Amex

Baca kisah perkembangan bisnis kartu kredit (CC) American Express. Aku bukan customer Amex yang setia sebenernya. Dulu juga apply kartu Amex cuman gara2 dia bikin co-branding dengan Telkom yang terkenal itu (hush).

Apa sih yang menarik dari Amex? Ternyata dia tidak visioner. Dalam arti, kemajuan yang ada sekarang tidak terbentuk secara ideal dari pembentukan so-called visi yang baik, strategi yang matang, dan menumbuhkan hasil yang terencana. Dia lebih benyak melalukan kesalahan langkah, terus mengoreksi langkah, melalukan coba-coba, dan seterusnya. Dan ternyata yang kayak gini pun berjalan baik, di tengah iklim kompetisi.

Waktu Diners mulai memasarkan CC dengan sukses, Amex bertahan pada bisnis perjalanan. Dan traveller cheque (TC). Lengkap dengan CEO yang tukang jalan2 dengan heboh. Waktu makin banyak agen2 di luar negeri yang berteriak bahwa makin banyak wisatawan yang memilih bawa CC (Diners) daripaca TC, si CEO dipecat dan digantikan CEO baru, yang tidak pernah terdidik membangun ekonomi berbasis hutang. Dimulailah petualangan merebut pasar dari Diners. Annual fee ditetapkan lebih mahal, dengan alasan prestise dan keluasan pelayanan (lebih dari Diners). Tapi publik menerima. Mulailah Amex mengalahkan Diners.

Di tahap berikutnya, yang dihadapi adalah Bank Americard (kemudian disebut Visa) dan Master Charge (MasterCard). Visa memiliki cara yang berbeda. Dia memberikan lisensi penerbitan dan pengelolaan CC kepada bank2, bukan dikelola sendiri. Versi awalnya tidak memiliki annual fee, tapi ada bunga untuk keterlambatan. Kelihatannya akhirnya Amex menganut cara ini juga, jadi dia punya versi credit card yang annual fee-nya ringan tapi tagihan bisa berbunga, dan versi charge card yang annual fee-nya tinggi dan tagihannya harus dilunasi setiap bulan.

Cut. Tuh kan. Tuh kan. Aku bukan mau cerita CC tadinya. Aku cuman mau cerita bahwa asal dikelola baik, perusahaan bisa berkembang baik, biarpun tadinya memilih visi/misi yang salah, dan strategi yang salah. Koreksi dimungkinkan terjadi setiap saat. Dan asalkan koreksi dilakukan secara fair, perusahaan justru maju dan berkembang pesat. Itu aja. Satu lagi, peniruan produk itu sah-sah aja. Itu bukan saja tidak tercela, tapi betul-betul dianjurkan, buat kompetisi yang sehat.

%d bloggers like this: