sempat melihat seluruh Paris, dan sempat membuat resolusi, wkwkwkwk :). Oh ya, menara itu memiliki lekuk unik dan keren karena alasan teknis: untuk menahan tekanan angin. Eiffel sendiri menyatakan bahwa anginlah yang menjadi alasan membentuk menara seperti itu. Menara ini digunakan untuk pengukuran cuaca, eksperimen ilmiah, dan kemudian juga pemancar radio. Di bawah menara, dipahatkan nama2 ilmuwan Perancis, dari Lagrange, Laplace, Lavoisier, Ampère, Becquerel, Cauchy, Coulomb, Fourier, dan lain2.</p>
<p><strong>Tokyo: Akihabara</strong>. Kaget baca nama ini di buku ini. Aku pikir ini cuman pasar elektronika terlengkap. Tapi memang ini yang disebut juga di buku ini. Kalau sebuah perangkat elektronik tak ditemukan di sini, mungkin dia tak ada di seluruh Jepang, dan pasti sulit dicari di seluruh dunia: dari perangkat tak berguna hingga perangkat mutakhir. Aku sendiri cuma lewat tempat gini, &#8216;gak berminat belanja :)</p>
<p><strong>Taipei: Taipei 101</strong>. Konon ini gedung berpenghuni yang tertinggi di dunia. Berlokasi di tepi Pasifik, gedung ini akan rentan gempa dan taufan. Maka di bagian atas dipasanglah pendulum berwarna emas seberat 660 ton untuk mencegah gedung ini berayun atau bergetar. Tentu ini jadi pendulum terheboh di dunia, karena dapat dilihat publik, yaitu pada lantar 87 &#8211; 91. Bola pendulum dapat berayun setiap saat hingga 35cm, dan meredam getaran hingga 40%. Saat terjadi taufan, pendulum dapat berayun hingga 1.5m, dengan arah berlawanan dengan arah ayunan gedung. Bumper hidrolik akan menyerap energi dan mencegah ayunan yang terlalu besar. Periode ayun gedung ini adalah 7 detik, dan pendulum telah disetel untuk match pada periode ayun ini :).</p>
<p><img class="size-full wp-image-3370 aligncenter" title="Taipei-101" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Taipei-101.jpg" alt="" width="400" height="400" /></p>
<p><strong>Greenwich: Royal Observatory</strong>. Ini adalah titik 0° bujur bumi (GMT 0), yang terposisikan di Royal Observatory at Greenwich. Tak kebetulan, observatorium ini berdekatan dengan pelabuhan AL Inggris. Ini memungkinkan bakuan GMT digunakan untuk mengukur semua pelabuhan dan semua tempat di muka bumi di masa sebelum teknologi satelit, selama mereka memiliki pengukur waktu yang akurat. Oh ya, di taman yang luas dan rindang sekitar obversatorium ini, tinggal banyak tupai yang imut dan jinak :).</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-3367 aligncenter" title="Greenwich" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Greenwich.jpg" alt="" width="400" height="400" /></p>
<p><strong>York: National Railway Museum</strong>. Banyak bagian dari York yang menarik. Jadi museum ini cuma aku lewati pintunya :D. Tempat ini berfungsi mereview teknologi kereta api dan sejarah Revolusi Industri. Loko dari Rocket yang berkecepatan 20 km/h hingga Flying Scotsman yang berkecepatan 160 km/h tersimpan di sini. Yang terakhir ini dapat menempuh jarak London &#8211; Edinburgh tanpa berhenti mengisi batubara.</p>
<p><strong>Cambridge: Trinity College</strong>. Aku menghabiskan seharian di sekitaran college sekitar sungai Cam ini, tapi baru sadar bahwa di sana masih tumbuh sebatang pohon apel yang konon merupakan keturunan dari pohon apel yang konon mengilhami Isaac Newton :). Di sini memang aku malah sibuk menebak ruang kerja Newton, Rutherford, Dirac, hingga Hawking, dan tak sempat memikirkan apel :). Yang waktu itu cukup banyak pengantrinya adalah Wren Library.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://kun.co.ro/pictures/cambridge-1.jpg" alt="" /></p>
<p><strong>London: The Science Museum</strong>. Mungkin aku perlu satu entry blog sendiri tentang ini &#8212; hutang dari tahun lalu. Di museum ini ditampilkan loko Rocket dari Stephenson yang asli, jam atom pertama, modul komando Apollo 10, Mesin Diferensial dari Babbage, dan banyak sekali obyek amat menarik lainnya. Lantai bawah disediakan untuk pameran2: dunia modern (misalnya Model DNA), dunia energi, dan penjelajahan angkasa. Dan, waktu aku ke tempat ini tahun lalu, ada pameran khusus tentang pengaruh peradaban (termasuk sains dan teknologi) Islam ke dalam dunia masa kini. Yang lama aku amati memang mesin diferensial. Di abad ke-19, Babbage berencana membuat mesin mekanis untuk melakukan komputasi numerik. Mesin ini belum selesai, karena ide Babbage sendiri selalu berubah, dan pemerintah tak mudah mengucurkan dana. Umumnya pengamat sejarah menyatakan bahwa teknologi masa itu belum mampu menyiapkan ribuan perangkat mekanis renik dengan presisi setinggi yang dibutuhkan Babbage. Namun di tahun 1990an museum mencoba menyusun mesin Babbage, dan ternyata mesin dengan 4000 komponen dengan berat 2.5 ton ini benar2 bekerja. Cara kerjanya? Dengan mengelaborasi deret. Misalnya, menghitung eksponensial dengan deret Taylor; namun tidak dihitung semua dari nilai inisial, melainkan dengan menghitung selisih dari selisih secara terus menerus. Ini asal nama mesin itu.</p>
<p><img class="size-full wp-image-3366 aligncenter" title="Babbage" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Babbage.jpg" alt="" width="500" height="281" /></p>
<p><strong>London: Natural History Museum</strong>. Berada di sebelah Science Museum. Tapi waktu itu aku terlalu sore keluar dari Science Museum, jadi Natural History Museum sudah tutup :). Padahal ini konon museum terbaik yang memaparkan dunia hayati, termasuk evolusi dari teori evolusi, dari teori yang sekedar memaparkan hipotesis Darwin, hingga penguatannya oleh eksplorasi atas DNA dan seterusnya.</p>
<p><strong>Canada: Kutub Utara Magnetik</strong>. Haha, aku belum pernah ke sini. Tapi berminat sih. Posisinya di N 82° 42&#8242; 0&#8243; W 114° 24&#8242; 0&#8243;. Ada yang mau ajak aku ke sana?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2011/07/10/the-geek-atlas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Crowdsource Bookshop</title>
		<link>http://kun.co.ro/2011/05/17/crowdsource-bookshop/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2011/05/17/crowdsource-bookshop/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2011 06:57:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3328</guid>
		<description><![CDATA[Akhir minggu lalu, kami mencoba melakukan fund-raising, mengumpulkan dana untuk biaya pengobatan Hamdani, seorang rekan yang menderita kanker getah bening. Hamdani saat ini dirawat di Gedung Teratai, RS Dharmais. Biarpun ada keringanan biaya, namun biaya untuk penyembuhan liver dan ginjal yang mulai rusak (harus dipulihkan sebelum kemoteapi), biaya beberapa siklus kemoterapi, dan biaya pemulihan, akan cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Akhir minggu lalu, kami mencoba melakukan fund-raising, mengumpulkan dana untuk biaya pengobatan Hamdani, seorang rekan yang menderita kanker getah bening. <a href="http://tlk.lv/24a">Hamdani saat ini dirawat di Gedung Teratai, RS Dharmais</a>. Biarpun ada keringanan biaya, namun biaya untuk penyembuhan liver dan ginjal yang mulai rusak (harus dipulihkan sebelum kemoteapi), biaya beberapa siklus kemoterapi, dan biaya pemulihan, akan cukup besar; tak mungkin tertangani Dani yang kini justru diberhentikan oleh lembaga pendidikan tempat ia bekerja.</p>
<p>Fund-raising kami tak bisa dibilang berhasil baik. Maka di hari Senin kemarin, yang dipaksakan cuti oleh menteri entah apa, kami memanfaatkan waktu yang sempit untuk merancang sebuah online bookshop, tempat kami dapat mulai menjual buku2 baru atau bekas sebagai sarana penggalangan dana lebih lanjut. Membuat site cukup mudah. Engine wordpress, domain murah, hosting numpang, plugin eshop, dan desain visual. Lalu integrasi dan test. Maka tengah malam tadi, meluncurlah Online Bookshop kami: <a href="http://darrowby.co">Darrowby.co</a>.</p>
<p><a href="http://darrowby.co"><img class="aligncenter" title="Darrowby.co" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/05/DarrowbySite.png" alt="" width="500" height="344" /></a></p>
<p>Darrowby, <a href="/2010/05/06/darrowby/">tentu diambil dari nama kota rekaan James Herriot</a>, dalam buku Seandainya Mereka Bisa Bicara (If Only They Could Talk). Buat aku, Darrowby identik dengan buku, tapi juga dengan penyembuhan, dengan kesetiakawanan yang tulus, dengan simpati dibalik sikap pura2 acuh, dengan optimisme dan semangat tak kunjung padam, dengan ketidakmampuan untuk patah semangat menghadapi tantangan.</p>
<p>Buku2 diambil dari koleksiku dulu. Keren-keren, tentu saja :). Dan pertama2 akan diambil dari yang kira2 akan menghasilkan rupiah terbesar. Memang buku2 ini tak dijual murah, karena kita sedang mengumpulkan dana. 100% hasilnya akan diserahkan untuk pengobatan Hamdani. Tapi kualitas bukunya takkan mengecewakan pembeli juga. Setelah test hari ini (baru dengan beberapa buku), kami akan terus menambahkan buku-buku berbagai bahasa dan berbagai level harga ke Darrowby.</p>
<p>Mas Harry Sufehmi langsung menawarkan buku2 koleksinya juga. Bukan surprise, buat mereka yang mengenal sosok Mas Harry :). Sekaligus Mas Harry juga melontarkan istilah ini: crowdsource bookstore :). Community-based bookstore, haha. OK, ini memang menarik. Moga akan makin banyak yang mau membeli buku, menyumbang buku, dan lain-lain. Kalau belum ada buku yang cocok untuk dibeli, kami juga bisa mengirimkan  nomor rekening agar kita tetap dapat menyumbang tanpa membeli.</p>
<p>Allâh tak akan mengubah keadaanmu, kecuali kamu menggerakkan diri untuk melakukan perubahan.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2011/05/17/crowdsource-bookshop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Para Influencer</title>
		<link>http://kun.co.ro/2011/04/10/para-influencer/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2011/04/10/para-influencer/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2011 17:10:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3319</guid>
		<description><![CDATA[Yang menarik dari Kindle adalah bahwa setiap saat kita meminati buku baru (pun baru terbit), kita bisa langsung beli, dan langsung baca di piranti yang kini jauh terasa sebagai buku ini (alih2 perangkat elektronik). Memang membahayakan sih, dari sisi kemudahan belanja :). Mulai agak mengganggu, bahwa setiap saat ide dan kepenasaranan (curiosity) kita melompat, kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yang menarik dari Kindle adalah bahwa setiap saat kita meminati buku baru (pun baru terbit), kita bisa langsung beli, dan langsung baca di piranti yang kini jauh terasa sebagai buku ini (alih2 perangkat elektronik). Memang membahayakan sih, dari sisi kemudahan belanja :). Mulai agak mengganggu, bahwa setiap saat ide dan kepenasaranan (curiosity) kita melompat, kita mengambil satu buku lagi :). Weekend ini aku sebenarnya hampir menamatkan &#8220;<a href="http://tlk.lv/22d">Quantum Man</a>&#8221; dari Lawrence Krauss. Buku ini berdongeng tentang Richard Feynman. Alih2 menceritakan sisi manusiawi Feynman yang sudah sangat banyak ditulis sana sini, buku ini lebih berfokus ke sisi keilmuwanan Feynman, biarpun bentuknya tetap dongeng buat kaum awam. Di account Facebook-ku bisa diintip beberapa cuplikan buku itu.</p>
<p>Sayangnya, Amazon mendadak mengiming2i buku menarik lagi: <a href="http://tlk.lv/22e">Everything is Obvious, Once You Know The Answer</a>. Penulisnya Duncan J Watts, seorang fisikawan yang melakukan riset di engineering, dan akhirnya berprofesi sebagai periset sosiologi. Dia mengawali bukunya dengan berkisah tentang beberapa kasus di mana orang2 penting, seperti penulis John Gribbin, serta senator AS, menganggap riset sosiologi bukan hal yang penting, misalnya sepenting riset fisika. Riset di bidang fisika tentu amat penting. Namun agak lucu kalau menganggap riset sosial itu tak penting dengan alasan &#8212; menurut mereka &#8212; bahwa hasilnya bisa ditebak dengan logika biasa, tanpa harus melakukan riset yang luas. Di dekade kedua abad ke-21 ini, dengan analisis yang cukup banyak mengenai jejaring sosial, kita mulai tahu bahwa banyak hal yang lebih menarik di riset ilmu sosial, selain sekedar memainkan urusan game theory yang banyak berfokus di urusan insentif, motivasi, dan nilai2. Tapi banyak yang tetap menganggap, penelitian fisika memberikan hasil yang luar biasa, dan menembus batas pikiran sederhana (common sense), sementara ilmu sosial tidak menghasilkan hal2 di luar itu. Masalahnya memang, kalau ilmu sosial itu sederhana, mengapa masalah sosial tak mudah dipecahkan? Soalnya bukan pada resource yang akan terlalu besar untuk memecahkan masalah itu, tetapi benar2 pada ketidaktrampilan kita memahami manusia, sebagai individu maupun masyarakat :D.</p>
<p><img class="size-full wp-image-3320 aligncenter" title="Command-Option" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/04/Command-Option.jpg" alt="" width="500" height="300" /></p>
<p>Penulis lalu memberikan contoh2 kecil. Paul Lazarsfeld pernah membuat riset pada para prajurit di Perang Dunia II. Ia memaparkan beberapa hasil. Misalnya, penemuan nomor 2: &#8220;Pemuda dari pedesaan umumnya memiliki semangat lebih baik dalam ketentaraan daripada pemuda perkotaan.&#8221; Reaksi kita? Tentu saja. Itu masuk akal. Pemuda desa lebih terbiasa dengan lingkungan yang keras, kerja keras, gotong royong, dll. Tapi lalu Lazarfeld mengatakan, &#8220;Ups. salah baca. Maksudnya, pemuda dari perkotaan umumnya memiliki semangat lebih baik.&#8221; Reaksi kita? Haha. OK. Tetap bisa dipahami. Pemuda kota lebih biasa hidup bersesakan, kerja dengan birokrasi panjang yang tidak pasti, penuh tata cara yang mudah berubah, dll. Semuanya masuk akal. Tapi, jika kedua hasil yang berlawanan itu masuk akal, maka ada yang salah dengan urusan &#8220;masuk akal&#8221; itu: itu masuk akal hanya setelah dijelaskan hasilnya. Yang kita sebut sebagai akal sehat, common sense, sebenarnya tak mampu menyusun prediksi; selain hanya menyusun alasan atas sesuatu yang diketahui hasilnya.</p>
<p>Atau, mengikuti Stephen Hawking di buku satunya, <a href="http://tlk.lv/22f">The Grand Design</a>, akal sehat hanyalah kesimpulan dari kumpulan pengalaman pribadi yang terjadi pada masa hidup yang pendek, dan bukan kebijakan yang diperoleh sebagai hasil penelitian yang nyata atas perilaku semesta. Tapi, hanya berbekal akal sehat dari pengalaman singkat ini, banyak keputusan2 diambil. Para politisi yang mencoba mengatasi masalah kemiskinan merasa telah paham mengapa manusia bisa miskin. Penyusun marketing plan menyusun kampanye dengan anggapan bahwa mereka tahu apa yang diinginkan target pasar, dan bagaimana membuat target itu tertarik lagi. Penyusun kebijakan atas kualitas pendidikan,  kesehatan, dll, merasa paham atas efek skema insentif. Dan dalam skala lebih kecil, 90% orang Amerika merasa berkecakapan di atas rata2 dalam mengemudi, 25% merasa masuk 1% orang terbaik dalam kepemimpinan, dll, dll.</p>
<p>Watts pun mulai menceritakan sebuah riset. Risetnya mengharuskan mahasiswa meminta tempat duduk di kereta bawah tanah di New York :). Rinciannya agak panjang. Tapi dari sini, kita menangkap kompleksitas hubungan antar manusia, kekuatan (atau keterbatasan kekuatan) autoritas, kekuatan konsensus cair yang bahkan sulit ditembus oleh para peneliti, dan hal2 menarik lain. Lalu dibahaslah soal pengambilan keputusan pada manusia, yang selalu berujung pada soal nilai2 personal (dan sosial). Dan tentu soal konteks. Contoh kasus: dua orang yang tak saling kenal diberi $100. Salah satu (P1) harus membagi dua (tak harus sama besar), dan satunya (P2) memutuskan apakah ia akan menyetujui pembagian itu. Jika P2 tak setuju, uang $100 ditarik lagi, dan keduanya tak memperoleh apa2. Menarik. Sebagian besar P1 membagi sama rata: 50:50, namun tentu banyak juga yang mengambil kesempatan dengan mengambil lebih, misalnya 70:30. Asumsinya P2 akan lebih baik menerima 30 daripada tak menerima apa2. Tapi ada yang sedemikian bakhilnya untuk mengajukan 90:10. Umumnya pembagian yang amat tidak adil ditolak P2. Ahli ekonomi tradisional (yang berfokus pada insentif) akan terkejut mendapati bahwa P2 memilih tak memperoleh apa2 daripada &#8220;dimanfaatkan&#8221; :). Tetapi memang keadilan adalah nilai universal yang dipuja banyak orang, walau dengan pengorbanan uang. Level ketidakadilan di mana P2 masih mau menerima amat berbeda dari satu etnik ke etnik lainnya. Suku tertentu di Papua malah tak mau menerima pembagian 50:50 &#8212; P2 hanya mau nilai yang lebih daripada P1. Unik. Tak universal. Nilai2 antar etnik, antar kelompok, antar budaya, begitu beragamnya, dan cukup banyak yang saling bertentangan; dengan masing2 menganggap kumpulan nilai2 lainnya gila dan tak masuk akal. Tak heran jika dalam mensikapi yang terjadi di budaya lain, kita sering cuma bilang: bangsa sinting &#8212; semua logikanya terbalik. Pandangan yang tampak logis, biarpun cuma menunjukkan bahwa kita sama sekali tak memiliki kearifan.</p>
<p>Kesalahan pertama dalam meramalkan (dan mengubah) perilaku adalah bahwa kita mengira manusia digerakkan faktor2 seperti insentif, motivasi, dan nilai2. Sementara, banyak hal2 lain yang justru sengaja atau tidak turut mempengaruhi keputusan akhir: cara berkomunikasi (bentuk komunikasi, pilihan kata, latar musik, bentuk font, warna), atau hal2 lain yang cukup banyak. Kedua, pemodelan kita atas perilaku kolektif lebih buruk lagi. Ada berbagai warna interaksi internal di dalam kelompok yang masing2 pagarnya tak mesti tegas: alur kuasa dan pengetahuan sungguh cair, dan tak mudah diramalkan hanya dengan melihat elemen2nya. Kita cenderung menyederhanakan dengan menganggap kelompok sebagai individu, bernama crowd, market, karyawan, dll. Atau memilih representasi tak jelas seperti pemimpin, influencer, dll. Baru akhir2 ini dipahami bahwa penyederhanaan seperti itu bukan saja kurang tepat, tapi sungguh2 meleset.</p>
<p>Sungguh bacaan menarik di sebuah weekend. Untuk jadi lebih bijak di minggu-minggu ke depan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2011/04/10/para-influencer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Connected</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/09/15/connected/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/09/15/connected/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Sep 2010 18:52:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Indigo]]></category>
		<category><![CDATA[Medsos]]></category>
		<category><![CDATA[Socmed]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=3059</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai seorang pemula, aku memang melakukan banyak kesalahan di Twitter. Salah satunya adalah sering lupa melakukan follow-back. Sambil mengikuti kuliah bersama Goenawan Mohamad dan Roby Muhamad di Komunitas Salihara, aku coba cari account Twitter Oom/Mas/Aa Roby. Tweetnya semenarik kuliahnya. Ternyata beliau sudah follow aku, entah dari tahun berapa, dan aku belum follow back. Secara professional, ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai seorang pemula, aku memang melakukan banyak kesalahan di Twitter. Salah satunya adalah sering lupa melakukan follow-back. Sambil mengikuti kuliah bersama <a href="http://goenawanmohamad.com">Goenawan Mohamad</a> dan <a href="http://robymuhamad.com/">Roby Muhamad</a> di <a href="http://salihara.org/">Komunitas Salihara</a>, aku coba cari account Twitter Oom/Mas/Aa Roby. Tweetnya semenarik kuliahnya. Ternyata beliau sudah follow aku, entah dari tahun berapa, dan aku belum follow back. Secara professional, ini durhaka :). Jadi buru2 aku follow account <a href="http://twitter.com/robymuhamad">@robymuhamad</a>.</p>
<p>Roby seorang fisikawan yang memperdalam studi ke sosiologi. Aku tak menyebut ini “beralih” atau “tersesat” :). Semesta memiliki kompleksitas yang berkembang. Matematika mewujud (melalui string atau bukan) ke fisika, lalu dalam jumlah besar berinteraksi dan membentuk hukum turunan yang baru (kuantum, kalor, kosmologi), hingga evolusi yang memunculkan makhluk hidup, manusia, masyarakat, budaya, dst. Tentu kita ingat kekaguman Dawkins pada replikasi meme yang serupa seplikasi gene: apa pun obyeknya, itu sekedar matematika replikasi. Itu satu hukum yang berentet saja. Nah, yang diperdalam Roby, a.l. adalah jejaring sosial. Mungkin Roby adalah amat sedikit orang Indonesia yang melakukan research secara professional dan akademis untuk memahami jejaring sosial.</p>
<p>Di Salihara, Roby mulai bercerita tentang bagaimana influence mengalir di masyarakat. Ia tak mengawali dengan 2.0, Twitter, dll seperti presenter hobbyist seperti kita. Ia memulai dengan kasus semacam kesurupan massal: bagaimana di Afrika sejumlah besar murid sebuah sekolah bisa tertawa bersama, tanpa bisa dihentikan, selama beberapa minggu. Kacau, sekolah dibubarkan, murid dipulangkan. Pulangnya murid2 itu menimbulkan masalah baru. Di kota2 lain tempat murid2 itu dipulangkan, terjadi penularan kembali, sehingga wabah tawa justru menyebar ke banyak kota. Meme yang menakutkan :).</p>
<p><img title="Connected" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/09/Connected.png" alt="" width="250" height="299" align="right" />Roby sempat menyebut bahwa soal2 ini diulas dalam buku berjudul Connected. Judul yang tak asing. Aku sendiri punya satu buku berjudul Connected, tulisan Daniel Altman. <a href="http://www.amazon.co.uk/Connected-24-Hours-Global-Economy/dp/1400104297">Connected 24 Hours in the Global Economy</a>. Tapi pasti ini buku yang berbeda. Di rumah, aku langsung menjelajah ke Amazon.co.uk, dan menemukan buku <a href="http://www.amazon.co.uk/Connected-Amazing-Power-Social-Networks/dp/000734743X">Connected</a> tulisan Nicholas Christakis &amp; James Fowler. Subjudulnya menggambarkan soal jejaring sosial. Bahkan buku ini punya account Twitter tersendiri: <a href="http://twitter.com/connected_book">@connected_book</a>.</p>
<p>Jejaring sosial, kata buku ini, adalah kumpulan manusia; tetapi yang lebih penting adalah bahwa ia memiliki koneksi, keterhubungan, yang membuat jejaring lebih berarti daripada sekedar kumpulan individu. Jejaring jadi mampu melakukan hal-hal yang tak mampu dilakukan orang-orang itu secara tersendiri.</p>
<p>Berikut disebutkan beberapa hal menarik dalam jejaring:</p>
<ol>
<li>Kita membentung jejaring kita</li>
<li>Jejaring membentuk kita</li>
<li>Teman-teman mempengaruhi kita</li>
<li>Teman-teman dari teman-teman dari teman-teman kita mempengaruhi kita</li>
<li>Jejaring memiliki kehidupan tersendiri</li>
<li>Antar setiap manusia, terdapat hanya 6 derajat pemisahan</li>
<li>Namun antar teman, hanya terdapat 3 level pertemanan yang menimbulkan pengaruh.</li>
</ol>
<p>Khusus soal 6 derajat pemisahan, disebutkan bahwa hal ini telah diteliti di US beberapa dekade yang lalu. Namun, menghadapi kecurigaan bahwa angka sekecil 6 hanya dimungkinkan oleh kedekatan geografis, etnik, budaya, dll; maka sekelompok ilmuwan melakukan penelitian dengan jangkauan internasional. Salah satu peneliti ini adalah Roby sendiri.</p>
<p>Lalu sang buku meneruskan bagaimana jejaring mempengaruhi kita dalam menentukan kebahagiaan, mencari pasangan hidup, merawat kesehatan, hingga berjuang demi demokrasi. Beberapa hal yang juga diulas dalam buku ini:</p>
<ul>
<li>Emosi menyebar dari satu manusia ke manusia lain melalui ekspresi wajah. (Emosi pada A -&gt; Ekspresi pada A -&gt; Ekspresi pada B -&gt; Emosi pada B)</li>
<li>Kita akan cenderung berbahagia, tercukupi, dan merasa positif, jika dikelilingi orang yang berbahagia.</li>
<li>Kesepian adalah sebab dan akibat dari keterputusan hubungan</li>
<li>Jika kawan dari kawan dari kawan kita bertambah berat badannya, kita cenderung akan menambah berat badan, walaupun kita tak mengenal orang (atau orang-orang) itu.</li>
<li>Keterhubungan bisa berpengaruh positif (menularkan kebahagiaan) atau negatif (menularkan keinginan bunuh diri)</li>
</ul>
<p>Aku belum menyelesaikan buku ini juga. Dibaca bersamaan dengan buku2 lain, sebagai bagian dari keinginan untuk terus mempelajari fitrah manusia: bagaimana mereka diciptakan, bagaimana mereka berproses, bagaimana mereka dapat mencapai yang terbaik untuk masa depannya. Twitter terlalu keren untuk digunakan becanda tanpa tujuan.</p>
<p>Oh ya, buku ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia: <a href="http://tlk.lv/1rr">http://tlk.lv/1rr</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/09/15/connected/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Darrowby</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/05/06/darrowby/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/05/06/darrowby/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 11:19:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Herriot]]></category>
		<category><![CDATA[Thirsk]]></category>
		<category><![CDATA[UK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/2010/05/06/darrowby/</guid>
		<description><![CDATA[Entah mengapa bis itu mendadak terguncang di jalan rata itu. Aku mendapati diriku terjaga di antara bukit-bukit Yorkshire Dales yang nyaris seluruhnya berwarna variasi hijau dari padang rumput yang luas dan pohon-pohon musim semi. Jalan berkelok-kelok di antara ladang dan peternakan dengan kuda, lembu, dan domba. Sinar matahari masih berusaha menembus awan kelabu saat bis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Entah mengapa bis itu mendadak terguncang di jalan rata itu. Aku mendapati diriku terjaga di antara bukit-bukit Yorkshire Dales yang nyaris seluruhnya berwarna variasi hijau dari padang rumput yang luas dan pohon-pohon musim semi. Jalan berkelok-kelok di antara ladang dan peternakan dengan kuda, lembu, dan domba. Sinar matahari masih berusaha menembus awan kelabu saat bis memasuki sebuah kota kecil. Tak sampai semenit, bis sudah berhenti di samping menara lonceng kecil (<em>townclock</em>). Lahan luas <em>marketplace</em> berfungsi jadi lahan parkir. Di sampingnya toko-toko berjajar berwarna-warni. Toko koperasi menarik perhatianku dan membuatku tersenyum tak sengaja. Kami menapak turun, dan menjejakkan kaki di Darrowby.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-148 aligncenter" title="Thirsk2" src="http://kuncoro.com/wp-content/uploads/2010/05/Thirsk2.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Blog ini amat sering menyebut kota ini: Thirsk, di Yorkshire. Seorang dokter hewan yang juga penulis handal, bernama samaran James Herriot, memperkenalkan kota dalam buku-bukunya ini ke seluruh dunia sebagai Darrowby. Adalah buku perdananya, Seandainya Mereka Bisa Bicara, yang membawaku ke kota ini. Seorang fotografer dari The Northern Echo, Richard, menungguku di bawah lonceng, dan mengambil fotoku bersama buku kenangan itu. Lalu kami menapaktilasi langkah Herriot mendatangi rumah Skeldale House. Richard meninggalkan kami di sana.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-149 aligncenter" title="Thirsk3" src="http://kuncoro.com/wp-content/uploads/2010/05/Thirsk3.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Tak seperti Herriot, aku tak perlu menekan bel dan mendengarkan lima ekor anjing menyalak keras. Margaret sudah di depan rumah dan menyambut ramah. Kami becanda dengan renyah dan asyiknya, sebelum akhirnya ia menyuruh kami membeli tiket di rumah sebelah. &#8220;Follow me, Luv,&#8221; ajaknya. Lalu dengan aksen Yorkshirenya ia menceritakan apa yang terjadi setelah buku2 itu. Anak-anak James masih di Thirsk: Jim jadi dokter hewan dan Rosie jadi dokter. Rumah itu dijadikan museum sejak 1995. Juga Margaret menanyai bagaimana orang dari ujung dunia yang lain ini bisa menemukan Skeldale House. Haha, keajaiban Internet.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-150 aligncenter" title="Thirsk14" src="http://kuncoro.com/wp-content/uploads/2010/05/Thirsk14.jpg" alt="" width="375" height="500" /></p>
<p>Akhirnya aku diperkenankan menekan bel. Rrrrrring. Tetap tak ada anjing menyalak. Kami harus membuka pintu sendiri. Di dalam rumah, ruang-ruang dipelihara seperti aslinya: ruang makan resmi, ruang keluarga, ruang obat2an, ruang operasi, ruang sarapan, dan gang ke ruang-ruang di belakang. Terbayang Tristan mengendarai sepeda di gang kecil itu. Semuanya tampak seperti mimpi yang mewujud keluar dari buku yang kubaca dan kubaca lagi bertahun-tahun. Tak ada montir tua menunggu di belakang. Tapi aku boleh mengendarai Austin tua milik James, asal tak melebihi kecepatan 0 mph.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-151 aligncenter" title="Thirsk5" src="http://kuncoro.com/wp-content/uploads/2010/05/Thirsk5.jpg" alt="" width="375" height="500" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-152   aligncenter" title="Thirsk7" src="http://kuncoro.com/wp-content/uploads/2010/05/Thirsk7.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Di bagian belakang, sebuah ruangan disiapkan untuk mengenal James lebih pribadi. Ini sering aku blog juga. Nama asli James Herriot adalah James Alfred Wight, dipanggil Alf, lahir di Sunderland tapi tumbuh di Glasgow. Ortunya memilih Glasgow untuk membangun keluarga dan mendidik anak dengan budaya yang baik. Alf menyukai musik klasik dan gemar menulis buku harian. Kagum dan terpukau aku membaca buku harian Alf muda yang diisi setiap hari. Namun seorang profesor datang ke sekolahnya dan membuatnya mendadak ingin mendalami sains dan menjadi dokter hewan. Ia berkuliah di Glasgow, tempat para mahasiswa tak serius berkuliah. Tapi akhirnya ia lulus, sempat bekerja di Inggris Utara, lalu pindah ke Yorkshire, pada seorang dokter hewan bernama Donald Sinclair di kota Thirsk. Yorkshire, lingkungannya, penduduknya, tantangannya, membuat Alf betah di kota ini, hingga menikah dan membesarkan anak2nya. Serial buku Herriot dijamin membuat kita memahami mengapa ia tak ingin pergi dari sini.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-154 aligncenter" title="Thirsk8" src="http://kuncoro.com/wp-content/uploads/2010/05/Thirsk8.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Ia menikmati hidupnya. Masih menikmati musik klasik, menulis buku harian, mendidik anak-anaknya. Tapi kerja keras tak selalu menghasilkan uang. Tabungannya hanya £20 saja. Ia jadi punya ide mengemas buku hariannya jadi buku. Joan, istrinya, berkomentar: tak ada orang yang mulai menulis pada umur segini. Tapi ia menulis, dan setelah beberapa tahun ditolak, akhirnya bukunya terbit dan sukses di kedua sisi Atlantik, lalu diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-153 aligncenter" title="Thirsk6" src="http://kuncoro.com/wp-content/uploads/2010/05/Thirsk6.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone size-full wp-image-160" title="Thirsk13" src="http://kuncoro.com/wp-content/uploads/2010/05/Thirsk13.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Menembus ke ruang sebelah, yang sebenarnya sudah bagian dari rumah tetangga, sebuah pesawat telefon hitam berdering. Serasa mendengar hardikan Donald a.k.a. Siegfried, &#8220;Pick up the phone!&#8221; aku mengangkat telefon itu. Langsung terdengar suara petani di ujung sana, menyerocos dengan dialek entah apa, mengeluhkan kondisi ternaknya, dan langsung membanting telefonnya. Kuletakkan telefon perlahan.  Membeli topi biru, kami berjalan ke sekitar Thirsk. Marketplace dikelilingi toko yang ramai: toko-toko buku, kafe, toko manisan (hey, mungkin ini tempat si kucing Alfred yang harus dioperasi mengeluarkan bulu lebatnya dari dalam lambung itu), bank-bank. Terus ke luar, sebuah jembatan membentang di atas sungai. Sungai Darrow, kata James di bukunya. Di baliknya: rumah-rumah dari batu bata merah; dan diseberangnya: kembali lembah-lembah dan bukit-bukit dengan hewan-hewan ternak yang dilepas di atas padang rumput luas.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-159 aligncenter" title="Thirsk10" src="http://kuncoro.com/wp-content/uploads/2010/05/Thirsk10.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-155 aligncenter" title="Thirsk9" src="http://kuncoro.com/wp-content/uploads/2010/05/Thirsk9.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Hidup tak tampak rumit di sini. Sekilas aku jadi membayangkan spiral besar yang sedang kita bangun di Indonesia, menumbuhkan kreasi digital, meningkatkan kebutuhan akan akses digital, menjadikan itu alasan untuk berinvestasi membesarkan dan menganekaragamkan pipa-pipa digital, lalu mengisinya dengan menumbuhkan kreasi digital lagi. Sungguh hidup yang jauh berbeda. Tapi seperti juga James, aku memilih untuk menjalani setiap bentuk dan variasi kehidupan, menikmatinya setiap keunikannya dengan rasa sayang, menjelajahi setiap rasa penasaran kita, dan terus rajin menulis ;).  &#8220;Jump in,&#8221; teriak sopir bus ke arah Liverpool itu. Kami lompat masuk. Kembali ke York.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/05/06/darrowby/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Yang Mempengaruhi Hidupmu</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/04/23/buku-yang-mempengaruhi-hidupmu/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/04/23/buku-yang-mempengaruhi-hidupmu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 08:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2928</guid>
		<description><![CDATA[Pun pada saat semua perangkat elektronik dimatikan, dorongan untuk menulis blog sering tak terhentikan. Maka buku kecil, amplop bekas, dan sering juga kantong penampung (maaf) muntah aku jadikan sasaran menulis. Tulisan di bawah ditulis bukan dalam rangka hari buku, tapi dalam rangka mengisi waktu di angkasa antara Kualalumpur dan Jakarta. Eyjafjallajökull menunda kunjunganku ke Thirsk. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pun pada saat semua perangkat elektronik dimatikan, dorongan untuk menulis blog sering tak terhentikan. Maka buku kecil, amplop bekas, dan sering juga kantong penampung (maaf) muntah aku jadikan sasaran menulis. Tulisan di bawah ditulis bukan dalam rangka hari buku, tapi dalam rangka mengisi waktu di angkasa antara Kualalumpur dan Jakarta.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="size-full wp-image-2932 aligncenter" title="Airblog-01" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/04/Airblog-01.jpg" alt="" width="410" height="308" /></em></p>
<p><a href="http://kuncoro.com/2010/04/eyjafjallajokull/">Eyjafjallajökull menunda kunjunganku ke Thirsk</a>. Aku khawatir Dan Howlett dengan lugunya masih menungguiku di bawah lonceng di tengah pasar Thirsk, berharap aku datang dengan coach pukul 10.00 dari York. Dia mewantiwantiku membawa buku James Herriot &#8220;Seandainya Mereka Bisa Bicara&#8221; terjemahan Indonesia yang sudah lusuh sejak aku kecil itu. Aku beruntung bahwa buku itu termasuk yang terselamatkan waktu Papap memindahkan buku2 dari Malang ke Jakarta tahun 2000 lalu<a href="http://kun.co.ro/2000/07/"> (dan jadi kalimat pertama di entry pertama blog ini</a>). Nanti aku cerita lebih jauh tentang Darrowby lagi setelah aku menjejakkan kaki di sana. Sementara itu, pikiranku melayang ke buku2 lain, dari Papap, yang aku bacai juga waktu kecil.</p>
<p>Ada buku terjemahan berjudul &#8220;Buku Buku yang Mengubah Dunia&#8221; dengan cover coklat. Di dalamnya ada buku-buku nonfiksi yang ditulis setelah abad pertengahan. Ada Principia Mathematica, Relativity, Das Kapital, Mein Kampf, dll; tetapi tiap judulnya diterjemahkan ke bahasa Indonesia: Sang Pangeran, Modal, Perjuanganku, dll. Sekian belas tahun kemudian, aku tak lagi ingat buku apa yang disebutkan di sana, dan apa yang tidak. Salah satu alasan adalah bahwa buku ini memilih dan menerjemahkan hanya sebagian bab (sebagian buku) dari buku aslinya. Jadi ada buku yang tak masuk di bagian terjemahan. Tapi tercakup dalam kata pengantar. Jadi aku tak ingat apakah beberapa buku ada dibahas di sana, atau cuma disebut di kata pengantar. Dari buku ajaib itu, aku mulai mengenal cara2 tokoh2 dunia hidup, berpikir, dan mengembangkan gagasan: Newton, Einstein, Marx, Macchiaveli, Darwin, Freud, Hitler. Dari buku itu aku belajar bahwa komunisme bukanlah ajaran anti tuhan semata, bahwa Macchiaveli lebih bergaya satiris daripada macchiavelist seperti Marx menolak digolongkan sebagai marxist, bahwa Einstein sibuk dengan &#8220;teori medan jang dipersatukan&#8221; sampai akhir hayatnya. Baru sekian tahun kemudian aku mulai membacai teks2 asli dari penulis2 itu. Bukan saja buku yang mengubah dunia, tapi juga buku yang membuatku mulai berpikir tentang dunia selalu dari berbagai sudut pandang yang secara lincah berubah.</p>
<p>Di luar buku2 itu, aku jadi membayangkan buku2 apa yang mempengaruhi, menginspirasi, dan memberi ide2 kepada kita, sampai mungkin juga menentukan nilai2 yang kita anut dan kita jalani dalam hidup kita. Ini beberapa contoh buku2 yang saat ini aku pikir telah banyak mempengaruhi aku (aku pilih dari buku fiksi dan non fiksi yang diterbitkan di abad-20 ke atas):</p>
<ul>
<li><strong>If Only They Could Talk</strong>, James Herriot</li>
<li><strong>Catatan Harian Seorang Demonstran</strong>, Soe Hok Gie</li>
<li><strong>Le Petit Prince</strong>, Antoine de Saint-Exupéry</li>
<li><strong>A Brief History of Time</strong>, Stephen Hawking</li>
<li><strong>The Third Force: The Psychology of Abraham Maslow</strong>, Frank Goble</li>
<li><strong>Menjelajah Cakrawala</strong>, Soedjatmoko</li>
<li><strong>The C Programming Language</strong>, Brian Kernighan &amp; Dennis Ritchie</li>
<li><strong>The Myth of Sisyphus</strong>, Albert Camus</li>
<li><strong>I am a Strange Loop</strong>, Douglas Hofstadter</li>
<li><strong>Unbearable Lightness of Being</strong>, Milan Kundera</li>
</ul>
<p>Pasti masih banyak. Dan masih banyak yang mungkin lebih berpengaruh daripada buku2 di atas. Tapi baru ini yang terpikirkan, di angkasa biru, dengan pikiran masih beralih antara Darrowby dan deretan trolley di KL LCCT tempat para turis telantar dan harus menahan malu menukar2 voucher makan dengan uang entah untuk apa.</p>
<p>Hey, buat kamu sendiri, buku-buku apa yang kamu anggap paling berpengaruh dalam hidupmu? Tuliskan buku-buku fiksi atau nonfiksi, yang ditulis manusia di abad XX ke atas, dan mengapa kamu anggap itu berpengaruh dalam hidupmu.</p>
<p><em>Tulisan di kertas kusut itu berakhir, dan aku tak sempat mendigitalkannya. Tapi karena hari ini adalah Hari Buku, maka aku sempatkan mengetik cepat, dan mempublishnya di blogku</em>. <strong>Selamat Hari Buku!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/04/23/buku-yang-mempengaruhi-hidupmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Piring</title>
		<link>http://kun.co.ro/2010/04/04/cuci-piring/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2010/04/04/cuci-piring/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 16:24:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Herriot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2888</guid>
		<description><![CDATA[Cukup lama tak menyentuh James Herriot, kali ini aku mencuplik satu cerita yang rada berbeda. Tak melibatkan kedokteran hewan. Dan ini diambil dari buku All Creatures Great and Small. Buku ini adalah versi Amerika, yaitu versi bundling, dari dua buku pertama Herriot: If Only They Could Talk dan It Shouldn&#8217;t Happen to a Vet. Seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cukup lama tak menyentuh James Herriot, kali ini aku mencuplik satu cerita yang rada berbeda. Tak melibatkan kedokteran hewan. Dan ini diambil dari buku <strong>All Creatures Great and Small</strong>. Buku ini adalah versi Amerika, yaitu versi bundling, dari dua buku pertama Herriot: <strong>If Only They Could Talk</strong> dan <strong>It Shouldn&#8217;t Happen to a Vet</strong>. Seperti buku Seandainya Mereka Bisa Bicara (If Only They Could Talk) yang jadi bersejarah buat aku &#8212; dan buat banyak anak2 Indonesia masa itu; buku All Creatures Great and Small ini juga bersejarah. Ini adalah buku yang pertama kali aku beli dari Amazon. Waktu aku sedang menunggu buku ini datang dari gudang Amazon (zaman itu memakan waktu berminggu2), aku dipanggil British Council karena dinyatakan mendapatkan Chevening Award. Tapi, seperti siswa Chevening lainnya, aku harus ikut training Bahasa Inggris dulu, untuk memperbaiki dan terutama mempercepat respons kami memahami bahasa Inggris. Buku ini tiba tepat waktu. Aku baca setiap malam. Bahasa Inggrisnya yang dirusak pengejaan gaya York dan gaya lain (termasuk konon Scottish dan Irish English) membuat aku makin tertantang untuk cepat memahami kalimat2 unik di dalamnya.</p>
<p>Balik ke buku. Halaman 277. Herriot sedang kasmaran, haha. Seorang putri petani, Helen Alderson, terus menghantui pikirannya. Sayangnya ia tak punya cukup alasan untuk menemuinya. Pak Alderson peternak yang cerdas, dan ternaknya jarang sakit. Memang salah satu sapinya pernah harus dijahit kakinya. Tapi perlu menunggu sampai akhir bulan sebelum plester penutup jahitan bisa dilepas. Dan penantian itu kandas saat Pak Alderson menelepon dan menyebut sudah melepas plester itu sendiri &#8212; hasil operasinya bagus. Untuk pertama kali James memaki kecerdasan seseorang.</p>
<p>Lalu James bergabung ke Music Society di Darrowby. Helen tampak beberapa kali ikut pertemuan di sana. Namun beberapa minggu, James hanya berani melihat Helen dari kejauhan, dikerumuni sahabat2nya. Termasuk malam itu. Di tengah string kuartet (haruskah kuterjermahkan sebagai dawai berempat?), James hanya melihat punggung Helen. Tapi ketua kelompok dengan riang mengajak semuanya minum teh dulu (dan membayar 3 pence). James langsung menyambar teh, lalu bergerak ke arah Helen.</p>
<p>Helen menatapnya. &#8220;Selamat sore, Pak Herriot. Bisa menikmati malam ini?&#8221;<br />
&#8220;Duh, kenapa panggilnya pakai Pak sih. Panggil saja Jim,&#8221; kata James. Tapi cuma dalam hati.<br />
Dan yang dia ucapkan adalah, &#8220;Selamat sore, Nona Alderson. Malam yang menyenangkan kan?&#8221;<br />
Lalu diam.</p>
<p>Para sahabat Helen berbincang tentang Mozart. Tak ada hal lain yang bisa diperbincangkan lagi. Selesai.</p>
<p>Tapi Pak Ketua datang lagi. &#8220;Kayaknya harus ada yang berkorban cuci piring malam ini. Siapa yang mau ambil giliran? Atau dua anak muda ini saja?&#8221; &#8212; sambil menatap Helen dan James. Tentu saja James punya banyak gagasan yang lebih menarik daripada cuci piring. Tapi tiba2 dia melihat itu sebagai peluang emas. &#8220;Oh. Tentu. Kalau Nona Alderson tak keberatan, tentu.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-2890 aligncenter" title="cangkir" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2010/04/cangkir.jpg" alt="" width="410" height="270" /></p>
<p>Lalu mereka berbagi tugas. James mencuci. Helen mengeringkan. Lima menit berlalu. Mereka mulai berbincang. Tapi lagi2 tentang musik. Duh, gak kemana2, pikir James. Dan dengan panik dia melihat cangkirnya tinggal satu. Ia menyerahkan ke Helen. Tapi tak dilepas. Panik menunggu inspirasi yang tak kunjung datang. Sementara perang berebut cangkir terakhir terjadi, James mendengar suara, &#8220;Boleh kita ketemu lagi?&#8221; &#8212; yang ternyata suaranya sendiri.</p>
<p>Helen diam. Wajahnya tak dapat dibaca. Akhirnya ia menjawab pendek. &#8220;Boleh.&#8221; Lalu James lagi. &#8220;Sabtu malam?&#8221; Disusul anggukan ringan Helen yang meletakkan cangkir kering, dan pergi. Sementara Haydn dimainkan. Apakah Helen memang berminat untuk ditemui? Atau hanya terpaksa demi kesopanan?</p>
<p>Selesai.</p>
<p>Tapi, btw, untuk kita semua yang mengejar kesempatan apa pun: bisnis, karir, network, travelling, dll &#8212; jangan meremehkan hal2 kecil semacam kesempatan untuk mencuci piring. Ingat bahwa Feynman pun memperoleh Hadiah Nobel gara2 dia memanfaatkan waktunya menghitung rotasi piring, saat dia merasa mandeg dengan cita2 yang dirasa terlalu tinggi. Mungkin &#8230; cuci piring adalah peluang emas kita :).</p>
<p>Oh ya. Penasarankah dengan akhir cerita? Bisa ke Wikipedia atau lainnya sih :). Tapi aku cuplikkan halaman terakhir buku itu. Halaman 437.</p>
<p>Aku berteriak ke Helen: &#8220;Nomor tiga delapan. Tujuh. C!&#8221;<br />
&#8220;Tiga delapan. Tujuh. C,&#8221; istriku mengulang sambil membentangkan bukunya dan mulai menulis.</p>
<p>[Foto diambil dari: <a href="http://rinibee.wordpress.com/2009/12/16/masihkah/">Masihkah…?</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2010/04/04/cuci-piring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hlör u Fang Axaxaxas Mlö</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/05/17/hlor-u-fang-axaxaxas-mlo/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/05/17/hlor-u-fang-axaxaxas-mlo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 19:04:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[borges]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[tlon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2608</guid>
		<description><![CDATA[Padahal kata labirin lebih mengingatkanku pada satu sesi dari serial The New Avengers. Tapi, Jorge Luis Borges, penulis dunia itu (kurasa tak perlu di waktu ini menulis, misalnya, &#8216;penulis Argentina&#8217;) gemar sekali dengan labirin dan pelbagai variasinya. Borges kukenal pertama kali dari salah satu edisi awal Jurnal Kalam (yang dulu terasa mahal sekali). Cerpennya berjudul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Padahal kata labirin lebih mengingatkanku pada satu sesi dari serial The New Avengers. Tapi,<strong> Jorge Luis Borges</strong>, penulis dunia itu (kurasa tak perlu di waktu ini menulis, misalnya, &#8216;penulis Argentina&#8217;) gemar sekali dengan labirin dan pelbagai variasinya.</p>
<p>Borges kukenal pertama kali dari salah satu edisi awal Jurnal Kalam (yang dulu terasa mahal sekali). Cerpennya berjudul <strong>Tlön, Uqbar, dan Orbis Tertius</strong>. Terasa luar biasa, ia langsung tertamatkan, terbaca lagi. Melintas waktu, sempat ia terdiskusikan &#8212; di mail ke <a href="http://pratanti.wordpress.com">Nita</a>, dan di mail ke salah satu mail group di <a href="http://isnet.org">Isnet</a>. Di masa ini, cerpen ini mudah digoogle, dan kajiannya bisa dilirik di kepustakaan wiki. Bentuknya sastra fantasi, bermain dengan ekstrapolasi atas idealisme Berkeley. Stylenya, duh, menggabungkan antara yang real (menggunakan beberapa tokoh, termasuk Borges, penulis Bioy Casares dan Schulz Solari; juga mengupas pandangan Berkeley, Hume, Meinong, dll), yang fiktif (tokoh Herbert Ashe), dan yang fiktif (di dalam kefiktifan cerita itu, ia pun fiktif, seperti negeri Uqbar sendiri dan berbagai budaya, bahasa, dan pandangan hidupnya). Yang lebih menjengkelkan, gayanya betul-betul dibuat seperti reportase non fiksi. Misalnya, ia menambahkan satu bagian yang dimulai seperti ini: &#8220;Postskriptum (1947). Artikel di atas saya tampilkan sebagaimana aslinya, seperti termuat dalam Antologi Sastra Fantasi (1940).&#8221; Postskriptum fiktif :). Ini semua adalah cerpen yang diterbitkan tahun 1940; termasuk postskriptum bertahun 1947 itu :). Btw, Tlön sendiri adalah ruang hidup dimana bangsa di dalamnya berpandangan idealis tulen, sehingga bahasa dan turunannya (agama, sastra, metafisika) semua berlandas idealisme. Dunia bukanlah sekumpulan obyek dalam ruang, melainkan rentetan tindakan mandiri. Semuanya temporal, bukan spasial. Judul entry blog ini adalah contoh satu kalimat dari salah satu dialek Tlön yang berarti &#8220;ke atas dari balik yang mengalir tersebut beranjak membulan.&#8221;</p>
<p>LKIS sempat menerbitkan kumpulan terjemahan cerpen Borges, dengan judul <strong>Labirin Impian</strong> (1999). Nirwan Dewanto menulis pengantar terjemahan itu. Di dalamnya kita bisa melihat evolusi pola permainan Borges. Beberapa cerita agak mirip. Kisah labirin &#8220;Ibn Hakkan al-Bokhari&#8221;  dan kisah &#8220;Bentuk Pedang&#8221; bercerita tentang pengkhianat yang melintas negeri yang jauh (dari Arab ke Inggris di cerita pertama, dari Irlandia ke Brasil di cerita kedua); dengan penceritaan yang secara mengejutkan mendadak mengubah obyek menjadi subyek. Entah kenapa aku jadi ingat Agatha Christie (di mana tokoh kriminal bisa anak kecil [Josephine], polisi [Three Blind Mice], atau semua orang [Orient Express], atau aku [Roger Ackroyd]).</p>
<p><center><img title="borobudur" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/05/borobudur.jpg" alt="" width="400" height="300" /></center></p>
<p>Kisah Funes si Pengingat mengingatkan aku (aku tidak boleh menggunakan kata ini: ingat) akan diskusi di Isnet juga; bahwa manusia mengenal simbol, sementara malaikat tidak &#8212; maka manusia lebih mulia. Funes ini jadi contoh Borges untuk itu. Setelah sebuah kecelakaan, otaknya bekerja tanpa simbol: ia mengingat semua hal. Seluruh angka dipahaminya tanpa penyederhanaan ratusan, puluhan, satuan. John Locke pernah mencoba membayangkan (dan menolak) bahwa setiap benda, batu, burung, bisa punya nama tersendiri. Ia menolaknya karena terlalu rumit. Funes, di lain pihak, menolaknya karena terlalu general. Anjing pada pukul 3:14 (tampak dari depan) haruslah dinyatakan berbeda dengan anjing (yang sama) dilihat pada 3:15 (dilihat dari samping). Tapi, untuk membuatnya makin seru, bayangkan bahwa pikiran dan ingatan kita sendiri pada itu kemudian haruslah memiliki pernyataan yang berbeda.</p>
<p>Sekarang tentang Tuhan. Kisah Mukjizat Rahasia menceritakan seorang penulis Ceska yang dihukum mati tentara Jerman, seminggu setelah disidang. Selama seminggu ia merasakan dari frustrasi, apatis, dan pada hari terakhir ia membuang pikirannya dengan merancang sebuah plot cerita. Ia berusaha menyempurnakan plot itu. Lalu ia bermohon kepada Tuhan, bahwa &#8220;Kalau benar aku ada, bukan sekedar kekeliruan plot-Mu, aku minta waktu setahun untuk memperbaiki dramaku.&#8221; Pagi harinya, pukul 9:00 (orang Jerman harus tepat waktu), ia disiapkan di depan tembok (seperti kerepotan orang mau bikin foto), lalu pasukan disiapkan, peluru ditembakkan; lalu waktu berhenti &#8230; selama setahun &#8230; hingga tokoh kita dapat menyelesaikan dramanya di dalam hati, secara lengkap, plus melakukan koreksi lengkap hingga sempurna. Saat drama itu selesai, waktu berjalan kembali, dan matilah sang pengarang.</p>
<p>Tapi satu cerita sebelumnya, &#8220;Tulisan Tangan Tuhan&#8221; sering kusadur waktu membahas tentang dunia para sufi (zaman dulu), justru berkomplemen (dan karenanya identik). Kisahnya tentang ahli sihir piramida Qaholom yang telah dibumihanguskan pasukan Pedro de Alvarado. Disiksa, dinista, dikurung, ia menghabiskan waktu mengingat dan memperdalam ajaran tradisinya &#8212; semuanya didalam hati. Ia merasakan penyatuan semesta, dan segala keindahannya. Ia merasakan kekuatan semesta dengan itu bangkit. Ia menjadi kuat. Ia menjadi sang maha perkasa. Kata-katanya sanggup untuk menghancurkan kembali musuh-musuhnya, dan menegakkan kembali kerajaannya. Tapi .. tapi &#8230; pada saat itu, segalanya tak penting lagi baginya. Barang siapa telah memahami rancang bangun semesta dan keindahannya, tak lagi harus memilih siapa yang harus naik dan turun dalam hidup fana manusia. Ia membiarkan hari-hari mengakhiri hidupnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/05/17/hlor-u-fang-axaxaxas-mlo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahib Berkepala Biru</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/01/31/rahib-berkepala-biru/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/01/31/rahib-berkepala-biru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2009 18:23:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2514</guid>
		<description><![CDATA[Kisah2 ini adalah bagian2 awal dari buku Math Hysteria dari Ian Stewart. Aku sendiri cuman iseng baca2 halaman depan buku ini, belum beli. Tapi pernah beli buku Ian Stewart yang lain, The Collapse of Chaos. Beli bukunya waktu itu di Warwick University, tempat Prof Stewart ini bekerja. Kisahnya di sebuah biara tempat para rahib ahli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah2 ini adalah bagian2 awal dari buku <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Math_Hysteria">Math Hysteria</a> dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ian_Stewart_(mathematician)">Ian Stewart</a>. Aku sendiri cuman iseng baca2 halaman depan buku ini, belum beli. Tapi pernah beli buku Ian Stewart yang lain, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Collapse_of_Chaos">The Collapse of Chaos</a>. Beli bukunya waktu itu di Warwick University, tempat Prof Stewart ini bekerja.</p>
<p><img title="mathhysteria" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/02/mathhysteria.png" alt="" width="200" height="216" align="right" />Kisahnya di sebuah biara tempat para rahib ahli logika. Rahib K (K itu simbol kejailan) iseng mengecat biru kepala rahib A dan rahib B sewaktu mereka tidur. Bangun tidur, rahib A melihat kepala B jadi biru, tapi dia tidak bisa melihat kepalanya sendiri. Namun karena sopan, ia tidak mengatakan apa2. Demikian juga B. Nah, kemudian masuklah rahib Z. Ia tampak heran. Tapi ia cuma berkata: &#8220;Setidaknya satu dari kalian kepalanya bercat biru.&#8221;</p>
<p>Tentu baik A dan B tahu bahwa setidaknya satu dari mereka kepalanya bercat biru. Ini kedengarannya bukan info baru. Tapi ini jelas info baru. Sekarang A melihat B, dan sadar bahwa B tidak terkejut. B sudah tahu bahwa dari tadi setidaknya satu dari mereka kepalanya bercat biru. Padahal B tak bisa melihat kepalanya sendiri. Maka kini A tahu bahwa kepalanya sendiri bercat biru. Demikian juga B. Baru pada saat itu keduanya jadi terkejut. Ini mendefinisikan informasi :). Informasi bukan hanya data, tetapi juga berkait pada pihak yang menerima dan memberikan data, dan dengan demikian menjadi relasi data. Ingat, yang diucapkan Z itu data yang A dan B sudah tahu :).</p>
<p>Apa yang terjadi kalau si K mengecat bukan dua tetapi tiga kepala rahib? Misalnya A, B, dan C. Paginya, A melihat kepala B dan C biru, tapi tak bisa melihat kepalanya sendiri. Demikian juga B dan C. Lalu Z masuk dan mengatakan hal yang sama: &#8220;Setidaknya satu dari kalian kepalanya bercat biru.&#8221; Lebih rumit? Sedikit. A akan berpikir seperti ini: &#8220;Kepalaku biru nggak? Misalnya nggak biru. Si B akan melihat C yang berkepala biru dan heran bahwa C tidak tampak terkejut. Lalu B akan sadar bahwa kepalanya sendiri biru, karena C pasti melihat kepalanya biru. Tapi kenapa B nggak tampak terkejut? Artinya &#8230; Aaaaa &#8230; Kepalaku biru donk.&#8221; Barulah A terkejut, bersama dengan B dan C. Asumsinya, tentu, kecepatan berpikir mereka sama cepatnya. (Bukan sama lambatnya).</p>
<p>Ian meneruskan kisahnya sampai 100 rahib. 100 rahib yang diam2 kepalanya dicat biru dikumpulkan di aula. Lalu pimpinan biara mengumumkan: &#8220;Saya akan membunyikan lonceng. Barang siapa yang dapat memastikan bahwa kepalanya sendiri berwarna biru, silakan angkat tangan.&#8221; Sepuluh menit kemudian, ia membunyikan lonceng. Tak ada tangan terangkat. Pimpinan biara berkata, &#8220;Aduh, saya lupa bilang: setidaknya salah satu dari kalian memang bercat biru.&#8221; Lalu ia membunyikan lonceng lagi, setiap 10 detik. Pada lonceng 1-99, tak ada tangan terangkat. Tapi pada dering lonceng ke 100, semua tangan terangkat. Kini mereka tahu, bersamaan :). Untuk memahaminya, bayangkan salah satu rahib berpikir seperti ini: &#8220;Misalkan aku tidak tercat biru. Maka 99 rahib lain tahu. Maka mereka akan melakukan deduksi berantai sampai 99 hitungan, lalu mereka akan mengangkat tangan.&#8221; Nah, sampai 99 hitungan, tak ada satu pun yang mengangkat tangan. Dan rahib tadi berpikir: &#8220;Uh, asumsiku salah. Berarti aku bercat biru.&#8221; Maka ia mengangkat tangan pada hitungan ke 100, bersama 99 rahib lain yang berpikiran serupa.</p>
<p>Bagaimana cara deduksi 99 rahib yang dibayangkan salah satu rahib itu? Serupa dengan logika yang sama dengan deduksi 100 rahib. Jadi sifatnya rekursi hingga 1 rahib. Sekarang, andai hanya ada 1 rahib yang bercat biru; maka ia melihat 99 rekannya tidak bercat biru; maka ia tahu bahwa ia bercat biru pada hitungan pertama, kan? Nah, itu akhir loopingnya :). Maka andai ada 68 orang dari 100 rahib yang bercat biru; pada hitungan ke 68, ke-68 raib biru itu akan mengangkat tangan, dan rahib sisanya tidak akan mengangkat tangan.</p>
<p>Penasaran? Malam ini coba cat biru kepala teman2 serumah kamu waktu mereka sedang tidur. Dan lihat hasilnya besok pagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/01/31/rahib-berkepala-biru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>16 Juni 2005</title>
		<link>http://kun.co.ro/2009/01/01/16-juni-2005/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2009/01/01/16-juni-2005/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 12:34:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2470</guid>
		<description><![CDATA[Berbagai aggregator blog bisa jadi saksi: banyak hal yang bisa terjadi dalam 24 jam. Tapi seorang Daniel Altman memaksa membukukan apa yang terjadi pada sebuah 16 Juni 2005 di bukunya yang terbit tahun 2007: Connected 24 Hours in the Global Economy. Bukan buku yang terkenal di antara para ekonom, aku yakin. Tapi jelas pas buat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbagai aggregator blog bisa jadi saksi: banyak hal yang bisa terjadi dalam 24 jam. Tapi seorang Daniel Altman memaksa membukukan apa yang terjadi pada sebuah 16 Juni 2005 di bukunya yang terbit tahun 2007: <strong>Connected 24 Hours in the Global Economy</strong>. Bukan buku yang terkenal di antara para ekonom, aku yakin. Tapi jelas pas buat teknolog yang baru mulai belajar ekonomi kayak aku, untuk turut mengamati kaitan2 baik yang klasik maupun non-intuitif, di sisi teknologi-ekonomi-politik-budaya dari seluruh belahan dunia. Oh ya, waktu 24 jam ini dicatat di New York.</p>
<p><img title="06:03 waktu Stockholm" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2009/01/0603.png" alt="" width="125" height="172" align="right" />Jam 00:03 waktu New York, artinya di 06:03 waktu Stockholm, cerita dimulai dengan aliansi antara Ericsson dengan Napster. Uh, tahun 2005, setelah gelembung2 dotcom meletus, setelah global clusters roboh, masih ada upaya aliansi? Antara Ericsson yang jadi bendera megah Swedia itu, dengan Napster si bekas anak nakal pembajak musik itu? Memang. Dan Altman membekali kita dengan latar belakang berbagai aliansi, baik yang sukses dan yang tidak. Apa alasan EBay mengakuisisi Paypal (padahal ia sudah punya Billpoint) dan kemudian Skype (yang urusannya di Internet sangat beda)? Kenapa merger Morgan Stanley dan Dean Witter gagal mencapai goal? Juga Chrysler dan Daimler-Benz? Bagaimana akuisisi AOL atas Time-Warner dianggap kelicikan? Dan nantinya, di bab lain tentang Cina: Mengapa dan bagaimana Haier dipertahankan untuk tidak dibeli pihak asing? (Kebijakan yang membuat kita terpaksa mengenang kembali kebodohan Laksamana Sukardi yang menjual Indosat).</p>
<p>Tapi lalu Altman kembali ke Ericsson dan Napster. Operator telekomunikasi di dunia tengah berminat mengembangkan content, sebagai bagian dari pengembangan pasar mobile dan Internet. Dan hasil survei menunjukkan content yang paling diminati: musik. Ericsson sebagai vendor dan konsultan significant tentu berusaha memberikan solusi terbaik. Umumnya para operator tidak merasa perlu menggunakan brand masing2 untuk memasarkan content musik. Jadi untuk itu Ericsson mulai mengajak Napster, yang memahami liku2 jalan2 dan gang2 distribusi musik online hingga ke benak customer. Hm, bukan saja tak menggunakan brand para operator. Pakai brand Ericsson pun tidak. Tapi pasar merespons positif kecerdikan ini. Di akhir hari, baik saham Napster maupun Ericsson mencatat kenaikan.</p>
<p>Kemudian, jam 3:02 waktu New York, atau jam 16:02 waktu Tokyo. Cerita beralih tentang perusahaan2 besar di Jepang, dimulai dari Mitsubishi. Intinya: sejauh mana pemerintah mampu membuat pasar global lebih kompetitif. Lucu membaca bahwa seringkali pemerintah justru jadi biang yang membuat industri tidak kompetitif; padahal itu di negara2 dengan tingkat kolusi rendah. Di sini &#8230; ah, skip. Berikutnya 3:09 waktu New York atau 14:09 waktu Ho Chi Minh, kisah dibuka dengan kemauan Intel membangun Vietnam digital, dengan pertanyaan: perusahaan2 multinasional ini lebih banyak membawa progress atau problem? Jawabnya &#8230; haha :)</p>
<p>Oh ya, aku tadi menyinggung Haier. Ini hampir di tengah buku. 5:15 waktu New York, 17:15 waktu Qingdao. Qingdao itu kota ukuran menengah, yang dulu terkenal dengan industri bir; warisan dari pemukim Jerman di Tsingtao. Industri bir ini sudah separo diakuisisi oleh perusahaan Amrik. Jadi sekarang yang jadi kebanggaan Qingdao adalah Haier: perusahaan perangkat teknologi yang di tahun 2005 sudah sibuk memasarkan HP sekecil pena hingga kulkas yang segede apa ya &#8230; kita bisa berdiri di dalamnya. Tokohnya Wei Duan, cewek keren yang jadi brand manager Haier di usia muda, lulusan Nottingham. Haier, dan beberapa perusahaan lain, menarik Wei yang memilih pulang kembali ke RRC dengan tujuan: membuat negerinya maju lagi.</p>
<p>Haier tidak bercita2 untuk menjadi besar sehingga bisa mudah dibeli kapitalis asing; sebaliknya mereka bercita2 untuk lebih besar lagi untuk suatu hari bisa membeli perusahaan2 asing. Tentu, dengan bergerak di teknologi, mereka langsung menghadapi kompetitor kelas raksasa. Tapi Haier memilih niche market secara hati2 dengan memahami budaya berbagai negeri. Hasilnya, a.l., HP segede pena itu. Atau kulkas dengan laci untuk diekspor ke Amrik, dimana user bisa mengambil isi freezer tanpa harus memasukkan tangan ke freezer. Atau mesin cuci gede buat Pakistan yang terkenal dengan keluarga besarnya, sekaligus mesin cuci kecil2 buat Jepang yang penduduknya gemar bebersih sedikit2 tapi tiap hari. Ada juga HP dengan tombol besar dan font besar khusus buat orang2 tua. Partnership juga dilakukan. Dengan Sanyo di Jepang misalnya, sehingga kedua perusahaan mendapatkan kemudahan distribusi di negara seberang. Ia juga berekspansi langsung ke sarang lawan: Korea Selatan dan Amrik. Maka Haier tumbuh 68% dalam setahun. (Bukan typo, kata bukunya). Strategi lain, uh banyak. Juga masalahnya. Bisakah nantinya Cina tumbuh mengejar Amrik? Atau ikutan loyo kayak Jepang sejak 1990an?</p>
<p>Bab lain membahas supply uang di dunia, harga sebuah korupsi, pasar saham, stabilitas politik dan ekonomi, soal minyak, hegemoni Amrik secara ekonomi, soal hak cipta (perlukah hak cipta untuk ide?), dan masih banyak lagi. Bukan hal baru kan, buat para ekonom? Tapi buat kita yang lain, barangkali pas untuk mulai memahami ekonomi dunia.</p>
<p>Oh ya, buku ini dibeli di Periplus waktu discount buku 50%-70% minggu lalu. Musim maruk buku, yang pas dengan musim libur. Libur ini, siang penuh jalan2, malam penuh baca2 buku sampai hampir pagi. Buku memang sahabat yang menarik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2009/01/01/16-juni-2005/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bad Science</title>
		<link>http://kun.co.ro/2008/12/24/bad-science/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2008/12/24/bad-science/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 11:43:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2463</guid>
		<description><![CDATA[Konon memang pernah ada masanya dokter di negeri ini diluluskan dengan ujian &#8220;multiple choice&#8221; dan bikin beberapa rekan khawatir mempercayakan kesehatan kepada dokter. Sebaliknya, di negeri lain, profesi yang &#8212; menurut poll &#8212; dianggap paling terpercaya adalah dokter. Poll ini diadakan di Inggris. Di negeri itu, profesi yang paling tak dipercaya adalah &#8212; hahaha &#8212; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konon memang pernah ada masanya dokter di negeri ini diluluskan dengan ujian &#8220;multiple choice&#8221; dan bikin beberapa rekan khawatir mempercayakan kesehatan kepada dokter. Sebaliknya, di negeri lain, profesi yang &#8212; menurut poll &#8212; dianggap paling terpercaya adalah dokter. Poll ini diadakan di Inggris. Di negeri itu, profesi yang paling tak dipercaya adalah &#8212; hahaha &#8212; jurnalis. Agen real estate bahkan dianggap lebih dipercaya daripada jurnalis &#8212; sialan :). Bayangkan apa kata poll itu kalau blogger dan penulis pesan di mail list dianggap sebagai profesi. Wow, aku yakin mereka lebih tak dipercaya lagi.</p>
<p><img title="badscience" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2008/12/badscience.png" alt="" width="225" height="332" align="right" />Tapi itu hasil poll. Dalam keseharian, orang ternyata lebih percaya issue di mail list, di blog, dan di koran/TV daripada pendapat ilmiah yang dikeluarkan ilmuwan atau dokter. Salah satu contoh yang sempat membuat para dokter marah besar adalah soal vaksinasi MMR (measles, mumps, rubella). Seorang dokter menuduh vaksinasi itu menyebabkan autisme. Segera media menggembar-gemborkan soal itu, tanpa peduli opini mayoritas kalangan ilmiah yang tak sependapat dengan seorang dokter itu. Hasilnya, terjadi lonjakan jumlah kasus akibat kurangnya vaksinasi, yang mengakibatkan kematian.</p>
<p>Maka seorang dokter lain, Ben Goldacre, membuat simpulan: jurnalisme berbahaya bagi kesehatan. Secara keras ia mulai menulis melawan pseudoscience yang sering dikemas sebagai &#8220;pengobatan alternatif&#8221; :). Tulisan2nya kemudian dikemas dalam buku <strong>Bad Science</strong>. Tentu bukan menohok para jurnalis. Justru ini untuk mulai mencerahkan jurnalis dan masyarakat yang masih buta sains. Tujuannya untuk membuat kalangan jurnalis mulai bisa mengemas mana hal yang ilmiah dan mana yang pseudoscience dan mana yang jual jamu berkedok pengobatan alternatif dan mana yang merupakan overhype dari pabrik obat. Buku Bad Science memberi contoh misalnya homeopathy, bracelets yang bermain di efek magnetik,  dan contoh lain. Tapi terutama ia memberikan contoh metode ilmiah yang benar yang diterapkan pada pengobatan, termasuk testing dengan efek placebo dan faktor-faktor lain yang cukup kompleks. Goldacre benar2 ingin pembacanya tervaksinasi terhadap nonsense2 berikutnya yang akan mereka hadapi di media atau di mana saja.</p>
<p>Namun, Goldacre juga mengingatkan kembali: sains tidak memiliki autoritas yang monolitik. Sains sendiri tetaplah proses untuk terus menerus mempertanyakan dan pengujian yang jujur dan terus menerus untuk mencari jawaban.</p>
<p>Kesimpulan: buku ini tak direkomendasikan. Membaca buku ini bisa membuat kita dimusuhi saudara, tetangga, blogger, agen MLM, dan kalangan terdekat kita. Lebih baik hidup damai sajalah, kata penatar P4, dan kata orang besorban penjaja SMS Premium di TV.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2008/12/24/bad-science/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maryamah Karpov</title>
		<link>http://kun.co.ro/2008/12/08/maryamah-karpov/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2008/12/08/maryamah-karpov/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 16:21:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2431</guid>
		<description><![CDATA[Seperti semua entry lain di sini yang judulnya disalin dari judul buku, entry ini pun bukan berupa review buku. Ini adalah beberapa kilas kesan selama menikmati buku Maryamah Karpov: bagian keempat dari tetralogi Andrea Hirata. Dibaca secara ekstra cepat, buku ini tamat dalam hitungan jam. Dan terpaksa diulang baca, kerna blum pwas bacanya. (Salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti semua entry lain di sini yang judulnya disalin dari judul buku, entry ini pun bukan berupa review buku. Ini adalah beberapa kilas kesan selama menikmati buku <strong>Maryamah Karpov</strong>: bagian keempat dari tetralogi Andrea Hirata. Dibaca secara ekstra cepat, buku ini tamat dalam hitungan jam. Dan terpaksa diulang baca, kerna blum pwas bacanya. (Salah satu efeknya adalah: aku jadi telat menulis entry blog tentang Fresh 4.0).</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-2432" title="Maryamah Karpov" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2008/12/maryamahkarpov.png" alt="" width="250" height="263" align="right" />Judulnya, mengingatkan pada kritik Andrea pada film Indonesia: yang hanya dari judulnya saja bisa diketahui nasib para pelakunya. Justru judul yang buat aku ajaib inilah yang bikin aku mengulang baca buku ini: hey kenapa gerangan buku ini dijuduli Maryamah Karpov. Huh, Andrea memang outstanding dalam berbagai hal :).</p>
<p>Lalu sebuah cermin. Cermin itu tak dibuat buat kita per seorangan. Tapi tetap cermin. Bab awal langsung memaksaku ingat mendiang Papap yang selalu tampak gagah dan percaya diri di depan anak keduanya ini; apa pun yang terjadi di ujung dunia sana. Tanpa keluhan. Tanpa serangan ke siapa pun. Begitulah cara lelaki menghadapi dunia &#8212; yang sampai sekarang masih coba aku pelajari. Kapan berhasil, West? :)</p>
<p>Lalu di bab berikutnya, aku harus ketawa membayangkan <a href="http://kun.co.ro/2001/12/05/7673362/">sidang tesisku yang juga dilangsungkan di bulan Ramadhan</a>, menjelang winter. Tak perlu tolak bala tapi. Cuman gejala mual dan pening yang sama tengah menyiksa. Syukur hari itu supervisor dan pengujiku tak seseram LaPlaggia, dan biarpun mereka chatting sendiri, tapi mereka nggak menyinggung soal sinshe. Dan alih2 mengetik algoritma, aku cuman &#8212; atas keinginan sendiri &#8212; menggambar alternatif2 konfigurasi network, dan optimalisasinya. Aku sendiri nggak tau apakah aku mahasiswa bimbingan terakhir Mr Bidgood. Tapi yang jelas itu semester terakhir dia aktif di kampus.</p>
<p>Selebihnya, Andrea membawaku teringat ke buku2 Herriot. Penggemar Herriot sejati dia, harus kuakui. Biarpun aku nggak pernah paham: lanun mana yang menyuruhnya mencampuradukkan kota Edensor dengan Herriot. Tapi adegan dia kedinginan di salju; pilihan kata saat dia terdesak dan justru memutuskan menemukan kesempatan; kisah tukang banyol di warung kopi; sedikit banyak membuat kita rada deja vu. Dan tentu ini: semua pilihan kata saat Andrea mendarat dari sebuah bis maha bising, turun di kampung yang sunyi &#8212; amat sangat membuat kita merasa sedang membaca detik-detik mendaratnya Herriot kita kali pertama di Darrowby. Pun hanya dari cara dia dengan elegannya membuatku teringat Herriot, Andrea sudah cukup untuk jadi penulis favoritku. Biarpun masuknya kota Edensor masih menggangguku. Kenapa sih, Ikal?</p>
<p>Lalu kembalinya Laskar Pelangi, tentu melegakan pembaca buku dan penonton film Laskar Pelangi. Satu demi satu tokoh ditampilkan ulang. Dan tentu Lintang, yang dicintai siapa pun, bisa menampilkan kembali kekerenan ilmiahnya yang tak setengah2. Banyak kritik soal kekerenan Lintang. Tapi buat aku, Lintang memang harus seperti itu: ia seorang Übermensch ilmu. Orang2 seperti Lintang ada! Dengan kekerenan tak kurang dari itu. Mereka harus ditampilkan. Dan sebaliknya dengan orang2 pintar macam Mahar yang sudah overexposed di Indonesia, dengan segala pseudoscience, sugesti diri, dan semacamnya. Mahar memang perlu ditampilkan, lengkap dengan Tuk Bayan Tula. Tetapi hanya sebagai lelucon, sebagaimana Andrea memaparkannya. {Aku menikmati sekali jokes daur ulang ala Tuk. Begitu baca nama Tuk, aku langsung ingat candaan antiklimaks di Laskar Pelangi, dan yakin ini terjadi lagi di Maryamah Karpov.}</p>
<p>A Ling? Aku juga suka akhir ceritanya yang diambangkan. Ini buku yang punya ending bagus, justru dengan pengambangan semacam itu. Ini buku tentang hidup. Hidup tidak punya happy end. Ia mengalir terus, dengan tantangan tak masuk akal terus menerus yang harus kita arungi dan hadapi.</p>
<p>Trus, Telkom ke mana? Haha :). Orang Telkom sering ditanyai: kok Andrea tidak pernah menulis tentang Telkom? Ini tentu harus Andrea yang menjawab. Tapi aku tidak merasa itu aneh. Ada waktunya aku juga agak menghindar menulis tentang Telkom. Di CV memang aku tulis: I work with Telkom. Tapi tidak banyak cerita tentang Telkom ditulis di blog ini misalnya. Tentu bukan karena tidak bangga pada Telkom. Sebaliknya. Justru kadang merasa bahwa Telkom yang tidak bangga atasku :). Canda :)  :).</p>
<p>Thanx, Andrea. Nice book. Kan kusebut nama belakangmu 7 kali malam ini, untuk barangkali bisa menggugahku pada hal yang amat jarang kupikirkan selama hidup.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2008/12/08/maryamah-karpov/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>98</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketawa Cara Russia</title>
		<link>http://kun.co.ro/2008/10/14/ketawa-cara-russia/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2008/10/14/ketawa-cara-russia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 05:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/?p=2365</guid>
		<description><![CDATA[Uni Soviet zaman Stalin: Seorang lelaki mendadak keluar dari rumahnya di Moskow sambil berteriak, &#8220;Hanya satu orang! Dan dia membuat kita semua menderita! Seluruh dunia menderita! Satu orang pendusta!&#8221; Hanya dalam hitungan menit, dia sudah ditangkap, babak belur, dan diinterogasi di kantor KGB. &#8220;Ada apa, kamerad? Anda teriak apa tadi?&#8221; &#8220;Satu penipu besar, membuat kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Uni Soviet zaman Stalin:</p>
<blockquote><p>Seorang lelaki mendadak keluar dari rumahnya di Moskow sambil berteriak, &#8220;Hanya satu orang! Dan dia membuat kita semua menderita! Seluruh dunia menderita! Satu orang pendusta!&#8221;<br />
Hanya dalam hitungan menit, dia sudah ditangkap, babak belur, dan diinterogasi di kantor KGB.<br />
&#8220;Ada apa, kamerad? Anda teriak apa tadi?&#8221;<br />
&#8220;Satu penipu besar, membuat kita semua menderita!&#8221;<br />
&#8220;Masa? Lalu siapa satu penipu itu?&#8221;<br />
&#8220;Siapa? Anda tentu tahu juga! Hitler, tentu saja!&#8221;<br />
&#8220;Ah tentu. Baiklah, Anda boleh pulang.&#8221;<br />
Si lelaki berdiri terhuyung, berjalan ke arah pintu, tapi lalu menoleh balik. &#8220;Tunggu. Tadinya Anda kira siapa penipu itu?&#8221;</p></blockquote>
<p>Humor itu memang tak khas Russia zaman Stalin. Ia bisa dipasangkan juga misalnya di Russia zaman Tsar Nikolay.</p>
<blockquote><p>&#8220;Anda tadi yang berteriak-teriak &#8216;Nikolay penipu besar&#8217; di jalan?&#8221;<br />
&#8220;Ya. Tapi maaf ada kesalahan. Maksud saya itu Nikolay teman saya, bukan tsar kita.&#8221;<br />
&#8220;Tidak mungkin. Kalau orang bilang penipu besar tentu Nikolay tsar kita.&#8221;</p></blockquote>
<p><img class="size-full wp-image-3306 aligncenter" title="lenin_stalin_putin_alien" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2008/10/lenin_stalin_putin_alien.jpg" alt="" width="450" height="255" /></p>
<p>Atau mungkin juga berlaku untuk Soeharto, sasaran joke nasional kita. Tapi yang jelas, versi Soviet jauh lebih terasa lucu daripada versi lainnya (pun versi Russia non Soviet). Tak sulit dipahami. Soviet sendiri adalah sebuah lawakan. Bayangkan: komunisme, sosialisme, demokrasi, sama rata sama rasa, tapi dipadukan dengan diktator (pun berembel proletariat). Sebutlah itu dialektika (secara becanda). Tapi ini jelas kontradiksi terpasang yang memungkinkan humor terjadi setiap saat.</p>
<blockquote><p>Radio Yerevan menerima pertanyaan: &#8220;Benarkah kondisi kamp-kamp kerja kita sudah jauh lebih baik?&#8221;<br />
Radio Yerevan menjawab: &#8220;Tentu. Orang yang terakhir bertanya seperti Anda telah dipersilakan untuk menjenguk sendiri kamp-kamp itu. Hingga ini penanya itu belum kembali. Diperkirakan ia terlalu betah berada tempat nyaman itu.&#8221;</p></blockquote>
<p>Dan di tempat dimana ketakutan hidup subur ditutupi kemasan kemegahan dan perayaan kasih sayang tak berkesudahan, kitsch tumbuh subur, menciptakan lahan baru untuk ditertawai.</p>
<blockquote><p>&#8220;Sudah dengar bahwa Kamerad Brezhnev harus dioperasi?&#8221;<br />
&#8220;Ya. Jantung katanya?&#8221;<br />
&#8220;Bukan. Pembesaran bidang dada, agar bisa menerima medali lebih banyak lagi.&#8221;</p></blockquote>
<p>Atau memaksa orang untuk berkontemplasi tentang asal usul.</p>
<blockquote><p>Dzherzhinsky: &#8220;Malam yang cerah, Kamerad Ilyich?&#8221;<br />
Lenin: &#8220;Tentu malam yang cerah.&#8221;<br />
Dzherzhinsky: &#8220;Sebotol vodka, pas kan?&#8221;<br />
Lenin: &#8220;Tidak lagi, kamerad. Tidak lagi.&#8221;<br />
Dzherzhinsky: &#8220;Sebotol saja, tak akan jadi masalah kan?&#8221;<br />
Lenin: &#8220;Terakhir kali kita minum, Anda memang langsung tidur. Tapi aku memanjat tank. Dan lihat hasilnya sekarang!&#8221;</p></blockquote>
<p>Atau me-reka ulang definisi:</p>
<blockquote><p>&#8220;Jadi apa bedanya kerajaan dengan republik?&#8221;<br />
&#8220;Di kerajaan, kekuasaan diserahkan dari orang tua ke anaknya. Di republik, dari orang tua ke orang tua lain.&#8221;<br />
&#8220;Dan apa bedanya demokrasi dengan demokrasi sosialis?&#8221;<br />
&#8220;Tepat sama dengan bedanya kursi dengan kursi listrik.&#8221;</p></blockquote>
<p>Dan tentu, pada dasarnya orang Russia sendiri memang pecinta humor.</p>
<blockquote><p>&#8220;Kamerad Brezhnev, benarkah bangsa Russia tidak suka humor?&#8221;<br />
&#8220;Justru kami suka mengkoleksi humor-humor.&#8221;<br />
&#8220;Bagaimana dengan humor yang menertawai pimpinan partai?&#8221;<br />
&#8220;Justru itu favorit kami.&#8221;<br />
&#8220;Banyak koleksi Anda?&#8221;<br />
&#8220;Hampir empat kamp penuh.&#8221;</p></blockquote>
<p>Humor bahkan melejit melampaui masa represi. Di zaman pencerahan Gorbachev pun, humor mengiris masih ada:</p>
<blockquote><p>+ Kok baksonya persegi sih?<br />
- Perestroika (restrukturisasi)<br />
+ Dan tampak agak mentah?<br />
- Uskoreniye! (akselerasi)<br />
+ Sudah ada bekas gigitan pula?<br />
- Gospriyomka (approval negara)<br />
+ Cuek aja menyampaikan hal seperti ini?<br />
- Glasnost! (keterbukaan)</p></blockquote>
<p>Dan tentu humor pun berlanjut ke zaman Putin, yang sering disebut sebagai Neo-Stalin :)</p>
<blockquote><p>Biarpun tidak lagi di zaman komunis, tekad Putin menjaga kedigdayaan negerinya membuat banyak orang menyamakan dirinya dengan Stalin. Maka, di waktu segalanya kusut (inflasi tinggi, perang Chechnya, krisis Georgia, skandal bisnis migas) dll, Putin mengundang arwah Stalin membantunya.<br />
Stalin datang, lalu menasehati: “Mudah saja. Pertama, kumpulkan semua kaum demokrat di lapangan merah, lalu tembak mereka. Kedua, ganti cat Kremlin dengan warna biru.”<br />
Putin tergelitik: “Lho, kenapa warna biru!”<br />
Stalin tertawa. “Putin tersayang, kamu memang pengikutku. Kamu mempertanyakan yang nomor 2, tapi tidak yang nomor 1.”</p></blockquote>
<p>Buku Mati Ketawa Cara Russia (masa sebelum Gorbachev) sempat diterjemahkan ke Bahasa Indonesia beberapa belas tahun lalu oleh Kelompok Tempo, dan langsung dicetak ulang beberapa kali. Bukan saja pembaca berderai2 tertawa, tetapi bukunya juga berderai2 karena kualitas penjilidan yang tak bagus. Hingga kini, masih terdengar ada yang mencari buku itu di sana sini. Pun setelah humor online macam Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto diterbitkan di sekitar masa reformasi.</p>
<p>Huh, harus balik bikin desain-desain lagi. Jadi memori Russia kita stop sebentar, dilanjutkan di bagian comment saja nanti.</p>
<p>Anda sendiri, punya humor Russia kenangan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2008/10/14/ketawa-cara-russia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>76</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bright &amp; Beautiful</title>
		<link>http://kun.co.ro/2008/07/01/bright-beautiful/</link>
		<comments>http://kun.co.ro/2008/07/01/bright-beautiful/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 09:11:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kun.co.ro/2008/07/01/bright-beautiful/</guid>
		<description><![CDATA[Di blog yang lain (aku sendiri nggak tahu jumlah blog yang aku tulis, di luar ABN), aku sempat menulis bahwa kalau misalnya aku disuruh memilih tinggal di satu dari dua planet, satu isinya cuman buku, dan satu lagi Internet termasuk blogging; aku pasti akan memilih planet dengan buku :). Buku terlalu mengasyikkan, dan belum tergantikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di <a href="http://koen.myflexiland.com/index.php/67641/buku-vs-blog">blog yang lain</a> (aku sendiri nggak tahu jumlah blog yang aku tulis, di luar ABN), aku sempat menulis bahwa kalau misalnya aku disuruh memilih tinggal di satu dari dua planet, satu isinya cuman buku, dan satu lagi Internet termasuk blogging; aku pasti akan memilih planet dengan buku :). Buku terlalu mengasyikkan, dan belum tergantikan sama benda apa pun. So, aku menikmati weekendku dengan buku2. Ya, terinterupsi dikit oleh <a href="http://batagor.net/2008/06/29/live-blogging-at-taman-balai-kota/">Kopdar Blogger Bandung</a> dan ekstra nyeri yang secara sporadik mendadak menusuk kepala. Tapi keasikan membaca sedang tak terganggu.</p>
<p>Weekend diawali dengan baca buku &#8230; uuuh &#8230; bukunya OK dan inspiring banget. Tapi karena belum terbit, aku terpaksa merahasiakan judul dan nama pengarangnya (selain membocorkan dikit). Ini adalah bagian dua dari sebuah trilogi, dan menceritakan seorang kolumnis penjelajah alam. Pekerjaannya adalah melempar dart pada peta Indonesia, lalu mengunjungi tempat di mana dart itu mendarat, lalu menulis kolom tentang tempat itu dari sisi yang unik. Si kolumnis ini sayangnya bukan Internet-savvy, jadi terjebak sebuah masalah yang pasti bisa dipecahkan para techno geek :p. Bagian2 ceritanya sempat bikin aku ketawa terpingkal2, dan sekali terharu berat. Si penulis sampai membaca ulang tulisannya untuk mencari bagian yang bisa bikin aku terharu berat &#8212; dan nggak ketemu. Doi lupa apa yang selalu diingatkan Derrida: sebuah teks telah meninggalkan penulisnya dan menjadi milik pembacanya, lengkap dengan segala penafsirannya.</p>
<p><img src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2008/07/AllThingsBrightAndBeautiful.png" align="right" border="0" height="267" width="250" />Trus mendadak kangen tulisannya Herriot. Serial Herriot semestinya cukup lengkap di rak buku. Aku mulai dari All Things Bright &amp; Beautiful. Di Darrowby, Herriot mulai mewarisi sedikit sifat paradoks dari Siegfried. Kesal berat pada peternak yang tak menghargai libur natalnya, lalu memuji mereka sebagai pencerah dunia. Bab lain menceritakan Herriot sebagai jagoan pembungkus kucing: seliar apa pun si kucing pasien, ia selalu bisa membungkusnya. Ia hanya gagal waktu menangkap kucing bernama Boris, akibat ulah Tristan si pengacau yang justru menikmati mengejar2 kucing liar + superlincah itu. Tokoh lain yang juga muncul adalah dokter Ewan, yang mengatasi banjir uterus (yang pernah amat menakutkan Tristan) hanya dengan setengah pon gula, rak bir, dan sebotol wiksi.</p>
<p>Herriot lalu juga menceritakan perkenalan pertama dengan Granville, dokter hewan kelas atas yang pasiennya hanya binatang kecil, tinggal di kota besar (200rb penduduk), berasisten seorang resepsionis cantik, beberapa suster cantik, dan memiliki istri yang amat cantik. Granville amat profesional. Bekerja cepat dan efisien, menolong hewan yang sudah tak dapat ditangani Herriot (anjing betina dengan tumor, kucing seorang kolonel yang terlindas mobil dan rahangnya sudah lepas, dst, dst). Ia selalu baik hati &amp; penuh persaudaraan pada Herriot; berbagi tembakau mahal, baju bagus, dan gemar mentraktir bir hingga wiski. Bagian terlucu adalah bahwa setiap kali Herriot bertemu Zoe, istri Granville, ia selalu dalam keadaan amat mabuk dan kusut, sementara mereka berdua tetap tampil prima dan bersahabat. Di adegan kucing itu, Herriot sudah hampir menidurkan si kucing selamanya, sebelum pikiran sehatnya kembali, dan ia melarikan si kucing ke Granville. Operasinya berat, dan si efisien perlu waktu 1 jam plus keringat tebal plus sempat membentak Herriot. Tapi berhasil. Lalu dengan ramah ia mengajak Herriot mengikuti seminar dokter hewan. Waktu Herriot mengiyakan, ternyata seminarnya di luar kota, di balik pematang gunung pembelah Inggris itu, dan mereka baru berangkat jam 8 malam, di tengah badai salju. Di sana mereka ketinggalan seminar, dan &#8220;cuma&#8221; kebagian banyak bir. Lalu pulang dengan kecepatan tinggi. Baru Herriot pulang ke Darrowby. Paginya ia baru tahu bahwa jalan yang mereka lintasi sambil ngebut semalam itu sudah beberapa hari ditutup karena terlalu berbahaya. Tidak ada mobil yang lewat sana. Buku ini dan buku2 berikutnya banyak menceritakan pertemuan2 dengan Granville.</p>
<p>Membuatku berpikir &#8230; sialan, akhir2 ini aku terlalu gampang menyerah ya? Meowwwwww :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kun.co.ro/2008/07/01/bright-beautiful/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

