2510550

Mbak Ida cerita-cerita tentang Feynman di milis mus-lim@. Memang fisikawan yang ini, selain minatnya sangat luas, dan kecakapannya tinggi, juga pintar berkomunikasi. Selalu banyak hal yang menarik di buku-buku Feynman. Aku pingin cerita tentang Feynman dan Faust (kebetulan, dua-duanya pernah dibahas di site ini secara terpisah).
Sebagai mahasiswa fisika, Feynman juga disuruh ikut kuliah di bidang yang non sains, biar rada berbudaya. Salah satunya, sastra. Di kuliah ini, dia disuruh bikin essay tentang Faust, tulisan Goethe. Abis baca Faust sekilas, Feynman nggak merasa nyambung, dan nggak mau nulis. Salah satu temannya bilang, daripada nggak nulis apa-apa, terus dibilang malas, mendingan nulis essay tentang hal lain. Jadi Feynman nulis essay tentang keterbatasan akal, dikaitkan dengan pengetahuan dan budaya. Tapi begitu essay selesai, teman yang lain bilang, essay itu bakal ditolak, kecuali kalau dia bisa mengait-ngaitkan dengan Faust. Feynman nurut lagi. Jadi dia tambahin di bagian awal, bahwa menurut interpretasi dia, Faust melambangkan jiwa, dan Mephistopeles melambangkan akal (reasoning). Dan interaksi keduanya .. dst … dst … masuk ke essay aslinya dia.
Essay itu diterima si dosen dengan nilai cukup bagus, cuman dengan catatan kecil bahwa referensi langsung ke naskah asli tidak terlalu banyak.

%d bloggers like this: