Flowers for Algernon

IQ-nya 68 (kayak si …). Tapi para profesor berhasil membuat penelitian untuk melipattigakan angka itu. Jadilah Charlie, si dungu yang dipekerjakan di pabrik roti itu, seorang jenius. Prosedurnya tak singkat. Selama prosedur itu, Charlie diminta menulis Catatan Harian. Catatan ini dimulai dengan kata2 serabutan, lalu berangsur menjadi kalimat yang bagus dan sempurna, dengan keilmiahan dan kemanusiaan yang mendalam, dan akhirnya …

Sebelum mencobai pada manusia, lembaga itu lebih dulu melakukan percobaan pada seekor tikus, yang dinamai Algernon. Efeknya menarik. Tikus itu dapat menyelesaikan hal2 yang memerlukan kecerdasan, tanpa terlalu banyak motivator luar. Barulah kemudian eksperimen dilakukan pada Charlie Gordon. Charlie jadi berkembang kecerdasannya: sastra, matematika, filsafat. Ia juga memiliki motivasi besar untuk ikut melakukan penelitian, untuk memecahkan masalah yang sama dengan yang pernah dialaminya. Sambil, dengan kepribadiannya yang baru, ia berusaha memecahkan masalah2 hubungan dengan masyarakat (termasuk dengan keluarganya). Juga sambil terus mengamati bahwa kepribadiannya yang lama pun sebenarnya masih ada — mengintai tanpa mengganggu, kecuali pada saat2 tertentu.

Tapi kemudian Algernon bermasalah. Ia mulai agresif, memiliki lebih banyak energi untuk menerjang daripada untuk berpikir. Dan terus begitu. Catatan-catatan yang ada diperiksa Charlie. Dan pada suatu malam, di bulan September, Charlie menuliskan analisisnya. Efek Gordon-Algernon, begitu dia tulis. Intinya: peningkatan kecerdasan secara cepat akan mendorong pengausan kerja otak dengan kecepatan yang sebanding. Data2 laporan dikirimkan, dan dinyatakan akurat. Sementara itu Algernon mati. Charlie membawanya pulang, menguburkannya, dan meletakkan seberkas bunga di atas kuburannya.

Tinggal beberapa waktu bagi Charlie untuk mengukir nasib yang sama dengan Algernon: merasakan sedikit demi sedikit kecerdasannya hilang dan amnesianya menguat. Lalu …

Buku ini aslinya berjudul Flowers for Algernon. Oleh Daniel Keyes. Yang aku baca adalah terjemahan Indonesianya. Buat yang pernah percaya bahwa weblog ini banyak mengulas soal sains, aku harus bilang bahwa buku ini 100% fiksi. Dan aku pernah membahas Borges, Kundera, Saroyan, dll juga di web ini. Dalam hidup yang pendek ini pun, membaca dan mengulas fiksi bukan kesalahan. Pun sambil menyadari bahwa dalam sisa {hidup, kesehatan, kecerdasan} yang kian pendek seperti ini, kita masih boleh memilih untuk optimis dan positif.

9 Comments

  1. Fiksi sih, tapi teteup we fiksi sains hehe. Flowers for Algernon ini masuk target pinjeman saya di rental buku langganan, waiting list setelah beberapa historical novel dan tentu saja komik jepang hehe.

  2. Saya sudah baca buku ini sejak pertama keluar (kebetulan penerbitnya sendiri yang promosiin hehe), not bad sih, tapi belum cukup untuk membuat saya merekomendasikannya pada orang lain.

  3. @1: Fiksi mah fiksi aja :). Fiksi yang bagus tapi. Fiksi sejarah biasanya membawakan aspek sejarah real dalam fiksi; fiksi ilmiah membawakan aspek ilmiah real dalam fiksi. Nah fiksi ini tidak membawakan aspek ilmiah real, hanya ilmu khayalan :). Tapi pesan2 yang dibawakan terasa pas sekali.
    @2: Pas buat aku; lagi memerlukan motivasi untuk tetap tegak dan optimis menghadapi kehilangan yang niscaya.

  4. ranti

    Hmmmm… *masukin ke to-be-read list*
    Mas Koen bikin ngabibita aja. Padahal tumpukan buku yang belum dibaca masih banyak… :-D

  5. #2 Iya Ollie… belum pas buat sayah mah… :)

  6. Hohoho aku baru aja beli bukunya 4 hari yang lalu, tp blm sempet baca:-( Btw yg edisi bhs Indonesia koq covernya beda gambarnya yah? Bukan gambar Algernonnya tp malah gambar Charlienya.

  7. pencari ebook

    eh, mau nanya.
    saya lagi nyari ebook flower for algernon tapi ga dapet2
    ada yang tahu ga?
    plss ga bisa beli bukunya
    biasa masalah ekonomi (T-T)

  8. Hihi :). Demi masalah ekonomi para penulis dan penerjemah buku, hal2 kayak gini sebaiknya kita hindari saja ya :)

  9. Menarik nih. Masuk daftar belanjaan buku bulan depan.

Trackbacks/Pingbacks

  1. ketika membajak sudah menjadi norma « things left unsaid - [...] 5th, 2007 by ryosaeba perhatikan sampul buku “charlie“, aslinya adalah flower for algernon karya daniel keyes,…

Leave a Reply

%d bloggers like this: