16 Juni 2005

Berbagai aggregator blog bisa jadi saksi: banyak hal yang bisa terjadi dalam 24 jam. Tapi seorang Daniel Altman memaksa membukukan apa yang terjadi pada sebuah 16 Juni 2005 di bukunya yang terbit tahun 2007: Connected 24 Hours in the Global Economy. Bukan buku yang terkenal di antara para ekonom, aku yakin. Tapi jelas pas buat teknolog yang baru mulai belajar ekonomi kayak aku, untuk turut mengamati kaitan2 baik yang klasik maupun non-intuitif, di sisi teknologi-ekonomi-politik-budaya dari seluruh belahan dunia. Oh ya, waktu 24 jam ini dicatat di New York.

Jam 00:03 waktu New York, artinya di 06:03 waktu Stockholm, cerita dimulai dengan aliansi antara Ericsson dengan Napster. Uh, tahun 2005, setelah gelembung2 dotcom meletus, setelah global clusters roboh, masih ada upaya aliansi? Antara Ericsson yang jadi bendera megah Swedia itu, dengan Napster si bekas anak nakal pembajak musik itu? Memang. Dan Altman membekali kita dengan latar belakang berbagai aliansi, baik yang sukses dan yang tidak. Apa alasan EBay mengakuisisi Paypal (padahal ia sudah punya Billpoint) dan kemudian Skype (yang urusannya di Internet sangat beda)? Kenapa merger Morgan Stanley dan Dean Witter gagal mencapai goal? Juga Chrysler dan Daimler-Benz? Bagaimana akuisisi AOL atas Time-Warner dianggap kelicikan? Dan nantinya, di bab lain tentang Cina: Mengapa dan bagaimana Haier dipertahankan untuk tidak dibeli pihak asing? (Kebijakan yang membuat kita terpaksa mengenang kembali kebodohan Laksamana Sukardi yang menjual Indosat).

Tapi lalu Altman kembali ke Ericsson dan Napster. Operator telekomunikasi di dunia tengah berminat mengembangkan content, sebagai bagian dari pengembangan pasar mobile dan Internet. Dan hasil survei menunjukkan content yang paling diminati: musik. Ericsson sebagai vendor dan konsultan significant tentu berusaha memberikan solusi terbaik. Umumnya para operator tidak merasa perlu menggunakan brand masing2 untuk memasarkan content musik. Jadi untuk itu Ericsson mulai mengajak Napster, yang memahami liku2 jalan2 dan gang2 distribusi musik online hingga ke benak customer. Hm, bukan saja tak menggunakan brand para operator. Pakai brand Ericsson pun tidak. Tapi pasar merespons positif kecerdikan ini. Di akhir hari, baik saham Napster maupun Ericsson mencatat kenaikan.

Kemudian, jam 3:02 waktu New York, atau jam 16:02 waktu Tokyo. Cerita beralih tentang perusahaan2 besar di Jepang, dimulai dari Mitsubishi. Intinya: sejauh mana pemerintah mampu membuat pasar global lebih kompetitif. Lucu membaca bahwa seringkali pemerintah justru jadi biang yang membuat industri tidak kompetitif; padahal itu di negara2 dengan tingkat kolusi rendah. Di sini … ah, skip. Berikutnya 3:09 waktu New York atau 14:09 waktu Ho Chi Minh, kisah dibuka dengan kemauan Intel membangun Vietnam digital, dengan pertanyaan: perusahaan2 multinasional ini lebih banyak membawa progress atau problem? Jawabnya … haha :)

Oh ya, aku tadi menyinggung Haier. Ini hampir di tengah buku. 5:15 waktu New York, 17:15 waktu Qingdao. Qingdao itu kota ukuran menengah, yang dulu terkenal dengan industri bir; warisan dari pemukim Jerman di Tsingtao. Industri bir ini sudah separo diakuisisi oleh perusahaan Amrik. Jadi sekarang yang jadi kebanggaan Qingdao adalah Haier: perusahaan perangkat teknologi yang di tahun 2005 sudah sibuk memasarkan HP sekecil pena hingga kulkas yang segede apa ya … kita bisa berdiri di dalamnya. Tokohnya Wei Duan, cewek keren yang jadi brand manager Haier di usia muda, lulusan Nottingham. Haier, dan beberapa perusahaan lain, menarik Wei yang memilih pulang kembali ke RRC dengan tujuan: membuat negerinya maju lagi.

Haier tidak bercita2 untuk menjadi besar sehingga bisa mudah dibeli kapitalis asing; sebaliknya mereka bercita2 untuk lebih besar lagi untuk suatu hari bisa membeli perusahaan2 asing. Tentu, dengan bergerak di teknologi, mereka langsung menghadapi kompetitor kelas raksasa. Tapi Haier memilih niche market secara hati2 dengan memahami budaya berbagai negeri. Hasilnya, a.l., HP segede pena itu. Atau kulkas dengan laci untuk diekspor ke Amrik, dimana user bisa mengambil isi freezer tanpa harus memasukkan tangan ke freezer. Atau mesin cuci gede buat Pakistan yang terkenal dengan keluarga besarnya, sekaligus mesin cuci kecil2 buat Jepang yang penduduknya gemar bebersih sedikit2 tapi tiap hari. Ada juga HP dengan tombol besar dan font besar khusus buat orang2 tua. Partnership juga dilakukan. Dengan Sanyo di Jepang misalnya, sehingga kedua perusahaan mendapatkan kemudahan distribusi di negara seberang. Ia juga berekspansi langsung ke sarang lawan: Korea Selatan dan Amrik. Maka Haier tumbuh 68% dalam setahun. (Bukan typo, kata bukunya). Strategi lain, uh banyak. Juga masalahnya. Bisakah nantinya Cina tumbuh mengejar Amrik? Atau ikutan loyo kayak Jepang sejak 1990an?

Bab lain membahas supply uang di dunia, harga sebuah korupsi, pasar saham, stabilitas politik dan ekonomi, soal minyak, hegemoni Amrik secara ekonomi, soal hak cipta (perlukah hak cipta untuk ide?), dan masih banyak lagi. Bukan hal baru kan, buat para ekonom? Tapi buat kita yang lain, barangkali pas untuk mulai memahami ekonomi dunia.

Oh ya, buku ini dibeli di Periplus waktu discount buku 50%-70% minggu lalu. Musim maruk buku, yang pas dengan musim libur. Libur ini, siang penuh jalan2, malam penuh baca2 buku sampai hampir pagi. Buku memang sahabat yang menarik.

11 Comments

  1. dulu aku pikir Haier adalah merek jerman. ternyata bukan.
    anyway, jdul buku ini masuk ke dalam wishlist saya .. ntah kapan belinya .. haha

  2. kapan lagi ada diskon 50-70% gitu yak?? :D

  3. Industri seperti Haier di Indonesia apa ya? Maspion group? … kalau barang-barang lain sepertinya kebanyakan merek asing yang dirakit disini … kemana para juara olimpiade fisika, biologi, matematika kita nih

    kunjungan perdana nih pak kun, semoga berkenan …

  4. LASIRAN

    PAK KOEN YA OPO KABARE

  5. berat… ngikut komen diatas aja…. mas koen apa kabar? hihihi

  6. Bilang ya kalaw ke Jakarta lagi. Aku share deh.

  7. Kalau ada, kita share deh. Share balik ya.

  8. Baik! :)

  9. :) Semoga betah baca2 di sini :)

  10. mampir di blog tetangga

  11. Bukunya masih ada di Gramedia :-) ?

Leave a Reply

%d bloggers like this: