2787311

Mood suka kacau balau. Persis yang diramalkan di buku panduan British Council. Cuman produktivitas harus tetap tinggi. Jadi mulai akrab lagi dengan kopi. Decaffeinated coffee, biar ramah buat perut dan jantung. Sedap.
Di Intisari tahun 1980-an, Slamet Soeseno pernah cerita tentang asal-usul kopi. Kopi ditemukan oleh domba di Arab. Penggembala jadi kesal, soalnya dombanya berkicau, eh mengembik terus-terusan sepanjang malam, nggak bisa tidur. Jadi dia liat itu domba, ternyata abis pada mengunyah daun dan biji tanaman kahwah. Penggembala mengusir dombanya menjauh, lalu sambil rada emosional dia membakar tanaman kahwah itu. Tapi abis dibakar, kok baunya harum. ternyata bau enak itu dari biji yang terbakar. Si pengembala penasaran, dia ambil biji yang sudah hangus itu, terus digigit. Wadow, kerasnya. Tapi kita tahu, orang Arab itu gigih. Dia ambil biji-biji hangus itu, terus dia rendam di air, terus airnya direbus, biar bijinya pada lunak. Tapi itu biji lebih keras hati, nggak mau lunak-lunak biarpun direbus lama-lama. Malah airnya yang ikutan jadi menghitam dan harum. Dasar si Arab suka penasaran, dia pingin tau rasa airnya. Diminum tuh air. Wow, enak dan segar. Tapi gantian, sekarang dia ikutan nggak bisa tidur.
Tapi tentu, abis itu untuk menikmati sari kahwah (caf?, coffee, kopi) orang nggak harus bakar pohonnya. Gile ape? Cukup petik bijinya, baru dibakar. Kadang difermentasikan dulu sih.

OK, ngopi lagi ah. Yang decaf sih … ngopi oke, bobo juga oke.

%d bloggers like this: