The Greeny House

Dulu aku menamai rumah kami the greeny house. Temboknya krem, tapi penuh asesori hijau. Tapi terus cat memudar, dan aku memutuskan memilih warna hijau yang lain untuk asesorinya. Juga untuk genteng dan pintu. Kaget juga lihat hasilnya: hampir semua warna hijau ada di sini: daun pohon mangga, daun pohon palm, pintu, tembok bawah, genteng, rumput, dan tanaman-tanaman kecil — semua menampilkan kehijauan yang berbeda.

Rumah kami punya ciri khas di deretan ini: tempatnya tepat di tengah, tapi jadi satu-satunya rumah yang nggak berpagar. Ada alasan semi-ideologis di situ. Para pencoleng Bandung berhasil memaksa aku pasang teralis di jendela rumah. Mudah2an mereka nggak berhasil memaksa aku pasang pagar.

Anti sosial, memang — kalau ini artinya kita tidak mau hidup menyesuaikan diri dengan pikiran tetangga. Lebih antisosial lagi, aku suka menganggap pikiran sebagian tetanggaku rada-rada primitif.

Rumah tanpa pagar itu menarik. Orang lebih suka datang ke rumah tak berpagar, daripada yang berpagar logam. Abis pintu dibuka, baru tahu kalo penghuninya ternyata anti sosial. Eh.

%d bloggers like this: