Presentasi

Je me presente, je m’appelle …,” gitu diajarkan Mbak Rossi di hari pertama aku belajar Bahasa Perancis. Huh, mempresentasikan diri :). Sesuatu yang berat buat aku; yang bahkan memperkenalkan diri pun terlalu terhambat. Sekedar menjawab, “Kamu dari mana?” pun tidak pernah merasa mudah dan nyaman. Harus cari pegangan kursi atau setidaknya ballpen, untuk mulai menyusun kata-kata.

Aku “beruntung” tumbuh di sistem pendidikan Indonesia masa lalu, yang memaksa kita berpikir cerdas dan kritis, tetapi tidak memaksa kita berkomunikasi lisan dengan baik. Tidak ada ruang diskusi yang memadai. Sebagian besar diskusi hanya ada dalam pikiran, dan hasilnya harus ditulis. “Beruntung” — karena aku merasa nyaman dengan itu :).

Tapi waktu kuliah, semua harus diubah. Ortu aku berbaik hati membayari SPP. Tapi uang saku, aku harus mulai cari sendiri. Bea siswa engineering crash program, jadi asisten di lab (duh seram), dan juga mulai mengajar. Ngajar komputer sih, di LPK. Seharusnya tak menyeramkan. Tapi ini cerita hari pertamaku. Aku berdiri di depan kelas; menarik nafas; menenangkan diri; menarik nafas lagi; terus keluar; menghadap Kabid Akademik; dan meminta beliau menggantikanku mendadak mengajar di hari pertama. Payah ya? That’s me :). Hari berikutnya, aku mulai harus berani. Dan menjadikan kegugupanku jadi bahan candaan bersama. Hey, itu menarik. “OK, rekan-rekan. Saya mulai gugup lagi. Jadi giliran rekan-rekan bersuara, bertanya, silakan.”

Presentasi di depan dosen killer lebih serem lagi. Bahkan waktu memberi tugas seminar, mata beliau sudah macam dementor gitu. Hiii. Bikin bahan seminar sih, OK aja. Tapi begitu hari H, aku menghabiskan waktu lebih lama setelah Shalat Dhuhur untuk berzikir. Eh, zikir itu lebih kuat dari apa pun. I mean it. Presentasi pun mengalir lancar. Dan berlanjut ke presentasi karya ilmiah yang lama2 jadi hobby-ku, sampai presentasi tugas akhir.

Aman? Nggak. Di luar kampus, aku masih lebih memilih tak bersuara. Survive kok :). Internet membantu kita kan? Diskusi di mail group, di forum. Kalau sempat presentasi pun, paling soal2 teknis. Sambil bawa alat bantu. Helpful banget.

Selingan sedikit waktu aku harus kabur ke Coventry. Sistem perkuliahan di sana mengharuskan kita sering presentasi. Kuliah, termasuk seminar, lalu membuat tugas individual, submit, lalu mempresentasikannya. Dosen2nya bukan hanya orang kampus, tetapi orang2 yang profesional di bidangnya. Kuliah regulasi misalnya, mengharuskan kita berpresentasi di depan petinggi OFCOM (badan regulasi komunikasi UK, sebelumnya bernama OFTEL). Ketatnya waktu membuat ketidakmampuan berkomunikasi harus dibuang sementara. “Ayolah, nggak ada waktu ngurusin soal nervous. Waktunya singkat!” Wow, membantu sekali. Alah bisa kerna terpaksa.

Pulang, aku harus bergeser profesi beberapa kali. Dari network ke IT, lalu ke product management. Di sini, situasi mulai berubah. Aku harus mulai mempresentasikan rencana produk ke rekan-rekan non teknologi. Aku pernah tulis juga di blog ini, tentang bagaimana aku harus menceritakan berbagai jenis teknologi paket data ke CSR. Aku memakai analogi untuk membantu mereka memahami. Tapi yang mungkin para CSR yang keren-keren itu belum tahu, aku juga melangkah melewati jembatan besar untuk bisa berpresentasi di depan publik melalui peran mereka sebagai pendengar yang aktif dan baik.

So, aku mulai bisa bercerita tentang network (Layer 0 sampai Layer 7), sejauh yang memang aku kuasai: NG(M)N, NGMS, IP/MPLS, lalu lompati beberapa layer di atas IP, langsung ke aplikasi. Haha, secara akademis dan historis, memang petanya kayak gitu sih. Cerita blog? Haha, itu sih buat iseng :).

Tapi sejujurnya, sampai sekarang, keharusan berpresentasi tetap bikin aku nervous :). I mean it. Itu udah bagian dari aku :).

Mengatasinya? Nggak bisa. Dilakukan aja. Bikin presentasi yang aku suka: suka merancangnya, suka menceritakannya. Lakukan presentasi tidak secara ekstrim. Sebagian rekan mempresentasikan diri, dan menjadikan Powerpoint sebagai background (I like it). Sebagian yang lain menjadikan Powerpoint sebagai presentasi, dan memposisikan diri sebagai petugas pemandu (boring!). Aku memilih jalan tengah. Kadang alur cerita dalam bentuk ide ada di cerita lisan, dan Powerpoint hanya sebagai background. Tapi kemudian kendali beralih ke rincian di Powerpoint, tempat hal2 detil harus dilihat pembaca (dan kenervousanku memperoleh waktu rehat). Rekan yang mencoba meminta salinan Powerpointku (biasanya aku berikan gratis ke siapa pun yang membutuhkan) biasanya protes: ada missing link. Ya sih. Sebagian presentasi memang bukan di file PPT, tapi di aku :).

Penutup, sedikit tentang PB2008. Pak Widi Nugroho, Boss aku, bikin aku panik dengan kirim SMS bahwa aku harus menggantikan CIO Pak Indra Utoyo di sesi Diskusi Panel di PB2008. Tapi tak lama, beliau mengirim teks, bahwa Pak Indra akan datang. Aku bebas. Tak lama juga, beliau kirim teks lagi, bahwa biarpun Pak Indra datang, tetap harus aku yang ke sesi Diskusi Panel. Duh, ternyata aku masih tidak merasa nyaman dengan ini. Beliau sih ketawa2 aja. “Di MetroTV aja berani kan, Koen?” Duh, beda atuh. Di depan cameraman rasanya lain dengan di depan 1000 blogger yang ganas-ganas. Hihi, alasan. Bukan itu sih. Alasan internal. Syukurnya, pada detik2 terakhir, peta berubah. Telkom tetap diwakili CIO kami, Pak Indra Utoyo. Thank you, Boss :).


Gb 1. Mainan laser pointer — obat gugup waktu presentasi :)

30 Comments

  1. Saya juga paling grogi klo disuruh presentasi dan cenderung ngomongnya jadi cepet banget, mpe diprotes orang2 klo ngomomng jangan cepet2 :-D
    Maksudnya sih biar cepet selesai hahahaha

  2. Jadi laser itu buat obat gugup ya ? Kira-in buat nunjuk orang aza, hehehe…

    Kalau saya masih syuka gugup andaikata ditanya dalam bahasa yang tidak saya kuasai. Jadi seperti bayi lagi.

  3. gak mau gantiin presentasi bos? oalah … jadi apa kerjamu? makan gaji buta? hahahaha … *kabooor*

  4. Hihi :). Padahal yang bikin takut itu justru harus talk di depan blogger seram kaya’ Ndoro Kakung.

  5. Mudah2an ini cuman sekedar cerita, bukan mengharapkan tips dari orang yang juga selalu nervous berpresentasi, hihi :)

  6. Misalnya? Disuruh pakai Python?

    FYI, itu bukan laser pointer biasa. Itu light saber yang dikemas dalam bentuk mini, mirip laser pointer. Ya, in case of emergency …

  7. Dedhi

    saya malah ndak suka sama presenter yang membawakan diri, lebih suka dengan presenter yang mengantarkan power point. Soalnya saya ndak cukup punya konsentrasi lebih dari 15 menit. Langsung bosen dan keluar ruangan.
    Apalagi kalo presentasi banyak ketawa dan dagelan, malah males.

    Jadi at the end lebih suka download presentasi yang sudah direkam habis acara, lalu skimming dan check reference….. beres dah

  8. Mas,

    Ndoro Kakung juga kemarin gugup kok. Ngomongnya pelan-pelan, nggak keluar celotehannya. Entah lagi jaim entah lagi buyar konsentrasi. Jangan-2 nggak tidur semaleman. Mungkin Ndoro Kakung mesti diajari zikir, hehehe…

    Saya tunggu kiprahmu dilain waktu, kisanak :-)) . Yang kemarin sudah bagus sekalee..

  9. Nah, itu yang kumaksud. Kalau ide itu bisa disampaikan dengan buku, tulisan, blog, dan Powerpoint tanpa kehadiran manusia; maka tak perlu lagi kehadiran manusia. Buat aku, itu ideal sekali. Baca saja filenya. Beres dah.

    Presentasi hanya diperlukan kalau kita memerlukan ada manusia yang mempresentasikan idenya. Menyenangkan bukan berarti melawak. No way. Dan dalam hal ini, pengawal Powerpoint sungguh buang2 waktu.

  10. Eumm, kalo aku sih tetap mengkombinasikan. Lihat-lihat audiens-nya juga sih, kalo yang dipresentasikan adalah client (atau setidaknya dalam ruangan kecil dan orangnya sedikit), harus pake rumus 10 slide, 20 menit, font 30 :D
    Se-nervous apapun, kalau sudah mulai ada interaksi, I think I’ll be fine..

    Tapi kalo ada dead air, barulah, kelabakan :D

    Aku senang sih kalo presentasi di komunitas yang segmented, lebih mudah dihandle.. tapi kalo jumlahnya ratusan, yaaa, gak janji deh :D

    Btw, itu mini light saber-nya beli dimana om? Jadi pengen, hehehe..

  11. aceng!

    kl saya kebalikannya Mas Kun, biasa ngomong panjang tanpa berpikir… yang penting bla bla bla duluan, mikir belakangan dan itu dilakukan dengan kepercayaan diri penuh. Makanya kata temen saya cocok jadi anggota DPR!

  12. Wah, presenter kayak gini yang bikin saya kreatif untuk cari alasan kabur, haha. Kita memang pantas jadi arch-nemesis :) :).

  13. Wow, ada teorinya ya? Bagi donk! :)

    Eh, itu … mmm … mini light saber, belinya di malam basador aja kok. Tapi jangan bilang mini light saber ya. Yang jual juga nggak tau bahwa itu light saber. Bilang aja namanya green laser pointer.

  14. dan sy hanya bisa presentasi lewat email *maksa*

    :D

  15. Halo, Koen, kita ketemu pas di Pesta Blogger 2008 yang lalu.

    Hmm… dulu gue juga pernah presentasi campaign promosi, di kantor pula, bicaranya ceplas-ceplos – maluuuuuuuuu banget, apalagi pas ada yg nanya.

    Gimana nanti yah kalau disuruh bedah buku untuk novel gue yg FireHeart-Legenda Paladin? (mengumpulkan semanga pe-de…)

  16. Wah, mau banget. Daripada bahas masalah IT melulu.

    Masalahnya, dari Sabtu kemarin sampai hari ini, belum nemu satu celah waktu buat kabur ke toko buku.

  17. nitchevsky

    Pengalaman awal yang persis sama. Mendadak kehilangan kata-kata ketika mulut dipaksa bicara :( Waktu juga yang akhirnya membuktikan bahwa bicara bukan hal yang sulit dan tidak lagi menakutkan, bahkan kadang sangat menyenangkan.

    Tapi… beberapa saat lalu, kejadian yang sama terulang. Dejavu… otak terus bekerja tapi mulut susah bicara. Hah? sudah lupa rasanya bahwa dulu pernah belajar bagaimana mulai bicara, lupa bagaimana tidak tidur sambil menulis kata demi kata (verbatim) yang akan diucapkan pada saat harus “tampil” di depan ibu-ibu PKK saat KKN, dan juga sudah lupa bagaimana menghafal presentasi yang harus diucapkan di depan kelas. Yang teringat cuma … it is nightmare :(

    Masih sanggupkah menjalani kembali langkah-langkah awal dulu itu?

  18. Woah, kita kan sesama INTP. Eh, mulai deh, kategorisasi, pelabelan, penyesatan :) :).

    Aku baru ingat, salah satu yang akhirnya aku lakukan adalah menjadikan presentasi seolah sebagai percakapan dengan rekan2 biasa. Dan memang sebenarnya itulah presentasi: percakapan (yang terarah), tetapi ke rekan2 biasa :). Ada candaan (bukan lawakan), ada keseriusan, dan terutama ada passion.

  19. kalo saya suka tidak suka harus presentasi, dan sekarang presentasi telah menjadi suatu hal yang membudaya dan sangat menyenangkan, hal ini munkin terkait dengan sikap dan karakter masing2 orang, kalo orangnya cuek bebek seperti diriku ini biar presentasi ama sapapun ga ngefek tapi kalo orangnya gugupan eh grogian pasti beda, jadi semua itu tergantung ama orangnya, tull?????

  20. bicara emang susah ne tanpa latihan.tapi dengan latihan yang rutin dan tekun insya alloh akan lancar-lancar aja…

  21. interesting insights on powerpoint presentation! thanks for sharing…
    i love using powerpoint for presenting… at the same time i also love and enjoy public speaking… but it doesn’t mean i don’t get panicky or nervous… after umpteenth times… still like that.
    powerpoint is visual tool, so i use it as visual tool, not a projector for your papers, not the extension of your thoughts, not the replacement of your brain/mouth… so most of time my powerpoint functions as a media to visualize things i want to express…. better than bare hands…

  22. Jadi inget ketika pertam akali presentasi *SENDIRIAN* di client :)
    sama lah kayak Mas Koen …
    Jaman kuliah .. takut klo nilai kurang ato di cecer sama dosen ,
    pas kerja, takut client boring dan menganggap bukan solusi, trus project gak jadi :D

    So, kita saya sekarang sih presentasi itu = berbagi .. jadi kadang serasa tanpa beban namanya juga berbagi … saya punyanya hanya segitu :D

    eh foto ini bukan karea gagal presentasi kan ?

    huehuehuehue

  23. Ah, tampaknya semua baik2 saja. Tidak pernah ada getar dan getir disana sini.

    Untungnya, Pas di MetroTV duduk yah :)

  24. halo mas Kun,
    Sering baca disini, tapi baru sekarang komen.
    Ketemu di PB, Saya yang culun di belakang, mepet tembok, lagi ngeplurk & ngeblog.

    Masih sering ke Malang?

  25. PRESENTASI, kadang dijadikan momok yg ditakutin…alasane…”Jroji….halah…grogi maksudnya…” ndak salah sih..mang nek pertamax itu selalu grogi..bukan hanya presentasi tapi yg namanya pertamax..entah itu pacaran..pegang tangan…pidato…semuanya pasti jroji…tapi kalo dah yakin kalo kita benar dan menguasai materi..ya Jroji itu akan hilang dengan sendirinya…yakin deech….(* sambil nyruput kopisus)

  26. ykaz

    di metro tv acara apa ya mas koen? kapan tuh ditayangin, kok gak nonton ya.

  27. ykaz

    presentasi? hal yang paling pengen cepet2 selesai, tapi kalo dah selesai pengin lagi loh.

  28. ykaz

    setuju juga mas koen

  29. aku jg pnya pengalaman seperti itu,presentasi buatku hal yg menyeramakan,,aplgi klo ga menguasai apa yg kita presentasikan,,dan smpi sekarang aku masih belum tau bgmn agar aku bisa present dengan nyaman,,

  30. di metro tv acara apa ya mas koen?

Leave a Reply

%d bloggers like this: