Indosat Matrix

Neo melesat dari Puncak Monas ke Jalan Medan Merdeka Barat. Eh, bukan mau cerita Matrix yang ini dink. Mau ngerasani Retno aja. Ini adikku, buat yang belum tahu.

Alkisah, almarhum Papap dapat kiriman tagihan Matrix dari Indosat. A.n. Retno. Sama Papap dicuekin aja. Biasa aja kalau anak2 Papap pakai alamat Papap untuk korespondensi legal. Lama2 Indosat bertelepon, minta tagihan Matrix sebesar 10 juta dilunasi. Baru di titik itu kita semua sadar ada yang nggak beres. Retno nggak pernah daftar Matrix, nggak pernah pakai Matrix. Karena ditelepon terus2an, Retno mengirim nota ke Indosat. Indosat menyuruh datang ke kantor (baca: Indosat menyuruh orang yang bukan customernya, tapi diganggunya dengan telepon terus2an, untuk datang). Retno datang. Officer Indosat langsung menyambut ramah. “Eh ketemu lagi. Pakai kerudung ya sekarang?” Well, Retno pakai kerudung udah lebih dari 10 tahun yang lalu :).

Abis cek KTP, foto, dll, diputuskan bahwa memang ada kesalahan. Seseorang melakukan fraud dengan bikin KTP palsu pakai nama dan alamat Retno. Selesai. Masa? Nggak. Indosat masih menego dengan mencoba meminta pembayaran sebagian, pembayaran cicilan, dll. Lucu? Nggak.

Akhirnya Retno nulis di Kompas. Trus Indosat lebih serius. Semuanya dicek ulang. Papap, sekitar 2 minggu sebelum meninggal, sempat didatangi satu gerombolan orang suruhan Indosat untuk recheck. Dan akhirnya Retno dapat surat permintaan maaf resmi dari Indosat. Selesai. Masa?

Tadi malam, setahun abis peristiwa itu, Retno cerita bahwa debt collector suruhan Indosat masih meneleponi. Karena ini bulan puasa, Retno cuman memberikan makian khasnya secara moderat.

Jadi barangkali Matrix memang harus pakai slogan lama Indosat : “we care more” — nggak daftar pun bisa kena tagihan. Dan tentu slogan yang lain: “the corporate is always right.”

Ugh, aku punya beberapa temen baik di Indosat sebenernya. Orang2 yang bener2 profesional dalam bidangnya. Mudah2an nggak menyinggung mereka. Nothing personal, guys. Hk Murphy aja. Sebenernya sih, aku juga menahan diri nggak nulis soal ini dari tahun lalu. Cuman, kayak Retno bilang semalam, “Elu ganggu bokap gue terus sampai meninggal. Sekarang mau apa? Ganggu nyokap gue juga?”

%d bloggers like this: