Menatap Mars

Melototin Mars, nyaris tiap malam (sambil pulang kemalaman) bikin aku terpaksa berpikir: kenapa manusia purba menganggap Mars adalah simbol perang? Apa warnanya yang merah itu yang jadi soal?

Aku melaju di bawah bintang2, dan membayangkan manusia jaman dulu yang setiap kali pergi jauh selalu menemui makhluk baru, manusia baru, cara hidup baru. Lalu mereka menengadah ke atas, membayangkan: ada apa di tempat bercahaya di atas sana? Ada makhluk lain? Manusia lain? Bagaimana cara mereka bisa ke sana? Terbang? Saktikah mereka? Bagaimana cara mereka hidup? Apa yang bisa mereka lakukan pada kita? Lalu terciptalah mitos2.

Simfoni “The Planets” dari Holst diawali dengan Mars, masih dipaksa melambangkan perang. Tapi bahkan simfoni itu pun tidak bisa aku bayangkan sebagai penggambaran perang. Sama mustahilnya dengan membayangkan Mars sebagai simbol perang. Alam adalah harmoni … alam menentang peperangan dan kebodohan lainnya.

%d bloggers like this: