Epilog

Aku terbangun dengan terkejut. Mantel mandi di sisi tempat tidur itu bermonogram Hotel Ritz Paris. Lampu meredup menyelinap dari balik tirai. Ini sore atau fajar?

Mungkinkah itu?

Dua puluh menit kemudian, turun ke lobi hotel, coba cari sedikit kopi. Tapi kaku langsung membawa ke lalu lintas Paris. Ke timur, ke Rue des Petits Champs. Ke selatan, ke Rue Richelieu. Taman Palais Royal. Ke utara, tampak gang beratap yang megah dan terkenal itu. Masuk. Menatap ke bawah, tampak medali perunggu ditanam membentuk garis lurus sempurna. Ini adalah meridian utama bumi yang asli; bujur nol pertama di dunia; garis mawar kuno Paris. Ikuti garis itu, berlari kecil, masuk terowongan panjang Passage Richelieu, dan di ujungnya ada halaman yang pernah kukenal. Dan ditengahnya: Piramid Louvre, berkilauan. Dan di bawahnya, piramid yang dibalik. Louvre … Da Vinci … Boticelli …

Aku harus turun ke sana.

Di dasar, adalah ruangan besar. Tergantung dari atas, berkilauanlah piramid terbalik berbentuk V dari kaca. Ujungnya hanya enam kaki dari bawah lantai. Tepat di bawahnya berdiri sebuah struktur kecil. Sebuah miniatur piramid.

Dan sampai sini kita tahu bahwa dalam mimpiku, aku mencampuradukkan epilog buku “The Da Vinci Code” dengan sebuah kenangan akan piramid kaca yang pernah terasa jadi misteri.

%d bloggers like this: