Metamorphosen

Yuk, berbincang tentang Metamorphosen, satu komposisi dari Richard Strauss yang jarang dibahas. Malah kayaknya belum pernah dibahas di weblog ini.

Dalam buku “Elaborasi Musik”, filsuf Palestina Edward Said memilih komposisi ini sebagai paradigma pengalaman musik yang etis dan tercerahkan, yang dirasakan baik oleh komposer dan pendengarnya:

“In the perspective afforded by such a work as Metamorphosen, music thus becomes an art not primarily or exclusively about authorial power and social authority, but a mode for thinking through or thinking with the integral variety of human cultural practices, generously, non-coercively, and, yes, in a utopian cast, if by utopian we mean worldly, possible, attainable, knowable.”

Tapi tidak selalu anggapan orang seperti ini. Tahun 1947, tuduhan bahwa komposisi ini merupakan kenangan atas Hitler, digembargemborkan di Belanda, negeri yang takluk pada tentara Nazi nyaris tanpa perlawanan. Memang bagian awal komposisi ini ditulis saat Munich Staatstheater dibom pada Oktober 1943, dan sempat dinamai “Duka bagi Munich”. Bagian akhirnya diselesaikan pada April 1945, saat Jerman sedang dalam masa kejatuhan. Barangkali memang ada kaitan antara komposisi ini dengan masa meredupnya Jerman, namun tidak harus lalu dikaitkan dengan Nazi atau Hitler.

Aku sendiri nggak terlalu lekat dengan Metamorphosen. Tod und Verklarung, dari Richard Strauss juga, terasa lebih akrab. CD Metamorphosen ini dulunya aku pinjam dari perpustakaan Lanchester di Coventry, dan aku konversi jadi MP3. Ilegal sih, tapi aku jarang berkelakuan kayak gini. Nanti aku beli CD-nya kalau ada yang jual di sekitar Bandung. Ada kemiripan antara Metamorphosen dan Tod und Verklarung, yang bikin aku pingin sesekali merasakan nuansanya kembali. Bukan cuman bahwa durasinya sama-sama sekitar 25-26 menit, tapi ada nuansa yang …. gimana sih caranya cerita tentang nuansa?

Pendengar diajak melakukan perjalanan dalam bentuk representasi suara atas mourning dan melankoli. Apa sih bedanya? Mengikuti Freud sih, mourning itu gejala psikis yang nantinya selesai jika subyek sudah bisa berlepas dari obyek kedukaan. Sebaliknya, melankoli adalah ketidakmampuan berlepas dari kedukaan itu. Yang ada pada mourning dan tidak ada pada melankoli adalah “reemergence of a viable and coherent subjectivity.” Nah, bentuk subyektivitas inilah yang justru hilang dalam Metamorphosen. Suara tidak mentransformasi diri menjadi subyek. Jadi memang tidak pas untuk mencari semacam kedamaian, resolusi, atau pemulihan spiritual dari musik yang terkesan tenang ini.

Haha. Yeah. Kayaknya aku memang sedang mencari dukungan emosional dari musik yang salah. Haha :). Ganti ah. Tod und Verklarung? Mungkin aja. Atau balik ke kawan lama kita: Wagner. Belum lama ini ada makhluk bernama Dian mengisi buku tamu site ini. Dia sedang di Bayreuth. Gimana ya rasanya tinggal di kota Wagner? Apa Wagner di sana sudah termetamorfosis jadi relik masa lalu, sementara gaungnya di Griya Caraka Bandung masih terasa hidup, aktual, dinamik.

%d bloggers like this: