Kindle, Lumiread, iBook
Di Jakarta, di Bandung, rumah hanya dipenuhi rak2 buku. Kesannya penghuninya fanatik sekali pada media ilmu itu. Buku, bukan saja mentransfer informasi antar ruang, antar budaya, tapi juga antar waktu. Tapi justru sebagai pecinta buku yang akut, aku mulai menyadari banyak yang harus diubah dari budaya buku.
Buku berkualitas terbaik pun akan mulai pudar dan rusak — khususnya jika sering dibaca dan disimak dengan serius, dibawa ke mana2, atau dicoret-coreti. Sementara itu, tumpukan buku menimbulkan perasaan lain: perasaan bersalah ke lingkungan bahwa banyak pohon yang harus ditebangi untuk memenuhi kehausan ilmu. Perasaan yang dulu terasa fantastik saat mencium harum kertas kini dibarengi perasaan bersalah bahwa pohon tempat kayu yang harum itu berasal, kini telah hancur ditebang. Keasikan membalik2 kertas digantikan oleh dorongan ala geek bahwa waktu yang singkat bisa digunakan untuk membaca lebih cepat, lebih banyak. Dan pameran buku, dimana lebih dari 70% buku2nya benar2 tak berkualitas, sungguh jadi tontonan yang menyakitkan buat pecinta lingkungan.
Mungkin para pecinta buku harus mulai mengubah gaya hidup. Membuang keengganan memegang e-book (gadget atau apps), dan mulai mengasikinya dengan niat untuk memelihara kehidupan di bumi, dan menggali ilmu lebih cepat dan luas.
Sebagai pecinta buku, aku sempat tak berminat menggantikan buku dengan gadget centil semacam iPad. Kalaupun buku harus dielektronikkan, ia harus digantikan oleh buku elektronik. Jadi, tahun lalu, aku mengadopsi sebuah Amazon Kindle. Kindle ini dibeli di Kaskus, tetapi covernya harus beli di UK. Dibawain Mas Yanuar Nugroho, wkwk. Tanpa cover, Kindle memang terasa mirip gadget. Tapi begitu dipasangi cover, dia berubah jadi buku. Aku bisa mengasyikinya seperti mengasyiki buku kertas, dengan klik di tempat di mana halaman buku seharusnya dibalik. Lengkap dengan makian kalau lampu mendadak mati :). Kindle ini menggunakan e-ink yang ramah lingkungan. Ia hampir tak menggunakan daya, selain untuk mengubah tampilan halaman, serta untuk transfer informasi via WiFi. Gak lama, aku mengisi buku ini dengan content yang aku beli (berbayar dan gratis) dari Amazon, dari O’Reilly, dan dari tempat2 lain. Format AZW dengan DRM dari Amazon, format MOBI tanpa DRM dari O’Reilly. Dari IEEE, masih format PDF yang belum nyaman dibaca dengan Kindle.
Apa yang menarik dari Kindle? Begitu memegangnya, kita lupa bahwa ia adalah tablet mini dengan platform komputasi Fiona dengan layar selebar 6 inci. Yang kita tahu, ini adalah buku. Bahkan, di pesawat terbang, saat pramugari sudah tegas menyuruh mematikan seluruh perangkat elektronik, aku sering lupa menutup Kindle. Rasanya dia benar2 buku. Pramugari pun tak pernah menegur. Tapi ia bukan cuma buku. Ia gudang buku. Memulai perjalanan dengan baca Herriot, kita bisa ingat gaya candaan Larry Wall, dan bisa pindah ke buku Perl, lalu meneruskan baca2 soal coding, mobile coding, lalu 4G mobile technology, lalu ke jurnal2 Comsoc yang mutakhir. Semua dilakukan saat itu, tanpa harus kesal meninggalkan buku yang mendadak kita mau baca di situ juga. Dan sambil senyum melihat hutan di bawah sana, yang mudah2an tak kencang lagi ditebang.
Kindle juga memungkinkan kita membeli buku langsung ke Amazon. Buku yang baru diterbitkan, selama ada versi Kindlenya, dapat langsung kita beli, kita unduh, dan kita baca. Tak lagi kita harus tunggu 2 minggu untuk menerima buku terbaru. Dan kenapa hanya buku? Majalah2 seperti Time, Fortune, Reader Digest, Science News, dapat kita langgani di Kindle, dan langsung dikirimkan otomatis ke dalam buku kesayangan itu bahkan sebelum versi kertasnya masuk ke rak-rak di toko-toko di US. Kindle punya aku memang tak memiliki koneksi mobile. Ia hanya punya WiFi yang sederhana. Syukur iPhone-ku punya kemampuan tethering: ia jadi WiFi access point, menjadi jembatan mini antara trafik WiFi ke Kinde dengan trafik 3G Mobile ke Telkomsel. Atau Singtel, Celcom, Softbank, dll di berbagai negara.
Tentu, saat ini memang belum semua buku diterbitkan dalam versi e-Book. Infiltrasi budaya digital pun memerlukan waktu. Juga, Kindle mirip buku: tak bisa dibaca di mobil tanpa cahaya matahari, atau di rumah saat PLN berkhianat. Dan Kindle 7″ juga agak bikin pusing dipakai membaca buku yang memiliki format cetak kaku, seperti jurnal IEEE versi PDF dengan format dua kolomnya. Kadang Kindle harus menyerah. Tak heran bahwa di tasku kadang masih ditemukan jurnal2 IEEE.

Lalu datanglah Cherico. Ini nama samaran untuk Acer Iconia Tab yang dititipkan Acer buatku. Tablet bersistem Android Honeycomb berlayar 10″ ini mula2 hanya aku pakai buat test Angry Birds. Ternyata OK juga. Jadi aku instal dengan aplikasi yang pasti diinstal oleh semua pecinta buku: Book Reader. Pertama, Kindle apps. Kebetulan Android Market masih melarang warga Indonesia yang cinta damai untuk mengunduh Kindle apps. Terpaksa aku download dari ruang lain. Amazon memperkenankan kita meregistrasikan beberapa perangkat ke dalam satu account kita. Jadi, aku cukup meregistrasikan kembali Kindle apps ini, dan segera ratusan buku yang sudah kubeli di Amazon diunduh kembali ke Cherico. Sekarang aku bisa baca dalam kegelapan, di trafik malam Jakarta. Thanks, Acer :). Aku langsung menambah berlangganan National Geographic di Amazon. Dengan ketajaman layar Iconia, majalah ini tampil prima. Tentu tampilan semacam ini tak dapat dilihat di Kindle kesayanganku.
Cuman, Cherico ini masih berasa tablet, berasa gadget, bukan berasa buku. Tak terlalu mengganggu sih, karena aku sudah beradaptasi jadi pembaca ebook. Tapi kadang, di tengah asyik membaca buku, ada notifikasi kecil di bawah layar: someone mentioned you on Twitter, someone sent you a mail, someone talked to you on Gtalk, dst. Ganggu orang baca aja :).
Kindle apps for Android hanya bisa digunakan membaca buku2 dan majalah dari Amazon. Tak bisa membaca MOBI atau PDF dari third parties. Jadi aku sibuk memilih aplikasi lain buat baca buku dari O’Reilly dan jurnal2 IEEE, serta buku2 non Amazon lainnya. Akhirnya aku pilih LumiRead. Ini apps yang tidak rumit, tapi nyaman digunakan, dan dapat menampilkan buku2 dalam format PDF secara jernih dan tajam. Sekarang aku tak lagi harus bawa jurnal2 IEEE dan jurnal2 lainnya. Aku bisa baca di Cherico. Buku2 o’Reilly aku unduh ulang dalam format PDF, dan dimasukkan ke LumiRead juga.
Selain di Cherico Android, Kindle apps juga aku pasang di Mac Blue. Tapi memang versi yang ini amat jarang diakses. Seharusnya ini aku pakai untuk baca2 di tengah rapat yang membosankan, sambil pura2 sibuk ini itu di komputer. Tapi dalam praktek, aku memang sering harus sibuk ini itu di komputer, selama rapat yang selalu membosankan itu. So, ia jadi aplikasi yang duduk tenang dan manis saja di Mac Blue.
Alternatif lain, saat kita sedang berpisah dengan seluruh komputer, tablet, dan gadget, adalah iBook di iPhone. Memang iPhone-ku belum jailbroken; dan Kindle apps for iPhone juga belum bisa dibeli. Jadi aku hanya pakai iBook, dan diisi buku2 O’Reilly dalam format EPUB. Tapi bukan hanya itu. Beberapa buku PDF dan buku2 lain juga aku re-edit dengan Pages di Mac Blue, lalu aku ekspor ke EPUB, dan dimasukkan ke iBook. Memang tak terlalu nyaman membaca di layar smartphone. Kesannya kita kayak lagi sibuk baca SMS atau tweeting. Padahal memang tweeting, ssst. Tapi, dalam keadaan tertentu, ini jadi alternatif yang menarik juga.
Dan buku kertas … yang masih ada kadang2 dibawa2 juga sih. Tapi aku sudah amat jauh mengurangi buku2 kertas yang baru. Dan aku masih bisa mengaku jadi pecinta buku. Bukan karena punya banyak buku di rak, tapi karena bisa bawa dan baca buku2ku di mana saja.
Kayak apa sih dunia, kalau buku tak pernah diciptakan?
The Geek Atlas
Biasanya perjalanan wisata dipandu oleh buku dari Lonely Planet, atau dari ensiklopedi WikiTravel. Tapi ternyata O’Reilly pernah juga menerbitkan buku “The Geek Atlas” yang juga dapat digunakan buat menarik minat berwisata ke lokus para geek, atau untuk melihat sisi geek dari kota yang kebetulan sedang kita hinggapi. Sayangnya, buku ini US-centric, jadi sekitar 40% obyek yang ditampilkan berada di US :). Dan dari 60% sisanya, i.e. 20 negara, Indonesia belum termasuk.
Yang buat aku menarik adalah bahwa aku bisa membandingkan tempat2 yang kebetulan pernah tak sengaja terkunjungi, dengan ulasan di buku ini. Ini beberapa di antaranya (mengikuti urutan dalam buku ini):
Paris: Menara Eiffel. Dari sisi estetika, banyak yang tak menyukai menara ini. Ia bertahan karena memiliki fungsi ilmiah. Gustav Eiffel membangun menara ini setelah membangun banyak jembatan, dan Patung Liberty di New York. Menara disusun dari besi dengan kadar karbon yang lebih tinggi, yang dibentuk dari besi dan karat :). Besi dibentuk menjadi lempeng, yang kemudian disambung saat masih panas di tempat, dan dibiarkan mendingin sambil berkait. Tinggi menara 324m. Dari ketinggian itu, aku sempat melihat seluruh Paris, dan sempat membuat resolusi, wkwkwkwk :). Oh ya, menara itu memiliki lekuk unik dan keren karena alasan teknis: untuk menahan tekanan angin. Eiffel sendiri menyatakan bahwa anginlah yang menjadi alasan membentuk menara seperti itu. Menara ini digunakan untuk pengukuran cuaca, eksperimen ilmiah, dan kemudian juga pemancar radio. Di bawah menara, dipahatkan nama2 ilmuwan Perancis, dari Lagrange, Laplace, Lavoisier, Ampère, Becquerel, Cauchy, Coulomb, Fourier, dan lain2.
Tokyo: Akihabara. Kaget baca nama ini di buku ini. Aku pikir ini cuman pasar elektronika terlengkap. Tapi memang ini yang disebut juga di buku ini. Kalau sebuah perangkat elektronik tak ditemukan di sini, mungkin dia tak ada di seluruh Jepang, dan pasti sulit dicari di seluruh dunia: dari perangkat tak berguna hingga perangkat mutakhir. Aku sendiri cuma lewat tempat gini, ‘gak berminat belanja :)
Taipei: Taipei 101. Konon ini gedung berpenghuni yang tertinggi di dunia. Berlokasi di tepi Pasifik, gedung ini akan rentan gempa dan taufan. Maka di bagian atas dipasanglah pendulum berwarna emas seberat 660 ton untuk mencegah gedung ini berayun atau bergetar. Tentu ini jadi pendulum terheboh di dunia, karena dapat dilihat publik, yaitu pada lantar 87 – 91. Bola pendulum dapat berayun setiap saat hingga 35cm, dan meredam getaran hingga 40%. Saat terjadi taufan, pendulum dapat berayun hingga 1.5m, dengan arah berlawanan dengan arah ayunan gedung. Bumper hidrolik akan menyerap energi dan mencegah ayunan yang terlalu besar. Periode ayun gedung ini adalah 7 detik, dan pendulum telah disetel untuk match pada periode ayun ini :).

Greenwich: Royal Observatory. Ini adalah titik 0° bujur bumi (GMT 0), yang terposisikan di Royal Observatory at Greenwich. Tak kebetulan, observatorium ini berdekatan dengan pelabuhan AL Inggris. Ini memungkinkan bakuan GMT digunakan untuk mengukur semua pelabuhan dan semua tempat di muka bumi di masa sebelum teknologi satelit, selama mereka memiliki pengukur waktu yang akurat. Oh ya, di taman yang luas dan rindang sekitar obversatorium ini, tinggal banyak tupai yang imut dan jinak :).

York: National Railway Museum. Banyak bagian dari York yang menarik. Jadi museum ini cuma aku lewati pintunya :D. Tempat ini berfungsi mereview teknologi kereta api dan sejarah Revolusi Industri. Loko dari Rocket yang berkecepatan 20 km/h hingga Flying Scotsman yang berkecepatan 160 km/h tersimpan di sini. Yang terakhir ini dapat menempuh jarak London – Edinburgh tanpa berhenti mengisi batubara.
Cambridge: Trinity College. Aku menghabiskan seharian di sekitaran college sekitar sungai Cam ini, tapi baru sadar bahwa di sana masih tumbuh sebatang pohon apel yang konon merupakan keturunan dari pohon apel yang konon mengilhami Isaac Newton :). Di sini memang aku malah sibuk menebak ruang kerja Newton, Rutherford, Dirac, hingga Hawking, dan tak sempat memikirkan apel :). Yang waktu itu cukup banyak pengantrinya adalah Wren Library.

London: The Science Museum. Mungkin aku perlu satu entry blog sendiri tentang ini — hutang dari tahun lalu. Di museum ini ditampilkan loko Rocket dari Stephenson yang asli, jam atom pertama, modul komando Apollo 10, Mesin Diferensial dari Babbage, dan banyak sekali obyek amat menarik lainnya. Lantai bawah disediakan untuk pameran2: dunia modern (misalnya Model DNA), dunia energi, dan penjelajahan angkasa. Dan, waktu aku ke tempat ini tahun lalu, ada pameran khusus tentang pengaruh peradaban (termasuk sains dan teknologi) Islam ke dalam dunia masa kini. Yang lama aku amati memang mesin diferensial. Di abad ke-19, Babbage berencana membuat mesin mekanis untuk melakukan komputasi numerik. Mesin ini belum selesai, karena ide Babbage sendiri selalu berubah, dan pemerintah tak mudah mengucurkan dana. Umumnya pengamat sejarah menyatakan bahwa teknologi masa itu belum mampu menyiapkan ribuan perangkat mekanis renik dengan presisi setinggi yang dibutuhkan Babbage. Namun di tahun 1990an museum mencoba menyusun mesin Babbage, dan ternyata mesin dengan 4000 komponen dengan berat 2.5 ton ini benar2 bekerja. Cara kerjanya? Dengan mengelaborasi deret. Misalnya, menghitung eksponensial dengan deret Taylor; namun tidak dihitung semua dari nilai inisial, melainkan dengan menghitung selisih dari selisih secara terus menerus. Ini asal nama mesin itu.

London: Natural History Museum. Berada di sebelah Science Museum. Tapi waktu itu aku terlalu sore keluar dari Science Museum, jadi Natural History Museum sudah tutup :). Padahal ini konon museum terbaik yang memaparkan dunia hayati, termasuk evolusi dari teori evolusi, dari teori yang sekedar memaparkan hipotesis Darwin, hingga penguatannya oleh eksplorasi atas DNA dan seterusnya.
Canada: Kutub Utara Magnetik. Haha, aku belum pernah ke sini. Tapi berminat sih. Posisinya di N 82° 42′ 0″ W 114° 24′ 0″. Ada yang mau ajak aku ke sana?
Crowdsource Bookshop
Akhir minggu lalu, kami mencoba melakukan fund-raising, mengumpulkan dana untuk biaya pengobatan Hamdani, seorang rekan yang menderita kanker getah bening. Hamdani saat ini dirawat di Gedung Teratai, RS Dharmais. Biarpun ada keringanan biaya, namun biaya untuk penyembuhan liver dan ginjal yang mulai rusak (harus dipulihkan sebelum kemoteapi), biaya beberapa siklus kemoterapi, dan biaya pemulihan, akan cukup besar; tak mungkin tertangani Dani yang kini justru diberhentikan oleh lembaga pendidikan tempat ia bekerja.
Fund-raising kami tak bisa dibilang berhasil baik. Maka di hari Senin kemarin, yang dipaksakan cuti oleh menteri entah apa, kami memanfaatkan waktu yang sempit untuk merancang sebuah online bookshop, tempat kami dapat mulai menjual buku2 baru atau bekas sebagai sarana penggalangan dana lebih lanjut. Membuat site cukup mudah. Engine wordpress, domain murah, hosting numpang, plugin eshop, dan desain visual. Lalu integrasi dan test. Maka tengah malam tadi, meluncurlah Online Bookshop kami: Darrowby.co.
Darrowby, tentu diambil dari nama kota rekaan James Herriot, dalam buku Seandainya Mereka Bisa Bicara (If Only They Could Talk). Buat aku, Darrowby identik dengan buku, tapi juga dengan penyembuhan, dengan kesetiakawanan yang tulus, dengan simpati dibalik sikap pura2 acuh, dengan optimisme dan semangat tak kunjung padam, dengan ketidakmampuan untuk patah semangat menghadapi tantangan.
Buku2 diambil dari koleksiku dulu. Keren-keren, tentu saja :). Dan pertama2 akan diambil dari yang kira2 akan menghasilkan rupiah terbesar. Memang buku2 ini tak dijual murah, karena kita sedang mengumpulkan dana. 100% hasilnya akan diserahkan untuk pengobatan Hamdani. Tapi kualitas bukunya takkan mengecewakan pembeli juga. Setelah test hari ini (baru dengan beberapa buku), kami akan terus menambahkan buku-buku berbagai bahasa dan berbagai level harga ke Darrowby.
Mas Harry Sufehmi langsung menawarkan buku2 koleksinya juga. Bukan surprise, buat mereka yang mengenal sosok Mas Harry :). Sekaligus Mas Harry juga melontarkan istilah ini: crowdsource bookstore :). Community-based bookstore, haha. OK, ini memang menarik. Moga akan makin banyak yang mau membeli buku, menyumbang buku, dan lain-lain. Kalau belum ada buku yang cocok untuk dibeli, kami juga bisa mengirimkan nomor rekening agar kita tetap dapat menyumbang tanpa membeli.
Allâh tak akan mengubah keadaanmu, kecuali kamu menggerakkan diri untuk melakukan perubahan.
Para Influencer
Yang menarik dari Kindle adalah bahwa setiap saat kita meminati buku baru (pun baru terbit), kita bisa langsung beli, dan langsung baca di piranti yang kini jauh terasa sebagai buku ini (alih2 perangkat elektronik). Memang membahayakan sih, dari sisi kemudahan belanja :). Mulai agak mengganggu, bahwa setiap saat ide dan kepenasaranan (curiosity) kita melompat, kita mengambil satu buku lagi :). Weekend ini aku sebenarnya hampir menamatkan “Quantum Man” dari Lawrence Krauss. Buku ini berdongeng tentang Richard Feynman. Alih2 menceritakan sisi manusiawi Feynman yang sudah sangat banyak ditulis sana sini, buku ini lebih berfokus ke sisi keilmuwanan Feynman, biarpun bentuknya tetap dongeng buat kaum awam. Di account Facebook-ku bisa diintip beberapa cuplikan buku itu.
Sayangnya, Amazon mendadak mengiming2i buku menarik lagi: Everything is Obvious, Once You Know The Answer. Penulisnya Duncan J Watts, seorang fisikawan yang melakukan riset di engineering, dan akhirnya berprofesi sebagai periset sosiologi. Dia mengawali bukunya dengan berkisah tentang beberapa kasus di mana orang2 penting, seperti penulis John Gribbin, serta senator AS, menganggap riset sosiologi bukan hal yang penting, misalnya sepenting riset fisika. Riset di bidang fisika tentu amat penting. Namun agak lucu kalau menganggap riset sosial itu tak penting dengan alasan — menurut mereka — bahwa hasilnya bisa ditebak dengan logika biasa, tanpa harus melakukan riset yang luas. Di dekade kedua abad ke-21 ini, dengan analisis yang cukup banyak mengenai jejaring sosial, kita mulai tahu bahwa banyak hal yang lebih menarik di riset ilmu sosial, selain sekedar memainkan urusan game theory yang banyak berfokus di urusan insentif, motivasi, dan nilai2. Tapi banyak yang tetap menganggap, penelitian fisika memberikan hasil yang luar biasa, dan menembus batas pikiran sederhana (common sense), sementara ilmu sosial tidak menghasilkan hal2 di luar itu. Masalahnya memang, kalau ilmu sosial itu sederhana, mengapa masalah sosial tak mudah dipecahkan? Soalnya bukan pada resource yang akan terlalu besar untuk memecahkan masalah itu, tetapi benar2 pada ketidaktrampilan kita memahami manusia, sebagai individu maupun masyarakat :D.

Penulis lalu memberikan contoh2 kecil. Paul Lazarsfeld pernah membuat riset pada para prajurit di Perang Dunia II. Ia memaparkan beberapa hasil. Misalnya, penemuan nomor 2: “Pemuda dari pedesaan umumnya memiliki semangat lebih baik dalam ketentaraan daripada pemuda perkotaan.” Reaksi kita? Tentu saja. Itu masuk akal. Pemuda desa lebih terbiasa dengan lingkungan yang keras, kerja keras, gotong royong, dll. Tapi lalu Lazarfeld mengatakan, “Ups. salah baca. Maksudnya, pemuda dari perkotaan umumnya memiliki semangat lebih baik.” Reaksi kita? Haha. OK. Tetap bisa dipahami. Pemuda kota lebih biasa hidup bersesakan, kerja dengan birokrasi panjang yang tidak pasti, penuh tata cara yang mudah berubah, dll. Semuanya masuk akal. Tapi, jika kedua hasil yang berlawanan itu masuk akal, maka ada yang salah dengan urusan “masuk akal” itu: itu masuk akal hanya setelah dijelaskan hasilnya. Yang kita sebut sebagai akal sehat, common sense, sebenarnya tak mampu menyusun prediksi; selain hanya menyusun alasan atas sesuatu yang diketahui hasilnya.
Atau, mengikuti Stephen Hawking di buku satunya, The Grand Design, akal sehat hanyalah kesimpulan dari kumpulan pengalaman pribadi yang terjadi pada masa hidup yang pendek, dan bukan kebijakan yang diperoleh sebagai hasil penelitian yang nyata atas perilaku semesta. Tapi, hanya berbekal akal sehat dari pengalaman singkat ini, banyak keputusan2 diambil. Para politisi yang mencoba mengatasi masalah kemiskinan merasa telah paham mengapa manusia bisa miskin. Penyusun marketing plan menyusun kampanye dengan anggapan bahwa mereka tahu apa yang diinginkan target pasar, dan bagaimana membuat target itu tertarik lagi. Penyusun kebijakan atas kualitas pendidikan, kesehatan, dll, merasa paham atas efek skema insentif. Dan dalam skala lebih kecil, 90% orang Amerika merasa berkecakapan di atas rata2 dalam mengemudi, 25% merasa masuk 1% orang terbaik dalam kepemimpinan, dll, dll.
Watts pun mulai menceritakan sebuah riset. Risetnya mengharuskan mahasiswa meminta tempat duduk di kereta bawah tanah di New York :). Rinciannya agak panjang. Tapi dari sini, kita menangkap kompleksitas hubungan antar manusia, kekuatan (atau keterbatasan kekuatan) autoritas, kekuatan konsensus cair yang bahkan sulit ditembus oleh para peneliti, dan hal2 menarik lain. Lalu dibahaslah soal pengambilan keputusan pada manusia, yang selalu berujung pada soal nilai2 personal (dan sosial). Dan tentu soal konteks. Contoh kasus: dua orang yang tak saling kenal diberi $100. Salah satu (P1) harus membagi dua (tak harus sama besar), dan satunya (P2) memutuskan apakah ia akan menyetujui pembagian itu. Jika P2 tak setuju, uang $100 ditarik lagi, dan keduanya tak memperoleh apa2. Menarik. Sebagian besar P1 membagi sama rata: 50:50, namun tentu banyak juga yang mengambil kesempatan dengan mengambil lebih, misalnya 70:30. Asumsinya P2 akan lebih baik menerima 30 daripada tak menerima apa2. Tapi ada yang sedemikian bakhilnya untuk mengajukan 90:10. Umumnya pembagian yang amat tidak adil ditolak P2. Ahli ekonomi tradisional (yang berfokus pada insentif) akan terkejut mendapati bahwa P2 memilih tak memperoleh apa2 daripada “dimanfaatkan” :). Tetapi memang keadilan adalah nilai universal yang dipuja banyak orang, walau dengan pengorbanan uang. Level ketidakadilan di mana P2 masih mau menerima amat berbeda dari satu etnik ke etnik lainnya. Suku tertentu di Papua malah tak mau menerima pembagian 50:50 — P2 hanya mau nilai yang lebih daripada P1. Unik. Tak universal. Nilai2 antar etnik, antar kelompok, antar budaya, begitu beragamnya, dan cukup banyak yang saling bertentangan; dengan masing2 menganggap kumpulan nilai2 lainnya gila dan tak masuk akal. Tak heran jika dalam mensikapi yang terjadi di budaya lain, kita sering cuma bilang: bangsa sinting — semua logikanya terbalik. Pandangan yang tampak logis, biarpun cuma menunjukkan bahwa kita sama sekali tak memiliki kearifan.
Kesalahan pertama dalam meramalkan (dan mengubah) perilaku adalah bahwa kita mengira manusia digerakkan faktor2 seperti insentif, motivasi, dan nilai2. Sementara, banyak hal2 lain yang justru sengaja atau tidak turut mempengaruhi keputusan akhir: cara berkomunikasi (bentuk komunikasi, pilihan kata, latar musik, bentuk font, warna), atau hal2 lain yang cukup banyak. Kedua, pemodelan kita atas perilaku kolektif lebih buruk lagi. Ada berbagai warna interaksi internal di dalam kelompok yang masing2 pagarnya tak mesti tegas: alur kuasa dan pengetahuan sungguh cair, dan tak mudah diramalkan hanya dengan melihat elemen2nya. Kita cenderung menyederhanakan dengan menganggap kelompok sebagai individu, bernama crowd, market, karyawan, dll. Atau memilih representasi tak jelas seperti pemimpin, influencer, dll. Baru akhir2 ini dipahami bahwa penyederhanaan seperti itu bukan saja kurang tepat, tapi sungguh2 meleset.
Sungguh bacaan menarik di sebuah weekend. Untuk jadi lebih bijak di minggu-minggu ke depan.
Connected
Sebagai seorang pemula, aku memang melakukan banyak kesalahan di Twitter. Salah satunya adalah sering lupa melakukan follow-back. Sambil mengikuti kuliah bersama Goenawan Mohamad dan Roby Muhamad di Komunitas Salihara, aku coba cari account Twitter Oom/Mas/Aa Roby. Tweetnya semenarik kuliahnya. Ternyata beliau sudah follow aku, entah dari tahun berapa, dan aku belum follow back. Secara professional, ini durhaka :). Jadi buru2 aku follow account @robymuhamad.
Roby seorang fisikawan yang memperdalam studi ke sosiologi. Aku tak menyebut ini “beralih” atau “tersesat” :). Semesta memiliki kompleksitas yang berkembang. Matematika mewujud (melalui string atau bukan) ke fisika, lalu dalam jumlah besar berinteraksi dan membentuk hukum turunan yang baru (kuantum, kalor, kosmologi), hingga evolusi yang memunculkan makhluk hidup, manusia, masyarakat, budaya, dst. Tentu kita ingat kekaguman Dawkins pada replikasi meme yang serupa seplikasi gene: apa pun obyeknya, itu sekedar matematika replikasi. Itu satu hukum yang berentet saja. Nah, yang diperdalam Roby, a.l. adalah jejaring sosial. Mungkin Roby adalah amat sedikit orang Indonesia yang melakukan research secara professional dan akademis untuk memahami jejaring sosial.
Di Salihara, Roby mulai bercerita tentang bagaimana influence mengalir di masyarakat. Ia tak mengawali dengan 2.0, Twitter, dll seperti presenter hobbyist seperti kita. Ia memulai dengan kasus semacam kesurupan massal: bagaimana di Afrika sejumlah besar murid sebuah sekolah bisa tertawa bersama, tanpa bisa dihentikan, selama beberapa minggu. Kacau, sekolah dibubarkan, murid dipulangkan. Pulangnya murid2 itu menimbulkan masalah baru. Di kota2 lain tempat murid2 itu dipulangkan, terjadi penularan kembali, sehingga wabah tawa justru menyebar ke banyak kota. Meme yang menakutkan :).
Roby sempat menyebut bahwa soal2 ini diulas dalam buku berjudul Connected. Judul yang tak asing. Aku sendiri punya satu buku berjudul Connected, tulisan Daniel Altman. Connected 24 Hours in the Global Economy. Tapi pasti ini buku yang berbeda. Di rumah, aku langsung menjelajah ke Amazon.co.uk, dan menemukan buku Connected tulisan Nicholas Christakis & James Fowler. Subjudulnya menggambarkan soal jejaring sosial. Bahkan buku ini punya account Twitter tersendiri: @connected_book.
Jejaring sosial, kata buku ini, adalah kumpulan manusia; tetapi yang lebih penting adalah bahwa ia memiliki koneksi, keterhubungan, yang membuat jejaring lebih berarti daripada sekedar kumpulan individu. Jejaring jadi mampu melakukan hal-hal yang tak mampu dilakukan orang-orang itu secara tersendiri.
Berikut disebutkan beberapa hal menarik dalam jejaring:
- Kita membentung jejaring kita
- Jejaring membentuk kita
- Teman-teman mempengaruhi kita
- Teman-teman dari teman-teman dari teman-teman kita mempengaruhi kita
- Jejaring memiliki kehidupan tersendiri
- Antar setiap manusia, terdapat hanya 6 derajat pemisahan
- Namun antar teman, hanya terdapat 3 level pertemanan yang menimbulkan pengaruh.
Khusus soal 6 derajat pemisahan, disebutkan bahwa hal ini telah diteliti di US beberapa dekade yang lalu. Namun, menghadapi kecurigaan bahwa angka sekecil 6 hanya dimungkinkan oleh kedekatan geografis, etnik, budaya, dll; maka sekelompok ilmuwan melakukan penelitian dengan jangkauan internasional. Salah satu peneliti ini adalah Roby sendiri.
Lalu sang buku meneruskan bagaimana jejaring mempengaruhi kita dalam menentukan kebahagiaan, mencari pasangan hidup, merawat kesehatan, hingga berjuang demi demokrasi. Beberapa hal yang juga diulas dalam buku ini:
- Emosi menyebar dari satu manusia ke manusia lain melalui ekspresi wajah. (Emosi pada A -> Ekspresi pada A -> Ekspresi pada B -> Emosi pada B)
- Kita akan cenderung berbahagia, tercukupi, dan merasa positif, jika dikelilingi orang yang berbahagia.
- Kesepian adalah sebab dan akibat dari keterputusan hubungan
- Jika kawan dari kawan dari kawan kita bertambah berat badannya, kita cenderung akan menambah berat badan, walaupun kita tak mengenal orang (atau orang-orang) itu.
- Keterhubungan bisa berpengaruh positif (menularkan kebahagiaan) atau negatif (menularkan keinginan bunuh diri)
Aku belum menyelesaikan buku ini juga. Dibaca bersamaan dengan buku2 lain, sebagai bagian dari keinginan untuk terus mempelajari fitrah manusia: bagaimana mereka diciptakan, bagaimana mereka berproses, bagaimana mereka dapat mencapai yang terbaik untuk masa depannya. Twitter terlalu keren untuk digunakan becanda tanpa tujuan.
Oh ya, buku ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia: http://tlk.lv/1rr
Darrowby
Entah mengapa bis itu mendadak terguncang di jalan rata itu. Aku mendapati diriku terjaga di antara bukit-bukit Yorkshire Dales yang nyaris seluruhnya berwarna variasi hijau dari padang rumput yang luas dan pohon-pohon musim semi. Jalan berkelok-kelok di antara ladang dan peternakan dengan kuda, lembu, dan domba. Sinar matahari masih berusaha menembus awan kelabu saat bis memasuki sebuah kota kecil. Tak sampai semenit, bis sudah berhenti di samping menara lonceng kecil (townclock). Lahan luas marketplace berfungsi jadi lahan parkir. Di sampingnya toko-toko berjajar berwarna-warni. Toko koperasi menarik perhatianku dan membuatku tersenyum tak sengaja. Kami menapak turun, dan menjejakkan kaki di Darrowby.

Blog ini amat sering menyebut kota ini: Thirsk, di Yorkshire. Seorang dokter hewan yang juga penulis handal, bernama samaran James Herriot, memperkenalkan kota dalam buku-bukunya ini ke seluruh dunia sebagai Darrowby. Adalah buku perdananya, Seandainya Mereka Bisa Bicara, yang membawaku ke kota ini. Seorang fotografer dari The Northern Echo, Richard, menungguku di bawah lonceng, dan mengambil fotoku bersama buku kenangan itu. Lalu kami menapaktilasi langkah Herriot mendatangi rumah Skeldale House. Richard meninggalkan kami di sana.

Tak seperti Herriot, aku tak perlu menekan bel dan mendengarkan lima ekor anjing menyalak keras. Margaret sudah di depan rumah dan menyambut ramah. Kami becanda dengan renyah dan asyiknya, sebelum akhirnya ia menyuruh kami membeli tiket di rumah sebelah. “Follow me, Luv,” ajaknya. Lalu dengan aksen Yorkshirenya ia menceritakan apa yang terjadi setelah buku2 itu. Anak-anak James masih di Thirsk: Jim jadi dokter hewan dan Rosie jadi dokter. Rumah itu dijadikan museum sejak 1995. Juga Margaret menanyai bagaimana orang dari ujung dunia yang lain ini bisa menemukan Skeldale House. Haha, keajaiban Internet.

Akhirnya aku diperkenankan menekan bel. Rrrrrring. Tetap tak ada anjing menyalak. Kami harus membuka pintu sendiri. Di dalam rumah, ruang-ruang dipelihara seperti aslinya: ruang makan resmi, ruang keluarga, ruang obat2an, ruang operasi, ruang sarapan, dan gang ke ruang-ruang di belakang. Terbayang Tristan mengendarai sepeda di gang kecil itu. Semuanya tampak seperti mimpi yang mewujud keluar dari buku yang kubaca dan kubaca lagi bertahun-tahun. Tak ada montir tua menunggu di belakang. Tapi aku boleh mengendarai Austin tua milik James, asal tak melebihi kecepatan 0 mph.


Di bagian belakang, sebuah ruangan disiapkan untuk mengenal James lebih pribadi. Ini sering aku blog juga. Nama asli James Herriot adalah James Alfred Wight, dipanggil Alf, lahir di Sunderland tapi tumbuh di Glasgow. Ortunya memilih Glasgow untuk membangun keluarga dan mendidik anak dengan budaya yang baik. Alf menyukai musik klasik dan gemar menulis buku harian. Kagum dan terpukau aku membaca buku harian Alf muda yang diisi setiap hari. Namun seorang profesor datang ke sekolahnya dan membuatnya mendadak ingin mendalami sains dan menjadi dokter hewan. Ia berkuliah di Glasgow, tempat para mahasiswa tak serius berkuliah. Tapi akhirnya ia lulus, sempat bekerja di Inggris Utara, lalu pindah ke Yorkshire, pada seorang dokter hewan bernama Donald Sinclair di kota Thirsk. Yorkshire, lingkungannya, penduduknya, tantangannya, membuat Alf betah di kota ini, hingga menikah dan membesarkan anak2nya. Serial buku Herriot dijamin membuat kita memahami mengapa ia tak ingin pergi dari sini.

Ia menikmati hidupnya. Masih menikmati musik klasik, menulis buku harian, mendidik anak-anaknya. Tapi kerja keras tak selalu menghasilkan uang. Tabungannya hanya £20 saja. Ia jadi punya ide mengemas buku hariannya jadi buku. Joan, istrinya, berkomentar: tak ada orang yang mulai menulis pada umur segini. Tapi ia menulis, dan setelah beberapa tahun ditolak, akhirnya bukunya terbit dan sukses di kedua sisi Atlantik, lalu diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.


Menembus ke ruang sebelah, yang sebenarnya sudah bagian dari rumah tetangga, sebuah pesawat telefon hitam berdering. Serasa mendengar hardikan Donald a.k.a. Siegfried, “Pick up the phone!” aku mengangkat telefon itu. Langsung terdengar suara petani di ujung sana, menyerocos dengan dialek entah apa, mengeluhkan kondisi ternaknya, dan langsung membanting telefonnya. Kuletakkan telefon perlahan. Membeli topi biru, kami berjalan ke sekitar Thirsk. Marketplace dikelilingi toko yang ramai: toko-toko buku, kafe, toko manisan (hey, mungkin ini tempat si kucing Alfred yang harus dioperasi mengeluarkan bulu lebatnya dari dalam lambung itu), bank-bank. Terus ke luar, sebuah jembatan membentang di atas sungai. Sungai Darrow, kata James di bukunya. Di baliknya: rumah-rumah dari batu bata merah; dan diseberangnya: kembali lembah-lembah dan bukit-bukit dengan hewan-hewan ternak yang dilepas di atas padang rumput luas.


Hidup tak tampak rumit di sini. Sekilas aku jadi membayangkan spiral besar yang sedang kita bangun di Indonesia, menumbuhkan kreasi digital, meningkatkan kebutuhan akan akses digital, menjadikan itu alasan untuk berinvestasi membesarkan dan menganekaragamkan pipa-pipa digital, lalu mengisinya dengan menumbuhkan kreasi digital lagi. Sungguh hidup yang jauh berbeda. Tapi seperti juga James, aku memilih untuk menjalani setiap bentuk dan variasi kehidupan, menikmatinya setiap keunikannya dengan rasa sayang, menjelajahi setiap rasa penasaran kita, dan terus rajin menulis ;). “Jump in,” teriak sopir bus ke arah Liverpool itu. Kami lompat masuk. Kembali ke York.
Buku Yang Mempengaruhi Hidupmu
Pun pada saat semua perangkat elektronik dimatikan, dorongan untuk menulis blog sering tak terhentikan. Maka buku kecil, amplop bekas, dan sering juga kantong penampung (maaf) muntah aku jadikan sasaran menulis. Tulisan di bawah ditulis bukan dalam rangka hari buku, tapi dalam rangka mengisi waktu di angkasa antara Kualalumpur dan Jakarta.

Eyjafjallajökull menunda kunjunganku ke Thirsk. Aku khawatir Dan Howlett dengan lugunya masih menungguiku di bawah lonceng di tengah pasar Thirsk, berharap aku datang dengan coach pukul 10.00 dari York. Dia mewantiwantiku membawa buku James Herriot “Seandainya Mereka Bisa Bicara” terjemahan Indonesia yang sudah lusuh sejak aku kecil itu. Aku beruntung bahwa buku itu termasuk yang terselamatkan waktu Papap memindahkan buku2 dari Malang ke Jakarta tahun 2000 lalu (dan jadi kalimat pertama di entry pertama blog ini). Nanti aku cerita lebih jauh tentang Darrowby lagi setelah aku menjejakkan kaki di sana. Sementara itu, pikiranku melayang ke buku2 lain, dari Papap, yang aku bacai juga waktu kecil.
Ada buku terjemahan berjudul “Buku Buku yang Mengubah Dunia” dengan cover coklat. Di dalamnya ada buku-buku nonfiksi yang ditulis setelah abad pertengahan. Ada Principia Mathematica, Relativity, Das Kapital, Mein Kampf, dll; tetapi tiap judulnya diterjemahkan ke bahasa Indonesia: Sang Pangeran, Modal, Perjuanganku, dll. Sekian belas tahun kemudian, aku tak lagi ingat buku apa yang disebutkan di sana, dan apa yang tidak. Salah satu alasan adalah bahwa buku ini memilih dan menerjemahkan hanya sebagian bab (sebagian buku) dari buku aslinya. Jadi ada buku yang tak masuk di bagian terjemahan. Tapi tercakup dalam kata pengantar. Jadi aku tak ingat apakah beberapa buku ada dibahas di sana, atau cuma disebut di kata pengantar. Dari buku ajaib itu, aku mulai mengenal cara2 tokoh2 dunia hidup, berpikir, dan mengembangkan gagasan: Newton, Einstein, Marx, Macchiaveli, Darwin, Freud, Hitler. Dari buku itu aku belajar bahwa komunisme bukanlah ajaran anti tuhan semata, bahwa Macchiaveli lebih bergaya satiris daripada macchiavelist seperti Marx menolak digolongkan sebagai marxist, bahwa Einstein sibuk dengan “teori medan jang dipersatukan” sampai akhir hayatnya. Baru sekian tahun kemudian aku mulai membacai teks2 asli dari penulis2 itu. Bukan saja buku yang mengubah dunia, tapi juga buku yang membuatku mulai berpikir tentang dunia selalu dari berbagai sudut pandang yang secara lincah berubah.
Di luar buku2 itu, aku jadi membayangkan buku2 apa yang mempengaruhi, menginspirasi, dan memberi ide2 kepada kita, sampai mungkin juga menentukan nilai2 yang kita anut dan kita jalani dalam hidup kita. Ini beberapa contoh buku2 yang saat ini aku pikir telah banyak mempengaruhi aku (aku pilih dari buku fiksi dan non fiksi yang diterbitkan di abad-20 ke atas):
- If Only They Could Talk, James Herriot
- Catatan Harian Seorang Demonstran, Soe Hok Gie
- Le Petit Prince, Antoine de Saint-Exupéry
- A Brief History of Time, Stephen Hawking
- The Third Force: The Psychology of Abraham Maslow, Frank Goble
- Menjelajah Cakrawala, Soedjatmoko
- The C Programming Language, Brian Kernighan & Dennis Ritchie
- The Myth of Sisyphus, Albert Camus
- I am a Strange Loop, Douglas Hofstadter
- Unbearable Lightness of Being, Milan Kundera
Pasti masih banyak. Dan masih banyak yang mungkin lebih berpengaruh daripada buku2 di atas. Tapi baru ini yang terpikirkan, di angkasa biru, dengan pikiran masih beralih antara Darrowby dan deretan trolley di KL LCCT tempat para turis telantar dan harus menahan malu menukar2 voucher makan dengan uang entah untuk apa.
Hey, buat kamu sendiri, buku-buku apa yang kamu anggap paling berpengaruh dalam hidupmu? Tuliskan buku-buku fiksi atau nonfiksi, yang ditulis manusia di abad XX ke atas, dan mengapa kamu anggap itu berpengaruh dalam hidupmu.
Tulisan di kertas kusut itu berakhir, dan aku tak sempat mendigitalkannya. Tapi karena hari ini adalah Hari Buku, maka aku sempatkan mengetik cepat, dan mempublishnya di blogku. Selamat Hari Buku!



















