In Memory: Munir

Baru di beberapa tahun terakhir hidupnya, Munir bisa punya mobil. Sebelumnya kita lihat foto2nya bersama sepeda motor yang nggak baru2 amat. Konon motor itu pernah hilang. Dicuri. Tapi abis malingnya tahu itu motor punya Munir, motor itu dibalikin lagi. Trus ilang lagi. Dicuri lagi. Kali ini nggak balik. Munir cuman berkomentar “Barangkali yang ini malingnya lebih miskin lagi.” Trus cari motor lagi.

Kenapa kalau tokoh macam Derrida meninggal, aku sempat nulis di sini, tapi nggak waktu Munir meninggal? Fiu, ini tahun 2004. Aku kehilangan kemampuan untuk nulis sesuatu yang terlalu personal lagi di sini. Emang pernah aku nulis sesuatu tentang rumah, kantor, my real life, apa pun? Nggak bisa aja. Juga nggak bisa waktu bom meledakkan gedung2 di kawasan Kuningan, Jakarta. Juga nggak bisa waktu aku dapat pindah departemen dua kali tahun ini (di divisi yang sama). Derrida … waktu aku pertama kali baca2 tulisan dia, aku bahkan membayangkan penulisnya udah meninggal :). Ternyata memang trus baca bahwa doi masih hidup. Malah hampir ketemu, kalau kebagian tiket di Loughborough itu (dan memang takdir memihak pilihanku yang pertama, jadi dia stayed invisible sampai meninggal beneran). Tapi Munir?

Munir adalah tokoh yang mengalir pada saat2 paling genting, khususnya di sekitar 1998, waktu kita nggak tau mau jadi apa negara dan orang-orang di dalamnya besok pagi. Munir bukan pakar HAM yang cuman ahli koar-koar. Dia betul-betul membuktikan diri sebagai pahlawan HAM. Konon bukan pahlawan yang langsung jadi pemberani, tapi pahlawan yang setiap detiknya selalu berusaha menaklukkan rasa takutnya. Berisik. Cekatan. Cerdik. Nekat. Membongkari bagian paling busuk republik ini. Memberikan nama harum bangsa ini di seluruh dunia, bahwa bangsa ini tidak semuanya jadi anggota konspirasi busuk.

Dan suatu hari, sebuah SMS membuatku merasa kehilangan. Kehilangan yang terlalu sulit didefinisikan. Trus … aku harus nulis apa?

Apakah Munir bisa digantikan?

%d bloggers like this: