Masih Membahas Blog?

Blog ini sudah terlalu banyak membahas soal blog :). Membosankan. Sampai ada blog Anti Koen yang mengkritik kampanye blog yang dinilai sudah berlebihan itu. Padahal, sementara itu, aku masih berpikir untuk meneruskan kampanye Blog. Blog 2.0 kalaw perlu :). Ya, yang ini juga:

Héhé :). Buat yang minta rekaman acara e-Lifestyle ini: maaf ya. Aku juga nggak minta copy-nya kok. Ya, narcissism itu lucu dan menarik. Cuman masih nggak aku banget :). Uh, lagian, suaraku Jawa bener #*@&!&#!.

OK. Tapi blog sudah hampir berusia 10 tahun. Bukan barang baru lagi. Hanya kalangan telmi yang belum kenal blog di kota2 besar (Jakarta, Bandung, Makassar). Memang kalangan telmi ini besar. Tapi mereka tak tertolong :). Kalau masih ada energi cukup untuk meneruskan ideologi blogisme (citizen journalism, demokrasi informasi, Koperasi 2.0), arahkan itu ke daerah yang belum terjangkau: di luar kota besar, di luar Jawa. Pembudayaan blog melalui media mainstream (ya, TV harus disebut lagi, tapi juga surat kabar) masih perlu dilakukan. Blog bukan cuman trend: ini perangkat ideologi demokrasi informasi.

Kenapa tidak mendidik untuk berkreasi online? Tentu, ini juga. Tapi lebih mudah memulai dengan memberanikan generasi muda tampil online melalui blog. Menulis. Lalu berpikir: apa lagi setelah menulis. Mulailah mereka menampilkan karya seni, fotografi, animasi, dll; secara online — sesuatu yang mudah sekali, kalau hal sesederhana blog saja sudah biasa bagi mereka.

Atau kenapa tidak mendidik untuk berani menulis buku? Haha. Mudah2an jawabannya nggak bikin kita marah. Kita bangsa mediocre :). (Tak semua sih — aku harus menggambar kurva Gauss dulu). Gak bisa istiqomah dalam berjuang. Menulis bisa. Penuh semangat. Tapi menulis panjang sedikit, mulai keteteran. Mulai tak sinkron. Mulai malas. Tetralogi Laskar Pelangi yang ditulis penulis yang bagus pun menampilkan gejala ini (Selamat Ultah, Andrea. Makin sukses ya!). Apalagi penulis yang biasa2. OK, daripada semangat menulis itu sebagian besar padam, kita awali dulu yang mudah buat kita: menampilkan ide singkat tiga-empat paragraf — lain hari bisa lebih bagus dan tertata rapi.

Di blog, kita bisa mengajarkan rekan kita untuk berekspresi sebagai dirinya sendiri. Tak perlu terpagari keketatan ilmiah macam wiki, tak perlu takut disemprit OOT di mail list. Dan juga mulai belajar bertanggung jawab atas pendapatnya. Mulai berani berbeda pendapat secara terbuka dan elegan. Mulai saling mengarifi. Mulai meninggalkan kata “toleransi” dan menggantinya dengan “empati” :). Mulai sadar bahwa demokrasi bukanlah hak untuk berpendapat, tetapi kearifan untuk berempati pada pendapat orang lain. Ini, belum mungkin jalan secara luas dan cepat di media mainstream, di buku tercetak, pun di media online seperti mail list.

Di e-Lifestyle (yang sedikit banyak sudah diedit itu), Mas Ferly sempat menanyakan soal Kode Etik. Sekilas berpikir, aku langsung mengarahkan ke ide masyarakat madani, dimana kearifan dari interaksi-interaksi menyusun tradisi yang baik, dan dengan demikian menyusun gaya hidup yang baik. Jadi kode etik yang tumbuh dari bawah melalui tradisi, bukan yang tertulis — apalagi yang harus diapprove oleh dewan atau tokoh tertentu.

Terakhir …. masih perlukah Pesta Blogger? Mungkin. Tapi aku rasa harus betul2 berbeda dari tahun lalu. Harus kita akui, dunia blog tahun ini sudah sangat berbeda. Tak lucu kalau masih memiliki gaya tahun lalu.

Tambahan: Soal MetroTV itu … sebenernya Mas Budi Rahardjo yang merekomendasikan MetroTV untuk kontak aku. Dan karena Mas BR nggak pernah menolak direpoti olehku, aku jadi nggak bisa menolak ditunjuk Mas BR. e-Lifestyle itu bertemakan budaya blog. Tidak boleh ada promosi produk maupun corporate. Jadi nama Telkom tak boleh disebut. Juga logo Telkom di blogku disingkirkan kamera. It’s OK. Program2 CSR Telkom beneran juga biasanya tidak membawa2 nama Telkom.

Update 2: Tapi akhirnya aku pernah menolak permintaan tolong BR. Alkisah beliau menugasiku mereview paper. Tapi aku harus menyampaikan bahwa bidang profesiku adalah Communications (Network), bukan Computer. Ya, aku memang jadi anggota IEEE Computer, selain IEEE Communications. Tapi di Computer, aku cuman jadi pengamat. Aku yakin beliau paham. Kita sama2 nggak suka sama “pakar mengaku serba bisa” kan? :)

L’Internet Sera Le Genre Humain

Memang deployment Internet via community & content tidak bisa dilakukan atau didorong satu pihak saja. Jadi, kayak waktu2 yang lalu waktu di Bandung, di sini juga harus dilakukan sederetan kopdar untuk menyusun sinergi atau sekedar sharing ide. (Aku tetap merasa kopdar penting dan menarik, biarpun kita sedang mempromosikan cyberworld).

Selasa kemarin, bersilat(turrahim) lagi dengan Dagdigdug. Selain Pak Didi dan Paman Tyo, kali ini Presiden Enda turut menerjang. Tapi, barangkali karna sedang puasa, Enda kemarin nampak sopan dan formal sekali. Haha. Jangan2 ada klone Enda pula. Kami berdiskusi tentang peluang menyebarluaskan ideologi citizen journalism. Le monde va changer de base : nous ne sommes rien, soyons tout!

Sorenya, Fresh 2. Bertempat di Bina Nusantara, dengan tema Narcissism 2.0. Sempat berusaha menculik Chika Nadya sebagai contoh hidup (kalau terbawanya hidup2) dari narcissism on web. Apa daya upaya gagal :D. So, di sini berpresentasilah Pitra Satvika tentang lifestyle yang dinamainya narcissism online itu; yang padahal baik oleh Pak Nukman maupun oleh presentasi Catur Puji Waluyo di Fresh 1 lebih dinamai Conversation, sebagai karakteristik utama Web 2.0. Setelah buka bersama, nona rumah Retno Nindya Prastiwi mempresentasikan riset2 yang telah dilakukannya; menggunakan social networks, terutama yang banyak dicinta dan dicerca: Plurk. Berikutnya Kukuh TW mempresentasikan cara bernarsisis dengan digitally-designed t-shirt yang akan diimplemen kali pertama pada Pesta Blogger 2008 mendatang. Vishnu K Mahmud menyemangati bahwa pasar Internet Indonesia masih luas dan potensial. C’est la lutte finale; groupons nous et demain. L’Internet sera le genre humain.

Foto, dari Kania.

Kemarin, waktu tergunakan untuk merancang program kerja untuk 2009-2012. Secepat kilat, tapi akan direvisi dan diperdalam lagi. Dan hari ini aku memulai pagi dengan berdiskusi lagi tentang beberapa issue di dunia blog: perlu (atau tidaknya) kode etik, peluang sinergi dan kerjasama dunia blog, ugh, serem, sampai mainan2 lain yang dikembangkan dari ranah blog. Diskusi tertutup dilakukan di MetroTV. Speaker satunya adalah Bu Ventura Elisawati, dengan pengarah Ferly Junandar.

Hmm, sayangnya belum sempat ambil foto. Tapi ini foto aku di antara Mas Ferry dan Mas Deddy (Asisten Produser e-Lifestyle).

OK, setelah kopdar2, mari kerja lagi. La raison tonne en son cratère: c’est l’éruption de la fin.

Blog Si Jack

Agak umum kalau majalah atau jurnal yang berkait profesi atau komunitas memasang halaman umpan balik di halaman2 belakang. Sebuah majalah Mac memasang berbagai cara memanfaatkan produk Apple (selain untuk komputasi). Majalah2 lain kadang memasang halaman humor yang menohok profesi. IEEE Spectrum dan IEEE Computer juga, biarpun dalam bentuk agak serius :). Jurnal E&T dari IET memiliki pendekatan menarik. Beberapa bulan terakhir, setiap dua edisi sekali, ia menampilkan blog seorang abege bernama Jack.

Si Jack ini konon berusia 16 tahun, memiliki beberapa saudara, dan terutama memiliki ortu insinyur. Dan untuk menggambarkan penderitaan si Jack, kita ingatkan: kedua ortunya adalah insinyur. Simpati kami atasnya :). Tentu, sebagai fanatikus engineering, kedua ortu Jack agak berharap Jack juga terjerumus ke dunia engineering — hal yang cukup menakutkan Jack. Dan dengan kaitan ajaib semacam ini, jadilah blog si Jack umpan balik bagi pola pikir kaum engineer (yang seringkali merasa lebih pintar dan lebih benar dari spesies manusia lainnya).

Edisi pertama blog si Jack menggambarkan kekecewaan ortu Jack tentang profesi yang diminati Jack: matematika (uh, keren), biologi (ya, sains juga lah), musik (hmm, ok, untuk mengasah intelektualitas), dan ekonomi (haaaaaah!!!!!). Eh, yang di dalam kurung itu tanggapan ortu Jack. Begitulah, ortu Jack memang belum secendekia misalnya Prof MO Tjia — sedikit dari fisikawan Indonesia yang memiliki otoritas untuk bicara tentang mekanika kuantum, tapi justru yang mengakui bahwa ilmu semacam kimia, biologi, dan sejarah justru memiliki kompleksitas lebih dari fisika fundamental. Ketinggian budi yang … wow.

Edisi terakhir blog si Jack ini bikin aku terpaksa baca dua kali dan ketawa dua kali. Seperti abege 16 tahun lain, si Jack dalam masa pemberontakan untuk lepas dari pengaruh ortu. Dan amat kesal memahami bahwa dirinya belum bisa berlibur sendirian. Maka berliburlah ia ke sebuah jembatan di Perancis. Huh, kenapa jembatan? Ya, itu pilihan ortunya: mencari tempat yang dekat Futuroscope dan Millau, sambil bisa berbincang dengan sesama turis Inggris tentang kurangnya visi pemerintah pada bidang engineering. Sang ayah doyan bawa kawat ke mana2, bisa buat benerin flip-flop yang terbakar, bisa buat mengetatkan kabel akselerator (sampai mereka menemukan bengkel tempat bunga merah tumbuh di genangan oli, dan sang ayah selalu menjadikan pekerja bengkel sebagai teman bertengkar yang akhirnya jadi sahabat sebahasa).

Satu2nya hal yang menyenangkan si Jack adalah waktu ia berjumpa abege cewek di kolam renang. Dengan gaya berenang yang mengkhawatirkan, ia berhasil menarik perhatian Katie, dan mengajak mengobrol sambil minum orangina. Sayangnya Katie harus segera pergi bersama ortunya. Sambil si Jack bingung bagaimana cara mengajak Katie ketemu lagi, Katie berteriak bahwa mobil ortunya terkunci dari dalam. Jack punya kesempatan untuk mulai menyusun kata2. Tapi justru ayah si Jack memutuskan mengambil kawat kesayangannya dan dengan cepat membukakan kunci mobil keluarga Katie. Tindak kepahlawanan? Tidak bagi keluarga Katie yang justru menatap ngeri pada … ugh … tukang bongkar mobil atau rumah orang? Mereka segera pergi, dan Jack kehilangan Katie.

Bagaimana ortu Jack dulu ketemu? “Engineering convention,” kata si ibu: “Waktu itu OHP rusak …” Cerita terputus karena Alice pingin tahu apa itu OHP, dan langsung membawa kedua ortu ke nostalgia barang2 kuno: Dymo printer dll, yang semuanya bisa diperbaiki si ayah. So, liburan usai, Jack masih jomblo. Hasil ujian keluar sesuai harapan: ekonomi, matematika, musik, biologi. Mudah2an mendatangkan penghasilan yang cukup untuk membayar orang untuk memperbaiki proyektor.

‘Gak sabar menunggu entry blog Jack berikutnya.

Wagner dan Blogger

Tentu Wagner bukan cuma Siegfried dan Tristan. Ada rentetan panjang simfoni, mars, dan opera sepanjang hidup Richard Wagner. Tapi aku yang nggak pernah paham bahasa Jerman, dan baru akhir2 ini menyelidik rincian kisah2 opera dan simfoni Wagner, memang hanya bisa menikmati sebagian diantaranya: sebagian yang sungguh2 pas. Bagian yang lain, entah kenapa tak terasa akrab. Bahkan di catatan tentang Wagner yang dibuat tahun 2000 itu, opera yang cerlang ceria seperti Das Liebesverbot dan Rienzi nyaris tak disebut. Dan baru beberapa hari lalu aku baca pengakuan Wagner. Pernah ada masa saat ia menulis opera dengan berfokus pada reaksi publik: apa yang kira2 akan menarik publik, apa yang akan memukau penonton, apa yang bakal menimbulkan reaksi masyarakat. Dan contoh yang ia sebut adalah Die Feen dan dua opera di atas. Reaksi publik? Memang luar biasa. Dan nama Wagner mulai terangkat di Paris. Wagner menyebut opera2nya masa itu dengan opera berbasis pikiran. Aku sendiri akan menyebutnya opera marketing. Marketing yang sukses, btw.

Sejak Faust, lalu Fliegende Hollander, Wagner melakukan apa yang disebutnya opera berbasis intuisi. Pun sebelum ia mengakrabi filsafat Schopenhauer. Ia hanya mengikuti kata hatinya, yang tentu sudah dimatangkan oleh profesionalisme dan sekaligus nurani. Lalu Tannhauser. Ya, mulai masuk komposisi2 favoritku (vaforitku). Termasuk masterpiecenya: Der Ring Des Nibelungen. Dan tak harus Wagner. Beethoven misalnya. Simfoni kelima yang tertata rapi dengan motif, empat nada empat nada, kenapa justru bikin air mata menitik. Simfoni ketiga dan ketujuh, kenapa bikin kita kadang harus menarik nafas kagum.

Tentu, sebagai INTP, aku menjunjung rasionalitas. Tapi, seperti yang pasti rekan2 di milis2 zaman dulu pada bozan, aku akan selalu menyebutkan bahwa rasionalitas itu multilayer. Taktik singkat, taktik rada panjang (bukan strategi sebenernya, tapi kadang dikira demikian), hingga rasionalitas yang terasah dan tak harus verbal tetapi bisa menjadi guide secara intuitif. Dan dalam tahap ini, rasionalitas tak harus lagi berwujud kausalitas dangkal (idiom ini, entah kenapa, mengingatkan sama gaya tulisanku di SMA dulu); tapi bisa berupa intuisi — dan terkomunikasikan bukan secara verbal, tetapi menyeberang antar hati.

Musik Indonesia belum kacau balau. Kalau kita sempat menjelajah ranah indie, kita sering menemui pernik-pernih cerlang. Tapi tentu musik yang didentamkan dan dilengkingkan di media lebih sering musik berbau marketing juga. Dan tak terbatas di dunia seni, ini terbawa ke dunia kita juga: blogging. Haha, dunia blogging.

Ribuan blog Indonesia, dengan tumpukan intan, mutiara, permata, tapi di sisi lain juga tumpukan sampah marketing. Dan kitsch juga. Blog dengan title atau summary menggelitik yang membuat orang terpaksa berkunjung. Isi blog yang dipaksakan provokatif atau mengharukan, yang memaksa orang melink atau mengcomment. Dan tentu SEO! Yang ini bahkan ditulis bukan untuk menghamba kulit manusia, tetapi menghamba mesin (untuk tidak menyebut — karena tidak selalu — menghamba uang). Aku cukup sering jadi juri yang harus membacai banyak blog, dan harus amat sangat kesal membacai sampah yang dipurapurakan sebagai blog itu. Tapi kekesalan itu kecil, dibanding keceriaanku menemukan blog-blog beneran, yang inspiring, membuka mata, provokatif alami, mengharukan beneran. Dan bukan kata2 itu yang membedakan mana yang tulus mana yang kitsch. Ia terkomunikasikan tidak secara verbal.

Tapi apakah rasionalitas dangkal mesti dikutuk? Dibubarkan? Tentu tidak. Wagner pun pernah terjerumus ke kesalahan yang sama. Mudah2an suatu hari kita para blogger juga kembali menulis sesuai bisik nurani  — kejernihan dan kejailannya sekaligus. Dan kalau tidak, haha, dunia tetap indah dengan titik cahaya sekedarnya. Kilaunya mencerlangkan dunia.

Kita tutup malam dengan Gotterdämmerung. Der Ring itu ajaib. Secara ringkas ia menjelaskan kehancuran para penyusun semesta akibat kejahatan2 mereka sendiri. Diperlukan alih generasi yang menggantikan keserakahan dengan kasih sayang, dalam dua generasi. Tapi akhirnya kasih sayang pun harus hancur di Gotterdämmerung. Hihi. Indah ya (^_^)V

Tea Addict

Melalui agregator pribadi ra.me-ra.me, blog seorang Irfan Setiaputra memang rutin aku baca. Dan buat kita, nggak aneh seorang Country Manager sebuah perusahaan multinasional menulis blog. Memang sih, sebagai orang tenar, blognya jadi cuman setengah personal (dan setengah humas — haha). Tapi undangan di blognya luput aku baca. Hari2 setelah kepindahan ke Jakarta ini memang belum … belum serasa menjejak bumi lagi :). Hanya setelah ada undangan langsung, aku menyanggupi untuk datang menemui salah satu tokoh IT nasional ini. Dan hadirlah aku di Tea Addict, sebuah café di sekitar Sudirman.

Pak Irfan tampil kontras denganku. Beliau dengan warna putih, dan aku dengan hitam-hitam. Peserta bincang sore itu hanya belasan orang saja. Yang aku baru saja lihat a.l. Ivan Lanin. Sekaligus membuktikan kebenaran tesis Indra Pramana bahwa Ivan Lanin dan Kuncoro memang dua orang yang berbeda. Aku duduh bersebelahan Harry Sufehmi, dan Pak Irfan bersebelahan Mas Pepih Nugraha di depanku. Perbincangan lebih banyak ke soal aktual Cisco, organisasinya, arah bisnisnya, plus cerita2 menarik. Nggak usah ditulis di sini lah. Biar beliau menulis di blognya sendiri.

Di sesi diskusi, karena peserta masih pada sungkan, aku mengawali diskusi dengan strategi penetrasi budaya ke korporasi; misalnya Internet 2.0 ini. Kita tahu, level direksi dan level officer sangat2 paham tentang hal2 berkenaan dengan new marketing strategies ini. Tetapi level antara keduanya ini kadang jadi penghalang yang rigid, dan ini umum terjadi di mana pun. Pak Irfan menjawab cukup panjang, dengan berbagai formulasi strategi; termasuk skala perusahaan, hingga … ummm … pembersihan. Kemudian ganti kita diskusi tentang kondisi aktual bisnis infokom di Indonesia. Wise juga beliau ternyata (hehe). Tak hendak melakukan diskusi berdua saja, aku kemudian set silent; dan syukurnya rekan2 lain mulai ramai berdiskusi juga. Perbincangan panjang dan menarik itu diakhiri dengan sesi makan malam. Tentu dengan diskusi juga :).

Foto2 … haha, kebetulan aku lagi tak terlalu lincah menembaki orang2 hari2 ini. Ini diculik dari blog Pak Irfan:

Oh, terima kasih Pak Irfan atas sharing wawasannya yang OK nian. Terima kasih Cisco untuk kesempatannya.

Blogging 8.0

Tentu Internet 2.0 memang sudah terjadi (atau Internet 3.0 — tidak ada bedanya). Tentu wikinomics, prosumerity, etc, memang sudah terbukti. Namun bukan berarti blogging jadi harus jadi pusat perhatian. Blogging memang kegiatan Internet 2.0 yang paling mudah. Hanya dalam beberapa menit, seseorang yang baru mengenal Internet sudah dapat menjadi penerbit kelas dunia. Blogging dapat dimanfaatkan buat jadi pintu pertama buat mengenal Internet transaksional, sebelum orang awam mengenal keunikan-keunikan Internet lainnya. Namun blogging juga mirip SMS: cuman jadi alat bantu komunikasi. Blogging, Internet, komputer, tidak membuat hal baik jadi jelek atau hal jelek jadi baik: menulis kebodohan di Internet tidak membuatnya jadi benar atau keren.

Tapi kenapa menulis blog sampai 8 tahun (dan entah berapa macam blog)? Mengapa kemudian sibuk mempromosikan blog, menjahit kegiatan antar komunitas, meroadshowkan blog? Bukan karena blog itu istimewa; tetapi karena melihat potensi bahwa blog bisa jadi ruang belajar yang ampuh untuk transformasi budaya, penularan ilmu, dan pembudayaan infokom secara intens. Dan kalau “blogger” jadi label, jadi terekspose secara eksklusif, jadi dibikin terlalu bergaya dan centil, itu efek yang sebenarnya tak diharapkan (tapi bisa dijadikan ruang tersendiri untuk mereka yang memang centil dan suka bergaya). Dipikir2, ajaib juga kalau blogger pingin diekspos TV dan media konvensional lain :) — mirip kaum republiken yang meminta pengakuan dari maharaja :). Sejauh ini sih, yang terjadi adalah bahwa media konvensionallah yang bekepentingan mengekspos kegiatan blogging dan semacamnya, untuk membuat diri mereka sendiri updated.

Aku akan terus ngeblog, terus meneruskan kampanye blogging, dan terus mendukung kegiatan2 yang membuat dunia blog ramai; terutama membantu kegiatan blogging & komunitas blogging agar mulai memberdayakan masyarakat yang lebih luas.

Foto di sini adalah foto aku di Yogya kemarin: menyampaikan laporan & ide2 content dari Jawa Barat. Aku memulai dengan menyebutkan bahwa content & communities tak mungkin terpisahkan. Dengan Internet 2.0, content, feature, dan bahkan produk, akan dibentuk dan didefinisikan oleh communities. Yaw, mungkin ini presentasi terakhir dimana aku mewakili Jawa Barat. Tapi mudah2an bukan presentasi terakhir dimana aku mewakili kaum blogger.

Blogger Academy

Cerita tanggal 11 Juli.

Ini untuk pertama kalinya aku ke Yogya tanpa menyempatkan diri masuk ke kraton. Cuman sampai halaman depan. Dan sempat pamit ke Sultan (dalam bayangan): “Boss, kali ini abdi nggak sowan ya. Rada sibuk neh.”  Detik2 terakhir di Yogya dipakai buat berkeliling kampus UGM, dan langsung meluncur ke Bandara Adisucipto. Check in tanpa antri, aku dipersilahkan menunggu di Garuda lounge. Kelihatannya aku bukan blogger 100%: yang aku cari bukan akses Internet duluan, tapi kopi panas. Kopi diramu sendiri, dibawa ke sofa, kubanting badan, kusesap kopi … segar. Seorang Bapak masuk. Kutatap, rasa2 agak kenal, dan beliau menatap balik. Kuanggukkan kepala memberi salam, dan beliau membalas, sebelum akhirnya aku ingat: Ini Sri Sultan Hamengku Buwono X. Duh, yang punya negeri. Tapi tak lama aku di situ, dan memutuskan membuang waktu di Periplus. Belum 1 menit, sudah 3 buku kugenggam. Hicks, serakah itu tak baik. Jadi hanya 1 kubawa ke kasir: Wikinomics. Amex-ku ditolak. Hmm, memang tak keren Amex ini sejak dikelola Bank Danamon. Jadi pakai HSBC – diskon 10% :).

Di angkasa, buku itu tak terbaca juga. Penerbangannya singkat. Aku duduk dekat jendela kiri, jadi tak bisa melihat Merapi dari atas. Yang kelihatan malah keraton lagi, diapit alun2 utara dan alun2 selatan. Tapi tak lama, tampak sebuah gunung lagi. Nanti kita cari namanya deh :). Trus pantai utara. Trus Jakarta. Bergegas turun, nyaris balapan lagi sama … Sultan, hush. Istirahat di luar, dan membiarkan seorang bocah kecil yang gagah meluangkan waktunya untuk menyemir sepatuku. Damri mengantarku ke kawasan Slipi. Dan aku mulai sleepy. Turun dari bis, ojek mengangkatku menyelip di kawasan Palmerah yang padat, dan aku turun di kantor Kompas Gramedia.

Di kantin Sasana Budaya, Mas Pepih menyambut. Ada Mas Budi Putra dan Mas Adam Infokomputer juga. Es kapucino digelontorkan ke darah buat melawan kantuk. Dan waktu2 berikutnya, bergabung juga rekan2 blogger dari Asiablogging. Menjelang matahari tenggelam, semuanya beranjak, ke Ancol.

Di Ancol, kami melandas di Segarra. Pak Taufik Mihardja (Direktur Executive Kompas.com) dan Pak Budi Karya (Direktur Utama Jaya Ancol) sudah menanti, dikelilingi tim yang cukup lengkap. Tapi acaranya tak formal. Berbincang2 segitiga antara Ancol, Kompas, dan para blogger ABN. Materi perbincangan ditulis lain hari deh :). Intinya adalah ketertarikan pihak Jaya Ancol untuk memahami dan memainkan komunikasi melalui media online, baik media online maupun blogging (para blogger sendiri diundang oleh Kompas). Rincian menyusul. Capuccino kedua menyegarkan pikiran. Tapi perbincangan dihentikan untuk melihat atraksi Police Academy – aksi stuntmen dari Italia yang dikemas mengikuti film Police Academy. Rame sih, asal sebentar melupakan soal global warming dan makin langkanya BBM. Makan malam menyusul, dengan Mbak Mety (manager promosi Ancol) kita daulat sebagai pemberi rekomendasi. Yang beliau rekomendasikan a.l. crab, dan – yang aku ambil – lamb tongseng. Rame sih, asal sebentar melupakan soal kolesterol. Perbincangan informal diteruskan, sampai kemudian Fauzi Bowo, Gubernur DKI, mendadak bergabung. Tapi beliau didaulat bergabung berfoto saja :), bukan didaulat blogging :). Di situ diskusi ditutup dan diakhiri.

Diskusi2 tentang blogging memang selalu menarik, dan masih akan menarik. Benda satu ini membuat seorang user menjadi publisher, dengan cara yang mudah dan murah, dan langsung bisa saling mengait dengan jalinan informasi internasional. Salah satu misi kita memang mendorong agar demokrasi dan sosialisme informasi (sekaligus kapitalisasi Web 2.0) ini jalan. Jadi tidak pernah ada keinginan untuk mengeksklusifkan para blogger, atau memberi kemanjaan kepada para blogger. Sebaliknya, para blogger (dan user lain yang diajak menjadi blogger) diharap jadi punya power lebih untuk lebih dapat membantu masyarakat sekitarnya menikmati taraf hidup (ekonomi, pendidikan, dll) yang lebih baik. Siap, para blogger?

%d bloggers like this: