Socrates memarahi Protagoras, gara2 filsuf yang terakhir ini memungut biaya pengajaran dari murid2nya, untuk hal mana Protagotas menanggapi “Kalau murid2ku tidak menerima ilmuku dengan baik, aku akan mengembalikan uang mereka.” Di sini kelucuan bisa dimulai.
Misalkan seorang murid, eh dua saja deh, mendatangi Protagoras. Yang pertama minta uangnya dikembalikan. Protagoras bertanya, “Bisa menjelaskan kenapa saya harus mengembalikan uangmu?” Lalu si murid berargumentasi menjelaskan, dan Protagoras menanggapi: “Kamu sudah bisa menggunakan dialektika dengan baik. Maka uangmu tak bisa dikembalikan.” Murid 1 keluar dan murid 2 masuk dengan permintaan yang sama. Kembali Protagoras bertanya, “Bisa menjelaskan kenapa saya harus mengembalikan uangmu?” Murid yang ini terdiam sesaat, lalu menggeleng. Protagoras pun mengembalikan uang murid yang ini.
Jadi aturannya: claim hanya dapat dipenuhi jika alasannya tak dapat dijelaskan.

Tapi misalkan kita mendatangi lembaga DPR Republik BBM, di mana setengah anggotanya selalu jujur dan benar dan setengahnya lagi maniak pembohong yang ngaco. Dan katakanlah kita sebagai peneliti hanya bisa menyatakan hal yang valid dan benar. Tetap ada hal2 yang tidak bisa kita buktikan. Misalnya seorang anggota yang jujur menemui kita, dan berkata “Anda tidak bisa membuktikan bahwa saya jujur.” It’s OK, karena toh tak terlalu jelas bedanya orang jujur dan tidak. Tetapi masalahnya, jika kita tahu dia memang jujur, maka yang dia katakan adalah benar, dan berarti kita bisa membuktikan, dan artinya pernyataan dia salah (bahwa kita tidak bisa membuktikan). Maka, memang akhirnya statement itu jadi tak terbuktikan.
Trus dari sini kita bisa keterusan lari ke Teori Ketidaklengkapan Gödel. Tapi sementara ini, nggak keterusan dulu deh. Weekend gini mau ada rapat juga loh.

Salah satu yang bikin negeri Indonesia kesohor adalah … kopi :). Duh, kirain kejutan. Setelah edisi khusus Kopi Kampung yang 100% asli Sulawesi, Starbucks kembali meluncurkan edisi khusus. Edisi Ulang Tahun. Di covernya tertulis bahwa edisi ini merupakan paduan antara kopi2 Asia Pasifik dan kopi2 Indonesia yang langka. Rada menarik, biarpun pasti nggak semenarik Kopi Kampung.
Kerjasama disusun dengan berbagai vendor, konsultan, dan operator lain yang lebih dahulu melangkah. Mudah2an sih, industri dan kalangan akademi bangsa ini mau mulai bangun. Agak susah bikin segalanya murah kalau kita masih segalanya impor. Nggak perlu kelas dunia dalam arti gemerlap. ZTE yang acak2an itu saja sudah berani, dan diterima dengan baik, dengan improvement yang sambil jalan. Masa kita yang lebih beradab ini nggak berani? Cumab perlu kemauan untuk mulai terjun, aku kira, daripada sibuk bikin forum sana sini.
Dia tersenyum lagi padaku, seperti yang selalu dia lakukan bertahun2, tanpa pernah jemu. Hati turut hangat saat merah semu wajahnya mencapaiku 1,3 detik kemudian. Seperti biasa juga, dia membuatku mengingat lagi segala khayalan kanak2ku. Dingin senja itu tak ada artinya dibanding cerianya hati saat berbincang dengannya.