Parton

Pernahkah aku cerita sekaligus tentang Gell-Mann dan Feynman? Oh, ternyata pernah. Ada satu buku Gell-Mann (“Kisah Kuark dan Jaguar”) di rak bukuku, dan beberapa Feynman (“Becanda Ya, Pak Feynman”; “Kenapa Ngurusin Pikiran Orang Lain”; dll). Tentu di buku Gell-Mann ada sedikit nama Feynman disebut. Di buku Feynman (yang becanda itu), Gell-Mann disebut beberapa kali. Tapi dari buku2 mereka, kita tidak akan tahu bahwa dari 1960-an sampai Feynman meninggal di di tahun 1980-an akhir, mereka berdua bekerja dalam ruang yang nyaris bersebelahan, di Caltech. Raksasa kembar Caltech, begitu orang pernah menyebut mereka. Sifat mereka yang rada-rada mirip (kecerdasan amat tinggi, integritas tinggi, toleransi rendah terhadap ignorance, rada takut publik tapi sekaligus ingin menonjol, dll) menjadikan mereka tidak komplementer: mereka bersaing ketat seperti dua petarung yang bisa menggentarkan fisikawan yang berani beraudisi di Caltech. Setiap perbedaan jadi seperti jurang yang sengaja diperlebar untuk mencari titik ketepatan di antaranya.

Konon sebenarnya Gell-Mann muda memilih ke Caltech di tahun 1960an a.l. karena ada Feynman di sana. Waktu itu ia sedang sibuk meneliti partikel subnuklir. Banyak fisikawan yang menyebut bahwa partikel subnuklir itu cuman hasil karya matematika saja. Tapi itu tak menyurutkan Gell-Mann. Feynman termasuk yang secara tak langsung mendukung, dengan menyebut bahwa eksperimen mutakhir masa itu menunjukkan adanya partikel yang membentuk proton misalnya. Gell-Mann akhirnya memfinalisasi karyanya, dan menamai partikel subnuklir itu kuark. Ini menarik, karena ilmuwan tidak lagi harus memakai nama berbau Yunani atau Latin. Tapi Feynman mulai jail. Ia kembali menyampaikan bahwa partikel subnuklir yang diamati dari eksperimen-eksperimen tak menampakkan sifat seperti kuark punya Gell-Mann. Feynman tidak bereksperimen lebih lanjut. Tapi ia sempat usil menamainya Parton. Jail khas Feynman. Gell-Mann menolak penamaan kayak gitu, dengan alasan yang cukup jaim, yaitu bahwa nama itu setengah Yunani setengah Latin.

Tentu, kemudian Standard Model menggunakan pendekatan kuark.

Waktu kemudian Gell-Mann merekrut Schwarz yang sedang mendalami teori string ke Caltech, Feynman tidak peduli. Tapi sebenarnya ia tak mendukung teori string. Buat Feynman, teori harus menjelaskan apa yang tampak (dari mata, dari eksperimen, apa lah); bukan untuk menyusun suatu temuan agung yang merupakan esensi semesta. QED merupakan penemuan yang semacam itu. Baru di tahun2 terakhir hidupnya, Feynman mulai ikut mempelajari teori string, yang waktu itu sudah berubah jadi superstring.

Teori string dan turunannya kemudian menjadi mainstream setelah Feynman meninggal, khususnya setelah Witten merumuskan sistem matematika yang tepat sebagai platform untuk menjalankan kalkulasi teori string. Tetapi teori string bukannya sudah bebas dari kritik. Jika kritik di masa awal lebih menyoroti bahwa teori string tidak memiliki bentuk yang real dan tidak dapat memprediksi sesuatu pun, maka kritik masa kini mendamprat teori string sebagai teori yang masih juga tidak memiliki bentuk real dan tetap tidak dapat memprediksi sesuatu pun. Bisanya memposdiksi (to postdict).

Ed Witten (yang terkenal karena/sehingga memperoleh Hadiah Field) sendiri pernah mengatakan: Kalau Teori String ini sampai salah, ini adalah konspirasi besar yang barangkali melibatkan pencipta semesta.

Leave a Reply

%d bloggers like this: