10555958

Dan yang selalu ditembakkan balik ke aku, adalah soal agama. Waktu aku nulis
soal keanekaragaman diskursus di milis asasi@, seorang sohib senior menembak
dengan soal ulama, bahkan nabi, yang tentu pola pikirnya tetap menempati sebuah
domain saja. Aku nggak mau nulis jawabanku di sini. Lain kali, barangkali.
Tapi selalu soal agama ini yang dijadikan sasaran buat nembak :). Kali memang
kesannya aku orang liberal yang memilih hidup sebagai orang konservatif, padahal
bukan. Aku cuman bisa menertawakan adanya kategori konservatif dan liberal.
Nggak. Aliran diskursus kita lebih liar dari kategori yang sudah kita bentuk.
Kita jam 6.00 pagi jadi konservatif soal X dan liberal soal Y, dan jam 6.15
barangkali soalnya lain lagi. Itu cuman dinamika pikiran harian.

Orang sendiri kayaknya suka bener mempertengkarkan soal agama, seolah-olah
agama itu hal yang serius melebihi soal-soal lain. Aku nggak mau bikin keributan
untuk nulis di sini bahwa agama itu sebenernya bukan hal serius. Paling yang
aku tulis adalah: agama, walaupun tentu bersifat formal, barangkali lebih pas
dijalankan secara informal.

Agak mirip dengan cerita dua anak di Arab. Kedua anak itu sedang bermain. Waktu
terdengan suara adzan di kejauhan, keduanya berhenti bermain. Satu menemukan
daun lebar, lalu shalat di tanah dengan kepala dialasi daun itu. Satu lagi nggak
nemu daun, jadi shalat di atas tanah saja. Itu jadi hal harian aja. Tapi yang jadi
cerita sebenernya bukan soal ini.

Aku lihat di site-site antar agama, agama-agama diperbandingkan dengan mengkaji
kitab masing-masing, mengajukan kritik dan celaan, kemudian melakukan pembelaan,
dan jadi bertele-tele tanpa ujung dan tanpa kesimpulan. Nggak akan jadi kesimpulan,
kalau memang diskurusnya sudah ditata terpisah (Eh, ini udah dibahas beberapa bulan
lalu). Dan nggak ada yang mempertanyakan: emang ada gunanya?

Kenapa nggak memecahkan suatu masalah saja, dan memberikan perspektif masing-masing
dari sudut pikiran masing-masing — pikiran yang tentu memiliki sistem operasi
berupa agama dan pandangan hidup masing-masing. Emang Yahudi selalu berarti Taurat,
Kristen selalu tentang Yesus dan Injil, Islam selalu soal Quran dan Hadist?
Emang agama cuma soal-soal itu? Kenapa bukan soal
penanggulangan banjir, soal rokok dan narkotika, soal infrastruktur informasi.

%d bloggers like this: