1398415

Kita suka menghabiskan waktu untuk mencoba mengerti tentang manusia. Tapi barangkali kita lupa memahami “pengertian” kita.
Kayaknya selama ini kata “mengerti” diartikan sebagai memetakan suatu sistem ke dalam platform (diskursus) pikiran kita (dan kemudian barangkali dengan itu platform kita bisa meluas atau berubah juga). Lucunya, di lain pihak, suatu sistem hanya bisa dicerap oleh platform yang kompatibel dengannya. Jadi, misalkan kebetulan ada suatu sistem yang sedang tidak kompatibel dengan platform yang kita jalankan, siapa yang harus menyesuaikan diri lebih dulu? Seharusnya kita sih. Kan kita yang mau mengerti. Tapi soalnya adalah bahwa kita hidup di dunia nyata, menghadapi beraneka sistem. Kita tidak mungkin setiap saat menyesuaikan platform. OK, idealnya sih bisa. Tapi sistem-sistem yang kita hadapi kan tidak selalu saling kompatibel (dan juga sistem yang kita hadapi terus bertambah variasinya setiap saat). Kecuali kalau memang hidup kita cuman berfungsi untuk mengerti, bukan untuk berbuat sesuatu. Jadi, pernahkah kita benar-benar bisa mengerti ?
Soalnya bukan itu. Soalnya adalah bahwa kita sering berpura-pura bisa mengerti banyak hal. Kemudian kita mengecam hal-hal yang berada di luar standar kita (karena kita gagal mengerti). Klaim kita bahwa kita mengerti banyak hal menutupi fakta bahwa kita sedang gagal memahami hal yang sedang kita kecam itu. Kita dibutakan oleh overestimasi (apa tuh bahasa Indonesianya) kita.

%d bloggers like this: