Month: February 2004

Asa


RSAI, lepas pagi. Permainan cahaya di langit menandakan harapan-harapan yang tak pernah pudar. Tapi bukan lagi harapan untuk memenuhi keinginan-keinginan manusia yang serba fana. Lebih dari itu, yang tampak justru harapan untuk lebih memahami kasih sayang-Nya yang sedemikian agung tak terbatas, untuk memahami kefanaan dunia fana kita sambil mendalami keabadian di baliknya.

Dawkins & Moore

Sumpah, aku bukan fans Richard Dawkins, biarpun kayaknya nama ini udah mulai sering ditulis di site ini. Aku cuman rada tertarik baca ulasannya dia, tentu tentang genetika, tapi pakai Hk Moore. Kita tahu, Moore bikin estimasi eksponensial itu untuk chip, untuk transistor, bukan untuk genetika. Tapi yang dibahas Dawkins itu soal pemetaan DNA. Dan artinya soal IT. Dan artinya soal prosesor lagi, chip lagi.

Dawkins mengambil data dari Jonathan Hodgkins, tentang biaya yang dikeluarkan untuk memetakan DNA, sejak 1965. 1965, wow. Waktu itu penelitian DNA masih sedemikian mahalnya, sehingga perlu £1000 per huruf untuk memetakan RNA ribosome suatu bakteri. Belum DNA sih, masih RNA. Tahun 1975, pemetaan DNA virus X.174 membutuhkan £10 per huruf. Tahun 1985 nggak ada data. Tahun 1995, perlu £10 per huruf untuk memetakan DNA sebuah nematoda kecil. Pada proyek GENOME manusia di tahun 2000, diperlukan biaya £0.1 per huruf. Dari situ, Dawkins menyusun plot, plus ekstrapolasi, sambil menyadari bahwa ini tidak terlalu serius. Sampel 4 data tentu sama sekali tidak ilmiah.

Hasilnya dibikin nggak serius juga, maunya. Dengan £1000, kita bisa memetakan seluruh DNA virus Herpes di tahun 2020. Tahun 2030, uang yang sama bisa dipakai memetakan DNA lalat buah. Dan tahun 2040, uang yang sama bisa memetakan DNA mamalia, termasuk manusia. Di tahun 2050? Semua manusia bisa memetakan DNA masing-masing cukup dengan £100.

Wow, dengan data kayak gitu, cukup main2 DNA untuk mengerti seluruh sejarah evolusi, sejarah peradaban dan migrasi manusia, silsilah manusia dari zaman prasejarah. Kalau sekarang kita periksa paru2 dengan Röntgen, nanti kita bisa sekalian tes DNA, dan para dokter bisa mengobati kita bukan berdasar gejala rata2 manusia, tapi persis sesuai karakteristik fisik kita. Tapi data yang sama bisa dipakai untuk menerima atau menolak kita bekerja, bisa dibajak perusahaan asuransi, pemerintah, militer, dan sebagainya.

Jangan lupa, bermain2 dengan DNA hewan, kita bisa menciptakan kembali spesies yang punah.

Tapi, kayak Moore juga selalu bilang, ekstrapolasi eksponensial selalu berakhir di titik jenuh. Akankah titik jenuh itu tercapai sebelum impian liar Dawkins terjadi?

Googling Kuncoro

Rank sebuah site di suatu search engine, kayaknya nggak mutlak ditentukan oleh keteraturan update site itu. Yang terjadi justru mirip fluktuasi. Mirip kurs atau saham. Ada faktor seperti apakah site lain juga diupdate, apakah link ke site kita bertambah, bagaimana jadwal penilikan site oleh search engine, dan ratusan faktor lain.

Site ini secara ajaib naik lagi ke rank atas untuk pencarian nama Kuncoro, setelah sempat turun ke posisi tiga atau empat dalam beberapa bulan terakhir. Padahal, kayak bulan2 sebelumnya, masih nyaris nggak ada update di site ini.

Ciater

Masa sih aku dibilang nggak pernah nulis tentang kegiatan harianku? Ha-ha :), sepanjang 2001 aku lebih banyak nulis tentang keseharianku. Kalau ujungnya melayang ke mana-mana, barangkali memang keseharianku lebih banyak terisi penyusunan konsep daripada … daripada … emang hidup harusnya gimana sih?

OK, aku coba ceritain apa yang terjadi hari ini. Aku dipaksa meeting di Ciater Spa. Tempat yang menarik untuk rehat, tapi bukan untuk meeting. Dan yang dibahas di meeting tentulah rahasia perusahaan yang jelas nggak pingin aku tulis di sini. Kalaupun boleh, amit2. Rapat seharian udah bosen, masa harus dibahas pula di sini. Jadi apa yang akhirnya aku tulis? Yaw, apa aja yang terjadi di luar rapat. Dan sebenernya nggak banyak. Cuaca lagi menarik sekali, kayak dalam kisah Asterix di Inggris: bervariasi antara kabut, mendung, dan hujan.

Tapi, kayak yang aku tulis barusan, sebenernya cuacanya menarik :p.


Masuk kawasan Ciater, dunia masih penuh kabut.


Break siang, liat2 curug. Namanya curug air panas, pastilah penuh uap panas.


Sore, pulang, udah berkabut lagi. Kabut mulai menipis di sekitaran Tangkuban Parahu.


Sampai Lembang, kabut hilang, tapi mendung tebal.


Di Bandung, hujan justru dimulai dari arah timur.

Minnie

Sisa badai semalam, di sekitar rumah kabut tipis masih mengambang ringan. Waktu pintu rumah dibuka, sesosok makhluk kecil meluncur kencang dari ujung jalan, melesat ke dalam rumah, kayak takut pintu itu ditutup lagi. Di dalam rumah, dia mengerem mendadak, sedikit kepeleset, dan matanya mulai menjelajahi isi rumah. Ekor tebalnya bergerak sama antusiasnya dengan matanya. Berkeliling sebentar, dia menoleh sebentar, kecewa, trus ke luar rumah lagi. Dengan kecepatan sekitar seperseribu waktu di masuk tadi.

I knew you were disappointed, Minnie. I can’t help it. I miss her too.

Padalarang


Melintas Padalarang. Tapi benda ajaib satu ini lebih mengingatkan ke Stasiun Malang, tempat kami dulu main dorong2an lori di bawahnya. Sebenernya sekarang benda kayak gini masih ada gunanya nggak sih?

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑