Koen Egois

Tentu kadang terlihat bahwa aku terpengaruh Sisyphus-nya Camus atau bahkan Faust-nya Goethe, biarpun aku lebih sering merasa terpengaruh Borges. Tapi jelas bahwa aku terlalu suka meracuni diri dengan Dawkins, Ridley, dll. Buatku, penjelasan tentang hal2 ruhaniah bukannya salah, tapi terlalu mudah dimanipulasi dan dijadikan tameng. Aku lebih suka melihat ketragisan sebagai keniscayaan materialis. Allâh mencipta, memberi bukan cobaan tetapi tantangan, dan kemudian menuntun kita sebagai insan dewasa, bukan kanak2 yang melulu minta disuapi. Allâh berbincang sebagai sahabat yang memahami kita, bukan yang menunggu kita memohon2 dan meramu2 doa.

Rekan2 di mail list teknologia@ sedang memperbincangkan soal disclaimer buat weblog. Buat aku sih, sejak beralih dari kuncoro.citeweb.net ke kun.co.ro, site ini sudah menjadi adult site, yang hanya boleh dibaca dengan kedewasaan. Bukan dari sisi umur, soalnya aku sering melihat orang berumur yang tidak bisa dewasa. OK, kita kembali.

Jadi kita asumsikan, bahwa sebagai pewaris tahta evolusi, manusia dan spesies lain di muka bumi ini memiliki sifat egois, baik secara langsung maupun tak langsung. Sistem sosial yang konon bersifat anti-egoism itu pun sebenarnya merupakan resultan dari game evolusi sosial panjang yang menghasilkan bentuk temporer yang paling pas untuk bertahan dan berkembang secara individual.

Jika kita secara individual mencoba untuk berlepas dari kepentingan pribadi: selamat. Ini ucapan selamat yang tulus, bukan ironi. Jiwa kita, yang juga hasil evolusi ini, ternyata bisa memiliki kemerdekaan. Bisa merayakan kehidupan sambil berlepas dari kepentingan mempertahanan hidup. Jadilah insan bebas, yang tidak harus terikat oleh kepentingan. Jadilah insan yang dapat menjadi pengamat perilaku manusia, tanpa bias oleh kepentingan. Jadilah insan yang menikmati dan merayakan kehidupan apa adanya.
Jangan mau tersiksa oleh penantian akan sentuhan hati manusia. Istilah semacam “balas budi” misalnya, adalah istilah perdagangan, bukan kemanusiaan. Lakukan apa yang kita mau. Biarkan manusia dengan hati masing-masing. Biarkan hatimu sendiri bersenyum.

Lalu ucapkan mantera ini: Give & Give.

%d bloggers like this: