


Walaupun tampak masih jauh dari selesai, website Indonesia IEEE Comsoc Chapter sudah mulai menampakkan bentuknya. Beralamat di ewh.ieee.org/r10/indonesia/com (alamat official pemberian IEEE pusat), site ini memanfaatkan mesin Joomla: CMS open-source yang dikenal handal, meski kadang suka joompaleetan.

Sekedar review, IEEE merupakan institusi internasional yang menghimpun para insinyur elektroteknika dari berbagai bidang studi, termasuk kecatudayaan, telekomunikasi, informatika, komputer, persinyalan, hingga elektronika konsumsi. Terdapat 40 society yang bernaung di dalam IEEE, ditambah lembaga standar dan beberapa lembaga lainnya. Posix, WiFi, WiMAX, Ethernet, dll merupakan ulah lembaga standar IEEE. Communications Society (Comsoc) adalah salah satu society IEEE, yang berfokus pada telekomunikasi dan network, dengan misi menciptakan communications bebas cemrosoc. Indonesia IEEE Comsoc Chapter bernaung baik di bawah IEEE Communications Society maupun di bawah IEEE Indonesia Section yang berada di bawah Region 10 dari IEEE. En passant, angka 10 dalam Region 10 itu desimal, bukan biner.
Biarpun IEEE dan seluruh lembaga di bawahnya terbuka terhadap keanggotaan baru (dengan persyaratan akademis dan teknis yang memadai), tetapi website baru ini tidak siap untuk didaftari anggota baru :). Untuk menjadi anggota IEEE, kita dapat melakukan permintaan secara online melalui website IEEE di www.ieee.org.
Starbucks Ciwalk. Dua kantung kopi (biji terpanggang) aku bawa ke dalam. Satu dari Jawa, satu dari Sulawesi. “Tolong digiling ya,” pintaku, “Dan jangan terlalu halus.” Senyuman riang menyambut pinta. “Bulan depan yang Sumatra datang,” kata Aa’ Barrista. Ya, akhirnya, si Siborong-borong akan datang :).
Apa yang dilakukan dengan kopi tak terlalu halus di rumah? Kan untuk membuat kopi rumahan ala Jawa, yang diperlukan adalah kopi halus? Memang. Kopi tubruk (caffè collizione *kidding*) perlu kopi halus. Tapi kopi rumahan GCC-51 menggunakan stove Bialetti Mokka. Cara membuatnya tetap sesederhana kopi tubruk, dan perlu kurang dari 5 menit (termasuk mencuci stove). Pemanasan tetap dari kompor yang itu juga. Stove ini sudah memiliki filter di dalamnya. Jadi diharapkan kopi yang masuk tidak terlalu halus. Jika terlalu halus, espresso yang dihasilkan kadang terlalu kental (sedap sih), tetapi kadang serbuk kopi masuk ke tempat yang tak diharapkan dan membuat efek audio yang tak menarik.
So, sore ini … Java espresso … sambil membayangkan Kopi Malang Sidomulyo, Pasar Klojen, Rampal, Bunul. Hey, sudah sempat lihat weblog-ku yang khusus membahas kopi? Alamatnya di nusantara.coffee. Kalau ada cerita dan apa pun tentang kopi, kirim cerita deh.
Chai. Minuman ajaib ini diperkenalkan Yani sebagai minuman favoritnya di masa lalu, waktu dia masih hobby bobo di Starbucks Changi. Sebagai mantan saudara kembar Yani, aku langsung terpengaruh; dan chai wajib selalu ada. Membantu lagi waktu asthma menyerang tanpa ampun seperti hari2 ini. Chai, sebenarnya merupakan bahasa Asia asli atas teh. Kita di Indonesia menyerap kata dan budaya teh dari Eropa, jadi tak merasakan nada yang sama. Chá, tsai, chai, jay, çay, dll. Chai sendiri merupakan bahasa India selatan. Nah, di sana orang konon suka membuat minuman teh dengan campuran berbagai rempah segar. Chai masálá, dll. Resepnya tak baku, dan berbeda dari setiap keluarga. Biasanya si teh hitam ditambahi jahe, kayu manis, lada hitam, cengkeh, cardamom, dan star anise (udah lihat bahasa Indonesianya di MTC, tapi lupa euy). Hasilnya, sebuah minuman yang memang layak difavoriti makhluk pintar semacam Yani. Nah, kalau orang asing (non India) menyebut nama chai, yang dimaksud adalah teh berempah macam ini, bukan chai lainnya. Aku sih memang menyukai nuansa keragaman budaya (dan sialnya juga keragaman diskursus). Jadi nggak keberatan kalau chai harus selalu ada di tengah koleksi kopi hitam non-instan.

Mmm, sedap. Sementara Simfoni Ketujuh Beethoven ada di latar belakang, berusaha menanamkan semangat musim semi ke hati yang sedang buram. Paduan yang inspiring.
Inspiring :). Benda bernama inspirasi memang sering datang saat kita megelak dari kotak-kotak standar kita. Saat pikiran kita mencoba keluar batas dari bingkai kita. Bingkai kita, seperti yang sering aku tulis di milis2 zaman sebelum blog :), tidak harus tunggal, dan kita harus punya fleksibilitas untuk beralih antar bingkai. Tetapi untuk membangkitkan inspirasi, kita kadang harus mengambil sebuah bingkai yang kita belum pernah miliki yang belum kita akui (bukan kita definisikan, karena definisi justru mengikuti si bingkai). Juga kadang kita memerlukan kelincahan yang berbeda untuk bergerak antara 2 bingkai, atau lebih. Ini tak sederhana, karena pikiran kita ada di dalam bingkai itu. Kalau kita merasa bisa melihat bingkai dari luar, maka kita salah mendefinisikan bingkai – dia harus membingkai pikiran kita, karena kalau tidak maka pikiran kita tak akan mau ikut pindah bersama pemindahan bingkai yang kita inginkan. Dan saat ingin betualang cepat antar bingkai, setiap bingkai yang kita singgahi harus sama cepatnya memindah kita ke bingkai berikutnya, sambil sempat beradaptasi dan melakukan transvaluasi citra yang sedang kita bawa.
Konon (ini artinya aku belum coba), beberapa ilmuwan dan seniman mencoba mengaburkan bingkai (dan dengan demikian memancing hal-hal yang inspiring), dengan mencoba mengail di antara kondisi alfa dan beta dari otak. Dali, Einstein, Wagner, Goethe, merupakan beberapa contoh. Dan karya2 mereka memang bersifat multiframe, Einstein yang secara formal meredefinisi frame fisika. Dali menolak batas realisme dan fantasi. Wagner menggunakan simbol klasik untuk menceritakan ide kebangkitan akal manusia. Goethe mencipta adibudayanya dengan mencerminkan berbagai budaya manusia. Konon, begini caranya bermain di level yang bernama hypnagogia itu.
Kalau aku, belum perlu mencoba kali ya. Aku udah terlalu sering tidur dalam sadar dan sadar dalam tidur. Mencobai cara ini, jangan2 yang terjadi adalah tidur dalam tidur, trus pulas-s-s-z-z-z.
Bukan cuman orang awam kayak aku. Feynman pun kagum atas formula Euler eiπ=-1, yang disebutnya the most remarkable formula in mathematics. Kalau ditulis sebagai eiπ+1=0, formula ini lengkap berisi lima angka ajaib dalam matematika; dan tak lebih dari lima itu. Aku lebih sering menyebutnya sebagai formula Pak Epi (eπi), héhé. Bilangan e secara tak langsung telah dipaparkan dalam paper Napier di awal abad xvii. Bernoulli memaparkannya lagi di akhir abad xvii waktu sedang asyik menghitung bunga. Ya, e itu (1+1/n)n dengan n mendekati tak terhingga. Leibniz juga mendapatinya, waktu sedang menemukan kalkulus. Tapi Euler lah yang mengenalkan e sebagai sebuah bilangan, memberinya definisi, dan memaparkannya sampai 18 desimal. Sejauh yang aku hafal, hanya 2,718281828… selebihnya tak teratur. Di abad xix Hermite menyatakan bahwa bilangan e (dan kemudian juga π) bersifat transendental, yaitu tak dapat disederhanakan dalam bentuk bilangan bulat. Trus, apakah e+π juga transendental. Mestinya. Tapi bagaimana membuktikannya? Cantor terang2an menyebut bahwa sebagaian besar bilangan justru transendental. Sebagian kecil yang non-transendental lah yang lebih dulu kita kenali. Bilangan transendental jadi mirip dark matter, yang mengisi sebagian besar jagat bilangan, tapi belum tampak atau terpahami oleh kita.
Di tahun 1960, Stephen Schanuel merumuskan sebuah konjektur mengenai e dan transendensi. Kalau ini terbuktikan, banyak hal yang bisa dibuktikan, termasuk ketransendenan e+π, eπ, ee dan sekaligus memahami arti ketransendenan. Perlu banyak belajar matematika untuk paham konjektur Schanuel ini (aku juga nggak paham, héhé). Tapi Schanuel bilang bahwa kaitan antara e dan transendensi itu sederhana dan lempeng :). Contohnya, Gelfond di 1930 menemukan bahwa jika a tidak sama dengan 0 dan 1, serta b irrasional, maka ab transendental. Simpel, tapi tak terpecahkan hingga puluhan tahun.
Nah, di Oxford tahun 2005, seorang Boris Zilber membuat terobosan. Konon dia menemukan obyek angkawi yang memenuhi prediksi konjektur Schanuel. Bukan bilangan tapi, melainkan fungsi. Fungsi ini mirip eksponensiasi (pemangkatan) biasa, dan Zilber menamainya pseudo-exponentiation. Lebih dari itu, Zilber menunjukkan hal menarik: pseudo-exponentiation ini unik (hanya satu2nya). Para matematikawan masih menguji klaim Zilber, namun banyak yang sudah mulai mengakuinya.
Jika Zilber benar, dan pseudo-exponentiation memang bentuk dari e, maka semua yang terimplikasikan sebagai prediksi Schnauel juga benar. Lebih jauh, permainan ini memanjang ke beberapa hal menarik lain. Salah satunya adalah geometri kuantum: suatu kerangka teori yang mencoba memadukan mekanika kuantum dan relativitas umum (lagi, héhé).
Ceritanya, di sekitar 1980an dan 1990an, Alain Connes (pemenang Medali Field) memaklumkan onyek-obyek geometrik yang terancang untuk mengepaskan fisika kuantum dalam landasan matematika yang lebih tepat. Salah satu bentuk yang terpenting adalah torum kuantum. Torus biasa itu kan mirip donat. Nah, torus kuantum ini nggak mirip apa2, soalnya dia bermain di keribetan dimensi “ruang” matematis: kurvatur dll :). Ya, angggap saja mirip donat kuantum. Temuan Connes ini sangat penting, tapi terhambat oleh kesulitan pengaplikasiannya. Nah (lagi), temuan Zilbert diharapkan bisa memetakan level ekstrim abstraksi Connes menjadi bentuk yang lebih tercerna secara matematis. Jika konjektur Schnauel benar, maka torus kuatum terbuktikan sebagai struktur stabil, lalu geometri Connes bisa dialirkan ke bentuk yang lebih intuitif.
Jam segini, cari donat di mana ya?
Wagner membuka opera ini dengan sekian menit nada nyaris datar. Menutupi apa pun itu yan tengah bergolak di balik tirai.
Lalu tirai terangkat menampilkan sungai bening mengalir perlahan, lalu para peri bermain di atasnya, lalu Alberich si kurcaci pengacau datang dengan mata serakah, lalu ia rampas emas Rhein yang dijaga para peri itu.

Sementara di atas sana, Wotan dan Fricka menatap istana para dewa yang sementara itu hampir selesai dibangun para raksasa. Sementara mereka cemas karena taruhan atas selesainya istana itu adalah pertukaran dengan Freia, saudari Fricka, sementara itu para raksasa justru datang menuntut hadiah. Tapi lalu datanglah Loge, si dewa api, membawa kabar dicurinya emas Rhein. Tapi Loge membuka kisah bahwa harta itu membuat pemiliknya mampu menguasai alam sekitarnya. Tapi ia juga mengisahkan bahwa Alberich menjadikan emas itu cincin lalu menggunakan kuasanya untuk memperbudak sesamanya untuk menumpuk harta. Tapi para raksasa justru meminta harta yang banyak itu sebagai penukar Freia. Tapi para raksasa membawa Freia yang membawa keabadian para dewa sebagai sandera. Maka Wotan harus turun bersama Loge untuk mengambil harta kurcaci. Maka Wotan turun menemui Mime saudara Alberich. Maka Mime menceritakan bahwa para kurcaci tertindas oleh kekuasaan Alberich. Maka Loge menggunakan kecerdikannya untuk merampas cincin Alberich. Maka Alberich melepaskan kutukannya: maka siapa yang tak memiliki cincin itu akan menginginkannya, maka siapa yang memiliki cincin itu akan mati karenanya. Cincin jatuh ke tangan Wotan, tapi para raksasa memintanya, tapi Wotan menolaknya, tapi Loge mengingatkan akan kutukan Alberich, tapi Wotan akhirnya menyerahkannya, tapi para raksasa baku bunuh berebut cincin itu, tapi tersisa hanya raksasa Fafner. Kemudian ia pergi membawa semua harta dan cincin. Kemudian Wotan mengambil istana itu dan dinamainya Valhalla. Kemudian semua dewa beriring masuk ke istana itu. Kemudian Loge menolak karena kekelaman yang melingkupi terciptanya istana itu. Kemudian adalah keinginan dewa untuk mengambil kembali cincin itu karena ketidakpercayaan pada si raksasa. Kemudian cerita harus beralih.
Tapi sementara itu, sayup kita masih mendengarkan nada-nada megah, saat para dewa yang tak maha kuasa itu memasuki istananya, yang tampak megah di atas rapuh landasannya. Lalu, seperti mereka, kita juga sadar: terciptanya istana itu justru merupakan redupnya dunia para dewa.
Lalu, seperti kata Wagner, seperti yang dipaparkan dalam biografinya tentang saat2 musik ini memasuki sukmanya, seperti ini: “… the stream of life was not to flow to me from without, but from within.” Dan seperti Iqbal bilang: ayo bangkit dari dirimu, jangan merasa jadi Musa yang menunggui wahyu. Para dewa sedang sakit, sedang perih, sedang salah. Sedang kita? Sedang2 saja :). Yuk!
© 2026 Kuncoro++
Theme by Anders Noren — Up ↑