4199274

Seperti yang diceritakan Feynman, teori Wheeler-Feynman mengenai interaksi foton
dua arah waktu, hanya berhasil untuk fisika klasik, tetapi tidak pernah berhasil diterapkan
di mekanika kuantum. Feynman kemudian beralih ke QED.

Tahun 1970-an, baru beberapa ilmuwan mulai menemukan jalan memadukan teori itu
dengan fisika kuantum: Hoyle dan Narlikar, juga Paul Davies. Tapi seperti juga
Feynman, mereka juga hanya memakai gelombang elektromagnetik alias foton.

Pertengahan 1980-an, John Cramer memperluas gagasan ini ke fungsi gelombang Schrödinger,
yang lajunya sama dengan foton. Mula-mula memang tidak ada yang memikirkan ide
itu, karena selama ini diketahui fungsi Schrödinger hanya memiliki satu arah —
yang diasumsikan adalah arah maju. Yang terlupakan adalah bahwa seperti fungsi
Maxwell untuk elektromagnetika, fungsi ini bisa dicerminkan untuk menggambarkan
aliran energi ke masa lalu.

Sayangnya risalah Cramer tidak begitu bergema. Pertengahan tahun 1990-an, Chu
dan beberapa ilmuwan yang mendalami superstring, sekali lagi menemukan hasil
yang serupa, tanpa pernah berkomunikasi dengan Cramer. Chu menulis: “Korelasi
seketika antara dua partikel terpisah terjadi melalui partikel ketiga, yang berkorelasi
dengan partikel pertama melalui interaksi maju, dan dengan partikel kedua melalui
interaksi mundur.” Waktu akhirnya Chu tahu bahwa soal interaksi maju mundur ini
sudah disepakati para ilmuwan, dia cuman bilang, “Tahu gitu, saya nggak akan
terlalu khawatir menggeneralisasikan teori Wheeler-Feynman ke superstring.”

Kira-kira Feynman sendiri bakal bilang apa? Kalau masih hidup sampai tahun 1990-an,
barangkali dia lebih suka main drum :). Tapi di tahun 1960-an, dia pernah bilang
bahwa tidak ada satu orang pun yang mengerti teori kuantum, dalam arti kenapa
interaksi yang terjadi kok seperti itu. Barangkali akhirnya orang tahu, dan itu akibat
salah satu teori dia juga, yang tidak dia teruskan, tapi diteruskan orang-orang lain
selama setengah abad.

%d bloggers like this: