Stephen Hawking

Stephen Hawking punya web: hawking.org.uk. Di situ Rosie Waterhouse menanyai sang profesor: “What sort of music do you like and why?” Hawking menjawab, “I mainly listen to classical music: Wagner, Brahms, Mahler etc., but I like pop as well. What I want is music with character.” Di salah satu bukunya, Hawking juga bercerita tentang Wagner. Khususnya Die Walkure. Ini, dia bilang, adalah musik yang paling gelap sekaligus paling megah.

stephenhawking.jpgSaat wawancara oleh Larry King, Hawking mengatakan: “It was in 1963 that I first developed an interest in Wagner. I had just been diagnosed as having ALS, and given a distinct impression I didn’t have long to live. I regarded Wagner as music that was dark enough for my mood. My mother bought me tickets to go to the Wagner festival at Bayreuth. It was magic. His personal use and conduct were pretty objectionable. But his music, though sometimes pompous and long-winded, reaches a level no one else does.”

Hawking adalah Lucasian Professor of Mathematicks di Cambridge. Ini barangkali jabatan paling bergengsi di dunia akademis :), yang pernah diduduki a.l. Paul Dirac, Charles Babbage, dan Isaac Newton. Pada salah satu episode Star Trek, Lt Commander Data menjadi android pertama yang menduduki posisi ini. Hawking mendalami fisika teoretis, khususnya kosmologi dan gravitasi kuantum. Dan tentang ini kita tidak bisa menulis di satu artikel singkat, tapi harus satu website tersendiri :). Ia jadi selebriti setelah bukunya, A Brief History of Time, yang ditujukan bagi pembaca awam itu, terus menerus menjadi best seller di seluruh dunia. Kemudian ia menulis lagi The Universe in a Nutshell.

“If we do discover a complete theory of the universe, it should in time be understandable in broad principle by everyone, not just a few scientists. Then we shall all — philosophers, scientists and just ordinary people — be able to take part in the discussion of why it is that we and the universe exist. If we find the answer to that, it would be the ultimate triumph of human reason. For then, we would know the mind of God.”

Hawking masih tinggal di Cambridge. Dan entah sengaja atau tidak, suka menunjukkan bahwa dirinya tidak powerless. Bercerai dengan istrinya, dan langsung menikah lagi (pada saat ia tak dapat lagi bergerak — bicara pun harus dengan pensintesa suara). Bertaruh dengan Kipp Thorne tentang singularitas, dengan taruhan majalah sekelas Penthouse. Menyatakan diri tidak memerlukan Tuhan — mungkin sekaligus menyindir bahwa orang suka dekat2 Tuhan kalau sedang dalam kekurangan dan kelemahan.

King: What is that inner thing that keeps you going?
Hawking: Curiosity

5 Comments

  1. in other words, sebagai penikmat (atau pemuja?) Wagner, dikau sekelas sama Stephen Hawking, gitu ya? hehehe…

  2. jadi dia ndak percaya ada TUHAN gitu?

  3. bukan gak percaya ya mas?

    cuma dia sebel dengan orang2 yg ngaku percaya
    pada tuhan, tapi tingkahnya gak nunjukin begitu

    atau,
    baru nunjukin percaya tuhan itu ada
    saat keadaan genteng, genting maksudnya

    btw busway,
    wagner itu apa sich mas?
    group music baru ya?

    kapan mas kasih contoh cd nya ke aku?
    (emang siapa lu? minta2 cd wagner ke aku!!)

    plis dech …

    dei
    ——

    lone ranger kecil2an …

  4. sonnetz

    kita ga usah bprasangka buruk dulu sm mbah Hawking. percaya/nggak sm tuhan itu sih urusan pribadinya dia. kalo mau mengajaknya kembali kepada tuhan, ya coba aja ceramahin dia. bantah tuh, teorinya dia. berani nggak…..?

    bukannya saya setuju dg kepercayaannya mbah Hawking. tapi kalau kita lihat dari sudut pandang lain, kita mestinya malu sama mbah hawking. dia aja yang fisiknya udah ga bisa ngapa-ngapain tetap bisa tegar dalam hidupnya. kita yang fisiknya sehat-sehat aja kelakuannya jugajauh dari perintah tuhan, tapi giliran sakit dikit aja bawaanya mau ngaji-solat melulu. apa ga malu tuh sama si mbah?

    tau diri dong! kalo ngaku percaya ama tuhan ya tunjukin kalo tuhan itu emang ga “ilmiah” tapi “salamah”, lewat ucapan dan perbuatan. ayo…!

  5. @1: Waaaaaaaaaa
    @2: So what? :)
    @4: Ini ‘kita’ yang mana, Mbah? :)

Leave a Reply

%d bloggers like this: