Fais du Judo

Siegfried

Pagi, Bandung Timur bertirai kabut tipis lagi. Das Rheingold diiringkan. Kenapa tidak? Pasti lucu kalau tirai itu diperciki nyanyi peri sungai Rhein. Tapi waktu badan harus dibawa menembus kabut, Rheingold diteruskan di dalam kepala … sampai ke Siegfried. Berhenti dan berulang di Prelude dari Act 2. Udah lama nggak dengar versi asli yang ada di luar kepala :).

Udah waktunya kayaknya untuk becermin dari Prelude itu. Becermin atas kegalauan yang timbul selalu dari hati kita sendiri, dari hati yang bebas, kuat, dan merdeka. Dari sang diri. Disharmoni laksana ombak menyapu hati terus menerus. Melemah perlahan untuk datang lebih kuat. Terus menerus. Tentangan datang terus menerus menjelma badai. Membuat hati makin kuat, makin menjadi.

Dan tatkala ombak menjadi sayup, hati justru tak tentram lagi. Ada apa di balik kesayupan? Hati hanya siap hadapi tantangan. Hanya siap mencercah terang di tengah gelap badai. Hanya siap mencipta teduh di tengah nyaring keriuhan badai.

Hidup dari satu kegalauan ke kegalauan lain. Menghadapi satu tantangan ke tantangan lain. Bahkan sebelum kita sadar siapa kita sesungguhnya. Nilai kemanusiaan justru terletak pada jiwa petualangnya. Bukan sekedar pejuang yang melakukan pembelaan; tapi dalam arti berani memilih tantangan. Saat di atas dada masih terdapat tanda tanya besar.

Takdir, menjadi permainan kalkulus semesta yang menarik. Tapi Kekuatan Tuhan adalah sesuatu yang terintegrasi dalam diri kita. Maka setiap detik, kita memutuskan dan mencipta keajaiban.

Kopi, Liver

Kopi lagi. Reuters dan 48 site lain yang tercatat di Google News, berkampanye lagi tentang kopi. Dan teh. Konon mereka bisa mengurangi resiko kerusahan hati serius, yang biasanya diakibatkan oleh alkohon, kelebihan berat, atau kebanyakan zat besi; tetapi tidak yang diakibatkan oleh virus. Penelitian ini konon dilakukan oleh “National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases and Social & Scientific Systems, Inc.” (carilah di mana itu), diterbitkan oleh “American Gastroenterological Association journal Gastroenterology,” (cari juga di mana itu), ditokohi oleh Dr Constance Ruhl.

“While it is too soon to encourage patients to increase their coffee and tea intake, the findings of our study potentially offer people at high-risk for developing chronic liver disease a practical way to decrease that risk,” kata Dr. Constance Ruhl. “In addition, we hope the findings will offer guidance to researchers who are studying liver disease progression.”

Penelitian konon dilakukan pada 9849 peserta selama 19 tahun. Para peserta ini minum setidaknya dua cangkir kopi atau teh per hari.

Banyak “konon”-nya. Tapi biar deh. Satu lagi kopi malam ini, trus bobo …

Blogthings


Your Blog Should Be Purple


You’re an expressive, offbeat blogger who tends to write about anything and everything.

You tend to set blogging trends, and you’re the most likely to write your own meme or survey.

You are a bit distant though. Your blog is all about you – not what anyone else has to say.

What Color Should Your Blog or Journal Be?

Your Hair Should Be Purple


Intense, thoughtful, and unconventional.

You’re always philosophizing and inspiring others with your insights.

What’s Your Funky Inner Hair Color?

Your Eyes Should Be Brown


Your eyes reflect: Depth and wisdom

What’s hidden behind your eyes: A tender heart

What Color Should Your Eyes Be?

Your Heart Is Pink


In relationships, you like to play innocent – even though you aren’t.

Each time you fall in love, it’s like falling for the first time.

Your flirting style: Coy

Your lucky first date: Picnic in the park

Your dream lover: Is both caring and dominant

What you bring to relationships: Romance

What Color Heart Do You Have?

Slow and Steady


Your friends see you as painstaking and fussy.

They see you as very cautious, extremely careful, a slow and steady plodder.

It’d really surprise them if you ever did something impulsively or on the spur of the moment.

They expect you to examine everything carefully from every angle and then usually decide against it.

How Do People See You?

Sebuah Sore di Bandung

Sore yang ganjil. Mendung menggelapi Bandung dari timur. Nggak membadai kayak kemarin. Hujan pun nggak. Tapi dari pagi mendung tak putus menyelimuti Bandung. Aku masih duduk di meja kerjaku. Kelelahan abis sesi panjang di Gegerkalong membahas penyusunan materi pelatihan untuk Sinergi Telkom dan Telkomsel, yang disusul menulis artikel singkat atas request Tanti. Masih ada beberapa assignment, a.l. untuk menyelesaikan materi Speedy untuk pelatihan minggu depan. Pikiran nggak jernih, entah kenapa. Tapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan ganjil. Justru sesuatu yang terasa akrab. Sesuatu yang terasa merupakan bagian dari diriku, sedang berusaha kembali. Aku nggak tahu dari mana datangnya. Dari sudut mana. Aku berhenti dulu menatap layar komputer ini. Aku mengalihkan perhatian ke majalah2 yang baru datang siang ini: sebiji Spectrum, sebiji Computer, sebiji IEEE Wireless. Sesuatu itu nggak menghilang, tapi juga nggak mewujud. Aku ingin mengabadikan waktu ini. Waktu yang tidak istimewa sama sekali. Juga pasti bukan waktu yang tercatat dalam sejarah mana pun. Tapi keistimewaan waktu bukanlah pada peristiwa. Setiap waktu itu unik. Setiap waktu itu tak berulang. Dan biarkan aku menikmati waktu ini.

Di luar mulai gelap. Adzan Maghrib sudah bergaung. Aku masih duduk di sini. Di dalam frame waktu ini. Bersenyum. Kepada Tuhanku. Memintanya untuk tidak berlaku sebagai tuhan tetapi sebagai sahabat.

Library Thing

Katalog di Library Thing barangkali memang belum sempurna. Tapi jelas sederhana dan mudah digunakan. Thanks to Harry, again :). Tapi bener nih: Kapan buku2 Indonesia bisa dimasukkan :).

Buat beberapa yang pernah nanya daftar buku via form pesan di site ini, sila kunjungi: http://www.librarything.com/catalog/koen.

Dan buat yang baru ke site ini, dan masih punya pertanyaan kenapa di zaman komputasi canggih macam gini orang masih doyan buku, aku tulis lagi bahwa bukan komputer akan menggantikan buku, tapi komputer akan masuk ke buku, seperti komputer sudah masuk ke telepon kita, ke dompet kita, ke jam tangan kita :).

Love

Bulan Juni 2005, aku pernah nulis tentang oxytocin. “Pada mamalia non-manusia, hormon ini dikaitkan dengan kelekatan sosial, termasuk fungsi fisiologis yang berkait dengan reproduksi. Lebih jelas, hormon ini membantu hewan mengatasi kecenderungan untuk berjauhan, dan memungkinkan hewan lain melakukan pendekatan.”

Walau urusannya ada kaitannya dengan reproduksi, oxytocin beda dengan urusan syahwat. Yang ini adalah tugas hormon semacam dopamine, neurohormon yang dihasilkan hipotalamus yang pada gilirannya akan memicu pelepasan testosteron, yang Anda hafal sebagai hormon dorongan seksual. Oxytocin adalah hormon yang mendorong kedekatan, kelekatan antar individual. Para antropologis dengan berani menyebutkan: ini adalah hormon cinta (love).

Oxytocin disusun juga di hipotalamis dan dimasukkan ke darah oleh pituitary (kelenjar di bawah otak). Pada cewek, oxytocin menstimulasi kontraksi kelahiran, penyusuan, dan kelekatan keibuan dengan anak yang dilahirkan. Pada baik cowok dan cewek, hormon ini meningkat selama kegiatan seksual dan melejit saat orgasme, dan juga memainkan peran dalam kelekatan pasangan — yang dipercaya sebagai adaptasi evolusioner untuk melindungi anak yang diproduksi sampai mampu berkembang.

Kalau cinta ternyata cuman permainan kimia dan biologi evolusioner, lalu apakah nilai kemanusiaan dan keindahannya berkurang? Tergantung apakah kita termasuk orang yang cenderung berbuat dosa karena terlalu takut berdosa :) :). OK, aku nggak akan bahas soal ini lebih jauh. Buat aku sih, setiap rincian bagaimana semesta digerakkan selalu membuat aku semakin merasa dekat dengan Tuhanku. Ia menyukai proses. Ia menyukai kita belajar. Ia mengajari kita dengan contoh. Dan Ia menunjukkan secara transparan (tapi memerlukan proses riset dan belajar yang panjang), bagaimana proses-Nya menjalankan semesta ini.

Aku tahu nggak semua orang suka yang aku tulis di weblog ini. Tanpa membedakan orang yang bisa melihat Tuhan atau yang tetap jadi atheis ignoramus, cinta selalu terasa indah. Dan setiap orang, sedikit banyak, membenci reduksi cinta jadi peristiwa kimia biasa. Tapi aku sekali dua bercerita tentang Tristan dan Isolde. Dalam kisah yang dijiwai tradisi panjang Celtic, dikisahkan bahwa mereka mengalami jatuh cinta yang akut karena ramuan ajaib (yup, ini Celtic yang sama dengan dukun Panoramix, cuman yang ini belum dikomikkan). Mereka pun sadar bahwa mereka saling sayang akibat ramuan kimia. Tapi toh mereka meneruskan untuk saling sayang. Sayang yang tulus, cinta tanpa kepalsuan, kasih yang mendalam, adalah anugerah dalam hidup; dan memeliharanya merupakan kebahagiaan tak terperi, tanpa peduli dari mana ia berasal.

Soal moral? Hmmm, ntar deh, kalau ada waktu, kita bahas soal game theory yach :).

Soal soulmate? One day :) :).

%d bloggers like this: