I Am A Strange Loop

Douglas Hofstadter pernah memenangkan Pulitzer untuk buku sebelumnya: Gödel, Escher, Bach: An Eternal Golden Braid, yang bisa2nya mengaitkan teorema esoterik Gödel, lukisan paradox Escher, dan komposisi multilayer ala Bach, dalam satu tema. Ide menarik itu dibawanya ke bukunya yang baru ini: I am a Strange Loop. Strange loop? Apa tuh? Carilah di Wikipedia :).

Strange loop memiliki sifat menarik. Mereka beroperasi serentak pada beberapa level abstraksi. Misalnya, pada versi matematika, strange loop dapat dilihat pada level mikro sebagai permainan angka dan operator; sementara pada level makro dapat dilihat sebagai permainan teorema dan pembuktian2. Untuk komputer, kita bisa bicara tentang relasi elektronik antara transistor, kapasitor, resistor; atau bisa tentang subrutin software yang menginstruksikan CPU mengubah angka pada storage. Pada network? Ah, pasti kita kenal.

Karakteristik lain adalah bahwa pada level abstraksi tertentu, ia bisa dianggap sebagai sistem yang bekerja dengan simbol pada obyek dan konsep. Menariknya, strange loop dengan demikian bisa bekerja mensimbolkan dirinya sendiri. Terjadi mekanisme feedback, yang kemudian membuat tak mungkin lagi dilacak apakah perilaku loop ini mula2 ditentukan pada aktivitas level mikro sebagai penyusun loop ini, atau pada level makro yang bermain pada abstraksi simbolis. Lalu, Hofstadter pun menyatakan bahwa bentuk feedback macam inilah yang menjadi asal muasal adanya kesadaran. Adanya ‘aku’ :).

Sorry, kalau ini tidak menarik buat Anda. Tapi mencari asal-usul rasa ‘aku’ adalah salah satu pencarianku sejak balita. Dan buku ini jadi menarik karena akhirnya membahas soal ini. Tapi kita kembali dulu ke buku ini, yang sekarang kita tahu kenapa judulnya “I am a Stranger Loop.”

Hofstadter beranjak lebih jauh. Setiap sistem yang mampu merepresentasikan simbol dalam jumlah besar akan mengembangkan kesadaran diri, katanya, tak peduli apakah sistem itu dibentuk oleh neuron atau transistor. Namun tak semua komputer, dan tak semua otak, mampu mengelola simbol yang sekaya itu. Nyamuk dianggapnya tidak punya kesadaran. Juga semua komputer masa kini. Juga, kata dia, bayi yang baru lahir sampai usia tertentu.

Tapi kita sedang bermain dengan simbol, jadi cerita berlanjut. Sistem otak kita, lanjutnya, tidak terbatas hanya merumahi satu strange loop saja. Biarpun, normalnya, ‘si aku’ tetap menjadi pribadi dominan. Bisa saja otak ini dalam level yang lebih rendah, merumahi abstraksi, dan dengan kata lain pikiran, dari manusia atau sesuatu yang lain. Manusia yang memiliki kedekatan, ide-ide personal yang terasa lekat, akan membentuk semacam salinan kesadaran di otak kita. Ada semacam ‘you, me, and us’ yang melekatkan relasi manusia.

Jelas, ide2 dalam buku ini sangat menarik. Tak heran, begitu terbit dia langsung menembus ranking di Amazon. Untuk ide yang juga menarik tentang asal usul pikiran manusia, sila baca juga buku Roger Penrose yang judulnya … dicari dulu sebentar. Salah satunya The Large, the Small and the Human Mind. Tapi ada yang lain juga. OK, ini dulu deh.

7 Comments

  1. Ini ada cerita tentang strange loop. Gimana ken thompson bikin backdoor di unix C compiler, tapi gak ketahuan, walau source codenya bisa di baca.

    http://scienceblogs.com/goodmath/2007/04/strange_loops_dennis_ritchie_a.php

  2. @Sirait: Ini, wow, betul2 gila! Bener gitu Ken senekat itu?

  3. Whoever

    Nekat? Hmm … rasanya kurang tepat bila disebut nekat.

    Self reproducing/generating code punya dua muka. Pertama kali kenal self generator sewaktu kuliah Compiler Construction, konsep ini dimanfaatkan untuk optimize C compiler. Tapi begitu ikut kuliah Information System Security, kode-kode semacam ini jadi dikaitkan dengan backdoor. Dan “backdoor” sekarang jadi istilah yang dikonotasikan negatif. Ever wondered why?

  4. @Whoever: C dan Unix adalah anak kandung Ken sendiri (bersama rekan2 lain). Menanamkan ketidaktransparanan ke dalamnya adalah seperti tindakan bunuh diri. Kalau ini betul terjadi, dan diketahui pihak lain pada zamannya, barangkali C dan Unix tidak akan digunakan lagi. Tapi, BTW, ini keluar dari tema buku ini. So, mohon tidak dibahas lebih lanjut soal Ken Thomson.

  5. arief#

    Hi all,

    Mas Koen gak mau ini dibahas, karena beliau udah pernah membahas soal ini jaman dulu banget… coba dech blusuk-2 di blog ini.

    Btw, mas Koen, aku baca ada penelitian baru dari sciam.com yang targetnya adalah meniadakan routing, yang menurutku ini bisa jadi juga meniadakan loop di jaringan, dan memakai teknik yang disebut “network coding” untuk mengirimkan data.

    Dengan teknik itu, konon kata mereka, kita tidak perlu mengirimkan data secara utuh, hanya “bukti”-nya saja. Dan biar receiver mengkonstruksi data asli dari kumpulan “bukti”-2 yang diterimanya.

    Somehow, I think this might be related to this blog-entry.

    More details here: http://www.sciam.com/print_version.cfm?articleID=77129353-E7F2-99DF-37738629167B4856

  6. Tapi kita kembali dulu ke buku ini, yang sekarang kita tahu kenapa judulnya “I am a Stranger Loop.???

    hi stranger.

  7. @Ryo: Hai juga. So, dengan demikiant kesalahan telah diakui. Cumant kalau dibetulkan, nanti comment-nya jadi nggak pas ya. Biar saja lah. Namanya juga webblog personalt.

Leave a Reply

%d bloggers like this: