On Atheism

Dari sekian banyak bukti tentang skenario yang menyusun semesta ini, dari skala terkecil, hingga skala terbesar, kenapa atheism masih jadi mode di kalangan ilmuwan?

Aku nggak mempermasalahkan kalau atheism jadi mode di kalangan para ignoramus, baik yang sok cuek maupun yang sok keren — mereka tetap ignoramus dan induhvidual.

Atheism pada para ilmuwan didorong kenyataan penting bahwa tokoh tuhan tidak bisa dibuktikan dengan sains. Benarkah? Ha-ha :). Aku pikir memang benar. Allah begitu adilnya pada manusia dari berbagai bangsa dan berbagai era: Allah selalu memberikan hanya tanda-tanda yang jelas tapi tidak pernah berupa pemaksaan “ilmiah”, agar manusia dari era manapun selalu sama-sama bisa memilih untuk merasakan atau untuk tidak merasakan kehadiran-Nya, tapi juga sama-sama tidak bisa melihat dengan cara apa pun kehadiran-Nya. Tapi … sambil menyusun keadilan itu sebagai skenario, Allah juga tidak pernah membiarkan manusia percaya diri akan apa yang disebut “kebenaran ilmiah”. Setiap era, selalu ada yang diragukan dari kompilasi metafora yang kita namai sebagai “metode ilmiah” itu. Bahkan ilmu fisika pun belum selesai mendefinisikan diri secara pe-de.

Hmmm, aku tahu Stephen Hawking bilang “memang belum selesai, tapi framenya jelas, dan tinggal perlu sedikit detail lagi”. Tapi kalimat serupa juga abad lalu diucapkan Maxwell, dan di abad sebelumnya diucapkan Newton, dan entah barangkali pernah diucapkan Aristoteles sekalian :). Feynman lebih jujur, dan selalu mengatakan “masih jauh dari solusi tunggal”, dan karena itu bukunya jadi tidak selaris Hawking :), biarpun Hawking belum pernah memperoleh hadiah Nobel.

Tentang tanda-tanda sendiri? Adanya skenario pengaturan semesta akan terbaca kalau kita mau mengamati semua ilmu-ilmu sekaligus tanpa melakukan pra-asumsi atheistik (yang sering mengaibatkan filtering fakta dengan menganggapnya invalid). Trus apa yang mau kita lakukan, btw? Memulai gerakan mnyusun wacaran lengkap untuk membuat orang-orang terbuka untuk mengenali tanda-tanda itu, lalu mengakui kehadiran Tuhan, lalu memeluk agama, dan mulai saling membunuh dengan mengatasnamakan agama? Kayaknya nggak deh. Kalau Allah berkehendak, semua orang di dunia akan beroleh hidayah. Tapi ternyata bukan itu yang dikehendaki-Nya.

Well … rayakanlah kehidupan apa adanya :).

%d bloggers like this: