3211410

Ada yang terpikirkan dari ?The Man with the Iron Mask?. Waktu bayi kembar Louis dan Philippe dipisahkan, dan diperlakukan berbeda, mereka jadi punya sifat yang jauh berbeda. Jadi secara ilmiah serampangan (yang bakal membuat Watson dan behaviorist lain bahagia), karakteristik manusia dipengaruhi oleh cara lingkungan mendidik manusia. Maksudnya, biarpun Aramis yang milih bayi mana yang jadi raja Louis dan bayi mana yang masuk penjara sebagai Philippe, dia sebenernya nggak lagi menentukan sejarah. Siapa pun yang jadi Louis, tetap saja dia akan jadi raja yang memuakkan, dan siapapun yang jadi Philippe, dia akan jadi pribadi yang baik setelah sekian puluh tahun dikerangkeng. (Para penganut Freudian yang menyebalkan itu pasti kesal, kalau ngikutin mereka mestinya justru Louis yang perilakunya baik, soalnya masa kecilnya bahagia, haha).

Nggak adil kalau nulis Watson dan Freud tanpa menyebut Maslow dkk. Aku rasa kalau ngikutin Maslow, jalan cerita itu agak valid. Kepribadian Philippe sekeluarnya dari penjara bakal hancur, tapi itu bisa diperbaiki karena dua hal. Pertama, faktor internal Philippe sendiri (berbeda dengan Freud yang mengagungkan faktor internal, madzhab Maslow berpendapat bahwa faktor internal cenderung bersifat positif, sementara menurut Freud cenderung ke arah negatif dan liar). Kedua, dukungan dari lingkungan (di mana perbedaan Maslow dan Watson adalah bahwa menurut Watson satu-satunya faktor yang patut diakui adalah faktor eksternal). Di akhir cerita pun konon Louis yang diubah namanya jadi Philippe dibebaskan oleh Philippe yang udah ganti nama jadi Raja Louis, karena kejahatan itu tidak akan abadi. Selalu ada waktu untuk berubah, memperbaiki diri.

Di luar hujan rintik dengan angin kencang. Di dalam ruang, Beethoven menghentakkan Eroica. Jadi siapa pahlawannya? Tergantung menurut siapa. Barangkali memang nggak perlu ada pahlawannya. Malanglah dunia yang membutuhkan pahlawan.

%d bloggers like this: