7567450

Perjalanan kemarin diawali dari Tile Hill, stasiun kecil mungil dan
sepi. Bis 81E berhenti di stasiun waktu kereta berangkat, jadi aku
harus nunggu setengah jam lagi. Pintu stasiun otomatis terbuka, dan
si penjaga loket yang berkumis tebal menatap. Aku jadi masuk, tapi
bukan ke loket, malah lihat-lihat suasana. Si penjaga loket meninggalkan
loket, terus mengambil sapu, dan mulai menyapu stasiun, dan memunguti
sampah. Aku ke luar, ditemani dua anak sekolah yang belajar merokok
dengan tanggung. Sambil terus menyapu, si penjaga loket meminta anak-anak itu menunjukkan
tiket. Mereka menolak menunjukkan. Trus si penjaga mengancam memanggil
polisi dalam 5 menit. Sambil memaki-maki, kedua anak itu pergi. Beberapa
orang berlalu di sekeliling stasiun, dan kedua pintu masuk bergeser
membuka menutup tanpa henti. Sepasang anak kecil jadi mempermainkan
si pintu, dengan melompat sepanjang garis batas, dan membuat pintu
membuka menutup tanpa henti. Kereta berlalu, dan seluruh calon penumpang
di seberang rel menghilang ke atas kereta. Ini Tile Hill. Di luar,
pohon berdaun cokelat seluruhnya, dikelilingi pohon-pohon lain yang
sudah tak berdaun. Aku duduk sendiri di luar. Gerimis mulai datang.
Kereta-kereta cepat antar kota berlalu, melintasi stasiun tanpa permisi,
mendorong angin dingin menembus jaket. Aku masuk lagi. Sebuah pigura
menampilkan sekelompok pegawai stasiun membawa pigura berisi penghargaan.
Si penjaga loket berkumis nampak paling riang di foto itu. Beberapa gambar
kereta yang didesain dengan CAD menghias dinding, dengan nama perancangnya,
dan ucapan terima kasih di bawahnya. Hiasan natal di ujung ruangan bukan
berhias rusa, tapi bebek berkepala hijau. Aku jadi tahu kenapa aku harus
nunggu setengah jam di sini. Tapi setengah jam akhirnya berlalu juga.
Kereta Centro ke arah Birmingham tiba tepat waktu. Waktu naik kereta,
rasanya aku bukan meninggalkan stasiun, tapi meninggalkan rumah seorang
manusia, yang hidup dan mengisi hidupnya.

%d bloggers like this: