89188123

Soal Quaoar bikin aku berminat lagi sama planet-planet. Trus baca
«Pale Blue Dot» dari Carl Sagan, sambil terus ngebayangin
kasus Pluto dan Quaoar. Hmm, sayangnya Quaoar baru ditemukan
setelah Sagan meninggal.

Pertama, soal definisi planet. Para pakar tentu nggak asal sebut waktu
mensyaratkan bahwa planet harus memiliki lintasan regular yang
khas. Planet, sebagai bagian khas tatasurya, seharusnya terbentuk
nyaris bersama-sama waktu tata surya terbentuk, dari dari materi
purba berenergi cukup tinggi, yang dalam pra-kesetimbangannya
berputar bersama-sama sambil saling menarik akibat gravitasi.
Kemudian sebagian besar terkumpul di pusat tatasurya sebagai
bintang. Sebagian yang jaraknya cukup dekat dengan bintang,
artinya yang distribusi massanya masih lumayan, menyatu sebagai
planet, masih terus berputar mengelilingi bintang dengan pola
putar yang cukup seragam. Sebagian yang jaraknya terlalu jauh
membentuk bola-bola kecil yang tidak diakui sebagai planet,
dan sifatnya lebih irregular.

Pengamatan yang teliti pada beberapa bintang menghasilkan pemandangan
khas, bahwa bintang dikelilingi ruang relatif kosong pada jarak
tertentu, kemudian diselimuti lapisan debu. Lapisan debu itu
sebenarnya berisi bola-bola kecil yang banyak sekali, sementara
ruang yang tampak kosong berisi planet-planet yang jumlahnya
sedikit.

Quaoar sebenarnya memiliki lintasan yang lebih regular daripada
Pluto (yang lonjong bukan main itu). Hanya posisinya yang jauh,
dan masuk dalam wilayah sabuk Kuiper meragukan posisinya sebagai
planet. Malah sekarang Pluto yang dituduh sebagai anggota sabuk
Kuiper yang melintas mendekati kawasan planet, dan dianggap sebagai
planet.

Apa yang terjadi kalau kapan-kapan manusia menemukan rekan Quaoar
yang lebih besar dari Pluto?

%d bloggers like this: